Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Kebijakan deviden.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Kebijakan deviden."— Transcript presentasi:

1 Kebijakan deviden

2 Kebijakan deviden Earning after tax sebuah perusahaan biasanya dibicarakan manajemen karena terdapat dua alternatif perlakuan, yaitu (Atmaja L.S.,2001) : a) dibagi kepada para pemegang saham perusahaan dalam bentuk deviden b) diinvestasikan kembali ke perusahaan sebagai laba ditahan (retained earning) Kebijakan deviden adalah penentuan pembagian pendapatan (earning) antara penggunaan pendapatan untuk dibayarkan kepada para pemegang saham sebagai deviden atau untuk digunakan di dalam perusahaan yang berarti pendapatan tersebut harus ditahan di dalam perusahaan (Atmaja L.S.,2001). Penentuan besaran deviden pay out dan retained earning sering membuat dilema karena (Atmaja L.S.,2001): 1) Retained earning yang besar akan mendorong pertumbuhan (growth) perusahaan. 2) Deviden payout yang tinggi akan meningkatkan value of firm

3 Deviden payout ratio Deviden payout ratio adalah persentase deviden yang dibagi dari earning after tax (Atmaja L.S.,2001). Rumus : DPR = deviden yang dibagi earning after tax Persentase laba di tahan dari earning after tax adalah = 1-DPR

4 Faktor pengaruh kebijakan deviden (1)
Faktor pengaruh kebijakan deviden (Atmaja L.S.,2001) : Posisi likuiditas perusahaan pembayaran deviden merupakan cash outflow, sehingga semakin tinggi posisi likuiditas suatu perusahaan, maka semakin besar kemampuan membayar deviden Kebutuhan dana untuk membayar hutang jika pelunasan hutang diambilkan dari laba ditahan, maka perusahaan harus menahan sebagian besar pendapatannya untuk keperluan tersebut. Hal ini berarti yang dibayarkan untuk deviden adalah sebagian kecil. Tingkat pertumbuhan perusahaan Perusahaan yang sedang mengalami pertumbuhan yang tinggi membutuhkan dana yang banyak untuk membiayai pertumbuhan tersebut. Perusahaan biasanya senang menahan earning-nya untuk membiayai pertumbuhan, sehingga akan berdampak pada makin rendahnya deviden payout ratio.

5 Faktor pengaruh kebijakan deviden (2)
Pengawasan terhadap perusahaan perusahaan sering memiliki kebijakan hanya membiayai kegiatan ekspansi dengan dana yang berasal dari sumber intern saja (laba ditahan), karena Pemakaian sumber dana berasal dari hasil penjualan saham (emisi saham baru) akan membuat lemahnya pengawasan (control) dari kelompok dominan di dalam perusahaan. Hal ini akan berdampak pada deviden payot ratio makin kecil.

6 Macam-macam kebijakan deviden
Macam-macam kebijakan deviden (Atmaja L.S.,2001) : Kebijakan deviden yang stabil Kebijakan deviden dengan penetapan jumlah deviden minimal plus jumlah ekstra tertentu Kebijakan deviden dengan penetapan deviden payout ratio yang konstan Kebijakan deviden yang fleksibel

7 Kebijakan deviden dalam praktek
Kebijakan deviden dalam praktek (Atmaja L.S.,2001) : Perusahaan cenderung memberikan deviden dengan jumlah yang relatif stabil atau meningkat dengan teratur, mengingat : a) investor melihat kenaikan deviden sebagai suatu tanda baik bahwa perusahaan memiliki prospek cerah b) investor cenderung lebih menyukai deviden yang tidak berfluktuasi (deviden yang stabil) Menjaga kestabilan deviden tidak berarti menjaga deviden payout ratio tetap stabil karena jumlah nominal deviden juga tergantung pada earning after tax. misal : deviden payout ratio ditentukan selalu 45% per tahunnya, namun kemampuan perusahaan menghasilkan earning after tax dari tahun ke tahun tidak sama, maka pembayaran jumlah deviden akan berubah-ubah.

