Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Fase farmako kinetika ( toksokinetika ) Fase farmako kinetika ( toksokinetika ) Farmakokinetika *mekanisme menembus membrana barier *mekanisme transportasi.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Fase farmako kinetika ( toksokinetika ) Fase farmako kinetika ( toksokinetika ) Farmakokinetika *mekanisme menembus membrana barier *mekanisme transportasi."— Transcript presentasi:

1 Fase farmako kinetika ( toksokinetika ) Fase farmako kinetika ( toksokinetika ) Farmakokinetika *mekanisme menembus membrana barier *mekanisme transportasi *mekanisme distribusi Pertemuan : 3

2 SKEMA PORTAL ENTRI,DISTRIBUSI DAN EKSKRESI ORAL INHALASI INTRAVENA INTRA PERITONEAL ORAL INHALASI INTRAVENA INTRA PERITONEAL SUBKUTAN SUBKUTAN INTRA MUSKULAR INTRA MUSKULAR DERMAL DERMAL S.PENCERNAAN PARU S.PENCERNAAN PARU DARAH&LIMFE CAIRAN EKSTRASELULAR DARAH&LIMFE CAIRAN EKSTRASELULAR HATI HATI EMPEDU………………………… ……..USUS HALUS EMPEDU………………………… ……..USUS HALUS LEMAK LEMAK GINJAL PARU-PARU ORGAN SKRESI GINJAL PARU-PARU ORGAN SKRESI KANDUNG KEMIH ALVEOLI ORGAN TUBUH KANDUNG KEMIH ALVEOLI ORGAN TUBUH URIN UDARA EKSPIRASI SEKRESI JARINGANLUNAK TULANG URIN UDARA EKSPIRASI SEKRESI JARINGANLUNAK TULANG

3 Mekanisme menembus m.barier -Disfusi pasif,secara fisika -Disfusi pasif,secara fisika -Mekanisme aktif alat bantu pengangkut ( karier ) -Mekanisme aktif alat bantu pengangkut ( karier ) -Mekanisme fagositose -Mekanisme fagositose Pertemuan : 3 Pertemuan : 3

4 Mekanisme transportasi dalam darah _ Larut dalam serum darah ( protein _ Larut dalam serum darah ( protein plasma ) plasma ) - larut dalam sel darah - larut dalam sel darah - terbawa makrofag - terbawa makrofag Pertemuan : 3 Pertemuan : 3

5 Xenobiotik larut dalam plasma darah - mekanisme kompetisi xenobiotik dan - mekanisme kompetisi xenobiotik dan daya ikat plasma darah ( misal :kompetisi obat sulfonil urea dengan daya ikat plasma darah ( misal :kompetisi obat sulfonil urea dengan antidiabetika dalam plasma darah ) antidiabetika dalam plasma darah ) - koefisien daya ikat plasma darah - koefisien daya ikat plasma darah : * Ikatan dengan albumin merupakan : * Ikatan dengan albumin merupakan ikatan secara fisiologis yan sulit ikatan secara fisiologis yan sulit keluar dari darah keluar dari darah - kecepatan aliran darah,makin tinggi,makin - kecepatan aliran darah,makin tinggi,makin kemampuan transportasi xenobiotik melalui kemampuan transportasi xenobiotik melalui plasma darah plasma darah pertemuan : 3 pertemuan : 3

6 Xenobiotik larut dalam sel darah - Logam berat larut dalam sel darah merah - Logam berat larut dalam sel darah merah - Sifat ikatan kompetitif belum diketahui pada sel darah - Sifat ikatan kompetitif belum diketahui pada sel darah Pertemuan : 3 Pertemuan : 3

7 Deposit xenobiotik dalam jaringan tubuh pertemuan : 3 -Pb terikat dalam jaringan otak ( TEL ) -Pb terikat dalam jaringan otak ( TEL ) -Methyl mercuri dideposit di jaringan otak -Methyl mercuri dideposit di jaringan otak -Xenobiotik liposoluble larut dan dideposit di jaringan lemak - Pb ( fosfat ) terikat dan dideposit di jaringan tulang ( Pb anorganik ) -Xenobiotik liposoluble larut dan dideposit di jaringan lemak - Pb ( fosfat ) terikat dan dideposit di jaringan tulang ( Pb anorganik ) - Pb anorganik lainnya terikat di jaringan ginjal - Pb anorganik lainnya terikat di jaringan ginjal -Merkuri anorganik didepost di jaringan ginjal -Merkuri anorganik didepost di jaringan ginjal -Ikatan xenobiotik dengan jaringan tubuh mungkin: -Ikatan xenobiotik dengan jaringan tubuh mungkin: * tipe kovalen,ikatan irreversibel--- efek toksik * tipe kovalen,ikatan irreversibel--- efek toksik tinggi tinggi * tipe non kovalen,ikatan reversibel---- sifat * tipe non kovalen,ikatan reversibel---- sifat distribusi tinggi distribusi tinggi

8 Mekanisme Detoksikasi xenobiotik(Biotransformasi) Reaksi pemecahan( fase I ) Reaksi pemecahan( fase I ) Reaksi konjugasi ( fase II ) Reaksi konjugasi ( fase II ) Pertemuan : 4 Pertemuan : 4

9 Reaksi biotransformasi pemecahan ( fase I ) -Reaksi oksidasi -Reaksi oksidasi -Reaksi Reduksi -Reaksi hidrolisis -Reaksi Reduksi -Reaksi hidrolisis Pertemuan : 4 Pertemuan : 4

10 Reaksi Oksidasi biotransformasi -Beta oksidasi alkohol ----asam benzoat + asa asetat -Beta oksidasi alkohol ----asam benzoat + asa asetat -enzim yang digunakan enzim oksidase (Sitokrom P 450 ) -enzim yang digunakan enzim oksidase (Sitokrom P 450 ) -misal : senyawa alifatik+ O2—alkohol -misal : senyawa alifatik+ O2—alkohol Senyawa aromatik + O2---- Senyawa aromatik + O2---- Fenol Fenol Pertemuan : 4 Pertemuan : 4

11 Reaksi reduksi biotransformasi - lebih jarang terjadi daripada oksidasi - lebih jarang terjadi daripada oksidasi - enzim yang digunakan enzim reduktase - enzim yang digunakan enzim reduktase - terjadi pada senyawa umumnya tahan oksisai misalnya:amina azo,ketondan aldehida - terjadi pada senyawa umumnya tahan oksisai misalnya:amina azo,ketondan aldehida - pada reduksi menjadi anilin,produk amina danp-klorobe3nsil alkohol - pada reduksi menjadi anilin,produk amina danp-klorobe3nsil alkohol Pertemuan : 4 Pertemuan : 4

