Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

KONSEP DASAR  Manusia : mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol/dipengaruhi oleh faktor- dikontrol/dipengaruhi oleh faktor- faktor dari luar faktor.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "KONSEP DASAR  Manusia : mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol/dipengaruhi oleh faktor- dikontrol/dipengaruhi oleh faktor- faktor dari luar faktor."— Transcript presentasi:

1

2 KONSEP DASAR  Manusia : mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol/dipengaruhi oleh faktor- dikontrol/dipengaruhi oleh faktor- faktor dari luar faktor dari luar  Manusia memulai kehidupannya dengan mem- berikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian

3  Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya  Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan, melalui hukum-hukum belajar : Pembiasaan klasik, Pembiasaan klasik, Pembiasaan operan Pembiasaan operan Peniruan. Peniruan.

4  Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar, sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi- kondisi pembentukan tingkah laku.  Manusia cenderung akan mengambil sti- mulus yang menyenangkan dan menghin- darkan stimulus yang tidak menyenang- kan.

5  Kepribadian seseorang merupakan cerminan dari pengalaman, yaitu situasi atau stimulus yang diteri- manya.  Memahami kepribadian manusia : mempelajari dan memahami bagai- mana terbentuknya suatu tingkah laku

6 KARAKTEISTIK KONSELING BEHAVIORAL : KARAKTEISTIK KONSELING BEHAVIORAL : Berfokus pada tingkah laku yang tampak Berfokus pada tingkah laku yang tampak Cermat dan operasional dalam merumuskan tujuan konseling Cermat dan operasional dalam merumuskan tujuan konseling Mengembangkan prosedur perlakuan spesifik Mengembangkan prosedur perlakuan spesifik Penilaian obyektif terhadap tujuan konseling Penilaian obyektif terhadap tujuan konseling

7 ASUMSI TINGKAH LAKU BERMASALAH Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat, yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat, yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau lingkungan yang salah Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau lingkungan yang salah

8 Manusia bermasalah mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya Manusia bermasalah mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya Tingkah laku maladaptif terjadi karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat Tingkah laku maladaptif terjadi karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar

9 TUJUAN KONSELING  Mengahapus/menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untuk di- gantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien.

10 Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik o Diinginkan oleh klien o Konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut o Klien dapat mencapai tujuan tersebut o Dirumuskan secara spesifik Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/merumuskan tujuan- tujuan khusus konseling. Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/merumuskan tujuan- tujuan khusus konseling.

11 DESKRIPSI PROSES KONSELING  Proses konseling dibingkai oleh kerangka kerja untuk mengajar klien dalam mengubah tingkah lakunya  Proses konseling adalah proses belajar, konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut

12 Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar- benar dialaminya pada waktu itu Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar- benar dialaminya pada waktu itu Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah.

13 2. Goal setting Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : a. Konselor dan klien mendifinisikan a. Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi klien masalah yang dihadapi klien b. Klien mengkhususkan perubahan positif b. Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sbg hasil konseling yang dikehendaki sbg hasil konseling

14 c. Konselor dan klien mendiskusikan c. Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien : tujuan yang telah ditetapkan klien : 1) apakah merupakan tujuan yang 1) apakah merupakan tujuan yang benar-benar diinginkan klien benar-benar diinginkan klien 2) apakah tujuan itu realistik 2) apakah tujuan itu realistik 3) kemungkinan manfaatnya 3) kemungkinan manfaatnya 4) kemungkinan kerugiannya. 4) kemungkinan kerugiannya.

15 d. Konselor dan klien membuat d. Konselor dan klien membuat keputusan apakah : keputusan apakah : 1) melanjutkan konseling dengan 1) melanjutkan konseling dengan mentapkan teknik yang akan mentapkan teknik yang akan dilaksanakan dilaksanakan 2) mempertimbangkan kembali 2) mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai tujuan yang akan dicapai 3) melakukan referal 3) melakukan referal

16 3. Technique implementation menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling 4. Evaluation termination melakukan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling melakukan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling 5. Feedback memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan proses konseling. memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan proses konseling.

17 TEKNIK KONSELING Teknik konseling behavioral diarahkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang memben- tuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang, dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk Teknik konseling behavioral diarahkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang memben- tuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang, dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk

18 Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral o Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien. Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien.

19 Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terham-batnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terham-batnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film, tape recorder, atau contoh nyata langsung) Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film, tape recorder, atau contoh nyata langsung) Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak

20 TEKNIK-TEKNIK KONSELING Latihan Asertif Latihan Asertif o Digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar o Terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya o Cara : permainan peran dengan bimbingan konselor, diskusi kelompok

21 Desensitisasi Sistematis Desensitisasi Sistematis o Memfokuskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks o Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan

22 o Dengan pengkondisian klasik respon- respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap o Tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan, dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan.

23 Pengkondisian Aversi Pengkondisian Aversi o Digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk dengan meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut o Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya o Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan.

24 Pembentukan Tingkah laku Model Pembentukan Tingkah laku Model o Digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien, dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk o Konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model, dapat menggunakan model audio, model fisik, model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh o Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor : dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial.

25 KETERBATASAN PENDEKATAN 1. Bersifat dingin, kurang menyentuh aspek pribadi, bersifat manipulatif, dan pribadi, bersifat manipulatif, dan mengabaikan hubungan antar pribadi mengabaikan hubungan antar pribadi 2. Lebih terkonsentrasi kepada teknik 3. Pemilihan tujuan sering ditentukan oleh konselor

26 4. Konstruksi belajar yang dikembangkan dan digunakan oleh konselor behavioral dan digunakan oleh konselor behavioral tidak cukup komprehensif untuk menje- tidak cukup komprehensif untuk menje- laskan belajar dan harus dipandang hanya sebagai suatu hipotesis laskan belajar dan harus dipandang hanya sebagai suatu hipotesis yang harus diuji yang harus diuji 5. Perubahan klien hanya berupa gejala yang dapat berpindah kepada bentuk tingkah laku yang lain.

27

28 KONSEP DASAR Manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. Manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati, jantung, otak, dan sebagainya, melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut. Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati, jantung, otak, dan sebagainya, melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut.

29 Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran, perasaan, dan tingkah lakunya Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran, perasaan, dan tingkah lakunya Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi, memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi. Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi, memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi.

30  Hakikat manusia menurut Gestalt : Hanya dapat dipahami dalam keseluruhan konteksnya Hanya dapat dipahami dalam keseluruhan konteksnya Merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungannya itu Merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungannya itu Aktor bukan reaktor Aktor bukan reaktor

31 Berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi, emosi, persepsi, dan pemikirannya Berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi, emosi, persepsi, dan pemikirannya Dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab Dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab Mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif. Mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif.

32 Dalam hubungannya dengan perjalanan kehidupan manusia : Dalam hubungannya dengan perjalanan kehidupan manusia : tidak ada yang “ada” tidak ada yang “ada” kecuali “sekarang”. kecuali “sekarang”. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum dijalani, oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa sekarang. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum dijalani, oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa sekarang.

33 Kecemasan : Kecemasan : “kesenjangan antara “kesenjangan antara saat sekarang dan saat sekarang dan yang akan datang” yang akan datang” Jika individu menyimpang dari saat sekarang dan menjadi terlalu terpu- kau pada masa depan, maka mereka mengalami kecemasan. Jika individu menyimpang dari saat sekarang dan menjadi terlalu terpu- kau pada masa depan, maka mereka mengalami kecemasan.

34 Unfinished business Unfinished business (urusan yang tak selesai) (urusan yang tak selesai) perasaan-perasaan yang tidak perasaan-perasaan yang tidak tersalurkan/terungkapkan tersalurkan/terungkapkan seperti : dendam, kemarahan, seperti : dendam, kemarahan, kebencian, sakit hati, kebencian, sakit hati, kecemasan, kedudukan, rasa kecemasan, kedudukan, rasa berdosa, rasa diabaikan berdosa, rasa diabaikan

35 Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran, perasaan-perasaan di ba-wa pada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubung-an yang efektif dengan dirinya sendi-ri dan orang lain Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran, perasaan-perasaan di ba-wa pada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubung-an yang efektif dengan dirinya sendi-ri dan orang lain Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia berani mengha-dapi dan menangani/mengatasinya Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia berani mengha-dapi dan menangani/mengatasinya

36 ASUMSI TINGKAH LAKU BERMASALAH Individu bermasalah karena terjadi pertentangan antara kekuatan “top dog” dan keberadaan “under dog” Individu bermasalah karena terjadi pertentangan antara kekuatan “top dog” dan keberadaan “under dog” o Top dog adalah kekuatan yang mengharuskan, menuntut, mengancam o Under dog adalah keadaan defensif, membela diri, tidak berdaya, lemah, pasif, ingin dimaklumi.

37 Perkembangan yang terganggu karena terjadi ketidakseimbangan antara apa-apa yang harus (self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self) Perkembangan yang terganggu karena terjadi ketidakseimbangan antara apa-apa yang harus (self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self) Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya

38 Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi

39 Spektrum tingkah laku bermasalah : Spektrum tingkah laku bermasalah :  Kepribadian kaku (rigid)  Tidak mau bebas-bertanggung jawab, ingin tetap tergantung  Menolak berhubungan dengan lingkungan  Memeliharan unfinished bussiness  Menolak kebutuhan diri sendiri  Melihat diri sendiri dalam kontinum “hitam-putih”.

