Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Penerapan Fungsi Linier Dalam Bisnis dan Ekonomi_Pert.11-12-13. √ Fungsi Permintaan, Penawaran dan Titik Keseimbangan Pasar. √ Pengaruh Pajak Spesifik.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Penerapan Fungsi Linier Dalam Bisnis dan Ekonomi_Pert.11-12-13. √ Fungsi Permintaan, Penawaran dan Titik Keseimbangan Pasar. √ Pengaruh Pajak Spesifik."— Transcript presentasi:

1 Penerapan Fungsi Linier Dalam Bisnis dan Ekonomi_Pert √ Fungsi Permintaan, Penawaran dan Titik Keseimbangan Pasar. √ Pengaruh Pajak Spesifik dan Proporsional terhadap Equlibrium √ Pengaruh subsidi terhadap Equilibrium dan Fungsi Utilitas

2 Fungsi Permintaan  Permintaan adalah keinginan konsumen membeli suatu barang pada berbagai tingkat harga selama periode waktu tertentu.  Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan : Harga barang itu sendiri, harga barang lain yg terkait, Tingkat Pendapatan per Kapita, Selera atau kebiasaan, Jumlah penduduk, Perkiraan harga mendatang, Distribusi pendapatan dan Promosi penjualan.  Fungsi permintaan dapat digambarkan dengan diagram dua dimensi berupa dua variabel saja (kuantitas dan harga barang) faktor lainnya dianggap tidak berubah (ceteris paribus) "all other things being equal."

3 Qx = f (Px, Py, Pz, M, S,..)  Hukum Permintaan : Jika harga suatu barang naik, maka ceteris paribus jumlah barang yang diminta konsumen akan turun, dan sebaliknya. Contoh : suatu jam tangan akan terjual 10 jika harganya Rp.80 dan dan laku terjual 20 jika berharga Rp.60. tunjukkan fungsi permintaan dan gambarkan grafiknya ? Diketahui : P1=80, Q1=10 ; P2=60, Q2=20 P - P1 = P2-P1 (Q-Q1) → P-80 = -2Q + 20 P - P1 = P2-P1 (Q-Q1) → P-80 = -2Q + 20 Q2-Q1 → Q = 100 – P = 50 – 0,5 P Q2-Q1 → Q = 100 – P = 50 – 0,5 P 2

4 P Q 0 50 Q Fungsi Penawaran  Menghubungkan harga barang di pasar dengan jumlah barang yang ditawarkan produsen pada berbagai tingkat harga pada satu periode tertentu (Hubungan matematis dgn Faktor..)  Faktor-faktor yang memepengaruhi Penawaran Sx = f (Px, Py, Pi, C, Tek, Pdg, Tuj, Keb.)

5 contoh : harga kaos tertentu Rp.65 ada 125 yang tersedia di pasar, kalau harganya Rp.75 maka di pasar akan tersedia 145. tunjukkan persamaan penawarannya ? contoh : harga kaos tertentu Rp.65 ada 125 yang tersedia di pasar, kalau harganya Rp.75 maka di pasar akan tersedia 145. tunjukkan persamaan penawarannya ? Diketahui : P1=65, Q1=125 ; P2=75, Q2 = 145 Diketahui : P1=65, Q1=125 ; P2=75, Q2 = 145 P - P1 = P2-P1 (Q-Q1) → P-65 = 10/20 (Q – 125) P - P1 = P2-P1 (Q-Q1) → P-65 = 10/20 (Q – 125) Q2-Q1 → P = ½ Q + 2 1/2 Q2-Q1 → P = ½ Q + 2 1/2 P → Q = 2P - 5 P → Q = 2P - 5 2,5 2, Q -5 0 Q

6  Fungsi permintaan dan penawaran bersama-sama membentuk keseimbangan pasar, yang terjadi apabila jumlah barang yang ditawarkan sama dengan jumlah barang yang diminta dan harga yang ditawarkan sama dengan harga yang diminta. contoh : dapatkan titik keseimbangan pasar dari fungsi permintaan (Fd) : P d = 10 – 2 Q d dan fungsi penawaran (Fs) : P s = 3/2 Q s + 1, dimana keseimbangan pasar terjadi, apabila memenuhi syarat : Q d = Q s ; P d = P s. Q d = Q s ; P d = P s.

