Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

HIKMAT ( Pengenalan kepada Wisdom Literature) Pdt. Anwar Tjen PhD Bina Teologia GKI Kav. Polri.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "HIKMAT ( Pengenalan kepada Wisdom Literature) Pdt. Anwar Tjen PhD Bina Teologia GKI Kav. Polri."— Transcript presentasi:

1 HIKMAT ( Pengenalan kepada Wisdom Literature) Pdt. Anwar Tjen PhD Bina Teologia GKI Kav. Polri

2 Terminologi & pengertian dasar  Hikmat/kebijaksanaan (Ibr. Khokma)  Berhikmat: berilmu (Kej 41.8), ahli (Kel 36.2), tukang, pandai (Kel 35.35; 1Taw ), cekatan (Ams )  Memiliki hikmat: memampukan orang mengarungi hidup dengan aman, sehingga tahu, misalnya, kapan harus “berkepala dingin” dan “berdiam diri” (Ams )  Hikmat terkait dengan gagasan-gagasan kebajikan seperi kebenaran, kejujuran, pengendalian diri

3 Latar belakang  Salomo sebagai figur hikmat (Amsal, Pengkhotbah dan Kebijaksanaan Salomo; bnd. 1Raj )  Kebanyakan kitab hikmat berasal dari masa setelah pembuangan: Pkh (kr. abad III), Sirakh (awal abad II), Kebijaksanaan Salomo (paruhan kedua abad I)  Asal-usul hikmat sulit ditelusuri: orang- orang berilmu di istana raja (Yusuf - Kej ; Daniel ; bnd. Musa dan Harun berhadapan dengan pihak Firaun, Kel 7.11, 22)

4 Ciri hikmat  Gerhard von Rad (1972)  Hikmat bertolak dari pengalaman manusia dalam dunianya dan perenungan atas realitas  Hikmat tidak khas Israel (kekecualian barangkali Sirakh yang menyamakannya dengan Taurat, Sir 24.23)  Peristiwa-peristiwa “Sejarah Keselamatan” (Heilsgeschichte) tidak dibicarakan: janji kepada leluhur, peristiwa Keluaran, perjanjian Sinai; hikmat tetap merupakan ganjalan untuk pandangan yang integratif

5 Hikmat “religius” & “sekular”  Takut akan Allah (Ams 1.7) vs etiket di meja makan (23.1-3)?  “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan”: meliputi seluruh bidang kehidupan (9.10)  Mencari “tatanan, keteraturan”: hidup dalam tatanan ditopang oleh pemeliharaan ilahi, manusia mengikuti pola yang ditetapkan secara “mekanis”, misalnya “prinsip retribusi” (bnd. Ams , tanpa intervensi ilahi?)

6 Kontradiksi & misteri  “Keterbatasan” hikmat: tidak semua teratur seperti yang diamati dan dialami para bijak, misalnya, mengenai hidup yang berhasil dan baik  Pencarian hikmat dapat pula mengaburkan pandangan tentang realitas sebenarnya (Ams 3.5; 26.12)  “Jalan” Tuhan tetap tak terselami dan tertandingi (Ayb ; Ams , 9; 21.30; Pkh 8.17)

7 Amsal  Istilah mashal “menyerupai”, “sebanding dengan” (bnd ; 15.17)  Pengelompokan: ( a) amsal-amsal Salomo (1-9): (b) amsal-amsal Salomo ( ) (c) amsal-amsal orang bijak ( ) (d) amsal-amsal dari orang bijak ( ) (e) amsal-amsal Salomo yang dikumpulkan pegawai Hizkia (25-29) (f) perkataan Agur bin Yake (30) (g) perkataan Lemuel (31)

8 2  Tema penting: takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat (1.7; 9.10)  Kitab untuk menolong kaum muda mencapai keberhasilan dalam hidup, menghindari semua jerat dan jebakan  Pandangan optimis terhadap asas tindakan-ganjaran sesuai dengan tatanan semesta (mis. Ams ; 16.4, 18; bnd. Yeh 18; bnd. juga dengan pandangan Deuteronomistis, mis. Ul )

9 3  Beberapa contoh “peribahasa” populer: “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran” (17.17) “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangant yang patah mengeringkan tulang” (17.22) “Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran daripada penghasilan banyak tanpa keadilan” (16.8; bnd. 12.9; , 19; 17.1)

10 4  Mirip petunjuk-petunjuk Amenemope (kr. abad XI; khususnya Ams ): “[Harta benda] membuat sayap bagi dirinya seperti angsa dan terbang ke angkasa” (ps 8; bnd. Ams 23.5b)  Personifikasi hikmat (8-9): telah diciptakan sebelum yang lainnya ( )  Pujian tentang perempuan “perkasa” ( )

