Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

4/12/2015oedojo soedirham dr. Oedojo Soedirham, MPH, MA, PhD Departemen Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku FKM UNAIR 2010.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "4/12/2015oedojo soedirham dr. Oedojo Soedirham, MPH, MA, PhD Departemen Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku FKM UNAIR 2010."— Transcript presentasi:

1 4/12/2015oedojo soedirham dr. Oedojo Soedirham, MPH, MA, PhD Departemen Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku FKM UNAIR 2010

2  Lebih dari 3 dekade, sebuah revolusi metodologi diam-2 terjadi dalam ilmu-2 sosial (Denzin & Lincoln, 2003). Pengaburan batasan disiplin-2 telah terjadi. Ilmu-2 sosial dan humanities secara bersama tertarik dg fokus pada suatu pendekatan kualitatif interpretif terhadap riset dan teori.  Meskipun kecenderungan tersebut bukanlah hal baru, tingkat di mana “revolusi kualitatif” menyusul ilmu-2 sosial dan bidang profesional yang berkaitan lainnya begitu mengagumkan. 4/12/2015oedojo soedirham

3  Riset kualitatif mempunyai sejarah yg panjang, berbeda, dan kadangkala menyakitkan dalam disiplin-2 ilmu manusia ( human disciplines ).  Misalnya, di dalam sosiologi, karya “ Chicago S chool ” (Mazhab Chicago) pada tahun 1920an dan 1930an menegakkan pentingnya penelitian kualitatif untuk studi kehidupan kelompok manusia.  Di dalam antropologi, selama pada waktu yg sama, studi-2 Boas, Mead, Benedict, Bateson, Radcliffe- Brown menggambarkan kerangka ( outline ) dari metode lapangannya. 4/12/2015oedojo soedirham

4  Agendanya jelas: si pengamat pergi ke tempat yg asing untuk mempelajari adat ( custom ) dan kebiasaan ( habit ) masyarakat dan budaya yg lain.  Dg cepat, riset kualitatif dipakai dalam disiplin-2 sosial dan perilaku, termasuk pendidikan, sejarah, ilmu politik, business, kedokteran, keperawatan, kerja sosial, dan komunikasi. 4/12/2015oedojo soedirham

5  Riset Kualitatif adalah sebuah bidang penelitian di dalam hak-haknya sendiri.  Hal tsb melintasi disiplin-2, bidang, dan subyek masalah.  RISET KUALITATIF dikelilingi oleh sebuah kelompok keluarga istilah, konsep, dan asumsi-2 yg saling berkaitan.  Hal tsb mencakup tradisi yg dihubungkan dg fondalisme, positivisme, postfondalisme, postpositivisme, poststrukturalisme, dan/atau metode- 2, dihubungkan dg studi-2 kultural dan interpretif. 4/12/2015oedojo soedirham

6  Terdapat literatur-2 yg terpisah dan rinci pada banyak metode dan pendekatan yg termasuk dalam kategori riset kualitatif, misalnya studi kasus, politik dan etika, peneliitian partisipatif, pewawancaraan ( interviewing ), pengamatan oleh peserta (partisipan), metode visual, dan analiisis interpretif. 4/12/2015oedojo soedirham

7  Di Amerika Utara (AS dan Canada) riset kualitatif berjalan dalam bidang historis yang kompleks yg melintas 7 momen historis yg tumpang tindih dan secara serentak berjalan saat ini:  Tradisional (1900 – 1950)  Modernis / jaman keemasan (1950 – 1970)  Blurred genre (aliran yg kabur) (1970 – 1986)  Crisis of representation (1986 – 1990)  Posmodern, periode eksperimental dan etnografi baru (1990 – 1995)  Penelitian poseksperimental ( )  Masa depan ( …) 4/12/2015oedojo soedirham

8  Momen yg ke 7 konsen dg wacana moral, dg pengembangan tekstualitas “suci.” Momen ke 7 meminta ilmu-2 sosial dan humanity menjadi tempat bagi pembicaraan yg kritikal tentang demokrasi, ras, gender, kelas, negara-bangsa ( nation-state ), globalisasi, freedom, dan masyarakat.  Setiap definisi riset kualitatif harus bekerja di dalam bidang historis yg kompleks ini. Riset kualtitatif berarti segala sesuatu yg berbeda di dalam setiap momen-2 tersebut. Meskipun demikian, definisi awal dan generik dapat ditawarkan: 4/12/2015oedojo soedirham