7 Q d = Q s, Pd = Ps ; Q d = Q s, Pd = Ps ; Dimana : Pd = 10 – 2 Q d, dan P s = 3/2 Q s + 1  10 – 2 Q = 3/2 Q + 1  -3/2 Q – 2 Q = /2 Q = -9  Q = -9 x -2/7 = 18/7 = 2 4/7 -7/2 Q = -9  Q = -9 x -2/7 = 18/7 = 2 4/7  P = 10 – 2(2 4/7) = 10 – 5 1/7 = 4 6/7 Jadi keseimbangan tercapai pada harga 4 6/7 dan kuantitas 2 4/7. P P s = 3/2 Q s + 1 P s = 3/2 Q s + 1 P d = 10 – 2 Q d P d = 10 – 2 Q d 0 Q 0 Q

8 Pengaruh Pajak  Ceteris paribus (faktor-faktor yang dianggap tetap) dalam fungsi penawaran adalah teknologi, pajak dan subsidi. Jika fungsi permintaan dan penawaran akan suatu barang : Q d = 15 - P d,dan Q s = 2P s – 6. Pajak dikenakan Rp.3,- √ Kesimbangan Sebelum pajak : Q d = Q s, Pd = Ps ; 15 - P = 2P – 6  3P = 21  P = 7, maka Q = = 8, Jadi Equilibrium sebelum pajak pada titik (8, 7).  Setelah ada pajak, fungsi permintaan tidak berubah, yaitu : Q d = 15 - P d dan fungsi penawaran berubah, yaitu : Q s = 2P s – 6 menjadi Q st = 2P st – 6 = 2 (P s -3) – 6 Q st = 2 (P s -3) – 6 = 2P s – 6 – 6 = 2P s -12 Q st = 2 (P s -3) – 6 = 2P s – 6 – 6 = 2P s -12 Q d = Q st : 15 – P = 2P – 12  3P = 27  P = 9 Maka Q = 15 – 9 = 6. Maka Q = 15 – 9 = 6. Jadi titik keseimbangan pasar yang baru (E 2 ) setelah dikenakanpajak oleh pemerintah pada (9, 6)

9  Besar pajak perunit yang ditanggung konsumen berupa selisih antara harga setelah dikenakan pajak dengan harga sebelum ada pajak. Untuk kasus diatas besar pajak yg ditanggung konsumen sebesar : 9 – 7 = Rp.2,- dan yang ditanggung produsen sebesar : 3 – 2 = Rp.1,-  Pajak Proporsional adalah pajak yang dikenakan terhadap suatu barang tertentu, yang diperhitungkan sebesar persentase (%) tetap dari hasil penerimaannya, contohnya pajak penjualan disimbolkan dengan “ r ”. Fungsi penawaran (S) : p = f (q)  p 1 = f(q) (1+r) = p (1+r) Kalo pajakperunit: q = f(p) dimana p 1 =f(q)+t  q 1 = f(p 1 – t) Contoh : Diketahui fungsi permintaan suatu barang adalah p = 8 – 1/2q dan fungsi penawaran barang tersebut adalah p = 2 + 2q Terhadap barang ini dikenakan pajak sebesar r = 20 %

10 Ditanya : carilah titik keseimbangan pasar sebelum dan sesudah pajak dan gambarkan grafiknya. Jawab : a. Titik Equilibrium sebelum pajak, E atau E 0 : D : P = 8 – ½ q, dan S : P = q, syarat Eq : D = S D : P = 8 – ½ q, dan S : P = q, syarat Eq : D = S 8 – ½ q = q  5/2 q = 6  q = 2,4, maka p = 6,8 8 – ½ q = q  5/2 q = 6  q = 2,4, maka p = 6,8 Jadi titik equilibrium sebelum pajak : E 0 = (2,4 ; 6,8) Jadi titik equilibrium sebelum pajak : E 0 = (2,4 ; 6,8) b. Titik Equilibrium setelah pajak, E t atau E 1 : D : P = 8 – ½ q, dan S 1 : P = (2 + 2 q) 6/5, D : P = 8 – ½ q, dan S 1 : P = (2 + 2 q) 6/5, syarat Eq : D = S 1 syarat Eq : D = S 1 8 – ½ q = 2,4 + 2,4 q  2,9q = 5,6  q = 1,93 8 – ½ q = 2,4 + 2,4 q  2,9q = 5,6  q = 1,93 maka p = 7,03. maka p = 7,03. Jadi titik equilibrium setelah pajak : E 1 = (1,93 ; 7,03) Jadi titik equilibrium setelah pajak : E 1 = (1,93 ; 7,03)

