Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

By Elsya M.A - 2013. Outline 1. Penentuan Persediaan Barang Dagang 2. Pengendalian Persediaan Barang Dagang 3. Harga Perolehan Persediaan 4. Akuntansi.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "By Elsya M.A - 2013. Outline 1. Penentuan Persediaan Barang Dagang 2. Pengendalian Persediaan Barang Dagang 3. Harga Perolehan Persediaan 4. Akuntansi."— Transcript presentasi:

1 By Elsya M.A

2 Outline 1. Penentuan Persediaan Barang Dagang 2. Pengendalian Persediaan Barang Dagang 3. Harga Perolehan Persediaan 4. Akuntansi Persediaan Barang Dagang 5. Penentuan Harga Perolehan Persediaan 6. Sistem Pencatatan Persediaan – Perpetual system 7. Sistem Pencatatan Persediaan – Periodic system 8. Pengaruh Kesalahan Persediaan pada Lap Keuangan

3 Definisi Persediaan Barang-barang yang dimiliki perusahaan untuk dijual kembali tanpa ada proses pengolahan  Perusahaan Dagang Barang-barang yang akan digunakan untuk proses selanjutnya atau dijual ketika proses telah selesai  Perusahaan Manufaktur Persediaan dalam manufaktur : Persediaan bahan baku Persediaan dalam proses Persediaan barang jadi

4 Penentuan Persediaan Barang Dagang Persediaan barang dagang (merchandise inventory) meliputi semua barang yang dimiliki dan dipegang perusahaan untuk dijual. Karakteristik Persediaan Barang Dagang: Dimiliki perusahaan Siap dijual kepada konsumen Perusahaan dagang hanya ada satu klasifikasi persediaan, beda dengan perusahaan manufaktur

5 Penentuan Persediaan Barang Dagang Hal-hal berikut menjadi perhatian khusus ketika menentukan persediaan barang dagang : Barang dalam perjalanan (Goods in Transit) jika barang pada tgl neraca berada dipihak pengangkut (truk, kapal, kereta api, angkutan udara), hak pemilikan ditentukan oleh syarat penjualan yang disepakati Barang konsinyasi (Goods on consignment) Barang yang dititipkan oleh pemilik (consignor) kepada pihak lain (consignee) untuk dijual Barang rusak atau ketinggalan jaman (Goods damaged or obsolete)

6 FOB Destination Point Public Carrier SellerBuyer Goods in Transit Public Carrier SellerBuyer FOB Shipping Point Ownership passes to the buyer here.

7 Goods on Consignment Merchandise is included in the inventory of the consignor, the owner of the inventory. Consignor Consignee Thanks for selling my inventory in your store.

8 Goods Damaged or Obsolete Damaged or obsolete goods are not counted in inventory if they cannot be sold. Cost should be reduced to net realizable value if they can be sold. C 1

9 Pengendalian Persediaan Tujuan utama pengendalian : 1. Pengendalian preventif ; yaitu mencegah kesalahan atau kekeliruan Mengamankan persediaan fisik persediaan Melaporkan persediaan secara tepat. 2. Pengendalian detektif ; yaitu mendeteksi kesalahan atau kekeliruan

10 Pengendalian Persediaan Contoh pengendalian persediaan salah satunya melakukan penghitungan fisik persediaan. Internal control dalam penghitungan fisik : Penghitungan dilakukan oleh orang-orang yang bukan tugasnya bertanggung jawab terhadap persediaan Penghitungan untuk validitas persediaan mencakup eksistensi, jumlah dan kualitas Harus dilakukan penghitungan kedua oleh pihak lain Menggunakan kartu persediaan yg bernomor urut tercetak Ada manajer yang mengkonfirmasi setiap persediaan sudah diberi kartu pada akhir perhitungan.