9  Riset kualitatif adalah keadaan kegiatan yg menempatkan si pengamat dalam dunia. Hal ini terdiri dari sekumpulan praktek material yg interpretif yg membuat dunia terlihat. Praktek-2 tsb mengubah dunia. Mereka mengolah dunia ke dalam urutan representasi, termasuk catatan lapangan, wawancara, percakapan, fotograf, rekaman, dan memo-2 pribadi. Pada tingkatan ini riset kualitatif melibatkan sebuah pendekatan yg interpretif dan naturalistik terhadap dunia. Hal itu berarti bahwa para periset kualitatif mempelajari segala sesuatu dalam lingkup natural mereka, upaya membuat masuk akal dari, atau, menginterpretasikan, fenomena berkaitan dg arti yg dibawa orang kepada mereka. 4/12/2015oedojo soedirham

10  Peneliti Kualitatif dpt melakukan citra kemajemukan dan gender: ilmuwan, naturalis, pekerja lapangan, wartawan, kritikus sosial, artis, performer, musisi jazz, pembuat film, pembuat quilt, penulis essay.  Banyak praktek metodologi riset kualitatif dpt dianggap sbg soft science, jurnalisme, etnografi, bricolage, pembuatan quilt, atau montase.  Si peneliti, selanjutnya, dipandang sebagai bricoleur, sbg pembuat quilt, atau seperti dlm pembuatan film, orang yg menyusun gambar-gambar ke dlm montase. 4/12/2015oedojo soedirham

11  Nelson, Treichler, dan Grossberg (1992), Lévi-Strauss (1966), dan Weinstein dan Weinstein (1961) mengklarifikasi arti bricolage dan bricoleur :  Seorang bricoleur adalah orang yg serba tahu atau semacam orang profesional yg do-it-yourself. Banyak macam bricoleur – interpretif, naratif, teoretikal, politikal – yaitu, representasi sekumpulan potongan yg bersama-sama yg cocok dg spesifik situasi yg kompleks.  Bricolage : sekumpulan representasi yang berasal dari potongan-potongan, yg dicocokkan ke dalam hal yg spesifik daripada situasi yg kompleks. 4/12/2015oedojo soedirham

12  “The solution {bricolage} which is the result of the bricoleur’s method is an {emergent} construction” yg berubah dan mengambil bentuk baru karena alat yg berbeda, metode, dan teknik representasi dan interpretasi ditambahkan ke dalam teka-teki ( puzzle ).  Nelson et al. (1992) menjelaskan metodologi stdui-2 kultural “as a bricolage. Its choice of practice, that is, is pragmatic, strategic and self-selective.” 4/12/2015oedojo soedirham

13  Peneliti Kualitatif sebagai bricoleur atau pembuat quilt memakai estetika dan alat material dari keahliannya, memakai strategi apapun, metode, atau material empiris ditangannya.  Jika alat atau teknik baru harus ditemukan, atau dikumpulkan bersama, kemudian periset akan melakukannya. Pilihan-2 mengenai praktek interpretif mana yg dipakai tidak perlu ditetapkan sebelumnya.  Pilihan praktek riset tergantung pada pertanyaan yg diajukan, dan pertanyaan tgt pada konteks, apa yg tersedia dlm konteks dan apa yg peneliti dapat kerjakan dalam lingkup tersebut. 4/12/2015oedojo soedirham

14  Praktek-2 interpretif melibatkan isu-2 estetika, suatu representasi estetika yg melampaui pragmatis atau praktikal. Di sini konsep montase berguna.  Montase adl teknik editing gambar-gambar sinema. (Dalam sejarah sinematografi yg terkenal: the Battleship of Potemkin, 1925). Di dalam montage, beberapa gambar yg berbeda diletakkan satu dg yg lain (superimpose) untuk menciptakan sebuah gambar.  Peneliti kualitatif yg menggunakan montase seperti pembuat quilt atau jazz improviser. Pembuat quilt menjahit, mengedit, dan meletakkan potongan- potomgam realitas bersama. Proses tsb menciptakan kesatuan psikologis dan emosional menuju pengalaman interpretif. 4/12/2015oedojo soedirham

15  Bricoleur interpretif memahami bahwa riset adalah proses interaktif dibentuk oleh sejarah pribadinya, biografi, gender, kelas sosial, ras, dan etnisitas, dan oleh mereka orang-orang yg ada di dalam lingkup penelitian.  Produk karya bricoleur interpretif adalah sebuah collage refleksif atau montase, yg kompleks, bricolage seperti quilt, -- sebuah kumpulan gambar dan representasi yg mengalir dan saling berhubungan. 4/12/2015oedojo soedirham

16  Collage: susunan benda-2 dan potongan-2 kertas dsb. yg. ditempelkan pd. bidang datar dan merupakan kesatuan karya seni.  Riset Kualitatif sebagai tempat praktek interpretif majemuk. 4/12/2015oedojo soedirham

17  Riset kualitatif, sebagai sekumpulan kegiatan interpretif, menghormati tidak ada satu praktek metodologi atas yg lain.  Sebagai tempat untuk diskusi, atau wacana, riset kualitatif adalah susah untuk didefinisikan secara jelas.  Riset kualitatif bukan milik salah satu disiplin keilmuan.  Para periset kualitatif menggunakan semiotik, naratif, isi (content), wacana, arsip dan analisis fonemik, bahkan statistik, tabel, gambar dan angka. 4/12/2015oedojo soedirham

18  Resistensi akademis dan disiplin thd riset kualitatif menggambarkan politik yg melekat dalam bidang wacana ini.  Tantangan thd riset kualitatif banyak sekali. Peneliti kualitatif disebut sebagai wartawan, atau ilmuwan lunak ( soft scientist ). Karya mereka disebut sebagai tidak ilmiah ( unscientific ), atau hanya eksploratori, atau subyektif. 4/12/2015oedojo soedirham

19  Kata kualitatif secara tak langsung menyatakan suatu penekanan pada kualitas entitas dan pada proses dan arti yang secara eksperimen tidak terkaji atau terukur yg berkaitan dg kuantitas, jumlah, intensitas, atau frekuensi.  Para periset kualitatif menekankan sifat realitas yg secara sosial dikonstruksikan, hubungan erat anatar periset dg apa yg diteliti, dan hambatan situasional yg membentuk penelitian. 4/12/2015oedojo soedirham

20  Sebaliknya, studi-2 kualitatif menekankan ukuran dan analisis hubungan sebab-akibat antara variabel, bukan proses. Para pendukung studi-2 ini mengklaim bahwa karya mereka dikerjakan dalam kerangka kerja bebas-nilai ( value-free ). 4/12/2015oedojo soedirham

21  Fase 1 Peneliti sbg Subyek Multikultural  Sejarah dan tradisi riset  Konsepsi diri (“self”) dan yang lain (“the other”)  Etika dan politik riset  Fase 2 Paradigma Teoritis dan Perspektif  Positivis, postpositivis  Interpretivism, konstruktivisme, hermeunetik  Feminisme  Wacana rasialis  Teori kritikal dan model Marxist  Model studi kultural  Teori queer 4/12/2015oedojo soedirham

22  Fase 3 Strategi Riset  Rancangan studi  Studi kasus  Etnografi, observasi peran serta, etnografi tampilan  Fenomenologi, etnometodologi  Grounded theory  Life history, testimoni  Metode historis  Riset aksi dan terapan  Riset klinis 4/12/2015oedojo soedirham

23  Fase 4 Metode Pengumpulan dan Analisis  Interview  Observasi  Artifact, dokumen, dan catatan  Metode visual  Otoetnografi  Metode manajemen data  Analisis dg bantuan komputer  Analisis tekstual  Kelompok terarah  Etnografi terapan 4/12/2015oedojo soedirham

24  Fase 5 Seni, Praktek, dan Politik Penafsiran dan Presentasi  Kriteria utk penilaian kecukupan  Praktek dan politik interpretasi  Menulis sbg interpretasi  Analisis kebijakan  Tradisi evaluasi  Riset terapan 4/12/2015oedojo soedirham

25  Fase 1: PERISET  Catatan yang ada tentang riset kualitatif menunjukkan kedalaman dan kompleksitas riset kualitatif tradisional dan terapan ke dalam mana peneliti masuk yg secara sosial disituasikan.  Bidang ini telah ditandai dg tetap oleh keragaman dan konflik, dan hal tsb merupakan tradisi yg paling menetap (enduring).  Jaman penelitian disiplin-2 manusia yang value- free sudah lewat.  Saat ini para periset berjuang untuk mengembangkan etika situasional dan transsituasional yang berlaku untuk semua bentuk tindakan riset dan hubungannya dari manusia ke manusia. 4/12/2015oedojo soedirham

26  Fase 2: PARADIGMA INTERPRETIF  Semua periset kualitatif adalah adalah ahli filsafat dalam arti “universal sense in which all human beings … are guided by highly abstract principles.”  Prinsip-2 tsb mengkombinasikan keyakinan tentang ontologi (What kind of being is the human being? What is the nature of reality?), epistemologi (what is the relationship between the inquirer and the known?), dan metodologi (How do we know the world, or gain knowledge of it?).  Keyakinan-2 tsb membentuk bagaimana periset kualitatif melihat dunia dan bertindak di dalamnya. 4/12/2015oedojo soedirham

