Diberikan dalam Asistensi praktikum Ilmu Gizi DDT

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
Gizi Seimbang Widya Rahmawati Program Studi Ilmu Gizi
Advertisements

“DIET PENYAKIT HATI DAN KANDUNG EMPEDU”
Yetti Wira Citerawati Sy
DASAR DIETETIK untuk pasieN
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN MAKHLUK HIDUP kelas III smt 1
Gizi Kuliner 1 (Makanan Indonesia) Nany Suryani, S.Gz.
Kuliah Pengetahuan Bahan Agroindustri VITAMIN
Gizi Kuliner 1 Nany Suryani, S.Gz
GIZI anak BALITA SUDARMANI DJOKO MKes.
MODIFIKASI MAKANAN LUNAK & SARING (modul 3)
PERAWATAN LANSIA DENGAN ARTRITIS GOUT (ASAM URAT)
Modul 9 Kuliner Lanjut (Teori) MODIFIKASI MAKANAN RENDAH KALIUM
DIET PADA GANGGUAN PERNAFASAN
Diabetes mellitus By kelompok4 Peminatan Gizi Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat UNIVERSITAS JEMBER.
NUTRISI Rekomendasi Nutrisi Yang Dibutuhkan Selama dan Setelah Kemoterapi (Yayasan Kasih Anak Kanker Jogja) dr. Maria Ulfa, MMR Fakultas Kedokteran dan.
KEBUTUHAN & KECUKUPAN ENERGI
KEBUTUHAN NUTRISI PADA LANSIA
GIZI UNTUK LANSIA By : ARISTA KURNIA.
GIZI WANITA HAMIL SEMESTER VI - 6 DAN 7.
DISUSUN OLEH : ARIANA DEWI ( ) YENI IMELDA ( )
Gizi seimbang untuk IBU HAMIL.
MENYIAPKAN DAN MENYAJIKAN HIDANGAN DIET
Tips Mencegah Timbulnya Gangguan Pencernaan
CARA CERDAS MENGATUR MENU IBU HAMIL
PEMELIHARAAN KESEHATAN
Agar Saraf Tetap Bugar Kunci utama untuk menjaga fungsi saraf tetap baik sampai tua adalah kecukupan asupan gizi, vitamin, dan mineral melalui makanan.
GIZI UNTUK IBU HAMIL DAN KOMPLIKASI
Present by : ANNISA RUSDI
A. Cara menghitung kebutuhan energi dan zat gizi sehari
Modul 11 Kuliner Lanjut (T) MODIFIKASI MAKANAN SISA RENDAH
KOMPLIKASI-KOMPLIKASI PADA KEHAMILAN
STANDAR MAKANAN RUMAH SAKIT
PENATALAKSANAAN GIZI PADA PASIEN ANAK DENGAN GASTRO ENTERITIS di RUMAH SAKIT PERSAHABATAN ONLY IVONILA RIWU ( ) 
GIZI SEIMBANG WANITA HAMIL
DIABETES MELITUS (DM) SYAFRIANI
MODIFIKASI MAKANAN LUNAK & SARING (modul 3)
PERAWATAN LANSIA DENGAN ARTRITIS GOUT (ASAM URAT)
DISUSUN OLEH : ARIANA DEWI ( ) YENI IMELDA ( )
POLA HIDUP SEHAT DENGAN MEMPERHATIKAN VITAMIN YANG ADA DALAM TUBUH
Hepatitis A Nurmayanti.
Modul 9 Kuliner Lanjut (Teori) MODIFIKASI MAKANAN RENDAH KALIUM
GIZI UNTUK LANSIA NAMA:RIKA OKTAVIA IA.
GIZI PADA LANSIA Oleh : SILVIA MELINI
OBESITAS NUTRIEN YETTI WIRA CITERAWATI SY, S.Gz, M.Pd.
KEBUTUHAN NUTRISI PADA LANSIA
GIZI PADA LANSIA Intan Julianingsih I A.
HUBUNGAN GIZI DENGAN KESEHATAN REPRODUKSI
Diet Pada Saluran Cerna
GIZI SEIMBANG BAYI DAN BALITA
VITAMIN SYAFRIANI.
4 SEHAT 5 SEMPURNA.
GIZI UNTUK LANSIA TRIWIDIARTI
GIZI WANITA HAMIL SEMESTER VI - 6 DAN 7.
Oleh: Weni Pratiwi Azhar Billah Aziz Agung Kurniaji
Oleh Meili rianita Skep Ners
ASUHAN GIZI PADA LANSIA DAN PASIEN GERIATRI
Tim PKPR (Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja) Puskesmas Bangunsari
Diabetes Melitus KELOMPOK I WIRDA YUNIANI THERESIA.
POLA HIDUP SEHAT DENGAN MEMPERHATIKAN VITAMIN YANG ADA DALAM TUBUH
Siklus Daur Kehidupan Manusia
DIABETES MELITUS L/O/G/O.
ASUHAN GIZI SEIMBANG PADA IBU NIFAS DAN MENYUSUI
Metode Food Frecuency Quesionare Semi Quantitative Oleh : Bertha Simarmata Ariska Tri Ayuningdyah.
PEDOMAN UMUM GIZI SEIMBANG (PUGS) Tiga Belas Pesan Umum Gizi Seimbang
STANDAR MAKANAN RUMAH SAKIT
STANDAR MAKANAN RUMAH SAKIT
Menyusun Strategi Penyajian Kebutuhan Nutrisi Anak
Pembuatan Makanan Bayi 6 – 12 Bulan
PERENCANAAN MENU.
TATALAKSANA DIET PADA PASIEN PERIOPERATIF
Transcript presentasi:

