Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PENERAPAN PRODUKSI BERSIH PADA INDUSTRI

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PENERAPAN PRODUKSI BERSIH PADA INDUSTRI"— Transcript presentasi:

1 PENERAPAN PRODUKSI BERSIH PADA INDUSTRI
Prof. Dr. Ir. Nastiti Siswi Indrasti

2 Industri yang berbeda  penanganan limbah berbeda
Pendahuluan Penerapan produksi bersih pada industri Pengelolaan seluruh aspek kegiatan perusahaan Sejak pemilihan bahan baku sampai penanganan limbah Industri yang berbeda  penanganan limbah berbeda

3 Penerapan Produksi Bersih
Yang harus dilakukan : Mengidentifikasi secara rinci proses produksi Mengidentifikasi kemungkinan munculnya limbah pada proses produksi, produk atau kesalahan manajemen Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kerusakan lingkungan & memberikan alternatif solusi yang bisa diterapkan untuk kemajuan industri tersebut

4 Penerapan Produksi Bersih
Teknologi produksi bersih Pengurangan limbah pada sumber pencemar Teknik daur ulang Pilihan penerapan produksi bersih Good house keeping Perubahan material input Perubahan teknologis Perubahan produk On-site reuse

5 Penerapan Produksi Bersih
Industri yang berpeluang mencemari lingkungan jika tidak ditangani dengan baik : Industri Tapioka Industri Tahu Industri Gula Industri Plywood Industri CPO Dari segi ekonomi : peluang untuk diefisienkan tinggi Penghematan bahan baku/tambahan Pemanfaatan limbah menjadi produk yang mempunyai nilai tambah

6 INDUSTRI TAPIOKA

7 Industri Tapioka Industri Tapioka Banyak tersebar di Indonesia
Menghasilkan limbah Limbah padat Limbah cair Gas Menimbulkan masalah lingkungan

8 Proses Produksi Tapioka (limbah & opsi produksi bersih)
1. Proses Pengupasan & pencucian ubi kayu Air Cucian Air 7 m3/hari Pencucian Ubi Kayu 1000 kg Energi Ubi Kayu 700 kg Kulit dan kotoran 300 kg Opsi Produksi Bersih Identifikasi Munculnya limbah Pencucian dua tahap dengan menggunakan air sisa proses pengendapan pati danair bersih Memanfaatkan kulit ubi kayu untuk pupuk Memanfaatkan air sisa cucian untuk gas bio Limbah padat berupa kulit ubikayu, tanah, batu-batuan dan kotoran

9 Proses Produksi Tapioka (limbah & opsi produksi bersih)
2. Proses Pemarutan Air Pemarutan Ubi Kayu 700 kg Energi Bubur ubi kayu kg Loss 7.9 kg Identifikasi Munculnya limbah Opsi Produksi Bersih Limbah yang timbulkan akibat loss product, dimana hasil pemarutan akan tercecer di sekitar mesin pemarut Mengumpulkan hasil parutan yang tercecer

10 Proses Produksi Tapioka (limbah & opsi produksi bersih)
3. Proses Penyaringan Air Penyaringan Bubur ubi kayu kg Energi Susu pati kg Ampas 82.3 kg Identifikasi Munculnya limbah Opsi Produksi Bersih Memanfaatkan ampas untuk kepentingan lain (industri saus/obat nyamuk bakar Limbah padat berupa onggok/ampas

11 Proses Produksi Tapioka (limbah & opsi produksi bersih)
4. Proses Pengendapan Pati Air + Loss kg Air Pencucian Susu pati kg Energi Endapan pati kg Opsi Produksi Bersih Identifikasi Munculnya limbah Pemanfaatan kembali air dari bak penampungan untuk tahapan proses pencucian. Memanfaatkan air sisa cucian untuk kepentingan lain seperti pembuatan gas bio. Mengumpulkan sisa-sisa pati pada bak pengendapan. limbah cair yang mengandung bahan organik loss akibat pengendapan berupa tepung tapioka kasar

12 Proses Produksi Tapioka (limbah & opsi produksi bersih)
5. Proses Penjemuran Air + Loss kg Energi Penjemuran Endapan pati kg Tapioka kasar kg Identifikasi Munculnya limbah Opsi Produksi Bersih limbah yang dihasilkan berupa tepung tapioka kasar yang banyak diterbangkan oleh angin Mengumpulkan kembali tepung tapioka yang berserakan akibat diterbangkan oleh angin

13 Perhitungan Biaya Alternatif Produksi Bersih pada Industri Tapioka
Opsi Perhitungan Nilai Satuan 1. Pencucian 2 tahap dan Menggunakan kembali air sisa proses pengendapan pati untuk proses pencucian Biaya yang dibutuhkan: Membeli Paralon 6 meter x Rp /meter 60.000 Rp/bulan Air bersih yang dibutuhkan pada proses biasa 7 m3/hari x Rp 500/m3 x 26 hari/bulan 91.000 Air bersih yang dibutuhkan pada opsi ! 3,5 m3/hari x 500/m3 x 26 har/bulan 45.500 Penghematan air Pay back period Rp : Rp 1,319 bulan 2. Memanfaatkan kulit ubi kayu untuk pupuk Biaya pengangkutan 13 kali/bulan x Rp Hasil penjualan 300 kg/hari x Rp 200 x 26 hari Keuntungan - 3. Memanfaatkan limbah cair gas bio Tidak dilakukan perhitungan karena belum adanya literatur mengenai kelayakan finansial serta angka konversi limbah tapioka menjadi metan

14 Perhitungan Biaya Alternatif Produksi Bersih pada Industri Tapioka
Opsi Perhitungan Nilai Satuan 4. Mengumpulkan hasil parutan yang tercecer Biaya tambahan Membeli serokan karet 20.000 Rp Hasil Penjualan 1,58 kg/hari x Rp 500 x 26 hari 20.540 Pay back period Rp : Rp 0,974 bulan 5. Memanfaatkan ampas kering/ onggok untuk saus/obat nyamuk bakar Hasil penjualan 16,46 kg/hari x Rp 500 x 26 hari Rp/bulan Keuntungan - 6. Mengumpulkan pati yang tertinggal pada bak pengendapan Membeli sapu dan serokan 30.000 2 kg/hari x Rp x 26 hari 52.000 Rp : Rp 0,577 bulan

