Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Hukum Mengiring jenazah

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Hukum Mengiring jenazah"— Transcript presentasi:

1 Hukum Mengiring jenazah
Diriwayatkan hadith dari Athath berkata:'Aku mendengar Mu'awiyah b Suaidi b Muqarrinin hadith dari Barrak (r.a)  berkata: 'Memerintahkan kami (dia dan para sahabat) oleh Nabi (s.a.w) dgn 7 perkara dan menegah akan kami 7 perkara. Memerintahkan atas kami dengan (pertama) mengiringi (atau mengikuti) jenazah (ketika dibawa ke kubur untuk dikuburkan), menjengok orang yg sakit, [Hadith Bukhari, Kitab Jenazah]

2 Rasulullah s.a.w. bersabda “Sesungguhnya pahala yang mula-mula diberikan kepada hamba yang beriman sesudah matinya ialah semua orang yang mengiringi jenazahnya mendapatkan keampunan (dari Allah) (Riwayat Baihaki melalui Ibnu Abbas r.a.)

3 Daripada Thauban maula Rasulullah s. a. w
Daripada Thauban maula Rasulullah s.a.w. bersabda bahawa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:  “Sesiapa menyembahyangkan jenazah, maka baginya satu qirat pahala. Dan apabila dia turut serta menyaksikan pengebumiannya, maka baginya dua qirat pahala.(Ditanya baginda: Apakah itu qirat wahai Rasulullah?) Sedangkan besar satu qirat itu seperti besarnya gunung Uhud”

4 "Hak seorang muslim -dalam riwayat: "Kewajiban atas seorang muslim terhadap saudaranya.."- ada lima: membalas salam, menjenguk yang sakit, mengantar jenazahnya, menghadiri undangannya dan menjawabnya jika bersin." (HR. Bukhori dan Muslim)

5 Setelah jenazah selesai dimandikan dan dikafani dengan sempurna, maka wajib (fardhu kifayah) atas yang masih hidup untuk mengusung dan mengantar jenazah muslim tersebut untuk disembahyangkan. Hal ini termasuk haknya yang wajib dipenuhi oleh kaum muslimin, kerana merupakan kelaziman dalam proses pemakamannya yang tidak hanya dipikul oleh kerabat si mati semata. Mereka memerlukan pertolongan untuk mengusung, menggali kuburan dan memakamkannya. maka hal ini lazim atas kaum muslimin untuk membantu kerabat tersebut. Ini merupakan tuntutan untuk saling ta'awun (tolong-menolong) dalam mengurusi jenazah muslim.

6 Pengusung jenazah Hal ini merupakan amalan khusus lelaki dan bukan perempuan menurut kesepakatan para ulama. Tidaklah mengusung jenazah tersebut, melainkan para lelaki, meskipun si mati adalah perempuan. Hal itu kerana para lelaki lebih kuat daripada wanita yang boleh tersingkap auratnya ketika membawanya. (Syarah Muslim, An Nawawi sebagaimana dalam Jami'ul Adillah, hal. 252)

7 Perempuan mengiring Dari Ummu ‘Athiyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Kami (para wanita) dilarang mengiringi jenazah. Namun larangannya tidak terlalu keras bagi kami.” (HR. Bukhari no dan Muslim no. 938).

8 Dari Ummu ‘Athiyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Kami (para wanita) dilarang mengiringi jenazah. Namun larangannya tidak terlalu keras bagi kami.” (HR. Bukhari no dan Muslim no. 938). Ibnu Hajar menjelaskan bahwa maksud hadits di atas, “Tidak ditegaskan jika hal tersebut terlarang keras sebagaimana dalam larangan-larangan lainnya. Seakan-akan Ummu ‘Athiyah berkata: kami dilarang mengiringi jenazah dan bukan larangan haram (tetapi makruh).”


Download ppt "Hukum Mengiring jenazah"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google