Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

 Pattern Variables (variabel2 pola): Orientasi tindakan seseorang meliputi 5 jenis: 1. Affectivity vs Affective Netrality: bertindak berdasarkan afektif.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: " Pattern Variables (variabel2 pola): Orientasi tindakan seseorang meliputi 5 jenis: 1. Affectivity vs Affective Netrality: bertindak berdasarkan afektif."— Transcript presentasi:

1  Pattern Variables (variabel2 pola): Orientasi tindakan seseorang meliputi 5 jenis: 1. Affectivity vs Affective Netrality: bertindak berdasarkan afektif (perasaan, belas kasih, cinta, kasih, sayang) vs rasional (untung/rugi) 2. Diffusness vs Specificity: mencampur adukkan tindakan (mencampur adukkan urusan keluarga, akademis, ekonomis) vs tindakan yg hanya spesifik 3. Universalism vs Paticularism: tindakan sesuai dg standart2 umum (memilih jodoh yg baik) vs berdasarkan kekhusussan2 tertentu (memilih jodoh yg baik & seagama, sesuku, sekasta) 4. Achivement vs Ascribtion: memperoleh sesuatu berdasarkan usaha vs berdasarkan pemberian 5. Self Orientation vs Colectivity Orientation: tindakan bertujuan untk dirinya sendiri vs bertujuan untuk kollective (kepetingan bersama)

2  Hirarki Cybernetik: Parson FuncionCultur SystemInterrelation Latency Cultur System Information control ( Sulit Berubah) Control Energi IntegrationSocial system Goal AttainmentPersonality Control Energi AdaptationOrganisme SystemEnergic Condition (Mudah Berubah)

3  Parson mempunyai gagasan yg jelas mengenai “tingkatan” analisis sosial maupun mengenai hubungan antar berbagai tingkatan itu. Susunan hierarkhinya jelas, dan tingkat integrasi menurut sistem Parson terjadi dalam 2 cara: 1. Masing2 tingkatan yg lebih rendah menyediakan kondisi atau kekuatan yg diperlukan untuk tingkat yg lebih tinggi 2. Tingkat yg lebih tinggi mengendalikan tingkat yg berada di bawahnya Dilihat dari sudut pandang sistem tindakan, tingkat yang paling rendah berupa lingkungan fisik (yg mudah berubah), dan tingkat paling tinggi berupa kebudayaan yg berbau metafisik (yg sulit berubah). (gaya hidup (mengikuti trend)  pemerintahan  organisasi/komunitas kemasyarakatan  Fiduciari memelihara pola (mempertahankan kultur))

4  Dahrendorf’s of Eempirical Categories Legitimatized role relationship in ICA’s Dicholomous authority relations of Dominant and subordinate role Opposed quasi groups Growing arareness of opposed interests Creation of conflict group conflict Redistribution of authority in ICA’s Considered nonproblematic Intervening empirical condition

5  Teori Interaksionisme Simbolik: Manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang muncul dari interaksi sosial yang di dapat melalui proses penafsiran. Stimulus  Respon Dorongan dariPersepsiTindakan dalam danPekaknaan/Hasil, dari luar PenafsiranBerbentuk individu Manipulatif - Benda/Objek (gambar banteng simbol PDIP) - Bahasa (bahasa indonesia / daerah) - Gestur (gerak-gerik, mimik wajah, mengebu2, santun) - Tindakan (fisik/real, money politik)

6  Asumsi Fungsionalisme struktural 1. Sistem memiliki tatanan & bagian2 yg tergantung satu sama lain 2. Sistem cenderung menjadi tatanan yg memelihara dirinya atau equilibrium 3. Sistem bisa jadi statis/mengalami proses perubahan secara tertata 4. Sifat satu bagian sistem berdampak pada kemungkinan bentuk bagian lain 5. Sistem memelihara batas2 dg lingkungan mereka 6. Alokasi & integrasi adalah 2 proses fundamental yg diperlukan bagi kondisi ekuilibrium sistem 7. Sistem cenderung memelihara dirinya yg meliputi pemeliharaan batas hubungan bagian2 dg keseluruhan, kontrol variasi lingkungan, dan kontrol cenderung mengubah sistem dari dalam

7  Asumsi Aliran Konflik 1.Hubungan sosial berlangsung di dalam kerangka yg sistemik, hubungan yg demikian ini tdk lepas dari kepentingan konflik 2. Fakta ini menunjukkan bahwa semua sistem sosial secara sistematis mendorong terjadinya konflik 3. Oleh karena itu, konflik tdk terhindarkan & selalu ada di dlm setiap sistem sosial 4. Konflik sedemikian itu cenderung dimanifestasikan di dalam pertentangan kepentingan yg bersifat bipolar (terpisah 2) 5. Konflik kebanyakan terjadi akibat distribusi sumber daya langka & kekuasaan yg mengaturnya 6. Konflik adalah sumber utama terjadinya perubahan sosial di dalam sistem sosial

