Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PENDAHULUAN Makula: penglihatan fokus / detail  membaca, menyetir. CSCR / ICSC / CSR –Idiopatik –Laki – laki (10 / 100.000) –Ras Asia dan Hispanik –Usia.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PENDAHULUAN Makula: penglihatan fokus / detail  membaca, menyetir. CSCR / ICSC / CSR –Idiopatik –Laki – laki (10 / 100.000) –Ras Asia dan Hispanik –Usia."— Transcript presentasi:

1

2 PENDAHULUAN Makula: penglihatan fokus / detail  membaca, menyetir. CSCR / ICSC / CSR –Idiopatik –Laki – laki (10 / ) –Ras Asia dan Hispanik –Usia produktif (20 – 55) –Stres dan steroid Kanski JJ. Clinical Ophtalmology: A Systematic Approach. 7th ed; Philadelphia: Saunders Elsevier Theng K, Roy H. Central Serous Chorioretionopathy. Available from: emedicine.medscape.com/article/ overview#showall. Accessed March 26, WI B.

3 ILUSTRASI KASUS

4 IDENTITAS Pasien baru Poli Vitreoretina (A7): Senin, 25/3/13, 15:20 WIB –Nama: Tn. UJ –No. RM: –Usia: 31 tahun –Agama: Islam –Alamat: Lampung –Pekerjaan: Buruh –Pembayaran: ASKES

5 Keluhan Utama –Mata tidak merah dengan penglihatan kedua mata buram perlahan sejak 1 tahun lalu. Riwayat Penyakit Sekarang –Penglihatan kabur / tidak jelas saat membaca –Garis lurus terlihat bengkok (metamorfopsia +) –Bayangan hitam / skotoma (–) –Dalam 2 s/d 3 tahun terakhir mengonsumsi Dexamethasone dan Omeprazole, terakhir 2 bulan lalu. –Banyak hal yang dipikirkan / dicemaskan. –Suka menyendiri / curiga (-)

6 Riwayat trauma (-) Riwayat mata nyeri, jalan menabrak, sering terjatuh, penglihatan lubang kunci (-) Penglihatan berkabut, konsumsi alkohol, penglihatan membaik pada siang atau malam hari, paparan sinar matahari berlebihan pada mata (-) Pemakaian kacamata atau penglihatan membaik dengan kacamata (-) Sensasi benda melayang di mata, rasa terfoto dengan lampu blits kamera (-)

7 Riwayat Penyakit Dahulu –Hipertensi, DM, asma, alergi, penyakit jantung, penyakit paru, penyakit mata (-). Riwayat Penyakit Keluarga –Hipertensi, DM, asma, alergi, penyakit jantung, penyakit paru, penyakit mata (-). Riwayat Pekerjaan, Sosial, Ekonomi, Kejiwaan, Kebiasaan –Buruh pabrik di Lampung –Kebiasaan merokok 1 batang sehari –Pembiayaan kesehatan dengan ASKES.

8 PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum: Tampak sakit ringan. Kesadaran: Compos mentis. Tanda Vital –Tekanan darah: 105/81 mmHg. –Frekuensi nadi: 76 x/menit reguler. –Frekuensi napas: 18 x/ menit reguler. –Suhu: Afebris. Pemeriksaan fisik lain dalam batas normal.

9

10

11 Foto Fundus

12 OCT – OD & OS

13 Daftar Masalah –Central Serous Retinopathy ODS. Penatalaksanaan –Rencana diagnosis Tes Amsler grid Fluorescens Angiography –Rencana tatalaksana Edukasi untuk menghindari stres. Terminasi terapi Dexamethasone. Fotokoagulasi laser

14 Prognosis OD –Ad vitam: bonam. –Ad functionam: dubia ad bonam. –Ad sanactionam: dubia ad malam. OS –Ad vitam: bonam. –Ad functionam: dubia ad bonam. –Ad sanactionam: dubia ad malam.

15 TINJAUAN PUSTAKA

16 Anatomi dan Histologi 2,5 mm lateral dari bintik buta  makula Pigmen RPE lebih banyak Pigmen kuning (lutein & Zeaxanhtin) Pusat: Fovea sentralis Sirkulasi: –Arteri retina sentralis –Khoriokapiler Jusuf AA. Diktat Kuliah; Tinjauan Histologi Bola Mata, Alat Keseimbangan dan Pendengaran. Bagian Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; Jakarta: Artini W, Hutauruk JA, Yudisianil. Pemeriksaan Dasar Mata. Edisi pertama. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2011.