12 Reaksi hidrolisis biotransformasi Enzim yang digunakan enzim esterase Enzim yang digunakan enzim esterase - Bila senyawa xenobiotik di hidrolisa molekul akan pecah menjadi dua molekul karena terjadinya molekul air. - Bila senyawa xenobiotik di hidrolisa molekul akan pecah menjadi dua molekul karena terjadinya molekul air. - misal :ester---- esterase-----asam + alkohol - misal :ester---- esterase-----asam + alkohol amida---hidrolisa---amina +asam amida---hidrolisa---amina +asam Pertemuan : 4 Pertemuan : 4

13 Reaksi konjugasi biotransformasi( fase II ) -Fase II pada mekanisme biotransformasi merupakan reaksi penggabungan/konjugasi dari fase I -Fase II pada mekanisme biotransformasi merupakan reaksi penggabungan/konjugasi dari fase I -senyawa yang tidak cepat dioksidasi akan dikonjugasikan dengan asam glukoronat,glisin asam sulfat atau asam asetat produk konjugasi baru yang bersifat : polaritas tinggi -senyawa yang tidak cepat dioksidasi akan dikonjugasikan dengan asam glukoronat,glisin asam sulfat atau asam asetat produk konjugasi baru yang bersifat : polaritas tinggi lebih soluble diair lebih soluble diair lebih mudah dieliminasi lebih mudah dieliminasi Pertemuan : 5 Pertemuan : 5

14 Mekanisme eliminasi - melalui ginjal - melalui ginjal - melalui paru - melalui paru - melalui pencernaan ( terutama - melalui pencernaan ( terutama hepar melalui empedu ) hepar melalui empedu ) - melalui kulit - melalui kulit Pertemuan : 5 Pertemuan : 5

15 Eliminasi melalui ginjal Ginjal dapat mengeliminasi xenobiotik Ginjal dapat mengeliminasi xenobiotik melalui mekanisme filtrasi pada glomerulus melalui mekanisme filtrasi pada glomerulus - xenobiotik harus dapat melewati - xenobiotik harus dapat melewati pori filter glomerulus dengan diameter pori filter glomerulus dengan diameter 50 nannometer,agar dapat diexcresi 50 nannometer,agar dapat diexcresi melalui urine melalui urine - xenobiotik harus larut air - xenobiotik harus larut air - xenobiotik harus terpolariser - xenobiotik harus terpolariser pertemuan : 5 pertemuan : 5

16 Eliminasi melalui paru Xenobiotik yang mudah menguap yang dapat di eliminasi melalui mekanisme ekspirasi pada pernafasan Xenobiotik yang mudah menguap yang dapat di eliminasi melalui mekanisme ekspirasi pada pernafasan - kapasitas eliminasi tergantung dari - kapasitas eliminasi tergantung dari luas permukaan paru ( kapasitas vital luas permukaan paru ( kapasitas vital paru ) paru ) - Frekuensi pernafasan - Frekuensi pernafasan - kecepatan aliran darah - kecepatan aliran darah - koefisien daya tembus ( membrana barier) - koefisien daya tembus ( membrana barier) jaringan paru jaringan paru ( pertemuan : 5 ) ( pertemuan : 5 )

17 Eliminasi melalui kulit Kulit mempunyai kemampuan untuk mengeliminasi xenobiotik melalui : Kulit mempunyai kemampuan untuk mengeliminasi xenobiotik melalui : - kelenjar keringat ( xenobiotik liposoluble ) - kelenjar keringat ( xenobiotik liposoluble ) kemampuan mengekskresi xenobiotik kemampuan mengekskresi xenobiotik tergantung kemampuan penguapan tergantung kemampuan penguapan keringat yang dikeluarkan oleh tubuh keringat yang dikeluarkan oleh tubuh - folikel rambut,merupakan jalan - folikel rambut,merupakan jalan xenobiotik,tetapi rambut dapat dijadikan xenobiotik,tetapi rambut dapat dijadikan organ untuk mendeteksi kandungan organ untuk mendeteksi kandungan xenobiotik dalam serum darah ( indikator biologis xenobiotik dalam serum darah ( indikator biologis merkuri dalam tubuh ) merkuri dalam tubuh ) Pertemuan : 5

18 Eliminasi melalui organ pencernaan pertemuan : 5 - Xenobiotik yang tidak diserap melaui pencernaan dikeluarkan melalui anus - Xenobiotik yang tidak diserap melaui pencernaan dikeluarkan melalui anus dalam bentuk faeces dalam bentuk faeces - Xenobiotik yang diserap tubuh dieliminasikan melalui saliva - Xenobiotik yang diserap tubuh dieliminasikan melalui saliva dan empedu dan empedu - makin tinggi kosentrasi xenobiotik - makin tinggi kosentrasi xenobiotik yang tidak diserap sistema pencer yang tidak diserap sistema pencer naan makin tinggi konsentrasi xeno naan makin tinggi konsentrasi xeno biotik yang dieliminasikan dari tubuh biotik yang dieliminasikan dari tubuh - empedu merupakan organ yang terpenting - empedu merupakan organ yang terpenting untuk mengeliminasikan bahan xenobiotik untuk mengeliminasikan bahan xenobiotik dari hepar ( polaritas tinggi,konyugat dengan dari hepar ( polaritas tinggi,konyugat dengan plasma protein dan xenobiotik BM > 300 ) plasma protein dan xenobiotik BM > 300 )

19 Mekanisme eliminasi xenobiotik dan indikator biologis xenobiotik. Mekanisme eliminasi xenobiotik dan indikator biologis xenobiotik. Indikator biologis batas aman konsentrasi xenobiotik dalam tubuh dapat diperoleh dari spesimen biologis Indikator biologis batas aman konsentrasi xenobiotik dalam tubuh dapat diperoleh dari spesimen biologis yang di eliminasi organ tubuh atau dengan melalukukan biopsi jaringan tubuh yang menjadi tempat deposit yang di eliminasi organ tubuh atau dengan melalukukan biopsi jaringan tubuh yang menjadi tempat deposit xenobiotik atau target dalam tubuh. xenobiotik atau target dalam tubuh. Pertemuan : 6 Pertemuan : 6

20 Indikator aman xenobiotik temu : 6 * Lethal dosis 50 ( LD50 ) * Lethal dosis 50 ( LD50 ) * Indikator biologi toksikologi klinik * Indikator biologi toksikologi klinik * Nilai Ambien Limbah Bahan kimia B3 * Nilai Ambien Limbah Bahan kimia B3 * Nilai Ambang Batas Bahan Kimia * Nilai Ambang Batas Bahan Kimia Lingkungan Kerja Lingkungan Kerja * Nilai Batas aman Pemaparan * Nilai Batas aman Pemaparan Kerja ( Health Base Occupational Kerja ( Health Base Occupational Limit Value ) Limit Value )