Diberikan dalam Asistensi praktikum Ilmu Gizi DDT Program Studi Pendidikan Dokter UNIBA 2009

PRAKTIKUM ILMU GIZI SISTEM DASAR DIAGNOSTIK & TERAPI ILMU GIZI DASAR  Antropometrik (bayi, anak & dewasa) ILMU GIZI KLINIK  Terapi Dietetik (MPB, ML, MS, MC/MLP)

ILMU GIZI DASAR PENILAIAN STATUS GIZI CARA ANTROPOMETRIK

Pendahuluan Antropometrik  indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter. Parameter  ukuran tunggal dari tubuh manusia antara lain umur, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar panggul dan tebal lemak di bawah kulit.

PENILAIAN STATUS GIZI CARA ANTROPOMETRIK DEWASA: BB untuk TB Lingkar Lengan Atas BAYI & ANAK: Lingkar Lengan Atas (LLA) LLA untuk TB umur 1- 10 tahun

PRAKTIKUM 1 ( PENILAIAN STATUS GIZI CARA ANTROPOMETRI BERAT BADAN (BB) UNTUK TINGGI BADAN (TB) ORANG DEWASA

Pendahuluan Masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa (18 tahun ke atas) merupakan masalah penting, karena selain mempunyai resiko penyakit-penyakit tertentu, juga dapat mempengaruhi produktivitas kerja. Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupakan alat atau cara sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa.

Alat yang digunakan untuk orang dewasa: BB : - Spring balance scale - Platform balance scale TB : - Microtoice

Rumus penentuan status gizi: BBI : (TB – 100) – 10 % (TB – 100) IMT : BB / TB² Satuan ukur: BBI : TB dalam cm IMT : BB dalam Kg dan TB dalam meter (m)

Klasifikasi Interpretasi Status Gizi IMT IMT (Kg/m²) Resiko ko-morbiditas BB Kurang < 18,5 Rendah Normal 18,5 – 22,9 BB Lebih >23 Beresiko 23 - 24,9 Meningkat Obesitas I 25 – 29,9 Moderat Obesitas II >30 Berat

PRAKTIKUM 2 PENILAIAN STATUS GIZI CARA ANTROPOMETRI LINGKARAN LENGAN ATAS (LLA) UNTUK ORANG DEWASA

Pendahuluan: Lingkar lengan atas (LLA) dewasa ini memang merupakan salah satu pilihan untuk penentuan status gizi, karena mudah dilakukan dan tidak memerlukan alat-alat yang sulit diperoleh dengan harga yang lebih murah. Akan tetapi ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian terutama jika digunakan sebagai pilihan tunggal untuk indeks status gizi misalnya kesalahan pengukuran pada LLA relatif lebih besar dibandingkan TB.