17 Makula dan Fovea

18 Fisiologi Fungsi makula –Penglihatan detail dan terfokus –Diskriminasi warna Sawar darah retina –Sawar darah luar Fenestrasi pada khoriokapiler Taut ketat pada RPE –Sawar darah dalam Taut ketat retina dan endotel kapiler Jusuf AA. Diktat Kuliah; Tinjauan Histologi Bola Mata, Alat Keseimbangan dan Pendengaran. Bagian Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; Jakarta: Kanski JJ. Clinical Ophtalmology: A Systematic Approach. 7th ed; Philadelphia: Saunders Elsevier

19 Central Serous Retinopathy Definisi: –Elevasi s/d ablasi retina sensoris pada makula akibat cairan serosa Patofisiologi: idiopatik –Gangguan pompa ionik dari RPE –Vaskulopati  kebocoran khoriokapiler Faktor risiko: –Usia, ras, jenis kelamin –Stres, kepribadian tipe A –Hipertensi, OSA, steroid, lupus, kehamilan Kanski JJ. Clinical Ophtalmology: A Systematic Approach. 7th ed; Philadelphia: Saunders Elsevier Theng K, Roy H. Central Serous Chorioretionopathy. Available from: emedicine.medscape.com/article/ overview#showall. Accessed March 26, WIB. Shah SP, Desai CK, Desai MK, Dikshit Rk. Steroid-induced Central Serous Retionpathy. Indian J Pharmacol Sep-Oct; 43(5):

20 Patogenesis Kanski JJ. Clinical Ophtalmology: A Systematic Approach. 7th ed; Philadelphia: Saunders Elsevier Theng K, Roy H. Central Serous Chorioretionopathy. Available from: emedicine.medscape.com/article/ overview#showall. Accessed March 26, WIB. Shah SP, Desai CK, Desai MK, Dikshit Rk. Steroid-induced Central Serous Retionpathy. Indian J Pharmacol Sep-Oct; 43(5): Agarwal A. Fundus Fluorescein and Indocyanine Green Angiography. Thorofare: SLACK Inc; Tahap 1: akut, asimtomatik. Tahap 2: subakut, asimtomatik / gejala minimal. Tahap 3: kronik, defek lapang pandang dan penurunan visus. Tahap 4: inaktif. Tahap 5: komplikasi dekompensasi RPE. Tahap 6: komplikasi neovaskularisasi subretinal.

21 Klasifikasi Agarwal A. Fundus Fluorescein and Indocyanine Green Angiography. Thorofare: SLACK Inc; Tipikal: 1 s/d 2 area kebocoran. Atipikal: kebocoran multipel. Tipe Tipe 1: ruang subretinal (94%). Tipe 2: ruang bawah RPE (3%). Tipe 3: campuran. Edema

22 Temuan Klinis Anamnesis Metamorfopsia. Defek lapang pandang sentral. Diskromatopsia. Skotoma. Pemeriksaan Fisik Visus 6/9 – 6/30, dapat terkoreksi lensa konveks Funduskopi: Elevasi retina pars sensoris pada makula Cairan subretinal Refleks makula melemah atau tidak ada Status oftalmologis lain dalam batas normal Kanski JJ. Clinical Ophtalmology: A Systematic Approach. 7th ed; Philadelphia: Saunders Elsevier Theng K, Roy H. Central Serous Chorioretionopathy. Available from: emedicine.medscape.com/article/ overview#showall. Accessed March 26, WIB. Agarwal A. Fundus Fluorescein and Indocyanine Green Angiography. Thorofare: SLACK Inc; 2008.

23 Temuan Funduskopi Kanski JJ. Clinical Ophtalmology: A Systematic Approach. 7th ed; Philadelphia: Saunders Elsevier

24 Pemeriksaan Penunjang Tes Amsler grid –Evaluasi fungsi makula. –Metamorfopsia, kelabu, kabur, skotoma. OCT –Elevasi pars neurosensoris retina –Ablasi / defisit RPE. Artini W, Hutauruk JA, Yudisianil. Pemeriksaan Dasar Mata. Edisi pertama. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; Kanski JJ. Clinical Ophtalmology: A Systematic Approach. 7th ed; Philadelphia: Saunders Elsevier

25 Pemeriksaan Penunjang Fluorescein Angiography (FA) –Ink blot –Smokestack Indo Cyanine Green Angiography (ICGA) –Fase arterial normal –Fase awal hipoflouresensi –Fase tengah dan akhir hiperfloresensi Kanski JJ. Clinical Ophtalmology: A Systematic Approach. 7th ed; Philadelphia: Saunders Elsevier Agarwal A. Fundus Fluorescein and Indocyanine Green Angiography. Thorofare: SLACK Inc; 2008.

