Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Apa yang Disiapkan? 1.Kenali tiga tahapan menulis artikel 2.Carilah ide yang menarik 3.Tetapkan topik secara spesifik 4.Pilih judul yang provokatif 5.Rumuskan.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Apa yang Disiapkan? 1.Kenali tiga tahapan menulis artikel 2.Carilah ide yang menarik 3.Tetapkan topik secara spesifik 4.Pilih judul yang provokatif 5.Rumuskan."— Transcript presentasi:

1

2 Apa yang Disiapkan? 1.Kenali tiga tahapan menulis artikel 2.Carilah ide yang menarik 3.Tetapkan topik secara spesifik 4.Pilih judul yang provokatif 5.Rumuskan tesis secara jelas dan ringkas 6.Buatlah kerangka karangan dengan menggunakan po- la 3 P dan rumus ABC 7.Pilih referensi yang relevan, aktual, dan representatif

3 TIGA TAHAP MENULIS ARTIKEL 1.Persiapan Penulisan (prewriting): administratif, tek- nis, akademis, psikologis 2.Pelaksanaan Penulisan (writing): menulis dan me- nulis terus, konsentrasi, jangan hiraukan gangguan yang bisa membatalkan aktivitas menulis 3.Perbaikan Tulisan (editing): judul, intro, komposisi, akurasi dan relevansi data, ejaan dan istilah teknis serta kata serapan, gramatika, bobot dan substansi materi tulisan, asumsi dampak dari media dan pem- baca

4 MENCARI IDE YANG MENARIK Ide adalah sesuatu yang melintas dalam pikiran kita. Sifat- nya masih umum dan bisa apa saja. Bisa dalam bentuk se buah kata, kalimat, gambar, simbol, warna, isyarat, tanda; bisa juga nama orang, binatang, tumbuhan. Dari sini mun- cullah kemudian gagasan. Gagasan adalah cikal-bakal suatu kegiatan atau pekerjaan yang akan kita lakukan. Da lam bahasa psikologi, gagasan adalah sesuatu hal yang memotivasi kita untuk melakukan suatu pernyataan, sikap, atau tindakan tertentu.

5 Sumber Ide 1.Pengalaman pribadi 2.Hobi atau keterampilan 3.Pengalaman profesi, pelajaran sekolah, penataran 4.Pendapat dan hasil pengamatan pribadi 5.Peristiwa aktual 6.Peristiwa yang bakal terjadi 7.Masalah abadi seperti agama, pendidikan, 8.Masalah masyarakat seperti kejahatan, KKN 9.Kejadian khusus seperti peringatan/perayaan hari ber- sejarah 10.Minat khalayak seperti gaya hidup, mode, kesehatan

6 Menyeleksi dan Menetapkan Ide 1.Aktual: mengandung unsur kebaruan agar menarik perhatian, membuat rasa ingin tahu, membuka ca- krawala pengetahuan pembaca 2.Relevan: sesuai disiplin ilmu, latar belakang pendi- dikan, pengetahuan, atau bidang keahlian kita 3.Terjangkau: menunjuk daya dukung tenaga, biaya, sarana, referensi.

7 MENETAPKAN TOPIK SECARA SPESIFIK Topik atau pokok bahasan dapat diartikan sebagai pernya- taan tentang isi pokok bahasan yang sudah dibatasi ruang lingkupnya secara spesifik. Topik sebaiknya dirumuskan dalam satu kalimat yang utuh dengan syarat kalimat itu ti- dak bersifat konklusif (menyimpulkan). Kriteria topik artikel yang spesifik: sesuai dengan latar be- lakang pengetahuan, pendidikan, atau keahliannya; mena- rik minat; sesuai bingkai pengetahuan pembaca;aktual, fe- nomenal, atau kontroversial; jelas ruang lingkupnya; di- tunjang dengan referensi yang cukup

