Menginspirasi Konservasi berbasis komunitas

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
Manager Kampanye TN. Karimunjawa
Advertisements

KAMPANYE PRIDE DAERAH PERLINDUNGAN LAUT (DPL) PULAU WANGI-WANGI
WAKATOBI Taman Nasional Oleh : Andi Subhan
KAMPANYE PERUBAHAN PERILAKU DI KKLD ALOR MENGATASI MASALAH OVERFISHING DENGAN MERUBAH PERILAKU Vidi Bahtiar Bethan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten.
MK MANAJEMEN SD PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2012.
RENCANA KERJA MADRASAH (RKM)
HASIL DISKUSI KELOMPOK DUA Peningkatan kualitas TRIDHARMA PT Dengan mengangkat Keunggulan Lokal ke taraf nasional dan global.
Masyarakat mengetahui kekuatan sumberdaya dan sosial yang ada di kampung dapat digunakan sebaai modal pengawasan laut yang aktif dan mandiri Masyarakat.
KAMPANYE PRIDE DI TAMAN NASIONAL BUNAKEN Gatot Santoso Balai Taman Nasional Bunaken Manado Sulawesi Utara April 2012 “ Mengefektifkan Fungsi Zonasi Melalui.
KEBIJAKAN UMUM PENGEMBANGAN PROGRAM DAN KEGIATAN TAHUN 2014
Sosialisasi dan Pelatihan Menyusun Proposal PHKI Tahun Anggaran – 8 Desember 2009.
Theory of Change Wakatobi National Park Taman Nasional Wakatobi.
PELATIHAN MASYARAKAT PNPM-R2PN TAHUN
KKLD RAJA AMPAT Kofiau  Ha
Zonasi : Memulihkan kondisi sumberdaya perikanan
PENANGKAPAN IKAN DENGAN BAHAN PELEDAK DAN BERACUN DISUSUN OLEH: NAMA: ROBIATUN DEVITA NIM: E1A PRODI: PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN.
Photo ” x 10.31” Position x: 8.53”, y:.18” Photo 1 4.2” x 10.31” Position x: 4.36”, y:.18” Pembelajaran Kampanye KKPD Selat Dampier, Raja Ampat Rosita.
Rencana Kampanye Pride di Kawasan Perairan SPTN Wil.III Pulau Tomia Oleh : Andi Subhan “ Mustahil mendorong orang berubah perilaku tanpa meyakinkan logika,
Program Bersama Pemerintah Kabupaten Berau dan Pride RARE
BR: Finalisasi aturan zonasi dan pemasangan tanda batas zona
Kampanye Pride Teluk Mayalibit
Oleh: Agus Dermawan Direktur Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan
Kampanye Pride di TWP Gili Matra Manajer Kampanye ABDUS SABIL Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Tingginya tingkat eksploitasi sumberdaya (ikan)
Kawasan Konservasi Perairan Daerah
KEBIJAKAN NASIONAL PNPM MANDIRI
OVERVIEW PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA
RINGKASAN LOKASI SEKSI PENGELOAAN TN WILAYAH III TOMIA TAMAN NASIONAL WAKATOBI MEI 2012 OLEH ANDI SUBHAN (PENGENDALI EKOSISTEM HUTAN)
Oleh: Yuniar Ardianti, S.Hut.
HASIL DISKUSI KELOMPOK C KEAMANAN DAN PENGELOLAAN TAMAN.
Oleh : Muhammad Desna Noronhae
Zona Ketahanan pangan terancam. “Konservasi tidak dapat berhasil tanpa mengubah cara masyarakat berhubungan dengan alam” Maka salah satu konsep Teori.
Kampanye Pride KKPD Selat Dampier sektor Salawati.
DINAS PERTANIAN PROVINSI BENGKULU 2012
sebagai upaya mengatasi ancaman overfishing
“Meningkatkan Efektifitas Zonasi
Pengetahuan Sikap Diskusi/ Komunikasi interpersonal Penyingkiran Halangan Perubahan Perilaku Penguranga n Ancaman Hasil Konservasi Membuat orang sadar.
KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH
OLEH : MUSRIYADI DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN KAB.KONAWE SELATAN
Rencana Proyek Kampanye Pride
K A IC BR BC TR CR + Rantai Hasil nelayan juga petani Kopra
RENCANA KAMPANYE BANGGA KKLD SELAT TIWORO. Tutupan Terumbu Karang Hidup Di Selat Tiworo Terus Menurun :  Th : km2  Th : 8,32 km2 
KAMPANYE PRIDE TAMAN NASIONAL KOMODO
Kampanye Pride RARE Peningkatan Efektivitas Zonasi, Untuk Mengurangi Dampak Penangkapan Berlebihan.
Renstra Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak
Disampaikan oleh: ACHMAD SATIRI (Kabag Hukum, Organisasi, dan Humas)
Grand Design e-Library Perpustakaan Nasional RI
BALAI BESAR PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PERTANIAN
SISTEM AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (SAKIP)
UPDATE INISIATIF MENDORONG PENGELOLAAN DAS PEUSANGAN
KOMISI III-B REMBUK NASIONAL PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Penguatan Pendidikan Karakter
Bimbingan Teknis Penguatan Pendidikan Karakter
Sosialisasi dan Pelatihan Penguatan Pendidikan Karakter
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/
ASAS PENGELOLAAN KONSERVASI
Pride dengan Khalayak Sasaran Nelayan
Dikutip dari berbagai sumber
TAHUN 2014 TENTANG DESA UNTUK KESEJAHTERAAN RAKYAT
Fungsi Anggaran Fungsi otorisasi: Anggaran Negara menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan. Fungsi perencanaan:
Penangkapan ikan di lokasi 5 ‘no-take zone’ dalam KKPD Misool menurun
Tata Kelola Pemerintahan Desa
BIRO PERENCANAAN KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL DAN TRANSMIGRASI KEBIJAKAN PRIORITAS KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL DAN.
TAHAPAN DAN SISTEMATIKA PENYUSUNAN RENSTRA BERDASARKAN PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 86 TAHUN 2017 PPKK FISIPOL UGM.
Departemen Keperawatan Anak dan Maternitas
IMPLEMENTASI UNDANG – UNDANG NO. 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA UNTUK KESEJAHTERAAN RAKYAT OLEH:TUTIK KUSUMA WADHANI,SE,MM,M.Kes.
Penguatan Kapasitas Kecamatan untuk Meningkatkan Pelayanan Dasar
Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
“PEMBANGUNAN DESA YANG BERBASIS PENGURANGAN RISIKO BENCANA ”
Oleh : Drs.DIAN BUDIYANA,M.Si KEPALA BIDANG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BADAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN PEMERINTAHAN DESA KABUPATEN CIAMIS.
Akuntansi Sektor Publik Pertemuan 4 Dr. Ratna Wardhani
Transcript presentasi:

Menginspirasi Konservasi berbasis komunitas Wakatobi adalah sebuah kepulauan yang namanya diambil dari kependekan nama ke-empat pulau utama yang ada di wilayah ini yaitu Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Dahulu wilayah ini dikenal dengan nama kepulauan “Tukang Besi” yang termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara - Indonesia. Perairan di kepulauan ini termasuk pada wilayah Pusat Segitiga Karang Dunia (Coral Tri-Angle Center) yang memiliki keanekaragaman terumbu karang dan jenis biota laut lain khususnya ikan tertinggi didunia. Atas dasar itu kemudian wilayah Kepulauan Wakatobi seluas 1.390.000 Ha ini ditunjuk oleh pemerintah sebagai taman nasional dengan nama Taman Nasional Kepulauan Wakatobi (TNKW) melalui Keputusan Menteri Kehutanan No. 393/KPTS-VI/1996 tanggal 30 Juli 1996, dan penetapannya dilakukan melalui Keputusan Menteri Kehutanan No. 7651/Kpts-II/2002 tanggal 19 Agustus 2002. Kemudian dengan terbitnya Peraturan Menteri Kehutanan No. P.29 tahun 2006 yang menetapkan perubahan nama Taman Nasional Kepulauan Wakatobi (TNKW) menjadi Taman Nasional Wakatobi (TNW). Keterangan Gambar : Gambar 1. Keindahan alam bawah laut TN.Wakatobi di Pulau Tomia, sumber: www.wakatobi.com Gambar 2. Keindahan alam bawah laut TN.Wakatobi, sumber: Anton Wijonarno, TNC-WWF Joint Program Wakatobi Gambar 3. Nelayan Pulau Kaledupa, sumber : Mursiati, volunteer Tim Kreatif untuk Program Pride Campaign di Pulau Kaledupa TNW Menginspirasi Konservasi berbasis komunitas di Kawasan Perlindungan Laut Oleh : Wahju Rudianto, S.Pi – Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi

Tujuan dibentuknya Taman Nasional Wakatobi adalah : Terjaminnya sistem penyangga kehidupan untuk pelestarian keanekaragaman hayati (bidoversity conservation) sebagai perwakilan ekosistem wilayah ekologi perairan laut Banda-Flores (Banda Flores Marine Eco-region). Menjamin terwujudnya pembangunan ekonomi daerah secara berkelanjutan (sustainable development) terutama dari sektor perikanan dan pariwisata. Menjamin tersedianya sumber mata pencaharian yang berkelanjutan (sustainable livelihood) bagi masyarakat setempat. Untuk mencapai tujuan tersebut sangatlah penting, bagaimana sistem pengelolaan kawasan Taman Nasional Wakatobi berdasarakan zonasi bisa diimplementasikan secara efektif. Zonasi TN.Wakatobi terdiri dari : Zona Daratan Khusus ---- Pemukiman Zona Pemanfaatan Lokal ---- Akses Nelayan Lokal Zona Pemanfaatan Umum ---- Akses Nelayan Lokal dan Nelayan Luar Wakatobi Zona Perlindungan Bahari ---- No Take Zone Zona Pariwisata ---- No Take Zone Zona Inti ---- No Take Zone Tingkat Kepatuhan pengguna sumberdaya terhadap aturan masing-masing zona adalah salah satu parameter untuk menilai tingkat efektifitas implementasi zonasi. Implementasi zonasi secara efektif untuk mencapai tujuan pengelolaan kawasan

RARE-TNW: Kemitraan dalam Pride Campaign Misi RARE mendukung Visi TN.Wakatobi Peningkatan Kapasitas Pengurangan Tekanan terhadap Kawasan Pelibatan dan Penguatan Masyarakat Misi RARE “Melestarikan satwa dan ekosistem yang terancam punah diseluruh dunia dengan mendorong masyarakat agar peduli terhadap alam dan melindunginya” Visi TN.Wakatobi “Terwujudnya TNW yang mantap, dinamis dan lestari serta dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah secara berkelanjutan” -Mantap dari aspek kawasannya, dinamis dari aspek pengelolaannya, lestari dari aspek sumberdaya alam hayati dan eksosistemnya. Beberapa hal yang mendasari kemitraan TN.Wakatobi dan RARE dalam Pride Campaign : 1. Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia TN.Wakatobi dan Organisasi TN.Wakatobi - Adanya peningkatan kapasitas bagi sumber daya manusia (staf) TN.Wakatobi melalui pembelajaran di universitas dan bimbingan (mentoring) selama di kawasan, yang kemudian hasil pembelajaran tersebut diimplementasikan dalam berbagai bentuk kegiatan untuk mendukung kebijakan pengelolaan kawasan TN.Wakatobi. - Peningkatan kapasitas organisasi, dalam hal desain kegiatan (perencanaan, implementasi, monitoring dan evaluasi kegiatan. misal : adanya Survey KAP (knowledge, attiutude and practice) di awal program pride campaign sebagai data dasar untuk menentukan tingkat pengetahuan masyarakat, sikap dan praktek selama ini yang berkaitan dengan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi. Kemudian dari hasil analisa data dasar Survey KAP tersebut kita rumuskan bentuk2 kegiatan yang sesuai dan di akhir kegiatan kita ukur dampak nya terkait dengan perubahan perilaku masyarakat yang berpengaruh pada target konservasi. 2. Pelibatan dan Penguatan Masyarakat - Integrasi Progam Pride Campaign dengan kebijakan TN.Wakatobi dalam pengelolaan kawasan konservasi, melalui berbagai bentuk kegiatan untuk meningkatkan pelibatan dan penguatan dukungan masyarakat dalam upaya-upaya konservasi. 3. Pengurangan Ancaman terhadap kawasan - Melalui pelibatan dan penguatan dukungan masyarakat tersebut, maka rasa kepemilikan masyarkat terhadap kawasan pun meningkat. Dan memiliki dampak pada pengurangan tekanan (ancaman) terhadap kawasan konservasi. Pengurangan tekanan terhadap kawasan merupakan hal yang mendasar sebagai tolak ukur keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi.