40 TUJUAN KONSELING Tujuan utama : Tujuan utama : Membantu klien berani Membantu klien berani menghadapi tantangan dan menghadapi tantangan dan kenyataan yang harus dihadapi kenyataan yang harus dihadapi Klien dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri, dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya. Klien dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri, dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya.

41 Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh, ia baru memanfaatkan sebagaian dari potensinya yang dimilikinya Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh, ia baru memanfaatkan sebagaian dari potensinya yang dimilikinya Melalui konseling konselor Melalui konseling konselor membantu klien agar potensi membantu klien agar potensi yang baru dimanfaatkan yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan sebagian ini dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal. dikembangkan secara optimal.

42 Tujuan spesifik Tujuan spesifik 1. Membantu klien agar dapat memper- oleh kesadaran pribadi, memahami kenyataan atau realitas, serta menda- patkan insight secara penuh 2. Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya

43 3. Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself) 4. Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat beringkah laku menurut prinsip-prinsip Gestalt, semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik.

44 DESKRIPSI PROSES KONSELING Fokus utama konseling : bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya Fokus utama konseling : bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya Tugas konselor : mendorong klien untuk Tugas konselor : mendorong klien untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya dan mau mencoba menghadapinya dirinya dan mau mencoba menghadapinya Klien bisa diajak untuk memilih dua alternatif, menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang Klien bisa diajak untuk memilih dua alternatif, menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang

45 Konselor menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang abstrak, keinginan-keinginannya untuk melakukan diagnosis, interpretasi maupun memberi nasihat Konselor menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang abstrak, keinginan-keinginannya untuk melakukan diagnosis, interpretasi maupun memberi nasihat Konselor sejak awal konseling sudah mengarahkan tujuan agar klien menjadi matang dan mampu menyingkirkan hambatan-hambatn yang menyebabkan klien tidak dapat berdiri sendiri Konselor sejak awal konseling sudah mengarahkan tujuan agar klien menjadi matang dan mampu menyingkirkan hambatan-hambatn yang menyebabkan klien tidak dapat berdiri sendiri Konselor membantu klien menghadapi transisi dari ketergantungannya terhadap faktor luar menjadi percaya akan kekuatannya sendiri. Usaha ini dilakukan dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien. Konselor membantu klien menghadapi transisi dari ketergantungannya terhadap faktor luar menjadi percaya akan kekuatannya sendiri. Usaha ini dilakukan dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien.

46 Pada saat klien mengalami gejala kesesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya, dirinya tidak berdaya, bodoh, atau gila Pada saat klien mengalami gejala kesesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya, dirinya tidak berdaya, bodoh, atau gila Konselor membantu membuat perasaan klien untuk bangkit dan mau menghadapi ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal. Konselor membantu membuat perasaan klien untuk bangkit dan mau menghadapi ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal.

47 Deskripsi Fase-fase Proses Konseling : Fase pertama Fase pertama  konselor mengembangkan pertemuan konseling, agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien  Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda, karena masing-masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan.

48 Fase kedua Fase kedua  Konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien  Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini, yaitu :

49 1. Membangkitkan motivasi klien :  memberi kesempatan klien untuk menyadari ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya  Makin tinggi kesadaran klien terhadap ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan dirinya, sehingga makin tinggi pula keinginannya untuk bekerja sama dengan konselor. 2. Mebangkitkan otonomi klien :  menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasan-alasannya secara bertanggung jawab.

50 Fase ketiga Fase ketiga  Konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini  Klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu, dalam situasi di sini dan saat ini.

51  Kadang-kadang klien diperbolahkan memproyeksikan dirinya kepada konselor  Melalui fase ini, konselor berusaha menemukan celah-celah kepribadian atau aspek-aspek kepribadian yang hilang, dari sini dapat diidentifikasi apa yang harus dilakukan klien.

52 Fase keempat Fase keempat  Setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya, konselor mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling  Pada fase ini klien menunjukkan gejala- gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi.

53  Klien telah memiliki kepercayaan pada potensinya, menyadari keadaan dirinya pada saat sekarang, sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya, perasaan-perasaannya, pikiran-pikirannya dan tingkah lakunya.  Dalam situasi ini klien secara sadar dan bertanggung jawab memutuskan untuk “melepaskan” diri dari konselor, dan siap untuk mengembangan potensi dirinya.

54 TEKNIK KONSELING Prinsip Kerja Teknik Konseling Gestal Prinsip Kerja Teknik Konseling Gestal  Penekanan Tanggung Jawab Klien, konselor menekankan bahwa konselor bersedia membantu klien tetapi tidak akan bisa mengubah klien, konselor menekankan agar klien mengambil tanggung jawab atas tingkah lakunya.

55 Orientasi Sekarang dan Di Sini Orientasi Sekarang dan Di Sini  Konselor tidak merekonstruksi masa lalu atau motif-motif tidak sadar, tetapi memfokuskan keadaan sekarang  Masa lalu hanya dalam kaitannya dengan keadaan sekarang  Konselor tidak bertanya dengan pertanyaan “mengapa”.

56 Orientasi Eksperiensial Orientasi Eksperiensial  konselor meningkatkan kesadaran klien tentang diri sendiri dan masalah-masalahnya, sehingga klien mampu mengintegrasikan kembali dirinya:  klien mempergunakan kata ganti personal  klien mengubah kalimat pertanyaan menjadi pernyataan menjadi pernyataan  klien mengambil peran dan tanggung jawab  klien menyadari bahwa ada hal-hal positif dan/atau negative pada diri atau tingkah dan/atau negative pada diri atau tingkah lakunya lakunya

57 Teknik-teknik Konseling Gestal Teknik-teknik Konseling Gestal  Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan, yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog, misalnya : Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan, yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog, misalnya :  kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak

58  Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”  Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh  Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung  Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah

59  Melalui dialog yang kontradiktif ini, menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko  Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”.

60 Latihan Saya Bertanggung Jawab Latihan Saya Bertanggung Jawab  Teknik untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyek-sikan perasaannya itu kepada orang lain.  Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “...dan saya bertanggung jawab atas hal itu”.

61  Misalnya :  “Saya merasa jenuh, dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu”  “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang, dan saya bertanggung jawab ketidaktahuan itu”.  “Saya malas, dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu”.  Meskipun tampaknya mekanis, tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya.

62 Bermain Proyeksi Bermain Proyeksi  Proyeksi :  Memantulkan kepada orang lain perasaan- perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya  Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain

63  Sering terjadi, perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya  Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain.

64 Teknik Pembalikan Teknik Pembalikan  Gejala-gejala dan tingkah laku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya  Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan- perasaan yang dikeluhkannya.

65  Misalnya : Konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan Konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan

66 Tetap dengan Perasaan Tetap dengan Perasaan  Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan dan ia sangat ingin menghindarinya  Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu.

67  Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan  Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingklah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu.

68  Untuk membuka dan membuat jalan me- nuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru : tidak cukup hanya mengkonfron- tidak cukup hanya mengkonfron- tasi dan menghadapi perasaan- tasi dan menghadapi perasaan- perasaan yang ingin dihindarinya perasaan yang ingin dihindarinya  membutuhkan keberanian dan pengalam- an untuk bertahan dalam kesakitan pera- saan yang ingin dihindarinya itu.

69 KETERBATASAN PENDEKATAN 1. Pendekatan gestalt cenderung kurang memperhatikan faktor kognitif 2. Pendekatan gestalt menekankan tanggung jawab atas diri sendiri, tetapi mengabaikan tanggung jawab pada orang lain tetapi mengabaikan tanggung jawab pada orang lain

70 3. Menjadi tidak produktf bila penggunaan teknik-teknik gestalt dikembangkan teknik-teknik gestalt dikembangkan secara mekanis secara mekanis 4. Dapat terjadi klien sering bereaksi negatif terhadap sejumlah teknik negatif terhadap sejumlah teknik gestalt karena merasa dirinya gestalt karena merasa dirinya dianggap anak kecil atau orang bodoh. dianggap anak kecil atau orang bodoh.

71 Oleh: Dr. DYP Sugiharto, M.Pd Universitas Negeri Semarang

72 PERSPEKTIF DAN MAKNA PENDEKATAN KONSELING Esensi Konseling Esensi Konseling Suatu proses hubungan untuk membantu orang lain, yang terbangun dalam suatu hubungan tatap muka antara dua orang individu (klien yang menghadapi masalah dengan konselor yang memiliki kualifikasi tertentu). Suatu proses hubungan untuk membantu orang lain, yang terbangun dalam suatu hubungan tatap muka antara dua orang individu (klien yang menghadapi masalah dengan konselor yang memiliki kualifikasi tertentu).

73 Bantuan diarahkan agar klien mampu : Bantuan diarahkan agar klien mampu : - tumbuh kembang kearah yang dipilihnya - tumbuh kembang kearah yang dipilihnya - memecahkan masalah yang dihadapi - memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupanhya. dalam kehidupanhya. Hubungan dalam proses konseling terjadi dalam suasana profesional dengan menyediakan kondisi yang kondusif bagi perubahan perilaku klien yang diperlukan untuk memecahkan kesulitan pribadi yang dihadapinya. Hubungan dalam proses konseling terjadi dalam suasana profesional dengan menyediakan kondisi yang kondusif bagi perubahan perilaku klien yang diperlukan untuk memecahkan kesulitan pribadi yang dihadapinya.