11 Harga Perolehan Persediaan Invoice Cost Meliputi semua pengeluaran yang diperlukan untuk mendapatkan barang dan menempatkannya dalam kondisi siap untuk dijual Minus Discounts and Allowances Plus Import Duties Plus Freight Plus Storage Plus Insurance

12 Aliran Persediaan di Lap LR Persediaan awalPembelian Barang tersedia untuk dijual Persediaan akhir Harga Pokok Penjualan

13 Akuntansi Persediaan Akuntansi untuk persediaan barang dagang yaitu : 1. Menentukan apa saja yang menjadi persediaan dan harga perolehannya 2. Metode penghitungan (costing method) a. Metode FIFO (First-In, First-Out) b. Metode LIFO (Last-In, First-Out) c. Metode rata-rata (Weight Average) d. Metode identifikasi khusus (specific identification)

14 Akuntansi Persediaan 3. Sistem pencatatan persediaan Periodik Perpetual 4. Menggunakan nilai pasar atau estimasi lainnya Masalah penting dalam akuntansi persediaan adalah menentukan harga per unit untuk setiap item persediaan. Jika semua persediaan dibeli dengan harga yang sama maka tidak akan timbul masalah, tapi jika dibeli dengan harga berbeda maka akan timbul masalah dalam menentukan harga pokok penjualan dan persediaan akhir.

15 Metode FIFO Menganggap bahwa barang yang lebih dulu dibeli, akan dijual lebih dulu Harga perolehan barang yang lebih dulu dibeli akan dianggap sebagai harga pokok penjualan lebih dulu juga. Persediaan akhir ditentukan dari harga perolehan dari pembelian terakhir.

16 First-In, First-Out (FIFO) Cost of Goods Sold Ending Inventory Oldest Costs Recent Costs P1

17 Metode LIFO Menganggap bahwa barang yang dibeli terakhir akan dijual lebih dulu Harga perolehan barang yang dibeli terakhir akan menjadi harga pokok penjualan lebih dulu Persediaan akhir adalah harga perolehan barang yang pertama kali dibeli

18 Last-In, First-Out (LIFO) Cost of Goods Sold Ending Inventory Recent Costs Oldest Costs P1

19 Metode Rata-rata Berdasarkan pada anggapan bahwa barang tersedia dijual adalah homogen. Pengalokasian harga perolehan barang tersedia dijual dilakukan atas dasar harga perolehan rata-rata Rumus : Harga pokok/unit = Harga pokok pers tersedia dijual Jumlah unit tersedia dijual

20 Metode Identifikasi Khusus Metode ini mengikuti aliran fisik barang yang sesungguhnya, artinya harga yang ditetapkan untuk setiap jenis barang sesuai dengan harga sebenarnya. Digunakan hanya untuk barang-barang yang jumlahnya tidak terlalu banyak dan nilainya tinggi. Merupakan metode yang paling ideal karena harga pokok dan persediaan akhir ditentukan sesuai dengan harga sebenarnya

21 Penentuan Harga Pokok – Sistem Periodik Account persediaan barang dagang digunakan hanya untuk mencatat persediaan barang dagang yang ada diawal dan di akhir periode. Dimana persediaan akhir ditentukan dengan penghitungan fisik. Disediakan satu account (pembelian) untuk mencatat transaksi pembelian barang dagang serta transaksi lain yang berhubungan dengannya misal: transport pembelian, potongan pembelian dan pembelian retur. Harga pokok penjualan dihitung dengan cara : Pers barang dagang awal + pembelian bersih = Persediaan tersedia dijual – Pers barang dagang akhir = Harga Pokok Penjualan

22 Penentuan Harga Pokok – Sistem Periodik

23 1. First- In, First-out Persediaan awal $ 910 Pembelian 5,080 Persediaan tersedia untuk dijual $ 5,990 Persediaan akhir : 10 $ 119 1,190 2 $ Persediaan akhir 1,420 Harga Pokok Penjualan$ 4,570

24 Penentuan Harga Pokok – Sistem Periodik 2. Last- In, First-out Persediaan awal $ 910 Pembelian 5,080 Persediaan tersedia untuk dijual $ 5,990 Persediaan akhir : 10 $ $ Persediaan akhir 1,122 Harga Pokok Penjualan$ 4,868

