Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

 Yang dimaksud dengan taqdir adalah qadha’ dan qadar  Qadha’ secara etimologi merupakan bentuk masdar dari kata qadha yang berarti kehendak atau ketetapan.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: " Yang dimaksud dengan taqdir adalah qadha’ dan qadar  Qadha’ secara etimologi merupakan bentuk masdar dari kata qadha yang berarti kehendak atau ketetapan."— Transcript presentasi:

1

2  Yang dimaksud dengan taqdir adalah qadha’ dan qadar  Qadha’ secara etimologi merupakan bentuk masdar dari kata qadha yang berarti kehendak atau ketetapan hukum.  Dalam pengertian ini adalah kehendak atau ketetapan hukum Allah terhadap segala sesuatu.

3  Qadar menurut etimologi merupaka bentuk masdar dari kata qadara yang berarti ukuran atau ketentuan.  Yang dimaksud dengan ukuran atau ketentuan di sini adalah ukuran atau ketentuan Allah SWT terhadap segala sesuatu.

4  Secara terminologis para ulama ada yang menyamakan dan ada yang membedakan kedua istilah tersebut.  Qadha’ adalah penciptaan segala sesuatu oleh Allah sesuai dengan ilmu dan iradahnya.  Qadar adalah ilmu Allah tetntang apa apa yang akan terjadi pada seluruh mahluqnya pada masa yang akan datang

5  Qadha’ dan qadar adalah segala ketentuan, undang undang, peraturan dan hukum yang ditetapkan secara pasti oleh Allah untuk segala yang ada, yang mengikat antara sebab dan akibat.  Pengertian tersebut sesuai dengan penggunaan kata qadar yang ada di dalam al- Qur’an yang memiliki pengertian kekuasaan Allah untuk menentukan ukuran, susunan, aturan, undang undang segala sesuatu.

6  [13.8] Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.  [15.21] Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.

7  [54.49] Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.  [65.3] Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

8 1. AL-ILMU Allah SWT maha mengetahui segala sesuatu. Allah mengetahua apa yang telah terjadi sedang terjada dan akan yang terjadi, tidak ada satupun yang luput dari ilmu Allah SWT. [22.70] Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lohmahfuz) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.

9  [59.22] Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.  [6.59] Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).

10 2. AL-KITABAH Allah yang maha mengetahui telah menuliskan segala sesuatu di lauhil mahfudz dan tulisan itu akan tetap ada sampai hari kiamat. Apa yang telah terjadi pada masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. [22.70] Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lohmahfuz) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.

11  [57.22] Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

12 3. AL-MASYI’AH Allah SWT mempunya kehendak terhadap segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Tidak sesuatu pun yang terjadi kecuali sesuai dengan kehendaknya. Dan apapun yang dikehendak Allah pasti akan terjadi dan apapun yang tidak dikendaki pasti tidak akan pernah terjadi.

13  [76.30] Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.  [81.28] (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.  [81.29] Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.

14 4. AL-KHALQ Allah SWT menciptakan segala sesuatu. Segala sesuatu selain Allah adalah mahluq [39.62] Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. [25.2] yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran- ukurannya dengan serapi-rapinya

15  Jika masalah taqdir dihubungkan dengan perbuatan manusia seringkali melahirkan beberapa pertanyaan. 1. Jika segala sesuatu dtentukan Allah apakah manusia tidak punya pilihan untuk menentukan pilihannya ? 2. Jika segala sesuatu telah dituliskan dilauhil mahfudz lantas apa gunanya usaha ? 3. Jika Allah menciptakan kita dan perbuatan kita kenapa Allah mengadili perbuatan jahat kita 4. Jika Allah yang menyesatkan dan memberi petunjuk kepada yang Ia kehendaki kenapa Allah menyiksa orang yang tidak diberi petunjuk ? Dll.

16  Munculnya pertanyaan seperti itu sebagai akibat pemahaman terhadap ajaran islam secara parsial.  Disampai ada ayat yang menyatakan kemutlakan kehendak Allah tapi juga ayat yang memberikan kehendak kepada manusia. Demikian juga ada ayat yang menyatakan bahwa Allah yang menciptakan manusia dan perbuatannya tapi Allah juga tidak pernah menyuruh manusia berbuat ma’siat. dll

17  Dari satu sisi manusia adalah mahluk musayyar (menerima keputusan) tapi dilain pihak manusia juga sebagai mahluq mukhayyar (memiliki kebebasan untuk menerima keputusan atau menolak).  Manusia sebagai musayyar maka manusia sama seperti mahluq yang lain seperti benda, tumbuhan, hewan, dll. Seperti kelahiran, warna kulit, kematian, betuk tubuh, dll.

18  Manusia sebagai mahluq mukhayyar memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan khususnya terhadap perbuatan yang bisa di usahakan.  Katagori lain (M. Iqbal) untuk menyebut taqdir ada taqdir khusus untuk alam (musayyar) yakni taqdir yang tidak bisa dirubah, dan taqdir untuk manusia (mukhayyar) yakni taqdir yang terjadi karena usaha yang dilakukan oleh manusia.

19  Bukti bahwa manusia sebagai mahluq mukhayyar adalah sebagai berikut : 1. Di dalam Al-Qur’an Allah SWT menyebutkan secara ekplisit tentang adanya masyiah dan iradah manusia. [2.223] Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.

20 2. Adanya perintah dan larangan Allah terhadap hambanya sehingga manusia dapat memilih. [2.286] Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. 3.Allah memuji orang orang yang berbuat baik, mencela orang yang berbuat jahat dan Allah memberi balasan kepada keduanya berdasarkan amal perbuatannya.

21 4. Allah megutus para nabi dan rasul untuk memberi petunjuk, kabar gembira juga peringatan [4.165] (Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

22 5.Dalam kehidupan sehari hari amhusia melakukan atau tidak melakukan sesuatu berdasarkan kehendaknya sendiri tanpa ada paksaan dari pihak lain.

23  Kata hidayah dalam al-Qur’an memiliki 2 pengertian : 1. Ad-dilalah wal irsyad (menunjuki dan membimbing) [41.17] Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.

24  Hidayah dalam pengertian ini dapat dilakukan oleh para nabi, rasul, ulama, mubalig, guru, dan siapa saja yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk melakukannya.

25 2. Idkhalul iman ilah qalb (memasukan iman kedalam hati) [28.56] Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.

26  Hidayah dalam pengertian tersebut adalah milikik mutlaq Allah SWT. [16.93] Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.

27 1. Mereka dibekali dengan fitrah beragama yang berpotensi menerima hidayah setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka ibu bapanyalah yang mengubah anak itu menjadi yahudi, nasrani atau majusi. 2. Mereka diberi alat panca indra untuk mencari kebenaran. [17.36] Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

28 3. Mereka diberi akal untuk membedakan yang baik dan yang buruk yang haq dan bathil [67.10] Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala- nyala".

29 4. Mereka diberi hak ikhtiar untuk menerima dan menolak hidayah Allah SWT. [18.29] Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang lalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek

30 5. Kepada mereka diutus para nabi dan rasul. [18.29] Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang lalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek

31 6. Mereka hanya dibebani hal hal yang sanggup mereka memikulnya. [2.286] Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.


Download ppt " Yang dimaksud dengan taqdir adalah qadha’ dan qadar  Qadha’ secara etimologi merupakan bentuk masdar dari kata qadha yang berarti kehendak atau ketetapan."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google