11 P S 1 P S 1 8 S 0 8 S 0 2,4 2, Q Q Tambahan : Pajak yang ditangung konsumen : dari E 0 = (2,4 ; 6,8) dan E 1 = (1,93 ; 7,03), maka 7,03 – 6,8 = Rp.0,23,- Pajak yang ditangung konsumen : dari E 0 = (2,4 ; 6,8) dan E 1 = (1,93 ; 7,03), maka 7,03 – 6,8 = Rp.0,23,- Pajak yang ditanggung produsen, lihat kenaikan P 0 ke P 1 Pajak yang ditanggung produsen, lihat kenaikan P 0 ke P 1 maka ada kenaikan sebesar : P 1 – P 0 = 2 – 2,4 = Rp.0,4,- maka ada kenaikan sebesar : P 1 – P 0 = 2 – 2,4 = Rp.0,4,- Jadi pajak perunit yangg ditanggung produsen sebesar : Jadi pajak perunit yangg ditanggung produsen sebesar : Rp.0,4 – Rp.0,23= Rp.0,17,- Rp.0,4 – Rp.0,23= Rp.0,17,- Total Pajak Konsumen : 1,93 x Rp.0,23 = Rp0,4439,- Total Pajak Konsumen : 1,93 x Rp.0,23 = Rp0,4439,-

12 Total Pajak Produsen : 1,93 x Rp.0,17 = Rp.0,3281,- Total Pajak Produsen : 1,93 x Rp.0,17 = Rp.0,3281,- Total Pajak Barang keseluruhan : Total Pajak Barang keseluruhan : TP.Konsumen + TP.Produsen = Rp.0, Rp.0,3281 TP.Konsumen + TP.Produsen = Rp.0, Rp.0,3281 = Rp.0,772,- = Rp.0,772,- atau : 1,93 x Rp.0,4 = Rp.0,772,- atau : 1,93 x Rp.0,4 = Rp.0,772,-Subsidi merupakan kebalikan dari pajak dan meyebabkan harga jual barang menjadi lebih murah karena biaya produksi menjadi lebih ringan. Sehingga keseimbangan pasar setelah subsidi harga menjadi lebih rendah dan kuantitas barang lebih banyak. Contoh : Fungsi permintaan dan penawaran barang ditunjukkan oleh persamaan : Q d = 10 – P d dan Q s = P s Pemerintah mengenakan sudsidi sebesar Rp.2,- setiap unitnya

13 Pertanyaan nya : a. Hitung harga dan jumlah keseimbangan sebelum subsidi b. Hitung harga dan jumlah keseimbangan setelah subsidi c. Berapa pengeluaran pemerintah untuk subsidi d. Gambarkan grafiknya Jawab : a. Keseimbangan pasar (E) sebelum subsidi : Syarat keseimbangan Q d = Q s dan P d = P s Syarat keseimbangan Q d = Q s dan P d = P s 10 – P = P  3P = 16  P = 5 1/3 dan Q = 4 2/3 10 – P = P  3P = 16  P = 5 1/3 dan Q = 4 2/3 Jadi harga keseimbangan sebelum subsidi : P = Rp.5 1/3 Jadi harga keseimbangan sebelum subsidi : P = Rp.5 1/3 dan jumlah keseimbangan barang sebelum subsidi :Q=4 2/3 dan jumlah keseimbangan barang sebelum subsidi :Q=4 2/3 b. Keseimbangan pasar (E 1 ) sebelum subsidi : Syarat keseimbangan Q d = Q s1 dan P d = P s1 Syarat keseimbangan Q d = Q s1 dan P d = P s1 10 – P = P s1  10 – P = (P + s) 10 – P = P s1  10 – P = (P + s)  10 – P = (P + 2)  10 – P = P + 4  10 – P = (P + 2)  10 – P = P + 4  3P = 12  P 1 = 4, maka Q 1 = = 6  3P = 12  P 1 = 4, maka Q 1 = = 6 Jadi harga keseimbangan setelah subsidi : P = Rp.4,- Jadi harga keseimbangan setelah subsidi : P = Rp.4,-