74  Konseling Profesional Layanan terhadap klien yang dapat dipertang-gungjawabkan dasar keilmuan dan teknologinya Layanan terhadap klien yang dapat dipertang-gungjawabkan dasar keilmuan dan teknologinya Bertitik tolak dari pendekatan-pendekatan yang dijadikan sebagai dasar acuannya Bertitik tolak dari pendekatan-pendekatan yang dijadikan sebagai dasar acuannya  Pendekatan konseling : Sistem konseling yang dirancang dan didesain berda-sarkan teori-teori dan terapan- terapannya sehingga muwujud-kan suatu struktur performansi konseling Sistem konseling yang dirancang dan didesain berda-sarkan teori-teori dan terapan- terapannya sehingga muwujud-kan suatu struktur performansi konseling

75 JENIS-JENIS PENDEKATAN KONSELING  Psikoanalisis (PA)  Eksistensial Humanistik (EH)  Behaviorisitik (Bh)  Gestalt (Gt)  Client Centered (CC)  Analisis Transaksional (AT)  Rasional Emotif (RE)  Realitas (Rt)  Trait and Factor (TF)

76

77 KONSEP DASAR  Pandangan tentang manusia Manusia cenderung pesimistik, deterministik, mekanistik Manusia cenderung pesimistik, deterministik, mekanistik dan reduksionistik dan reduksionistik Manusia dideterminasi oleh kekuatan-kekuatn irasional, Manusia dideterminasi oleh kekuatan-kekuatn irasional, motivasi-motivasi tidak sadar, kebutuhan-kebutuhan dan motivasi-motivasi tidak sadar, kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan biologis dan naluriah oleh peristiwa- dorongan-dorongan biologis dan naluriah oleh peristiwa- peristiwa psikoseksual yang terjadi pada masa lalu dari peristiwa psikoseksual yang terjadi pada masa lalu dari kehidupannya kehidupannya Tingkah laku manusai : (1) ditujukan untuk memenuhi Tingkah laku manusai : (1) ditujukan untuk memenuhi kebutuhan biologis dan insting-instingnya, (2) dikendalikan kebutuhan biologis dan insting-instingnya, (2) dikendalikan oleh pengalaman-pengalaman masa lampau dan ditentutkan oleh pengalaman-pengalaman masa lampau dan ditentutkan oleh faktor-faltor interpersonal dan intrapsikis. oleh faktor-faltor interpersonal dan intrapsikis.

78 Pandangan tentang Kepribadian Pandangan tentang Kepribadian Tingkatan Kesadaran Tingkatan Kesadaran 1. Kesadaran : 1. Kesadaran : - tingkatan yang memiliki fungsi mengingat, - tingkatan yang memiliki fungsi mengingat, menyadari, dan merasakan sesuatu secara menyadari, dan merasakan sesuatu secara sadar sadar - Kesadaran ini memiliki ruang yang terbatas - Kesadaran ini memiliki ruang yang terbatas dan tampak pada saat individu menyadari dan tampak pada saat individu menyadari berbagai stumulus yang ada disekitarnya. berbagai stumulus yang ada disekitarnya.

79 2. Ambang sadar - Tingkatan kesadaran yang menyimpoan ide, ingatan, dan - Tingkatan kesadaran yang menyimpoan ide, ingatan, dan perasaan yang berfungsi mengantarkan ke tingkat kesadaran. perasaan yang berfungsi mengantarkan ke tingkat kesadaran. - Bukan merupakan bagian dari tingkat kesadaran, tetapi - Bukan merupakan bagian dari tingkat kesadaran, tetapi merupakan tingkatan lain yang biasanya membutuhkan waktu merupakan tingkatan lain yang biasanya membutuhkan waktu beberapa saat untuk menyedari sesuatu beberapa saat untuk menyedari sesuatu 3. Ketidaksadaran - Tingkatan dunia kesadaran yang terbesar dan sebagai - Tingkatan dunia kesadaran yang terbesar dan sebagai bagian terpenting dari struktur psikis, karena segenap bagian terpenting dari struktur psikis, karena segenap pikiran dan perasaan yang dialami sepanjang hidupnya pikiran dan perasaan yang dialami sepanjang hidupnya yang tidak dapat disadari lagi akan tersimpan di dalam yang tidak dapat disadari lagi akan tersimpan di dalam ketidaksadaran. ketidaksadaran. - Tingkah laku manusia sebagian besar didorong oleh perasaan - Tingkah laku manusia sebagian besar didorong oleh perasaan dan pikiran yang tersimpan di tingkat ketidaksadaran ini. dan pikiran yang tersimpan di tingkat ketidaksadaran ini.

80 Struktur Kepribadian Struktur Kepribadian Kepribadian manusia terdiri atas tiga sub sistem, yaitu id, ego dan super ego Kepribadian manusia terdiri atas tiga sub sistem, yaitu id, ego dan super ego Id adalah sistem dasar kepribadian yang merupakan sumber dari dari pada segala dorongan instinktif, khususnya seks dan agresi Id adalah sistem dasar kepribadian yang merupakan sumber dari dari pada segala dorongan instinktif, khususnya seks dan agresi Ego merupakan aspek psikologis yang timbul karena kebutuhan individu untuk berhubungan dengan dunia realita Ego merupakan aspek psikologis yang timbul karena kebutuhan individu untuk berhubungan dengan dunia realita Super Ego merupakan sub sistem yang berfungsi sebagai kontrol internal, yang terdiri dari kata hati (apa yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan) dan Ego-ideal (apa yang seharusnya saya menjadi). Super Ego merupakan sub sistem yang berfungsi sebagai kontrol internal, yang terdiri dari kata hati (apa yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan) dan Ego-ideal (apa yang seharusnya saya menjadi).

81 Dinamika Kepribadian Dinamika Kepribadian - Psikoanalisis memandang bahwa organisme - Psikoanalisis memandang bahwa organisme manusia sebagai sistem energi yang kompleks. manusia sebagai sistem energi yang kompleks. - Energi beresal dari makanan (energi fisik) yang - Energi beresal dari makanan (energi fisik) yang dapat berubah menjadi energi psikis dapat berubah menjadi energi psikis - Dinamika kepribadian terdiri dari cara bagaimana - Dinamika kepribadian terdiri dari cara bagaimana energi psikis itu didistribusikan dan digunakan energi psikis itu didistribusikan dan digunakan oleh id, ego, dan super ego oleh id, ego, dan super ego

82 Perkembangan Kepribadian Perkembangan Kepribadian - Kepribadian individu mulai terbentuk pada tahuan- tahun - Kepribadian individu mulai terbentuk pada tahuan- tahun pertama di masa kanak-kanak. pertama di masa kanak-kanak. - Pada umur 5 tahun struktur dasar kepribadian individu - Pada umur 5 tahun struktur dasar kepribadian individu telah terbentuk, pada tahun-tahun berikutnya hanya telah terbentuk, pada tahun-tahun berikutnya hanya menghaluskan struktur dasar tersebut menghaluskan struktur dasar tersebut - Perkembangan kepribadian berkenaan dengan bagaimana - Perkembangan kepribadian berkenaan dengan bagaimana individu belajar dengan cara-cara baru dalam mereduksi individu belajar dengan cara-cara baru dalam mereduksi ketegangan atau kecemasan dialami dalam kehidupannya. ketegangan atau kecemasan dialami dalam kehidupannya. - Ketegangan atau kecemasan tersebut bersumber pada empat unsur, yaitu (1) proses pertumbuhan fisiologis, (2) frustasi, (3) konflik, dan (4) ancaman. - Ketegangan atau kecemasan tersebut bersumber pada empat unsur, yaitu (1) proses pertumbuhan fisiologis, (2) frustasi, (3) konflik, dan (4) ancaman.

83 Cara ego menghadari ancaman yang menimbulkan ketegangan atau kecemasan : mekanisme pertahanan ego. Cara ego menghadari ancaman yang menimbulkan ketegangan atau kecemasan : mekanisme pertahanan ego. Bentuk-bentuk mekanisme perthanan ego antara lain : Bentuk-bentuk mekanisme perthanan ego antara lain : - Identifikasi - Identifikasi - Represi - Represi - Proyeksi - Proyeksi - Fiksasi - Fiksasi - Regresi - Regresi

84 Perkembangan kepribadian individu dari sejak lahir hingga dewasa terjadi dalam fase-fase : Perkembangan kepribadian individu dari sejak lahir hingga dewasa terjadi dalam fase-fase : 1. Fase Oral 1. Fase Oral 2. Fase Anal 2. Fase Anal 3. Fase Phallis 3. Fase Phallis 4. Fase Latent 4. Fase Latent 5. Fase Genital 5. Fase Genital

85 ASUMSI TINGKAH LAKU BERMASALAH Tingkah laku bermasalah disebabkan oleh kekacauan dalam berfungsinya individu yang bersumber pada : Tingkah laku bermasalah disebabkan oleh kekacauan dalam berfungsinya individu yang bersumber pada : - dinamika yang tidak efektif antara id, ego, - dinamika yang tidak efektif antara id, ego, dan super ego dan super ego - proses belajar yang tidak benar pada masa - proses belajar yang tidak benar pada masa kanak-kanak. kanak-kanak.

