Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

REFLEKSI 20 TH PERBANKAN SYARIAH INDONESIA: Prestasi dan Tantangan ke Depan Rifki Ismal Diskusi Internal Learning Center BRI Syariah Jakarta, 24 Januari.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "REFLEKSI 20 TH PERBANKAN SYARIAH INDONESIA: Prestasi dan Tantangan ke Depan Rifki Ismal Diskusi Internal Learning Center BRI Syariah Jakarta, 24 Januari."— Transcript presentasi:

1 REFLEKSI 20 TH PERBANKAN SYARIAH INDONESIA: Prestasi dan Tantangan ke Depan Rifki Ismal Diskusi Internal Learning Center BRI Syariah Jakarta, 24 Januari

2 KONDISI EKONOMI DAN MASALAH SOSIAL EKONOMI INDONESIA 2

3 KONDISI EKONOMI DAN SOSIAL 3 Jumlah penduduk miskin masih cukup tinggi (29,9 juta jiwa-12,6% dari total penduduk) Angka pengangguran terbuka masih sekitar 15,54 juta orang (6,56% dari total penduduk) Distribusi pendapatan yang belum merata 40 juta orang Indonesia belum terlayani oleh perbankan. 27 juta usaha mikro dari 54 juta UMKM belum mendapatkan kredit perbankan.

4 KONDISI EKONOMI DAN SOSIAL 4 Ekses likuiditas berupa penempatan dana di Bank Indonesia tercatat sekitar Rp triliun Badan Pusat Statistik (BPS) menemukan rasio M2/PDB hanya 38% oleh karena: (i)rendahnya intermediasi sektor keuangan; (ii)rendahnya pemanfaatan pasar modal dan; (iii)terbatasnya instrumen investasi di pasar keuangan Rasio kredit bank per GDP Indonesia yang hanya 26% adalah paling rendah dibandingkan Malaysia (106%), Thailand (57%), Singapura (95%) dan Philipina (33%)

5 WHAT DO WE NEED TO DO? 5 Peningkatan fungsi intermediasi sektor keuangan kepada sektor riil Integrasi lembaga keuangan bank dan nonbank Penurunan biaya dana (cost of fund) Financial inclusion Social safety net Monetary Policies, Fiscal Policies dan Financial Sector Policies yang pro Growth, Pro Distribution of income, Increase Social Welfare, Mitigate the Poors

6 KARAKTER UNIK INDUSTRI PERBANKAN SYARIAH INDONESIA 6

7 7 UNIQUE VALUES OF THE INDONESIAN IB Sharia Based with Selected Sharia Compliance contracts. Real sectors oriented (around 80% financing for SMEs). Domestic Orientation (strong domestic demand, market share is still 3.8%) Coopetion with Conventional Banks An independent National Sharia Board and Fatwa Issuance Comprehensive structure of Islamic bank and non bank Financial Institutions Retail Banking instead of Investment Banking A High Annual Growth of Islamic Banking Industry (+/- 40% per year). An Average of 101% Financing to Deposit Ratio in the last 2 Decades An Increasing Trend of Investment Based Financing Social Driven Islamic Banking Development More than 200 million are Moslem Population and Support Islamic Banks Robust Domestic Economy (Less Affected by Global Financial Crisis) Supportive Social and Political Situation

8 8 Abundant Petrodollars Government society Berbeda dengan Timur Tengah yang digerakkan oleh Petrodollars dan Malaysia oleh Pemerintah/Negara, di Indonesia penggerak utama Perbankan Syariah adalah masyarakat/society (muslim population) DORONGAN SOSIAL

9 Medium and Large Business Small and Micro Business Conventional Banks Islamic Banks UUS Existing BPRS New BPRS New BPR Existing BPR Existing Community Existing Community New Community New Community Investors of BPR/S SMEs Financing is done by: Conventional Banks Islamic Banks Unit Usaha Syariah Rural Banks Islamic Rural Banks New Investors Baitul Maal Watamwill (BMT) BMT LINKAGES AMONG INSTITUTIONS

10 Executing ICB IRB MSMEs MSMEs MSMEs MSMEs Joint Financing ICB IRB Channeling ICB IRB Based on Mudharaba Based on Wakala Based on Musharaka MODEL-MODEL LINKAGE

11 ExecutingICB/BPRS BMT MSMEs MSMEs MSMEs MSMEs Joint Financing ICB/BPRS BMT Channeling ICB/BPRS BMT Based on Mudharaba Based on Wakala Based on Musharaka MODEL-MODEL LINKAGE

12 PENCAPAIAN INDUSTRI PERBANKAN SYARIAH INDONESIA 12

13 Central Bank Act No. 23 of 1999 (amended by Act No. 3 of 2004). Banking Act No 7 of 1992 (amended by Act No. 10 of 1998). Deposit Insurance Act No. 24 of 2004 Islamic Banking Act No. 21 of Islamic Sovereign Bond (Sukuk) Act No. 19 of Government Law No. 25 of 2009 (income tax for sharia transactions). Tax Neutrality in Government Law no. 42 of ASPEK HUKUM