11 Ayub  Bingkai naratif: penderitaan Ayub sebagai cobaan Iblis (1-2; )  Interaksi Ayub dengan Elifas, Bildad, Zofar (3-37)  Suara ilahi ( )  Keluhan Ayub: sebuah protes? (3)  Tanggapan para sahabat: penderitaan merupakan akibat dosa (4.7; 8.5-7; ; 22), seperti pengalaman berbagai generasi (8.8; )

12 2  Dilema teologis: Bagaimana mungkin orang saleh dan takwa seperti Ayub justru menanggung derita?  Integritas ilahi dipertanyakan (Ayb ; bnd ; ): Ayub menantang Allah untuk “angkat suara” (23.3-5; )  Jawab Allah adalah pertanyaan balik ( ): antara kemahakuasaan ilahi dan keterbatasan manusiawi (40.1-3)  Pengakuan Ayub (42.1-6): krisis “hikmat”! “Aturan main” runtuh melalui penderitaan Ayub  Misteri: tata alam dan tindakan Allah tak terselami

13 Pengkhotbah (Qohelet)  Nada skeptis yang terkenal: “segala sesuatu sia-sia” (1.2): segala usaha manusia bagaikan menjaring angin (1.14)  Maut mengakhiri pencarian manusia dan menimbulkan pertanyaan yang menyakitkan akan makna: “ To read the Book of Ecclesiastes is to suffer the eclipse of human existence by the death question and to stand overshadowed by the search for meaning in the presence of futility. Most of all, to read the Book of Ecclesiastes is to search for the presence of God behind our suffering and death” (Milazzo)

14 2  Krisis hikmat versi Pengkhotbah: tidak ada perbedaan antara orang benar vs orang fasik (9.2), antara manusia vs binatang ( )  Kalau manusia sama saja dengan binatang yang tak bermoral, untuk apa terlalu saleh atau berhikmat (7.16)? Prinsip tindakan- ganjaran diruntuhkan!  Tuhan tidak bersuara sama sekali dalam kitab Pengkhotbah: pencarian makna di balik karya-Nya mengalami kebuntuan (3.10; 8.17; 11.5)

15 3  Kemalangan yang menyedihkan: datang dan pergi tanpa membawa apa-apa (5.14), hidup mengalami banyak kesusahan, kekesalan dan kegelapan (5.16; )  Nikmatilah hidup ini! Carpe diem? (2.24; 5.17; 8.15): segala sesuatu telah “ditentukan”, tak dapat ditambah atau dikurangi (3.14), semua ada masanya (3.1-9)  Allah yang jauh (5.2) membiarkan semua berjalan secara misterius; manusia tak berdaya menghadapi hari mujur atau malang (7.14)

16 4  Ah, orang berhikmat juga mati seperti orang bodoh! (2.16): hidup ini absurd  Pasif dan fatalis? Nasihat pengkhotbah: “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat” (12.13)

17 KEBIJAKSANAAN SALOMO  Karya Yudaisme Aleksandria: pencarian hikmat sepenuh hati; takut akan Allah dan hukum-Nya menuntun pada kekekalan versus kebinasaan akibat kebebalan I. Kebenaran dan keabadian (1-5): dikaiosu,nh ga.r avqa,nato,j evstin “kebenaran adalah keabadian” (1.15) II. Kebijaksanaan (6-9) III.Kebijaksanaan dan sejarah Israel (10-19)  “Kebenaran” (dikaiosyne) dalam arti hubungan benar dengan Allah dan sesama

18 Fasik & benar  Fasik: hidup hanya untuk menikmati hidup yang “kebetulan” ini (2.2-9), dengan perbuatan dan katanya telah “memanggil maut” (1.16), “yang menjadi milik setan mencari maut” (2.24); “bangsa yang lalim beratlah ajalnya (3.18)  Benar: hidup ini untuk mencapai keabadian, “siksaan tiada menima mereka” (3.1), “harapan mereka penuh kebakaan” (3.4; 5.15)  Orang benar ditindas orang fasik, tetapi mereka akan dibenarkan Allah kelak: “pada waktu pembalasan mereka akan bercahaya” (3.7; 5.16)

19 Asal, sifat & manfaat  Yang mencari, mendapati ( ), bahkan dicari: “permulaan kebijaksanaan ialah keinginan sejati akan didikan” (6.17)  “Salomo” dan gambaran bayi: manusia fana yang terbentuk di rahim dari air mani dan kenikmatan hubungan suami- istri (7.1-5)  Hikmat diperoleh dari permohonan doa (7.7): “lebih dikasihi daripada kesehatan dan keelokan rupa” (7.10); Allah, penuntun kebijaksanaan dan pemimpin para bijak (7.15)

