Nama : Parwadi nugroho NPM : 20405846 Jurusan : Teknik Mesin Pembimbing I : Prof. Dr. Syahbuddin Pembimbing II : Ir. Sunyoto, MT.

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
Perkerasan Jalan By Leo Sentosa.
Advertisements

UJI KEKERASAN DAN MIKRO STRUKTUR PADA KOMPOSIT AL DAN SiC
SISTEM PNEUMATIK 1.1.         Umum. Pneumatik berasal dari bahasa Yunani yang berarti udara atau angin. Semua sistem yang menggunakan tenaga yang disimpan.
PERSENTASI FISIKA.
Klasifikasi Material Material Teknik.
Lembono Susanto Soejono Tjitro Helena C Kis Agustin
LUBRICANT MINYAK PELUMAS
Bahan Logam dan Non Logam
MINDRY( ) JURUSAN TEKNIK MESIN
PENGARUH PENYEBARAN HIDROKSIAPATIT (HAP) TERHADAP KEKUATAN KOMPOSIT MATRIK COLOPHONY (PINE RESIN) IRWAN HERMAWAN ( ) JURUSAN TEKNIK MESIN SKRIPSI.
Nama. : Eko Budiono NPM. : Jurusan. : Teknik Mesin Pembimbing
A. Nama for further detail, please visit
UAP Daya dalam bidang Pertanian
Tahukah kalian orang yang sedang tarik tambang
A. Nama for further detail, please visit
Pembimbing : 1. Dr.Rr.Sri Poernomo Sari, ST, MT Universitas Gunadarma
  Nama : Ahmad Bahtiar NPM : Jurusan : Teknik Mesin
U N I V E R S I T A S G U N A D A R M A
Disusun oleh : Wartiwan
ANTON LUHUR PAMUJI, PENGARUH PENAMBAHAN TRAS MURIA SEBAGAI BAHAN IKAT TAMBAHAN PADA PEMBUATAN PAVING BLOCK DITINJAU TERHADAP NILAI KUAT TEKAN,KETAHANAN.
Universitas Gunadarma
U N I V E R S I T A S G U N A D A R M A
Memahami Dasar-dasar Mesin
POROS Definisi. Poros adalah suatu bagian stasioner yang beputar, biasanya berpenampang bulat dimana terpasang elemen-elemen seperti roda gigi (gear),
KULIAH-2 PROSES DAN FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP EROSI
Jurusan Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan
A. Nama for further detail, please visit
SISTEM PELUMASAN DAN PENDINGINAN
PEMILIHAN BAHAN DAN PROSES PEMBUATAN CONNECTING ROD
TUGAS AKHIR REKALKULASI WINDSHIELD WIPER PADA CHEFROLET OLEH JEAN DE BELE PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN DIII.
PERFORMA HARD MACHINING PADA AISI-01 ALLOY TOOL STEEL
Perancangan Ulang Mesin Bending Test UNIVERSITAS PASUNDAN BANDUNG
KEBISINGAN (NOISE).
JENIS-JENIS KERUSAKAN PERMUKAAN JALAN
PENERAPAN METODE TAGUCHI UNTUK PROSES OPTIMISASI TERHADAP DAYA TAHAN SPOT WELDING OLEH : NOVI RAMADHANNY
Matakuliah : R0132/Teknologi Bahan Tahun : 2006
MATERIAL TEKNIK “KOMPOSIT”
KARAKTERISASI MATERIAL KOMPOSIT
TEKNOLOGI BAHAN BANGUNAN (#TEKNOLOGI BETON KHUSUS) ©
TUGAS AKHIR PEMBUATAN SUDU TURBIN MIKROHIDRO KAPASITAS 100 WATT KOMPOSIT IJUK-RESIN YANG DIBUAT DENGAN TEKNIK VACUUM BAG RUSTAN ABIMANYU
MESIN INJEKSI PUPUK GRANUL SEDERHANA
AGREGAT DAN PRODUKSINYA
PERAWATAN MESIN JURUSAN TEKNIK MESIN
MODUL 9 1. PENDAHULUAN Dewasa ini kita akan memasuki era globalisasi internasional, dimana sektor industri otomotif merupakan salah satu sektor yang mendapat.
BETON (CONCRETE) Beton adalah bahan bangunan komposit yang terdiri dari: Pasta semen (bahan pengikat) Agregat (bahan pengisi) Campuran tersebut menghasilkan.
VOLUME, DENSITAS, BAHAN PADAT DAN CAIR SERTA POROSITAS
PERAWATAN MESIN JURUSAN TEKNIK MESIN
MEKANIKA ZALIR (FLUIDA)
VOLUME, DENSITAS BAHAN PADAT DAN CAIR SERTA POROSITAS
Material teknik disampaikan oleh Catur Pramono UNTIDAR
Tugas Teknik pengecoran
MEKANIKA ZALIR (FLUIDA)
Sambungan Baut dan Mur Baut dan mur adalah salah satu sambungan yang tidak tetap, artinya sambungan tersebut dapat dipasang dan dilepas tanpa merusak konstruksi.
ANALISIS LAJU KOROSI BAJA TAHAN KARAT SPA-c PADA DINDING SAMPING KERETA API DI BALAIYASA MANGGARAI PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO) Oleh: SYAEFUL AHMAD.
PERTEMUAN 6 FLUIDA.
Jurusan Teknik Mesin [KE] UNIVERSITAS HASANUDDIN
POROS Poros merupakan salah satu bagian yang terpenting dari setiap mesin, hampir semua mesin meneruskan tenaga bersam-sama dengan putaran. Poros ini dapat.
PERENCANAAN BANDAR UDARA DESAIN PERKERASAN PADA BANDAR UDARA
RINDI GENESA HATIKA, M.Sc
Fluida Statis DISUSUN OLEH: AULIA SRI MULIANI KANIA DIFA KEMAS RIDHO ADIMULYA M RIZQI VIERI PUTRA.
TEKNIN MOTOR BAKAR INTERNAL
MEKANIKA FLUIDA 1 FLUIDA :
Agregat BATUAN DAN PERMASALAHAN Amri,2005) Batu-batuan yang sangat banyak dipakai dalam pembangunan gedung, irigasi, dan lain-lian mempunyai sifat & karakteristik.
Dasar Mesin Teknik Sepeda Motor (021) Memahami Dasar-dasar Mesin (DKK – 1)
Tugas Akhir PENGUJIAN POMPA HIDRAM SEBAGAI POMPA RAMAH LINGKUNGAN
Presentasi Laboratorium Metalurgi II Kelompok 24 : Greynaldi Gasra ( ) Adam Andi Nugroho ( )
LATIHAN FISIKA. LATIHAN 01 Perhatikan gambar mikrometer sekrup berikut ini! Besar pengukurannya adalah …. A. 2,93 mm B. 3,27 mm C. 3,48 mm D. 3,77 mm.
Macam –macam Logam Pengecoran dan Sifatnya
OLEH : ELSA EKA PUTRI, Ph. D PATIH TARUKO Seminar Inovasi Teknologi dan Rekayasa Industri 2014.
PENGERJAAN DINGIN. PROSES PENGERJAAN DINGIN PADA LOGAM ( COLD WORKING ) Pengerjaan dingin (cold working) yang merupakan pembentukan plastis logam di bawah.
Transcript presentasi:

