ABSTRAKSI PENELITIAN Penulis Jani Purnawanty Asal Fakultas Hukum Sumber Dana DIPA-RM Tahun 2009 Bidang Ilmu Hukum PENATAAN PENANGANAN PENYAKIT TROPIS (TROPICAL.

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
STANDARDISASI DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN KEMENTERIAN PERDAGANGAN
Advertisements

PENTINGNYA PAKET PERLINDUNGAN PEKERJA MIGRAN DAN PRT
KOMPETENSI MATA KULIAH
KEBIJAKAN PENGEMBANGAN STANDAR NASIONAL INDONESIA
Agreement on Application of Sanitary and Phytosanitary Measures (SPS)
Dasar hukum amdal (UUPLH) TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP:
PANDUAN PENULISAN LAPORAN TEKNIS
PRINSIP NATIONAL TREATMENT (KASUS MOBIL NASIONAL INDONESIA)
DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP GOVERNANCE DI INDONESIA
PENGERTIAN PROYEK Proyek  kegiatan investasi terhadap sumberdaya yang ada, guna memperoleh manfaat sebesar-besarnya bagi individu atau masyarakat seluruhnya.
SANITARY AND PHYTOSANITARY (SPS)
AKUNTANSI KOMPARATIF I
Riau, 15 Maret 2011 Dipresentasikan oleh: Dwi Martani
SWADAYA MASYARAKAT DI KOTA DEPOK (Studi Kasus BKM Bina Budi EFEKTIVITAS PROGRAM BANTUAN DANA BERGULIR PADA KELOMPOK for further detail, please visit
“APLIKASI IWAN TAUFIK for further detail, please visit
The International Organization for Trade
Intan Silviana Mustikawati, SKM, MPH
ABSTRAKSI for further detail, please visit
LEMBAGA KEUANGAN INTERNASIONAL
Kebijakan Kesehatan.
Sistem Standardisasi Nasional dan PP No
DASAR HUKUM INFORMATIKA DAN SISTEM INFORMASI KESEHATAN
AGRIBISNIS DAN INDUSTRIALISASI PERTANIAN
UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2014
Kuliah 7 – Manajemen Proyek
KEY ISSUES.
Etika Bisnis dan Konsep Good Corporate Governance (GCG)
Good Governance Etika Bisnis.
LBH BALI WCC ( LEMBAGA BANTUAN HUKUM BALI WOMEN CRISIS CENTER )
SEJARAH WORLD TRADE ORGANIZATION
Bab 4. Tatakelola TI.
TANTANGAN KODE ETIK KESEHATAN MASYARAKAT
Good Corporate Governance
AKUNTANSI DAN KEUANGAN SYARIAH
AGRIBISNIS DAN AGROINDUSTRI
SERTIFIKASI.
Pendahuluan 1. Pengertian Studi Kelayakan
SWADAYA MASYARAKAT DI KOTA DEPOK (Studi Kasus BKM Bina Budi EFEKTIVITAS PROGRAM BANTUAN DANA BERGULIR PADA KELOMPOK for further detail, please visit
Aplikasi Teori Permintaan dan Penawaran
ANALISIS BIAYA-MANFAAT PROYEK PERTEMUAN I : PENGERTIAN, TUJUAN, RUANG LINGKUP, ASPEK, DAN KEGUNAAN BAGI PEMBANGUNAN NASIONAL.
AKUNTANSI INTERNASIONAL
Bedah Kasus 2 Sertifikasi Hutan COMPLETE….
Kuliah 2 ARTI DAN PERAN AMDAL.
Regionalisme ASEAN Kelompok 2.
Pelaksanaan Solusi Bisnis & Pengelolaan Perubahan
Dampak dan Implikasi Bisnis yang ber-Etika
PENDAHULUAN PERTANIAN DAN PEMBANGUNAN PERTANIAN
LIBERALISASI PERBANKAN
Tahapan dan Aspek Dari Evaluasi Proyek
ISAK 30 PUNGUTAN.
SELF ASSESMENT PELAKSANAAN GCG
Semester VII/Kelas A, B, C
PELAPORAN EVALUASI DIRI
Studi Kasus KEBIJAKAN KEHUTANAN COMPLETE….
PUNGUTAN ISAK 30.
SISTEM PELAYANAN KESEHATAN PERTEMUAN 12
Kelompok 7 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 1991 Tentang Latihan Kerja.
Sistematika Penulisan Karya Ilmiah
KEBIJAKAN OBAT  .
KERJA SAMA DESA I .N Budhi Wirayadnya,ST TA-PMD Kota Denpasar.
PENANGGULANGAN BENCANA DI INDONESIA
AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH
LAPORAN ARUS KAS (PSAK-2 DAN ETAP) DAN CONTOH PENERAPANNYA
DE ISAK 35 PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN ENTITAS BERORIENTASI NIRLABA
Kerja sama internasional di antara negara-negara Oleh: FAJRI SESWANDA Jurusan Manajemen Fakutas ekonomi Universitas mahaputra muhammad yamin.
Penerapan Standar sebagai basis Regulasi Teknis
PERKEMBANGAN hpi PADA AWAL PERTUMBUHAN
Dampak dan Implikasi Bisnis yang ber-Etika
SWADAYA MASYARAKAT DI KOTA DEPOK (Studi Kasus BKM Bina Budi EFEKTIVITAS PROGRAM BANTUAN DANA BERGULIR PADA KELOMPOK for further detail, please visit
SISTEM INFORMASI KESEHATAN
Transcript presentasi:

