Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

2003-03-09Dr. Fahmi Amhar Proses Kehancuran Khilafah Peluang Dunia yang Hilang dan Upaya Rekonstruksi Dr. Fahmi Amhar Alumnus Vienna University of Technology,

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "2003-03-09Dr. Fahmi Amhar Proses Kehancuran Khilafah Peluang Dunia yang Hilang dan Upaya Rekonstruksi Dr. Fahmi Amhar Alumnus Vienna University of Technology,"— Transcript presentasi:

1 Dr. Fahmi Amhar Proses Kehancuran Khilafah Peluang Dunia yang Hilang dan Upaya Rekonstruksi Dr. Fahmi Amhar Alumnus Vienna University of Technology, Aktivis Hizbut Tahrir

2 Dr. Fahmi Amhar 1.Sebuah Pukulan Final Tanggal 3 Maret 1924 Majelis Nasional Turki telah menyetujui penghapusan Khilafah, sebuah struktur dan sistem agung yang didirikan Rasulullah dan ditandai dengan perisitwa hijrah. Kaum muslimin mulai terdesak di “pertarungan peradaban” sejak abad 18 Masehi. Revolusi Industri di Eropa memberikan dampak yang luar biasa terhadap keseimbangan kekuatan di dunia. Negara Khilafah mulai merasakan tekanan dari dalam dan dari luar. Di dalam, ketidakpuasan terhadap situasi berkembang (atau dieksploitir oleh agen-agen Barat) menjadi isu-isu rasial dan fanatisme mazhab yang berujung pada separatisme/disintegrasi. Dari luar negeri terdapat tekanan untuk “mereformasi” Daulah Utsmaniyah dengan sistem hukum yang “kompatibel” dengan sistem hukum Eropa..

3 Dr. Fahmi Amhar Keterlibatan Daulah Utsmaniyah dalam Perang Dunia I di pihak Jerman, yang kekalahannya berakibat wilayah-wilayahnya di Balkan, Afrika, Asia Tengah dan Timur Tengah diduduki Sekutu. Tekanan “reformasi” itu makin menjadi. Tokoh-tokoh sekuler tampil sebagai “pahlawan” untuk “melepas Turki dari krisis” – krisis yang dikatakan terjadi karena sistem Khilafah. Karena itulah, Khilafah lalu dihapuskan. Tanggal 3 Maret 1924 adalah awal kegelapan umat manusia. Sejak hari itu kaum muslimin tidak lagi memiliki sarana yang bisa mewujudkan missi dihadirkannya mereka ke tengah manusia, yaitu menjadi pemakmur di muka bumi (QS 35:39), menyuruh yang makruf, mencegah yang munkar (QS 2:110), membebaskan kaum tertindas (QS 4:75) dan menjadi rahmat seluruh alam (QS 21:107)..

4 Dr. Fahmi Amhar Negara Khilafah Universal bubar - negara-negara nasional bertebar

5 Dr. Fahmi Amhar 2. Refleksi Ummat Tanpa Khilafah Derita kaum muslimin dewasa ini tak pernah terjadi selama 13 abad sebelumnya. Meskipun pernah ditimpa perang saudara, diserbu tentara Salib, dan dibantai oleh bangsa Tartar, namun mereka waktu itu tak sampai kehilangan kemuliaannya, kesatuannya, dan spiritnya, sehingga dalam tempo singkat mampu bangkit kembali, bahkan menaklukkan musuhnya itu. Namun kini, di pentas nasional maupun internasional, kaum muslimin benar-benar tidak punya daya dan arti. Mereka termarginalisasi, miskin, bodoh, sakit-sakitan, terbelakang, atau ditindas kekuasaan yang meski muslim, namun korup dan zalim. Masihkah kaum muslimin itu khoiru ummat, di saat mereka sama sekali tidak memiliki sesuatupun yang bisa diandalkan, baik dari segi politik, ekonomi, budaya, teknologi, hankam maupun ahlaq? Apakah dengan kondisi semacam ini dakwah mereka masih didengar orang Barat di negara-negara Barat?