Strategi Pengelolaan TN.Wakatobi Integrasi Program Pride Campaign dalam mencapai strategi Pengelolaan TN.Wakatobi Pride Campaign Strategi Pengelolaan TN.Wakatobi Pride Campaign di TN.Wakatobi: Implementasi Zonasi Secara Efektif untuk Mengurangi Dampak Penangkapan Ikan secara berlebihan (overfishing) Program Pride campign terintegrasi dalam pencapaian strategi pengelolaan TN.Wakatobi yang meliputi 3 (tiga) ruang lingkup pengelolaan, yaitu: 1. Kelola Kawasan - Cakupan : Zonasi - Strategi : a. Memastikan proses penyebaran informasi & pengawasan terhadap Implementasi zonasi TNW dilakukan secara intensif b. Memastikan terlaksananya pemantauan & evaluasi implementasi zonasi TNW 2. Kelola Sumber Daya Alam - Cakupan : Terumbu Karang, Lokasi Pemijahan Ikan, dan Biota Laut bernilai ekonomi Tinggi. - Strategi : a. Memastikan implementasi penegakan hukum yang tegas sesuai perUU yang berlaku terhadap bentuk-bentuk pelanggaran/gangguan dalam pemanfaatan 8 sumberdaya penting b. Meningkatkan kemampuan fungsi dan karakteristik ekologis 8 sumberdaya penting dalam pemanfaatan jasa lingkungan 3. Kelola Kelembagaan - Cakupan : Pendanaan - Strategi : Merancang skema pendanaan yang berkelanjutan untuk memastikan pengelolaan yang efektif STRATEGI JANGKA MENENGAH TN.WAKATOBI PERIODE 2009-2013

Ruang Lingkup Pengelolaan TN.Wakatobi Pendekatan Pride Campaign Untuk mencapai tujuan dan sasaran TN.Wakatobi KELOLA KAWASAN KELOLA SUMBER DAYA ALAM KELOLA KELEMBAGAAN Ruang Lingkup Pengelolaan TN.Wakatobi Program Pride “ Memberdayakan dan menguatkan para pelaku/pimpinan konservasi setempat dan lembaga/organisasinya dan dengan menggunakan teknik dan perangkat social marketing menguatkan dukungan masyarakat terhadap usaha-usaha konservasi dan mengurangi ancaman-ancaman utama terhadap keanekaragaman hayati” Teori Perubahan Pride RARE : K + A + IC + BR  BC  TR  CR Keterangan : K (Knowledge – Pengetahuan), A (Attitude – Sikap), IC (Interpersonal Communication – Komunikasi Interpersonal), BR (Barrier Removal – Penyingkiran Halangan), BC (Behaviour Change – Perubahan Perilaku), TR (Threat Reduction – Pengurangan Ancaman), CR (Conservation Result – Hasil Konservasi). Teori Perubahan RARE sebagai road map dalam Pride Campaign disusun berdasarkan kebijakan pengelolaan TN.Wakatobi. Kemudian Teori Perubahan tersebut dirumuskan kedalam berbagai kegiatan Social marketing (K+A+IC) dan Barrier Removal (BR) yang disusun berdasarkan penelitian kualitatif (misal: FGD, Wawancara mendalam, dll) dan penelitian kuantitatif (Survey KAP-Knowledge Attitude and Practice) para pihak (pemerintah, pihak swasta, masyarakat umum, dan nelayan) yang terlibat dalam pengelolaan kawasan untuk mencapai tujuan dan sasaran pengelolaan TN.Wakatobi. Dan kemudian selama kampanye dan di akhir kampanye dilakukan monitoring terhadap TR (Threat Reduction-Pengurangan Ancaman) dan monitoring sumber daya alam (misal : Reef Health Monitoring - Terumbu karang dan Ikan) sebagai bahan evaluasi kampanye untuk menentukan dampak kampanye terhadap