26 Tatalaksana Observasi selama 3 – 6 bulan  resolusi Modifikasi faktor risiko: –Penggunaan steroid –Menghindari stres Tatalaksana medikamentosa  hanya bila terdapat neovaskularisasi: bevicizumab. Kanski JJ. Clinical Ophtalmology: A Systematic Approach. 7th ed; Philadelphia: Saunders Elsevier Theng K, Roy H. Central Serous Chorioretionopathy. Available from: emedicine.medscape.com/article/ overview#showall. Accessed March 26, WIB. Khurana AK. Comprehensive ophthalmology. 4th ed. New Delhi: New Age International; 2007.

27 Tatalaksana Fotokoagulasi laser: –Persistensi CSR lebih dari 4 bulan. –Munculnya rekurensi. –Defek lapang pandang pada mata yang awalnya sehat. –Permintaan pasien karena tuntutan pekerjaan. Photo Dynamic Therapy (PDT) –Kasus CSR kronik. –Percepatan resporpsi cairan. –Risiko iskemia makula. Kanski JJ. Clinical Ophtalmology: A Systematic Approach. 7th ed; Philadelphia: Saunders Elsevier Theng K, Roy H. Central Serous Chorioretionopathy. Available from: emedicine.medscape.com/article/ overview#showall. Accessed March 26, WIB. Khurana AK. Comprehensive ophthalmology. 4th ed. New Delhi: New Age International; 2007.

28 Prognosis Resolusi spontan –3 s/d 6 bulan –Perbaikan visus pada 80% pasien Rekurensi –50% kasus Kasus kronik –Minoritas pasien –Pasien dengan usia tua Kanski JJ. Clinical Ophtalmology: A Systematic Approach. 7th ed; Philadelphia: Saunders Elsevier

29 PEMBAHASAN

30 Anamnesis dan PF Keluhan utama: Mata tenang visus turun perlahan sejak 1 tahun SMRS. Diagnosis banding: –Katarak. –Glaukoma kronik. –Kelainan refraksi. –Degenerasi makula. –CSR.

31 Keluhan penglihatan kabur saat membaca  kegiatan yang butuh fokus / detail Metamorfopsia  kelainan makula Dicari tanda kelainan makula lain: –Skotoma (-)  belum sampai tahap lanjut meskipun berlangsung kronik. –Diskromatopsia (-)  masih tersedia sel kerucut dalam jumlah cukup.

32 Katarak, disingkirkan karena: –Penglihatan berkabut, riwayat konsumsi alkohol, penglihatan membaik pada malam hari, paparan sinar matahari berlebih (-) –Hipertensi, diabetes melitus, dan riwayat penyakit mata pada keluarga (-) –Lensa jernih Glaukoma, disingkirkan karena: –Mata terasa nyeri, defek lapang pandang perifer yang menyebabkannya menabrak saat berjalan, terjatuh, maupun kesulitan saat naik tangga (-) –TIO normal

33 Retinopati, disingkirkan karena: –Riwayat hipertensi / DM (-) –Retina pada funduskopi normal Kelainan refraksi, disingkirkan karena: –Riwayat kacamata / penglihatan membaik dengan kacamata (-) –Visus tidak maju dengan pinhole Degenerasi makula, disingkirkan karena: –Usia 31 tahun –Paparan sinar matahari berlebih (-) –Drusen pada funduskopi (-)

34 Data Tambahan Anamnesis dan PF CSR: –Riwayat konsumsi steroid jangka panjang  kadar cAMP naik  gangguan pompa ionik RPE. –Stres psikis  ketidakseimbangan kortisol dan epinefrin  mengganggu autoregulasi sirkulasi koroid. –Faktor risiko lain (OSA, kepribadian tipe A, penyakit lain) tidak ditemukan. –Funduskopi: elevasi dan edema makula. –Kecurigaan ablasi  fotopsia / floater (-), gambaran funduskopi tidak ditemukan. –> 4 bulan  Tahap 3 (kronik).

35 Pemeriksaan Penunjang: –Foto fundus = funduskopi –OCT: Edema dan elevasi akibat cairan serosa subretinal (tipe 1) Belum terdapat komplikasi. Rencana diagnosis: –Amsler Grid Menentukan lokasi metamorfopsia Deteksi kelainan lain. –FA Melihat lokasi dan tipe kebocoran.