86 TUJUAN KONSELING Membantu klien untuk membentuk kembali struktur karakternya dengan mejadikan hal-hal yang tidak disadari menjadi disadari oleh klien. Membantu klien untuk membentuk kembali struktur karakternya dengan mejadikan hal-hal yang tidak disadari menjadi disadari oleh klien. Secara spesifik : Secara spesifik : a. Membawa klien dari dorongan-dorongan yang ditekan a. Membawa klien dari dorongan-dorongan yang ditekan (ketidaksadaran) yang mengakibatkan kecemasan (ketidaksadaran) yang mengakibatkan kecemasan kearah perkembangan kesadaran intelektual kearah perkembangan kesadaran intelektual b. Menghidupkan kembali masa lalu klien dengan b. Menghidupkan kembali masa lalu klien dengan menembus konflik yang direpres menembus konflik yang direpres c. Memberikan kesempatan kepada klien untuk c. Memberikan kesempatan kepada klien untuk menghadapi situasi yang selama ini ia gagal mengatasinya. menghadapi situasi yang selama ini ia gagal mengatasinya.

87 DESKRIPSI PROSES KONSELING Proses konseling difokuskan pada usaha menghayati kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Proses konseling difokuskan pada usaha menghayati kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Pengalaman masa lampai ditata, dianalisis, dan ditafsirkan dengan tujuan untuk merekonstriksi kepribadian. Pengalaman masa lampai ditata, dianalisis, dan ditafsirkan dengan tujuan untuk merekonstriksi kepribadian. Menekankan dimensi afektif dalam membuat pemahaman ketidakdasaran. Menekankan dimensi afektif dalam membuat pemahaman ketidakdasaran. Pemahaman intelektual penting, tetapi yang lebih penting mengasosiasikan antara perasaan dan ingatan dengan pemahaman diri. Pemahaman intelektual penting, tetapi yang lebih penting mengasosiasikan antara perasaan dan ingatan dengan pemahaman diri.

88 Dalam konseling psikoanalisis terdapat dua bagian hubungan konselor dengan klien, yaitu aliansi dan transferensi. Dalam konseling psikoanalisis terdapat dua bagian hubungan konselor dengan klien, yaitu aliansi dan transferensi. Aliansi : Aliansi : sikap klien kepada konselor yang relatif rasional, realistik, dan tidak neurosis (merupakan prakondisi untuk terwujudnya keberhasilan konseling). sikap klien kepada konselor yang relatif rasional, realistik, dan tidak neurosis (merupakan prakondisi untuk terwujudnya keberhasilan konseling). Tranferensi : Tranferensi : - pengalihan segenap pengalaman klien di masa lalunya terhadap orang-orang yang menguasainya yang ditujukan kpd konselor - pengalihan segenap pengalaman klien di masa lalunya terhadap orang-orang yang menguasainya yang ditujukan kpd konselor - merupakan bagian dari hubungan yang sangat penting untuk dianalisis - merupakan bagian dari hubungan yang sangat penting untuk dianalisis - membantu klien untuk mencapai pemahaman tentang bagaimana dirinya telah salah dalam menerima, menginterpretasikan, dan merespon pengalamannya pada saat ini dalam kaitannya dengan masa lalunya. - membantu klien untuk mencapai pemahaman tentang bagaimana dirinya telah salah dalam menerima, menginterpretasikan, dan merespon pengalamannya pada saat ini dalam kaitannya dengan masa lalunya.

89 Peran utama konselor dalam konseling ini adalah membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, ketulusan hati, dan hubungan pribadi yang lebih efektif dalam menghadapi kecemasan melalui cara-cara yang realistis. Peran utama konselor dalam konseling ini adalah membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, ketulusan hati, dan hubungan pribadi yang lebih efektif dalam menghadapi kecemasan melalui cara-cara yang realistis. Konselor membangun hubungan kerja sama dengan klien dan kemudian melakukan serangkaian kegiatan mendengarkan dan menafsirkan. Konselor membangun hubungan kerja sama dengan klien dan kemudian melakukan serangkaian kegiatan mendengarkan dan menafsirkan. Konselor memberikan perhatian kepada resistensi klien Konselor memberikan perhatian kepada resistensi klien Fungsinya adalah mempercepat proses penyadaran hal-hal yang tersimpan dalam ketidaksadaran. Fungsinya adalah mempercepat proses penyadaran hal-hal yang tersimpan dalam ketidaksadaran.

90 TEKNIK KONSELING Teknik-teknik konseling psikoanalisis diarahkan untuk mengembangkan suasana bebas tekanan. Teknik-teknik konseling psikoanalisis diarahkan untuk mengembangkan suasana bebas tekanan. Dalam suasana bebas itu klien menelusuri apa yang tepat dan tidak tepat pada tingkah lakunya dan mengarahkan diri untuk membangun tingkah laku baru. Dalam suasana bebas itu klien menelusuri apa yang tepat dan tidak tepat pada tingkah lakunya dan mengarahkan diri untuk membangun tingkah laku baru. Ada lima teknik dasar dalam konseling psikoanalisis, yaitu : Ada lima teknik dasar dalam konseling psikoanalisis, yaitu : (1) asosiasi bebas, (2) interpretasi, (3) analisis mimpi, (4) analisis resistensi, dan (5) analisis transferensi. (1) asosiasi bebas, (2) interpretasi, (3) analisis mimpi, (4) analisis resistensi, dan (5) analisis transferensi.

91 1. Asosiasi Bebas 1. Asosiasi Bebas Teknik pengungkapan pengalaman masa lampau dan penghentian emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik di masa lampau : klien memperoleh pengetahuan dan evaluasi diri sendiri. Teknik pengungkapan pengalaman masa lampau dan penghentian emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik di masa lampau : klien memperoleh pengetahuan dan evaluasi diri sendiri. 2. Interpretasi 2. Interpretasi - Prosedur dasar yang digunakan dalam - Prosedur dasar yang digunakan dalam analisis mimpi, resistensi, dan transferensi analisis mimpi, resistensi, dan transferensi - Penjelasan makna tingkah laku yang - Penjelasan makna tingkah laku yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi, dan transferensi. bebas, resistensi, dan transferensi.

92 Rambu-rambu Interpretasi : Rambu-rambu Interpretasi : Interpretasi disajikan pada saat gejala yg diinterpretasikan berhubungan erat dengan hal-hal yg disadari klien. Interpretasi disajikan pada saat gejala yg diinterpretasikan berhubungan erat dengan hal-hal yg disadari klien. Interpretasi dimulai dari permukaan menuju hal-hal yg dalam (dialami oleh situasi emosional klien). Interpretasi dimulai dari permukaan menuju hal-hal yg dalam (dialami oleh situasi emosional klien). Menetapkan resistensi atau pertahan-an sebelum menginterpretasikan emo-si atau konflik. Menetapkan resistensi atau pertahan-an sebelum menginterpretasikan emo-si atau konflik.

93 3. Analisis Mimpi 3. Analisis Mimpi Teknik untuk membuka hal-hal yang tidak disadari Teknik untuk membuka hal-hal yang tidak disadari dan membantu klien un-tuk memperoleh pemahaman dan membantu klien un-tuk memperoleh pemahaman terhadap masalah-masalah yg belum terpecahan. terhadap masalah-masalah yg belum terpecahan. 4. Analisis Transferensi 4. Analisis Transferensi Teknik mendorong klien untuk menghi-dupkan Teknik mendorong klien untuk menghi-dupkan kembali masa lampaunya dalam konseling kembali masa lampaunya dalam konseling Tujuan : Tujuan : a. Klien memperoleh pemahaman atas pengalaman a. Klien memperoleh pemahaman atas pengalaman pengalaman tak sadar dan pengaruh masa lampau pengalaman tak sadar dan pengaruh masa lampau terhadap kehidupan sekarang; terhadap kehidupan sekarang; b. Memungkinkan klien menembus konflik masa b. Memungkinkan klien menembus konflik masa lampau yang diperta-hankan hingga sekarang & lampau yang diperta-hankan hingga sekarang & menghambat perkembangan emosinya. menghambat perkembangan emosinya.

94 Analisis Resistensi Analisis Resistensi Resistensi : Resistensi : - Perilaku utk mempertahankan kecemasan - Perilaku utk mempertahankan kecemasan - Menghambat pengungkapan pengalaman tak - Menghambat pengungkapan pengalaman tak disadari disadari - Menghambat jalannya/proses konseling - Menghambat jalannya/proses konseling Analisis Resistensi Analisis Resistensi teknik membantu klien agar menyadari alasan dibalik resistensinya : bisa menghilangkannya teknik membantu klien agar menyadari alasan dibalik resistensinya : bisa menghilangkannya

95 KETERBATASAN PENDEKATAN 1. Pandangan yang terlalu determistik dinilai terlalu merendahkan martabat kemanusiaan. merendahkan martabat kemanusiaan. 2. Terlalu banyak menekankan kepada masa kanak-kanak dan menganggap kehidupan seolah-olah ditentukan oleh dan menganggap kehidupan seolah-olah ditentukan oleh masa lalu. Hal ini memberikan gambaran seolah-olah masa lalu. Hal ini memberikan gambaran seolah-olah tanggung jawab individu berkurang. tanggung jawab individu berkurang. 3. Cenderung meminimalkan rasionalitas. 4. Data penelitian empiris kurang banyak mendukung sistem dan konsep psikoanalisis, seperti konsep tentang energi dan konsep psikoanalisis, seperti konsep tentang energi psikis yang menentukan tingkah laku manusia. psikis yang menentukan tingkah laku manusia.