Target Konservasi dalam hal ini CR (Conservation Result_Hasil Konservasi). Pride Campaign mendukung pencapaian tujuan dan sasaran pengelolaan TN.Wakatobi, yang mencakup Kelola Kawasan, Kelola Sumber Daya Alam dan Kelola Kelembagaan, dalam sebagai berikut : A. KELOLA KAWASAN Tujuan 1. Implementasi zonasi TNW sampai 2012 2. Melakukan evaluasi implementasi zonasi TNW serta merancang revisi zonasi jika diperlukan   Sasaran 1. Tata batas zonasi mempunyai tanda atau marka yang jelas. 2. Mensosialisasikan zonasi ke seluruh stakeholder 3. Mengimplementasikan zonasi sesuai fungsi peruntukkan 4. Implementasi zonasi TNW sampai 2012 5. Melakukan evaluasi implementasi zonasi TNW serta merancang revisi zonasi jika diperlukan   B. KELOLA SUMBER DAYA ALAM 1. Mengimplementasikan penegakan hukum yang tegas sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku terhadap bentuk-bentuk pelanggaran/gangguan dalam pemanfaatan 8 sumberdaya penting 2. Meningkatkan kemampuan fungsi dan karakteristik ekologis 8 sumberdaya penting dalam pemanfaatan jasa lingkungan 1. Meningkatkan intensitas pengawasan dan pengamanan kawasan khususnya terhadap 8 sumberdaya penting. 2. Mengimplementasikan penegakan hukum yang tegas sesuai perUU yang berlaku terhadap bentuk-bentuk pelanggaran/gangguan dalam pemanfaatan sumberdaya penting. 3. Meningkatkan kemampuan fungsi dan karakteristik ekologis 8 sumberdaya penting dalam pemanfaatan jasa lingkungan. C. KELOLA KELEMBAGAAN Tujuan : Merancang skema pendanaan alternatif dan yang berkelanjutan untuk memastikan pengelolaan yang efektif Adanya spesialisasi Sumber Daya Manusia Sasaran : Tersedianya SDM profesional dalam jumlah memadai

Tahapan Implementasi Zonasi TN.Wakatobi Implementasi Zonasi : Sebuah pembelajaran untuk mencapai tujuan pengelolaan kawasan Tahapan Implementasi Zonasi TN.Wakatobi 1. Sosialisasi Zonasi TN.Wakatobi Pemasangan penanda batas Pelatihan Pengelolaan Kawasan Perlindungan Laut Tahapan implementasi zonasi dilaksanakan atas kerjasama : TN.Wakatobi – TNC WWF Joint Program Wakatobi dan Pemda Wakatobi TAHAPAN IMPLEMENTASI ZONASI (2008-2010) : Kegiatan dalam tahapan implementasi zonasi ini dilaksanakan atas kerjasam TN.Wakatobi – TNC WWF Joint Program Wakatobi dan Pemda Wakatobi Beberapa kegiatan dalam tahapan implementasi zonasi TN.Wakatobi adalah : Sosialisasi Zonasi TNW (2008-2009) a. Sosialisasi hasil revisi zonasi tingkat Pulau Tahun 2008 - Pelibatan aparat MUSPIKA dan aparat desa dalam sosialisasi ini bertujuan agar bisa melanjutkan informasi tentang zonasi ini ke masyarakat secara luas. b. Sosialisasi hasil revisi zonasi tingkat Desa Tahun 2009 2. Pemasangan Marka /Tanda batas zonasi, pihak-pihak yang terlibat sebagai berikut : - Perwakilan MUSPIKA (Kecamatan, Koramil, dan Polsek), Perwakilan aparat desa dan Perwakilan PEMDA - Untuk marka / penanda batas NTZ tersebut menggunakan pelampung dengan warna sebagai pembeda dari setiap zona. Warna penanda yang dipilih menyesuaikan dengan warna pada peta zonasi, yaitu : a. Warna Biru untuk penanda Zona Perlindungan Bahari b. Warna Hijau untuk penanda Zona Pariwisata c. Warna Merah untuk penanda Zona Inti Pelatihan Marine Protected Area di Tingkat Desa OWNERSHIP (Rasa Kepemilikan) : - Tingkat ownership (rasa kepemilikan) dan kepatuhan pengguna sumber daya terhadap sistem zonasi masih kurang, salah satu penyebabnya kurangnya pelibatan pengguna sumber daya dalam setiap tahapan implementasi zonasi tersebut.