14 LINKAGE OF INSTITUTIONS

15 National Sharia Board National Islamic Arbitrage Board Indonesian Institute of Accountants Certification Institutions for Microfinance Professionals BANK INDONESIA Fatwas Regulations: licensing & supervision Capicity Building TA, advocacy & Participation in Policy Dialogue Statement of Financial Accounting Standard Dispute Mediation A wholesale Apex for Financing MSMEs Projects Certification for BoD Deposit Insurance Corporation INFRASTRUKTUR BANK SYARIAH

16 Mewujudkan perbankan syariah yang handal, efisien dan menjadi pilihan utama masyarakat yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan (visi 2020) SDM berkualitas tinggi Infrastruktur yang mendukung Aliansi strategis yang sinergis Pengembangan Produk dan Pasar Regulasi dan Supervisir yg efektif Struktur Perbankan yang efektif Pemberdayaan nasabah yang efektif 7 Pilar Pengembangan Legal foundations, related regulatory standards, standard setting, and fatwas SyariahAkhlaqUkhuwah Aqidah BLUE PRINT PERBANKAN SYARIAH

17 PRESTASI INDUSTRI PERBANKAN SYARIAH INDONESIA 17

18 18 Based on BMB Islamic index called Islamic Finance Country Index (IFCI) published in the Global Islamic Finance Report (GIFR) in 2011, Indonesia is ranked in number 4 after Iran, Malaysia and Arab Saudi with regard to the development of Islamic finance. VARIABLES AND % WEIGHTS VARIABLES% WEIGHTS Number of Islamic Banks21,8 Central Sharia Supervisory Regime19,7 Number of Institutions involeved in Islamic Finance Industry 20,3 Size of Islamic Financial Assets13,9 Size of Sukuk6,6 Muslim Population7,2 Education and Culture5,7 Regulatory and Legal Infrastructure4,9 INTERNATIONAL RECOGNICITON

19 19 INDONESIAN SCHOLARS GO INTERNATIONAL Prof. Bambang PS. Brodjonegoro, mantan Director General IRTI - IDB. Dr. Syafii Antonio, mantan Sharia Advisory Council-Bank Negara Malaysia. Mr. Cecep M. Hakim, Sharia Board - IILM Mr. Adiwarman A. Karim, Sharia Board – IIFM Dr. Dadang Muljawan, Senior economist, IRTI-IDB Dr. Hylmun Izhar, economist, IRTI-IDB Mr. Kunrat, Acting Head of IDB – Kuala Lumpur Associate Prof. Ugi Suharto, Lecturer of Islamic finance, Bahrain Prof. Muh. Rusydi, Director, Australian Center for Islamic Finance Studies Dr. Irfan Sauki Beik, member of Association of Islamic Economist

20 TANTANGAN INDUSTRI PERBANKAN SYARIAH INDONESIA 20

21 Government conducts fiscal policies OJK conducts financial sector policies Bank Indonesia conducts monetary policies More than USD900 billion funds managed by OJK OTORITAS EKONOMI

22 Coordination Among 3 Authorities 22

23 PENTINGNYA OJK 23 OJK akan mengawasi, memeriksa dan mengatur dana sebesar Rp8000-Rp9000 triliun di lembaga keuangan bank dan non bank termasuk pasar keuangan OJK akan menjembatani kebutuhan pendanaan perekonomian baik dari swasta maupun pemerintah Bekerjasama dengan otoritas fiskal dan moneter, OJK penyedia dana utama pembangunan dan menentukan keberhasilan pembangunan ekonomi Indonesia Otoritas keuangan yang membawahi semua institusi syariah (LKB syariah, LKNB syariah dan pasar keuangan syariah) Pengembangan LKB syariah dan LKNB syariah di Bank Indonesia dan Pemerintah pindah ke OJK

24 OJK DI NEGARA-NEGARA MAJU 24 OJK pernah diterapkan oleh Inggris, Islandia, Swedia, Korea, Jerman dan Jepang Tujuannya agar pengawasan dan pengaturan sektor keuangan menjadi lebih terintegrasi, terpusat dan independen OJK di negara-negara tersebut gagal beroperasi dan fungsinya dikembalikan kepada Bank Sentral Financial Service Authority (FSA) di Inggris mengatur dan mengawasi LK di pasar modal, perbankan bahkan asuransi. FSA ditutup 16 Juni 2010 oleh George Osborne (Chancellor of the Exchequer). Sebab utama kegagalan FSA: (a) lemahnya internal FSA dan, (b) lemahnya koordinasi dengan bank sentral dan kementerian keuangan

25 SEBAB KEGAGALAN FSA 25 FSA cenderung reaktif (bukan proaktif) dan kurang menanggapi signal risiko di bank. FSA juga terlalu berfokus kepada customer protection dan kondisi individual perbankan. Padahal, sistem perbankan dan stabilitas keuangan tidak terlepas kaitannya dengan micro prudential (kewenangan FSA) dan macro prudential (kewenangan bank sentral). Kapabilitas staf FSA kurang mumpuni di bidangnya dan gagal menciptakan: (i) kepercayaan pasar; (ii) stabilitas keuangan; (iii) perlindungan konsumen dan; (iv) minimalisasi kejahatan keuangan Walaupun sudah dibentuk Tripartit Agreement antara FSA, Bank of England dan kementerian keuangan Inggris, koordinasinya sulit dilaksanakan