8 MEMILIH JUDUL PROVOKATIF Judul adalah identitas sebuah artikel. Karena itu, judul sa- ngat penting bagi artikel itu sendiri maupun bagi pembaca. Artikel tanpa judul merupakan sesuatu yang anonim, tak di- kenal, abstrak sehingga tak mampu memberi pesan. Bagi pembaca, judul merupakan pemicu daya tarik pembaca un tuk membaca artikel tersebut atau justru segera melewati dan melupakannya. Syarat judul artikel yang baik, antara lain: provokatif, singkat-padat, relevan, fungsional, informal, representatif, merujuk penggunaan bahasa baku, mudah di baca dan diingat, harus berbentuk frase dan bukan berben- tuk kalimat

9 MERUMUSKAN TESIS SECARA RINGKAS Tesis atau simpulan adalah pendapat utama dari keselu- ruhan uraian artikel yang ditulis. Setiap artikel harus memi- liki tesis. Secara teknis, tesis terbagi atas tesis utama dan tesis pendukung. Penggunaan tesis utama dan tesis pendu kung biasanya hanya terdapat pada artikel yang relatif pan jang atau lebih dari 10 halaman HVS A-4 dengan ketikan satu spasi. Tesis artikel yang baik harus memenuhi tiga syarat, yaitu: (1) ringkas dan jelas, (2) mencerminkan topik, dan (3) mengandung kebaruan.

10 1. Ringkas dan jelas: - Simpulan dinyatakan dlm kalimat yg ringkas, jelas, jer- nih, mudah dipahami maksudnya serta tdk menimbul- kan salah pengertian. 2. Mencerminkan topik: - Tesis yg baik harus mencerminkan pokok persoalan yg dinyatakan dlm kalimat topik. Contoh: Peluang Amien Rais menjadi presiden. Apakah peluang itu besar, se- dang, kecil, atau sama sekali tdk ada. 3. Mengandung kebaruan: - Jangan sampai terjadi pengulangan

11 Kapan membuat tesis? 1.Saat memulai menulis artikel: tempatnya pada bagian intro. Ini untuk artikel bersifat deduktif (simpulan dinya- takan terlebih dahulu baru kemudian disusul dng pen- jelasan,argumen, uraian). 2.Saat mengakhiri artikel: tempatnya pada bagian penu- tup. Ini untuk artikel bersifat induktif (simpulan dinyata- kan pada bagian akhir pembahasan dengan terlebih dahulu menjelaskan latar belakang, penjelasan, dan alasan atau argumen) Catatan: Topik dinyatakan dlm kalimat eksplanatif (penjelasan), te- sis dinyatakan dlm. kalimat konklusif (simpulan).

12 MEMBUAT KERANGKA SEDERHANA Membuat kerangka karangan (out line) ibarat menyiapkan struktur rumah yang akan kita bangun. Kita harus tahu per- sis segala sesuatu yang menyangkut pembangunan rumah tersebut. Lazimnya kerangka karangan berisi: 1.Ide 2.Topik 3.Tesis 4.Judul 5.Kerangka artikel dng merujuk pola 3P dan rumus ABC 6.Referensi

13 Pola 3 P a.Pendahuluan (intro) b.Pembahasan c.Penutup (simpulan, pendekatan induktif) Rumus ABC ABC hanya sebuah urutan pekerjaan yang sifatnya alfabe- tis. Secara numerik, ABC sama dengan 123. Jika dilacak maknanya, maka A berarti P1 (pendahuluan), B berarti P2 (pembahasan), C berarti P3 (penutup). Perbedaannya, pa da P1, P2, P3 baru kerangka yg belum berisi apa-apa (kon septual), pada A kerangka itu harus sudah diisi pernyataan tertentu sehingga menjadi operasional dan fungsional.