Alat yang digunakan : Insertion tape  suatu pita pengukur yang terbuat dari fiberglass atau jenis kertas tertentu berlapis plastik Tempat pengukuran LLA : Pengukuran dilakukan di bagian tengah antara acromion dan olecranon.

Syarat-syarat pengukuran LLA : - lengan yang diukur adalah lengan yang tidak aktif - lengan dalam keadaan bergantung bebas, tidak tertutup kain/pakaian - lengan baju dan otot lengan dalam keadaan tidak tegang atau kencang - alat pengukur dalam keadaan baik dalam arti tidak kusut atau sudah dilipat-lipat sehingga permukaannya sudah tidak rata

Cara pengukuran LLA : 1. Tetapkan posisi acromion dan olecranon 2. Letakkan pengukur antara acromion dan olecranon 3. Tentukan titik tengah lengan 4. Lingkarkan pita LLA pada tengah lengan sampai cukup terukur lingkar lengan 5. Pita jangan terlalu kuat ditarik atau terlalu longgar 6. Cara pembacaan skala yang benar

Rumus Penentuan Status Gizi: Nilai standar LLA : Laki-laki : 29,5 cm Perempuan : 28,5 cm Rumus Penentuan Status Gizi: Penilaian status gizi : Baik : > 85% Kurang : 75,1%-85% Buruk :  75% LLA yang diukur % SG = X 100% LLA standar

Ө Lengan = LLA 3,14 Ө Otot = Ө lengan – TLK О otot = Ө otot x 3,14

Insertion Tape

PRAKTIKUM 4 PENILAIAN STATUS GIZI CARA ANTROPOMETRI LINGKARAN LENGAN ATAS (LLA) MENURUT UMUR UNTUK BAYI & ANAK

LLA untuk Bayi & Anak: Alat yang digunakan : Insertion tape  suatu pita pengukur yang terbuat dari fiberglass atau jenis kertas tertentu berlapis plastik Tempat pengukuran LLA : Pengukuran dilakukan di bagian tengah antara acromion dan olecranon.

sudah tidak rata Syarat-syarat pengukuran LLA : - lengan yang diukur adalah lengan yang tidak aktif - lengan dalam keadaan bergantung bebas, tidak tertutup kain/pakaian - lengan baju dan otot lengan dalam keadaan tidak tegang atau kencang - alat pengukur dalam keadaan baik dalam arti tidak kusut atau sudah dilipat-lipat sehingga permukaannya sudah tidak rata

Cara pengukuran LLA : 1. Tetapkan posisi acromion dan olecranon 2. Letakkan pengukur antara acromion dan olecranon 3. Tentukan titik tengah lengan 4. Lingkarkan pita LLA pada tengah lengan sampai cukup terukur lingkar lengan 5. Pita jangan terlalu kuat ditarik atau terlalu longgar 6. Cara pembacaan skala yang benar

Status gizi berdasarkan warna pada pita shakir : - merah : 7,5 - 12,5 cm : status gizi buruk - kuning : 12,6 – 13,5 cm : status gizi kurang - hijau : 13,5 – 17,5 cm : status gizi baik - putih : > 17,5 cm : status gizi overweight

Rumus penentuan status gizi berdasarkan daftar 6 (LLA untuk umur) : %SG = LLA diukur/LLA standar x 100% LLA standar = LLA baku (80%) pada daftar 1 Interpretasi : - Status gizi baik : > 85% - Status gizi kurang : 70,1 – 85% - Status gizi buruk : ≤ 70%

Insertion Tape/Pita Shakir

PRAKTIKUM 4 (Kode Praktikum: GD/APM/B/III) PENILAIAN STATUS GIZI CARA ANTROPOMETRI LINGKARAN LENGAN ATAS (LLA) UNTUK TINGGI BADAN (TB) ANAK UMUR 1-10 TAHUN