26 SYARAT SUKSES OJK 26 Kordinasi kebijakan internal dan eksternal. Ini penting agar tercipta sinkronisasi dan kesatuan arah kebijakan sektor keuangan baik antar sub sektor keuangan di OJK maupun dengan kebijakan moneter/macroprudential oleh Bank Indonesia dan kebijakan fiskal oleh pemerintah Efisiensi akan mewujudkan operasional OJK yang efisien dari sisi biaya operasi, struktur birokrasi, komunikasi dan informasi dan aspek-aspek lainnya Optimalisasi fungsi sektor keuangan untuk kesejahteraan rakyat termasuk perlindungan nasabah. Optimalisasi fungsi sektor keuangan dilakukan untuk meningkatkan peran lembaga keuangan bank dan non bank di dalam perekonomian Indonesia.

27 MASALAH INDUSTRI PERBANKAN SYARIAH INDONESIA 27

28 28 MASALAH PENDANAAN

29 PROSPEK INDUSTRI PERBANKAN SYARIAH INDONESIA 29

30 30 Retail Konsumtif Retail Produktif (SMEs) Corporate Government Unbankable (micro) Bisnis Model  Investment Banking  Development/ Infrastructure Banking  Special Purpose Banking for Hajj  Agriculture Banking  Infrastructure Banking  Corporate/Wholesale Banking  Investment Banking  Commercial Banking  Retail Business Banking  Consumer Banking  Retail Banking  Micro Banking  Branchless Banking  Community Banking (for women) Potensial Market Sektor usaha di Indonesia diidominasi UMKM dg pangsa 99.9% ( unit) Pangsa Kredit Perbankan ke sektor UMKM 20.7% (481.2 T) 50% populasi dewasa belum memiliki akses finansial formal Total penyaluran dana KUR Pemerintah T(2011) Target populasi Buruh Migran domestik & internasional dan masyarakat terpencil Dana Haji  Daftar tunggu Calon Haji mencapai sekitar 1 juta orang (Mei 2012). Potensi dana haji sekitar Rp 25 T, 19% dikelola bank syariah (4,5 T). Dana pembangunan infrastruktur yang disalurkan melalui Kementerian Pekerjaan Umum Rp 75,15 triliun Kebutuhan dana pembangunan infrastruktur untuk mendukung MP3EI sd 2025 sebesar Rp triliun Sektor Pertambangan 150 T Pembiayaan IDB untuk swasta dalam negeri senilai US$1,1 miliar hingga High net worth individual (HNWI) Indonesia Oktober 2011 mencapai 112 ribu orang (Credit Suisse Research Institute) Investor lokal di Indonesia (Juni 2012) sebanyak orang atau 0,2 persen dari total penduduk Indonesia  Middle Class meningkat  GDP meningkat, angka kemiskinan menurun, konsumsi masy meningkat  Nasabah Mass Affluent dengan Layanan 24/7  Peningkatan kelas menengah 9 juta jiwa/tahun+baglock perumahan 13,6 juta unit  Total kebutuhan rumah per tahun bisa mencapai 2,6 juta rumah (REI)  Proyeksi penjualan mobil tahun 2012 mencapai 875,000 unit (GAIKINDO) POTENSI PENGEMBANGAN PASAR

31 PENDEKATAN KE POTENSIAL DEPOSITORS? Edukasi, sosialisasi via key opinion leader (Ustand kondang). Pendekatan ke HNWI: pengusaha, konglomerat muslim, dll Komunikasi dengan pejabat pemerintah: Kemenkeu, kementerian BUMN, Kementerian agama, dll Pendekatan kepada pimpinan ormas

32 OUTLOOK TOTAL ASET

33 OUTLOOK TOTAL DPK

34 OUTLOOK TOTAL FINANCING

35 35 Pembiayaan Perbankan Syariah yang Lebih Mengarah kepada Sektor Ekonomi Produktif dan Masyarakat yang Lebih Luas. Pengembangan Produk yang Lebih Memenuhi Kebutuhan Masyarakat dan Sektor Produktif Transisi Pengawasan yang Tetap Menjaga Kesinambungan Pengembangan Perbankan Syariah Revitalisasi Peningkatan Sinergi Dengan Bank Induk Peningkatan Edukasi dan Komunikasi dengan Terus Mendorong Peningkatan Kapasitas Perbankan Syariah pada Sektor Produktif serta Komunikasi “parity” dan “distinctiveness” Produk Perbankan Syariah ARAH KEBIJAKAN 2013

36 36 Terima kasih atas perhatian anda


Download ppt "REFLEKSI 20 TH PERBANKAN SYARIAH INDONESIA: Prestasi dan Tantangan ke Depan Rifki Ismal Diskusi Internal Learning Center BRI Syariah Jakarta, 24 Januari."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google