14 Contoh: 1.Ide: Amien Rais 2.Topik: Meneropong peluang Amien Rais bisa terpi- lih menjadi presiden RI periode 2004 – 2009 dibandingkan dengan empat kandidat presi- den pesaingnya, seperti: Wiranto, Megawa- ti Sukarnoputri,Susilo Bambang Yodhoyono, dan Hamzah Haz. 3.Tesis: Peluang Amien Rais bisa terpilih menjadi presiden sangat besar selama tokoh refor- masi yg dikenal bersih, jujur, vokal,serta tak bermasalah secara moral maupun hukum ini mampu menggalang kerjasama dan menda- pat dukungan dari kalangan kaum muda per kotaan, Muhammadiah, dan NU. 4.Judul: Peluang Amien Rais Menjadi Presiden RI

15 5. Kerangka karangan: (Pendahuluan) A. Kesiapan Jadi Kandidat Presiden - Deklarasi kesiapan jadi presiden - Reaksi pro-kontra dari berbagai kalangan - Pilihan manis dan pahit (Pembahasan) B. Peluang dan Tantangan yang Dihadapi - Rekam jejak sebagai tokoh reformasi - Peluang dukungan suara terbesar - Tantangan dari para pesaing (Penutup) C. Program Kerja dan Strategi Kampanye - Program kerja yang ditawarkan - Strategi kampanye yang dipilih - Asumsi sikap politik masyarakat

16 6. Referensi AS Haris Sumadiria NU: Melihat Peran Politik Kiai. Bandung: Anonim. Harian Pagi Kompas 11, 17 April 2004, Republika 21 April 2004, Bandung Pos 1 Mei Majalah Tempo edisi 6 April dan 13 Mei M. Ekazakia Kurnia Muhammadiah: Bermain da- lam Politik Tinggi. Bandung: Anonim. Wien Amalia Amien Rais Tokoh Reformasi. Ban- dung: Anonim. Catatan: Untuk menunjukkan aktualitas dan mendekatkan relevansi dengan topik artikel yang dibahas, daftar rujukan sengaja dibuat fiktif.

17 Struktur Artikel Jurnalistik 1. Teras (lead) terkadang disebut intro adalah alinea pem- buka artikel. Teras ditujukan sebagai pengantar gagasan atau pokok pikiran penulisnya. Atau, teras ditujukan da- lam rangka menata pikiran pembaca agar mengetahui isi artikel secara keseluruhan. Teras yang baik harus mam- pu memikat pembaca agar penasaran membaca terus. 2. Tubuh (body) adalah bagian isi artikel yang merupakan uraian pokok pikiran dari teras yang telah berhasil disu- sun. Uraian ini dibangun melalui sejumlah alinea. 3. Penutup (ending) adalah bagian akhir dari penulisan ar- tikel. Sebagai bagian dari artikel yang paling akhir dibaca hendaknya disusun agar dapat menimbulkan kesan yang mendalam bagi pembacanya dan berupa simpulan sementara atau simpulan akhir.

18 MODEL-MODEL PENULISAN TERAS (LEAD) 1. Model 5W 1H (who, where, when, why, what, how) Contoh: Nurahmat (30) terkesiap ketika melihat rekannya, Peter Chow, mem bayar 5 dolar AS untuk parkir selama 1 jam 30 menit di kawasan Simpang Lima, Semarang. 2. Model Kisahan Contoh: Bajunya koyak-moyak. Wajahnya lebam seolah habis dipukuli dan posisi jari-jari tangannya yang kaku seolah menyisakan sebuah per- lawanan yang sengit dan keras, entah dengan siapa. Sesosok ma- yat gadis belia tergeletak di tepi jalan raya Karangjati, Semarang. Pagi itu, sempat memacetkan lalu lintas hampir satu jam. 3. Model Pertanyaan Contoh: Benarkah Presiden Yudhoyono, yang belakangan ini sedang pu- sing berat akibat melemahnya nilai tukar rupiah, hanya punya hobi membaca?