8  Neofungsionalisme: Robert K. Merton Menurut Merton wajah dari fungsi ada dua yaitu fungsi manifes & laten: 1. F. Manifes: Fungsi nyata yang disengaja keberadaannya Ex:  pemilu untk merealisasikan demokrasi  pendidikan membuat orang pintar, cerdas, & berpengetahuan luas untk menyelesikan permasalahan 2. F. Laten: Fungsi yg senyatanya berjalan dan keberadaannya tdk disengaja Ex:  Pemilu untk melakukan praktek2 kolusi (money politik) melalui serangan fajar  Pendidikan menciptakan penindasan krn adanya kekuasaan dosen yg menindas, pendidikan membuat masyarakat bodoh krn hanya untk mencari gelar kesarjanaan. # Masyarakat stabil apabila F. Manifes dan F. Laten berjalan selaras (seimbang)

9  Teori Pilihan Rasional: James S. Coleman Teori pilihan rasional Coleman memiliki gagasan dasar bahwa tindakan seseorang mengarah kepada suatu tujuan dan tujuan itu ditentukan oleh nilai atau pilihan. Ada dua unsur utama dalam teori ini, yaitu aktor dan sumber daya. Sumber daya adalah suatu yang menarik perhatian dan yang dapat di control oleh aktor. Batas minimal untuk system sosial tindakan adalah dua orang actor, masing-masing mengendalikan sumber daya yang menarik perhatian pihak lain. Selaku actor yang mempunyai tujuan, masing-masing bertujuan untuk memaksimalkan perwujudan kepentingannya yang memberikan ciri saling tergantung atau ciri sistemik terhadap tindakan mereka.

10  Tindakan Sosial: Talcon Parson + = Jelas - = Tidak Jelas  The Units of Voluntaris Action (Talcon Parson) Norm, Value, and other ideals Means 1 ActorMeans 2Goals Means 3 Mean n Situational Condition # Means: alat/instrumen/cara *Suatu tindakan untk mencapai tujuan harus sesuai dg nilai, norma & situasi kondisi, jika tdk maka akan terjadi disfungsi krn tdk ada keseimbangan dg peraturan/kondisi Instrumental (Alat) Cultural (Tujuan) Type of adaptation ++Conformnity -+Inovation +-Ritualism _-Retreatism + - Rebellion

11  Secara singkat teori feminisme merupakan sebuah sistem gagasan umum dengan cakupan luas tentang kehidupan sosial dan pengalaman manusia yg berkembang dari perspektif yg berpusat pada perempuan. Secara makro, feminisme dikuasai oleh 2 perspektif besar sosiologi yaitu perspektif struktural fungsional dan perspektif konflik. Secara mikro, feminisme dikuasai oleh perspektif interaksionisme simbolik dan etnometodologi

12 Perbedaan Gender Ketimpanga n Gender -> Ragam dasar teori feminis – jawaban atas pertanyaan deskriptif, “Bagaimana dengan para perempuan” -> Kedudukan perempuan, dan pengalaman mereka pada kebanyakan situasi berbeda dengan pengalaman dan kedudukan laki-laki dalam situasi ini -> Kedudukan perempuan di kebanyakan situasi tidak hanya berbeda namun juga kalah atau tidak setara dibandingkan dg laki-laki -> Perbedaan dalam teori – jawaban atas pertanyaan eksplanatoris, “Mengapa situasi perempuan seperti ini?” -> Feminisme kulturan Institusional eksistensi dan fenomenologis -> Feminisme liberal – perspektif marxian Paparan Singkat Tentang Berbagai Teori Feminisme

13 -> Penindasan gender -> Penindasan struktural -> Perempuan tertindas, bukan hanya berbeda atau tidak setara, namun juga secara aktif dikekang, disubordinasi, dikerangkakan, dan digunakan serta disalahgunakan oleh laki-laki -> Pengalaman perempuan berupa perbedaan, ketimpangan, dan penindasan berbeda menurut kedudukan sosial mereka di dalam kapitalisme, patriarki, dan rasisme -> Feminisme psikoanalitis, feminisme radikal -> Feminisme sosial, teori interseksionalitas Paparan Singkat Tentang Berbagai Teori Feminisme

14


Download ppt " Pattern Variables (variabel2 pola): Orientasi tindakan seseorang meliputi 5 jenis: 1. Affectivity vs Affective Netrality: bertindak berdasarkan afektif."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google