96

97 KONSEP DASAR  Manusia padasarnya adalah unik memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irsional Ketika berpikir dan bertingkah- Ketika berpikir dan bertingkah- laku rasional manusia akan laku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkah- Ketika berpikir dan bertingkah- laku irasional individu itu menjadi laku irasional individu itu menjadi tidak efektif. tidak efektif.

98  Reaksi emosional seseorang disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi, baik yang disadari maupun tidak disadari.  Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional.  Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka, sangat personal, dan irrasional.

99  Berpikir irrasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan.  Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan.  Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat.

100  Perasaan dan pikiran negatief serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.

101  Teori ABC dari Albert Ellis : Tiga pilar yang membangun tingkah laku individu Tiga pilar yang membangun tingkah laku individu Antecedent event (A) Antecedent event (A) Belief (B) Belief (B) Consequence (C) Consequence (C)

102 Antecedent event (A) Segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu Segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga Perceraian suatu keluarga Kelulusan bagi siswa Kelulusan bagi siswa Seleksi masuk bagi calon karyawan Seleksi masuk bagi calon karyawan

103 Belief (B) Keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi individu thp suatu peristiwa Rational belief (rB) Irrasional belief (iB)

104 Consequence (C) Consequence (C) Konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau tidak senang dalam hubungannya dgn antecendent event (A). Konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau tidak senang dalam hubungannya dgn antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh B, baik yang rB maupun yang iB. Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh B, baik yang rB maupun yang iB.

105 ASUMSI TINGKAH LAKU BERMASALAH Tingkah laku bermasalah : tingkah laku yang didasarkan dikendalikan oleh cara berpikir yang irrasional (iB) Tingkah laku bermasalah : tingkah laku yang didasarkan dikendalikan oleh cara berpikir yang irrasional (iB) Ciri-ciri iB : Ciri-ciri iB : - Tidak dapat dibuktikan - Tidak dapat dibuktikan - Menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan) - Menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan) yang sebenarnya tidak perlu yang sebenarnya tidak perlu - Menghalangi individu untuk berkembang - Menghalangi individu untuk berkembang

106 Sebab-sebab Individu Berpikir Irasional : Sebab-sebab Individu Berpikir Irasional : Individu tidak berpikir jelas tentang saat ini dan yang akan datang, antara kenyataan Individu tidak berpikir jelas tentang saat ini dan yang akan datang, antara kenyataan dan imajinasi dan imajinasi Individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain Individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain Orang tua atau masyarakat memiliki kecenderungan berpikir irrasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media. Orang tua atau masyarakat memiliki kecenderungan berpikir irrasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media.

107 Indikator keyakinan irrasional : Bahwa manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan Bahwa manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan Bahwa banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik, merusak, jahat, dan kejam sehingga mereka patut dicurigai, disalahkan, dan dihukum Bahwa banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik, merusak, jahat, dan kejam sehingga mereka patut dicurigai, disalahkan, dan dihukum

108 Bahwa kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malape-taka, bencana yang dahsyat, menge-rikan, menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. Bahwa kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malape-taka, bencana yang dahsyat, menge-rikan, menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. Bahwa lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk mengahadapi dan menanganinya Bahwa lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk mengahadapi dan menanganinya

109 Bahwa penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eks- ternal dan individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut. Bahwa penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eks- ternal dan individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut. Bahwa pengalaman masa lalu membe-rikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang Bahwa pengalaman masa lalu membe-rikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang

110 Bahwa untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk me-rasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural Bahwa untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk me-rasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural Bahwa nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu. Bahwa nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu.

111 TUJUAN KONSELING Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irrasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irrasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, rasa marah. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, rasa marah.

112 Untuk mencapai tujuan-tujuan konseling itu perlu pemahaman klien tentang sistem keyakinan atau cara-cara berpikirnya sendiri Untuk mencapai tujuan-tujuan konseling itu perlu pemahaman klien tentang sistem keyakinan atau cara-cara berpikirnya sendiri Tiga tingkatan insight /pemahaman : Tiga tingkatan insight /pemahaman : 1. Klien klien memahami tingkah laku 1. Klien klien memahami tingkah laku negatif/penolakan diri peristiwa yang negatif/penolakan diri peristiwa yang disebabkan oleh sistem keyakinan yang disebabkan oleh sistem keyakinan yang irasional irasional

113 2 Klien memahami bahwa yang menganggu klien pada saat ini adalah karena keyakinan klien pada saat ini adalah karena keyakinan irrasional terus dianutnya irrasional terus dianutnya 3. Klien memahami bahwa tidak ada jalan lain untuk keluar dari hambatan emosional yang dialaminya kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irrasional. untuk keluar dari hambatan emosional yang dialaminya kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irrasional.

114 KLIEN YANG TELAH MEMILIKI rB TERJADI PENINGKATAN DALAM HAL : KLIEN YANG TELAH MEMILIKI rB TERJADI PENINGKATAN DALAM HAL :  penerimaan diri  minat sosial  pengendalian diri  toleransi terhadap pihak lain  fleksibelitas  penerimaan ketidakpastian  komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya  berpikir logis  keberanian mengambil risiko  menerima kenyataan.

115 DESKRIPSI PROSES KONSELING Konseling rasional emotif dilakukan dgn menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimak-sudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien. Konseling rasional emotif dilakukan dgn menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimak-sudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien.

116  Tugas konselor menunjukkan bahwa masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak rasional masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak rasional usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab- sebab permulaan, yaitu menghilangkan pikiran-pikiran yang tidak rasional. usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab- sebab permulaan, yaitu menghilangkan pikiran-pikiran yang tidak rasional.

117  Operasionalisasi tugas konselor : 1. konselor lebih edukatif-direktif kepada klien, dengan 1. konselor lebih edukatif-direktif kepada klien, dengan cara banyak memberikan cerita dan penjelasan, cara banyak memberikan cerita dan penjelasan, khususnya pada tahap awal khususnya pada tahap awal 2. mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung 2. mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung 3. menggunakan pendekatan yang dapat memberi 3. menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien, semangat dan memperbaiki cara berpikir klien, kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri dirinya sendiri

118 4. dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien 5. mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya 6. menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis 7. menggunakan humor dan “menekan” sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irrasional.

119  Karakteristik Konseling RE Aktif-direktif : Aktif-direktif : dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya. dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya. Kognitif-eksperiensial Kognitif-eksperiensial proses konseling berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional. proses konseling berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.

120 Emotif-ekspreriensial Emotif-ekspreriensial proses konseling memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut. proses konseling memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut. Behavioristik Behavioristik proses konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien. proses konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien.

121 TEKNIK KONSELING Teknik-teknik Emotif (Afektif) Teknik-teknik Emotif (Afektif) Assertive adaptive Assertive adaptive teknik untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien untuk secara terus- menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. Latihan- latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. teknik untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien untuk secara terus- menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. Latihan- latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.

122 - Bermain peran teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. - Imitasi teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif. teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif.

123 Teknik-teknik Behavioristik Teknik-teknik Behavioristik Reinforcement Reinforcement teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment).

124 Teknik ini dimaksudkan untuk mem- bongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan meng- gantinya dengan sistem nilai yang positif. Teknik ini dimaksudkan untuk mem- bongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan meng- gantinya dengan sistem nilai yang positif. Dengan memberikan reward ataupun punishment, maka klien akan meng- internalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya. Dengan memberikan reward ataupun punishment, maka klien akan meng- internalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya.

125 Social modeling Social modeling Teknik untuk membentuk tingkah laku- tingkah laku baru pada klien Teknik untuk membentuk tingkah laku- tingkah laku baru pada klien Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru), mengobser-vasi, dan menyesuaikan dirinya dan meng- internalisasikan norma-norma dalam sis-tem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru), mengobser-vasi, dan menyesuaikan dirinya dan meng- internalisasikan norma-norma dalam sis-tem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor.

126 Teknik-teknik Kognitif Teknik-teknik Kognitif Home work assigments Home work assigments Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri, dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri, dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan.

127 Klien ditugasi untuk mempelajari bahan-bahan tertentu, melaksanakan latihan-latihan tertentu yang signifikan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru dan irasional Klien ditugasi untuk mempelajari bahan-bahan tertentu, melaksanakan latihan-latihan tertentu yang signifikan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru dan irasional Tugas yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor Tugas yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor Teknik juga bermaksud : mengembangkan p tanggung jawab, kepercayaan diri, pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. Teknik juga bermaksud : mengembangkan p tanggung jawab, kepercayaan diri, pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor.

128 Latihan assertive Latihan assertive Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku- tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran, latihan, atau meniru model-model sosial. Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku- tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran, latihan, atau meniru model-model sosial. Maksud utama teknik latihan asertif Maksud utama teknik latihan asertif 1. mendorong kemampuan klien 1. mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya hal yang berhubungan dengan emosinya

129 2. membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain menolak atau memusuhi hak asasi orang lain 3. mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri kepercayaan dan kemampuan diri 4. meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah laku-tingkah laku asertif yang cocok tingkah laku-tingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri. untuk diri sendiri.