Nama : Parwadi nugroho NPM : 20405846 Jurusan : Teknik Mesin Pembimbing I : Prof. Dr. Syahbuddin Pembimbing II : Ir. Sunyoto, MT.

PENGARUH PERUBAHAN Al2O3 HINGGA 30% BERAT TERHADAP KEKERASAN KOMPOSIT MATRIK PHENOLIC DENGAN PENGISI CASHEW, MIKA, TEMBAGA, KAPUR, DAN CARBON

ABSTRAKSI Pengaruh perubahan Al2O3 hingga 30% berat terhadap kekerasan komposit matric phenolic dengan pengisi cashew, mika, kapur, tembaga, dan karbon diuji dalam penelitian metalografi dan tribologi. Komposit matrik phenolic dengan bahan penguat Al2O3. Sebagai bahan pengisi mika, cashew, carbon, tembaga, dan kapur. Sedangkan phenolic sebagai pengikat. Pada hasil pengamatan struktur micro dapat dilihat perbedaan perubahan partikel. Pada komposit matrik phenolic dengan partikel 20% Al2O3 terlihat lebih jarang, pada komposit matrik phenolic 25% Al2O3 terlihat partikel alumina yang lebih besar dari 20% Al2O3, sedangkan pada 30% Al2O3 partikel alumina lebih besar dan menggumpal. Pada uji keausan/atau tribologi 20%, 25% dan 30% Al2O3 mengalami keausan yang berbeda. Pada penguian 20 % Al2O3 terjadi keausan hingga dua mg, pada pengujian 25% Al2O3 keuasannya berkurang dan pada pengujian 30% Al2O3 keausannya berkurang hingga satu mg. faktor yang mempengaruhi keausan adalah Al2O3 yang mempunyai sifat keras. Al2O3 yang diisi dalam komposit matrik phenolic adalah 20%, 25%, dan 30%.