36 Rencana Tatalaksana: –Kronik (1 tahun)  indikasi fotokoagulasi –Stres dan steroid  faktor risiko  modifikasi Prognosis ODS: –Ad vitam: tidak mengancam nyawa  bonam. –Ad fungsionam: visus belum begitu rendah  dubia ad bonam  risiko komplikasi  fotokoagulasi. –Ad sanactionam: rekurensi tinggi  dubia ad malam.

37

38 Pertanyaan Wahyu –Perjalanan penyakit CSR ada beberapa tahap. Berapa lama tiap tahap berjalan dari penglihatan yang baik hingga menjadi tahap lanjut? 4-6 bulan  tahap 1 Tahap 3 sudah > 4-6 bulan hingga tahunan Komplikasi  tahap 5-6, dapat mencapai 5-10 tahun

39 Pertanyaan Kegagalan pompa RPE untuk mengembalikan cairan ke dalam lapisan koroid, tapi mengapa banyak terjadi di makula padahal RPE-nya tebal di makula? –Mekanisme belum sepenuhnya dipahami –ICSC  idiopatik –Kenaikan kadar cAMP terfokus pada makula, tapi belum dipahami –Kebocoran kapiler terjadi pada semua tempat, tapi diperberat oleh pompa ionik, terutama di makula

40 Pertanyaan Reiva –Visus pada CSCR dapat dikoreksi dengan lensa. Apakah ada penyakit lain yang memiliki tanda-tanda seperti ini untuk membantu menyingkirkan diagnosis banding lain? Perbaikan dengan pinhole dan lensa sferis dapat bervariasi Kecurigaan kelainan organik diperoleh terutama melalui anamnesis dan funduskopi makula

41 Pertanyaan Reiva –Penggunaan metroteksat dan rifampisin untuk memperbaiki komplikasi, hanya clinical trial dan belum ada hubungan bermakna

42 Feedback Perdefinisi: –CSR  penumpukan cairan di subretinal space –Pada pasien ini, penumpukan cairan terjadi pada intraretinal (bandingkan hasil OCT pasien dengan tinjauan pustaka) –Gambaran funduskopi ada ‘halo’, sesuai gambaran CSR

43 Feedback CSR  mata tenang visus turun perlahan atau mendadak ? –Contoh perlahan  katarak –Contoh mendadak  perdarahan vitreus Apa perbedaan perlahan dan mendadak? –Mendadak  ditanya: penglihatan kabur, sejak ___ hari yang lalu. Pasien tahu persis kapan mulainya ! –Perlahan  tidak jelas kapan mulainya

44 Feedback Terutama bagi orang yang memperhatikan, onset kejadian penurunan visus akan diketahui. CSR termasuk mendadak karena pasien tahu persis kapan mulainya, termasuk optic neuropathy. Bukan karena lama berarti “perlahan”, tapi bagaimana pasien tahu/tidak dengan pasti onsetnya

45 Feedback Tugas: –tanyakan pada konsulen subspesialis retina, apakah kasus ini CSR atau bukan. Karena lebih ke arah CME (Cystoid macular edema), karena ada cairan intraretinal yang nyata –Apakah bisa terjadi progresi dari CSR ke CME, dengan faktor risiko: steroid Rod and cones  color vision, maka pada pasien ini tidak akan bagus

46 Feedback Amsler grid  untuk meyakinkan pemeriksa apakah metamorphosia yang dikeluhkan pasien benar-benar tergambar ada. Yang lebih sederhana: batang Maddock (?), suatu lensa merah dengan garis-garis vertikal/horizontal (tergantung posisi), kemudian disinari dengan senter  bisa white atau red Maddock. Ada metamoropsia, ketebalan garis tidak akan sama, ada distorsi

47 Feedback Kegunaan: –meyakinkan pemeriksa –Yang terlihat hitam bukan bintik buka tapi titik fiksasi (cahaya jatuh ke fovea), kemudian diperintahkan untuk menggambarkan apakah ada kelainan penglihatan di sekitar titik fiksasi Sensasi subjektif pasien dengan amsler grid atau Maddock lebih spesifik daripada hasil fundus di makula, jika ada  rencanakan OCT

48 Feedback FFA –Untuk mengetahui ada tidaknya kebocoran –Panduan untuk fotokoagulasi –Jika tidak perlu fotokoagulasi, tidak perlu FFA –Indikasi fotokoagulasi dari FFA

49 Papilomakular bundle  tidak boleh dilaser Yang panah hijau  boleh laser


Download ppt "PENDAHULUAN Makula: penglihatan fokus / detail  membaca, menyetir. CSCR / ICSC / CSR –Idiopatik –Laki – laki (10 / 100.000) –Ras Asia dan Hispanik –Usia."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google