Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

JEJARING PROFESI PENELITIAN KESEHATAN : KEBIJAKAN BALITBANGKES RI Agus Purwadianto Pertemuan Nasional Dinkes se RI, Batam, 21 Desember 2009.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "JEJARING PROFESI PENELITIAN KESEHATAN : KEBIJAKAN BALITBANGKES RI Agus Purwadianto Pertemuan Nasional Dinkes se RI, Batam, 21 Desember 2009."— Transcript presentasi:

1 JEJARING PROFESI PENELITIAN KESEHATAN : KEBIJAKAN BALITBANGKES RI Agus Purwadianto Pertemuan Nasional Dinkes se RI, Batam, 21 Desember 2009

2 Agus Purwadianto Kabalitbang Depkes Gurubesar I.K. Forensik & Medikolegal (07) Perintis/dosen S3 Kekhususan Bioetika FKUI Doktor Filsafat (03) MSi Sosio-Kriminologi (00) SpF (konsultan etiko-medikolegal) (05) Diplome of Forensic Med Groningen Univ (02) SH (97), SpF (83), dr (79) Ketua MKEK Pusat IDI, dosen IKF-ML FKUI/RSCM, Ketua Kolegium IK Forensik Indonesia Ex RI Staf Ahli Bid Hukum & HAM Kemenkokesra RI Ex Karo Hukor Depkes RI Ex Anggota WHO Global Advisory Vaccine Safety Committee Ex Anggota UNESCO Global Ethics Observatory Law Anggota Komisi Bioetika Nasional

3 Jejaring Peneliti Kesehatan Model PINERE : orientasi global dan 3 norma kes sbg ketahanan bangsa Model rumpun ilmu : lintas IPA-IPS  norma kes sbg upaya emansipatorik Model saintifikasi jamu : membangun infrastruktur penelitian + market produk DN  duet lityan Model pendayagunaan riskesdas : advokasi IPKM

4 JARINGAN KS - PEMBERDAYAAN WELCOME TRUST EU REDI CENTRE LB EIJKMAN NIHRD 44 LAB INFLUENZA (RS,FK,BLK) FKUIRSCM IHVCB-FKUI BSL3 UNAIR 100 LAB INFLUENZA 2010 ASOSIASIPROFESI USER & ENGINEERPINERE KOMISI BB BWC GROUP BEP BATELLE INST N-2  IUC RSPIRSP WHO CC LAB DU KOMNAS PINERE TIM PENELAAH MTA GISAID GENE BANK BIOSAFETY - BIOSECURITY COMMISSIONING CERTIFICATION

5 Biological Materials Microorganism: virus, isolates, seed vaccines, cDNA, bacteria, etc. Computer data Microbiological Labs : Esp. BSL 3 Lab : Only 4 in RI PCR-RT + primers + reagens GIS AID Public Access Peaceful purposes - vaccine - anti-virals - reagens + primers Gene Bank Public Domain Bioterrorism Economic dependence INFORMATION CONTENT GENETIC SEQUENCING No IPRIPR probable STOCKPILINGSTOCKPILING BIOSAFETY INTENTIONAL “GOD MADE EVENTS”“MAN MADE EVENTS” PHEIC PANDEMIC BIOSECURITY ESPIONAGE IHR-2005 NATURALSCINATURALSCI SOCIALSCISOCIALSCI Agus Purwadianto, 2009 ILI EWORS PREPAREDNESS funding TIER PRICING

6 A/ H1N1  Public Health Concern ( Swine flu ) CFR < 5 %, high transmitable …….. 1 st wave H5N1  Public Health Emergency (Avian Influenza ) CFR > 83%, low transmitable ………. 2 nd wave ? CFR ? REASSORTMENT “GOD MADE” “MAN MADE” WINTER SEASON UNKNOWN MUTATION “SHORTER INCUBATING” “JUMPING SPECIES” Agus Purwadianto, 2009 ILI + EWORS PIERE = penyakit infeksi new emerging & re-emerging SELF-FULFILLING PROPHECY

7 Gambaran Jaringan Kerja Sama: Hubungannya dengan jaringan yang sama di luar negeri Jarlab Polio & Campak Indonesia Jarlab Polio Campak lingkup WHO SEARO (Thailand, Timor Leste, Myanmar, India, Bangladesh, Nepal, Bhutan, Maldives, Korea Utara & Srilangka) Jarlab Pinere (d.h Influenza) Jar. EWORS Indonesia SEAICR Network Vietnam & Thailand Jar. EWORS Korsel, Kamboja, Vietnam SEAICR Network Indonesia