19 4. Model Kutipan Langsung Contoh: “Saya tak akan serta-merta mengubah komposisi kabinet saya, ha- nya gara-gara melemahnya nilai tukar rupiah”, ujar Presiden Yu- dhoyono kepada wartawan. 5. Model Deskriptif Contoh: Dari luar, gedung LPMP Jateng tak mengesankan sebuah institusi yang selama ini telah mendiklat ribuan guru. Pasalnya, sosok ge- dung ini lebih mirip hotel dengan halaman luas yang asri dan nya- man. Apalagi, bangunan gedungnya yang berkesan sebagai tem- peristirahatan. 6. Model Ucapan Tokoh Contoh: Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ungkapan Bung Karno ini, agaknya, masih pas untuk kita gunakan dalam menyelesaikan ke- melut politik belakangan ini.

20 7. Model Menuding Contoh: Anda tentu masih ingat Ali Sadikin? Itu, lho, satu-satunya gubernur DKI Jakarta yang paling peduli terhadap Ibu Kota. Terbukti, pada musibah banjir tempo hari, ia langsung turun ke daerah-daerah pa- ling rawan banjir. 8. Model Sapaan Contoh: Kawanku, pengelolaan Semarang sebagai ibu kota Jateng, bela- kangan ini, makin tak jelas. Kota boleh heran, mengapa para peja- bat Pemerintah Provinsi Jateng tak mau mengurusi hal itu, selain mengizinkan pembangunan mal secara gila-gilaan. 9. Model Parodi Contoh: Begitu saja, kok, repot. Mungkin begitulah yang ada dalam pikiran Mas Setiawan ketika harus menerima Astuti sebagai istri keduanya.

21 10. Model Figuratif Contoh: Bagai panas setahun dihapus hujan sehari, begitulah kesan terha- dap lembaga Komisi Pemilihan Umum yang sejumlah anggotanya terlibat masalah korupsi. 11. Model Literer Contoh: Kisah Si Malin Kundang terjadi lagi di Bekasi, ketika Mustafa (18) kepergok tengah memukuli ibu kandungnya, Nyi Desi (41). War- ga yang marah segera menghakimi Mustafa hingga babak-belur. Polisi pun segera membawa pemuda pengangguran itu ke rumah sakit terdekat. 12. Model Penggoda Contoh: Pengumuman yang kita nanti-nantikan akhirnya muncul; ya, seki- tar awal September 2005, kita bisa mendengar pengumuman Pe- merintah tentang kenaikan harga BBM dan barangkali juga tarfif listrik dan air.

22 13. Model Ringkasan Contoh: Ada hal yang menarik dari penjualan apartemen kelas menengah di dua kota besar di Indonesia, Jakarta dan Surabaya, yakni para konsumennya yang rata-rata berusia amat muda. 14. Model Stakato Contoh: Jelegur! Tret-tet-tet-tet! Jelegur! Tret-tet-tet-tet! Petasan terus ber- bunyi mengiringi langkah sepasang pengantin Betawi, yakni Bang Lilik dan Mpok Siti, kemarin siang di Pejaten, Pasar Minggu. 15. Model Dialog Contoh: “Masuklah! Anda siapa?”, ujar pemilik rumah itu, seorang wanita setengah baya yang masih menyisakan kecantikannya, dengan ramah. Aku sejenak termangu. Pasalnya, aku tak mengenalnya. Apa aku salah alamat?

23 16. Model Kumulatif Contoh: Masa kecilnya ia sudah mencuri mangga tetangga. Masa remaja- nya ia sudah berurusan dengan polisi gara-gara mencopet. Masa mudanya ia sudah merasakan dinginnya sel penjara karena me- merkosa pembantu rumah tangganya. Kini, ia, Tuan Candra, ada- lah direktur akademi akuntansi yang sukses. 17. Model Kontras Contoh: Bibir Monase yang tebal tak bisa menyembunyikan sinar kecewa dari matanya, ketika mendengar Rohana, gadis yang selama ini diincarnya, akan melangsungkan pernikahan. Tubuh Monasi yang tinggi besar itu pun ambruk, tak kuat menahan kecewa. 18. Model Epigram Contoh: Ada ubi ada talas, ada budi ada balas, kiranya teoat untuk melu- kiskan hubungan antara AS dan Indonesia.