21 Indikator aman xenobitik temu : 6 LD 50 ( Lethal Dosis 50 ) LD 50 ( Lethal Dosis 50 ) - satuan : miligram /Kg Berat Badan - satuan : miligram /Kg Berat Badan - Ukuran derajat toksisitas bahan kimia - Ukuran derajat toksisitas bahan kimia - dosis yang menimbulkan kematian - dosis yang menimbulkan kematian 50% secara statistik dari binatang 50% secara statistik dari binatang percobaan selama atau kurang dari percobaan selama atau kurang dari 24 jam ( toksikologi eksperimentil ) 24 jam ( toksikologi eksperimentil )

22 Indikator aman xenobiotik temu : 6 Idikator biologi toksikologi klinik Idikator biologi toksikologi klinik - satuan : miligram/mikrogram per - satuan : miligram/mikrogram per kg Berat Badan kg Berat Badan - merupakan konsentrasi xenobiotik - merupakan konsentrasi xenobiotik yang masih dianggap aman dalam yang masih dianggap aman dalam tubuh secara klinis tubuh secara klinis

23 Indikator aman xenobiotik temu : 6 Nilai ambien limbah bahan kimia B3 Nilai ambien limbah bahan kimia B3 - satuan : mikrogram/ppm per satuan - satuan : mikrogram/ppm per satuan volume limbah volume limbah - Merupakan nilai/konsentrasi aman - Merupakan nilai/konsentrasi aman untuk pemaparan lingkungan umum untuk pemaparan lingkungan umum limbah B3 selama 24 jam limbah B3 selama 24 jam

24 Indikator aman xenobiotik temu : 6 Nilai Ambang Batas bahan kimia lingkungan kerja ( NAB kimia ) Nilai Ambang Batas bahan kimia lingkungan kerja ( NAB kimia ) satuan: Mikrogram/ppm per M3 udara satuan: Mikrogram/ppm per M3 udara - merupakan nilai/konsentrasi bahan - merupakan nilai/konsentrasi bahan kimia di lingkungan kerja yang kimia di lingkungan kerja yang masih aman untuk pemaparan masih aman untuk pemaparan selama 8 jam kerja selama 8 jam kerja

25 Indikator aman xenobiotik temu : 6 Nilai Pemaparan Aman Kerja (NPAK)/Health Base Occupational Exposure Limit (HBOEL) Nilai Pemaparan Aman Kerja (NPAK)/Health Base Occupational Exposure Limit (HBOEL) Satuan : mikrogram per kg Berat Badan Satuan : mikrogram per kg Berat Badan - merupakan nilai/konsentrasi - merupakan nilai/konsentrasi xenobiotik /metabolitnya yang xenobiotik /metabolitnya yang dianggap aman dalam tubuh tenaga dianggap aman dalam tubuh tenaga kerja terpapar bahan kimia di kerja terpapar bahan kimia di lingkungan kerja selama 8 jam kerja lingkungan kerja selama 8 jam kerja

26 Derajat toksisitas xenobiotik fase farmakokinetik temu : 7 Faktor berpengaruh terhadap derajat toksisitas xenobiotik : Faktor berpengaruh terhadap derajat toksisitas xenobiotik : - Dosis dan lama pemaparan - Dosis dan lama pemaparan - spesies - spesies - jenis kelamin - jenis kelamin - umur - umur - gizi - gizi - kegiatan fisik - kegiatan fisik - kondisi kesehatan - kondisi kesehatan

27 Derajat toksisitas xenobiotik temu : 7 Dosis dan lama pemaparan Dosis dan lama pemaparan Menurut kaidah Harber,dosis dan lama pemaparan berbanding lurus Menurut kaidah Harber,dosis dan lama pemaparan berbanding lurus toksisitas = kosentrasi x waktu papar toksisitas = kosentrasi x waktu papar

28 Derajat toksisitas xenobiotik temu : 7 Faktor Spesies Faktor Spesies - Tergantung faktor paparan pada - Tergantung faktor paparan pada lingkungan hidup spesies lingkungan hidup spesies - Tergantung mekanisme yang terjadi - Tergantung mekanisme yang terjadi pada fase-fase tokso ( farmako ) pada fase-fase tokso ( farmako ) kinetik dan toksodinamik pada kinetik dan toksodinamik pada pada spesies pada spesies - Tergantung genetik spesies - Tergantung genetik spesies

29 Derajat toksisitas xenobiotik temu : 7 Faktor umur Faktor umur - neonatus lebih suseptibel daripada kelompok muda/dewasa,umumnya - neonatus lebih suseptibel daripada kelompok muda/dewasa,umumnya disebabkan oleh kelengkapan ensim detoksikasi pada neonatus kurang, disebabkan oleh kelengkapan ensim detoksikasi pada neonatus kurang, kecuali xenobiotik neurotoksik pada SSP kecuali xenobiotik neurotoksik pada SSP - Kapasitas absorpsi,anak muda mempunyai - Kapasitas absorpsi,anak muda mempunyai kemampuan absorpsi daripada orang tua kemampuan absorpsi daripada orang tua - Lemak tubuh,makin tua lemak tubuh makin banyak--- absorpsi xenobiotik liposolubel meningkat - Lemak tubuh,makin tua lemak tubuh makin banyak--- absorpsi xenobiotik liposolubel meningkat

30 Derajat toksisitas temu : 7 Faktor jenis kelamin Faktor jenis kelamin - berbeda pada setiap spesies - berbeda pada setiap spesies - pada manusia :tubuh pria,jaringan - pada manusia :tubuh pria,jaringan lemak lebih sedikit  deposit lemak lebih sedikit  deposit xenobiotik < dari wanita xenobiotik < dari wanita - aktivitas fisik pria > wanita - aktivitas fisik pria > wanita - mekanisme detoksikasi pria > wanita - mekanisme detoksikasi pria > wanita

31 UJIAN TENGAH SIMESTER pertemuan ke 8 temu : temu : SELAMAT UJIAN ! SELAMAT UJIAN !

32 Pertemuan : 1 Pertemuan : 1 ILMU TOKSIKOLOGI DASAR ILMU TOKSIKOLOGI DASAR Temu : 1 Pengertian : Adalah ilmu yang mempelajari pengaruh racun terhadap organisme hidup dan sistim biologisnya

33 Pengertian temu : 1 Racun Racun Adalah bahan kimia dalam dosis relatif kecil dapat menimbulkan kematian Adalah bahan kimia dalam dosis relatif kecil dapat menimbulkan kematian