8 Stock devident Pembayaran deviden dalam bentuk saham dan bukan dalam bentuk kas. Tidak mengubah jumlah modal sendiri, tapi mengubah struktur modal sendiri (Atmaja L.S.,2001). Bertujuan menahan kas Contoh : sebelum stok deviden Saham biasa (nominal Rp ; 4.000lbr) Rp ,00 Agio saham Rp ,00 Laba ditahan Rp ,00 jumlah MS Rp ,00

9 Contoh (lanjutan) : Jika menetapkan stok deviden 10%, yaitu 400 lbr. Harga pasar Rp per lbr. Maka setelah stok deviden : Saham biasa (nominal Rp ; 4.400lbr) Rp ,00 Agio saham Rp ,00 Laba ditahan Rp ,00 jumlah MS Rp ,00

10 Stock split Pemecahan jumlah lembar saham menjadi jumlah lembar yang lebih banyak dengan pengurangan harga nominal per lembar secara proposional. Stock split berguna untuk menurunkan harga jual (pasar) saham per lembarnya. Jadi Tujuannya stock splits adalah untuk dapat menempatkan sahamnya dalam trading range yang lebih populer (Atmaja L.S.,2001). Contoh : two to one stock splits yang berarti dua lembar saham baru akan ditukar dengan satu lembar saham lama. Lawan dari stock plits adalah reserve splits, artinya perusahaan mengurangi jumlah lembar sahamnya.

11 Contoh : sebelum stok split Saham biasa (nominal Rp ; 4.000lbr) Rp ,00 Agio saham Rp ,00 Laba ditahan Rp ,00 jumlah MS Rp ,00 Jika menetapkan stok split “ two to one stock split”, maka setelah stok split : Saham biasa (nominal Rp. 500 ; 8.000lbr) Rp ,00 jumlah MS Rp ,00

12 Repurchasing of stock Stock repurchase adalah kegiatan perusahaan untuk mendistribusikan pendapatan kepada pemegang saham dengan cara membeli kembali saham perusahaan. Biasanya terjadi karena memiliki kas yang berlebihan dan tidak memiliki kesempatan mengadakan investasi yang menguntungkan (Atmaja L.S.,2001). Keuntungan bagi pemegang saham adalah dapat mengurangi jumlah saham yang beredar di pasar, sehingga setelah Stock repurchase harga akan naik. Sementara bagi perusahaan kegiatan ini dapat menghindari kekawatiran mengenai tidak dapat mempertahankan deviden yang terlalu tinggi. Pada saat perusahaan membutuhkan banyak dana untuk investasi dimungkinkan deviden menjadi lebih kecil, sehingga menjadi tanda buruk menurut penilaian pasar. Stock repurchase merupakan alternatif membagikan penghasilan yang di atas normal ke pada pemegang saham (Atmaja L.S.,2001).

13 Repurchasing of stock Metode yang digunakan untuk Stock repurchase : open market dan tender offer (Atmaja L.S.,2001). Keuntungan Stock repurchase bagi pemegang saham adalah capital gain. Di bawah ini cara menghitung capital gain yang mungkin diperoleh (Atmaja L.S.,2001) : 1) Earning per share (EPS) sekarang = earning/lbr saham 2) Price earning ratio sekarang =harga saham saat ini /EPS 3) EPS setelah Stock repurchase =earning/(lbr saham- lbr yang dibeli kembali) Harga saham yang diharapkan setelah Stock repurchase = PER X EPS Capital gain = Harga saham yang diharapkan setelah Stock repurchase - harga saham saat ini

14 contoh Contoh : PT MAJU memiliki laba bersih sebesar 200 juta. Jumlah saham beredar adalah lbr. Harga saham saat ini maka efek Stock repurchase adalah Earning per share (EPS) sekarang : 200jt/ = / lbr Price earning ratio sekarang / = 3X (dianggap tetap) EPS setelah Stock repurchase : 200 jt/ ( ) = ,- Harga saham yang diharapkan setelah Stock repurchase = PER X EPS = 3 X = Capital gain = – = Rp ,- Saat perusahaan melakukan Stock repurchase, pemegang saham dapat mengambil keuntungan mendapatkan capital gain sebesar