24 MODEL-MODEL PENULISAN TUBUH ARTIKEL 1. Model Spiral Contoh: Terlepas dari masalah pro-kontra, tarif parkir mobil di Jakarta ada baiknya dinaikkan dalam jumlah signifikan. Sebutlah Rp 4 ribu sampai Rp 6 ribu per jam. Kalau langkah ini bisa dilakukan, rasa- nya warga akan sangat mengurangi perjalanan dengan menggu- nakan kendaraan pribadi. Warga akan memilih kendaraan alterna- tif atau naik kendaraan umum. Kenaikan tarif itu memang akan membuat publik berang, teta- pi langkah itu, setuju atau tidak setuju, berpotensi besar mengu- rangi kemacetan lalu lintas, terutama di Jakarta. Sudah terlalu la- ma kita berdebat tentang upaya mengurangi kemacetan Jakarta. Berbagai langkah telah dilakukan, di antaranya menambah pan- jang dan lebar jalan. Akan tetapi, upaya ini terlampau lamban un- tuk mengimbangi percepatan pertambahan kendaraan, terutama mobil pribadi (Kompas, 5 Agustus 2005, hal. 33).

25 2. Model Rekatan menggunakan partikel penghubung atau pene- gas, seperti: tetapi, bahwa, oleh karena itu, yang, dan, selanjut- nya, apabila, seperti, dengan, meski demikian, tatkala. Contoh: Data satelit GSM dan NOAA tanggal 8 Februari 2002 mengindika- sikan pertumbuhan siklon di tenggara Irian Jaya. Namun dari data pola angin yang ada, diketahui siklon ini tidak begitu berbahaya ba- gi wilayah Indonesia. Meski demikian, satelit juga menangkap adanya liputan awan yang mulai bergerak ke arah timur menuju tekanan rendah di sebe- lah tenggara Irian Jaya. Sebab itu, Sabtu (9/2) ini, kondisi hujan yang curahnya cukup besar masih terjadi di Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Selatan, dan Irian Jaya bagian selatan (Kompas, 9 Februari 2002, hal.1).

26 3. Model Blok, yaitu menyebarkan pokok pikiran ke dalam alinea yang terpisah-pisah. Contoh: Aduh seram! Katanya ada aliran agama di Indonesia yang kerjanya tak lain menyuruh orang ambil jalan sesat keliru menuntun orang ke neraka jahanam. Ah lega! Katanya ada pengawal agama yang tegas tuntas men- jaga orang dari kesesatan, kekeliruan, kesalahjalanan. Maka di- obrak-abriklah si sesat itu, rumahnya, pengikutnya, ajarannya, dan haknya untuk berada. Yang murtad harus musnah. Yang salah ja- lan harus dipaksa (…). Alamak! Kok amburadul? Katanya ini negeri bhineka tunggal ika. Ada pulau, tetapi satu bangsa. Ada 700 bahasa dan di- alek, tetapi satu bahasa nasional. Katanya negeri ini ada saling tenggang rasa harga-menghargai baku terima, sama seperti di ne- geri seberang ada toleransi yang bikin hidup nyaman asri? (Kom- pas, 5 Agustus 2005, hal. 15).

27 4. Model Tematik, pokok pikiran yang terdapat dalam tiap-tiap ali- nea menegaskan teras. Contoh: Anggota Kongres AS dari Partai Demokrat, Robert Waxler, menge- mukakan, Pemerintah AS dan Presiden George W. Bush secara sa- ngat jelas mengatakan mendukung integritas Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Pemerintah AS tidak mendukung gerakan separatis apa pun yang berupaya melepaskan diri dari Indonesia, termasuk Papua. “Kebijakan Pemerintah AS jelas. Pernyataan Presiden Bush ju- ga sangat jelas ketika bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyo- no di Washington. Kami, Amerika Serikat, mendukung integritas te- ritorial Indonesia…(…),” ujar Waxler seusai bertemu Presiden Yu- dhoyono di Kantor Presiden di Jakarta (Kompas, 5 Agustus 2005, hal. 2).

28 5. Model Kronologis, yaitu merinci dan mengembangkan alinea berdasarkan hukum sebab-akibat atau peristiwa demi peristiwa. Contoh: Di tengah kebingungan dan ketidakpastian nasib Harcus, aku lang- sung diisolasi oleh keluarga di dalam kamar. Sebab, kalau mende- ngar informasi yang sepenggal-sepenggal, nanti malah membuatku bingung. Sebelumnya Pak Masduki juga berpesan, menyangkut be- rita tentang Harcus, aku jangan mendengarkan informasi lain selain dari AURI. Waktu terus merambat, hatiku semakin tidak karu-karuan. Sam- pai sore itu masih belum ada kepastian. Aku hanya bisa menangis dan terus berdoa. Begitu tegangnya, tekanan darahku merambat naik. Tetanggaku, kebetulan banyak yang berprofesi sebagai dokter, terus mendampingiku. Mereka terus berusaha menguatkan hatiku yang saat itu semakin tak menentu (Nova, 7 Agustus 2005, hal.44).

29 MODEL-MODEL PENULISAN PENUTUP 1. Model Simpulan, yaitu merumuskan antiklimaks dari keselu- ruhan persoalan yang telah diuraikan dalam tubuh. Model ini cocok untuk tulisan yang tubuhnya dikembangkan melalui mo- del kronologis. Contoh: Berat memang ditinggal Harcus. Tapi, aku berusaha tetap tabah. Aku terima ini sebagai garis hidup. Aku yakin Allah punya rencana yang lebih baik di balik musibah ini. Selamat jalan, Nak, semoga Tuhan memberi tempat terbaik untukmu (Nova, 7 Agustus 2005, hal. 44). 2. Model Menggantung, yaitu sengaja membuat pertanyaan atau pernyataan yang tidak selesai, menyentak, atau menyengat. Model ini biasanya kita temukan dalam ending kisah horor atau spionase. Contoh: Jadi, siapa sesungguhnya yang bertanggung jawab terhadap keter- tiban pedagang kaki lima?

30 3. Model Ringkasan, yaitu meringkas intisari persoalan yang ke- semuanya bermuara ke teras. Contoh: Bermimpi dan belajar meraih mimpi di sekolah-sekolah itu saja tidak cukup untuk menggapai sukses di dunia hiburan. Kiprah mereka se- telah lulus dan perilaku produsen industri hiburan yang tidak asal mencomot pemain dari “pinggiran” menjadi faktor lebih menentukan (Kompas, 14 Agustus 2005, hal. 1). Jakarta akan punya gawe. Yakni, SEA Games XIX. Tepatnya, pada Oktober Bayangkan, pada pesta sukan negara-ne- gara Asia Tenggara itu para duta olahraga akan saling adu prestasi. Saling cepat, saling unggul, dan saling kuat. Dalam kacamata politik, ajang pesta sukan semacam SEA Games XIX ini boleh direferensikan pada semangat kesatuan dan persatuan antarbangsa. Atau, lebih luas, penyelenggaraan pesta sukan antarnegara dapat menjadi legitimasi hegemonial (atau prestise) sebuah bangsa di mata bangsa lain.

31 Namun, dewasa ini, ketika semangat mondialisme marak di mana-mana, masih layakkah kacamata politik itu kita kenakan untuk melihat penyelenggaraan pesta sukan semacam SEA Games XIX? Pasalnya, banyak persoalan internal sebuah ne- gara membuat masyarakat negara tersebut bersikap cuek ter- hadap sebuah event olahraga kaliber dunia. Apalagi, jika itu persoalan sosial-ekonomi…(…). Jadi, andai tiba-tiba menyadari bahwa penyelenggaraan pesta sukan semacam SEA Games XIX lebih menarik ketim- bang masalah KKN, berarti kita sudah berbudaya olahraga. Cuma, mampukah kita memeliharanya? (Berita Buana, 25 Juli 1997, hal. 4).

