Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Ekonomi Politik Industri Pertelevisian di Indonesia Media Management Session 14 Oleh: Ambang Priyonggo, M.A.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Ekonomi Politik Industri Pertelevisian di Indonesia Media Management Session 14 Oleh: Ambang Priyonggo, M.A."— Transcript presentasi:

1 Ekonomi Politik Industri Pertelevisian di Indonesia Media Management Session 14 Oleh: Ambang Priyonggo, M.A.

2 Berawal dari krisis politik... Indonesia mengalami transisi politik yang bergejolak dari era Orde Lama ke era Orde Baru pada 1967

3 Soeharto berkuasa... Soeharto sadar akan kondisi karut marut Indonesia. Ide awal dari pemerintahannya adalah menstabilkan situasi bangsa untuk menjadi lebih baik di segala bidang... Di sinilah dia menggunakan term “orde baru” sebagai pengganti “orde lama”

4 Konsep Nation Building Saat awal berkuasa, TVRI sudah mengudara dalam jangkauan yang terbatas... TVRI berdiri 1962 Mulai dapat menstabilkan keamanan, Soeharto sadar perlunya menggunakan TVRI sebagai “single tool” untuk menguatkan kebangsaan (nation building) dan pesan-pesan pembangunan.

5 Konsep Nation Building Indonesia adalah quasi state Jason P. Abbot (2001): Negara Quasi adalah negara yang memperoleh kedaulatan dari intervensi eksternal ketimbang perekat internal seperti satu kesamaan entitas etnis, ras, bahasa, agama atau budaya lokal. Perekat Indonesia: kesamaan nasib dijajah Belanda selama 3,5 abad.

6 Peluncuran Satelit Palapa 9 Juli 1976 Indonesia meluncurkan satelit Palapa A-1 Menjadi negara ‘dunia ketiga’ pertama yang punya satelit

7 Sistem Relay Menerapkan komunikasi satu arah dan dari atas ke bawah lewat repertoire tunggal, TVRI, 30 stasiun relay dibangun di penjuru Indonesia yang terkoneksi dengan Palapa serta studio TV di sembilan kota besar. Stasiun lokal boleh memproduksi berita dan program dalam porsi sedikit Kendali utama tetap di stasiun pusat

8 Hill and Sen (1999) The television system in Indonesia “in the shadow of the satellite, was far more centralized than comparable, large, state- televisions in India or China”

9 Legitimasi Kekuasaan Selain menyiarkan pesan-pesan pendidikan dan pembangunan lewat program- programnya, TVRI juga berfungsi lain: ALAT LEGITIMASI kekuasaan. Budaya paternalistik TVRI menghiasi setiap program-programnya yang anti-kritik ke penguasa.

10 Paternalistik: Bapakisme Hickson and Pugh (2001):, “an authority gained with the age and social standing as well as by organizational position…the feeling that is right to honor older and higher status people, recognizing their place and one’s own place.”

11 Iklan di TVRI Era 1970-an, operasional TVRI dibiayai iklan Pendapatan iklan sempat melonjak dengan adanya Palapa Masyarakat dan Kelompok Islam mengkritik budaya konsumerisme akibat iklan. Iklan lalu dibatasi hanya pada larut malam sejak 1977.

12 Iklan di TVRI Aturan baru itu tidak memengaruhi pendapatan iklan. Iklan naik drastis dari Rp 368 juta pada 1970 menjadi Rp 7,6 miliar di Subsidi pemerintah pada periode yang sama, turun dari 8% menjadi 1.4% dari pendapatan total TVRI.

13 Perintah Penghentian Iklan Soeharto memerintahkan penghentian iklan pada 1981 Langkah ini dinilai politis karena dia ingin “dekat” dengan kelompok Islam Subsidi ke TVRI dinaikkan menjadi Rp 10 miliar per tahun. Namun ada rahasia umum, TVRI menerapkan iklan terselubung...

14 Program Asing Terdapat program asing, kebanyakan produksi AS, namun mengalami sensor besar- besaran dari Badan Sensor Film (BSF). Alasan yang selalu ditakutkan: program asing dapat merusak budaya lokal.