34 Pengertian temu : 1 Pengertian temu : 1 racun X obat racun X obat Racun adalah obat dan obat adalah racun,tergantung dosis pemaparan ( Paracelcius )

35 Pengertian temu : 1 Pengertian temu : 1 dosis X toksisitas dosis X toksisitas Makin kecil dosis pemaparan yang menimbulkan kematian, makin tinggi derajat toksisitas racun

36 Ruang lingkup peminatan temu : 1 Ruang lingkup peminatan temu : 1 TOKSIKOLOGI DASAR LINGKUNGAN *Lingkungan umum (Toksikologi Lingkungan) *Lingkungan Industri (Toksikologi Industri) KONSUMTIF *Obat-Obatan&kosmetika (Farmakologi) *Agragria (Toksikologi Pertanian) ASPEK LEGAL (Kedokteran Forensik)

37 DISIPLIN ILMU TERKAIT temu : 1 - I.Kedokteran (toksikologi klinik ) - I.Kedokteran (toksikologi klinik ) - I. Kimia & Biokimia(toksikologi - lingkungan : umum,industri - I. Kimia & Biokimia(toksikologi - lingkungan : umum,industri - I. Faal Kerja - I. Faal Kerja - I. Psikologi - I. Psikologi - I. Farmakologi - I. Farmakologi - I. Pertanian - I. Pertanian

38 MANFAAT I TOKSILOGI DASAR temu : 1 - mencari/menemukan senyawa kimia - mencari/menemukan senyawa kimia baru yang aman digunakan manusia baru yang aman digunakan manusia untuk kesejahteraan hidup. untuk kesejahteraan hidup. - mencari antidotum racun - mencari antidotum racun - mencari racun yang aman untuk - mencari racun yang aman untuk manusia dan efektif untuk musuh manusia dan efektif untuk musuh manusia ( pestisida ) manusia ( pestisida )

39 I.Toksikologi lingkungan & Kesehatan Masyarakat temu : 2 Penggunaan bahan kimia Konsumsi manusia Obat-obatan Kosmetik Bahan additif Pestisida Herbisida Teknologi Jasa Industri Perang Limbah bumi atmosfer bumi

40 Toksikologi Lingkungan temu : 2 lingkungan Fase pemaparan Organisme Emisi fase toksokinetik  fase toksodinamik xenobiotik Emisi ekokinetika

41 Toksikologi Lingkungan temu : 2 Resiko penggunaan berulang b.kimia Resiko penggunaan berulang b.kimia kimia konsumtif pada masyarakat : kimia konsumtif pada masyarakat : * Obat-obatan  Ketergantungan obat * Obat-obatan  Ketergantungan obat keracunan akut/kronis keracunan akut/kronis * kosmetik  efek samping * kosmetik  efek samping * Aditif  efek kronik tidak * Aditif  efek kronik tidak diinginkan diinginkan * Pestisida  efek akut atau * Pestisida  efek akut atau kronik tidak diinginkan kronik tidak diinginkan

42 Toksikologi lingkungan temu : 2 Emisi ekokinetika Emisi ekokinetika - limbah udara :partikel padat - limbah udara :partikel padat debu,droplet,asap, mist, debu,droplet,asap, mist, aerosol,gas aerosol,gas - Limbah Cair : bahan kimia larut air - Limbah Cair : bahan kimia larut air emulsi,kimia padat tidak larut emulsi,kimia padat tidak larut air air - Limbah padat : bahan kimia padat - Limbah padat : bahan kimia padat biodegradable,non biodegradable biodegradable,non biodegradable

43 Toksikologi lingkungan temu : 2 Fase pemaparan lingkungan,derajat toksisitas tergantung  Fase pemaparan lingkungan,derajat toksisitas tergantung  - Dosis dan lama pemaparan - Dosis dan lama pemaparan - sifat fisik xenobiotik - sifat fisik xenobiotik - sifat kimia xenobiotik - sifat kimia xenobiotik - interaksi antar xenobiotik di - interaksi antar xenobiotik di di lingkungan di lingkungan

44 Toksikologi lingkungan temu : 2 Organisme hidup Organisme hidup - dianggap sebagai host/pejamu - dianggap sebagai host/pejamu - tergantung etnis - tergantung etnis - tergantung sifat genetika - tergantung sifat genetika - tergantung cara hidup,kondisi sosial - tergantung cara hidup,kondisi sosial -ekonomi/kesehatan /penyakit -ekonomi/kesehatan /penyakit menyertai menyertai

45 FARMAKODINAMIK/TOKSO DINAMIK TEMU : 9 FARMAKODINAMIK/TOKSO DINAMIK TEMU : 9 Pengertian : Pengertian : Adalah fase terjadinya interaksi antara bahan kimia/xenobiotik dengan tempat aksinya dalam sistim biologi Adalah fase terjadinya interaksi antara bahan kimia/xenobiotik dengan tempat aksinya dalam sistim biologi

46 Cara kerja/mekanisme aksi farmakodinamik temu : secara kimiawi -1. secara kimiawi Bahan kimia/ xenobiotik bereaksi secara kimia langsung berinteraksi dengan bahan kimia atau bahan kimia lain yang masuk ke tubuh Bahan kimia/ xenobiotik bereaksi secara kimia langsung berinteraksi dengan bahan kimia atau bahan kimia lain yang masuk ke tubuh Misal: logam-logam berat diikat oleh zat kelat ( Chelating-agent )secara ikatan kimia khusus  senyawa kompleks  mudah diekskresikan oleh ginjal Misal: logam-logam berat diikat oleh zat kelat ( Chelating-agent )secara ikatan kimia khusus  senyawa kompleks  mudah diekskresikan oleh ginjal

47 Chelating agent temu : 9 - Ca EDTA (Ca Etilen Diamin Tetra - Ca EDTA (Ca Etilen Diamin Tetra Acetic Acid ) Acetic Acid ) - BAL(British Anti Lewisit )Dimercaprol - BAL(British Anti Lewisit )Dimercaprol - Penicilamin(Dimetil Systein) - Penicilamin(Dimetil Systein) - Deferoxamin ( Desferal ) - Deferoxamin ( Desferal ) Dipakai sebagai antidot intox logam berat Dipakai sebagai antidot intox logam berat

48 2. Secara fisika temu : 9 Mg Sulfat sangat lambat diabsorbsi usus,akan menarik air dari sekitarnya Mg Sulfat sangat lambat diabsorbsi usus,akan menarik air dari sekitarnya (osmosis/secara fisika ),ukuran feses (osmosis/secara fisika ),ukuran feses Diusus membesar  merangsang usus Diusus membesar  merangsang usus Secara mekanis  defikasi Secara mekanis  defikasi