25 Penentuan Harga Pokok – Sistem Periodik 3. Metode Rata-Rata Harga pokok (cost)/unit = ,590 +2, ,190 = 5, = $ 108,91 Persediaan tersedia untuk dijual =$ 5,990 Persediaan akhir : ,91 = 1,307 Harga Pokok Penjualan =$ 4,683

26 Pencatatan – Sistem Periodik 1. Metode FIFO Jurnal Pembelian Mar 4 Pembelian1,590 Hutang Dagang1, Pembelian2,300 Hutang Dagang2, Pembelian 1,190 Hutang Dagang1,190

27 Pencatatan – Sistem Periodik Jurnal Penjualan Mar 14 Piutang Dagang2,600 Penjualan 2, Piutang Dagang3,450 Penjualan 3,450 Jurnal Penyesuaian Mar 31 Persediaan Barang Dagang 1,420 Ikhtisar laba rugi 510 Persediaan barang dagang 910

28 Pencatatan – Sistem Periodik 2. Metode LIFO Jurnal Pembelian Mar 4 Pembelian1,590 Hutang Dagang1, Pembelian2,300 Hutang Dagang2, Pembelian 1,190 Hutang Dagang1,190

29 Pencatatan – Sistem Periodik Jurnal Penjualan Mar 14 Piutang Dagang2,600 Penjualan 2, Piutang Dagang3,450 Penjualan 3,450 Jurnal Penyesuaian Mar 31 Persediaan Barang Dagang 1,122 Ikhtisar laba rugi 212 Persediaan barang dagang 910

30 Pencatatan – Sistem Periodik 3. Metode Rata-rata Jurnal Pembelian Mar 4 Pembelian1,590 Hutang Dagang1, Pembelian2,300 Hutang Dagang2, Pembelian 1,190 Hutang Dagang1,190

31 Pencatatan – Sistem Periodik Jurnal Penjualan Mar 14 Piutang Dagang2,600 Penjualan 2, Piutang Dagang3,450 Penjualan 3,450 Jurnal Penyesuaian Mar 31 Persediaan Barang Dagang 1,307 Ikhtisar laba rugi 397 Persediaan barang dagang 910

32 Pencatatan – Sistem Perpetual Pembelian barang dagang dicatat dengan men-debet account persediaan bukan pembelian. Harga pokok penjualan dihitung setiap transaksi penjualan, dicatat dengan men-debet HPP dan mengkredit persediaan Persediaan merupakan rekening kontrol dan dilengkapi dengan buku pembantu persediaan yang berisi catatan untuk setiap

33 Pencatatan Sistem Perpetual Account persediaan akan dapat menunjukkan saldo persediaan setiap akhir bulan sehingga tidak perlu dilakukan penghitungan fisik. HPP dapat diketahui setiap transaksi penjualan sehingga laba kotor juga dapat diketahui. Karena saldo persediaan dan HPP telah diketahui maka tidak perlu lagi jurnal penyesuaia pada akhir periode

34 Pencatatan – Sistem Perpetual Metode FIFO Jurnal Pembelian Mar 4 Persediaan Barang Dagang1,590 Hutang Dagang1, Persediaan Barang Dagang2,300 Hutang Dagang2, Persediaan Barang Dagang1,190 Hutang Dagang1,190

35 Pencatatan – Sistem Perpetual Jurnal Penjualan Mar 14 Piutang Dagang2,600 Penjualan2, Harga Pokok Penjualan1,970 Persediaan Barang Dagang1, Piutang Dagang3,450 Penjualan3, Harga Pokok Penjualan2,600 Persediaan Barang Dagang2,600

36 Pencatatan – Sistem Perpetual Metode LIFO Jurnal Pembelian Mar 4 Persediaan Barang Dagang1,590 Hutang Dagang1, Persediaan Barang Dagang2,300 Hutang Dagang2, Persediaan Barang Dagang1,190 Hutang Dagang1,190