15 Harga stock repurchase pada ekuilibrium
Harga stock repurchase pada ekuilibrium adalah Harga yang membuat sama pilihan untuk menjual saham kembali ke perusahaan atau menahannya. Rumus : P = (S X PC)/ (S – N) P = Harga stock repurchase pada ekuilibrium S = jumlah saham beredar sebelum stock repurchase PC = Harga saham saat ini sebelum stock repurchase N = jumlah lembar saham yang akan dibeli kembali oleh perusahaan berdasar ilustrasi contoh pada PT Maju di atas maka Harga stock repurchase pada ekuilibrium adalah = ( X ) / ( ) =

16 Teori deviden: “Deviden tidak relevan” dari modligiani dan miller
Nilai suatu perusahaan tidak ditentukan oleh besar kecilnya Deviden Payout Ratio, tapi oleh laba bersih sebelum pajak dan kelas resiko perusahaan. Jadi kebijakan deviden tidak relevan dengan nilai perusahaan (Atmaja L.S.,2001). Asumsi yang digunakan modligiani dan miller adalah (Atmaja L.S.,2001) : a) pasar modal sempurna dimana semua investor adalah rasional b) tidak ada biaya emisi saham baru jika perusahaan menerbitkan saham baru c) tidak ada pajak d. kebijakan investasi perusahaan tidak berubah. Teori modligiani dan miller ada yang tidak setuju, karena asumsi dinilai lemah. Misal : pajak pasti ada, kebijakan investasi biasa berubah, pasar modal sempurna susah ditemui dan biaya emisi saham baru akan mempengaruhi nilai perusahaan.

17 Teori bird on the hand (gordon lintner)
Teori ini memandang bahwa investor lebih menyukai menerima deviden dibanding capital gain, karena deviden dianggap lebih pasti daripada capital gain (Atmaja L.S.,2001). Namun perlu dipahami juga bahwa pada saat investor berinvestasi saham, tingkat keuntungan yang disyaratkan adalah sebesar tingkat biaya modal sendiri Ks. diketahui biaya modal sendiri (ks) = deviden yield (D1/Po) ditambah capital gain yield (g) (Atmaja L.S.,2001).

18 Teori perbedaaan pajak (Litzenberger dan Ramaswamy)
Teori ini mengemukakan mengenai adanya pajak pada deviden dan capital gains (Atmaja L.S.,2001). Bila manajemen mempercayai teori ini maka akan berusaha menahan earning after tax (deviden payout ratio =0) (Atmaja L.S.,2001).

19 Teori signaling hypothesis
Jika ada kenaikan deviden sering diikuti dengan kenaikan harga saham, sebaliknya penurunan deviden pada umumnya menyebabkan harga saham turun. Fenomena ini dianggap sebagai bukti bahwa investor lebih menyukai deviden dibanding capital gains. Perubahan deviden dianggap sebagai informasi (Atmaja L.S.,2001).

20 Teori Clientele effect
Teori ini mengemukakan bahwa kelompok (Cientele) pemegang saham yang berbeda memiliki preferensi yang berbeda terhadap kebijakan deviden perusahaan (Atmaja L.S.,2001). Terdapat kelompok pemegang saham yang menyukai deviden payout ratio tinggi, dan terdapat yang lebih senang jika earning after tax ditahan perusahaan dalam jumlah yang besar (Atmaja L.S.,2001). Jika terdapat kondisi bahwa pemegang saham dikenai pajak dalam jumlah yang berbeda karena suatu hal, maka bagi kelompok pemegang saham yang dikenai pajak tinggi akan lebih menyukai capital gain. Sebaliknya bagi kelompok pemegang saham yang dikenai pajak rendah akan lebih menyukai deviden yang besar (Atmaja L.S.,2001).

21 Tugas PT MAJU memperoleh laba bersih setelah pajak sebesar 300 juta. Perusahaan berencana melakukan stock repurchase dengan akan membeli kembali 5000 lbr sahamnya. Harga saham saat ini adalah , sedangkan jumlah saham beredar adalah lbr. Berdasar data di atas saudara diminta : Menghitung capital gain yang mungkin diperoleh pemegang saham jika mereka menjual kembali ke perusahaan Menghitung Harga stock repurchase pada ekuilibrium Jika PT MAJU melakukan stock repurchase dengan harga Rp ,- , Apakah akan menguntungkan bagi para pemegang saham? Jelaskan. jawaban mohon dikumpul pada pertemuan kuliah berikutnya


Download ppt "Kebijakan deviden."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google