LLA untuk TB Anak 1- 10 tahun Alat yang digunakan : TB : microtoice LLA : pita shakir Quac stick Rumus penentuan status gizi berdasarkan daftar (LLA untuk TB) : % SG = LLA diukur/LLA standar x 100% LLA standar = LLA baku (85%) pada daftar 2 Interpretasi : - Status gizi baik : > 85% - Status gizi kurang : 70,1 – 85% - Status gizi buruk : ≤ 70%

Untuk menyeleksi secara cepat status gizi anak dengan cara LLA untuk TB dikenal dengan menggunakan Quac stick. Cara memakai Quac stick : - Hubungkan TB (cm) pada sisi kiri dengan LLA (cm) pada sisi kanan - Bila garis penghubung : mendatar = gizi baik menurun = gizi kurang menanjak = gizi lebih

Quac Stick

PENENTUAN KEBUTUHAN ENERGI DENGAN Praktikum 5 PENENTUAN KEBUTUHAN ENERGI DENGAN MENGGUNAKAN RUMUS HARRIS BENEDICT

TAMBAHAN PENILAIAN STATUS GIZI CARA ANTROPOMETRI BERAT BADAN (BB) DAN TINGGI BADAN (TB) UNTUK BAYI DAN ANAK

Anak : -Platform balance scale -Spring balance scale Bayi : Dacin Alat yang digunakan : Berat badan Anak : -Platform balance scale -Spring balance scale Bayi : Dacin Tinggi badan Anak : Microtoice Bayi : Infantometer

FORMULA US-NCHS (National centre for health statistic) Skor baku rujukan Nilai individual subyek (NIS) – Nilai median baku rujukan Nilai simpang baku rujukan (NSBR) Z-score = BB sekarang – median +1SD – median

Interpretasi : Baik : > -2 SD Kurang : (-2) – (-3) SD Buruk : < -3 SD

Contoh : Anak ♂ 36 bulan, BB = 15,2 Kg, TB = 96 cm Z-score ? PB/U = Z-score = 96 – 96,5 = -0,139 100,1 – 96,5 BB/U = ? BB/TB = ?

ILMU GIZI KLINIK TERAPI DIETETIK

PRAKTIKUM 1 (Kode Praktikum: GK/TDE/A/I) MAKANAN PADAT BIASA

PRAKTIKUM 1 : MAKANAN PADAT (BIASA) Makanan padat (biasa) adalah bentuk makanan yang diberikan pada orang normal. Makanan biasa sama dengan makanan sehari-hari yang beraneka ragam, bervariasi dengan bentuk, tekstur dan aroma yang normal. Makanan biasa terdiri dari golongan makanan pokok, golongan lauk-pauk, golongan sayuran dan golongan buah.

Syarat-syarat diet makanan biasa 1. Energi sesuai kebutuhan normal orang dewasa dalam keadaan istirahat. 2. Protein 10-15% dari kebutuhan energi total 3. Lemak 10-25% dari kebutuhan energi total 4. Karbohidrat 60-75% dari kebutuhan energi 5. Cukup mineral, vitamin dam kaya serat 6. Makanan tidak merangsang saluran cerna 7. Makanan sehari-hari beraneka ragam dan bervariasi

Indikasi pemberian makanan biasa Makanan biasa diberikan kepada pasien yang tidak memerlukan diet khusus berhubungan dengan penyakitnya.

Makanan yang dianjurkan Walau tidak ada pantangan secara khusus, makanan sebaiknya dalam bentuk yang mudah dicerna dan tidak merangsang pada saluran cerna

Makanan yang tidak dianjurkan Makanan yang tidak dianjurkan untuk diet makanan biasa adalah makanan yang merangsang seperti makanan yang berlemak tinggi, terlalu manis, terlalu berbumbu dan minuman yang mengandung alkohol.

Bahan makanan tersebut dapat ditukar dengan bahan makanan lain sesuai dengan makanan yang ada di daerah dan kebiasaan makanan setempat. Bahan makanan pada tiap golongan dalam jumlah yang dinyatakan pada daftar URT bernilai gizi hampir sama, oleh karena itu satu sama lain dapat saling menukar. Contohnya : Nasi 100 g = ¾ gls Kentang 200 g = 2 biji sedang Keduanya mengandung 175 kkal, 4 gr protein, 40 gr HA

PRAKTIKUM 2 (Kode Praktikum: GK/TDE/A/II) MAKANAN LUNAK (SOFT DIET)

PRAKTIKUM 2 : MAKANAN LUNAK (SOFT DIET) Makanan lunak adalah makanan yang memiliki tekstur yang mudah dikunyah, ditelan dan dicerna dibandingkan makanan biasa. Makanan lunak merupakan perpindahan dari makanan saring ke makanan biasa.

Syarat-syarat diet makanan lunak Energi, protein dan zat gizi lain cukup Makanan diberikan dalam bentuk cincang atau lunak, sesuai dengan keadaan penyakit dan kemampuan makan pasien. Makanan diberikan dalam porsi sedang, yaitu 3 kali makan lengkap dan 2 kali selingan. Makanan mudah cerna, rendah serat dan tidak mengandung bumbu yang tajam.

Indikasi pemberian makanan lunak Pasien sesudah operasi tertentu Pasien dengan penyakit infeksi dengan kenaikan suhu tubuh tidak terlalu tinggi Pasien dengan kesulitan mengunyah dan menelan Sebagai perpindahan dari makanan saring ke makanan biasa.

Makanan yang boleh diberikan Sumber HA : beras ditim, dibubur, kentang direbus, makaroni, soun, mi, misoa direbus, roti, biskuit, tepung sagu, tapioka, maizena, hunkwe dibubur atau dibuat puding, gula, madu Sumber protein hewani : daging, ikan, ayam, tidak berlemak direbus, dikukus, ditim, telur direbus, diceplok air, diorak-arik, bakso ikan, sapi atau ayam direbus, susu, milkshake, yoghurt, keju.

Makanan yang boleh diberikan Sumber protein nabati : tempe dan tahu direbus, dikukus, ditumis, dipanggang, kacang hijau direbus, susu kedelai. Sayuran : sayuran tidak banyak serat dan dimasak seperti daun bayam, daun kangkung, kacang panjang muda, buncis muda, labu siam, labu kuning, tomat, wortel. Buah-buahan : buah segar dihaluskan atau dipure tanpa kulit seperti pisang matang, pepaya, jeruk manis dan jus buah.

Makanan yang tidak boleh diberikan Sumber HA : nasi digoreng,beras ketan, ubi, singkong, tales, cantel Sumber protein hewani : daging dan ayam berlemak dan berurat banyak, daging ayam, ikan dan telur digoreng, ikan banyak duri seperti bandeng, mujair, mas dan selar Sumber protein nabati : tempe, tahu dan kacang-kacangan digoreng, kacang merah

Makanan yang tidak boleh diberikan Sayuran : sayuran banyak serat seperti daun singkong, daun katuk, daun melinjo, nangka muda, pare, sayuran yang menimbulkan gas seperti kol, sawi, lobak, sayuran mentah Buah-buahan : buah banyak serat dan menimbulkan gas seperti nenas, nangka masak, dan durian, buah lain dalam keadaan utuh kecuali pisang, buah kering.

PRAKTIKUM 3 (Kode Praktikum: GK/TDE/A/III) MAKANAN SARING (SEMI LIQUID DIET)

PRAKTIKUM 3 : MAKANAN SARING (SEMI LIQUID DIET) Makanan saring adalah makanan semipadat yang mempunyai tekstur lebih halus daripada makanan lunak, sehingga lebih mudah ditelan dan dicerna. Makanan saring merupakan perpindahan dari makanan cair kental ke makanan lunak.

Syarat-syarat diet makanan saring Hanya diberikan untuk jangka waktu singkat selama 1-3 hari, karena kurang memenuhi kebutuhan gizi, terutama energi dan tiamin. Rendah serat, mudah dicerna, tidak membentuk gas dalam saluran cerna, tidak merangsang saluran cerna, diberikan dalam bentuk disaring atau diblender. Diberikan dalam porsi kecil dan sering yaitu 6-8 kali sehari.