6 Dr. Fahmi Amhar 3. Proses Mundurnya Ummat Islam Penghapusan sistem Khilafah pada 3 Maret 1924 berjalan amat mudah, meski di dunia ada ratusan juta muslim. Ini terjadi karena kaum muslimin sudah lama berada dalam taraf pemikiran yang rendah, sehingga mereka tidak peduli lagi pada masalah-masalah utama mereka yaitu masalah-masalah antara hidup dan mati, misalnya penerapan hukum riddah, kesatuan negara, dan penerapan Islam dalam negara (Zallum, 2001). Bagaimana ini semua bisa terjadi, pada sebuah ummat yang besar, pada sistem yang sempurna?.

7 Dr. Fahmi Amhar 3. Proses Mundurnya Ummat Islam 3.1 Kontaminasi Pemikiran Kontimasi ini terjadi sejak dini (abad 2H), saat derap perluasan wilayah Islam serta membesarnya jumlah kaum muslimin kurang terimbangi dengan kuantitas maupun kualitas dakwah. Bangsa-bangsa yang semula hidup dalam mitos, filsafat atau mistik Yunani, Mesir, Persia atau India, tak segera membuang fikrah usang itu, namun mencoba "mengawinkannya dengan Islam" atau "mengislamkan mitos" dan "memitoskan Islam"..

8 Dr. Fahmi Amhar 3. Proses Mundurnya Ummat Islam 3.2 Pengabaian Bahasa Arab Hingga berakhirnya masa Khilafah Abbasiyah, islamisasi selalu bersamaan dengan "arabisasi". Bahasa Arab klasik sebagai bahasa Qur'an, menjadi bahasa internasional, bahasa silaturahmi ummat Islam, dan bahasa ilmu pengetahuan. Pada masa Khilafah Utsmaniyah, tradisi itu ditinggalkan, konon agar Islam lebih mudah "diserap" tanpa barier bahasa Arab. Akibatnya di negeri-negeri yang belum berbahasa Arab, bahasa Arab menjadi "hak istimewa" selapis kecil elit terpelajar saja, sedang bagi ummat, khazanah ilmu dalam bahasa Arab, menjadi tertutup. Kitab-kitab Arab menjadi “kitab rahasia” yang sakral dan kalimat-kalimat Arab menjadi mantra-mantra sakti.

9 Dr. Fahmi Amhar 3. Proses Mundurnya Ummat Islam 3.3 Surutnya Ijtihad Akibatnya, ketika bahasa Arab terabaikan, ijtihad tidak bisa lagi dikerjakan dengan cukup, padahal ummat Islam hanya bisa terus menerus menghadapi zaman, bila mereka terus berijtihad. Sedangkan ijtihad hanya bisa dikerjakan dalam bahasa Arab klasik, agar seorang mujtahid bisa benar-benar memahami sumber-sumber syar'i. Ketika sebagian orang nekad berijtihad tanpa bekal ini, timbullah "fatwa-fatwa menyimpang", sehingga beberapa penguasa pada zaman itu merasa perlu "menutup pintu ijtihad". Surutnya ijtihad juga membuat sains dan teknologi mengalami kemandegan, sehingga mereka kemudian dikejutkan oleh revolusi industri.

10 Dr. Fahmi Amhar 3. Proses Mundurnya Ummat Islam 3.4 Kendurnya Jihad Awalnya ummat sadar bahwa hidup mereka untuk Islam serta dakwahnya, agar tak ada lagi fitnah di muka bumi (QS 2:193). Karena dakwah dan jihad perlu persiapan matang, maka kaum muslimin mempersiapkan tubuhnya, keluarganya, keadilan negaranya, ekonominya, ipteknya dan ibadahnya. Ini menjaga agar mereka selalu terbaik di muka bumi, agar ummat lain yakin, bahwa Islam memang akan membawa mereka maju, adil, makmur dan diridhoi Allah. Namun, bersamaan dengan kekaburan fikrah, orientasi mulai bergeser. Sebagian ummat lebih "meresapi kehidupan religi" yang disalahtafsirkan sebagai "Jihad Qubra", seperti dalam ribuan sekte-sekte "sufi" yang uzlah. Sebagian lain lebih cenderung "menikmati rejeki Allah" dengan hidup lux. Jihad mulai kendur. Dan dakwah mulai dikerjakan "sambil lalu".

