Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

1 Pemberian bias pada rangkaian BJT Masalah pemberian bias berkaitan dengan: 1. penentuan arus dc pada collector (Ic) yang harus dapat dihitung, diprediksi.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "1 Pemberian bias pada rangkaian BJT Masalah pemberian bias berkaitan dengan: 1. penentuan arus dc pada collector (Ic) yang harus dapat dihitung, diprediksi."— Transcript presentasi:

1 1 Pemberian bias pada rangkaian BJT Masalah pemberian bias berkaitan dengan: 1. penentuan arus dc pada collector (Ic) yang harus dapat dihitung, diprediksi dan tidak sensitif terhadap perubahan suhu dan variasi harga β yang cukup besar. 2. penentuan lokasi titik kerja dc pada bidang i C – v CE yang memungkinkan simpangan sinyal tetap linier.

2 2 Gambar 19. Pemberian bias pada BJT (a) Menetapkan harga V BE yang tetap (b) Menetapkan harga I B yang tetap Contoh pemberian bias

3 3 Cara klasik pengaturan bias Gambar 20(a). Cara klasik pemberian bias untuk BJT menggunakan sebuah catu daya. (b) menunjukkan rangkaian yang sama dengan menggunakan rangkaian ekivalen Thévenin-nya.

4 4 Contoh soal : Tentukan harga tegangan pada semua simpul dan arus pada semua cabang (yaitu : IB, IE, IC, VB, VE, VC). Asumsikan β = 100

5 5 Jawab: Gunakan teori Thévenin untuk menyederhanakan rangkaian pada base.

6 6 Asumsikan transistor bekerja pada mode aktif: I C = αI E = 0,99 x 1,29 = 1,28 mA V C = +15 – I C R C = 15 – 1,28 x 5 = 8,6 V Jadi tegangan collector > 4,03 V dari tegangan base → transistor bekerja pada mode aktif

7 7 β = 100 Gambar 18

8 8

9 9 Untuk membuat I E tidak sensitif terhadap suhu dan variasi β, rangkaian harus memenuhi dua syarat berikut: Untuk memenuhi persyaratan di atas. Sebagai ‘rule of thumb’, V BB ≈ ⅓ V CC, V CB (atau V CE ) ≈ ⅓ V CC dan I C R C ≈ ⅓ V CC Pilih R 1 dan R 2 sehingga arus yang melaluinya berkisar antara 0,1I E – I E.

10 10 Pada rangkaian pada gambar di bawah ini, R E memberikan umpan balik negatif sehingga dapat men-stabil-kan arus dc emitter (I E ). Jika I E ↑ → V RE dan V E ↑. Jika tegangan pada base hanya ditentukan oleh pembagi tegangan R 1, R 2, dengan R B kecil, maka tegangan ini akan tetap konstan, sehingga jika V E ↑ → V BE ↓ → I C (dan I E ) ↓.

11 11 Contoh soal 5: Rancanglah rangkaian seperti gambar di samping, sehingga I E = 1 mA dengan catu daya V CC = +12V. Transistor mempunyai harga nominal β = 100. (di sini kita menentukan nilai, RE, R1, dan R2, RC) Jawab: Ikuti ‘rule of thumb’: ⅓ tegangan catu daya dialokasikan untuk tegangan pada R 2, ⅓ lainnya untuk tegangan pada R C dan sisanya untuk simpangan sinyal pada collector. V B = +4 V (diperoleh dari 1/3 Vcc) V E = 4 – V BE ≈ 3,3 V Pilih arus pada pembagi tegangan = 0,1I E = 0,1 x 1 …. Syarat rule = 0,1 mA

12 12 Abaikan arus base, jadi Total R1 dan R2 adalah Jadi R 2 = 40 kΩ dan R 1 = 80 kΩ Pada tahap ini, dapat dihitung I E yang lebih akurat dengan memperhatikan arus base yang tidak nol. Ternyata lebih kecil dari harga yang diinginkan. Untuk mengembalikan I E ke harga yang diinginkan kurangi harga R E dari 3,3 kΩ menjadi R E = 3 kΩ (harga pendekatan) yang akan menghasilkan I E = 1,01 mA ≈ 1 mA. Krn VR2 = VB dng syarat rule of thumbs VB = 1/3 Vcc

13 13 Disain 2: jika diinginkan untuk menarik arus yang lebih tinggi dari catu daya dan resistansi masukan penguat yang lebih kecil, kita dapat menggunakan arus pada pembagi tegangan sama dengan I E (yaitu 1 mA), maka R 1 = 8 kΩ dan R 2 = 4 kΩ Pada disain ini harga R E tidak perlu diganti (atau tetap sebesar 3,3 Kohm. Jika Vc=1/3 (Vcc), maka Rc

14 14 Cara klasik pengaturan bias dengan menggunakan dua catu daya Gambar 21. Pemberian bias pada BJT dengan menggunakan dua catu daya

15 15 Persamaan ini sama dengan persamaan sebelumnya hanya V EE menggantikan V BB. Jadi kedua kendala tetap berlaku. Jika base dihubungkan dengan ground (konfigurasi common-base), maka R B dihilangkan sama sekali. Sebaliknya, jika sinyal masukan dihubungkan pada base, maka R B tetap diperlukan.