130 TIADA SEINDAH HARI INI TIADA SEINDAH HARI INI Tiada seindah kini duduk berdampingan berdampingan Menyentuh hati dengan wajah kasih Diantara g’ru pembimbing tersenyum dengan mesra dengan mesra Alangkah indahnya hari ini

131 Terlepaslah segala kenangan duka Kan tercapai harapan hidup bahagia Tiada seindah kini duduk berdampingan Alangkah indahnya hari ini Dr. DYP Sugiharto, M.Pd Jl. Dewi Sartika Raya No. 3C Semarang Telp. (024)

132

133 KONSEP DASAR Pandangan tentang Manusia Manusia merupakan sistem sifat atau faktor yang saling berkaitan antara satu dengan lainnya, seperti kecakapan, minat, sikap, dan temperamen. Perkembangan kemajuan individu mulai dari masa bayi sampai dewasa diperkuat oleh interaksi sifat dan faktor. Telah banyak dilakukan usaha untuk menyusun kategori individu atas dasar dimensi sifat dan faktor. Studi ilmiah yang telah dilakukan adalah : (1) mengukur dan menilai ciri ciri-ciri seseorang dengan tes psikologis, (2) mendefinisikan atau menggambarkan keadaan individu, ( (3) membantu individu untuk memahami diri dan lingkungannya, (4) memprediksi keberhasilan yang mungkin dicapai pada masa mendatang.

134 Manusia berusaha untuk menggunakan pemahaman diri dan pengetahuan kecakapan dirinya sebagai dasar bagi pengembangan potensinya. Manusia berusaha untuk menggunakan pemahaman diri dan pengetahuan kecakapan dirinya sebagai dasar bagi pengembangan potensinya. Manusia mempunyai potensi untuk berbuat baik atau buruk. Manusia mempunyai potensi untuk berbuat baik atau buruk. Makna hidup adalah mencari kebenaran dan berbuat baik serta menolak kejahatan. Makna hidup adalah mencari kebenaran dan berbuat baik serta menolak kejahatan. Menjadi manusia seutuhnya tergantung pada hubungannya dengan orang lain. Menjadi manusia seutuhnya tergantung pada hubungannya dengan orang lain.

135 Asumsi pokok pendekatan konseling trait dan faktor. Asumsi pokok pendekatan konseling trait dan faktor. Karena setiap individu sebagai suatu pola kecakapan dan kemampuan yang terorganisir secara unik, dan karena kemampuan kausalitasnya relatif stabil setelah remaja, maka tes obyektif dapat digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik- karatreistik individu. Karena setiap individu sebagai suatu pola kecakapan dan kemampuan yang terorganisir secara unik, dan karena kemampuan kausalitasnya relatif stabil setelah remaja, maka tes obyektif dapat digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik- karatreistik individu. Pola-pola kepribadian dan minat berkorelasi dengan tingkah laku kerja tertentu. Pola-pola kepribadian dan minat berkorelasi dengan tingkah laku kerja tertentu. Kurikulum sekolah yang berbeda akan menuntut kapasitas dan minat yang berbeda dan hal ini dapat ditentukan. Individu akan belajar dengan lebih mudah dan efektif apabila potensi dan bakatnya sesuai dengan tuntutan kurikulum. Kurikulum sekolah yang berbeda akan menuntut kapasitas dan minat yang berbeda dan hal ini dapat ditentukan. Individu akan belajar dengan lebih mudah dan efektif apabila potensi dan bakatnya sesuai dengan tuntutan kurikulum. Baik klien maupun konselor hendaknya mendiagnosis potensi klien untuk mengawali penempatan dalam kurikulum atau pekerjaan. Baik klien maupun konselor hendaknya mendiagnosis potensi klien untuk mengawali penempatan dalam kurikulum atau pekerjaan. Setiap individu mempunyai kecakapan dan keinginan untuk mengidentifikasi secara kognitif kemampuannya sendiri. Setiap individu mempunyai kecakapan dan keinginan untuk mengidentifikasi secara kognitif kemampuannya sendiri.

136 Pandangan tentang Kepribadian Pandangan tentang Kepribadian Kepribadian : suatu sistem yang saling tergantung dengan sifat dan faktor, seperti kecakapan, minat, sikap, dan temperamen. Kepribadian : suatu sistem yang saling tergantung dengan sifat dan faktor, seperti kecakapan, minat, sikap, dan temperamen. Perkembangan kepribadian manusia ditentutan oleh faktor pembawaan dan lingkungan. Perkembangan kepribadian manusia ditentutan oleh faktor pembawaan dan lingkungan. Setiap individu ada sifat-sifat yang umum dan ada sifat-sifat yang khusus, yang merupakan sifat yang unik. Setiap individu ada sifat-sifat yang umum dan ada sifat-sifat yang khusus, yang merupakan sifat yang unik. Unsur dasar dari struktur kepribadian disebut sifat dan merupakan kecenderungan luas untuk memberi reaksi dan membentuk tingkah laku yang relatif tetap. Unsur dasar dari struktur kepribadian disebut sifat dan merupakan kecenderungan luas untuk memberi reaksi dan membentuk tingkah laku yang relatif tetap. Sifat (trait) : struktur mental yang dapat diamati untuk menunjukkan keajegan dan ketepatan dalam tingkah laku. Sifat (trait) : struktur mental yang dapat diamati untuk menunjukkan keajegan dan ketepatan dalam tingkah laku.

137 TUJUAN KONSELING Membantu individu mencapai perkembangan kesempurnaan berbagai aspek kehidupan manusia. Membantu individu mencapai perkembangan kesempurnaan berbagai aspek kehidupan manusia. Membantu individu dalam memperoleh kemajuan memahami dan mengelola diri dengan cara membantunya menilai kekuatan dan kelamahan diri dalam kegiatan dengan perubahan kemajuan tujuan-tujuan hidup dan karir. Membantu individu dalam memperoleh kemajuan memahami dan mengelola diri dengan cara membantunya menilai kekuatan dan kelamahan diri dalam kegiatan dengan perubahan kemajuan tujuan-tujuan hidup dan karir. Membantu individu untuk memperbaiki kekurangan, tidakmampuan, dan keterbatasan diri serta membantu pertumbuhan dan integrasi kepribadian. Membantu individu untuk memperbaiki kekurangan, tidakmampuan, dan keterbatasan diri serta membantu pertumbuhan dan integrasi kepribadian. Mengubah sifat-sifat subyektif dan kesalahan dalam penilaian diri dengan mengggunakan metode ilmiah. Mengubah sifat-sifat subyektif dan kesalahan dalam penilaian diri dengan mengggunakan metode ilmiah.

138 DESKRIPSI PROSES KONSELING Hubungan konselor dengan klien merupakan hubungan yang sangat akrab, sangat bersifat pribadi dalam hubungan tatap muka. Hubungan konselor dengan klien merupakan hubungan yang sangat akrab, sangat bersifat pribadi dalam hubungan tatap muka. Konselor bukan hanya membantu individu atas apa saja yang sesuai dengan potensinya, tetapi konselor juga mempengaruhi klien berkembang ke satu arah yang terbaik baginya. Konselor bukan hanya membantu individu atas apa saja yang sesuai dengan potensinya, tetapi konselor juga mempengaruhi klien berkembang ke satu arah yang terbaik baginya. Konselor memang tidak menetapkan tetapi memberikan pengaruh untuk mendapatkan cara yang baik dalam membuat keputusan. Konselor memang tidak menetapkan tetapi memberikan pengaruh untuk mendapatkan cara yang baik dalam membuat keputusan.

139 Tahapan proses konseling : Tahapan proses konseling : 1. Analisis 1. Analisis - Merupakan tahapan kegiatan : pengumpulan informasi dan data - Merupakan tahapan kegiatan : pengumpulan informasi dan data mengenai klien. mengenai klien. - Konselor dan klien memiliki informasi yang dpat dipercaya, - Konselor dan klien memiliki informasi yang dpat dipercaya, tepat, dan relevan untuk mendiagnosis pembawaan, minat, tepat, dan relevan untuk mendiagnosis pembawaan, minat, motif, keseimbangan emosional dan sifat-sifat lain yang motif, keseimbangan emosional dan sifat-sifat lain yang memudahkan penyesuaian diri memudahkan penyesuaian diri - Analisis dapat dilakukan dengan menggunakan alat-alat, spt : - Analisis dapat dilakukan dengan menggunakan alat-alat, spt : cacatan kumulatif, wawancara, catatan anekdot, tes psikologis, cacatan kumulatif, wawancara, catatan anekdot, tes psikologis, dan studi kasus. dan studi kasus. - Selain mengumpulkan data obyektif, konselor harus - Selain mengumpulkan data obyektif, konselor harus memperhatikan pula cita-cita dan sikap klien dan cara memperhatikan pula cita-cita dan sikap klien dan cara memandang permasalahannya. memandang permasalahannya.

