Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

ILMU TANAH HUTAN 1.Hilarius Erwin 2.Achmad Sholichin Al - Q 3.Ryan Tanjaya 4.Alvina N ur Fadhilla 5.Fahma Arlia 6.Vika Nurayani.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "ILMU TANAH HUTAN 1.Hilarius Erwin 2.Achmad Sholichin Al - Q 3.Ryan Tanjaya 4.Alvina N ur Fadhilla 5.Fahma Arlia 6.Vika Nurayani."— Transcript presentasi:

1 ILMU TANAH HUTAN 1.Hilarius Erwin 2.Achmad Sholichin Al - Q 3.Ryan Tanjaya 4.Alvina N ur Fadhilla 5.Fahma Arlia 6.Vika Nurayani

2 ABRASI

3

4 PENGERTIAN ABRASI Abrasi adalah proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai. Pengikisan ini terjadi karena permukaan air laut mengalami peningkatan. Naiknya permukaan air laut ini disebabkan mencairnya es di daerah kutub akibat pemanasan global.

5 PENYEBAB ABRASI Abrasi disebabkan oleh naiknya permukaan air laut diseluruh dunia karena mencairnya lapisan es di daerah kutub bumi. Mencairnya lapisan es ini merupakan dampak dari pemanasan global yang terjadi belakangan ini. Seperti yang kita ketahui,pemanasan global terjadi karena gas-gas CO2 yang berasal dari asap pabrik maupun dari gas buangan kendaraan bermotor menghalangi keluarnya gelombang panas dari matahari yang dipantulkan oleh bumi, sehingga panas tersebut akan tetap terperangkap di dalam atmosfer bumi dan mengakibatkan suhu di permukaan bumi meningkat. Suhu di kutub juga akan meningkat dan membuat es di kutub mencair, air lelehan es itu mengakibatkan permukaan air di seluruh dunia akan mengalami peningkatan dan akan menggerus daerah yang permukaannya rendah. Hal ini menunjukkan bahwa terjadinya abrasi sangat erat kaitannya dengan pencemaran lingkungan.

6 PROSES TERJADINYA ABRASI Abrasi dapat terjadi karena:  Faktor Alam  Faktor manusia.

7 FAKTOR ALAM Proses terjadinya abrasi karena faktor alam disebabkan oleh angin yang bertiup di atas lautan yang menimbulkan gelombang dan arus laut sehingga mempunyai kekuatan untuk mengikis daerah pantai. Gelombang yang tiba di pantai dapat menggetarkan tanah atau batuan yang lama kelamaan akan terlepas dari daratan. Gambar di samping menunjukkan skema arah gelombang laut yang mengikis pantai. Abrasi terjadi ketika angin yang bergerak di laut menimbulkan gelombang dan arus menuju pantai. Arus dan angin tersebut lama kelamaan menggerus pinggir pantai. Gelombang di sepanjang pantai menggetarkan tanah seperti gempa kecil. Kekuatan gelombang terbesar terjadi pada waktu terjadi badai sehingga dapat mempercepat terjadinya proses abrasi.

8 Contoh abrasi karena faktor alam, misalnya adalah Pura Tanah Lot di pulau Bali yang terus terkikis

9 FAKTOR MANUSIA Selain faktor alam, abrasi juga disebabkan oleh faktor manusia, misalnya penambangan pasir. Penambangan pasir sangat berperan banyak terhadap abrasi pantai, baik di daerah tempat penambangan pasir maupun di daerah sekitarnya karena terkurasnya pasir laut akan sangat berpengaruh terhadap kecepatan dan arah arus laut yang menghantam pantai.

