Upload presentasi
Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu
1
TEKNOLOGI BENDUNG KNOCK DOWN
PROYEK BENDUNG KALISADE PELAKSANAAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN
2
KELOMPOK 1 MUHAMMAD ASDAR - BWS SULAWESI III (15)
AGUNG RAHMADANA – BBWS MESUJI SEKAMPUNG (10) AGUS MULYAKIN B. – BBWS CIMANUK CISANGGARUNG (01) ABDUL MAKMUR TB – BBWS POMPENGAN JENEBERANG (05) JUNAIDI – BWS SUMATERA I (13) JULIA SRI AMALA SILOOY – BWS MALUKU (20) YURISTA DIAN RESPATI – BBWS SERAYU OPAK (07) TRI SURYA IRAWAN – BBWS SERAYU OPAK (06)
3
LATAR BELAKANG Permasalahan utama di Bendungan Batujai adalah sedimentasi yang meningkat cukup signifikan dibeberapa anak sungai di hulu bendungan. Tingginya laju sedimentasi ini mengakibatkan berkurangnya tampungan efektif bangunan pengendali sedimenan dan mempercepat pertumbuhan gulma air di beberapa tempat. Sedimen yang masuk ke dalam Waduk Batujai didominasi oleh sedimen layang yang tidak dapat mengendap jika kecepatan aliran tidak 0 (nol). Sungai Kali Sade merupakan penyumbang sedimen terbesar kedua (sekitar 700 ton per tahun) setelah Sungai Sri Gangga (1,2 juta ton per tahun).
4
MAKSUD DAN TUJUAN MAKSUD :
Mengetahui proses pelaksanaan pembangunan dan operasi dan pemeliharaan bendung knock down. TUJUAN : Memastikan pelaksanaan bendung knock down dapat berjalan dengan baik. Menjaga supaya bendung knock down dapat berfungsi sesuai dengan yang telah direncanakan. Mengetahui permasalahan yang terjadi selama proses pembangunan serta operasi dan pemeliharaan bendung knock down.
5
RUANG LINGKUP Tahap pelaksanaan pembangunan bendung knock down.
Tahap operasi dan pemeliharaan bendung knock down.
6
TINJAUAN PUSTAKA PENGERTIAN
Bendung merupakan bangunan (komplek bangunan) melintasi sungai yang berfungsi mempertinggi elevasi air sungai dan membelokkan air agar dapat mengalir ke saluran dan masuk ke sawah untuk keperluan irigasi. Bangunan pengendali sedimen (BPS) merupakan konstruksi yang bertujuan untuk memperlambat proses sedimentasi dengan mengendalikan gerakannya menuju ke hilir. Bangunan pengendali sedimen berfungsi menapung atau menahan sedimen dalam jangka waktu sementara maupun tetap dan harus tetap meleatkan air baik melalui mercu maupun tubuh bangunan. Bendung knock down merupakan bangunan air berupa bendung tetap yang dibangun sebagai alternatif dengan menggunakan blok beton terkunci sebagai material penyusun bendung.
7
URAIAN TEORI Keunggulan Blok Beton Terkunci
1. Dapat dirangkai sesuai dengan jenis konstruksi yang diperlukan di lapangan. 2. Komponen dapat dicetak secara fabrikasi atau insitu, simultan dengan proses pelaksanaan bagian dari pekerjaan konstruksi. 3. Berat komponen “relative ringan” tetapi dapat saling mengait dalam arah vertical, horizontal, dan arah memanjang aliran. 4. Kaitan antar komoponen cukup fleksibel tetapi tidak mudah lepas agar bangunan dapat menyesuaikan dengan perubahan morfologi sungai. 5. Tahan terhadap abrasi dan benturan batu oleh aliran sungai yang membawa pasir kerakal dan batuan.
8
URAIAN TEORI MACAM-MACAM BENTUK BLOK BETON
9
LOKASI PROYEK
10
PERMASALAHAN TAHAP PELAKSANAAN
1. UKL/UPL yang berjalan simultan dengan pelaksanaan mengakibatkan upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada tahapan pra pelaksanaan belum dapat dilakukan. 2. Adanya kesulitan saat pencetakan blok beton balok kaki delapan. Apabila beton terlalu kental slump-nya dan tidak digetarkan dengan cukup maka akan sulit terdistribusi merata terutama di bagian cetakan kaki bawah. 3. Adanya kesulitan saat pencetakan beton karena di lapangan digunakan cetakan multiplek dengan tebal 2 cm yang mengakibatkan cetakan tidak tahan lama. 4. Adanya kesulitan penyusunan saat pemasangan layer pertama karena dasar sungai yang tidak rata. Dasar sungai berupa breksi keras yang sulit digali.