8 EWORS (Early warning Outbreaks Recognition System) Ialah: suatu penerapan perangkat lunak komputer (software) yang mencatat gejala-gejala penyakit penderita dan kemudian menganalisis hasilnya sehingga dapat secara dini mengantisipasi kemungkinan timbulnya KLB di suatu daerah RISK ANALYSIS BASED ON CLINICAL SYMPTOMS ILI (influenza like illness)  based on lab findings SARI – severe acute respiratory infection

9 RS Rujukan (Surabay a) LAB.FK UNAIR KKP BBLK (Surabay a) BTKL (Surabaya) RS KAB/KODY A Probolinggo PUSKEMAS (ILI) EWORS BERBASIS LAB. DI RUMAH SAKIT (contoh di Surabaya) Etikolegal : sistem rujukan, efisiensi, akses, kewajiban provider, Perlindungan Nakes

10 Alur Lab PINERE & Etikolegal Kasus Suspek (Rumah Sakit) Spesimen Lab Regional Lab Rujukan (BMF) Positif Sequencing untuk analisis lanjut (Lembaga Eijkman) Negatif SENTRALISASI VS DESENTRALISASI IPR VS BENEFIT SHARING TRANSPARANSI, EQUALITY PANDEMC ETHICS “DERIVATIVE MEDICINE” TRACKING SYSTEM : FORENSIC PRINCIPLE Profesi Bersumpah

11 Pelaporan hasil Lab PINERE & Masalah etikolegal Koordinator Lab Virologi Kapuslit BMF KaBalitbangkes Menkes Dirjen P2PL Ka Puskomlik Dokter Pasien Publikasi FORMAT SPT VER MASTER DATA KARANTINA  HAM POLICE POWER OF THE STATE KOMUNIKASI RISIKO!!! ADVANCE PLANNING !! Access To health care Social Distancing

12 Implikasi IHR Laboratorium Biomedik sbg “penentu medik”  lex specialis dari “penunjang medik”  SINDROMA RAJA BARU !!! Potential pandemic preparedness  kegawat- daruratan lab dlm memeriksa spesimen/MATERI biologis scr CITO (bukan lab biasa/rutin)  kriteria WHO : < 24 jam harus ada hasil Biosafety + biosecurity di BSL3 tak terpisahkan dlm setiap tingkatan lab PHE vs PH of international concern

13 Upaya Departemen Kesehatan memperjuangkan bahwa lalu lintas spesimen klinik tersebut secara global (melalui WHO Frame-work) harus ditata-ulang :memperjuangkan bahwa lalu lintas spesimen klinik tersebut secara global (melalui WHO Frame-work) harus ditata-ulang : –Skema Standard MTA (Material Transfer Agreement) : khususnya benefit sharing & tracking system –Memperkuat regulasi nasional : Permenkes No. 657 dan 658 Th 2009 –Restrukturisasi Puslitbang sesuai “rumpun ilmu kes” –Menjadikan peneliti kes sbg profesi bermartabat –Menata jalinan kerjasama dgn instansi lain sbg stake holder terkait

14 Kesadaran Tannas-Kesmas Endus modalitas sindrom ketergantungan (ekonomi)Endus modalitas sindrom ketergantungan (ekonomi) –Riset sbg pintu masuk utk hindari “program” –Tier pricing uji coba tp begitu sdh jadi PROGRAM  dilepas tiba2 tp saat yg sama industri kes kita blm berdaya (ingat : JUTAAN DOSIS) Pelestari sindroma ketergantungan (sosial)Pelestari sindroma ketergantungan (sosial) –Best practice ilmuwan  “menyihir” ilmuwan kes sbg anggota pok ilmiah dunia –iming2 PENEMU PERTAMA YG MENDUNIA (dlm jurnal ilmiah internasional bergengsi) – tapi lupa potensi HAKI jasad renik krn tak sadar bahwa itu memerlukan “infra-struktur” ASET SENSITIF dan TRADISI ILMIAH- EGALITER-EMANSIPATIF

15 Model Rumpun Ilmu MDG’s kpn tercapai ? Kespro : bumil kok masih jarang ke fasyankes ? Puskesmas : sar Kes mas vs yankes dasar (kesmas vs kedokteran) Vaksinasi massal vs vaksinasi swasta  siapa yg untung ? SPM  sanksi bagi aparat yg tdk perform