32 MEMILIH REFERENSI YANG RELEVAN Mengutip sumber untuk artikel sebagai karya ilmiah popu- ler tidak perlu sama dengan ketika mengutip sumber untuk makalah, skripsi, tesis, atau disertasi sebagai karya ilmiah. Cara pengutipan untuk artikel lebih sederhana dan praktis. Beberapa cara menulis kutipan untuk artikel: 1. Kutipan lengkap Menurut AS Haris Sumdiria dalam bukunya Menulis Artikel dan Ta- juk Rencana, Bandung, Simbiosa Rekatama Media (2004: 19-41), persiapan menulis artikel mencakup tujuh langkah yang harus dila- kukan secara berurutan.

33 2. Kutipan lengkap, tetapi tanpa menyebutkan halaman yg dikutip Menurut AS Haris Sumadiria dalam buku Menulis Artikel dan Tajuk Rencana, Bandung, Simbiosa Rekatama Media (2004), persiapan menulis artikel mencakup tujuh langkah yang harus dilakukan seca- ra berurutan. 3. Kutipan hanya menyebutkan nama penulis dan judul bu ku serta tahun terbit Menurut AS Haris Sumadiria dalam buku Menulis Artikel dan Tajuk Rencana (2004), persiapan menulis artikel mencakup tujuh langkah yang harus dilakukan secara berurutan. 4. Kutipan hanya menyebutkan nama penulis, tetapi tidak mencantumkan judul buku, kota, dan nama penerbit Menurut AS Haris Sumadiria (2004:112), persiapan menulis artikel mencakup tujuh langkah yang harus dilakukan secara berurutan.

34 5. Kutipan yang hanya menyebutkan nama penulis, tetapi tidak mencantumkan judul buku Menurut AS Haris Sumadiria (2004), persiapan menulis artikel men- cakup tujuh langkah yang harus dilakukan secara berurutan. 6. Kutipan yang hanya menyebutkan nama belakang penu- lis, tahun terbit, dan nomor halaman sumber Menurut Sumadiria (2004: 112), persiapan menulis artikel mencakup tujuh langkah yang harus dilakukan secara berurutan. 7. Kutipan yang hanya menyebutkan nama belakang penu- lis dan tahun terbit sumber Menurut Sumadiria (2004), persiapan menulis artikel mencakup tu- juh langkah yang harus dilakukan secara berurutan.

35 Syarat referensi yang dikutip: 1.Relevan, berarti sumber rujukan yang digunakan harus sesuai dengan topik atau pokok bahasan artikel yang akan ditulis. 2.Aktual, berarti sumber rujukan yang dikutip itu harus- lah yang terbaru atau terkini, misalnya tentang: teori, model, pendekatan, data yang disajikan. 3.Representatif, berarti mewakili atau memadai. Contoh: Topik: Gejala makin maraknya kasus korupsi yang dilakukan para anggota DPRD di daerah-daerah. Penulis hanya merujuk pada satu sumber yang mengulas tentang otonomi daerah. Berdasar- kan logika akal sehat mengatakan bahwa penyebab korupsi tidak hanya otonomi daerah, tetapi masih ada beberapa faktor lainnya. Beberapa faktor itu harus dicari dari sumber rujukan lain, bahkan mungkin dengan pendekatan yang berbeda pula.


Download ppt "Apa yang Disiapkan? 1.Kenali tiga tahapan menulis artikel 2.Carilah ide yang menarik 3.Tetapkan topik secara spesifik 4.Pilih judul yang provokatif 5.Rumuskan."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google