16 16 Pemberian bias dengan menggunakan resistor umpan balik collector-ke-base. Gambar 22(a) menunjukkan sebuah rancangan pemberian bias yang sederhana tapi efektif yang cocok untuk penguat common- emitter. Resistor R B berperan sebagai umpan balik negatif, yang membantu kestabilan titik bias dari BJT

17 17 Gambar 22 Penguat common-emitter yang diberi bias dengan resistor umpan balik R B. Untuk mendapatkan I E yang tidak sensitif terhadap variasi β, R B /(β+1) << R C. Harga R B menentukan simpangan sinyal yang terdapat pada collector, karena

18 18 Pemberian bias dengan menggunakan sumber arus Gambar 23 (a) Sebuah BJT diberi bias dengan sumber arus I. (b) Implementasi rangkaian sumber arus I.

19 19 Rangkaian ini mempunyai keunggulan: yaitu arus emitter tidak tergantung dari harga β dan R B. → R B dapat dibuat besar → resistansi masukan pada base meningkat tanpa mengganggu kestabilan bias. menyederhanakan rangkaian. Implementasi sederhana dari sumber arus konstan I, terlihat pada gambar 23(b). Rangkaian menggunakan sepasang transistor yang ‘matched’ Q 1 dan Q 2, dengan Q 1 dihubungkan sebagai dioda dengan menghubung – singkat collector dan base nya. Jika diasumsikan Q 1 dan Q 2 mempunyai harga β yang tinggi, arus base dapat diabaikan. Jadi arus melalui Q 1 hampir sama dengan I REF.

20 20 Karena Q 1 dan Q 2 mempunyai V BE yang sama, arus collectornya akan sama Hubungan Q 1 dan Q 2 seperti pada gambar 23(b) dikenal sebagai ‘current mirror’

21 21 Cara kerja dan model sinyal kecil (Analisis AC) Gambar 24 (a) Rangkaian konseptual untuk menunjukkan cara kerja transistor sebagai penguat (b) Rangkaian (a) tanpa sinyal v be untuk analisa DC (bias)

22 22 EBJ diberi forward bias oleh sebuah batere V BE. CBJ diberi reverse bias oleh catu daya DC V CC melalui resistor R C. Sinyal yang akan diperkuat, v be, ditumpangkan pada V BE. Langkah pertama keadaan bias DC dengan men-set v be sama dengan nol. (Lihat gambar 24(b)) Hubungan antara arus dan tegangan DC: Untuk bekerja pada mode aktif, V C harus lebih besar dari (V B – 0,4) dengan harga yang memungkinkan simpangan sinyal pada collector.

23 23 Arus collector dan transkonduktansi. Jika sinyal v be dipasangkan seperti pada gambar 24(a) total tegangan base – emitter v BE menjadi v BE =V BE + v be Sinyal dc+ac = sinyal dc + sinyal ac Dan arus collector menjadi:

24 24 Jika v be << V T maka: Persamaan (pendekatan) di atas hanya berlaku untuk v be lebih kecil dari 10 mV, dan ini dikenal dengan pendekatan sinyal kecil. Maka arus collector total: g m disebut transkonduktansi

25 25 Gambar 25.Cara kerja linier dari transistor dengan sinyal kecil

26 26 Transkonduktansi BJT sebanding dengan arus bias collector I C. BJT mempunyai transkonduktansi yang cukup tinggi dibandingkan dengan MOSFET, misal untuk I C = 1 mA, g m ≈ 40 mA/V Interpretasi grafis g m dapat dilihat pada gambar 25, di mana g m sama dengan kemiringan kurva karakteristik i C – v BE pada i C = I C (titik bias Q). Jadi Pendekatan sinyal kecil → amplitudo sinyal harus dijaga cukup kecil → transistor bekerja pada daerah terbatas pada kurva i C – v BE di mana segmen masih bisa dianggap linier.

27 27 Untuk sinyal kecil (v be << V T ), transistor berperan seperti sebuah sumber arus yang dikendalikan oleh tegangan (VCCS). Terminal masukan VCCS antara base dan emitter Terminal keluaran di antara collector dan emitter. Transkonduktansi dari VCCS ini: g m Resistansi keluaran tidak terhingga (untuk keadaan ideal). Pada kenyataannya BJT mempunyai resistansi keluaran.