ABSTRAKSI PENELITIAN Penulis Jani Purnawanty Asal Fakultas Hukum Sumber Dana DIPA-RM Tahun 2009 Bidang Ilmu Hukum PENATAAN PENANGANAN PENYAKIT TROPIS (TROPICAL DISEASES) DALAM RANGKA PENERAPAN AGREEMENT ON THE APPLICATION OF SANITARY AND HYTOSANITARY MEASURES OF THE WTO SEBAGAI UPAYA PENGUATAN POSISI INDONESIA PADA ERA PASAR BEBAS ABSTRAK Posisi tindakan bagi perlindungan kesehatan menurut regulasi WTO ditentukan oleh ketentuan SPS Agreement, TBT Agreement, dan GATT 1994 berdsarkan ruang lingkup aplikasinya masing¬masing. Tindakan ini diterima oleh ketiga perjanjian ini, bergantung pada tujuannya, bentuk dan sifat seta dampaknya bagi perdagangan. SPS Agreement bertujuan mencapai keseimbangan yang layak antara kedua tujuan itu. Karena itu, ketentuan yang membatasi janglauannya membahas resiko kesehatan yang mungkin timbul dari perdagangan pada produk pertanian olahan dan primer, seperti resiko kesehatan makanan dan resiko dari hama dan penyakit hewan dan tanaman. SPS Agreement tidak dapat dipandang terpisah, namun hares dipandang berkaitan dengan perjanjian WTO lainnya yang mungkin relevan dengan posisi tindakan SPS, yaltu TBT Agreement, GATT 1994 dan Perjanjian Bidang Pertanian. Untuk memastikan bahwa perjanjian ini diinterpretasikan secara harmoni, maka perlu dibahas ruang lingkup penerapan perjanjian dan prioritasnya konflik. Masalah dapat diterapkannya SPS Agreement pada persyaratan SPS dari lembaga selain pemerintah pusat dengan kesulitan. Semakin berubahnya norma penciptaan dan pelaksanaan SPS pada tingkat Sub nasional dan transnasional dalam dekade terakhir menjadikan masalah ini sebagai perhatian utama. Sementara pemikiran bahwa negara anggota bertanggung jawab memenuhi kewajiban WTO menurut tingkat pemerintahan subnasional mereka sekarang telah diiterima, namun hal ini tidak terjadi pada entitas non pemerintahan. Konsep entitas non pemerintah dan lembaga regional pada Art. 13 hares diinterpretasikan dengan memasukkan lembaga sektor swasta pada tingkat subnasional dan transnasional, melihat pesatnya perkembangan standar sektor swasta. Namun, luasnya kewajiban untuk mengambil tindakan yang layak yang tersedia hares dipandang sebagai hal yang terbatas. Apa yang layak bergantung pada kondisi permasalahan, dan terutama pada jenis entitas yang digunakan. Sementara itu, Code of Good Practice bagi SPS Agreement, dengan regulasi procedural yang tepat untuk meningkatkan transparansi, konsultasi dan pengakuan atas kesetaraan hares disusun, dimana perjanjian ini tidak mungkin dicapai, Code of Good Practice dari TBT Agreement harus diinterpretasikan berlaku bagi standar SPS sektor swasta. Akhimya, dapat diberlakukannya SPS Agreement bagi semua tindakan SPS tetap terjadi, termasuk yang disahkan sebelum diberlakukannya perjanjian, adalah dua sisi pedang. DI satu sisi, SPS Agreement menghindari pengabaian tindakan yang ada yang akan memperlemah keefektifan SPS Agreement. Di sisi lain, menciptakan kewajiban bagi para negara Anggota untuk merevisi tindakan SPS mereka yang mendahului SPS Agreement untuk memastikan kesesuaian tindakan itu dengan peraturan baru. Negara anggota dengan sistem regulasi SPS yang kurang maju, dimana pelaksanaan penilaian resiko dan pertimbangan standar internasional tidak menjadi masalah, hal ini bisa menjadi masalah yang berat. Kata Kunci: SPS measures, kesehatan, pertanian, WTO