14 dan jumlah keseimbangan barang setelah subsidi :Q = 6 unit Subsidi yang dinikmati konsumen : P 1 -P 0 = 5 1/3 – 4 = 1 1/3 Subsidi yang dinikmati produsen : s – (P 1 -P 0 ) = 2-1 1/3= 2/3 c. Pengeluaran Pemerintah untuk subsidi : Q 1 x s = 6 x 2 = Rp.12,- Q 1 x s = 6 x 2 = Rp.12,- d. Grafiknya : P S 0 = P P S 0 = P 10 S 1 = P 10 S 1 = P 5 1/3 5 1/3 3 D 0 =D 1 = 10 - P 3 D 0 =D 1 = 10 - P /3 10 Q 0 4 2/3 10 Q

15 Fungsi Utilitas Tujuan yang ingin dicapai konsumen dalam teori perilaku konsumen adalah kepuasan. Utilitas (utility) adalah manfaat yang diperoleh karena mengkonsumsi barang (comodities) Utilitas (utility) adalah manfaat yang diperoleh karena mengkonsumsi barang (comodities) Barang (comodities) adalah benda dan jasa yang dikonsumsi untuk memperoleh manfaat dan kegunaan Barang (comodities) adalah benda dan jasa yang dikonsumsi untuk memperoleh manfaat dan kegunaan Utilitas merupakan ukuran manfaat suatu barang dibanding dengan dengan alternatif penggunaannya :  Utilitas total (total utility/TU) : manfaat total yang diperoleh dari seluruh barang yang dikonsumsi.  Utilitas marjinal (marginal utility/MU) : tambahan manfaat yang diperoleh karena menambah konsumsi sebanyak satu unit barang.

16  Hukum Pertambahan Manfaat yang Makin Menurun (The Law of Diminishing Marginal Utility/LDMU) : Pada awalnya penambahan konsumsi suatu barang akan memberi tambahan utilitas yang besar, tetapi makin lama pertambahan itu bukan saja menurun, nahkan menjadi negatif. Yang dikenal sebagai hukum Gossen untuk menjawab berlian dengan air.  Konsistensi Preferensi (transitivity), preferenssi berkaitan dengan kemampuan konsumen menyusun prioritas pilihan agar dapat mengambil keputusan. Minimal ada dua sikap, Yaitu : lebih suka (prefer, >) dan atau sama- sama suka (indifference, =) dan syarat lainnya konsistensi preferensi sebagai konsep Transitivitas (transitivity)  x > y dan Y > Z, maka x > z  Pengetahuan Sempurna (perpect knowledge), konsumen diasumsikan memiliki informasi dan pengetahuan yang sempurna dengan keputusan konsumsinya.

17 1. Teori Kardinal (Cardinal Theory), menyatakan bahwa kegunaan dapat dihitung secara nominal, seperti panjang dengan meteran. MU = P, prinsip berlaku untuk semua barang, sehingga konsumen mencapai kepuasan maksimum : MUx = Px Harga Baju perhelai Jumlah yang dikonsumsi Uang Yang dikeluarkan Kegunaan Total / TU Tambahan Kegunaan / MU

18 2. Teori Ordinal (Ordinal Theory), kegunaan tdk dapat dihitung; hanya dapat dibandingkan. Untuk menjelaskannya digunakan kurva indiferensi (indifference curve) yang menunjukkan berbagai kombinasi konsumsi dua macam barang yang memberikan tingkat kepuasan yang sama. U = X. Y Makan Bakso (mangkok per bulan) Makan sate (porsi per bulan) 25 kali4 porsi 20 kali5 porsi 10 kali10 porsi 5 kali20 porsi 4 kali25 porsi


Download ppt "Penerapan Fungsi Linier Dalam Bisnis dan Ekonomi_Pert.11-12-13. √ Fungsi Permintaan, Penawaran dan Titik Keseimbangan Pasar. √ Pengaruh Pajak Spesifik."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google