49 3.Mengganggu proses metabolisme biotransformasi : temu : 9 Bahan kimia/xenobiotik berkompetisi terikat dengan ikatan protein plasma,sehingga bahan kimia yang keluar dari ikatan akan memberikan respon terhadap sel target lebih dominan Bahan kimia/xenobiotik berkompetisi terikat dengan ikatan protein plasma,sehingga bahan kimia yang keluar dari ikatan akan memberikan respon terhadap sel target lebih dominan Persaingan/kompetisi berpengaru terhadap :1. sel target  respon Persaingan/kompetisi berpengaru terhadap :1. sel target  respon 2. reaksi enzymatik 2. reaksi enzymatik

50 4. Respon sel reseptor temu : 9 Sel respon “spesifik “ akan mem berikan respon oleh kaidah “ all or none “/Dose response-relationship Sel respon “spesifik “ akan mem berikan respon oleh kaidah “ all or none “/Dose response-relationship Dosis Ambang Batas tergantung sel Dosis Ambang Batas tergantung sel Target /sel reseptor Target /sel reseptor

51 SEL RESEPTOR temu : 9 Pengertian farmakologi : Pengertian farmakologi : Sel reseptor adalah sel tempat terjadinya efek biokemik,fisiologis dan farmakologis ndari obat-obatan Sel reseptor adalah sel tempat terjadinya efek biokemik,fisiologis dan farmakologis ndari obat-obatan Toksikologi molekuler Toksikologi molekuler Sel reseptor, tempat mekanisme aksi dari bahan toksik (xenobiotik ) Sel reseptor, tempat mekanisme aksi dari bahan toksik (xenobiotik )

52 TEORI TENTANG SEL RESEPTOR TEMU ; 9 * Reseptor Khusus * Reseptor Khusus * All or None * All or None * Tempat spesifik * Tempat spesifik * Makromolekul * Makromolekul

53 RESEPTOR KHUSUS TEMU : 9 TEORI : TEORI : Poland & Kunston ( 1982 ) Poland & Kunston ( 1982 ) TCDD( tetra kloro dibenzo –p-dioksin) masuk kedalam nukleus sel dan bereaksi dengan gen spesifik (AHH) yang dapat menginduksi tymus TCDD( tetra kloro dibenzo –p-dioksin) masuk kedalam nukleus sel dan bereaksi dengan gen spesifik (AHH) yang dapat menginduksi tymus  menimbulkan teratogenesis dan porfiria hepatik  menimbulkan teratogenesis dan porfiria hepatik Tetapi tidak semua xenobiotik yang menimbulkan efek di reseptor bereaksi toksik,tetapi menunjukkan reaksi fisiologis ( normal ) Tetapi tidak semua xenobiotik yang menimbulkan efek di reseptor bereaksi toksik,tetapi menunjukkan reaksi fisiologis ( normal )

54 RESEPTOR ALL OR NONE TEMU : 9 Loomis (1978 ) Loomis (1978 ) Memperkenalkan konsep”reseptor kimia”yang kompleks dengan nilai ambang tertentu untuk dapat bereaksi dengan reseptor Memperkenalkan konsep”reseptor kimia”yang kompleks dengan nilai ambang tertentu untuk dapat bereaksi dengan reseptor Konsep “all or none” penting untuk mengevaluasi keamanan penggunaan bahan xenobiotik Konsep “all or none” penting untuk mengevaluasi keamanan penggunaan bahan xenobiotik

55 Ilustrasi temu : 9 Badan manusia mengandung 1x10 pangkat 13 sel,dan setiap sel mengandung 1x10 pangkat 13 molekul Badan manusia mengandung 1x10 pangkat 13 sel,dan setiap sel mengandung 1x10 pangkat 13 molekul

56 Tempat spesifik temu : 9 Langley Langley Obat/bahan kimia bereaksi pada tempat spesifik di molekul atau bagian dari molekul badan Obat/bahan kimia bereaksi pada tempat spesifik di molekul atau bagian dari molekul badan

57 Makromolekul temu : 9 Ehrlich (1910) Ehrlich (1910) Tempat reaktif merupakan bagian dari makromolekul dan reaksi biologi Tempat reaktif merupakan bagian dari makromolekul dan reaksi biologi Merupakan efek yang timbul oleh ikatan bahan kimia/obat pada tempatnya. Merupakan efek yang timbul oleh ikatan bahan kimia/obat pada tempatnya. Makromolekul terdiri dari : protein,enzym,protein struktural dan asam nukleat Makromolekul terdiri dari : protein,enzym,protein struktural dan asam nukleat

58 KONSEP RESEPTOR DAN ORGAN TARGET

59 MEKANISME KHUSUS /SPESIFIK DI SEL TARGET TEMU : 10 Potensi aksi terjadi di tempat/site of action: nucleus,mitokondria,lysosome,reticulum endoplasma,badan-badan subseluler lain dan membran plasma Potensi aksi terjadi di tempat/site of action: nucleus,mitokondria,lysosome,reticulum endoplasma,badan-badan subseluler lain dan membran plasma

60 Klasifikasi menurut jenis senyawa kimia temu ; 10 - protein - protein - koenzym - koenzym - lemak - lemak - asam nukleat - asam nukleat Karbohidrat jarang dipengaruhi oleh xenobiotik Karbohidrat jarang dipengaruhi oleh xenobiotik

61 PROTEIN temu : 10 Struktur protein dari plasma dan membran merupakan tempat tersering dari kerusakan Struktur protein dari plasma dan membran merupakan tempat tersering dari kerusakan Struktur kollagen protein jarang dipengaruhi xenobiotik Struktur kollagen protein jarang dipengaruhi xenobiotik

62 ENZYM TEMU : 10 - Ezym merupakan target terpenting - Ezym merupakan target terpenting dari xenobiotik dari xenobiotik - Ikatan dapat reversibel,misalnya - Ikatan dapat reversibel,misalnya pada isektisida karbamat dengan pada isektisida karbamat dengan kolin esterase (inhibisi kolin kolin esterase (inhibisi kolin esterase ) esterase )

63 Enzym + Karbamat temu : 10 Ikatan Irreversibel Ikatan Irreversibel Misal : DFP ( Diiso Propil Flouro Phosfat )  DFP MOI ( kovalen ) Misal : DFP ( Diiso Propil Flouro Phosfat )  DFP MOI ( kovalen ) enzym Monoamin Oksidase inhibitor enzym Monoamin Oksidase inhibitor