27  Fase 2: PARADIGMA INTERPRETIF  Periset “bound within a net of epistemological and ontological premises which – regardless of ultimate truth or falacy – become partially self- validating.”  Jaring (net) yg terdiri dari premis epistemologis, ontologis, dan metodologis dari periset dapat disebut sebagai paradigma, atau sebuah kerangka kerja interpretif, “a basic set of beliefs that guides action.”  Semua riset adalah interpretif, hal itu dituntun oleh sebuah kumpulan (set) keyakinan dan perasaan tentang dunia dan bagaimana hal tsb seharusnya difahami dan dipelajari. 4/12/2015oedojo soedirham

28  Fase 2: PARADIGMA INTERPRETIF  Beberapa keyakinan dapat dipercayai begitu saja (taken for granted), tak kelihatan, hanya diasumsikan, sementara yg lain dapat sangat problematik dan kontroverisal.  Tiap-2 paradigma interpretif membuat tuntutan khusus pada periset, termasuk pertanyaan-2 yang ditanyakan olehnya dan interpretasi-2 yg dibawa periset pada mereka.  Pada tingkat yg paling umum, ada 4 bentuk paradigma interpretif utama riset kualitatif: positivis dan positivis, konstruktivis-struktural, kritikal (Marxist, emansipatori), dan feminis- poststruktural. 4/12/2015oedojo soedirham

29  Fase 3: STRATEGI-2 PENELITIAN dan PARADIGMA INTERPRETIF  Fase 3 ini mulai dg rancangan riset, yg dipahami secara luas, melibatkan suatu fokus yg jelas pada pertanyaan riset, maksud dari studi, “what information most appropriately will answer specific research questions, and which strategies are most effective for obtaining it.”  Sebuah rancangan riset menjelaskan: a flexible set of guidelines that connect theoretical paradigms first to strategies of inquiry and second to methods for collecting empirical material. 4/12/2015oedojo soedirham

30  Fase 3: STRATEGI-2 PENELITIAN dan PARADIGMA INTERPRETIF  A research design situates researchers in the empirical world and connects them to specific sites, persons, groups, institutions, and bodies of relevant interpretive material, including documents and archives.  A research design also specifies how the investigators will address the two critical issues of representation and legitimation. 4/12/2015oedojo soedirham

31  Fase 3: STRATEGI-2 PENELITIAN dan PARADIGMA INTERPRETIF  A strategy of inquiry comprises a bundle of skills, assumptions, and practices that the researcher employs as he or she moves from paradigms to the empirical world.  Strategies of inquiry put paradigms of interpretations into motion. At the same time, strategies of inquiry also connect the researcher to specific methods of collecting and analyzing empirical materials. 4/12/2015oedojo soedirham

32  Fase 4: METODE PENGUMPULAN dan ANALISIS MATERIAL EMPIRIS  Periset mempunyai beberapa metode untuk mengumpulkan material empiris.  Mereka berkisar dari wawancara sampai observasi langsung, analisis artefak, dokumen, dan catatan kultural, dan penggunaan material visual atau pengalaman pribadi.  Periset dapat juga menggunakan bermacam metode yg berlainan bacaan dan analisis interview atau teks kultural, termasuk isi, narasi, dan strategi semiotik. 4/12/2015oedojo soedirham

33  Fase 4: METODE PENGUMPULAN dan ANALISIS MATERIAL EMPIRIS  Dihadapkan dg sejumlah besar material kualitatif, si peneliti mencari jalan mengelola dan menginterpretasikan dokumen-2 tsb dan di sini metode pengelolaan data dab model-2 analisis yg dibantu dg komputer mungkin berguna. 4/12/2015oedojo soedirham

34  Fase 5: SENI dan POLITIK INTERPRETASI dan EVALUASI  Riset kualitatif adalah kreatif dan interpretif yg tiada akhir (endlessly). Si periset tidak hanya meninggalkan lapangan dengan banyak material empiris dan kemudian dengan mudahnya menuliskan temuannya.  Interpretasi kualitatif adalah dikonstruksikan. Pertama, si peneliti menciptakan teks bidang (field text) terdiri dari catatan lapangan dan dokumen dari lapangan, apa yg oleh Roger sanjek (1990) disebutnya “indexing” dan David Plath (1990) menyebutnya “filework.” 4/12/2015oedojo soedirham

35  Fase 5: SENI dan POLITIK INTERPRETASI dan EVALUASI  Si penulis-sebagai-penterjemah pindah dari teks ini menuju sebuah teks riset: catatan dan interpretasi berdasarkan teks lapangan. Teks ini kemudian ditulis ulang (re-created) sebagai dokumen kerja interpretif yg berisi upaya awal penulis membuat masuk akal apa yg sudah dia pelajari. Akhirnya, si penulis menghasilkan teks publik yg datang ke pembaca.  Praktek interpretif membuat masuk akal temuan seseorang adalah merupakan seni sekaligus politik. 4/12/2015oedojo soedirham