37 Pencatatan – Sistem Perpetual Jurnal Penjualan Mar 14 Piutang Dagang2,600 Penjualan2, Harga Pokok Penjualan2,045 Persediaan Barang Dagang2, Piutang Dagang3,450 Penjualan3, Harga Pokok Penjualan2,685 Persediaan Barang Dagang2,685

38 Pencatatan – Sistem Perpetual Metode Rata-Rata Jurnal Pembelian Mar 4 Persediaan Barang Dagang1,590 Hutang Dagang1, Persediaan Barang Dagang2,300 Hutang Dagang2, Persediaan Barang Dagang1,190 Hutang Dagang1,190

39 Pencatatan – Sistem Perpetual Jurnal Penjualan Mar 14 Piutang Dagang2,600 Penjualan2, Harga Pokok Penjualan2,000 Persediaan Barang Dagang2, Piutang Dagang3,450 Penjualan3, Harga Pokok Penjualan2,622 Persediaan Barang Dagang2,622

40 Pencatatan – Sistem Perpetual Metode Identifikasi Khusus Jurnal Pembelian Mar 4 Persediaan Barang Dagang1,590 Hutang Dagang1, Persediaan Barang Dagang2,300 Hutang Dagang2, Persediaan Barang Dagang1,190 Hutang Dagang1,190

41 Pencatatan – Sistem Perpetual Jurnal Penjualan Mar 14 Piutang Dagang2,600 Penjualan2, Harga Pokok Penjualan2,000 Persediaan Barang Dagang2, Piutang Dagang3,450 Penjualan3, Harga Pokok Penjualan2,582 Persediaan Barang Dagang2,582

42 Pengaruh Metode Harga Perolehan terhadap Laporan Keuangan

43 1. Pengaruh terhadap Neraca Ketika inflasi FIFO lebih baik digunakan, karena nilai persediaan lebih mencerminkan harga yang berlaku pada tanggal neraca. sebaliknya LIFO, nilai persediaan tidak mencerminkan harga yang berlaku pada tanggal neraca, sehingga aktiva lancar maupun total aktiva akan dilaporkan lebih rendah pada neraca.

44 Pengaruh Metode Harga Perolehan terhadap Laporan Keuangan 2. Pengaruh terhadap Laporan Laba Rugi Ketika inflasi, FIFO menghasilkan laba bersih lebih tinggi yang tentu akan menguntungkan bagi manajemen Tetapi ada yang berpendapat bahwa laba yang dihasilkan adalah laba semu atau laba diatas kertas saja sehingga laba bersih yang dilaporkan juga terlalu tinggi.

45 Pengaruh Metode Harga Perolehan terhadap Laporan Keuangan 3. Pengaruh terhadap Pajak Karena FIFO akan menghasilkan nilai persediaan dan laba bersih yang lebih tinggi pada masa inflasi maka akan menghasilkan pajak yang lebih besar juga. Maka saat ini banyak perusahaan yang beralih ke metode LIFO pada masa inflasi karena akan menghasilkan pajak yang lebih rendah dari pada FIFO dan metode rata-rata. Adanya penghematan pajak akan menyebabkan bertambahnya kas yang dapat digunakan untuk operasional perusahaan.

46 Pengaruh kesalahan di persediaan Hubungan persediaan di neraca dan laba rugi : Persediaan akhir di laba rugi merupakan persediaan di neraca tahun ini. Persediaan awal di laba rugi merupakan persediaan di neraca tahun lalu. Persediaan di neraca tahun ini merupakan persediaan awal di laba rugi tahun depan

47 Pengaruh Kesalahan Persediaan Kesalahan nilai persediaan mempengaruhi : Perhitungan laba rugi dan neraca tahun berjalan Perhitungan laba rugi dan neraca tahun lalu Perhitungan laba rugi dan neraca tahun berikut

48 Pengaruh Kesalahan Persediaan Jika Persediaan terlalu kecil : Tahun berjalan : HPP terlalu tinggi, laba kotor dan laba bersih, total laba ditahan, total aktiva & total modal menjadi kecil. Tahun depan laba menjadi terlalu besar Tahun lalu : laba bersih, total laba ditahan, total aktiva & total modal menjadi kecil.