15 Perhitungan Biaya Alternatif Produksi Bersih pada Industri Tapioka
Opsi Perhitungan Nilai Satuan 7. Mengumpulkan kembali tepung-tepung kasar tersebut Biaya tambahan Membeli penghisap debu Rp Hasil Penjualan 10 kg/hari x Rp x 26 hari Pay back period Rp : Rp 3,846 bulan 8. Penggunaan Masker Asumsi untuk 1 orang karyawan: Pembelian masker Rp x 5 buah masker 25.000 Biaya Pengobatan bila karyawan sakit Rp Rp : Rp 0,25 bulan

16 INDUSTRI TAHU

17 Industri kecil tersebar di Indonesia
Industri Tahu Industri kecil tersebar di Indonesia Masalah yang terjadi Penggunaan air yang tidak efisien Adanya kadar bahan organik yang tinggi serta bahan yang terikut dalam air pada proses pengolahan Limbah organik yang bau dan berwarna keruh Dapat menyebabkan gangguan pada ekologi lingkungan

18 Proses Produksi Tahu (limbah & opsi produksi bersih)
1. Proses Pencucian PENCUCIAN ENERGI AIR 1 M3/hari Kedelai basah 100 kg Air cucian 1m3/hari KEDELAI 100 KG Identifikasi Munculnya limbah Opsi Produksi Bersih Untuk menyiasati penggunaan air, pencucian tidak dilakukan dengan air yang mengalir, tetapi dengan menggunakan wadah dengan beberapa tahap pencucian Sisa air cucian masih mengandung sisa bahan kedelai akan tetapi loss yang terjadi dianggap tidak signifikan

19 Proses Produksi Tahu (limbah & opsi produksi bersih)
2. Proses Perendaman AIR BUANGAN RENDAMAN 100 LT PERENDAMAN KEDELAI BASAH 100 KG AIR 300 LT KEDELAI YANG MENGEMBANG 300 KG Identifikasi Munculnya limbah Opsi Produksi Bersih Melakukan penyaringan kembali saat sisa air rendaman di buang Memanfaatkan kembali hasil penyaringan untuk di proses kembali /untuk makanan ternak air sisa rendaman dibuang, air masih mengandung zat –zat organik yang tercampur dengan kotoran, yang jika dibiarkan akan berbau busuk

20 Proses Produksi Tahu (limbah & opsi produksi bersih)
3. Proses Penirisan dan Penggilingan PENIRISAN DAN PENGGILINGAN KEDELAI HASIL RENDAMAN 300 KG BUBUR KEDELAI 600 KG AIR PANAS 100 Lt + AIR BIASA 200 Lt ENERGI Identifikasi Munculnya limbah Opsi Produksi Bersih Pada tahap penggilingan ini ada kedelai yang tercecer karena corong mesin penggiling yang kelebihan beban kedelai. Modifikasi mesin penggiling pada bagian corong sehingga dapat meningkatkan rendemen

21 Proses Produksi Tahu (limbah & opsi produksi bersih)
4. Proses Pemasakan PEMASAKAN BUBUR KEDELAI 600 KG BUBUR KEDELAI MASAK 1697,5 KG AIR 1100 Lt ENERGI PANAS UAP AIR 1,5 Lt AIR TERCECER 1 Lt Identifikasi Munculnya limbah Pembakaran kayu dapat menyebabkan terjadinya jelaga pada langit atau genteng rumah Air yang tercecer pada saat pengadukan

22 Proses Produksi Tahu (limbah & alternatif produksi bersih)
Opsi Produksi Bersih Menghindari air yang tumpah saat pengadukan dengan pengadukan yang lebih hati-hati serta bahan yang tidak melebihi kapasitas tanki pemasakan Meletakan tungku di dalam ruang produksi sehingga arah api tidak kesamping Mendesain tungku yang hemat energi yang mempunyai cerobong asap keatas agar asap yang dihasilkan tidak mengotori ruang produksi dan rumah disekitarnya Memanfaatkan batok dan sabut kelapa untuk pengganti kayu bakar dalam pemanasan awal

23 Proses Produksi Tahu (limbah & alternatif produksi bersih)
5. Proses Penyaringan dan Pengepresan PENYARINGAN DAN PENGEPRESAN AMPAS BUBUR KEDELAI MASAK 1697,5 KG SARI (SUSU) KEDELAI 1557,5 KG ENERGI AMPAS TAHU 140 KG Identifikasi Munculnya limbah Opsi Produksi Bersih Terbentuknya ampas tahu yang apabila dibiarkan akan menimbulkan bau yang tidak enak serta menjadi limbah semi padat yang mencemari lingkungan Ampas tahu yang terbentuk bisa DIJUAL untuk makanan ternak

24 Proses Produksi Tahu (limbah & alternatif produksi bersih)
6. Proses Penggumpalan PENGGUMPALAN SARI (SUSU) KEDELAI 1557,5 KG CURD 160 KG LARUTAN SOIKO ENERGI PANAS WHEY TAHU 1397,5 KG Identifikasi Munculnya limbah Opsi Produksi Bersih Whey bisa dimanfaatkan menjadi Nata de Soya dengan perlakuan penambahan starter bakteri Acetobacter Xylinum Whey bisa digunakan untuk pembuatan membran semi konduktor Tebentuknya Whey yang merupakan cairan basi bisa menimbulkan pencemaran bau dan lahan apabila whey dibiarkan atau dibuang ke sungai sekitarnya

25 Proses Produksi Tahu (limbah & alternatif produksi bersih)
7. Proses Pencetakan dan Pengepresan Curd Menjadi Tahu Disertai Pemotongan PENCETAKAN DAN PENGEPRESAN CURD CURD 160 KG ENERGI TAHU 160 KG