11 Dr. Fahmi Amhar 3. Proses Mundurnya Ummat Islam 3.5 Redupnya Daulah Khilafah Ketika kualitas ummat semakin turun, semakin kendor pula kontrol atas kekuasaan ("Pemimpinmu itu sebagaimana kamu"). Daulah Khilafah mulai terbatas sekedar sebagai simbol yang didoakan di khutbah Jum’at atau ditulis namanya di mata uang. Mulai tampil sultan-sultan, yang meskipun memerintah dengan Islam, namun tak lagi menyemangatkan "Jama'atul Islamiyah“. Potensi ummat Islam tak lagi bersinergi. "Take care" atas penderitaan ummat di wilayah lain tinggal sebatas pada doa dan sedekah yang tidak seberapa. Khilafah tidak lagi kuat untuk menjalankan fungsi komando maupun koordinasinya, di samping bahasa Arab sebagai bahasa pemersatu sudah kurang dipelihara.

12 Dr. Fahmi Amhar 3. Proses Mundurnya Ummat Islam 3.6 Lepasnya Bumi Islam Ketika Khilafah melemah, dan fikrah kabur, maka relatif mudah bagi Barat untuk dengan menggunakan politik belah bambu (devide et impera). Antar sultan muslim direkayasa, dihasut dan diadu domba. Barat membantu ke satu pihak, dengan imbalan wilayah. Para penguasa muslim tak lagi sadar, bahwa haram hukumnya minta perlindungan pada orang-orang kafir, dan perselisihan antar kaum muslimin harus dicarikan penengah yakni khalifah. Namun apa daya bila Khilafah sendiri mulai lemah?

13 Dr. Fahmi Amhar 3. Proses Mundurnya Ummat Islam 3.7 Studi Islam Makin Terdisintegrasi Awalnya, setiap muslim mempelajari Islam secara menyeluruh. Fiqh dipelajari praktis, sesuai masalahnya, untuk dijalankan oleh individu, keluarga, kelompok atau negara. Masalah yang dibahasnya selalu relevan dengan realita. Ketika syari'ah bukan lagi pegangan hukum positif, dan para ahlinya diturunkan menjadi sekedar penceramah atau missionaris yang membosankan, maka studi Islam mulai dianggap "melangit" dan tidak "membumi". Maka pemuda-pemuda yang cerdas dari ummat Islam akan “lari” pada studi yang lebih praktis seperti teknik, kedokteran, ekonomi atau ilmu hukum, meskipun tidak digali dari Islam. Studi Islam tinggal ditekuni mereka yang “second class”. Akibatnya, spiral kemunduran makin menjadi.

14 Dr. Fahmi Amhar 3. Proses Mundurnya Ummat Islam 3.8 Ajaran Islam Makin Terdistorsi Maka bukannya meluruskan masyarakat namun justru "Islam disesuaikan dengan masyarakat". Karena tidak tahu lagi metode implementasinya, maka Islam ditafsirkan ulang agar cocok dengan "semangat zaman". Timbullah prinsip "Hukum itu menurut tempat dan waktu", atau "Tradisi itu boleh menjadi sumber hukum", atau "Hukum boleh dihapus demi kemaslahatan", dsb. Bahkan tidak jarang, mimpi, gaya hidup maupun pengalaman pribadi dijadikan hujjah. Syi'ar Islam bisa "ditinggikan" atau "disempurnakan" dengan slogan-slogan nasionalisme, demokrasi, hak asasi manusia, dsb. Mereka berpikir, dengan itu, Islam bisa ditampilkan dengan wajah yang lebih "ramah" atau lebih "sejuk". Ummat sering sudah puas, bahwa kini mereka tidak lagi diperhamba oleh penjajah kafir, namun oleh "penjajah muslim".

