Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Nurhayati Lingkungan Tropis, vol.5, no.1, Maret 2011: 45-52 Akhmad Rofik Hidayat ( 41613120071 )

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Nurhayati Lingkungan Tropis, vol.5, no.1, Maret 2011: 45-52 Akhmad Rofik Hidayat ( 41613120071 )"— Transcript presentasi:

1 Nurhayati Lingkungan Tropis, vol.5, no.1, Maret 2011: Akhmad Rofik Hidayat ( )

2 ABSTRAK Pola arus di suatu perairan penting untuk difahami karena berpengaruh pada transport material,penyebaran pollutant, reaksi kimia, kestabilan kolom air dan migrasi organisme perairan. Struktur arus ini juga bermanfaat untuk menentukan orientasi konsentrasi daerah biota perairan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan menganalisis struktur pola kecepatan dan arah arus dari permukaan hingga kedalaman 500 m berdasarkan hasil rekaman data ADCP. Penelitian arus telah dilakukan di perairan Selat Benggala, Banda Aceh, pada bulan Agustus 2005 dengan menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya VIII. Arus laut diukur menggunakan alat sensor ADCP (Acoustic Doppler Current Profiler), yang dapat mengukur arus dengan sistem track antar stasiun sampai kedalaman 500 m. Data rekaman arus ADCP telah dianalisa dan hasil menunjukkan bahwa ada suatu aliran utama arus ke arah barat daya dan aliran yang searah dengan jarum jam meninggalkan selat ke arah lepas pantai atau ke arah Samudera Hindia. Kecepatan arus di Selat Benggala relatif kuat dengan kecepatan arus seaat mencapai lebih dari 1.5 m/detik dan arah arus menuju ke arah barat daya. Arus ADCP juga menunjukkan adanya suatu arus tetap yang menuju ke arah barat daya. Arus ini cenderung mengikuti pola pasang surut dan merupakan suatu indikasi dari pengaruh lokal di bagian barat Selat Benggala.

3 PENDAHULUAN Perairan Selat Benggala, Banda Aceh adalah perairanyang terletak di bagian utara Pulau Sumatera dan daerah studi penelitian oseanografi berada pada koordinat antara 4° - 6° Lintang Utara, serta 96° - 98° Bujur Timur. Di bagian barat dan utara perairan ini berhubungan dengan Samudra Hindia, sedangkan di perairan bagian timur berhubungan dengan Laut China Selatan. Kedalaman perairan dalam area penelitian cukup dalam dengan kedalaman sekitar 500 m. Di sekitar perairan selat Benggala ini produktivitas biologi cukup besar dan aktivitas perikanannya juga sangat intens. Oleh karenanya struktur dan sirkulasi arus di perairan ini penting untuk difahami. untuk difahami. Hal ini karena dapat meningkatkan pemahaman kita mengenai bagaimana memelihara produktivitas perairan dan mengatur aktivitas perijinan untuk penangkapan. Belakangan ini penelitian yang membahas mengenai kondisi lingkungan oseanografi di perairan Selat Benggala, Aceh, masih terbatas. Selain itu penelitian yang ada kebanyakan berhubungan dengan bidang biologi dan perikanan. Beberapa penelitian di perairan sekitar Selat Benggala ini telah dilakukan oleh beberapa peneliti, namun untuk bidang yang berkaitan dengan kondisi oseanografi perairan belum banyak dilakukan. Pengetahuan mengenai mekanisme pergerakan arus sangat penting dalam studi ekologi (Wolanski, 2001). Publikasi penelitian dalam bidang oseanografi di perairan ini masih terbatas (Nurhayati, 2005; Khozanah, 2005). Khusus di perairan selat Benggala sendiri, informasi medan arus di area ini hanya sedikit, sehingga perlu suatu peta yang jelas dari medan pergerakan arus di lokasi perairan tersebut. Oleh karenanya tujuan dari tulisan ini dimaksudkan untuk mengetahui dan menganalisis karakteristik kecenderungan struktur pola pergerakan arus di sekitar perairan Selat Benggala berdasarkan data rekaman arus yang diperoleh dari pengukuran ADCP.