36  1.MERANCANG STUDI KUALITATIF  Kejelasan tentang maksud (purpose): tipologi  Purpose merupakan kekuatan pengontrol dalam riset.  Keputusan ttg rancangan, pengukuran, analisis, dan pelaporan semuanya mengalir dari purpose.   langkah pertama dalam sebuah proses riset adalah kejelasan tentang purpose. 4/12/2015oedojo soedirham

37  1.MERANCANG STUDI KUALITATIF  Kejelasan tentang maksud (purpose): tipologi  Sentralitas purpose dalam membuat keputusan metode adalah bukti dari pengkajian alternatif purpose:  1. basic research to contribute to fundamental knowledge and theory  2. applied research to illuminate a societal concerns  3. summative evaluation to determine program effectiveness  4. formative evaluation to improve a program  5. action research to solve a specific problem 4/12/2015oedojo soedirham

38  1.MERANCANG STUDI KUALITATIF  BASIC RESEARCH  Tujuan dari basic research adalah pengetahuan atas nama pengetahuan.  Para peneliti yg terlibat dalam basic research ingin mengerti bagaimana dunia ini berjalan. Mereka tertarik dalam meneliti sebuah fenomena agar supaya mendapatkan sifat-2 realitas yg berkaitan dg fenomena tsb.  Tujuan periset dasar (basic) adalah untuk mengerti dan menjelaskan. 4/12/2015oedojo soedirham

39  1.MERANCANG STUDI KUALITATIF  BASIC RESEARCH  Para periset dasar biasanya bekerja di dalam disiplin khusus, seperti fisika, biologi, psikologi, ekonomi, geografi, dan sosiologi.  Pertanyaan dan masalah yg mereka pelajari muncul dari tradisi-2 di dalam disiplin-2 tsb.  Tiap disiplin 4/12/2015oedojo soedirham

40 DisciplineBasic Questions AnthropologyWhat is the nature of culture? How does culture emerge? How is it transmitted? What are the functions of culture? PsychologyWhy do individuals behave as they do? How do human beings behave, think, feel, and know? SociologyWhat holds groups and societies together? How do various form of social organization emerge and what are their functions? What are the structures and processes of human social organizations? 4/12/2015oedojo soedirham

41  1.MERANCANG STUDI KUALITATIF  BASIC RESEARCH  Penelitian kualitatif memberikan sumbangan pada basic research melalui ‘grounded theory’ (Glaser and Strauss, 1967), pada dasarnya adalah sebuah strategi induktif untuk menghasilkan dan mengkonfirmasikan teori yg muncul dari keterlibatan yg dekat dan kontak langsung dengan dunia empiris.  Riset ini biasanya meminta kerja lapangan yg lama dan intensif. 4/12/2015oedojo soedirham

42  1.MERANCANG STUDI KUALITATIF  APPLIED RESEARCH  Para periset terapan bekerja pada masalah manusia.  Maksudnya untuk memberikan sumbangan pengetahuan yang akan membantu orang mengerti sifat dari masalah sehingga orang dpt lebih mengontrol lingkungannya secara lebih efektif. 4/12/2015oedojo soedirham

43  1.MERANCANG STUDI KUALITATIF  APPLIED RESEARCH  Sumber pertanyaan ada dalam masalah dan konsen-2 tg dialami oleh orang.  Tujuan penelitian terapan adalah untuk menghasilkan solusi potensial pada masalah manusia dan sosial.  Para periset terapan mengambil temuan, pengertian, dan eksplanasi dri basic research dan mengaplikasikannya pada masalah dan pengalaman dunia nyata. 4/12/2015oedojo soedirham

44 Applied Research FieldIllustrative Problems to be studied Applied AnthropologyHow can the culture of a small minority group be preserved when that group is engulfed by a large or more powerful people with a different culture? Applied PsychologyHow can individuals become aware of, take control of, and change dysfunctional attitudes and behaviors? Applied SociologyHow can people of different races, religion, or socioeconomic statuses live and work together productively within a community? 4/12/2015oedojo soedirham

45  1.MERANCANG STUDI KUALITATIF  EVALUATION RESEARCH  Sekali solusi thd masalah teridentifikasi, kebijakan dan program dirancang untuk mengintervensi dalam masyarakat dan membawa perubahan.  Harapannya, intervensi dan perubahan akan efektif dlm membantu menyelesaikan masalah. Akan tetapi, keefektivan dari setiap intervensi oleh manusia adalah merupakan persoalan untuk diteliti. 4/12/2015oedojo soedirham