15 Dr. Fahmi Amhar 3. Proses Mundurnya Ummat Islam 3.9 Umat Islam Makin Termarginalisasi Serangan telak terakhir: menyudutkan islam dan memarginalisasi ummatnya, untuk minimal membuat Islam dan ummatnya tak lagi berbahaya bagi kepentingan mereka. Maka ummat Islam dewasa ini umumnya sudah kelimpungan, ketika dikonfrontasikan dengan ajaran Islam sendiri (tentang hukum hudud, waris, poligami, jihad …). Kesulitan terjadi, karena ummat memisahkan antara fikrah dan thariqah, karena semua hukum yang dihujjat tadi, memang tak bisa jalan sendiri-sendiri, melainkan hanya dalam satu sistem. Sementara itu para tokoh sibuk mencari justifikasi atas perilakunya, sehingga banyak rakyat jelata yang bingung akhirnya melepas kepercayaannya pada ulama. Yang tersisa ghirahnya mencoba belajar Islam langsung dari sumbernya tanpa bekal. Akhirnya mereka terjerumus ke berbagai sudut extrem dari yang literal sampai yang liberal.

16 Dr. Fahmi Amhar 4. Ummat Islam Kini Hanya sensitif bila sisa-sisa rasa agamanya diganggu. Menunggu (re-aktif), tidak berani memulai (pro-aktif). Di masyarakat di mana muslim mayoritas, hanya sensitif bila ada serangan atas komunitas muslim, namun "cuek" bila hukum-hukum kafir diberlakukan di atasnya. Marah pada yang berbeda madzhab (harakah), namun tenang saja, ketika bermuamalah dengan riba, atau mendidikkan anaknya dengan kurikulum sekuler. Ummat Islam jadi tersudut di pojok defensif. Jarang yang inisiatif untuk menelanjangi berbagai ideologi kufur yang didasarkan pada mitos, entah mitos demokrasi, mitos pertumbuhan, maupun mitos HAM. Tidak ada lagi dakwah offensif sebagaimana yang dilakukan Rasulullah dan para salafus shalih.

17 Dr. Fahmi Amhar 5. Kekufuran ingin menghabisi Islam Islam adalah lawan abadi kekufuran. Musuhnya adalah kekuatan yang mendukung implementasi, mempertahankan atau mempromosikan sistem kufur. Kalau kekufuran ibarat kemiskinan, Islam tidak memerangi orang-orang miskin an sich, namun orang-orang yang membuat kemiskinan terus terjadi, yaitu para tiran, orang-orang yang terus berbuat kerusakan (fasiq) dan orang-orang yang berlaku tidak adil (dhalim). Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (Qs. 2:193) Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah untuk (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita maupun anak-anak yang berdo'a: "Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dan penolong dari sisi Engkau". (Qs. 4:75)

18 Dr. Fahmi Amhar 6. Khilafah Peluang Dunia Kebobrokan sistem kapitalisme telah nyata, baik berupa kerusakan lingkungan, pemiskinan di dunia ketiga maupun disorientasi kehidupan pada masyarakat Barat sendiri. Orang jelata di Barat pun akhirnya merasakan sesuatu yang tidak benar pada sistem yang diterapkan atas mereka. Tidak ada lagi di dunia ini yang bisa membendung laju kapitalisme sampai akhirnya, di dunia Islam muncul gerakan- gerakan Islam yang melawan kekufuran kapitalisme itu, baik karena dorongan aqidah, maupun karena kesumpekan hidup akibat praktek kapitalisme di negeri-negeri Islam. Karena itu, yang dicemaskan para kapitalis Barat, tak lain adalah geliat gerakan-gerakan Islam. Meski puluhan tahun sudah khilafah bubar dan kapitalisme diterapkan, selama ummat ini ada, dan selama akses kepada Islam masih dibuka, selama itu pula muncul pejuang yang bangkit melawan kekufuran.

19 Dr. Fahmi Amhar Krisis Disorientasi Kehidupan di Barat Aids Sekte Suicide Narkoba Disfamily Dehumanisasi

20 Dr. Fahmi Amhar 7. Upaya Rekonstruksi Khilafah Sesuai sunnah Rasulullah, rekonstruksi ini sangat mirip dengan upaya konstruksinya yang pertama, dimulai dengan dakwah, tatsqif individu, yang kelak juga menjadi pengemban dakwah, maupun perang pemikiran untuk mengislamkan opini umum. Islam akan bisa diimplementasi kembali bila opini Islam telah mendominasi, dan ada kekuatan politik riel yang melindunginya, baik terhadap gangguan dari dalam maupun dari luar. Tugas ini tidak ringan, tapi ini adalah soal hidup dan mati. Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan pada diri mereka sendiri. (Qs. 13:11) Kesadaran ini adalah bagian dari hal-hal yang harus kita rubah sendiri, sebelum Allah menjalankan skenario-Nya. Dan merekapun merencanakan (skenario) makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan (skenario) makar (pula), sedang mereka tak menyadari. (Qs. 27:50)