16 Penentu Diagnosis Biomedik & Teknol Dasar PRODUK PERATURAN “Public Health Medicine” Translational Research Humaniora & Advokasi Kesehatan Kesmas Intervensif PH LAW Klinik Terapan & Epidemiologi Potensi Senjata Biologi Nilai Devisa Negara Gelisahkan masyarakat/PHEIC PANDEMIK Clinical specimen Environmental/ Animal specimen Bahan manusia Risk assesment Risk response BSL 3 PCR RT + primers DNA sequencing LN KEBIJAKAN LITBANGKES BASIS PINERE  RESTRUKTURISASI # RUMPUN ILMU Manusia TANNAS Diplomasi Lokomotif/Mandiri >< Sindr Dependensi Lingkungan Kebijakan KKP/BTKL/RS Eijkman TANGGUNGJAWAB PENELITI APKESI SBG ASOSIASI PROFESI

17 sandi iljanto © 2006 Disability Adjusted Life Expectancy, Sehat, Mati Dini Sebab Tidak Langsung Sebab Mendasar Sebab Langsung Upaya Kesehatan Kpstas Inst., Kemitraan Advokasi, Mob. Sb. Daya, Bimb. Teknis Unit Sosial StrategiDomain Kesehatan Kesehatan + Sektor Lain Sektor Lain Faktor Penentu Sebab Individu Keluarga Masyarakat Sakit Gizi Jender Pendidikan, Penghasilan, SDA, Ecosyst. DALE, Sehat, Mati Dini

18 Algoritme Pengentasan Masalah Bangsa : 4  3  2  1 Sebab mendasar  kemiskinan, kebodohan, budaya buruk/biadab  puslit 4 = merupakan kepentingan nas (value-laden) : EMANSIPATORIK Sebab tdk langs  puslit 3 = kepent Depkes : TEKNIS PUBLIK Sebab langs  kepent profesi yankes = puslit 2  TEKNIS PERORANGAN Akar penyebab ilmu dasar  kepent ilmuwan/peneliti = puslit 1 ; TEORITIS RASIONAL

19 promotif Preventif primer Preventif sekunder Kuratif (akut) Kuratif (kronik ) rehab Kematian (COD) otopsi -Prevalensi ↓ -insiden↓ perilaku lingkungangenetik Yankes/ Yanmed primer sekundertersier RISKESDAS - RIKOM RISKESDAS - RIFAS RIFAS RIKOM RIKUS -Potensi untuk vaksin thd Pandemik/KLB -Obat/alkes/ Alat diagnostik -Kecukupan sediaan -Pemerataan (akses) -Murah (affordable) -mutu Puslit IV Humaniora/ pemberdaya an masy ↓/(-)risk Deteksi dini Spesific Protect ion (alat ) Puslit lll Kesmas intervensif Puslit l Biomedik & tekhnologi kesehatan Puslit ll Kesehatan klinik/ Epid.klinik Puslit l/ll Biomedik & Teknologi dasar paliatif Puslit l-lVPuslit IV s/d I kompromais Cutting/intervensi/ non cutting POLA”TIMELINE” PRA ROAD MAP Sarana penelitian Faktor-faktor Fungsi KESMAS modalitas Unit pelaksana koordinasi Sebab Mendasar Sebab Tidak LangsungSebab Langsung Sebab Mendasar Kegalau an ilmuwan Plan yg menjembatani J. Pendek J. Panjang potential technological solution yg sudah siap Sosial outcome driven Kliping koran sbg indikator

20 Model Saintifikasi Jamu Kritik thd EBM level 5 sbg “kebenaran tunggal tertinggi” yg penuh kepentingan (mereka yg membuatnya)  sesungguhnya adalah opresif thd struktur kelitbangan RI Paradigma “reduksionistik” (khasiat bahan obat) yg ada di fitofarmaka hrs dilepaskan utk konteks jamu di tangan nakes (sbg CAM) demi jaminan kepentingan nas kita

21 PARADIGMA SAAT INI EBM LEVEL 5 : DB, RCT, MA RI PUNYA INFRATRUKTUR ?? SDH BRP FITOFARMAKA RI YG “LARIS” JD DEVISA?

22 PARADIGMA SEHARUSNYA OPINION EXPERT TAPI KALAU RIBUAN EXPERT ? KONTEKS DUET : DR PENELITI + YAN RI MEMBANGUN INFRA-STRUKTUR LIT + CIPTAKAN MARKET

23 Turun temurun = peer review Dokter herbal PENELITI P:ALIATIF HOME CARE KONVENSIONAL DR YAN JAMU MAMPU MEMILAH ALUR  ETIS : MERUJUK Patient’s preference Contextual features