26 Perhitungan Biaya Alternatif Produksi Bersih pada Industri Tahu
OPSI Perhitungan Jumlah Satuan  1. Pencucian secara bertahap Biaya yang dibutuhkan Membeli ember besar 3 buahx Rp /buah Rp Rp/bulan Air yang digunakan saat biasa 1 m3/ hari x Rp.500/m3x 30 hari Rp  Rp/bulan Air yang digunakan bila menerapkan Opsi 1 0,5 m3/ hari x Rp.500/m3x 30 hari Rp Penghematan air PBP Rp : Rp.7.500 3,2bulan

27 Industri Tahu OPSI Perhitungan Jumlah Satuan
2. Penyaringan kembali sisa air rendaman kedelai dan tahu, pencucian dan sanitasi dengan instalasi daur ulang air Investasi yang dibutuhkan : Pembuatan Bak Penyaringan 1 buah xRp Rp  Rp Pembuatan Bak Pengendapan 1 buah xRp Rp Total Aset Rp 1.Bahan penjernih (tawas + batu kapur) (0,2/kgxRp.1500)+(0,2/kgxRp.750) Rp 2.Bahan Penyaring : Pasir (0,027 m3xRp )=Rp.1.467 Rp  Kerikil (0,020 m3xRp )=Rp.1.000 Rp Ijuk (0,040 m3xRp )=Rp. 480 Arang (0,010 m3xRp )=Rp. 180 Batu bata 10 buahxRp.Rp.200 =Rp Tota bahan penyaring Rp Rp/bulan Modal Kerja Operasional Alat Rp Rp/bulan  TOTAL INVESTASI Rp  Rp/bulan Air yang digunakan pada proses biasa 3,1 m3x30 harixRp.500/m3+(Rp /kWH) Rp Bila Opsi 2 dilaksanakan 2,09 m3x30 harixRp.500/m3 Rp Penghematan air Rp PBP Rp :Rp 11,5 bulan

28 Perhitungan Biaya Alternatif Produksi Bersih pada Industri Tahu
OPSI Perhitungan Jumlah Satuan 3. Pembuatan corong tambahan pada mesin penggilingan Biaya yang dibutuhkan: Membeli seng 1 meter xRp Rp  Rp Penghematan bahan baku 0,005 kg/harixRp.4000/kgx26 hari Rp. 520  Rp/bulan PBP Rp :Rp.520 25,9 bulan 4. Pembuatan tungku hemat energi Investasi tungku Rp / alat Rp Rp Penghematan kayu bakar+minyak tanah Rp. 2000/ hari x 26 hari Rp Rp/bulan  Rp :Rp 19,2 bulan 5. Substitusi kayu bakar dengan batok kelapa Biaya tambahan dibanding beli kayu bakar Rp. 1000/hari x 26 hari Rp Hasil penjualan arang Rp.5000/kg x 10 kg Rp Rp :Rp 0,52 bulan

29 Perhitungan Biaya Alternatif Produksi Bersih pada Industri Tahu
OPSI Perhitungan Jumlah Satuan 6. Pemakaian kacamata las Membeli kacamata Rp x 4 Rp Rp/bulan  Asumsi anggaran kesehatan/bulan Rp x 4 Rp  Rp/bulan PBP Rp : Rp 0,8 bulan 7. Pemanfaatan ampas tahu dan kunyit untuk makanan ternak Biaya tambahan : membeli karung 10 kg Rp.1000 x 10 buahx26 hari Rp Rp/bulan Hasil penjualan Rp.4000/karung x 10 buah x 26hari Rp Rp : Rp 0,25 bulan

30 Perhitungan Biaya Alternatif Produksi Bersih pada Industri Tahu
OPSI Perhitungan Jumlah Satuan 8.Pembuatan nata de soya dari whey tahu (Nasution,2001) Biaya yang dibutuhkan : Investasi asset Rp Rp  Rp/bulan Modal Kerja Operasional Nata de soya Rp Rp Bahan baku whey 838,5 kgxRp.0 Rp.0 Bahan Penolong : Bibit cair nata 241,13 liter x Rp Rp Urea 337,58 kg x Rp.1500 Rp Asam asetat glacial 675,15 liter xRp.8000 Rp Gula pasir 2.869,39 kgxRp.3000 Rp Minyak tanah 30 liter x Rp.1000 Rp Total biaya Bahan Penolong Rp TOTAL BIAYA OPERASIONAL Rp Rp.0+ Rp Rp Hasil penjualan nata de soya 838,5 kg/harixRp.2.065/kg x 26 hari Rp Keuntungan Rp Rp Rp PBP Rp :Rp 4,63 bulan

31 Perhitungan Biaya Alternatif Produksi Bersih pada Industri Tahu
OPSI Perhitungan Jumlah Satuan 9.Pemanfaatan sisa hasil potongan atau cetakan Biaya tambahan : Membeli kantong plastik Rp.200/ kantongx 26 hari Rp  Rp/bulan Hasil penjualan Rp.1000/kg x 26 hari Rp PBP Rp : Rp 0,2 bulan

32 INDUSTRI GULA

33 Harus diolah dengan tepat
Industri Gula Industri Gula Manfaat dan keuntungan besar bagi manusia Dampak besar bagi lingkungan Menghasilkan limbah Padat Cair Emisi udara Harus diolah dengan tepat

34 Proses Produksi Gula (limbah & alternatif produksi bersih)
1. Proses Penebangan, Pengangkutan & Penimbangan Tebu Opsi Produksi Bersih Identifikasi Munculnya limbah Pakan ternak Bahan bakar boiler Bahan baku pembuatan kompos Perawatan mesin secara berkala Good House-Keeping Pucuk tebu, daun tua/kering, tebu yang tercecer, debu & gas buang pada peralatan produksi