21 Dr. Fahmi Amhar 7. Upaya Rekonstruksi Khilafah Melihat konstelasi dunia saat ini, sulit membayangkan kaum muslimin bisa bangkit, apalagi kemudian lalu mengungguli kaum kafirin, namun di sejarah dunia semacam itu sering terjadi. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya syuhada.… (Qs. 3:140) Khilafah yang ingin kita rekonstruksi adalah negara dengan sistem seperti di masa Rasulullah atau Khulafaur Rasyidin, namun dengan teknologi dan sistem administrasi ala abad-21. Negara ini bukanlah negara theokrasi, bukan pula negara bangsa, mazhab atau jama’ah (sekte) tertentu, bahkan tak cuma untuk kaum muslimin saja. Dia juga bukan negara para malaikat yang tidak pernah berdosa, tapi adalah negara manusia yang bisa saja berdosa dan menghadapi masalah – sebagai ujian dari Rabb-nya, namun masalah-masalah itu akan teratasi dengan pedoman yang benar, yaitu Islam.

22 Dr. Fahmi Amhar 7. Upaya Rekonstruksi Khilafah Khilafah semacam itu tentu harus dipersiapkan dengan matang. Harus cukup orang yang siap membelanya begitu ia diserukan dan menghadapi ancaman dari musuh-musuhnya, sebagaimana Rasul diancam dengan perang Badar, Uhud, Ahzab dsb. Begitu khilafah diserukan oleh para pemegang kekuatan yang setuju dengan ide ini, maka mulailah suatu era baru di wilayah yang dikuasainya. Seluruh aturan akan diganti dengan aturan Islam, terutama aturanpemerintahan, ekonomi, pendidikan, sosial, peradilan, pertahanan dan hubungan luar negeri. Seluruh perjanjian dengan negara lain akan ditinjau ulang. Rakyat yang teropini dengan Islam akan bersemangat mendukungnya baik dengan hartanya maupun jiwanya. Muslimin yang berada di negara maju dan juga menerima ide khilafah akan menyumbangkan keahlian yang mereka amalkan selama ini di negara maju.

23 Dr. Fahmi Amhar 7. Upaya Rekonstruksi Khilafah Negara ini akan memulai eksistensinya dari suatu wilayah merdeka, yang kemudian mengajak negeri-negeri muslim lainnya untuk bergabung, sebagaimana RI dulu mengajak propinsi-propinsi ke dalam Republik, atau Eropa membentuk Uni Eropa. Maka negara khilafah bukanlah utopia. Dia adalah keniscayaan yang telah dinubuwatkan Rasulullah. Rasul meramalkan bahwa Konstantinopel dan Roma akan dibuka oleh kaum muslimin, dan sebaik-baik pasukan adalah mereka yang memasuki kota itu, dan sebaik-baik panglima adalah pemimpinnya. Kaum muslimin tidak sedikitpun meragukan nubuwat nabi ini, mereka berjuang agar kemulian jatuh pada mereka, sekalipun sejarah membuktikan bahwa Konstantinopel futuh tahun Roma entah kapan. Atau itu memang untuk generasi kita? Akankah kita berberkontribusi dalam proses ini, sehingga kita meraih kemuliaan, atau punya alibi di hadapan Allah, bahwa kita telah berbuat sesuatu untuk ummat ini? ataukah kita justru perintang proses ini, dari kebodohan kita? Nauzubillahi min dzalik.


Download ppt "2003-03-09Dr. Fahmi Amhar Proses Kehancuran Khilafah Peluang Dunia yang Hilang dan Upaya Rekonstruksi Dr. Fahmi Amhar Alumnus Vienna University of Technology,"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google