64 Efek Reaksi Enzymatik temu : 10 - Non Spesifik - Non Spesifik Pb & Hg  Pb & Hg + enzym NS (beberapa enzym inhibitor non spesifik Pb & Hg  Pb & Hg + enzym NS (beberapa enzym inhibitor non spesifik misal enzym oksidase/reduktase ) misal enzym oksidase/reduktase ) - Spesifik - Spesifik Pb  Pb delta ALAD  Hb turun Pb  Pb delta ALAD  Hb turun Delta Amino Luvulenic Acid Dehydratase Delta Amino Luvulenic Acid Dehydratase Enzym inhibitor spesifik untuk Pb di eritrosit Enzym inhibitor spesifik untuk Pb di eritrosit ( dipakai untuk indikator awal intokskasi Pb) ( dipakai untuk indikator awal intokskasi Pb)

65 Lemak temu : 10 Xenobiotik liposoluble Xenobiotik liposoluble Terikat di jaringan lemak bersifat reversibel Terikat di jaringan lemak bersifat reversibel Deposit di jaringan lemak bersifat stabil Deposit di jaringan lemak bersifat stabil

66 Asam nukleat temu : 10 Xenobiotik Karsinogen Xenobiotik Karsinogen - Merubah asam nukleat inti sel (DNA) - Merubah asam nukleat inti sel (DNA)  neoplasma ( epigenetik )  neoplasma ( epigenetik ) - Bersifat spesifik di sel reseptor - Bersifat spesifik di sel reseptor - Ikatan kovalen -  nekrotik atau - Ikatan kovalen -  nekrotik atau keganasan sel. keganasan sel.

67 INTERAKSI XENOBIOTIK temu : 10 - Adiksi - Adiksi Efek interaksi merupakan penjum Efek interaksi merupakan penjum lahan dari masing-masing xenobiotik lahan dari masing-masing xenobiotik - Sinergistik - Sinergistik Efek interaksi lebih besar dari Efek interaksi lebih besar dari penjumlahan efek kedua xenobiotik penjumlahan efek kedua xenobiotik - Antagonistik - Antagonistik Efek interaksi lebih kecil dar penjumlahan Efek interaksi lebih kecil dar penjumlahan efek kedua xenobiotik efek kedua xenobiotik

68 TOKSIKOLOGI EKSPERIMENTIL TEMU : 11 PENGERTIAN PENGERTIAN Adalah bagian dari ilmu toksikologi yang mempelajari sifat,mekanisme dan pengaruh dari xenobiotik dengan mempergunakan binatang percobaan sebagai media studi Adalah bagian dari ilmu toksikologi yang mempelajari sifat,mekanisme dan pengaruh dari xenobiotik dengan mempergunakan binatang percobaan sebagai media studi

69 Syarat binatang percobaan temu : 11 - spesies harus murni---  dilakukan - spesies harus murni---  dilakukan dengan cara breeding berulang dengan cara breeding berulang - sehat,bebas kuman/steril - sehat,bebas kuman/steril - misal : tadpole,tikus ( Hamster’ - misal : tadpole,tikus ( Hamster’,Winstar ),marmot,anjing,kuda dsb,Winstar ),marmot,anjing,kuda dsb tergantung jenis studi tergantung jenis studi

70 Jenis studi temu : 11 Studi eksperimentil akut Studi eksperimentil akut Binatang percobaan: Winstar, Hamster Binatang percobaan: Winstar, Hamster Lama percobaan : 24 jam Lama percobaan : 24 jam Yang diteliti : gejala/respon Yang diteliti : gejala/respon sebelum binatang percobaan mati sebelum binatang percobaan mati Hasil studi : Lethal Dose 50 ( LD 50 Hasil studi : Lethal Dose 50 ( LD 50

71 DERAJAT TOKSISITAS XENOBIOTIK PENGERTIAN PENGERTIAN Adalah kemampuan bahan xenobiotik untuk menimbulkan kerusakan/efek toksik pada tubuh dan sistem biologisnya yang rentan terhadapnya Adalah kemampuan bahan xenobiotik untuk menimbulkan kerusakan/efek toksik pada tubuh dan sistem biologisnya yang rentan terhadapnya Sumber : Sax,1957 Sumber : Sax,1957

72 Lethal Dose 50 temu : 11 Pengertian Pengertian Adalah dosis yang secara statistik Adalah dosis yang secara statistik menimbulkan kematian 50% dari menimbulkan kematian 50% dari kelompok binatang percobaan selama kelompok binatang percobaan selama 24 jam 24 jam Waktu (jam ) < >24 dosis dosisGr/bb x***** y LD 50 LD 50 z %

73 Derajat Toksisitas Xenobiotik sumber : Sax,1957,Ottoboni,1996 temu : 11 Derajat toksisitas LD50( mg/kg.BB /BB70 kg LD50(mg/kgBB /10kg anak 6=supertoksik 5=extrem toksik 4=sangat toksik 3=moderat toksik toksik 2=slight toksik 1=non toksik <5,terasa,<7tetes <5,terasa,<7tetes 5-50,7tetes-3/4 cth ,3/4cth-3cth ,3-30cth5-15gr,>30cth(1lb)>15gr,>1qt < 1 tetes 1 tetes -1/8 cth 1/8cth-1cth 1cth-4 C > 4C

74 Studi Toksisitas Jangka Pendek temu : 11 Jenis binatang percobaan :Hamster,kucing,anjing,marmot Jenis binatang percobaan :Hamster,kucing,anjing,marmot Lama percobaan : 10% dari taksiran hidup binatang percobaan Lama percobaan : 10% dari taksiran hidup binatang percobaan Tujuan percobaan : studi tosisitas sub kronik ( efek dinilai setelah lebih dari Tujuan percobaan : studi tosisitas sub kronik ( efek dinilai setelah lebih dari 2 minggu pemberian xenobiotik pada binatang percobaan ) 2 minggu pemberian xenobiotik pada binatang percobaan ) Hasil yang dapat dipelajari : Hasil yang dapat dipelajari : - Dose-response Relationship - Dose-response Relationship - Allowable Daily Intake ( ADI ) - Allowable Daily Intake ( ADI ) _ Nilai spesimen biologis laboratorium patologi Klinik _ Nilai spesimen biologis laboratorium patologi Klinik

75 Studi toksisitas jangka panjang temu : 11,bahahn kuliah toksikologi dasar,dr Farid B MSc Binatang percobaan Hamster.marmot Binatang percobaan Hamster.marmot Lama percobaan : senajang umuur binatang percobaan Lama percobaan : senajang umuur binatang percobaan Hasil yang diperoleh : efek kronis oleh pemberian xenobiotik dosis rendah dengan lama pemaparan tinggi Hasil yang diperoleh : efek kronis oleh pemberian xenobiotik dosis rendah dengan lama pemaparan tinggi Misal Bahan kimia karsinogen,adversed effect Misal Bahan kimia karsinogen,adversed effect