46  1.MERANCANG STUDI KUALITATIF  EVALUATION RESEARCH  Jadi langkah lanjut pada kontinuum riset adalah melakukan riset evaluasi dan kebijakan untuk menguji keefektivan solusi spesifik dan intervensi manusia.  Riset evaluasi mengkaji proses dan outcome yang ditujukan oleh upaya solusi. 4/12/2015oedojo soedirham

47  1.MERANCANG STUDI KUALITATIF  ACTION RESEARCH  Action research bertujuan menyelesaikan masalah spesifik di dalam sebuah program, organisasi, atau masyarakat.  Secara eksplisit dan purposefully menjadi bagian daripada proses perubahan dengan melibatkan orang di dalam program atau organisasi dalam mengkaji masalah mereka sendiri agar supaya menyelesaikan masalah tersebut. 4/12/2015oedojo soedirham

48  1.MERANCANG STUDI KUALITATIF  ACTION RESEARCH  Sebagai hasilnya, perbedaan antara riset dan action menjadi sangat kabur dan metode riset cenderung untuk kurang sistematis, lebih informal, dan sangat spesifik pada masalah, orang, dan organisasi di mana riset tsb dilakukan. 4/12/2015oedojo soedirham

49 RESEARCH EXAMPLES Basic researchWhat are the variations in types of families and what functions do those variations serve? Applied researchWhat is the divorce rate among different kinds of families in Indonesia and what explains different rates of divorce among different groups? Summative evaluation research What is the effectiveness of a federal and state-funded educational program teaching family members communication skills? Formative evaluation research How can the communication program teaching family coping skills be improved? What are the program’s strengths and weaknesses? Action researchA self-study by family members in a particular mosque, organization, or community to figure how they can be more supportive of and help each other. 4/12/2015oedojo soedirham

50  PURPOSEFUL SAMPLING  Penelitian kualitatif biasanya berfokus pada kedalaman (in-depth) pada sampel yg secara relatif kecil, bahkan hanya single case (n = 1), dipilih secara purposif. Sebaliknya penelitian kuantitatif tergantung pada sampel yg besar dan dipilih secara acak.  Tidak hanya teknik sampling nya berbeda, tetapi logika setiap pendekatan adalah unik karena tujuan masing-2 strategi berbeda. 4/12/2015oedojo soedirham

51  PURPOSEFUL SAMPLING  Logika dan kekuatan purposeful sampling terletak pada pemilihan information-rich cases untuk studi dalam kedalaman.  Information-rich case adl mereka darimana seseorang dapat mengerti sesuatu yg berharga tentang isu-2 sentral pentingnya thd tujuan daripada riset, jadi istilahnya purposeful sampling. 4/12/2015oedojo soedirham

52  2.STRATEGI LAPANGAN DAN METODE OBSERVASI  Folk wisdom about human observation. What people “see” is highly dependent on their interests, biases, and backgrounds. Our culture tells us what to see our early childhood socialization instructs us in how to look at the world, and our value systems tell us how to interpret what passes before our eyes. 4/12/2015oedojo soedirham

53  2.STRATEGI LAPANGAN DAN METODE OBSERVASI  The of observational data is to describe the setting that was observed, the activities that took place in that setting, the people who participated in those activities, and the meanings of what was observed from the perspective of those observed.  The description must be factual, accurate, and thorough without being cluttered by irrelevant minutiae and trivia. 4/12/2015oedojo soedirham

54  2.STRATEGI LAPANGAN DAN METODE OBSERVASI  Variations in observational methods  Variations in Observer Involvement (Participant or Onlooker)  Overt or Covert Observation  Variations in Duration of Observations  Variations in Observational Focus 4/12/2015oedojo soedirham

55  2.STRATEGI LAPANGAN DAN METODE OBSERVASI  What to observe: a sensitizing framework  Context  Goals  Inputs  Recruitment  Intake  Implementation  Processes  Outcomes  Products  Impacts 4/12/2015oedojo soedirham

56  2.STRATEGI LAPANGAN DAN METODE OBSERVASI  Folk wisdom about human observation  The value of observational data  Variations in observational methods  What to observe: a sensitizing framework  Source of data  Doing fieldwork: the data gathering process 4/12/2015oedojo soedirham

57  2.STRATEGI LAPANGAN DAN METODE OBSERVASI  Observations,interviews, and documentation:  Bringing together multiple perspectives on a program  The stages of fieldwork  Entry into the field  What you say and what you do  Routinization of fieldwork  Bringing fieldwork to a close  Summary guidelines for fieldwork 4/12/2015oedojo soedirham