4 BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian fisika oseanografi di perairan Selat Benggala, Banda Aceh dilakukan pada tanggal 26 hingga 14 Agustus 2005 dengan stasiun sampling maupun pengukuran parameter oseanografi sebanyak 20 stasiun. Lokasi penelitian dan alur transect stasiun oseanografi seperti terlihat dalam peta stasiun pengukuran (gambar 1 dan 2). gambar 1. Peta lokasi geografi penelitian di perairan Selat Benggala,Banda Aceh, Agustus gambar 2. Lokasi pengukuran arus dengan ADCP di perairan Selat Benggala,Banda Aceh, Agustus Penggambaran struktur pola sirkulasi arus dilakukan setelah proses „perata- rataan sel terhadap data pengukuran. Visualisasi data permukaan yang digunakan adalah data arus bin 2 ADCP, yaitu pada kedalaman permukaan hingga 500 m. Pada lapisan permukaan yang diambil adalah pada kedalaman 1 m dengan alasan bahwa pada kedalaman tersebut noise akibat gelombang permukaan lebih mudah diminimalisir. Proses selanjutnya penggambaran pola pergerakan arus dengan menggunakan program Surfer.

5 gambar 3. Struktur arus di perairan Selat Benggala, Banda Aceh, Agustus Gambar 3 juga menunjukkan arus rata-rata harian yang diperoleh dengan ADCP pada permukaan hingga kedalaman 400 m di sekitar Selat Benggala, Aceh Utara. Pada gambar tersebut terlihat bahwa kecepatan arus di perairan Selat Benggala pada bulan Agustus ini cukup kuat, yang mana kecepatan arus utama harian mencapai lebih dari 50 cm/det. Arus sesaat tercatat kecepatannya lebih dari 1.5 m/det, tetapi hanya berlangsung sebentar. Mendekati pantai, arus cenderung menurun atau lemah, sedang ke arah lepas pantai arus cenderung lebih kuat. Sementara arah arus di dekat pantai menunjukkan arah yang lintasannya sama seperti aliran sepanjang pantai dan searah dengan isobath lebih dangkal 50 m. Dilihat dari struktur penampang melintang arus dalam arah vertikal pada penelitian kali ini mengindikasikan adanya arus lepas pantai pada lapisan permukaan yang cenderung menuju ke arah barat daya. Terjadinya arus ini memperlihatkan kondisi suatu arah arus karena adanya dorongan massa air laut dari arah timur laut oleh suatu gaya angin.

6 Penelitian kali ini berlangsung pada bulan Agustus, yang mana di atas wilayah perairan Indonesia merupakan periode musim timur (Wyrtki, 1961). Berdasarkan pengaruh musim ini, maka arus yang terjadi akan cenderung mengalir menuju ke arah barat daya. Ini berarti bahwa aliran yang terjadi di Selat Benggala tersebut merupakan suatu indikasi dari arus akibat pengaruh musim timur. Pada sisi lain, arus di lapisan dalam yaitu di kedalaman lebih dari 200 m, kecepatan arus relatif lemah dengan kecepatan rata-rata kurang dari 20 m/det. Struktur aliran arus pada semua garis lintasan cenderung menunjukkan arah aliran yang memutar dari barat daya menuju ke arah utara – timur laut. Hal ini terjadi karena lokasi daerah penelitian selat Benggala terletak di Belahan Bumi Utara. Pada daerah ini, arus ataupun angin dalam pergerakannya akan berbelok ke arah kanan. Oleh karenanya arus yang semula cenderung mengalir menuju ke arah barat daya, pada tempat yang lain akan cenderung bergerak ke arah utara dan timur laut. Perairan selat umumnya dicirikan oleh aliran arus yang kuat dan struktur arus diperairan selat seperti halnya perairan laut lepas, kecepatan arusnya sangat dipengaruhi oleh bentuk geometri selat, musim, topografi perairan dan kondisi batas lainnya (Pond dan Pickard, 1983). Bahkan Unoki (1985) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa tiupan angin dapat membangkitkan pergerakan arus ke arah sepanjang pantai pada suatu periode musim tertentu. Pada sisi lain, kemiringan topografi juga dapat membangkitkan suatu gerakan arus (Nagoshima, 1982). Selanjutnya menurut peneliti (Guo dan Yanagi, 1996) dalam penelitiannya di perairan Jepang dan Wyrtki (1961) di perairan Indonesia menyatakan bahwa arah pergerakan arus dapat berubah sesuai dengan periode musim.