76 Efek biologis xenobiotik temu 12 -efek ditinjau dari segi biologis -efek ditinjau dari segi biologis ringan,sedang,kuat/parah ringan,sedang,kuat/parah -segi waktu,akut,subakut,sub kronis -segi waktu,akut,subakut,sub kronis kronis kronis -segi kepulihan reversibel,irreversibel -segi kepulihan reversibel,irreversibel -segi lokasi,lokal,sistemik -segi lokasi,lokal,sistemik -segi kepekaan,alergi,anafilaktik -segi kepekaan,alergi,anafilaktik

77 Sel target & sel Reseptor Sel target,tempat terjadinya reaksi kimia xenobiotik dengan sel tujuannya untuk memberikan respon biologis Sel target,tempat terjadinya reaksi kimia xenobiotik dengan sel tujuannya untuk memberikan respon biologis Reseptor adalah tempat yang sensitif terhadap agen xenobiotik untuk berinteraksi : Reseptor adalah tempat yang sensitif terhadap agen xenobiotik untuk berinteraksi : Tipe I--  reseptor berada dipermukaan sel Tipe II  reseptor berada di sitoplasma Tipe I--  reseptor berada dipermukaan sel Tipe II  reseptor berada di sitoplasma Tipe III  reseptor berada di nukleus Tipe III  reseptor berada di nukleus Sumber Borcelleca,1996 Sumber Borcelleca,1996

78 Skema mekanisme respon Xenobiotik-> Xenobiotik-> + --  Ikatan kompleks  aktivasi  respon  amplifikasi + --  Ikatan kompleks  aktivasi  respon  amplifikasi Reseptor -> ( mesenger ) Reseptor -> ( mesenger )

79 BAHAN KIMIA KARSINOGEN TEMU : 12 PENGERTIAN PENGERTIAN Adalah bahan kimia yang dapat menimbulkan perubahan pada sel normal menjadi sel neoplasma Adalah bahan kimia yang dapat menimbulkan perubahan pada sel normal menjadi sel neoplasma Sumber : Lund, 1980 Sumber : Lund, 1980 Adalah bahan kimia yang dapat menimbulkan tumor ganas pada manusia Adalah bahan kimia yang dapat menimbulkan tumor ganas pada manusia Sumber Niosh Sumber Niosh

80 Bahan kimia karsinogen temu 12 Bahan kimia karsinogen temu 12 Masalah Masalah - sejak awal revolusi industri,dikenal - sejak awal revolusi industri,dikenal minyak “tar”yang berasal dari bahan minyak “tar”yang berasal dari bahan bitumen/batu baru dalam industri bitumen/batu baru dalam industri digunakan sebagai pelumas mesin digunakan sebagai pelumas mesin dapat menimbulkan karsinoma pada dapat menimbulkan karsinoma pada scrotum scrotum - morbiditas karsinoma yang disebabkan - morbiditas karsinoma yang disebabkan oleh bahan kimia karsinogen sama dengan oleh bahan kimia karsinogen sama dengan morbiditas penyakit karsinoma oleh penyebab morbiditas penyakit karsinoma oleh penyebab lainnya lainnya - penyakit m,erupakan penyebab kematian tinggi - penyakit m,erupakan penyebab kematian tinggi - onset penyakit lama  dapat dilakukan penelitian - onset penyakit lama  dapat dilakukan penelitian Efek kronis bahan kimia Efek kronis bahan kimia

81 temu 12 temu 12 karsinogen industri pasti 4aminofenil Arsenik dan beberapa senyawa arsen Asbestbenzena Bis(klormetil eter) MeCCNU Kromium dan beberapa senyawa kromium Erionit 2-naftil amin Torium dioksida Monomer vinyl klorida AkrilamidAkrilonitrilAmitrolBenzotrikloridaKemungkinanKarsinogenAsetaldehidDiepoksibutan Dimetil sulfat Etil akrilat Polisiklik hidrokarbon Bifenil terklorinasi Sulftalattoluendiisosianattiurea Emisi batubara Minyak mineral Karsinogen oleh proses teknologi Tarsoot

82 MEKANISME KARSINOGENITAS TEMU 13 - Epigenetik - Epigenetik pembentukan protein dalam sel, pembentukan protein dalam sel, melalui tahap translasi dan transkripsi melalui tahap translasi dan transkripsi  bila terjadi kelainan pembentukan  bila terjadi kelainan pembentukan protein pada fase ini akan terjadi protein pada fase ini akan terjadi mutasi DNA--> neoplasma mutasi DNA--> neoplasma - Non Epigenetik-  bahan kimia karsinogen - Non Epigenetik-  bahan kimia karsinogen masih memerlukan promotor ( misal :DDT,klordan )untuk dapat menimbulkan efek neoplasma pada sel normal masih memerlukan promotor ( misal :DDT,klordan )untuk dapat menimbulkan efek neoplasma pada sel normal

83 KLASIFIKASI NEOPLASMA TEMU : 13 KLASIFIKASI NEOPLASMA TEMU : 13 Jaringan asal T.Jinak T. Ganas Epitel Epitel J.kulit& mukosa papiloma karsinoma J.kulit& mukosa papiloma karsinoma E.kelenjar adenoma adeno karsinoma E.kelenjar adenoma adeno karsinoma Sel pigmen nevus melanoma Sel pigmen nevus melanoma Jar.ikat&otot Jar.ikat&otot Fibroma fibroma fibrosarkoma Fibroma fibroma fibrosarkoma Adipose lipoma liposarkoma Adipose lipoma liposarkoma Kartilago kondroma kondrosarkoma Kartilago kondroma kondrosarkoma Tulang osteoma osteosarkoma Tulang osteoma osteosarkoma Pem.darah hemangioma hemangiosarkoma Pem.darah hemangioma hemangiosarkoma Saraf neuroma Saraf neuroma Glia glioma/neuroglioma Glia glioma/neuroglioma Meningea meningioma meningosarkoma Meningea meningioma meningosarkoma Limpa limfoma limfosarkoma Limpa limfoma limfosarkoma Sumsum tulang lekemia,Ewing sarkoma Sumsum tulang lekemia,Ewing sarkoma Sel plasma Mutipelmyeloma Sel plasma Mutipelmyeloma SUMBER : Catherine C Goodman,1998 SUMBER : Catherine C Goodman,1998