11
PERMASALAHAN TAHAP PELAKSANAAN
5. Terjadi banjir yang cukup besar saat proses pembangunan masih belum 100% sehingga mengakibatkan beberapa balok hanyut dan harus dilakukan pemasangan kembali. 6. Penyusunan blok beton dilakukan setelah pembuatan abutmen pada kedua sisi sungai, mengakibatkan susunan blok beton tidak presisi terhadap jarak antara kedua dinding abutmen.
12
PERMASALAHAN TAHAP OPERASI DAN PEMELIHARAAN
1. Beberapa blok beton banyak yang terkikis sampai tulangan terekspos akibat beton dipasang sebelum umur beton tercapai karena waktu pelaksanaan yang terbatas. 2. Belum ada tangga sebagai akses menuju mercu BPS untuk keperluan OP sehingga sebagai tangga darurat digunakan batang kayu dan tumpukan batu. 3. Belum ada papan nama bangunan. 4. Sampah yang menyangkut di hulu bendung, di tubuh bendung dan di kolam olak setelah debit besar yang melimpas.
13
PEMECAHAN MASALAH TAHAP PELAKSANAAN
1. Kesulitan saat pencetakan blok beton balok kaki delapan diatasi dengan pengendalian slump adukan dan penggetaran dengan baik. Untuk lebih aman dilakukan uji coba pengecoran sampai ditemukan metode yang tepat. 2. Kesulitan saat pencetakan beton karena cetakan dari bahan multiplek yang tidak tahan lama dapat diatasi dengan pemakaian cetakan dari plat. 3. Kesulitan penyusunan saat pemasangan layer pertama akibat dasar sungai yang tidak rata dapat diatasi dengan penambahan lantai kerja untuk meratakan dasar sungai sebelum pemasangan blok beton. 4. Kejadian hanyutnya beberapa blok beton akibat terjadi banjir yang cukup besar saat progres pembangunan masih belum 100% dapat diatasi dengan pemilihan waktu pelaksanaan pada saat musim kering atau dapat diatasi dengan menggunakan kistdam.
14
PEMECAHAN MASALAH TAHAP OPERASI DAN PEMELIHARAAN
1. Mencegah blok beton banyak yang terkikis sampai tulangan terekspos akibat beton dipasang sebelum umur beton tercapai karena waktu pelaksanaan yang terbatas dapat diatasi dengan penambahan bahan additif utnuk mempercepat proses pengerasan beton. 2. Supaya segera dibangun tangga sebagai akses menuju mercu BPS untuk mempermudah pelaksanaan OP untuk melakukan pengerukan sedimen dan pembersihan sampah secara manual dengan melibatkan masyarakat sekitar.
15
KESIMPULAN 1. Penggunaan material blok beton terkunci dapat menjadi alternatif konstruksi yang diterapkan dalam bentuk bendung/ bangunan pengendali sedimen yang ramah lingkungan (environmentally friendly) sebagaimana pada pembangunan konstruksi BPS Kali Sade. 2. Bangunan yang dibuat menggunakan blok beton terkunci menyebabkan sampah mudah tersangkut sehingga membutuhkan pemeliharaan atau pembersihan yang intensif.
16
REKOMENDASI 1. Perlu dilakukan kajian lanjutan untuk mengetahui seberapa efektif pembangunan BPS Kali Sade menggunakan material blok beton terkunci terhadap pengurangan sedimen dan pengendalian populasi enceng gondok pada Bendungan Batujai dibandingkan jika menggunakan konstruksi konvensional. 2. Proses studi UKL/ UPL sebaiknya dilaksanakan sesuai prosedur, yaitu pada tahapan studi dan perencanaan/ desain konstruksi agar Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (UKL/ UPL) dapat dilaksanakan tidak hanya pada tahap pengerjaan konstruksi dan pasca konstruksi, tetapi juga pada tahap pra konstruksi.
17
REKOMENDASI 3. Metode pelaksanaan dimulai dari pembuatan salah satu sisi dinding abutmen lalu disusun 1 atau 2 baris terlebih dahulu hingga mencapai bentang rencana bangunan melintang sungai lalu dilanjutkan dengan pembuatan sisi dinding abutmen berikutnya agar supaya diperoleh susunan beton modular yang presisi. 4. Perlu segera dilengkapi fasilitas OP yang mendasar seperti papan nama bangunan dan tangga akses untuk mempermudah pemeliharaan.
18
SEKIAN dan TERIMA KASIH
Presentasi serupa
© 2025 SlidePlayer.info Inc.
All rights reserved.