140 2. Sintesis Merangkum dan mengatur data hasil analisis yang sedemikian rupa sehingga menunjukkan bakat klien, kelamahan dan kekuatan, serta kemampuan penyesuaian diri. Merangkum dan mengatur data hasil analisis yang sedemikian rupa sehingga menunjukkan bakat klien, kelamahan dan kekuatan, serta kemampuan penyesuaian diri. 3. Diagnosis Merupakan tahapan untuk menemukan ketetapan dan pola yang dapat mengarahkan kepada permasalahan, sebab-sebabnya, serta sifat-sifat klien yang relevan dan berpengaruh terhadap proses penyesuaian diri. Merupakan tahapan untuk menemukan ketetapan dan pola yang dapat mengarahkan kepada permasalahan, sebab-sebabnya, serta sifat-sifat klien yang relevan dan berpengaruh terhadap proses penyesuaian diri. Langkah Diagnosis : Langkah Diagnosis : a. Identifikasi Masalah a. Identifikasi Masalah b. Menentukan sebab-sebab b. Menentukan sebab-sebab c. Prognosis c. Prognosis

141 4. Konseling - Merupakan hubungan membantu klien untuk - Merupakan hubungan membantu klien untuk menemukan sumber diri sendiri maupun sumber di luar menemukan sumber diri sendiri maupun sumber di luar dirinya dalam upaya mencapai perkembangan dan dirinya dalam upaya mencapai perkembangan dan penyesuaian optimal sesuai dengan kemampuannya. penyesuaian optimal sesuai dengan kemampuannya. - Dalam kaitan ini ada lima sifat konseling, yaitu : - Dalam kaitan ini ada lima sifat konseling, yaitu : 1. Belajar terpimpin menuju pengertian diri 1. Belajar terpimpin menuju pengertian diri 2. Mendidik/mengajar kembali untuk mencapai tujuan 2. Mendidik/mengajar kembali untuk mencapai tujuan kepribadiannya dan penyesuaian hidupnya. kepribadiannya dan penyesuaian hidupnya. 3. Bantuan pribadi agar klien mengerti dan terampil 3. Bantuan pribadi agar klien mengerti dan terampil dalam menerapkan prinsip dan teknik yang dalam menerapkan prinsip dan teknik yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. 4. Konseling yang mencakup hubungan dan teknik 4. Konseling yang mencakup hubungan dan teknik yang bersifat menyembuhkan yang bersifat menyembuhkan 5. Mendidik kembali yang sifatnya sebagai katarsis 5. Mendidik kembali yang sifatnya sebagai katarsis atau penyaluran atau penyaluran

142 5. Tindak Lanjut - Memberikan bantuan kepada klien - Memberikan bantuan kepada klien dalam menghadapi masalah baru dalam menghadapi masalah baru dengan mengingatkannya kepada dengan mengingatkannya kepada masalah sumbernya sehingga masalah sumbernya sehingga menjamin keberhasilan konseling. menjamin keberhasilan konseling. - Teknik yang digunakan konselor harus - Teknik yang digunakan konselor harus disesuaikan dengan individualitas klien, disesuaikan dengan individualitas klien, mengingat bahwa individu itu sifatnya unik, mengingat bahwa individu itu sifatnya unik, sehingga tidak ada teknik yang baku yang sehingga tidak ada teknik yang baku yang berlaku untuk semua klien. berlaku untuk semua klien.

143 TEKNIK KONSELING Atending Atending Dalam formulasi yang singkat Atending dapat dipahami sebagai usaha pembinaan untuk menghadirkan klien dalam proses konseling Dalam formulasi yang singkat Atending dapat dipahami sebagai usaha pembinaan untuk menghadirkan klien dalam proses konseling Penciptaan dan pengembangan Atending dimulai dari upaya konselor menunjukkan sikap empati, menghargai, wajar, dan mampu mengetahui atau paling tidak mengantisipasi kebutuhan yang dirasakan oleh klien. Penciptaan dan pengembangan Atending dimulai dari upaya konselor menunjukkan sikap empati, menghargai, wajar, dan mampu mengetahui atau paling tidak mengantisipasi kebutuhan yang dirasakan oleh klien.

144 Dalam tataran yang lebih operasional, melakukan refleksi melalui pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut. Dalam tataran yang lebih operasional, melakukan refleksi melalui pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut. - Bagaimana saudara mengenal dan mengantisipasi bila - Bagaimana saudara mengenal dan mengantisipasi bila seseorang sangat tertarik pada Anda? seseorang sangat tertarik pada Anda? - Bagaimana saudara mengenal bila seseorang - Bagaimana saudara mengenal bila seseorang memberikan perhatian terhadap Anda? memberikan perhatian terhadap Anda? - Bagaimana saudara mengenal atau mengetahui bila - Bagaimana saudara mengenal atau mengetahui bila seseorang mendengarkan, memeperhatiakan dan seseorang mendengarkan, memeperhatiakan dan menghayati Anda ? menghayati Anda ? Melalui jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas, konselor dapat memulai melakukan pembinaan untuk mengajak klien mamasuki proses konseling. Melalui jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas, konselor dapat memulai melakukan pembinaan untuk mengajak klien mamasuki proses konseling.

145 Aspek-aspek Atending meliputi : Aspek-aspek Atending meliputi : 1) Posisi badan (termasuk gerak isyarat dan ekspresi muka). 1) Posisi badan (termasuk gerak isyarat dan ekspresi muka). a) Duduk dengan badan menghadap kepada klien a) Duduk dengan badan menghadap kepada klien b) Tangan di atas pangkuan atau berpegangan bebas atau b) Tangan di atas pangkuan atau berpegangan bebas atau kadang-kadang digunakan untuk menunjukkan gerak isyarat kadang-kadang digunakan untuk menunjukkan gerak isyarat yang sedang dikomunikasikan secara verbal yang sedang dikomunikasikan secara verbal c) Respondif dengan menggunakan bagian wajah, c) Respondif dengan menggunakan bagian wajah, umpamanya senyum spontan atau anggukan kepala sebagai umpamanya senyum spontan atau anggukan kepala sebagai persetujuan atau pemahaman dan krutan dahi tanda tidak persetujuan atau pemahaman dan krutan dahi tanda tidak mengerti mengerti d) Badan tegak lurus tetapi tidak kaku, manakala diperlukan d) Badan tegak lurus tetapi tidak kaku, manakala diperlukan bisa condong ke arah klien untuk menunjukan kebersamaan bisa condong ke arah klien untuk menunjukan kebersamaan

146 2) Kontak Mata a) Melihat klien terutama pada waktu bicara a) Melihat klien terutama pada waktu bicara b) Menggunakan pandangan spontan yang b) Menggunakan pandangan spontan yang menunjukkan ekspresi minat dan keinginan untuk menunjukkan ekspresi minat dan keinginan untuk mendengarkan dan merespon mendengarkan dan merespon 3) Mendengarkan a) Memelihara pehatian penuh, terpusat pada klien a) Memelihara pehatian penuh, terpusat pada klien b) Mendengarkan apapun yang dikatakan klien, b) Mendengarkan apapun yang dikatakan klien, mendengarkan keseluruhan pribadi klien (kata- mendengarkan keseluruhan pribadi klien (kata- katanya, perasaannya, dan perilakunya) katanya, perasaannya, dan perilakunya) c) Memahami keseluruhan pesannya c) Memahami keseluruhan pesannya

147 2. Mengundang Pembicaraan Terbuka 2. Mengundang Pembicaraan Terbuka Ajakan terbuka untuk berbicara memberi kesempatan klien agar mengeksplorasi dirinya sendiri dengan dukungan pewawancara. Ajakan terbuka untuk berbicara memberi kesempatan klien agar mengeksplorasi dirinya sendiri dengan dukungan pewawancara. Pertanyaan terbuka memberi peluang klien untuk mengemukakan ide perasaan dan arahnya dalam wawancara. Pertanyaan terbuka memberi peluang klien untuk mengemukakan ide perasaan dan arahnya dalam wawancara. Responnya terhadap pertanyaan terbuka ialah untuk menunjukkan kesadarannya bahwa dia diminta untuk menceritakan sejarahnya atau lebih menjabarkan apa yang telah dikatakan. Responnya terhadap pertanyaan terbuka ialah untuk menunjukkan kesadarannya bahwa dia diminta untuk menceritakan sejarahnya atau lebih menjabarkan apa yang telah dikatakan.

148 Contoh pertanyaan terbuka : Contoh pertanyaan terbuka : 1. untuk membantu memulai wawancara : 1. untuk membantu memulai wawancara : “Apa yang Anda akan bicarakan hari ini?” “Apa yang Anda akan bicarakan hari ini?” “Bagaimana keadaan Anda sejak pertemuan terakhir “Bagaimana keadaan Anda sejak pertemuan terakhir kita?” kita?” 2. Membantu klien menguraikan masalahnya : 2. Membantu klien menguraikan masalahnya : “Cobalah Anda menceritakan lebih banyak lagi “Cobalah Anda menceritakan lebih banyak lagi tentang hal itu!“ tentang hal itu!“ “Bagaimana perasaan Anda pada saat kejadian itu?” “Bagaimana perasaan Anda pada saat kejadian itu?” 3. Membantu memunculkan contoh-contoh perilaku 3. Membantu memunculkan contoh-contoh perilaku khusus : khusus : “Apa yang Anda sedang rasakan pada saat Anda “Apa yang Anda sedang rasakan pada saat Anda menceritakan hal ini kepada saya?” menceritakan hal ini kepada saya?” “Bagaimana perasaan Anda selanjutnya pada waktu “Bagaimana perasaan Anda selanjutnya pada waktu itu?” itu?”