Beberapa hal penting untuk menyempurnakan setiap tahapan implementasi zonasi Sosialisasi Zonasi Khalayak target lebih spesifik (misal: nelayan ikan karang/dasar/demersal) Penggunaan media sosialisasi yang lebih efektif dan dipahami khalayak target (kedalaman informasi tinggi dan mampu menjangkau khalayak luas). Misal : tv/video, radio Pemasangan Penanda Batas Pelibatan perwakilan pengguna sumber daya (nelayan) lebih luas Kunjungan lapangan ke wilayah larang tangkap bersama pengguna sumber daya (nelayan). Pelatihan Kawasan Perlindungan Laut Nelayan Ikan Karang/Dasar/Demersal yang telah diidentifikasi sebelumnya menjadi prioritas utama sebagai peserta pelatihan Perlunya evaluasi pasca pelatihan terkait : Sikap dan Perubahan Perilaku peserta mengenai kepatuhan terhadap aturan zonasi PEMBELAJARAN dari TAHAPAN IMPLEMENTASI ZONASI TNW 2008-2010 : Proses Sosialisasi - Proses penyebarluasan informasi tentang zonasi ke tingkat masyarakat yang dilakukan aparat Kecamatan dan aparat Desa yang menjadi peserta sosialisasi tingkat Pulau, kurang berjalan dengan baik. (misal: Banyak masyarakat yang menanyakan informasi tentang zonasi ke aparat kecamatan dan aparat desa, tapi jawaban yang diberikan kurang tepat/tidak pas. - Sosialisasi tingkat desa berjalan kurang optimal dikarenakan keterbatasan personil untuk melakukan penjangkauan dan penyebarluasan informasi zonasi ke desa-desa dalam kawasan TN.Wakatobi yang berjumlah 100 desa. - Penyebaran leaflet zonasi sebagai media sosialisasi di tingkat masyarakat kurang efektif, dikarenakan : a. Minat baca masyarakat kurang, dikarenakan tingkat pendidikan sebagian besar masyarakat yang rendah. b. Masih banyaknya perbedaan nelayan dalam menerjemahkan gambar di peta yang menjelaskan tentang lokasi- lokasi wilayah larang tangkap dengan kondisi lapangan yang sebenarnya 2. Pemasangan Penanda Batas - Pemasangan penanda batas lebih banyak melibatkan aparat pemerintah (Pemda, Kecamatan dan Desa), sehingga masih kurang melibatkan perwakilan pengguna sumberdaya. Tingkat Kefektifan Zonasi - Sampai saat ini tingkat kefektifan zonasi belum bisa terukur dengan baik, dikarenakan : a. Belum optimalnya pengawasan atas fungsi dan peruntukan masing-masing zona b. No Take Zone sampai saat ini belum menjadi fokus pengawasan yang intensif c. Dari hasil monitoring reef health tahun 2009 belum adanya perbedaan yang signifikan atas kondisi ekologi antara Zona Pemanfaatan Lokal dan No Take Zone (Zona Perlindungan Bahari dan Zona Pariwisata). Dalam arti bahwa kondisi tutupan karang wilayah larang tangkap dan wilayah pemanfaatan masih sama.