58  3.WAWANCARA KUALITATIF  Inner perspectives  Maksud dari interviewing adl menemukan apa yg ada di dalam dan pada pikiran seseorang.  Tujuan open-ended interviewing adl untuk mengakses perspektif orang yg sedang diinterview. Kita menginterview orang untuk mendapatkan segala sesuatu yg tidak dapat kita observasi secara langsung (perasaan, dsb). Isunya bukan apakah data observasi lebih diinginkan, valid, atau berarti ketimbang data self-report. 4/12/2015oedojo soedirham

59  3.WAWANCARA KUALITATIF  Variations in qualitative interviewing  Ada 3 pendekatan dasar untuk mengumpulkan data kualitatif melalui interview open-ended. Masing-2 melibatkan jenis persiapan, konseptualisasi, dan instrumentasi yg berbeda.  1. informal conversational interview  2. general interview guide approach  3. standardized open-ended interview 4/12/2015oedojo soedirham

60  3.WAWANCARA KUALITATIF  Variations in qualitative interviewing (lanj.)  Ke 3 pendekatan tsb berbeda dlm tingkatan pada mana pertanyaan ditentukan dan distandarkan sebelum interview terjadi.  Informal conversational interview mengandalkan selruhnya pada pertanyaan-2 spontan dalam alur yg alamiah dari suatu interaksi, biasanya interview ini terjadi sebagai bagian dari participant observation. Selama interview ini orang tsb mungkin tidak merasa bahwa mereka sedang diinterview. 4/12/2015oedojo soedirham

61  3.WAWANCARA KUALITATIF  Variations in qualitative interviewing (lanj.)  General interview guide approach melibatkan garis besar (outline) sekumpulan isu yg akan dijajaki dg masing-2 responden sebelum interview dimulai.  Susunan tidak perlu kusus dan kata-2 pertanyaan utk mendapatkan respon ttg isu-2 tidak ditentukan sejak awal.  Penuntun interview hanya sebagai daftar tilik dasar selama interview utk meyakinkan bahwa ada informasi yg sama yg harus didapatkan dari masing-2 informan, tetapi tidak ada standar pertanyaan yg ditentukan sebelumnya. 4/12/2015oedojo soedirham

62  3.WAWANCARA KUALITATIF  Variations in qualitative interviewing (lanj.)  Standardized open-ended terdiri dari sekumpulan pertanyaan yg secara hati-2 kata-2nya disusun dg maksud sekuensnya sama, dengan pertanyaan yg esensinya sama.  Fleksibilitas dalam probing kurang lebih terbatas, tergantung pada sifat intervuiew dan keterampilan interviewer. 4/12/2015oedojo soedirham

63  3.WAWANCARA KUALITATIF  The interview guide  Adalah daftar pertanyaan atau isu yang akan dijajaki selama dalam interview.  Disiapkan agar dpt yakin bahwa pada dasarnya informasi yg sama didapatkan dari sejumlah orang dengan mencakup material yg sama.  Daftar ini menyediakan topik-2 atau subyek di dalam mana si periset bebas menjajaki, probe, dan bertanya yg akan membentangkan dan menjelaskan subyek tsb. Jadi pewawancara bebas melakukan percakapan dalam subyek, bertanya spontan. 4/12/2015oedojo soedirham

64  3.WAWANCARA KUALITATIF  The interview guide (lanj.)  Keuntungan penuntun ini meyakinkan bahwa pewawancara telah hati-2 memutuskan bagaiman yg terbaik menggunakan waktu.  Penuntun ini khususnya berguna dalam melakukan interview kelompok.  Penuntun ini dapat dikembangkan lebih kurang rinci, tergantung pada tingkat pada mana periset mampu menspesifikasi isu-2 penting sebelumnya dan pada tingkat mana dirasakan bahwa sekuens kusus pertanyaan penting ditanyakan dalam cara yg sama atau dalam urutan yg sama. 4/12/2015oedojo soedirham

65  3.WAWANCARA KUALITATIF  The content of interviews  Sejumlah keputusan harus dibuat dalam perencanaan interview. Apakah interview itu spontan atau disiapkan secara hati-2  What questions to ask? How to sequence questions? How much detail to solicit? How long to make the interview? How to word the actual questions? 4/12/2015oedojo soedirham

66  3.WAWANCARA KUALITATIF  The content of interviews  Hal-2 tsb adalah pertanyaan ukuran yang akan mempengaruhi kualitas respon interview.  Ada 6 macam pertanyaan dasar:  Experience /Behavior questions (does/have done)  Opinion/Value questions (cognitive/interpretive process)  Feeling questions (emotional response)  Knowledge questions (factual information)  Sensory questions (what is seen, heard, touched, etc)  Background/Demographic questions (characteristics) 4/12/2015oedojo soedirham