10 GAMBAR PENAMBANGAN PASIR

11 DAMPAK ABRASI  Penyusutan lebar pantai sehingga menyempitnya lahan bagi penduduk yang tinggal di pinggir pantai  Kerusakan hutan bakau di sepanjang pantai, karena terpaan ombak yang didorong angin kencang begitu besar.  Kehilangan tempat berkumpulnya ikan ikan perairan pantai karena terkikisnya hutan bakau

12 PENANGGULANGAN ABRASI 1. Penanaman kembali hutan bakau Yaitu melalui rehabilitasi lingkungan pesisir yang hutan bakaunya sudah punah, baik akibat dari abrasi itu sendiri maupun dari pembukaan lahan tambak. Hutan mangrove secara alamiah melindungi pantai dari gempuran ombak. Sistem perakaran tumbuhan bakau yang khas, berfungsi mematahkan energi gelombang dan menahan sedimen di pesisir sehingga tidak terseret arus ke laut. Jika benteng alam ini hilang, kawasan pantai menjadi kawasan tak terlindung dan langsung menjadi sasaran empasan gelombang laut.

13 KONDISI TANAH SEKITAR PANTAI Landform endapan pasir pesisir pantai dengan keadaan relief 2-10 m dan kemiringan lereng < 2%. Tanah yang dijumpai adalah tropopsamments dengan bahan induk tanah berasal dari batuan aluvium dan pasir pantai marine muda. Tanah tropopsamments ini memiliki tekstur lempung berpasir sampai pasir dengan konsistensi agak lekat sampai tidak lekat. Drainase tanah umumnya sangat buruk dengan kedalaman perakaran cm dan kedalaman air tanah 0-5 cm. Warna tanah umumnya abu-abu dengan chroma 1 pada setiap lapisannya. Derajat keasaman tanah berdasarkan H2O berkisar antara 6-7. Potensi pirit diduga terdapat pada kedalaman 9-33 cm dan cm, yang ditunjukkan oleh penurunan pH H2O sebesar dua satuan setelah tanah tersebut dioksidasi dengan H2O2. Berdasarkan analisis laboratorium, kandungan pirit pada masing-masing kedalaman tanah tersebut adalah 1,05% dan 1,39%.

14 KENDALA PENANAMAN BAKAU 1.Tidak ada perawatan setelah penanaman. Rhizopora sp yang baru tumbuh di pantai sangat rentan terhadap ketam (wideng). Ketika laut pasang, ketam singgah di pohon dan memotong batang muda itu. 2.Kondisi Tanah Secara umum faktor lingkungan (tanah dan kualitas air) di kedua sistem lahan mendukung pertumbuhan mangrove dalam kegiatan rehabilitasi mangrove, kecuali kandungan pirit tanah. Kandungan pirit tanah yang dijumpai di kedua sistem lahan tersebut akan berakibat fatal bagi pertumbuhan mangrove, jika tidak segera diatasi. Pemicu utama potensi pirit tersebut adalah terhambatnya aliran air pasang surut, terutama akibat keberadaan tanggul bekas tambak. Oleh karena itu, salah satu upaya yang dapat mengurangi potensi pirit tersebut adalah mengupayakan agar berbagai hambatan yang menyebabkan air pasang masuk untuk menggenangi kawasan tersebut dapat dihilangkan, sehingga aliran air saat pasang dan surut dapat mengalir dengan lancar. 3.Hantaman ombak

15 GAMBAR PENANAMAN BAKAU

16 2. Pelarangan penggalian pasir pantai Perlu peraturan baik tingkat pemerintah daerah maupun pusat yang mengatur pelarangan pasir pantai secara besar besaran yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan. Gambar beberapa warga dan Tim Gabungan Pemkot memasang papan yang melarang warga mengambil pasir laut dan mendirikan bangunan di pantai Pekalongan.

17 3. Penanaman pohon  Penanaman pandan laut. Pohon ini masih bisa ditanam di dekat pantai. Tapi di pantai lain sulit karena ombak besar serta tanahnya berpasir  Penanaman cemara udang Namun fungsi penanaman pohon ini lebih pada mengurangi kencangnya angin atau sebagai penahan angin barier. Dengan adanya pohon cemara udang angin laut yang sangat besar bisa tertahan oleh pohon ini, sehingga di daerah sekitar pantai masih bisa ditanami tanaman produksi

18 SUMBER  www. kr. co.id    www. kompas. com  

19 TERIMA KASIH


Download ppt "ILMU TANAH HUTAN 1.Hilarius Erwin 2.Achmad Sholichin Al - Q 3.Ryan Tanjaya 4.Alvina N ur Fadhilla 5.Fahma Arlia 6.Vika Nurayani."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google