Pride Campaign : Meningkatkan efektifitas implementasi zonasi Pemasangan penanda batas pada Wilayah Larang Tangkap Patroli Pengawasan pada Wilayah Larang Tangkap Dalam rangka pelaksanaan program Pride Campaign di TN.Wakatobi dengan tujuan meningkatkan efektifitas implementasi zonasi untuk mengurangi dampak penangkapan ikan berlebihan (overfishing). Ada 2 (dua) strategi penyingkiran halangan yang akan dilaksanakan, yaitu: Pemasangan penanda batas pada Wilayah Larang Tangkap - Pemasangan penanda batas masih diperlukan dikarenakan rusak/hilangnya penanda batas yang sudah dipasang sebelumnya yang disebabkan oleh kondisi alam maupun gangguan manusia. - TANTANGAN : Marka yang dipasang akan rusak/hilang seperti pada pemasangan sebelumnya. - STRATEGI : Pemasangan penanda melibatkan pengguna sumberdaya. Dikarenakan salah satu hasil evaluasi dari pemasangan penanda batas sebelumnya, masih kurang melibatkan pengguna sumberdaya secara langsung. Sehingga kurang memunculkan rasa tanggung jawab Yang berdampak pada ketidakpatuhan pengguna sumberdaya terhadap zonasi. Patroli Pengawasan pada Wilayah Larang Tangkap - Salah satu hal penting untuk menilai tingkat kepatuhan pengguna sumber daya atas zonasi adalah adanya pengawasan untuk penegakan aturan peruntukan masing-masing zona. Untuk Program Pride Campaign ini pengawasan difokuskan untuk penghentian aktifitas ekstraktif pada No Take Zone (Zona Perlindungan Bahari dan Zona Pariwisata). Dengan adanya pengawasan yang intensif tersebut, maka kita dapat menilai tingkat kepatuhan pengguna sumberdaya untuk menghentikan aktifitas ekstraktif. Patroli Pengawasan yang dirancang dalam Pride Campaign ini adalah Patroli pengawasan wilayah larang tangkap yang melibatkan perwakilan pengguna sumberdaya - TANTANGAN : Diperlukan pengorbanan biaya, waktu dan tenaga dari pengguna sumberdaya - STRATEGI : 1. Identifikasi pengguna sumberdaya yang sudah memiliki kepatuhan terhadap aturan zonasi. 2. Identifikasi pengguna sumberdaya yang lokasi tangkapannya berdekatan / disekitar lokasi NTZ. 3. Meminta kesediaan pengguna sumberdaya yang memenuhi kriteria no 1 dan 2 untuk menjadi anggota tim pengawasan. 4. Pemberian insentif bagi Tim Pengawasan, dalam bentuk subsidi BBM, Peningkatan Kapasitas melalui beberapa pelatihan (Marine Protected Area, Kebijakan dan Hukum), dan terlibat dalam pembuatan media kampanye (Tokoh dalam pembuatan Video Partisipatif, Pembicara dalam Talk show Radio, dll).