28 28 Arus base dan resistansi masukan pada base Untuk menentukan resistansi masukan, pertama hitung total arus base i B Arus base dan resistansi masukan pada base Untuk menentukan resistansi masukan, pertama hitung total arus base i B IB = arus basis dari tegangan VBE ib = arus basis dari sinyal vbe iB = arus total basis

29 29 Resistansi masukan sinyal kecil antara base dan emitter, melihat ke arah base, disebut r π dan didefinisikan sebagai jadi r π berbanding lurus dengan β dan berbanding terbalik dengan arus bias I C.

30 30 Arus emitter dan resistansi masukan pada emitter Total arus emitter i E dapat ditentukan dari Resistansi masukan sinyal kecil antara base dan emitter, melihat ke arah emitter, disebut r e atau resistansi emitter dan didefinisikan sebagai: IE = arus emiter dari tegangan VBE Ie = arus emiter dari sinyal vbe iE = arus total Emiter

31 31 Hubungan antara resistansi base (r π ) dan r e dapat diperoleh dengan mengkombinasikan definisinya masing-masing v be = i b r π = i e r e Jadi:r π = (i e /i b )r e r π = (β+1)r e

32 32 Penguatan tegangan Untuk mendapatkan tegangan sinyal keluaran, maka kita alirkan arus collector melalui sebuah resistor. Total tegangan collector: v C = V CC – i C R C = V CC – (I C + i c )R C = (V CC – I C R C ) – i c R C = V C – i c R C V C adalah tegangan bias dc pada collector, dan tegangan sinyal adalah: v c = –i c R C = –g m v be R C = (–g m R C )v be

33 33 Jadi penguatan tegangan dari penguat, A v adalah g m sebanding dengan arus bias collector, jadi

34 34 Memisahkan sinyal dengan harga-harga DC Arus dan tegangan pada rangkaian penguat terdiri dari dua komponen: komponen dc dan komponen sinyal. Komponen DC ditentukan dari rangkaian dc pada gambar 24(b), sedangkan cara kerja sinyal BJT dapat diperoleh dengan menghilangkan sumber DC, seperti pada gambar 26. Gambar 26 Rangkaian penguat pada gambar 24(b) dengan sumber DC dihilangkan (di hubung singkat)

35 35 Model Hybrid - π Gambar 27 (a) BJT sebagai VCCS (penguat transkonduktansi) Gambar 27 (b) BJT sebagai CCCS (penguat arus)

36 36 Pada gambar 27(a), BJT digambarkan sebagai VCCS yang mempunyai resistansi masukan (melihat ke arah base) r π, dengan sinyal kendali v be. Hubungan arus dan tegangan pada rangkaian ini: Pada gambar 27(b) BJT digambarkan sebagai CCCS, dengan sinyal kendali i b. Hubungan arus sebagai berikut:

37 37 Aplikasi rangkaian ekivalen sinyal kecil. Proses yang sistimatis dalam menganalisa penguat transistor: 1.Tentukan titik kerja dc BJT, terutama arus collector dc I C. 2.Hitung harga-harga parameter model sinyal kecil: g m = I C /V T, r π = β/g m dan r e = V T /I E = α/g m. 3.Hilangkan semua sumber dc dengan mengganti : sumber tegangan dc dengan hubung singkat, dan sumber arus dc dengan hubung terbuka. 4.Ganti BJT dengan salah satu model rangkaian ekivalen. 5.Analisa rangkaian yang didapat untuk menentukan penguatan tegangan, resistansi masukan dan lain-lain.

38 38 Contoh soal 6: Analisa penguat transistor pada gambar 28(a) dan tentukan penguatan tegangannya. Asumsikan β = 100 Gambar 28 (a) rangkaian

39 39 Gambar 28 (b) analisa dc (c) model sinyal kecil

40 40 Tentukan titik kerja (mencari nilai IB, IC, dan VC). Asumsikan v i = 0. Karena V B (+0,7 V) < V C → transistor bekerja pada mode aktif.

41 41 Tentukan parameter model sinyal kecil:

42 42 Menentukan Penguatan tegangan (Av). Perhatikan Gambar 28(c), tidak ada sumber tegangan dc. Terminal rangkaian yang terhubung ke sebuah sumber tegangan dc yang konstan selalu dapat dianggap sebagai sinyal ‘ground’. Tanda negatif menunjukkan pembalikan fasa. Utk mencari Av, Vi nggak perlu diketahui.nanti berdasar input


Download ppt "1 Pemberian bias pada rangkaian BJT Masalah pemberian bias berkaitan dengan: 1. penentuan arus dc pada collector (Ic) yang harus dapat dihitung, diprediksi."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google