149 Pertanyaan yang tidak disarankan antara lain : Pertanyaan yang tidak disarankan antara lain : Pemakaian pertanyaan tertutup yang terlalu sering Pemakaian pertanyaan tertutup yang terlalu sering Pengajuan pertanyaan lebih dari satu pada waktu yang sama ”Dapatkah anda menceritakan lebih banyak lagi tentang hal itu?” Pengajuan pertanyaan lebih dari satu pada waktu yang sama ”Dapatkah anda menceritakan lebih banyak lagi tentang hal itu?” Pengajuan pertanyaan “Mengapa”, umpamanya : Pengajuan pertanyaan “Mengapa”, umpamanya : “Mengapa anda tidak bergaul dengan baik?” “Mengapa anda tidak bergaul dengan baik?” Memasukkan jawaban dalam pertanyaa,umpamanya : Memasukkan jawaban dalam pertanyaa,umpamanya : “Anda sebenarnya belum mengerti hal itu pada saat anda mengatakan tentang ayahnya, bukan?” “Anda sebenarnya belum mengerti hal itu pada saat anda mengatakan tentang ayahnya, bukan?”

150 Paraprase Paraprase Esensinya : pengulangan kata-kata atau pemikiran-pemikiran kunci dari klien dalam rumusan-rumusan yang menggunakan kata-kata konselor sendiri. Esensinya : pengulangan kata-kata atau pemikiran-pemikiran kunci dari klien dalam rumusan-rumusan yang menggunakan kata-kata konselor sendiri. Memberi tahu klien bahwa ia sedang mendengarkan apan yang dikatakan dan konselor ingin mendengarkan leih banyak lagi. Memberi tahu klien bahwa ia sedang mendengarkan apan yang dikatakan dan konselor ingin mendengarkan leih banyak lagi. Klien akan merasa dimengerti dan dipersiapkan untuk mengolah lebih dalam lagi masalah-masalah yang diajukannya. Klien akan merasa dimengerti dan dipersiapkan untuk mengolah lebih dalam lagi masalah-masalah yang diajukannya. Maksud dari kegiatan paraprase adalah : Maksud dari kegiatan paraprase adalah : - menyampaikan kepada klien bahwa konselor bersama klien, - menyampaikan kepada klien bahwa konselor bersama klien, dan konselor berupaya memahami apa yang dinayatkan klien dan konselor berupaya memahami apa yang dinayatkan klien - mengkritalisasi komentar klien dengan lebih - mengkritalisasi komentar klien dengan lebih memendekannya sehingga membantu mengarahkan memendekannya sehingga membantu mengarahkan wawancara wawancara - memberi peluang untuk memeriksa kecermatan persepsi - memberi peluang untuk memeriksa kecermatan persepsi konselor. konselor.

151 Cara Memparaprase : Cara Memparaprase : 1) Dengarkan pesan utama klien 1) Dengarkan pesan utama klien 2) Nyatakan kembali kepada klien 2) Nyatakan kembali kepada klien ringkasan pesan utamanya secara ringkasan pesan utamanya secara sederhana dan singkat sederhana dan singkat 3) Amati pertanda atau minta respons 3) Amati pertanda atau minta respons dari klien akan bantuan paraprase. dari klien akan bantuan paraprase. Hindari Hindari - analisis, interpretasi, atau pertimbangan nilai tentang pesan klien - analisis, interpretasi, atau pertimbangan nilai tentang pesan klien - respon konselor hanya tertuju kepada bagian kecil dari pesan klien klien, bukan kepada tema utamanya - respon konselor hanya tertuju kepada bagian kecil dari pesan klien klien, bukan kepada tema utamanya - pemakaian kata-kata teknis yang tidak dimengerti klien - pemakaian kata-kata teknis yang tidak dimengerti klien

152 Refeksi perasaan Refeksi perasaan Refleksi perasaan merupakan keterampilan konselor untuk merespons keadaan perasaan klien terhadap situasi yang sedang dihadapi. Refleksi perasaan merupakan keterampilan konselor untuk merespons keadaan perasaan klien terhadap situasi yang sedang dihadapi. Tindakan tersebut akan mendorong dan merangsang klien untuk mengemukakan segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah yang sedang dihadapinya. Tindakan tersebut akan mendorong dan merangsang klien untuk mengemukakan segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah yang sedang dihadapinya. Jadi, esensi keterampilan ini adalah untuk mendorong dan merangsang klien agar dapat mengekspresikan bagaimana perasaan tentang situasi yang sedang dialami. Jadi, esensi keterampilan ini adalah untuk mendorong dan merangsang klien agar dapat mengekspresikan bagaimana perasaan tentang situasi yang sedang dialami.

153 Aspek-aspek refleksi perasaan : Aspek-aspek refleksi perasaan : 1) Mengamati perilaku klien 1) Mengamati perilaku klien 2) Mendengarkan dengan baik 2) Mendengarkan dengan baik 3) Menghayati pesan yang dikomunikasikan 3) Menghayati pesan yang dikomunikasikan klien. klien. 4) Mengenali perasaan-perasaan yang 4) Mengenali perasaan-perasaan yang dikomunikasikan klien. dikomunikasikan klien. 5) Menyimpulkan perasaan yang sedang 5) Menyimpulkan perasaan yang sedang dialami. dialami. 6) Menyeleksi kata-kata yang tepat untuk 6) Menyeleksi kata-kata yang tepat untuk melukiskan perasaan klien. melukiskan perasaan klien.

154 Meringkas Meringkas Meringkas adalah suatu proses untuk memadu berbagai ide dan perasaan dalam satu pernyataan pada akhir suatu unit wawancara konseling. Meringkas adalah suatu proses untuk memadu berbagai ide dan perasaan dalam satu pernyataan pada akhir suatu unit wawancara konseling. Meringkas : rupaya merekapituasi, memadatkan, dan mengkristalisasi esensi apa yang telah dikatakan klien. Meringkas : rupaya merekapituasi, memadatkan, dan mengkristalisasi esensi apa yang telah dikatakan klien. Dengan menggunakan ringkasan secarea perioodik, konselor dapat memeriksa kecermatannya dalam mendengarkan. Dengan menggunakan ringkasan secarea perioodik, konselor dapat memeriksa kecermatannya dalam mendengarkan. Ringkasan juga membantu untuk mengakiri wawancara dengan suatu cartatan yang wajar, dan dapat menjadi panduan wawancara. Ringkasan juga membantu untuk mengakiri wawancara dengan suatu cartatan yang wajar, dan dapat menjadi panduan wawancara.

155 Panduan Umum Meringkas Panduan Umum Meringkas 1) Adakan refleksi atau atending terhadap 1) Adakan refleksi atau atending terhadap berbagai variasi tema dan nada berbagai variasi tema dan nada emosional pada saat klien berbicara emosional pada saat klien berbicara 2) Gabungkan perasaan dan ide kunci ke dalam 2) Gabungkan perasaan dan ide kunci ke dalam pernyataan-pernyataan yang pengertian pernyataan-pernyataan yang pengertian dasarnya luas. dasarnya luas. 3) Jangan tambahkan ide-ide baru dalam 3) Jangan tambahkan ide-ide baru dalam ringkasan ringkasan 4) Pertimbangkan kalau sekiranya dapat 4) Pertimbangkan kalau sekiranya dapat membantu kalau menyatakan rinkasan atau membantu kalau menyatakan rinkasan atau mengajak klien untuk membuat ringkasan mengajak klien untuk membuat ringkasan

156 KETERBATASAN PENDEKATAN Pandangannya dikembangkan dalam situasi pendidikan dan kliennya dibatasi terutama kepada siswa-siswa yang memiliki keragaman derajat kemantapan dan tanggung jawab sendiri. Pandangannya dikembangkan dalam situasi pendidikan dan kliennya dibatasi terutama kepada siswa-siswa yang memiliki keragaman derajat kemantapan dan tanggung jawab sendiri. Pandangannya terlalu menekankan kepada pengendalian konselor dan hasil yang dicapai pada diri klien lebih banyak tergantung kepada keunggulan konselor dalam mengarahkan dan membatasi klien. Pandangannya terlalu menekankan kepada pengendalian konselor dan hasil yang dicapai pada diri klien lebih banyak tergantung kepada keunggulan konselor dalam mengarahkan dan membatasi klien.

157 Banyak meminimalkan atau mengabaikan aspek afektif klien yang justru seharusnya menjadi kepedulian konselor. Banyak meminimalkan atau mengabaikan aspek afektif klien yang justru seharusnya menjadi kepedulian konselor. Terlalu banyak pertimbangan yang ditekankan pada data obyektif. Penggunaan dan keyakinan yang berlebihan terhdap data ini kurang tepat karena keterbatasan reliabilitas, validitas, dan kelengkapan alat dan datanya. Terlalu banyak pertimbangan yang ditekankan pada data obyektif. Penggunaan dan keyakinan yang berlebihan terhdap data ini kurang tepat karena keterbatasan reliabilitas, validitas, dan kelengkapan alat dan datanya. Suatu dilema bagi konselor karena ia harus mendorong dan meyakinkan klien mewujudkan kemampuannya, tetapi ia harus melakukannya tanpa persuasi. Suatu dilema bagi konselor karena ia harus mendorong dan meyakinkan klien mewujudkan kemampuannya, tetapi ia harus melakukannya tanpa persuasi.


Download ppt "KONSEP DASAR  Manusia : mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol/dipengaruhi oleh faktor- dikontrol/dipengaruhi oleh faktor- faktor dari luar faktor."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google