Indikasi pemberian makanan saring Pasien sesudah mengalami operasi tertentu Pasien pada infeksi akut termasuk infeksi saluran cerna (misal : typhus abdominalis atau gastroenteritis) Pasien dengan kesulitan mengunyah dan menelan Sebagai perpindahan dari makanan cair kental ke makanan lunak

Makanan yang boleh diberikan Sumber HA : beras dibubur saring atau dihaluskan (diblender), roti dipanggang atau dibubur, krakers, biskuit, tepung-tepungan seperti tepung beras, maizena, sagu, hunkwe , havermout dibubur atau dibuat puding, gula pasir, gula merah, gula aren, sirop. Sumber protein hewani : daging, ayam dan ikan tanpa duri digiling, dihaluskan, telur ayam rebus ½ masak atau dicampur dalam makanan atau minuman, susu sapi, yoghurt.

Makanan yang boleh diberikan Sumber protein nabati : tempe dan tahu digiling, kacang hijau disaring atau dihaluskan, susu kedelai. Sayuran : sayuran rendah serat dan disaring atau dihaluskan seperti bayam, labu siam, labu kuning, tomat, wortel. Buah-buahan : buah yang tidak banyak serat disaring atau dibuat jus atau dihaluskan seperti pepaya, semangka, melon, pisang,

Makanan yang tidak boleh diberikan Sumber HA : beras ketan, jagung, cantel, ubi, talas, singkong. Sumber protein hewani : daging dan ayam berlemak, daging ayam, ikan dan telur digoreng, daging diawet seperti dendeng, diasap, ikan diawet seperti dendeng dan diasap, ikan banyak duri seperti bandeng, mujair, mas dan selar.

Makanan yang tidak boleh diberikan Sumber protein nabati : kacang-kacangan dan hasil olah seperti tempedan tahu digoreng. Sayuran : sayuran banyak serat seperti daun singkong, daun katuk, daun melinjo, nangka muda, pare, sayuran yang menimbulkan gas seperti kol, sawi, lobak. Buah-buahan : buah banyak serat dan menimbulkan gas seperti nenas, nangka , durian dan kedondong

Contoh Menu Makanan Saring:

PRAKTIKUM 4 (Kode Praktikum: GK/TDE/A/IV) MAKANAN CAIR (FULL LIQUID DIET)

PRAKTIKUM 4 : MAKANAN CAIR ( FULL LIQUID DIET) Makanan cair adalah makanan yang mempunyai konsistensi cair hingga kental. Makanan dapat diberikan secara oral atau parenteral Menurut konsistensi makanan, makanan cair terdiri atas 3 jenis yaitu: makanan cair jernih, makanan cair penuh dan makanan cair kental.

Syarat-syarat diet makanan cair jernih Makanan yang diberikan dalam bentuk cair jernih yang tembus pandang Bahan makanan hanya terdiri dari sumber karbohidrat Tidak merangsang saluran cerna dan mudah diserap Sangat rendah sisa (residu) Diberikan hanya selama 1-2 hari Diberikan dalam porsi kecil tapi interval sering

Indikasi pemberian makanan cair jernih Pasien sebelum dan sesudah operasi tertentu Pasien yang intakenya tidak adekuat (mis: mual dan muntah) Pasien pasca perdarahan saluran cerna

Makanan yang boleh diberikan Teh, sari buah, sirop, air gula, kaldu jernih serta cairan mudah cerna seperti cairan yang mengandung maltodekstrin. Makanan dapat ditambah dengan suplemen energi tinggi dan rendah sisa.

Syarat-syarat diet makanan cair penuh Tidak merangsang saluran cerna Bila diberikan lebih dari 3 hari harus dapat memenuhi kebutuhan energi dan protein Kandungan energi minimal 1 kkal/ml. Konsentrasi cairan dapat diberikan secara bertahap dari ½,1/4 sampai penuh

Syarat-syarat diet makanan cair penuh Berdasarkan masalah pasien, dapat diberikan formula rendah atau bebas laktosa, dan sebagainya Untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral dapat diberikan tambahan ferosulfat, vitamin B kompleks dan vitamin C Sebaiknya osmolaritas < 400 Mosml

Indikasi pemberian makanan cair penuh Pasien yang mempunyai masalah untuk mengunyah, menelan atau mencernakan makanan padat misalnya pada operasi mulut atau tenggorokan, dan atau pada pasien dengan kesadaran menurun.