7 Secara umum sirkulasi arus di perairan selat sebagian besar tergantung pada kondisi lokal, walaupun proses fisika oseanografi sudah menjadi hal yang umum. Selat Benggala yang terletak di bagian utara, Aceh adalah merupakan perairan yang dicirikan sebagai perairan sambungan antara estuari lokal dan laut lepas yaitu Samudera Hindia. Hal ini menjadikan bentuk geometri perairan Selat Benggala terkesan unik dan kondisi geografis perairan dapat menyebabkan kondisi khusus sebagai berikut: perairan Selat Benggala dalam hal ini kondisi massa airnya teramati lebih tawar. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya sejumlah besar dari masukan air sungai yang masuk ke perairan ini, seperti: Khlok Nga dan sungai-sungai kecil lainnya. Di samping itu selat ini areanya cukup luas dan arus pasutnya juga sangat kuat. Struktur pergerakan arus di perairan Selat Benggala memperlihatka kondisi arus yang tidak stabil dan cenderung berubah-ubah dari lapisan permukaan hingga ke lapisan dekat dasar. Hal ini terjadi disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, arus di lapisan permukaan cenderung mengalir sesuai dengan kondisi musim yang sedang berlangsung. Karena bulan Agustus merupakan bagian dari musim timur, maka arus yang cenderung menuju ke arah barat daya merupakan suatu indikasi dari arus oleh pengaruh musim timur. Berikutnya pada lapisan dalam yaitu pada kedalaman di bawah 200 m, arus cenderung berubah-ubah arah. Akan tetapi arah arusnya dominan menuju ke arah barat menuju ke Samudera Hindia dengan kecepatan yang umumnya relatif lemah yaitu kurang dari 20 cm/det. Factor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi pergerakan arus seperti: sifat air itu sendiri, gravitasi bumi, keadaan dasar laut, distribusi pantai dan gerakan rotasi bumi

8 Struktur arus di perairan Selat Benggala menunjukkan adanya sistem pergerakan massa air yang pola pergerakan dan kecepatannya dari lapisan permukaan hingga ke lapisan dalam ( ≥ 200 m ) cenderung berubah-ubah. Hal ini mengindikasikan terjadinya variabilitas arus pada kolom air. Variabilitas pada lapisan permukan terutama disebabkan oleh pengaruh terjadinya interaksi antara udara – lautan seperti angin musim. Sementara di lapisan dalam, pola pergerakan massa air cenderung lebih stabil dengan kecepatan yang relatif lemah yaitu sekitar 20 cm/detik. Pergerakan arus dengan kecepatan demikian umumnya merupakan indikasi dari kecepatan arus oleh pengaruh pasang surut atau arus pasut. Selain itu, struktur arus di perairan Selat Benggala, Aceh, juga menunjukkan variabilitas yang relatif kecil. Perubahan arus yang dramatis terjadi pada lapisan atas antara permukaan hingga kedalaman 100 m. Struktur arus demikian dapat mempengaruhi produktivitas primer, kelimpahan biomassa, komunitas mikrofauna dan proses regenerasi organisme perairan. Kondisi arus ini juga secara langsung dapat mempengaruhi distribusi ikan dan pengelompokan makanan. Terjadinya pusaran arus juga dapat mempengaruhi konsentrasi pengumpulan ikan-ikan yang bernilai ekonomis penting, karena ikan-ikan tersebut umumnya berada pada daerah arus pusaran, sehingga pada daerah pertemuan arus seringkali dijumpai banyak ikan.

9 KESIMPULAN Arus di sekitar perairan Selat Benggala cukup kuat di lapisan permukaan dengan kecepatan arus utama mencapai lebih dari 1.5 m/det. Arah arus dominan menuju ke arah barat daya di lapisan permukaan, sedangkan pada kedalaman lebih dari 100 m arus dominan menuju ke arah barat laut hingga utara. Struktur arus yang teramati di perairan Selat Benggala, Aceh, mengindikasikan bahwa pola arus yang terjadi di daerah ini disebabkan oleh angin, pasang surut dan faktor lokal. Kecenderungan pola arah pergerakan arus mengindikasikan bahwa arus di di perairan sekitar Selat Benggala, Aceh, merupakan kombinasi dari arus oleh angin musim timur, pasut, dan arus katulistiwa selatan dan faktor lokal (arus longshore). Pola pergerakan arus di perairan Selat Benggala, Banda Aceh membentuk pola yang cenderung menuju ke arah selatan dalam musim timur dan arus mengalir dari arah Laut Natuna menuju ke arah barat daya, terus berbelok ke selatan, sebagian masuk ke perairan Samudera Hindia. Kondisi air yang mengalir ke sepanjang Selat Benggala menjadikan perairan ini mempunyai potensi alam yang berhubungan dengan arus lintas Indonesia. Sedangkan kecepatan arus yang cukup kuat di perairan Selat Benggala menjadi potensi sumber daya alam yang berpengaruh pada proses pertukaran massa air, migrasi biota perairan dan eksplorasi alam di lautan. Hal ini menjadi bahan yang menarik untuk penelitian di masa mendatang.

10


Download ppt "Nurhayati Lingkungan Tropis, vol.5, no.1, Maret 2011: 45-52 Akhmad Rofik Hidayat ( 41613120071 )"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google