84 KLASIFIKASI KARSINOGEN TEMU 13 A Karsinogen bagi manusia  Epid + B Mungkin sekali karsinogen bagi manusia  Epid +/- Exp Bin + A Karsinogen bagi manusia  Epid + B Mungkin sekali karsinogen bagi manusia  Epid +/- Exp Bin + C Kemungkinan karsinogen pada manausia  Epid +/- Exp Bin+/- C Kemungkinan karsinogen pada manausia  Epid +/- Exp Bin+/- D Tidak dapat diklasifikasikan  data tidak cocok untuk kedua katagori D Tidak dapat diklasifikasikan  data tidak cocok untuk kedua katagori E Bukan karsinogen pada manusia  Tidak ada data pada bin percobaan dan manusia E Bukan karsinogen pada manusia  Tidak ada data pada bin percobaan dan manusia Sumber: Hallenbeck,1993 Sumber: Hallenbeck,1993

85 INSEKTISIDA TEMU :14 PENGERTIAN PENGERTIAN Adalah bahan kimia yang dipakai untuk membunuh/melumpuhkan individu hidup yang berruas-ruas (segmen ) Adalah bahan kimia yang dipakai untuk membunuh/melumpuhkan individu hidup yang berruas-ruas (segmen ) Misal nyamuk,ulat /serangga lainnya Misal nyamuk,ulat /serangga lainnya -herbisida-----  pembunuh herbal -herbisida-----  pembunuh herbal -fungisida----- ,, jamur -fungisida----- ,, jamur -insektisida--- ,, insekta -insektisida--- ,, insekta -algisida ---- ,, algae -algisida ---- ,, algae -pestisida --- ,, kuman -pestisida --- ,, kuman

86 PESTISIDA TEMU : 14 GOL.ORGANOKLORIDA GOL.ORGANOKLORIDA GOL.ORGANOFOSFAT GOL.ORGANOFOSFAT GOL.KARBAMAT GOL.KARBAMAT GOL.PIRETRUM GOL.PIRETRUM

87 PESTISIDA temu 14 PESTISIDA temu 14 PENGERTIAN PENGERTIAN Bahan kimia yang digunakan untuk membunuh/melumpuhkan hama Bahan kimia yang digunakan untuk membunuh/melumpuhkan hama CARA PENGGUNAAN CARA PENGGUNAAN - disemprotkan - disemprotkan - ditaburkan - ditaburkan - dioleskan - dioleskan CARA KERJA CARA KERJA - racun syaraf - racun syaraf

88 Residu Residu - tanah - tanah - air - air - udara - udara - tumbuh-tumbuhan - tumbuh-tumbuhan - binatang - binatang - manusia - manusia

89 organoklor organoklor sumber:Ecobichon,1996 sumber:Ecobichon,1996 Temu : 15 Temu : 15 Tipe DDT Siklodin, derivat derivatsikloheksan Umumnya terjadi diperifer saraf sensor Menghasilkan potensial negatif yang lama dengan menginhibisi enzim untuk transport ion  depolarisasi persisten Inhibisi ion transpor enzim SSP  blokir GABA  ikatan polarisasi persisten piretrum Piretrum alamiah Piretrum buatan tipe I Piretrum buatan tipe II Sama dengan piretrum buatan tapi juga bereaksi alergi Hampir sama dengan DDT Perbedaan dengan tipe I,terletak pada durasi enzim Anti kolinesterase Anti kolinesterase Organo fosfat karbamat Inhibisi AchE persisten Inhibisi reversibel

90 gejala keracunan organoklorin temu : 15 Kelas insektisida Gejala akut Gejala kronis Diklorodifeletan Dicofol DDT Metoksiklor DDD klorbenzilat DMC Parastesis,ataksia,jal an tidak normal,sakit kepala,mual,letargi Berat badan menurun,nafsu makan menurun,kung darah,tremor otot lemah,gambaran EKG ab normal,eksitasi,koma HeksaklorosikloheksanLindaneBenzeheksaklorid Pusing,mual,motor eksitasi,hiperefleksia,kejang otot,epileptik Pusing,sakit kepala,insomnia,cemas,,epileptik,irritabel,EKG ab normal Klordekon (kepon ) Rasa sakit didada,artralgia,iritasi kulit,ataksia

91 Gejala keracunan organofosfat temu 15 Jar.saraf dan reseptor Parasimpatik dan otonom post ganglionik tempat tempat Kel.eksokrin mata Pencernaanpernafasan ginjal ginjalManifestasi Kel ludah,air mata,keringat,miosis,ptosis,penglihatan kabur,konjungtivitis Mual,muntah diare,tenesmus Sekresi bronkus bising paru,batuk,bradipneu Disuria,anuria Saraf otonom parasimpatik,simpatik nikotinik Sistem kardiovaskuler Otot kerangka takikardi,pallor,hipertensi Fasikulasi otot,paralisis otot prnafasan,stimuli akustik,tremor,ataktis, Otak (reseptor asetil kolin Sistem saraf pusat Lemah,konsentrasi turun Respirasi cheyne stokes,dispnea,depresi pernafasn,sianosis

92 piretrum alam temu 15 Adalah insektisida alami,dibuat dari ekstrak Phyretrum cineraraefollium Adalah insektisida alami,dibuat dari ekstrak Phyretrum cineraraefollium ( Dalmantian insect flower),merupakan racun saraf ( Dalmantian insect flower),merupakan racun saraf

93 Gejala keracunan piretrum alam temu 15 Parestestesia,eksitasi,tremor,konvulsi Parestestesia,eksitasi,tremor,konvulsi Paralisis, kematian Paralisis, kematian

94 Piretrum sintetik temu 15 Jenis dan gejala keracunan Jenis dan gejala keracunan No Piretrum tipe 1 Sindroma T Piretrum tipe 2 Sindroma CS 1hipereksitasihipersensitif 2Ataksia Koreoatetosis dengan air liur 3epileptiktremor 4paralisisparalisis 5 Penyaluran saraf terus menerus depolarisasi

95 Piretrum sintetik temu 15 Jenis piretrum sintetik Jenis piretrum sintetik P.Tipe 1 EFEK mirip DDT P Tipe 2 Mengandung sianida AlletrinTetrometrinPhenotrinFenvoleratDeltametrinCifenometrin

96 UJIAN AKHIR SIMESTER TEMU 16 Selamat ujian Selamat ujian Dosen : dr.Farid Budiman MSc Dosen : dr.Farid Budiman MSc Fikes,UIEU Fikes,UIEU


Download ppt "Fase farmako kinetika ( toksokinetika ) Fase farmako kinetika ( toksokinetika ) Farmakokinetika *mekanisme menembus membrana barier *mekanisme transportasi."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google