67  FOCUSING THE ANALYSIS  ORGANIZING THE DATA  CONTENT ANALYSIS  INDUCTIVE ANALYSIS 4/12/2015oedojo soedirham

68  Tantangan  Maksud dari penelitian kualitatif adalah menghasilkan temuan. Proses pengumpulan data bukan akhir dari segalanya. Puncak kegiatan penelitian kualitatif adalah analisis, interpretasi, dan presentasi temuan.  Tantangannya adl membuat masuk akal sejumlah data yg besar, mengurangi volume informasi tsb, mengidentifikasi pola yg bermakna, dan mengkonstruksikan kerangkakerja untuk mengkomunikasikan esensi dari apa yg diungkapkan oleh data. 4/12/2015oedojo soedirham

69  Tantangan (lanj.)  Masalahnya adl “we have few agreed-on canons for qualitative data analysis, in this sense of shared ground rules for drawing conclusions and verifying their sturdiness (Miles and Huberman, 1984).  Tidak ada formula utk menentukan kemaknaan. Tidak ada cara-2 yg secara sempurna mengulangi proses pemikiran analitik dari periset.  Tidak ada tes reliability dan validity yg langsung. 4/12/2015oedojo soedirham

70  Tantangan (lanj.)  Singkatnya, tidak ada aturan absolut kecuali mengerjakan yg terbaik dg kepandaian yg penuh untuk secara adil menggambarkan data dan mengomunikasikannya apa yg diungkap oleh data sesuai dg tujuan dari studi.  Hal in tidak berarti tidak ada tuntuan yg membantu dalam menganalisis data. Tetapi tuntunan dan saran prosedural bukan aturan (rule). Penggunaan tuntunan menuntut pertimbangan dan kreativitas. 4/12/2015oedojo soedirham

71  Tugas pertama dalam analisis kualitatif adalah deskripsi. Analisis deskriptif menjawab pertanyaan dasar.  Deskripsi harus dipisahkan secara hati-2 dari interpretasi. Interpretasi melibatkan penjelasan temuan, menjawab pertanyaan “mengapa” melekatkan kemaknaan pada hasil kusus, dan meletakkan pola-2 ke dalam kerangkakerja analitik. 4/12/2015oedojo soedirham

72  Data yg dihasilkan oleh metode kualitatif sangatlah banyak.  Pertamakali yg harus dikerjakan adalah yakin bahwa semuanya sudah ada di sana.  Kemudian analisis formal dimulai.  Pada dasarnya pengaturan (penyimpanan) data merupakan kerja yg kreatif  tidak ada cara yg baku tentang mengorganisir data, menganalisis data, dan menginterpretasikan data kualitatif. 4/12/2015oedojo soedirham

73  Content analysis adl proses pengidentifikasian, coding, dan pengkategorian pola primer dalam data. Hal ini berarti penganalisisan content interview dan observasi.  Coding Notes:  Dibaca semua catatan lapangan atau interview dan membuat komentar di pinggir atau bahkan melekatkan kertas tempel yg berisi dugaan/ide/gagasan tentang apa yg dapat dikerjakan dg bagian data yg berlainan.  Bisa memakai singkatan-2 seperti: P = program; Obs = observasi; dsb. 4/12/2015oedojo soedirham

74  Inductive analysis berarti bahwa pola-2, tema-2, dan kategori 4/12/2015oedojo soedirham

75 Perspective Discipline Roots Central Questions 1. Ethnography Anthropology What is the culture of this group of people? 2. Phenomenology Philosophy What is the structure and essence of experience of this phenomenon for these people? 3. Ethnomethodology Sociology How do people make sense of their everyday activities so as to behave in socially acceptable ways? Social Psychology What common set of symbols and understandings have emerged to give meaning to people’s interaction? 4/12/2015oedojo soedirham

76 Perspective Discipline Roots Central Questions 6. Ecological Psychology Ecology, psychology How do individuals attempt to accomplish their goals through specific behaviors in specific environments? 7. Systems theory Interdisciplinary How and why does this system function as a whole? 8. Chaos theory: nonlinear dynamics Theoretical physics, natural sciences What is the underlying order, if any, of disorderly phenomenon? 9. Hermeneutics Theology, philosophy, literary criticism What are the conditions under which a human act took place or a product was produced that makes it possible to interpret its meanings? 4/12/2015oedojo soedirham

77 Perspective Discipline Roots Central Questions 10. Orientational, qualitative Ideologies, political economy How is X ideological perspective manifest in this phenomenon 4/12/2015oedojo soedirham

78 4/12/2015oedojo soedirham


Download ppt "4/12/2015oedojo soedirham dr. Oedojo Soedirham, MPH, MA, PhD Departemen Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku FKM UNAIR 2010."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google