24 FitofarmakaHerbal Terstandar Jamu GP FarmasiGP JamuGP CAM BPO M LITBANG DU- LIT/YAN Faskes TP; Rumah Sehat/ Balai Faskes TP; Rumah Sehat/ Balai Apoteker KonsentratKonsentrat SP3T Kerangka Penelitian /Sertifikasi Penelitian OTC – Encer Tim Dokter - Pekat Kode Etik Farmasi PROMOTIF PREVENTIF DULU TAPI TDK MENUTUP TELTI KHASIAT UTK KELAK “KLAIM” FARMAKOLOGIK

25 Produsen Jamu Riset Dokter Rumah Sakit Mitra Non Dokter/ SP3T Non Dokter/ SP3T Praktisi Holistik Standar Rumah Sakit Sistem Litbang Obat Herbal Berbasis Pelayanan Komite Ilmiah Komite etik

26 STR+SBR TPKA, ps 16 SIP+ST TPKA, ps 22 ay1 PETA PERIJINAN UUPK/Pmks 512,725, Konsep Ijin Ganda krn “blm diakui metodenya” Dalam Faskes Konvensional : INTEGRASI SINERGI Dinkes Prop a/n Menkes Ps 17 PKKAI Ijazah Sumpah Sertifikat Kompetensi Rekomen- dasi IDI Sehat Kompeten PDSp PDSm EtisAnggota FK-FKG Kolegium +/- Kol CAM KKI DINKES KAB/IKOTA tataran individu Nakes multi-metodologi, ps 1 ay 7 KEWENANGAN TOLAK Ps 24 UJI KOMP MTK P/KAB Berlaku 5 thn (ps 20) TPKA ASING : 1 th (ps 33 ay 6 KTP (-) KAJIAN INSTITUSI, ps 5(1) RS ps 9 KLINIK, ps 8 Ps 16 ay 6 KAPUSRENGUN CATATAN REGISTRASI NAS Poltekes Akademi Nakes WNA/LULUSAN LN, ps 19 Berlaku 1 th (ps. 25) KUOTA MAX : 3 TP

27 Model dinamisasi riskesdas Riskesdas : kesamaan metodologis spy sahih dgn data nasional Data kab/kota juga dikumpulkan, namun pembiayaan ke depan selayaknya ada cost sharing dg Pemda, kecuali : dinyatakan sentralistik Perbandingan antar kab/kota & propinsi  IPKM  peringkat utk model ukur kinerja obyektif pencapaian program kes msg2 Advokasi bagi perencanaan (dinamisasi data)

28 Professional Dignity Patients’ Safety Medical Goals Ethico-legal System Agus Purwadianto, 2005 MEDICAL INDICATION CONTEXTUALITY BALLANCING CONFLICT OF INTEREST Health Personnel Health Facilities Health system Health Personnel Health Facilities Health system Law as social engineering Law as social engineering Value of Health (Micro) Liability Accountability Discipline Responsibility Ethics SOCIAL CONTRACT Patient/Client Family Community PROFESSIONALISM BEST INTEREST, PREFERENCES, QUALITY OF LIFE PUBLIC TRUST

29 Balitbangkes ke depan Penapisan teknologi  andil > 75% utk perumusan etika dan metodologi dan kemaslahatan penggunaannya Demonstration project utk terapi n imunisasi massal  policy option Penelitian khasiat obat  lebih independen dan bervariatif Duet lit yan “canggih” : sel punca Lit rasional cepat saji  PH Law

30 Kerjasama Pemda Puslit 4 : maturitas birokrat daerah  < 45 tahun utk pindah jalur ke peneliti (jabfung, bisa pensiun sd 65 thn) Dana dekonsentrasi ??? Atau KONTRAK Balitbangkes – UPT/litbangda utk fungsi keteknisan litbangkes : ekspertis kontinuum riset, kemurnian metodologis, Nat Focal Point, kerjasama internas, Fokus Target nas : MDG’s dll Keperluan khusus Pemda utk perencanaan

31 KESIMPULAN Jejaring peneliti sbg profesi merupakan keniscayaan bagi ketahanan nasional dan kecerdasan bangsa yg beradab dan pemimpin di era global Penelitian kes tdk hanya berbasis IPA yg sempit, ttp penuh dgn kepentingan bagi pengentasan masalah kes 4 buah Modus jejaring peneliti merupakan model utk daya ungkit terbesar gerak penelitian sebagai lokomotif program kesehatan


Download ppt "JEJARING PROFESI PENELITIAN KESEHATAN : KEBIJAKAN BALITBANGKES RI Agus Purwadianto Pertemuan Nasional Dinkes se RI, Batam, 21 Desember 2009."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google