35 Proses Produksi Gula (limbah & alternatif produksi bersih)
2. Proses Penggilingan (ekstraksi) Opsi Produksi Bersih Identifikasi Munculnya limbah Air cucian diminimisasi : pembersihan kering Bahan bakar boiler Bahan baku kompos Good House-Keeping Air bekas pencucian lantai, bagas/ampas tebu, bocoran nira/oli

36 Proses Produksi Gula (limbah & alternatif produksi bersih)
3. Proses Pemurnian (purifikasi) Opsi Produksi Bersih Identifikasi Munculnya limbah Pakan ternak Bahan baku kompos Limbah gas diminimisasi : memperkering ampas tebu yang digunakan sebagai bahan bakar boiler Blotong, air pendingin pompa & sisa gas SO2, CO, CO2 & NO

37 Proses Produksi Gula (limbah & alternatif produksi bersih)
4. Proses Penguapan (Evaporasi) Identifikasi Munculnya limbah Opsi Produksi Bersih Air kondensat, air skrapan, larutan soda bekas, air bekas pencucian evaporator, air jatuhan kondensor Air umpan boiler Air imbibisi Diolah di IPAL

38 Proses Produksi Gula (limbah & alternatif produksi bersih)
5. Proses Kristalisasi & Sentrifugasi Opsi Produksi Bersih Identifikasi Munculnya limbah Air umpan boiler Air imbibisi Diminimisasi : Good House-Keeping Molase : Digunakan sebagai media produksi berbagai produk bernilai tinggi seperti MSG, alkohol, spirtus & asam organik Kondensat, bocoran larutan gula, bocoran masakan dari palung pendingin, molases

39 Proses Produksi Gula (limbah & alternatif produksi bersih)
6. Proses Pengemasan

40 Studi Kelayakan (Analisis Ekonomi Pemanfaatan Air Imbibisi)
Penurunan jumlah penambahan air imbibisi dari 30% menjadi 25% Meningkatkan konsentrasi nira dari 7,54% menjadi 9,67% polarisasi Untuk pabrik gula kapasitas 4000 TTH  menurunkan kebutuhan energi untuk penguapan air dalam nira : 1,8 milyar/tahun Menurunkan kadar air dalam ampas dari 51% jadi 50% Meningkatkan nilai kalor ampas 56 kkal/kg Menghemat penggunaan IDO (minyak diesel) : 23 milyar/tahun Menghemat penggunaan air sebesar Rp /tahun

41 INDUSTRI PLYWOOD

42 Hampir setiap proses berkontribusi menghasilkan limbah
Industri Plywood Industri Plywood Hampir setiap proses berkontribusi menghasilkan limbah Limbah padat Limbah cair Gas 40% Limbah padat

43 Proses Produksi Plywood (limbah & alternatif produksi bersih)
1. Penerimaan log 2. Pemotongan log Identifikasi Munculnya limbah Identifikasi Munculnya limbah Limbah padat : log afkir Kebisingan & Limbah padat : sisa potongan log & serbuk gergaji Opsi Produksi Bersih Opsi Produksi Bersih Dimanfaatkan : bahan pembuatan block board Diminimisasi : menyortir kayu gelondongan (log) & lebih memperhatikan jumlah dan kondisi kayu Limbah padat : bahan pembakaran boiler kebisingan : diminimisasi  merawat mesin & menggunakan peredam

44 Proses Produksi Plywood (limbah & alternatif produksi bersih)
3. Pembersihan kulit log 4. Pengupasan Identifikasi Munculnya limbah Identifikasi Munculnya limbah Limbah padat : inti kayu, potongan tepi log, sisa kupasan & sisa potongan log Debu kayu, kebisingan & gas buang Opsi Produksi Bersih Opsi Produksi Bersih debu kayu : bahan bakar boiler & bahan baku partikel board kebisingan : diminimisasi  merawat mesin & menggunakan peredam gas buang : diminimisasi dengan alat penyaring gas buang seperti blower & dust collector Inti kayu : bahan baku alas pengemasan & bahan baku block board Potongan tepi log, sisa kupasan & sisa potongan log : bahan bakar boiler.

45 Proses Produksi Plywood (limbah & alternatif produksi bersih)
5. Pengeringan 6. Penyusunan veener & core Identifikasi Munculnya limbah Identifikasi Munculnya limbah Limbah padat : sisa potongan veener, veener tidak standar, sisa potongan core & core reject Limbah padat : sisa potongan veener Opsi Produksi Bersih Opsi Produksi Bersih Dimanfaatkan sebagai bahan bakar boiler,bahan baku black board & bahan baku alas packing Dimanfaatkan sebagai bahan bakar boiler

46 Proses Produksi Plywood (limbah & alternatif produksi bersih)
7. Perekatan 8. Pemotongan Identifikasi Munculnya limbah Identifikasi Munculnya limbah Air cucian glue spreader, padatan perekat & ceceran perekat sisa potongan sisi panel, sebetan, debu kayu dan kebisingan Opsi Produksi Bersih Opsi Produksi Bersih Air ceceran glue spreader : pengganti air bersih dalam proses pencucian glue spreader Padatan perekat : bahan tambahan pembuatan perekat Ceceran perekat : bakar boiler dengan penambahan sebuk kayu Dimanfaatkan sebagai bahan bakar boiler,bahan baku black board & bahan baku partikel board

47 Proses Produksi Plywood (limbah & alternatif produksi bersih)
9. Pendempulan & pengamplasan 10. Pengemasan Identifikasi Munculnya limbah Identifikasi Munculnya limbah serbuk hasil pengamplasan, debu kayu & kebisingan kemasan kertas, kemasan film dan polyester coating Opsi Produksi Bersih Opsi Produksi Bersih Limbah padat : bahan tambahan dalam pembuatan perekat dan bahan pengisi dalam pembuatan dempul, bakar boiler dan bahan baku pembuatan partikel board Kebisingan : merawat mesin & menggunakan peredam. Kemasan kertas : bahan bakar boiler Polyester coating & kemasan film : didaur ulang sebagai bahan kerajian untuk kemudian dijual.

48 Perhitungan Penggunaan Limbah Kayu Dan Solar Sebagai Bahan Bakar Boiler.
STEAM PRODUCTION USING DIESEL ( COMPARATIVE STUDY ) Asumsi yang digunakan : Average caloric value of wood (ACV) : Kjoule/Kg Total Kebutuhan energi panas (QS) : ,55 Kjoule Rumus Total kebutuhan energi panas (QS) = ( Boiler Fuels / jumlah limbah kayu basah dari shredder ) X Total potensi limbah kalori kayu (QS) = ( ,91 / ,75 ) X ,37 Kjoule = ,55 Kjoule Rumus Kebutuhan Solar (SS) = QS/AVC Kebutuhan solar (SS) : ,10 Kg X 1000 = Liter (LT) Thermal efficiency (TE) : 0,95 % Rumus LT1 = LT/TE : ,32 Liter

49 Perhitungan biaya solar dan biaya bahan bakar kayu untuk boiler
PERBANDINGAN BIAYA SOLAR DAN BAHAN BAKU KAYU Pada biaya solar Rp = LT 1 X Harga solar = ,32 Liter X Rp = Rp /tahun = Rp /bulan Investasi modifikasi ignition chamber = Rp /unit Asumsi harga limbah 40% dari harga kayu ( 40% X = ) Biaya bahan bakar kayu jika kayu dihargai Rp = Boiler Fuels X Rp = ( ,91/12) X Rp = m3 X Rp = Rp /bulan Nilai Tambah = Rp /bulan – Rp /bulan = Rp /bulan

50 INDUSTRI CPO

51 Industri CPO Konsumsi minyak sawit dunia meningkat
Dampak negatif terhadap lingkungan Limbah : Limbah perkebunan kelapa sawit Limbah industri kelapa sawit Limbah cair Limbah padat Udara

52 Proses Produksi CPO Proses penimbangan dan penerimaan TBS
(Tandan Buah Segar) Proses perebusan Proses perontokan buah Proses pengadukan / digesting Proses pengepresan Proses pemurnian

53 Limbah Industri CPO Limbah Limbah Cair : Udara : Lumpur Kebisingan
Air kondensat Air cucian Udara : Kebisingan Gas boiler Limbah Padat : Cangkang Serat Tandan kosong

54 Pengelolaan Limbah Industri CPO
Limbah Padat Cangkang : Bahan bakar solid untuk boiler Substitusi gravel pada jalan Serat : bahan bakar solid untuk boiler Tandan kosong : mulsa organik pada pokok kelapa sawit

55 Pengelolaan Limbah Industri CPO
Limbah Cair Lumpur & air kondensat : aplikasi lahan pada perkebunan Air cucian : ditangani dalam kolam sedimentasi Limbah Udara Kebisingan : diminimisasi menggunakan peredam Gas boiler : menggunakan dust collector untuk selanjutnya diendapkan pada kolam sedimentasi

56 Pengelolaan Limbah Industri CPO
Salah satu teknik produksi bersih Modifikasi Proses Industri CPO Pada final effluen terjadi losses di atas standar Modifikasi proses perebusan Membuat kolam penampung air kondensat

57 Desain Kolam Penampung Air Kondensat

58 Tata Letak Kolam Penampung Air Kondensat

59 Kendala Pengelolaan Limbah Industri CPO
Kendala  kendala tata cara operasi yang baik pada industri CPO Alat Proses rebusan  contohnya alat kontrol rebusan yang tidak berfungsi dengan baik Manusia Hambatan yang paling berpengaruh pada penerapan produksi bersih

60 Aplikasi Good House-Keeping pada Industri CPO
Penutupan kebocoran pipa air dan uap Penutupan aliran air yang tidak diperlukan pada stasiun penjernihan Penggantian keran dan selang air yang bocor Pembersihan mesin dan lingkungan kerja Pada beberapa stasiun proses dilakukan penambahan SOP kerja berupa pembersihan lingkungan, mesin dan penutupan kebocoran

61 Studi Kelayakan Secara ekonomis Tata cara operasi yang baik
Meningkatkan produktivitas perusahaan Dilihat dari : kualitas produk yang dihasilkan tingginya ekstraksi Peningkatan ekstraksi 0,01 %  Keuntungan Rp /bulan Dengan TBS yang diolah : ton

62 Alternatif Penerapan Good House-Keeping
Studi Kelayakan Alternatif Penerapan Good House-Keeping Usaha pengurangan terjadinya ceceran & cemaran pada lingkungan kerja pabrik secara langsung Jumlah kebocoran air lt/jam 1 th : jam = m3 air yang terbuang Biaya bahan kimia untuk mengolah m3 air Rp ,- Untuk penerapan Good House-Keeping : Biaya pembelian selang, keran & pemasangan peringatan sebesar Rp ,-

63 Studi Kelayakan TBS yang diolah : 1 mesin = 28 ton
Dalam setiap jam : 2 mesin = 54 ton Kondensat = 7,84 m3/jam Kandungan minyak = 0,042 m3 Kapasitas kolam penampung kondensat mininal 8 m3 Investasi bangunan : Rp ,- Biaya tetap/tahun : Rp ,- Harga CPO US$ 382,50/ton Keuntungan US$ / Rp /th PBP : 88 hari Tahun 2005 : ton TBS yang diolah : kandungan minyak 41,52 ton

64 INDUSTRI ROTI

65 Industri Roti Industri Pangan Industri Roti Segmen pasar luas
Berkembang pesat Pengaruh terhadap lingkungan Penerapan Produksi Bersih

66 Air menetes di lantai dan sisa adonan di mixer
Proses Produksi Roti (limbah & opsi produksi bersih) 1. Penimbangan Bahan 2. Proses Pengadukan Identifikasi Munculnya limbah Identifikasi Munculnya limbah tepung terigu tercecer di lantai, putih telur & cangkang telur dibuang, karung terigu & kardus bekas susu Air menetes di lantai dan sisa adonan di mixer Opsi Produksi Bersih Opsi Produksi Bersih Air menetes di lantai : mendesain pipa air Sisa adonan di mixer : diolah menjadi pakan ternak Goodhousekeeping Menjual putih telur ke pengusaha kue Menjual cangkang telur ke peternak Menjual karung dan kardus bekas

67 Kulit sisa irisan roti dan produk yang tidak lolos seleksi
Proses Produksi Roti (limbah & opsi produksi bersih) 3. Depanning 4. Pengirisan Identifikasi Munculnya limbah Identifikasi Munculnya limbah Koran yang tercecer Kulit sisa irisan roti dan produk yang tidak lolos seleksi Opsi Produksi Bersih Opsi Produksi Bersih Mengganti koran dengan sarung tangan tahan panas Kulit sisa irisan roti dan produk yang tidak lolos seleksi dapat diolah kembali menjadi roti kering (roti bagelen) dan tepung panir

68 Menggunakan air mengalir
Proses Produksi Roti (limbah & opsi produksi bersih) 5. Pasca pemasaran roti 6. Pencucian loyang Identifikasi Munculnya limbah Identifikasi Munculnya limbah Roti yang tidak laku Menggunakan air mengalir Opsi Produksi Bersih Opsi Produksi Bersih Diolah menjadi roti bagelen Mendesain pencucian loyang dengan sistem batch

69 Perhitungan Biaya Alternatif Produksi Bersih pada Industri Roti
No. Usulan Alternatif Pay Back Period (Bulan) Keuntungan (Rp./Bulan) Investasi (Rp.) 1. Memproduksi pakan ternak dari sisa adonan 0,07 2. Membuat pipa air untuk mixer 0,91 26.913 (Penghematan) 24.500 3. Menggunakan sarung tangan tahan panas 1,04 19.200 4. Memproduksi Roti Bagelen 2 5. Pencucian loyang sistem bacth 10,49 18.690 6. Menjual putih telur - 7. Menjual cangkang telur 8. Menjual minyak goreng bekas 90.000 9. Menjual karung terigu 11.520 10. Menjual kardus bekas 8.400

70 INDUSTRI CUKA APEL

71 Industri Cuka Apel Apel  waktu penyimpanan relatif singkat
meningkatkan nilai ekonomis diolah menjadi cuka apel proses fermentasi limbah penerapan produksi bersih

72 Proses Produksi Cuka Apel
PENYARINGAN DENGAN KAIN SARING FERMENTASI ALKOHOL SCREEN 100 MESH ASETAT KAIN SARING 150 MESH PENGENDAPAN PEMBOTOLAN DAN PASTEURISASI PELABELAN PENGEMASAN

73 Alternatif Aplikasi Produksi Bersih pada Industri Cuka Apel
No Jenis Limbah Penanganan Perusahaan Alternatif Penggunaan Produksi Bersih 1. Limbah cair sisa pencucian bahan Dibuang langsung Penghematan penggunaan air 2. Limbah cair sisa penyaringan fermentasi alkohol Ditampung dalam bak penampungan untuk selanjutnya diolah. Belum dapat termanfaatkan 3. Limbah cair sisa penyaringan fermentasi asetat 4. Limbah cair sisa endapan produk akhir Di recycle menjadi cuka apel dalam bentuk kapsul 5. Padatan dari bahan berupa batang, kulit, hasil pengepresan bubur apel. Diberikan kepada penduduk sekitar untuk pakan ternak Di olah menjadi pupuk organik 6. Padatan sisa botol, kerdus dan label yang rusak. Dibuang langsung pada tempat pembuangan akhir.

74 ALTERNATIF PRODUKSI BERSIH
Perhitungan Biaya Alternatif Produksi Bersih pada Industri Cuka Apel ALTERNATIF PRODUKSI BERSIH ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS FINANSIAL LINGKUNGAN PAY BACK PERIODE KEUNTUNGAN PER BULAN PENGHEMATAN AIR PENCUCIAN MUDAH DILAKUKAN, TAPI MEMERLUKAN PERUBAHAN INSTALASI 1,1 BULAN Rp PENGURANGN BOD WALAUPUN TIDAK TERLALU BESAR PENGOLAHAN ENDAPAN CAIR PADA PROSES PENGENDAPAN CUKA TEKNOLOGI SEDERHANA, NAMUN BUTUH KETERAMPILAN KHUSUS 1,0 BULAN Rp PENGURANGAN BOD SIGNIFIKAN KARENA CAIRANNYA KENTAL PENGOLAHAN AMPAS APEL PADA PROSES PENYARINGAN TEKNOLOGI SANGAT SEDERHANA DAN TIDAK MERUBAH PROSES 1,2 BULAN Rp BUKAN TERMASUK LIMBAH BERBAHAYA

75 INDUSTRI NATA DE COCO

76 Industri Nata de Coco Air kelapa  bahan baku nata de coco
potensi lahan usaha : mampu menyerap tenaga kerja penambahan penghasilan meningkatkan jumlah industri nata de coco meningkatkan limbah PRODUKSI BERSIH

77 Proses Produksi Nata de Coco (limbah & opsi produksi bersih)
1. Proses Penyaringan 2. Proses Pencampuran & Perebusan Identifikasi Munculnya limbah Identifikasi Munculnya limbah Kotoran dalam bentuk padat (serpihan, sabut kelapa, daging buah & tempurung) Kotoran dalam bentuk padat dan semi padat (banyak mengandung bahan organik) Opsi Produksi Bersih Opsi Produksi Bersih Dimanfaatkan sebagai bahan dalam pembuatan pupuk Dimanfaatkan sebagai bahan dalam pembuatan pupuk

78 Proses Produksi Nata de Coco (limbah & opsi produksi bersih)
3. Penempatan dalam wadah fermentasi dan penambahan starter 4. Fermentasi dan Pemanenan Identifikasi Munculnya limbah Terdapat sisa cairan fermentasi pada baki/loyang, sisa koran penutup loyang & sisa air merendam nata de coco Opsi Produksi Bersih Memanfaatkan sisa cairan yang masih mengandung kultur pada fermentasi selanjutnya Menjual sisa koran yang tidak terpakai Memanfaatkan kembali air untuk merandam lembaran nata

79 Kulit nata, yang dapat menyebabkan bau busuk
Proses Produksi Nata de Coco (limbah & opsi produksi bersih) 5. Pembersihan Kulit 6. Pemotongan Identifikasi Munculnya limbah Identifikasi Munculnya limbah Kulit nata, yang dapat menyebabkan bau busuk Sisa potongan nata Opsi Produksi Bersih Opsi Produksi Bersih Memanfaatkan kembali air pembersihan kulit & pencucian nata Memanfaatkan kulit nata sebagai bahan membuat pupuk Sisa potongan nata : membuat minuman jelly drink, bahan pembuat pupuk

80 Proses Produksi Nata de Coco (limbah & opsi produksi bersih)
7. Perebusan potongan nata 8. Pengemasan Identifikasi Munculnya limbah Identifikasi Munculnya limbah Sisa air rebusan Sisa plastik kemasan Opsi Produksi Bersih Opsi Produksi Bersih Mendesain ulang bentuk kemasan, sehingga plastik penutup kemasan akan habis terpakai Memanfaatkan kembali sisa air rebusan

81 Perhitungan (per bulan)
Perhitungan Biaya Alternatif Produksi Bersih pada Industri Nata de Coco No Opsi Perhitungan (per bulan) Nilai 1. Pemanfaatan kotoran hasil penyaringan, perebusan dan pembersihan kulit untuk pembuatan pupuk. Total limbah yang diolah kg/ hari = x 26 hari = 2028,1612 kg/bulan Investasi : Baskom (4 Rp ) Saringan (1 Rp ) Gayung (2 Rp. 5000) Pengaduk (2 Rp. 5000) TOTAL INVESTASI 4 x Rp 1 x Rp 2 x Rp Rp Rp Rp Penjualan pupuk Biaya : - Kapur Tohor (100 kg limbah dibutuhkan 10 kg kapur Rp. 1000) - Biaya Tenaga Kerja (1 orang bekerja sehari 3 jam) 2028,1612 kg x Rp (2028,1612 : 100) x 10 x Rp 1000 = Rp Rp x 26 hari = Rp Rp ,36 Total Biaya Rp ,00 KEUNTUNGAN Rp ,36 PAY BACK PERIOD Rp : Rp 0,5442 bulan = 16,326 hari

82 Perhitungan (per bulan)
Perhitungan Biaya Alternatif Produksi Bersih pada Industri Nata de Coco No Opsi Perhitungan (per bulan) Nilai 2. Pemanfaatan kembali sisa cairan fermentasi Total limbah yang diolah 7,704 liter/ hari = 7,704 liter/hari x 26 hari = 200,304 liter/bulan = ml/bulan Investasi : - Botol Jumlah botol yang dibutuhkan = ml : 500 ml = 400,608 botol ≈ botol - Kompor (1 Rp ) - Dandang ukuran sedang (1 Rp ) TOTAL INVESTASI 401 botol x Rp. 300/botol 1 x Rp 1 x Rp Rp Rp Rp Rp Penjualan starter Biaya : - Biayakan murni Jumlah biakan murni yang dibutuhkan = 400,608 botol x 60 ml = 24036,48 ml = 40,0608 botol (setiap botol biakan murni berisi ml) - Biaya Tenaga Kerja (1 orang bekerja sehari 3 jam) 400,608 botol x Rp /botol 40,0608 botol x Rp = Rp ,56 Rp x 26 hari = Rp Rp ,8 Total Biaya Rp ,56 KEUNTUNGAN Rp ,44 PAY BACK PERIOD Rp : Rp ,44 2,92 bulan

83 Perhitungan (per bulan)
Perhitungan Biaya Alternatif Produksi Bersih pada Industri Nata de Coco No Opsi Perhitungan (per bulan) Nilai 3. Pemanfaatan kembali air sisa rendaman, air pembersihan kulit dan pencucian, sisa air perendam potongan nata serta air perebusan potongan nata Total limbah yang diolah 3480 liter/ hari = 3480 liter/hari x 26 hari = liter/bulan Investasi : - Drum penyaringan air (pemurnian air) (1 Rp ) - Drum penampung air yang telah dimurnikan TOTAL INVESTASI 1 x Rp 1 x Rp Rp Rp Rp Penghematan Air yang dimurnikan = 80% x liter = liter Setiap detik, pompa bisa menghasilkan air ± 10 liter Waktu yang dihemat = 72384 liter : 10 liter/detik = 7238,4 detik ≈ 120,64 menit ≈ 2,011 jam 125 watt x 2,011 jam x 60” = ,5 watt = 15, kwatt 15,0825 kwatt x Rp /kwatt Rp. 7239,6 Tenaga kerja digunakan tenaga kerja pada masing- masing bagian yang menghasilkan limbah cair tersebut. PAY BACK PERIOD Rp : Rp. 7329,6 27,2866 bln

84 Perhitungan (per bulan)
Perhitungan Biaya Alternatif Produksi Bersih pada Industri Nata de Coco No Opsi Perhitungan (per bulan) Nilai 4. Pemanfaatan sisa potongan nata untuk pembuatan minuman jelly drink Total limbah yang diolah 167,612 kg/ hari = 167,612 kg/hari x 26 hari = 4357,912 kg/bulan Investasi : Blender (2 Rp ) Sealer (2 Rp ) Dandang (2 Rp ) Kompor (1 Rp ) Pengaduk (1 Rp. 5000) TOTAL INVESTASI 2 x Rp 1 x Rp 2 x Rp 1 x Rp 1 x Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Penjualan produk Jumlah jelly drink yang dihasilkan = 4357,912 kg x 0.8 liter/kg = 3486,3296 liter ≈ 14526,37 cup Biaya : - Biaya produksi (gula, cup, merek, pewarna, flavor, dus) - Biaya Tenaga Kerja (1 orang) 14526,37 cup x Rp. 500 14526,37 cup x Rp. 350 = Rp ,5 1 x Rp = Rp Rp Total Biaya Rp ,5 KEUNTUNGAN Rp ,5 PAY BACK PERIOD Rp : Rp ,5 1,31 bulan

85 Perhitungan (per bulan)
Perhitungan Biaya Alternatif Produksi Bersih pada Industri Nata de Coco No Opsi Perhitungan (per bulan) Nilai 5. Pemanfaatan sisa potongan nata untuk pembuatan pupuk Total limbah yang diolah 167,612 kg/ hari = 167,612 kg/hari x 26 hari = 4357,912 kg/bulan Investasi : Baskom (8 Rp ) Saringan (2 Rp ) Gayung (2 Rp. 5000) Pengaduk (2 Rp. 5000) TOTAL INVESTASI 8 x Rp 2 x Rp 2 x Rp Rp Rp Rp Rp Penjualan pupuk Biaya : - Kapur Tohor (100 kg limbah dibutuhkan 10 kg kapur Rp. 1000) - Biaya Tenaga Kerja (1 orang bekerja sehari 5 jam) 4357,912 kg x Rp. 300 (4357,912 : 100) x 10 x Rp = Rp ,2 Rp x 26 hari = Rp Rp ,6 Total Biaya Rp ,2 KEUNTUNGAN Rp ,4 PAY BACK PERIOD Rp : Rp ,4 0,4578 bulan 6. Menjual sisa plastik pengemasan Total limbah plastik yang dijual 0,8 kg/ hari = 0,8 kg/hari x 26 hari = 20,8 kg/bulan Penjualan plastik Biaya pembelian kantong untuk penjualan 20,8 kg x Rp. 200 Rp. 700 Rp. 4160 Rp Rp. 3460/bulan

86 INDUSTRI KERUPUK IKAN

87 Industri Kerupuk Ikan Sentra produksi kerupuk yang terkenal di Desa Kenanga, Indramayu yaitu sebanyak 53 perusahaan dengan kapasitas produksi mencapai Ton per tahun (Disperindag Kabupaten Indramayu, 2005) Penanganan Limbah Industri kerupuk yang tidak baik Pendukung besarnya tingkat pencemaran lingkungan sekitar pabrik

88 Proses Produksi Kerupuk Ikan

89 Alternatif Penerapan Produksi Bersih pada Industri Kerupuk Ikan

90 Perhitungan Penghematan Air PDAM
Perhitungan Biaya Alternatif Penerapan Produksi Bersih pada Industri Kerupuk Ikan Perhitungan Penghematan Air PDAM Tarif PDAM untuk home industry di Kab Indramayu untuk pemakaian 21 m3 – 30 m3 = Rp per m3 Efisiensi daur ulang air adalah 89.95% Pemakaian Air PDAM per Bulan = 30 m3 Biaya yang harus dibayar per bulannya = 30 m3 x Rp x 89.95%= Rp ,- Biaya penghematan per tahunnya = Rp ,- x 12 = Rp ,-

91 Perhitungan penghematan air sumur
Perhitungan Biaya Alternatif Penerapan Produksi Bersih pada Industri Kerupuk Ikan Perhitungan penghematan air sumur Total biaya pemakaian listrik untuk pompa air dalam 1 bulan adalah sebesar (Rp ,- + Rp ,- + Rp Rp ,- )x 89.95% = Rp ,-. Dalam 1 tahun penghematan dari daur ulang air sumur adalah sebesar Rp ,- x 12 x = Rp ,-. Total penghematan dari daur ulang air adalah sebesar setelah dikurangi pengeluaran = Rp ,- per tahun.

92 Perhitungan Finansial Daur Ulang Air
Perhitungan Biaya Alternatif Penerapan Produksi Bersih pada Industri Kerupuk Ikan Perhitungan Finansial Daur Ulang Air No Uraian Jumlah (Rp.) A Investasi Aset B Modal Kerja Operasional alat Pemeliharaan Penyusutan Sub total Total

93 Desain Instalasi Daur Ulang Air
BAK PENGENDAPAN BAK PENAMPUNGAN 130 cm 200 cm 130 cm 200 PENGADUK arang

94 Pemanfaatan Limbah Sisa Ikan
Perhitungan Biaya Alternatif Penerapan Produksi Bersih pada Industri Kerupuk Ikan Pemanfaatan Limbah Sisa Ikan Limbah yang berasal dari industri pengolahan ikan persentasenya bisa mencapai 30 persen dari jumlah ikan segar yang dibutuhkan 1000 kg Ikan 250 kg Sisa Ikan Tepung Ikan

95 Perhitungan Total Nilai Pendapatan
Perhitungan Biaya Alternatif Penerapan Produksi Bersih pada Industri Kerupuk Ikan Perhitungan Total Nilai Pendapatan Hasil : Dari 250 kg sisa ikan akan dihasilkan 70 kg tepung ikan Harga tepung ikan di pasaran lokal adalah per kg. Diasumsikan mengalami kenaikan 5% per tahun Dengan total produksi sebanyak kg per tahun maka total nilai penjualan tahun-1 adalah sebesar Rp ,-. Penerimaan dari alternatif pembuatan tepung ikan setelah dikurangi biaya adalah sebesar Rp ,- per tahun.

96 Perhitungan Finansial Pembuatan Tepung Ikan
Perhitungan Biaya Alternatif Penerapan Produksi Bersih pada Industri Kerupuk Ikan Perhitungan Finansial Pembuatan Tepung Ikan No Uraian Jumlah (Rp.) A Investasi Aset B Modal Kerja Tenaga kerja Tidak Tetap Pemeliharaan Penyusutan Sub total Total

97 TERIMA KASIH


Download ppt "PENERAPAN PRODUKSI BERSIH PADA INDUSTRI"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google