BAB I Latar Belakang Bahan komposit adalah suatu jenis bahan baru hasil rekayasa yang terdiri dari dua atau lebih bahan dimana sifat masing- masing bahan berbeda satu sam lainnya baik itu sifat kimia maupun fisikanya dan tetap terpisah dalam hasil akhir bahan tersebut. Bahan komposit memiliki banyak keunggulan, diantaranya berat yang lebih ringan, kekuatan yang lebih tinggi, tahan korosi dan memiliki biaya perakitan yang lebih murah . Kegunaan bahan material ini untuk kendaraan yang memiliki berat ringan. Biasanya kendaraan yang dipergunakan yaitu sepeda motor, komponen-komponen pesawat terbang, kereta api, bus, truck dll.

Pembatasan masalah pada penelitian ini, yaitu : Permasalahan : Dalam analisa ini yang penulis meneliti tentang gejala yang timbul dari bahan material tersebut dapat tahan panas dan mempunyai ketangguhan. Untuk membuktikan komponen tersebut dilakukan dengan 2 proses pengujian yaitu uji struktur mikro Metalografi dan Tribologi. Pembatasan masalah pada penelitian ini, yaitu : 1. Bahan dan persentase kandungan dari padauan material didalamnya dan pengaruhnya dari komposit matrik phenolic. 2. Pengujian metalografi 3. Pengujian Tribologi Tujuan Penelitian Mengetahui struktur mikro pada komposit matrik phenolic. 2. Untuk mengetahui keausan material

BAB II LANDASAN TEORI Komposit Material komposit adalah suatu material yang terdiri dari dua atau lebih makrokonstituen dimana sifat kimia maupun sifat fisika masing-masing komponen pembentuknya berbeda satu sama lain dan secara makroskopis tetap terpisah dalam hasil akhir material tersebut Sekarang ini material komposit juga dipakai untuk campuran kampas rem, karena komposit memiliki keunggulan sebagai berikut : Komposit memiliki kekuatan yang bisa diatur (tailorability), Memiliki kekuatan lelah (fatigue) yang baik, Memiliki kekuatan jenis (strength/weight) yang tinggi

BAB III BAHAN DAN PERCOBAAN 3.1 Diagram Alir Proses Pembuatan Kampas Rem

3.2 Bahan Material Kampas Rem sample pertama dengan komposisi alumina 20%, phenolic 20%, cashew 12%, kapur 20%, mika 20%, tembaga 5%, dan karbon 3%. sample yang kedua dengan komposisi antara lain : alumina 25 %, phenolic 20 %, kapur 20 %, mika 15 %, cashew 10 %, tembaga 7 % carbon 3 % sample ketiga dengan komposisi antara lain : alumina 30 %, phenolic 20 %, kapur 20 %, mika 12 %, cashew 10 %, tembaga 5 %, dan carbon 3 %.

3.3 Diagram Alir Proses Penelitian

3.4 Diagram Alir Proses Pengujian Metalografi

3.5 Diagram Alir Proses Pengujian Tribologi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Struktur Mikro Struktur Mikro Sampel Pertama 20% Al2O3 Komposit Tembaga

Sampel Kedua Alumina carbon Sampel Ketiga Alumina Komposit carbon

Perhitungan alumina % = Sampel 1 = (20/400) x 100% = 5% 4.1.2 Distribusi Partikel Untuk perhitungan distribusi alumina pada permukaan tiap sampel adalah sebagai berikut : Perhitungan alumina % = Sampel 1 = (20/400) x 100% = 5% Sampel 2 = (35/400) x 100% = 8,75% Sampel 3 = (50/400) x 100% = 12,5% Dari data hasil perhitungan distribusi di atas dapat jelaskan bahwa semakin banyak komposisi alumina pada sampel satu, dua, dan tiga. Maka akan terlihat jelas dan akan mempengaruhi pada kekuatan dari kampas rem. Itu bisa kita lihat pada hasil uji keausan atau uji tribologi di bawah karena sifat dari alumina adalah sebagai penguat dan phenolic mempunyai sifat sebagai pengkat pada kampas rem.

Table 4.5 Hasil uji tribologi Sampel Kedua Untuk Tekanan 60 Psi dengan Kecepatan (V) = 4524 Rpm Table 4.4 Hasil uji tribologi Sampel Pertama Percobaan Waktu (detik) Berat Komponen (mm) Tebal Komponen (mm) 1 10 2,678 4,97 2 20 2,677 4,96 3 30 2,675 4,95 . Table 4.5 Hasil uji tribologi Sampel Kedua Percobaan Waktu (detik) Berat Komponen (mm) Tebal Komponen (mm) 1 10 2,776 4,97 2 20 4,96 3 30 2,775 4,95 Table 4.6 Hasil uji tribologi Sampel Ketiga Percobaan Waktu (detik) Berat Komponen (mm) Tebal Komponen (mm) 1 10 2,782 4,97 2 20 3 30 2,781 4,96