Makanan yang boleh diberikan Makanan dapat diberikan melalui oral,pipa tau enteral (Naso Gastric Tube) secara bolus atau drip (tetes) Makanan cair dengan susu penuh/skim => susu penuh, maizena, telur ayam, margarin, inyak, gula, sari buah Makanan diblender => nasi tim, telur ayam, daging giling, ikan, tahu, tempe ,wortel, labu kuning, sari buah

Syarat-syarat diet makanan cair kental Mudah ditelan dan tidak merangsang saluran cerna Cukup energi dan protein Diberikan bertahap menuju ke makanan lunak Porsi diberikan kecil dan sering (tiap 2-3 jam)

Indikasi pemberian makanan cair kental Pasien yang tidak mampu mengunyah, menelan serta untuk mencegah aspirasi (cairan masuk ke dalam saluran napas) seperti pada penyakit yang disertai peradangan, ulkus peptikum, atau gangguan struktural atau motorik pada rongga mulut.

Makanan yang boleh diberikan Sumber HA : kentang, gelatin, tapioka dibuat puding Sumber protein : susu, es krim, yoghurt, telur ayam, tahu giling Sumber lemak : margarin, mentega Sayuran : sayuran dibuat jus dan dikentalkan dengan gelatin Buah-buahan : buah dibuat jus, jeli dan pure

Contoh Menu Makanan Cair & MLP:

PRAKTIKUM 5 (Kode Praktikum: GK/TDE/A/V) APLIKASI KOMPREHENSIF DIETETIK PADA ORANG SAKIT

Sistem “SOAP” Subjective data Objective data Assessment Plan

A. Subjective Data Riwayat penyakit Food recall 24 jam Frekuensi konsumsi makanan Ketidakmampuan untuk makan sendiri Pengetahuan tentang zat gizi

B. Objective Data Evaluasi hubungan kebiasaan makan dan cara hidup Evaluasi asupan makanan 3 hari berturut-turut (recall diet) Evaluasi kebiasaan makan dan asupan makan sebelumnya, antropometrik, laboratorium dan pemeriksaan klinis. Interpretasi hasil laboratorium Evaluasi kemampuan penderita untuk dapat menerima dan mengerti intruksi diit yang diberikan.

C. Assessment Evaluasi and interpretasi subjective dan objective data Menentukan masalah gizi utama

D. P l a n Tindakan diambil berdasarkan data Subjektif, Objektif, Assessment Rekomendasi untuk melakukan komunikasi dan evaluasi antara anggota team Implementasi, monitoring dan perbaikan rencana asuhan nutrisi termasuk tujuan objektif untuk memecahkan masalah gizi penderita, termasuk follow-upnya

Energi : orang sehat dan sakit Dapat dihitung menggunakan rumus Harris-Benedict sbb: Laki-laki : BEE=66 + 13.7W + 5H – 6.8A Perempuan : BEE=655 + 9.6W + 1.7H – 4.7A Untuk mendapatkan hasil yg akurat perlu diperhitungkan aktivitas dan injury factor utamanya pada penderita yang sakit

Aktivitas faktor: 1.2 pt bedrest 1.3 ambulatory pt 1.5-1.75 normal pt 2.0 extremely active Injury factor 1.2 minor operasi 1.35 skeletal trauma 1.44 elective operasi 1.6-1.9 major sepsis 1.88 trauma + steroid 2.1-2.5 luka bakar berat Total daily expenditure [TDE] penderita dpt dihitung dg mengalikan BEE dg aktifitas faktor [AF] dan injury faktor [IF]

Keadaan Khusus Untuk mempertahankan BB : BEE x 1,2-1,5 Untuk peningkatan BB pada pasien yang stabil : BEE x 2

- Laki-laki : 1 kkal x kg BB x 24 jam CARA CEPAT : - Laki-laki : 1 kkal x kg BB x 24 jam Perempuan : 0,95 x kg BB x 24 jam - Laki-laki : 30 kkal x kg BB Perempuan : 25 kkal x kg BB

Terima Kasih