49 Pengaruh Kesalahan Persediaan Jika persediaan terlalu besar : Pada neraca : - persediaan terlalu tinggi - aktiva lancar dan total aktiva terlalu tinggi - total ekuitas terlalu tinggi Pada laba rugi : - HPP terlalu rendah - Laba kotor dan laba bersih terlalu tinggi

50 Financial Statement Effects of Inventory Errors Income Statement Effects A2

51 Financial Statement Effects of Inventory Errors Balance Sheet Effects A2

52 Penilaian Persediaan pada LCM Pada umumnya persediaan dinilai dan dinyatakan di neraca sebesar harga pokok Dalam keadaan tertentu (kerusakan fisik, susut, perubahan tingkat harga) persediaan dinilai pada harga terendah antara harga pokok dan harga pasar Jika dinilai berdasarkan LCM maka harga pokok persediaan (yg telah ditetapkan dg FIFO,LIFO,Rata-rata) dibandingkan dengan harga pasar. Harga terendah diantara keduanya dipilih untuk penilaian dan penyajian di neraca.

53 Penilaian Persediaan Pada LCM Metode LCM diterapkan dengan 3 cara : Pada tiap-tiap jenis barang Pada tiap-tiap kelompok Pada nilai persediaan secara keseluruhan Jurnal Kerugian karena penurunan harga persediaanxxx Persediaan barang dagangxxx

54 Penyajian di Neraca Di neraca persediaan harus diungkapkan dengan jelas atau dalam catatan atas laporan keuangan, yang meliputi : Klasifikasi persediaan Dasar akuntansi yang digunakan (harga perolehan atau harga terendah antara harga perolehan & harga pasar) Metode harga perolehan yang digunakan (FIFO, LIFO atau rata-rata). Aktiva Lancar : Persediaan barang dagang (pada harga terendah antara harga pokok – metode FIFO dan harga pasarRp xxxxxx

55 Metode Estimasi Digunakan jika : Metode harga perolehan (FIFO, LIFO, Rata-rata) tidak mungkin diterapkan karena musibah (kebakaran atau kebanjiran) sehingga penghitungan fisik tidak bisa dilakukan Manajemen menginginkan laporan bulanan sedangkan penghitungan fisik dilakukan hanya pada akhir tahun. Metode estimasi yang digunakan : Metode eceran (retail method) Metode laba kotor (gross profit method)

56 Metode Estimasi Retail Method Metode eceran biasanya digunakan oleh pedagang eceran spt Toserba, karena adanya hubungan yang dekat dan konstan antara harga pokok dengan harga jual. Taksiran persediaan akhir didapatkan dengan cara : 1. Barang tersedia dijual berdasar harga eceran – penjualan bersih = persediaan akhir berdasar harga eceran 2. Barang tersedia dijual berdasar harga perolehan : barang tersedia dijual berdasar harga eceran = Perbandingan harga perolehan terhadap harga eceran 3. Persediaan akhir berdasar harga eceran x perbandingan harga perolehan thd harga eceran = Taksiran persediaan akhir

57 Metode Estimasi Metode Laba Kotor Persediaan ditaksir dengan cara menerapkan persentase laba kotor terhadap pernjualan Untuk itu perlu diketahui nilai penjualan, harga perolehan barang tersedia dijual dan persentase laba kotor. Langkah untuk mendapatkan taksiran persediaan akhir : 1. Penjualan bersih – taksiran laba kotor = taksiran harga pokok penjualan 2. Harga perolehan barang tersedia dijual – taksiran harga pokok penjualan = taksiran persediaan akhir.


Download ppt "By Elsya M.A - 2013. Outline 1. Penentuan Persediaan Barang Dagang 2. Pengendalian Persediaan Barang Dagang 3. Harga Perolehan Persediaan 4. Akuntansi."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google