PEMASANGAN PENANDA WILAYAH LARANG TANGKAP : 1. Identifikasi lokasi titik-titik pemasangan penanda batas wilayah larang tangkap 2. Penulisan nama lokal atas batas lokasi wilayah larang tangkap Identifikasi lokasi pemasangan penanda batas bersama perwakilan pengguna sumberdaya Campaign Pride membantu proses implementasi zonasi secara efektif, melalui : Penggunaan perangkat Social Marketing, untuk menguatkan dukungan masyarakat terhadap implementasi zonasi TNW Penerapan Strategi Penyingkiran Halangan atas ketidakpatuhan nelayan terhadap Zonasi TNW: - Pemasangan penanda batas dan Pengawasan wilayah larang tangkap Tahapan Pemasangan penanda batas pada wilayah larang tangkap (WLT), terdiri dari : Identifikasi lokasi titik-titik pemasangan penanda batas bersama perwakilan pengguna sumberdaya -Bertujuan sebagai sarana groundchek antara lokasi WLT yang di peta dengan lokasi di lapangan. Selain itu hasil evaluasi penggunaan media peta zonasi sebagai media menyebarluaskan informasi mengenai zonasi dinilai masih kurang memberikan dampak seperti yang diharapkan. Hal ini dikarenakan sebagian besar nelayan kemampuan membaca peta nya kurang, sehingga menyebabkan kemampuan penerjemahan nelayan atas lokasi tangkapnya dengan peta zonasi yang disahkan seringkali masih multi tafsir. Hal ini menjadi salah satu barrier komunikasi bagi nelayan untuk menerima zonasi. Sehingga salah satu solusinya adalah pelibatan perwakilan pengguna sumberdaya untuk terlibat dalam kunjungan lapangan dalam identifikasi lokasi titik-titik pemasangan marka. Melalui pelibatan tersebut perwakilan pengguna sumberdaya dapat menyampaikan hasil pengamatan dilapangan kepada para pengguna sumberdaya lainnya melalui istilah-istilah lokal yang lebih mudah diterima dan dipahami. Penulisan nama lokal atas lokasi dan batas wilayah larang tangkap berdasarkan diskusi dengan perwakilan pengguna sumberdaya tersebut - Melalui pelibatan pengguna sumberdaya lokal dalam identifikasi titik-titik marka zonasi maka nama-nama lokal , yang berkaitan dengan lokasi wilayah larang tangkap (WLT) dan batas-batas WLT tersebut dapat teridentifikasi juga. Hal ini untuk memudahkan dalam memberikan penjelasan kepada pengguna SDA lain atas lokasi dan WLT. Dengan penggunaan istilah lokal tersebut dapat membantu dalam merumuskan pesan dalam media yang digunakan sebagai sarana penyuluhan ke nelayan sebagai pengguna sumber daya laut . Penulisan nama lokal lokasi dan batas wilayah larang tangkap

Video Partisipatif: Pemeran nelayan yang telah patuh terhadap aturan zonasi Penyebarluasan informasi zonasi : Penggunaan berbagai media yang lebih efektif dalam konteks lokal Radio komunitas Dari hasil survey KAP di awal kampanye, media yang disukasi masyarakat untuk mengetahui informasi tentang Zonasi TN.Wakatobi adalah Diskusi di tingkat desa. Penggunaan bahasa lokal dalam menjelaskan mengenai zonasi bisa mempermudah penerimaan konsep zonasi oleh masyarakat. Media yang paling sering di akses masyarakat TV - Pembuatan video partisipatif , yang kemudian ditayangkan di Desa menjadi alternatif lain dari iklan TV - Pemeran dalam video partisipatif adalah nelayan yang telah patuh terhadap zonasi. Radio - Penggunaan Iklan Layanan Masyarakat, Diskusi radio, dan kuis interaktif - Radio Komunitas sebagai satu-satunya radio yang diminati oleh nelayan sebagai media penyebarluasan informasi zonasi Diskusi Zonasi di Desa: Zonasi untuk menjamin ketahanan pangan

Integrasi Pride Campaign dalam Program TNW TANTANGAN : 1. Usulan kegiatan Pride ke dalam DIPA TN.Wakatobi Tahun 2012 2. Adanya Perubahan alokasi anggaran untuk pelaksanaan kegiatan Tahun 2012 STRATEGI : Optimalisasi Program Pride Campaign Tahap I (2010 – 2012) Evaluasi untuk mengukur dampak Program Pride Campaign Usulan pendanaan fase-2 Pride Campaign melalui dana hibah alumni Pride RARE

TERIMA KASIH