20 2  Kebijaksanaan mencakup pengetahuan alam ( ): “susunan alam semesta dan daya anasirnya” (7.17)  21 sifat kebijaksanaan ( ), a.l.: arif, kudus, tunggal, majemuk, murah hati, murni, “pernafasan kekuatan Allah” (7.25), “pancaran murni” dari Allah” (7.25), “pantulan cahaya kekal, gambar kebaikan-Nya” (7.26), “mampu segala-galanya” (7.27)  Kebijaksanaan sebagai jodoh yang dicintai (8.2-16, 9): kebajikan, hasil jerih payahnya (8.7), mencakup pengalaman lalu dan nanti (8.8)

21 3  Permohonan akan kebijaksanaan ( ; bnd. 1Raj 3.3-9): “dianugerahkan” (8.21), dengan kebijaksanaan dibentuk manusia (9.2; bnd. Kej 1), perlu untuk manusia fana (9.5), membangun Bait Suci mengikuti tiruan sejak awal (9.8)  Kebijaksanaan dikirim dari surga (9.10): mengenal kehendak Tuhan lewat Roh Kudus (9.17), pikiran makhluk fana adalah hina (9.14), “jiwa dibebani badan yang fana” (9.15), manusia diselamatkan oleh kebijaksanaan (9.18)

22 Kebijaksanaan & sejarah  Kebijaksanaan menyelamatkan semua, mulai dari bapa semesta, manusia pertama hingga umat Israel (10-19)  Serangkaian kontras antara hukuman atas Mesir dan penyelamatan Israel ( ; , ; ; ; ; ; ): apa “yang menghukum musuh menjadi anugerah” (11.5), “seseorang dihukum dengan apa yang telah dipakainya untuk berdosa” (11.16)  Sungai menjadi darah sebagai hukuman pembantaian anak oleh orang Mesir; dahaga Israel dipuaskan dengan air yang melimpah- limpah (11.6-7)

23 2  Mesir menyembah binatang justru dihukum Tuhan dengan mengirim binatang ( ; bnd ): belas kasihan Tuhan nyata dengan menghukum mereka hanya dengan binatang kecil “supaya mereka bertobat” ( ); kebodohan agama berhala ( ) “walaupun berhadapan dengan pekerjaan-Nya, mereka tidak mengenal Senimannya” (13.1)  Israel diberi makan daging puyuh, Mesir kehilangan selera makan karena binatang- binatang yang menjijikkan (16.1-4)  Israel dipagut ular dan disembuhkan dengan menatap ular tembaga, Mesir ditewaskan dengan gigitan belalang dan lalat ( )

24 3  Mesir dihukum dengan hujan api yang membinasakan tanam-tanaman, Israel menerima roti dari surga ( )  Mesir yang memperbudak Israel ditawan kegelapan, Israel dianugerahi tiang api ( )  Mesir yang membantai anak lelaki Israel dihukum dengan kematian anak sulung ( )  Mesir binasa melalui Laut Merah, Israel justru selamat (19.1-9): Mesir menderita karena kejahatan mereka (19.13);  Pengembaraan Israel: “seluruh ciptaan dalam jenisnya dirubah sama sekali” agar Israel tidak celaka (19.6, 18; bnd. Bil 11 “api Tuhan”)

25 SIRAKH (Ecclesiasticus)  Satu-satunya kitab Deuterokanonika yang jelas identitas pengarangnya (“Yesus bin Sirakh”, 50.27)  Terjemahan teks Ibrani ke dalam bahasa Yunani dilakukan cucunya: “terjemahan dengan aslinya” (lihat pengantar)  Pikiran inti: “Hikmat tak lain daripada melakukan Taurat”

26 Takut akan Tuhan  Kebijaksanaan berasal dari Tuhan (1.1), pangkal dan puncaknya ialah takut akan Tuhan (1.18, 20): memberi sukacita dan umur panjang (1.12), bersedia untuk pencobaan seperti emas diuji dalam api (2.1, 5), taat kepada firman-Nya (2.15), mengenyangkan diri dengan Taurat-Nya (2.16), tidak khawatir apa pun sebab Tuhanlah pengharapan (34.14)

27 Persahabatan  Sahabat: perlindungan kokoh, harta yang tak ternilai, obat kehidupan ( )  Sahabat ideal: orang yang takut akan Tuhan (8.17), ada yang tak dapat dipercaya (8.9-13), hati-hati berteman (6.7; )  Sahabat lama jangan ditinggal, sahabat baru serupa anggur baru (9.10)  Orang yang perlu dijauhi: orang berdosa, fasik, yang berkuasa membunuh ( )  Gosip terhadap teman: klarifikasi langsung ( )  Persahabatan rusak karena caci maki, kecongkakan, rahasia yang tak terjaga (22.22)