4.3.2 Uji Tribologi Untuk Tekanan 67 Psi Table 4.7 Hasil uji tribologi Sampel Pertama 4.3.2 Uji Tribologi Untuk Tekanan 67 Psi Percobaan Waktu (detik) Berat Komponen (gr) Tebal Komponen (mm) 1 10 2,682 5 2 20 2,681 4,99 3 30 2,679 4,97 Table 4.8 Hasil Tribologi Sampel Kedua Table 4.9 Hasil uji tribologi Sampel Ketiga Percobaan Waktu (detik) Berat Komponen (mm) Tebal Komponen (mm) 1 10 2,71 4,9 2 20 2,709 4,89 3 30 2,708 4,88 Percobaan Waktu (detik) Berat Komponen (mm) Tebal Komponen (mm) 1 10 2,728 4,98 2 20 3 30 2,727 4,97

Berat mula = 2,678 gr (tanpa lem) Keterangan : Berat mula = 2,678 gr (tanpa lem) Berat akhir (W) = 2,68 gr (dengan lem/double tip) Tebal komponen awal = 4,97 mm Tekanan fluida awal (F) = 60 Psi Catatan : 1 bar = 14,503861 psi 1 psi = 0,068948 bar Kecepatan putar mesin (V) = 4524 rpm   Perhitungan : Rumus : K = W/FVT Keterangan : K = faktor keausan untuk bahan W = keausan yang diukur sebagai hilangnya berat atau valume F = Beban yang berlaku V = kecepatan linier relatif antara batang-batang yang tergeser T = Waktu operasi 

Percobaan Pertama : Diketahui : 1. W = m x g Mencari : m = 2,678 gr x 1/1000 kg g (grafitasi) = 9,81 m/s2 = 2,68 x 10 kg Jadi , W = m x g = 0,002678 kg x 9,81 m/s2 = 2,63 x 10 N F = 60 psi Jadi, F = 60 psi x 0,068948 bar 1 bar = 105 pascal = 4,13688 bar = 4,13688 bar x 105 pascal F = 413688 pascal (kgm/s2/m2) = 414 kPa

Jadi, V = 473,75219424 rad/s x 1,1 m = 521,13 m/s T = 10 s (detik) 3. V = 4524 rpm V= ω x r Mencari : ω = 4524 rpm x 0,10471976 rad/s 1 rpm = 0, 10471976 rad/s = 473,75 rad/s r = ½ D = ½ 22 cm = 11 cm = 1,1 m Jadi, V = 473,75219424 rad/s x 1,1 m = 521,13 m/s T = 10 s (detik) Jawab : K = W/FVT = 0,02627118 kgm/s2 413688 kgm/s2/m2 x 521,75219424 m/s x 10 s = 2,16 x 10-12 m-1

Gambar 4.7 grafik uji keausan tribologi untuk tekanan 60 Psi

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil dari penelitian dapat disimpulkan sebagai berikiut ; 1. Terjadi perbedaan struktur micro pada komposit matrik phenolic dengan partikel penguat 20%, 25%, dan 30% Al2o3 2. Pada komposit matrik phenolic dengan parikel penguat 20% Al2O3 sangat kecil dan renggang. Sedangkan pada komposit matrik phenolic dengan partikel penguat 25% Al2O3 terlihat partikel alumina sedikit lebih banyak dari komposit matrik phenolic dengan partikel penguat 20% Al2O3 . Dan pada komposit matrik phenolic dengan partikel penguat 30% Al2O3 terlihat lebih banyak dan terlihat menggumpal. Ini di karenakan pada komposit matrik phenolic dengan komposisi Al2O3 lebih banyak. 3. Dari perhitungan partikel juga terlihat perubahan ukuran dan banyaknya partikel alumina antara komposit matrik phenolic dengan partikel penguat 20%, 25%, dan 30% Al2O3.

4. Pada pengujian keausan/tribologi dapat dilihat bahwa perbedaan komposisi alumina sangat berpengaruh pada uj keausan, karena alumina yang bersifat sebagai penguat sehingga mengurangi keausan pada kampas rem pada saat pengereman. 5. Semakin banyak partikel penguat Al2O3 maka keausannya semakin berkurang, karena partikel Al2O3 mempunyai sifat kekakuan, kekuatan, dan stabilitas dalam pengereman. 6. Dan bahan pengisi lainnya antara lain phenolic, mika, cashew, kapur, tembaga, dan carbon juga bersifat pengikat dan juga sebagai pelumas agar pada waktu pengereman tidak terjadi slip akibat panas yang berlebih.

Terima Kasih