15 “Infiltrasi” Saluran TV Asing Lewat parabola yang diarahkan ke satelit lain, masyarakat justru bisa mengakses saluran asing. TVRI ditinggalkan... Masyarakat yang tinggal di perbatasan, bahkan dapat menangkap siaran TV tetangga yang acaranya lebih menarik dari TVRI... Muncul wacana membolehkan TV swasta nasional

16 Tiga Motif Berdirinya TV Swasta Pertama 1. Tidak dibolehkannya iklan di TVRI— pengiklan kekurangan media hingga mengalihkannya ke door-to-door, merchandizing, video industry, dan (ironisnya) ke TV3 Malaysia.

17 Tiga Motif Berdirinya TV Swasta Pertama 2. Mempertahankan budaya dan identitas budaya bangsa dari infiltrasi budaya asing lewat tayangan TV-TV luar negeri

18 Tiga Motif Berdirinya TV Swasta Pertama 3. Kecerobohan kebijakan pemerintah tentang ekses dari teknologi satelit dan kebijakan open sky yang diperkenalkan pada pertengahan 1980-an.

19 TV Swasta muncul 1988, RCTI pertama kali mengudara dengan dekoder (TV berbayar) sebelum mengudara secara gratis Kemunculan ini BUKAN refleksi perubahan ke arah industri media yang “market-driven” atau demokratis

20 TV Swasta muncul Sebagai kebijakan untuk lebih adaptif atas adanya perubahan mediascape Kemunculannya masih dalam kerangka kontrol budaya dari pusat Soeharto masih memegang kendali karena bisnis TV swasta yang terus bertambah jatuh ke tangan keluarga dan kroninya.

21 Keluarga dan Kroni Soeharto Dimiliki oleh Grup Bimantara milik anak Soeharto, Bambang Trihatmojo ( berdiri 1989, di Surabaya) Dimiliki oleh tycoon Henry Pribadi kerjasama dengan sepupu Soeharto, Sudwikatmono

22 Keluarga dan Kroni Soeharto Dimiliki oleh putri sulung Soeharto, Siti Hardianti Rukmana (Mbak Tutut) ( berdiri 1990) Dimiliki oleh Keluarga Bakrie, kroni politik Soeharto di Golkar ( berdiri 1993)

23 Keluarga dan Kroni Soeharto Dimiliki oleh tycoon Lim Siew Liong (Om Lim), kroni Soeharto ( berdiri 1993, di Surabaya)

24 Program siar TV swasta Tidak ada pelarangan iklan dan penayangan acara-acara hiburan (walau tetap menjalani sensor) Wajib me-relay berita TVRI (Berita Nasional) pukul 7 dan laporan khusus 1995, boleh memproduksi berita sendiri  Syarat: berisi laporan kejadian yang telah berlangsung lebih dari 24 jam.

25 Program Berita Mulai Kritis Pada praktiknya, siaran berita (terutama RCTI dengan Seputar Indonesia-nya dan SCTV dengan Liputan 6-nya melaporkan kejadian yang sama harinya dengan berita TVRI Bahkan lebih awal, pukul 6 hingga pukul 6.30

26 Liputan Demo dan kerusuhan masa Reformasi (1998)

27

28 Fakta berbeda RCTI dan SCTV menayangkan berita kerusuhan, mulai berani mengutip sumber kritis TVRI mencoba “menutupi” peristiwa itu dengan hanya mengustip sumber pemerintah

29 And in a time when political dissent against New Order regime mounted among middle class audiences and also media professionals, an increasing distance from official government voice is profitable, neglecting the owners’ close relation to the regime.

30 Secara umum, TV swasta turut andil dalam upaya pelengseran Soeharto... Seperti anjing yang mengigit majikannya... Sebuah eksperimen gagal yang kini mewujud menjadi suatu mega industri...


Download ppt "Ekonomi Politik Industri Pertelevisian di Indonesia Media Management Session 14 Oleh: Ambang Priyonggo, M.A."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google