ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
PEMINDAHAN BAHAN 1 ALIRAN DALAM PIPA.
Advertisements

PUMPS M. FAISAL( ) JUVIANDY ( ) YOGI PRATAMA( )
Hidraulic Radius (Rh) = A A = Luas Penampang P P = Penampang basah
BAB IV ALIRAN FLUIDA DALAM PIPA
INSTALASI POMPA SENTRIFUGAL (single line installation)
Nama : Dwi Rizal Ahmad NIM :
SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL (SPLDV)
RIZKI ARRAHMAN KELAS C. ALIRAN FLUIDA DALAM PIPA  Sistem perpipaan adalah suatu sistem yang banyak digunakan untuk memindahkan fluida, baik.
PERANCANGAN HOOD Ir. MUH. ARIF LATAR, MSc 4/17/2012
DASAR-DASAR PERANCANGAN PABRIK (PLANT DESIGN)
FAKULTAS ILMU IMU KESEHATAN – JURUSAHAN KESEHATAN MASYARAKAT,
Perancangan air cleaner (LEV)
ASALAMUALAIKUM WR.WB..
PERSAMAAN ENERGI UMUM Persamaan Bernoulli : tinggi [Energi/berat]
Kehilangan Energi pada
Bab 5 Pemilihan Diameter Pipa Desain, Fabrikasi, dan inspeksi Sistem Perpipaan 1 BAB V OPTIMASI PEMILIHAN DIAMETER PIPA  Pemilihan diameter pipa berdasarkan.
Perancangan Alat dan Proses POMPA
Bangunan air Week #10.
Soal No. 1 Air pada 10o C dialirkan ke suatu tangki di atas sebuah gedung. Agar debitnya 200 L/min berapa tekanan di titik A ? [Jawab : 321,1 kPa terhadap.
Pengukuran Waktu Tidak Langsung
Soal Latihan No. 1 Bila tekanan pada tangki tertutup adalah 140 kPa di atas tekanan atmosfir dan head loss akibat kehilangan energi yang terjadi pada.
FUNGSI PENUNJANG FASILITAS
Rumus BERNOULLI Rumus Bernoulli  memberikan hubungan antara elevasi, kecepatan dan tekanan suatu cairan Rumus ini juga memberikan ENERGI total dari suatu.
PERANCANGAN HOOD Ir. MUH. ARIF LATAR, MSc 4/17/2012
Pertemuan Hidrolika Saluran Terbuka
Engineering Control HIGIENE INDUSTRI Ir. MUH. ARIEF LATAR, MSc
PENCEMARAN AIR TANAH “BAR SCREEN DAN GRIT REMOVAL UNIT” OLEH: KELOMPOK 1 NAMA-NAMA ANGGOTA: 1.MUH. ARIF RAHMAN 2.IKHLASUL IHSAN HADINI 3.MUH. ALAM NASYRAH.
Ir. Mochamad Dady Ma‘mun M.Eng, Phd
Ventilasi di Tempat Kerja
Prinsip kerja aliran udara dan sistem ventilasi pengenceran udara
Exhaust from the floor usually gives fire protection only
KANDANG TERTUTUP (CLOSED HOUSE)
SISTIM VENTILASI PENGENCERAN UADAR STANDARD DESIN “ ASHRAE’S “
ALIRAN INVISCID DAN INCOMPRESSIBLE, PERSAMAAN MOMENTUM, PERSAMAAN EULER DAN PERSAMAAN BERNOULLI Dosen: Novi Indah Riani, S.Pd., MT.
HEAT TRANSFER TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
SISTIM VENTILASI LOKAL
Kekekalan Energi Volume Kendali
Prinsip Umum Ventilasi
PERTEMUAN 2 – JENIS DAN TIPE VENTILASI INDUSTRI
Mengenal nama dan lambang bilangan.
MM FENOMENA TRANSPORT Kredit: 3 SKS Semester: 5
Perancangan air cleaner (LEV)
Sistem Ventilasi Lokal
ZUHERNA MIZWAR METFLU - UBH ZUHERNA MIZWAR
SISTIM VENTILASI LOKAL
Sistem Ventilasi Lokal
TL2101 Mekanika Fluida I Benno Rahardyan Pertemuan 3.
Rumus BERNOULLI Rumus Bernoulli  memberikan hubungan antara elevasi, kecepatan dan tekanan suatu cairan Rumus ini juga memberikan ENERGI total dari suatu.
VENTILASI DAN ZONA KENYAMANAN RUANGAN
DASAR-DASAR PERANCANGAN PABRIK (PLANT DESIGN)
GRIT CHAMBER GRIT CHAMBER Nieke Karnaningroem
DARCY FORMULA SUPRAPTI BAGUS OKO WIDIATMA
PERBAIKAN SISTEM PENGENDALIAN EMISI DEBU TEPUNG DI AREA …X PADA INDUSTRI TEPUNG TERIGU -….Y Pencemaran udara di ruangan (indoor air pollution) seperti.
Kuliah MEKANIKA FLUIDA
Presented by RENDY R LEWENUSSA
Perpindahan Panas Minggu 07
PERANCANGAN ALAT PROSES (Rule Of Thumb) BOILER
ASPEK HIDRAULIKA Kuliah ke-3 Drainase.
PERPINDAHAN PANAS (HEAT EXCANGER)
Presented by Rendy R Lewenussa
Rumus BERNOULLI Rumus Bernoulli  memberikan hubungan antara elevasi, kecepatan dan tekanan suatu cairan Rumus ini juga memberikan ENERGI total dari suatu.
Pengenalan pada Dasar Mekanika Fluida
Kebutuhan Luas Lantai.
General Principles of Industrial Ventilation
SISTIM VENTILASI LOKAL
SISTIM VENTILASI PENGENCERAN UDARA
SISTIM VENTILASI PENGENCERAN UADAR STANDARD DESIN “ ASHRAE’S “
FAKULTAS ILMU IMU KESEHATAN – JURUSAHAN KESEHATAN MASYARAKAT,
INTRODUCTION INTERNAL FLOW
Pertemuan 9 Analisis Massa & Energi Pada Control Volume (1)
Transcript presentasi:

ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING MODUL -7 EXHAUST SYSTEM DESIGN PROCEDUE Ir. MUH. ARIF LATAR, MSc ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING

9.1. PENGANTAR Pertimbangan Desain sangat tergantung pada bentuk dan lay out peores operasi, ruang kerja dan bentuk kontruksi bangunan Banyak faktor yang berperan dalam menetukan bentuk desain ventilasi. Dan sebelum mengambil keputusan yang diambil dalam proses desain perlu dibuat ; (1) sketsa sistim saluran pipa/duct guna mengidentifikasi kontaminan dan (2) menentukan ukuran .

ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING 9.2. PEMELIHAN PERANCANGAN SISTIM VENTILASI INDUSTRI Pertimbangan Perancangan Untuk mempertimbangkan apakah suatu tipe sistim ventilasi lokal akan diproduksi maka ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan, yaitu : Apakah perancangan sistim ventilasi industri tersebut diperlukan, untuk memenimalkan kontaminan di lingkungan tempat kerja Dapatkah perancangan sistim ventilasi industri tersebut menguntungkan secara ekonomis, diperusahaan Efek yang akan ditimbulkan oleh fasilitas pada fasilitas lain Apakah perancangan sistim ventilasi industri tersebut akan mampu meningkatkan image perusahaan dalam melaksanan program-program keselamatan dan kesehatan kerja ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING

ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING 9.3. DESIGN PROCEDURE Acuan American Conference of Govermental Industrial Hygienis (ACGIH ) Industrial Ventilation: A Manual of Recommended Practice for Operation and Maintenance ASHRAE-2012, Ashrae Handbook: Heating, Ventilating, and Air-Conditioning Systems and Equipment: Inch-Pound Edition Pedoman dalam mengatur persyaratan perancangan sistim ventilasi industri, yaitu : Standar American Conference of Govermental Industrial Hygienis (ACGIH),dengan mengunakan “VELOCITY PRESSURE METHOD CALCULATION SHEE”T ( ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING

ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING 9.4. PRINSIP DESAIN  Langkah pertama ; Aliran udara/ Volumetric Flowrate ;Pada persamaan, dalam cfm (kaki kubik per menit), Q = V.A dimana ; Q = volumemetrik flow rate, cfm --- atau aliran udara di cfm (kaki kubik per menit) V = Anerage velocity, fpm ---atau kecepatan linier di kaki per menit A = Cross-sectional area, ft2,--- atau luas penampang (duct, hood, dll) sistem di kaki persegi ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING

ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING Q = volume ruang x generation rate x K NAB Contoh bila di ketahui, Volume ruang (8 x 7 x 3 = 168 m3) Volume ruang = 5.880 ft3 TLV = 2 fiber/cc Generation rate = 200 fiber/cc/60 menit Faktor K = 2 Maka, Volumetric flow rate, ------ Q = 19.600 cfm ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING

ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING Langkah kedua ; adalah menentukan diameter duct = dc Contoh , misalnya ditentukan diameter duct ------ dc = 26 in (diketahui) Langkah ketiga ; adalah menghitung luas bukaan hood yang di desain= A , ft2 Duct Area, 𝑨= 𝑫 𝟐 𝝅 𝟒 A = 1/4 (dc/12)2 = 3,14/4 (26/12)2 = 3,6870 sq.ft ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING

ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING Langakah keempat; adalah mnghitung kecepatan duct actual/Actual Duct Velocity=.V, dari persamaan Q = V*A, V=Q/A, V=(19600/3,6870) = 5.316 fpm Dimana, Q = 19.600 cfm A = 3,6870 sq.ft ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING

ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING Langkah kelimah; yaitu menghitung kecepatan tekan pada duct VPd, dalam in WG Kecepatan tekanan pada pipa (VPd), dalam persamaan sebagai berikut : VPd = 𝑉 4005 2 = 1,7618 in WG Dimana, V = 5.316 fpm Maka, Kecepatan tekanan duct—VPd = 1.7618 in WG (dihitung Langkah keenam; adalah menentukan kecepatan aliran dalam slot /Slot Velocity Vs kecepatan Slot----- misalnya diketahui Vs = 400 fpm Langkah ketujuh; persamaMengitung Tekanan kecepatan Slot VPs ,dalam in WG, dengan menggunkan rumus VPs = (Vs/4005)2 VPs = (400/4005)2 = 0,0100 in WG Dimana –Vs = 400 fpm ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING

ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING Langkah kedelapan; yaitu menentukan Slot loss coeficien Slot loss coeficien-----fig.5-15 atau Chap.10 atau dalam tulisan ini pada gambar 6.21, bagian-6. halaman 21, Koefisien kehilangan pada Slot sebesar 1,78 (diambil dalam tabel) Langkah kesembilan; adalah menghitung kehilangan yang di slot dalam rancangan dipakai istilah Slot loss per VP, sedangkan acceleration factor atau faktor percepatan diambil dalam perancangan sistem ventilasi lokal diambil bilangan 0 atau 1 Slot loss per VP, dihitung dengan menggunakan rumus ,   Slot loss per VP = Slot Loss koefisien +Acceleration Factor = 1,78 + 0 = 1,78 Dimana Slot Loss koefisien = 1,78 --- ditentukan dalam perancangan Acceleration Factor = 0 ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING

Gambar.6.21, Hood Entry Loss Factors SLOTS FACTOR Duct Entry Loss Factor- Gambar.6.21, Hood Entry Loss Factors

ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING Langkah kesepuluh ; Untuk menghitung tekanan statis slot atau Slot Statik Presure SPs dalam in WG, digunakan rumus sebagai berikut :  Slot Statik Presure SPs = Slot Velocity Pressure * Slot loss SPs = VPs * Slot loss = 0,0100 * 1,78 =0,0178 Dimana, Slot loss = 1,78 VPs = 0,0100 in WG Langkah kesebelas; Duct Entry Loss Factor fig.5-15 or Chap.10 Duct Entry Loss Factor-----fig.5-15 atau Chap.10 atau dalam tulisan ini pada gambar 6.21,bagian-6. halaman 21 , Faktor kehilangan pada Duct sebesar 0,250 (diambil dalam tabel) ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING

ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING Langkah kedua belas; Duct Entry Loss per VP Duct entry loss per VP, dihitung dengan menggunakan rumus ,   Duct entry loss per VP = Duct entry loss factor + Acceleration factor Duct entry loss per VP = 0,250 + 1 = 1,250 Dimana , Acceleration factor = 1 (Acceleration factor diambil bilangan 0 atau 1) ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING

ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING Langkah ketiga belas; adalah menghitung kehilangan di duct atau Duct Entry Loss, Duct Entry Loss, dihitung dengan menggunakan rumus   Duct Entry Loss = Duct Velocity Pressure * Duct Entry Loss per VP Duct Entry Loss = VP * Duct entry loss per VP =1,7618 * 1,250 = 2,202 in WG Maka kehilanagn pada duct sebesar 2,202 in WG ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING

ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING Langkah keempat belas; adalah menghitung tekan statis hood atau Hood Static Pressure, SPh Maka untuk menghitung tekanan statis hood (SPh) adalah diambil dari persamaan (6.12)  SPh = hes + hed + VPd Dimana : VPd = Tekanan kecepatan dari duct = 1,7618 in Wg H ed = Entri loss, diambal pada gambar.6.21 (ACGIH fig, 5-15, p.5-30) , = Fh * VPd =0,250 * 1,7618 = 0,44045 hes = kehilanagn pada slot, Slot Loss koefisien = 1,78 gbar.6.221(ACGIH fig 5-15, p.5-30) hes = 1,78 VPs dihitung VPs = 0,0100 in WG hes = 1,78 VPs = 1,78 * 0.0100 = 0,0178 SPh = hes + hed + VPd = 0,0178 + 0.44045 + 1,7618 = 2.220 Maka, Tekanan Statis Hood, SPh = 2,220 in WG ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING

ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING Langkah ke limah belas; Menentukan panjang lurus duct atau Straight Duct Length, dalam ft Diketahui panjang lurus duct = 7 ft Langkah ke enam belas; Friction Factor (Hf)Untuk mendapatkan besarnya bilangan Friction Factor (Hf),didapatkan persamaan(3.20) dibawah ini ;   Hf = 0,0307 𝑉 0.533 𝑄 0.612 Hf = 0,0307{(5.3160,533/19.6000,612) = 0,0070 Dimana, kecepatan duct actual,---- V= 5.316 fpm Aliran udara -------------------Q=19.600 cfm ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING

Langkah ke tujuh belas; Friction Los per VP, Friction Los per VP, dihitung dengan rumus Friction Los per VP = Straight Duct Length * Friction Factor (Hf) = 7 * 0.0070 = 0,0491 Dimana, panjang lurus duct = 7 ft Friction Factor (Hf) = 0,0070 Langkah ke delapan belas; Menghitung Elbow Loss per VP, dengan rumus Elbow Loss per VP = No.of 900 Elbow * loss Factor = 1* 0,24 = 0,2400 Contoh dalam perancangan, Elbow Elbow 1-90 = 1,00 (ACGIH, figure 5-17) 600 Elbow = 0,6666 (ACGIH, figure 5-20, gbr.5.12) 450 Elbow = 0,50 (ACGIH, figure 5-20, gbr.5.12) 300 Elbow = 0,333 (ACGIH, figure 5-20, gbr.5.12)

ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING Gambar.5.12 data duct, perancangan, sumber ACGIH,data 1-88, fig.5-20 ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING

ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING Langkah ke sembilan belas; Entry loss per VP Entry loss per VP= No. of Branch Entries * loss factor Entry loss per VP = 1* 0,28 = 0,28 Contoh dalam perancangan, Branch Entri = 1 (bilangan 0 atau 1) Entry Loss coefisien = 0,28 (ACGIH, figure 5-17) Gambar.5.5 Bentuk percabangan pada duct sumber, ACGIH fig.5.17 date 1-88 ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING

ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING Langkah ke dua puluh; Duct Loss per VP, Dihitung dengan rumus , Duct Loss per VP = Friction Los per VP + Elbow Loss per VP + Special Fitting Loss Factor Duct Loss per VP = 0,0491 + 0,280 = 0,5691 Dimana , Friction Los per VP = 0,0491 Elbow Loss per VP = 0,280 Maka Duct Loss per VP = 0,5961 Langkah ke dua puluh satu; Duct Loss Duct Loss = Duct Velocity Pressure * Duct Loss per VP = 1,7618 * 0,5961 = 1,0027 Dimana, Tekanan kecepatan duct – VPd = 1,7618 Duct Loss per VP--- 0,5961 Maka kehilangan pada pipa sebesar 1,0027 ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING

ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING Langkah ke dua puluh dua; Duct SP Loss, Duct SP Loss = Hood Static Pressure + Duct Loss Duct SP Loss = 2.220 + 1,0027 = 3,223 in WG Dimana , Tekanan statis Hood/ Hood Static Pressure-----2.220 in WG Duct Loss/ kehilangan pada pipa -------------------1,0027   Kumulatif Tekanan Statis = 3, 223 in WG ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING

7.4.1. VELOCITY PRESURE METHODE 7.4. DESIGN METHODS 7.4.1. VELOCITY PRESURE METHODE ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING

ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING C0NTOH Problem 1, figure 5-1, Aliran udara dihitung sebagai produk dari luas penampang sistem dan kecepatan udara. ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING

ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING

ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING

Terima Kasih ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING