Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PENTARIFAN ENERGI LISTRIK – PERTEMUAN KETUJUH MENYUSUN TARIF LISTRIK DENGAN METODE COST OF SERVICE ENERGY TARIF TEAM.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PENTARIFAN ENERGI LISTRIK – PERTEMUAN KETUJUH MENYUSUN TARIF LISTRIK DENGAN METODE COST OF SERVICE ENERGY TARIF TEAM."— Transcript presentasi:

1 PENTARIFAN ENERGI LISTRIK – PERTEMUAN KETUJUH MENYUSUN TARIF LISTRIK DENGAN METODE COST OF SERVICE ENERGY TARIF TEAM

2 Forecasting Economic Growth Macro Economic Model Impact On Electricity Growth (Demand Forecast) Development Strategy & Investment Req. Power System Expansion Model Energy Primer Model Penganggaran 1.Pendanaan (Commercial Arrangement) 2.Cost (Biaya)/Investasi dan Biaya Operasi BIAYA POKOK PENYEDIAAN (COS) Rata2/kWh TARIFF DESIGN

3 MODEL ATAU METODE YANG DIPERGUNAKAN DALAM PERHITUNGAN TARIF Cost Of Service – (Rate of Return) Backward Looking Long Run Marginal Cost – Forward Looking (Planning) - Peak Load - Medium Load - Base Load

4 4 Tujuan dari Penyusunan Tarif  Adil, dapat diterima, tarif yang tidak diskriminatif, dan memberikan kesempatan kepada Pelaku Usaha Listrik untuk menghasilkan keuntungan yang wajar dari nilai investasinya.  Metode COS/ROR sebagai langkah awal.

5 5 Tarif yang diajukan PLN VS Tarif yang dihitung dengan dasar Biaya Pokok Penyediaan (COS/ROR)

6 6 Apa implikasi yang terjadi apabila TARIF < COS ? 1. Pelaku Usaha Listrik tidak mampu mendapatkan biaya perawatan pada masa yang akan datang dan tidak mampu membayar kewajiban-kewajibannya. 2. Kalaupun Pemerintah memberikan dukungan atas kekurangan ini maka hal ini akan mengandung implikasi negatif kepada Masyarakat dan Pelaku Usaha Listrik seperti:  Sumber dana bagi kebutuhan lain dari masyarakat menjadi hilang.  Menurunkan tanggung jawab perpajakan dan mendorong terjadinya inefisiensi. 3. Terjadi pemakaian sumber-sumber energi Indonesia yang tidak efisien (tarif terlalu rendah).  Mendorong pemakaian lebih banyak energi yang tidak bermanfaat dibandingkan energi yang dipergunakan bagi aktifitas produksi atau aktifitas yang lebih bermanfaat.

7 7 Bagaimana menghitung tarif berdasarkan Cost-of-Service/Rate-of-Return? 1. Menentukan Revenue Requirement – Yaitu tingkat penerimaan yang  dapat menutupi biaya operasi PLN/SBU ditambah  tingkat keuntungan yang wajar dari nilai investasinya (Return). 2. Menentukan struktur tarif – Yaitu menentukan tingkat dan pola pembebanan kepada kelas konsumen akibat penggunaan jasa Pelaku Usaha Listrik melalui : a. Alokasi Cost, b. Disain tarif.

8 8 Menentukan Revenue Requirement  Menentukan biaya yang prospektif dan tepat yang dibutuhkan Pelaku Usaha Listrik namun dapat ditanggung oleh konsumen.  Menentukan jumlah investasi yang telah ditanamkan (Rate Base), yang didalamnya pemilik modal Pelaku Usaha Listrik mempunyai hak untuk memperoleh keuntungan.  Menentukan persentase return yang wajar.

9 9 Rumus Revenue Requirement R = E + ( V – d ) r R = Revenue Requirement E = Expenses, including(1) Operating Expenses (2) Maintenance Expenses (3) Depreciation (4) Taxes V = Value of the Rate Base, considering (1) Plant in Service (2) Working Capital d = Accumulated Depreciation r = Rate of Return, the weighted average cost of capital: (1) Debt (2) Preferred Stock (3) Common Stock or Equity

10 Data Keuangan & Penyesuaian Cost of Service Cost Allocation StudyAlokator Data Beban Total Revenue Requirement TARIF Studi Marginal CostData Tagihan Pelanggan Revenue Requirement Per kelas konsumen TAHAPAN PENENTUAN TARIF

11 11 Tahun Dasar (Test Year)  Penentuan revenue requirements didasarkan atas data biaya “tahun dasar” perhitungan.  Tahun dasar perhitungan adalah periode/tahun buku dari data biaya satu tahun yang akan dipergunakan sebagai dasar penentuan revenue requirement.  Tahun dasar yang dipergunakan menunjukan hasil operasi Pelaku Usaha Listrik selama 12 bulan – Sebaiknya penggunaan tahun dasar yang ditetapkan memiliki nilai yang prospektif baik dari sisi Penerimaan, Biaya, Rate Base, dan Struktur Modal.

12 12 Konsep Tahun Dasar (Test Year) 1. Historical Test Year Hasil operasi aktual tahun sebelumnya yang disesuaikan untuk perubahan-perubahan yang diketahui dan dapat diukur (inflasi, tingkat pemakaian/susut, perubahan kontrak-kontrak). 2. Future Test Year Memproyeksikan tingkat Penerimaan, Biaya, Rate base dan Struktur modal yang akan menjadi dasar perhitungan tarif tahun yang diproyeksikan (Hasil operasi perusahaan disesuaikan dengan rencana proyeksi). 3. Kombinasi kedua pendekatan diatas Sebagian tahun dasar didasarkan kepada hasil operasi tahun berjalan dan sebagian lainnya didasarkan atas proyeksi.

13 13 Pembahasan Tahun Dasar  Mengapa pemilihan tahun dasar penting?  Konsep tahun dasar apa yang saat ini banyak dipergunakan oleh berbagai usaha termasuk ketenagalistrikan? Mengapa?  Apa kelebihan dan kekurangan setiap konsep tahun dasar?  Pertimbangkan:  Ketepatan dan Keandalan,  Transparansi,  Pertumbuhan, dan  Tingkat perubahan.

14 14 E Expenses: R= E +(V-d)r  Tujuan:Menentukan tingkat yang wajar dari expenses yang “allowable”, prospektif dan tepat. Non-Allowable Expenses  Contoh: Biaya yang direncanakan tanpa dasar yang kuat dan tanpa perhitungan yang jelas. Biaya yang tidak memberikan nilai tambah kepada PLN/SBU (not “used and useful”) Alokasi biaya yang tidak berada pada sisi operasi PLN/SBU atau sisi non-operasi PLN/SBU Aktivitas Lobi Advertising Dukungan terhadap beberapa organisasi–organisasi  Perlakuan dalam Perhitungan tarif: Tidak termasuk dalam perhitungan Revenue Requirements

15 15 E Expenses: R= E +(V-d)r  Tujuan:Menentukan tingkat yang wajar dari expenses yang “allowable”, prospektif dan tepat.  Klasifikasi Expenses secara umum: 1.Annually Recurring Expenses (Selalu Timbul setiap Tahun) 2.Periodically Recurring Expenses (Selalu Timbul Secara Periodik) 3.Non-recurring Expenses (Tidak selalu Timbul) 4.Extraordinary Non-Recurring Expenses (Luar Biasa Tapi Tidak Selalu Timbul)

16 16 Biaya-biaya dalam Perhitungan Tarif dan Perlakuan yang Diberikan 1.Annually Recurring Expenses (Timbul setiap tahun)  Contoh: Gaji dan Upah Biaya Bahan Bakar Penyusutan  Perlakuan dalam Perhitungan tarif: Termasuk dalam perhitungan Revenue Requirements

17 17 2. Periodically Recurring Expenses (Timbul secara periodik)  Contoh: Biaya dalam penentuan tarif Biaya pengisian kembali bahan bakar Nuklir Biaya perawatan yang tidak normal Biaya dalam mengurangi Pajak Piutang Ragu (Cadangan atau penghapusan)  Perlakuan dalam Perhitungan tarif: Normalisasi – Cadangan (Allowance) Biaya/Accrued Expenses Biaya-biaya dalam Perhitungan Tarif dan Perlakuan yang Diberikan

18 18 3. Non-Recurring Expenses (Tidak selalu Timbul)  Contoh: Biaya khusus kepada PEMDA Studi Kelayakan Biaya biaya hukum  Perlakuan dalam Perhitungan tarif: Tidak dimasukkan dalam perhitungan tarif, atau Dimasukkan dalam perhitungan melalui proses normalisasi biaya. Biaya-biaya dalam Perhitungan Tarif dan Perlakuan yang Diberikan

19 19 4. Extraordinary Non-Recurring Expenses (Luar biasa tetapi tidak selalu timbul)  Contoh: Biaya disebabkan kerusakan akibat bencana alam Piutang macet yang sangat besar  Perlakuan dalam Perhitungan tarif: Amortisasi Biaya-biaya dalam Perhitungan Tarif dan Perlakuan yang Diberikan

20 20

21 21  Tujuan:Menentukan jumlah investasi yang telah ditanamkan, yang didalamnya pemilik modal mempunyai hak untuk memperoleh keuntungan.  Jumlah investasi tergambar pada “Nilai” aktiva yang terdapat dalam laporan keuangan pada tahun dasar yang dipergunakan (Proyeksi Laporan Keuangan) (V-d) Rate Base: R=E+ (V-d) r

22 22 Elemen utama dari Rate Base 1. Aktiva Tetap yang Digunakan 2. Akumulasi Depresiasi 3. Modal Kerja

23 23

24 24 Elemen dari Rate Base 1. Aktiva Tetap – Investasi pada Pembangkit, Transmisi, Distribusi dan aktiva tetap lainnya yang timbul dan dipergunakan sebagai akibat dari adanya usaha memberikan jasa pelayanan PLN/SBU.  Nilai Buku versus Nilai Ekonomis  Tahun Dasar Rata-rata tahun dasar (Average test year) Tahun dasar – Akhir tahun (Year–end test year) Tahun dasar masa yang akan datang (Future test year)  Pekerjaan dalam Proses (Aktiva)

25 25 Elemen dari Rate Base 2. Akumulasi Depresiasi – Jumlah nilai susut / pemakaian aktiva dari waktu kewaktu dengan akibat nilai aktiva yang semakin menurun.  Biaya Depresiasi adalah biaya non Kas yang berakibat menurunkan nilai pajak pendapatan, dan memberikan nilai return dari investasi. Straight-line – Garis lurus (very common) Accelerated – Dipercepat (different methods)  Akumulasi depresiasi adalah jumlah depresiasi tahun ke tahun yang merefleksikan penurunan nilai Aktiva.

26 26 Annual Depreciation Formulas  Straight line (SL)  Sum of the Years Digits (SOYD)  Declining-Balance (DB)  Accelerated Cost Recovery System (ACRS) D t = based on a predetermined schedule (in U.S., the schedule was established by tax law)

27 27 Pengaruh dari Metode Depresiasi

28 28 Pengaruh perbedaan metode depresiasi dan akibatnya  Apa pengaruh perbedaan metode depresiasi terhadap :  Revenue requirements?  Pajak ?  Investasi ?  Return (profit) ?  Resiko Bagi Investor ?

29 29 Elemen dari Rate Base 3. Modal Kerja – Dibutuhkan dalam menjalankan usaha.  Dari sisi Investor – Modal kerja digunakan untuk: Biaya Operasi & Maintenance dalam waktu tertentu Biaya cadangan Bahan Bakar Persediaan Materials dan Peralatan Materials & Supplies + Prepayments + Cash Working Capital. Cash Working Capital =[(Days Lag / 360) x Purchased Power] + [(45 / 360) x O&M Expense]

30 30


Download ppt "PENTARIFAN ENERGI LISTRIK – PERTEMUAN KETUJUH MENYUSUN TARIF LISTRIK DENGAN METODE COST OF SERVICE ENERGY TARIF TEAM."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google