28 Hormat & malu  Jangan gila hormat (7.4)  Yang perlu dihormati: “orang yang takut akan Tuhan” ( )  Orang miskin yang arif tak boleh dihina, orang berdosa tak patut dihormati (10.23)  Berbangga tetapi rendah hati (10.28)  “Kalau orang sudah dihina dalam kekayaannya, apalagi dalam kemiskinannya” (10.31)  Rasa malu perlu kalau bersalah ( ): melanggar hukum, berbuat mesum, mencuri, membocorkan rahasia yang harus dijaga  Ada malu yang mendatangkan dosa, ada juga yang merupakan kemuliaan (4.21)

29 Perempuan  Jangan menyerah kepada perempuan (9.1-9): yang baik, apalagi yang jalang, gadis, penyanyi, perempuan cantik, istri orang lain ; istri, milik yang unggul, “pembantu yang serasi” (36.24); istri pendiam, anugerah Tuhan (26.14)  Permulaan dosa dari perempuan (25.24); kejahatan lelaki lebih baik daripada kebajikan perempuan (42.14); “biar keburukan apa saja, asal bukan keburukan perempuan” (25.13; 24.19), kepahitan hati, perempuan saling iri (26.6)  Anak gadis perlu dijaga supaya tidak mempermalukan ayahnya: terlambat bersuami, mandul, hamil sebelum nikah ( )

30 Semua berpasangan  Dualisme dalam ciptaan: hari raya, hari biasa (33.7-9), manusia dari tanah liat, tapi tak sama, ada yang diberkati, ada yang dikutuk ( , manusia seperti tanah liat di tangan penjunan, 33.13), jahat berhadapan yang baik, kehidupan dengan maut (33.14), semuanya berpasangan (33.15)  Kehendak bebas: manusia dapat memilih (15.15)  Teodisi: “pekerjaan Tuhan baik semuanya”, sejak awal diciptakan hal baik bagi orang baik, hal buruk bagi orang berdosa (39.25), termasuk kebutuhan hidup ( )

31 Kematian  Berduka saat berpisah selamanya ( ), tetapi jangan sampai hati dimakan kesedihan (38.20); orang meninggal takkan kembali, jangan merugikan diri sendiri (38.21)  Maut: keputusan Tuhan, tidak soal berapa lama manusia hidup, tidak diperiksa di dunia orang mati (41.4)  “Ingatlah nasibnya menjadi nasibmu juga” (38.22)  Pada saat orang meninggal beristirahat, biarlah kenangan padanya beristirahat juga (38.23)  Reputasi terpelihara terus setelah meninggal (1.13; ; )

32 Kebijaksanaan  Kebijaksanaan telah diciptakan sebelum segala sesuatu (1.6; 24.9; Ams )  Kebijaksanaan = Kitab Perjanjian, Taurat (24.23)  Mencintai kebijaksanaan = mencintai kehidupan (4.12): sukacita, berkat, dicintai Tuhan, aman sentosa ( ); pencarinya diuji sampai dapat percaya padanya ( ; bnd ), bagaikan kuk bila dihadapi dan dicari dengan segenap hati ( ), belajar dari generasi tua ( )  Pencarian kebijaksanaan bagaikan memburu (14.22)

33 2  Kebijaksaan diperoleh dengan melekat pada Taurat: demikian perbuatan orang yang takut akan Tuhan (15.1)  Kebijaksanaan bagaikan ibu dan istri yang memberi “roti pengertian” dan “air hikmat” (15.2-3)  Kebijaksanaan terbit dari “mulut Yang Mahatinggi” (24.3), ditempatkan di Kemah Suci di Sion (24.10), bagaikan pohon-pohon yang memberi hasil yang memikat ( ; “yang mengenyam aku masih lapar terus, dan yang meminum aku masih dahaga”, (14.21), bagaikan sungai, “saluran air menuju taman raya” ( )

34 3  Waktu senggang dimiliki ahli Taurat untuk memperoleh kebijaksanaan, berbeda dengan para petani, tukang, pengukir, pandai besi, penjunan, walaupun penting untuk membangun kota, tidak cocok jadi anggota DPR atau majelis jemaat ( )  Ahli Taurat menyelidiki segala kebijaksanaan leluhurnya, mengarahkan hati kepada Tuhan pagi-pagi buta, berdoa (39.1-8): namanya akan hidup terus (39.10)  Ben Sirakh, pencari kebijaksanaan ( ) mengajarkannya dengan cuma-cuma (51.25): “tundukkanlah tengkukmu di bawah kuk … sedikit saja aku berikhtiar, kutemukan banyak istirahat” ( ; Mat )


Download ppt "HIKMAT ( Pengenalan kepada Wisdom Literature) Pdt. Anwar Tjen PhD Bina Teologia GKI Kav. Polri."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google