Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Laboratorium Tanah/Sumberdaya Lahan, PS Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UNSOED.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Laboratorium Tanah/Sumberdaya Lahan, PS Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UNSOED."— Transcript presentasi:

1 Laboratorium Tanah/Sumberdaya Lahan, PS Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UNSOED

2 RADIASI MATAHARI SUHU PENGUAPAN (ET)TEKANAN UDARA KEL. UDARA ANGIN AWAN DAN HUJAN TANAMANOPTTANAHTANAMANOPTTANAH

3 I. Pendahuluan II. Cuaca dan Iklim III. Unsur-unsur cuaca dan pengaruh cuaca terhadap tanaman, tanah, dan OPT IV. Iklim Indonesia (Tropis) V. Klasifikasi (pengelompokkan) Ikllim VI. Pengelolaan Cuaca (iklim) VII. Pranata Mangsa VIII. Perubahan iklim dan dampaknya pada bidang pertanian IX. Peranan pemodelan dalam Pengelolaan Sitem Pertanian

4  Di atas permukaan bumi ini terdapat banyak sekali macam iklim, maka sulit (rumit) untuk memahami pola iklim dunia.  Di permukaan bumi tidak ada dua tempat yang mempunyai iklim yang identik, namun dapat dkelompokkan  Untuk menyederhanakan dan menjelaskan pola iklim yang rumit itu perlu suatu cara untuk mengatur data iklim yang sangat beragam dan banyak.  Pengaturan itu dengan cara mengelompokkan data iklim, menyederhanakan sebaran data iklim, dan akhirnya memahmi pola iklim dunia.

5  Masalah utama unsur iklim yang banyak (7 unsur), tetapi akan dimunculkan 1 hasil pengelompokkan.  Penggunaan hanya 1 unsur iklim untuk mengelompokkan belum memenuhi syarat definisi iklim.  Penggunaan semua unsur iklim menghasilkan kerumitan yang berlawanan dengan tujuan pengelompokkan iklim, yakni kesederhanaan dan kejelasan.  Berapa unsur iklim yang digunakan? Cukup dipilih unsur iklim yang dianggap penting yang berhu- bungan dengan tujuan penyupengelompokkan  Unsur iklim yang sering digunakan adalah curah hujan dan suhu udara.  Metode pengungkapan unsur yang terpilih harus ditentukan sesuai dengan tujuan.

6 Misalnya pengungkapan data curah hujan: 1. jumlah hari hujan, 2. CH bulan terkering, 3. CH tahunan. Selain memilih unsur dan pengungkapan juga menentukan nilai ambang unsur yang dipilih.  Untuk menghindari permasalahan yang ditimbulkan dari defi- nisi iklim, maka diperlukan indek (penjurus) iklim. Indek iklim ini erat hubungannya dengan kondisi iklim. Indek yang sering digunakan adalah tanaman (vegetasi) alami.  Kelemahan menggunakan indek tanaman adalah karena tanaman dipengaruhi oleh relief, tanah, dan macam kegiatan manusia (irigasi).  Masalah lain dalam penglompokkan iklim adalahkecukupan data iklim, baik dari segi luas liputan, lama periode data, dan kualitas data

7  Cakupan (wilayah) berlakunya luas. Biasanya sistem pengelompokkan iklim yang cakupan wilayahnya luas  kurang teliti  Teliti (=bisa membedakan dengan jelas) Biasanya sistem pengelompokkan yang teliti  wilayah cakupannya tidak luas.  Data yang digunakan mudah diukur dan didapat- kan  Cakupan (wilayah) berlakunya luas. Biasanya sistem pengelompokkan iklim yang cakupan wilayahnya luas  kurang teliti  Teliti (=bisa membedakan dengan jelas) Biasanya sistem pengelompokkan yang teliti  wilayah cakupannya tidak luas.  Data yang digunakan mudah diukur dan didapat- kan

8 Pendekatan genetik -Pengelompokkan didasarkan pada penentu iklim, yaitu faktor yang menentukan iklim berbeda, misalnya sirkulasi udara, radiasi bersih, dan fluks kelembaban, zona angin, penerimaan radiasi mathr. -Cakupan wil. luas tetapi kurang teliti Pendekatan generik atau empirik -Pengelompokkan didasarkan unsur iklimnya sendiri -Cakupan wil. sempit, tetapi lebih teliti -Pendekatan empirik (1) berdasarkan neraca air (Moisture budget) (2) berdasarkan pertumbuhan vegatasi

9 Pengukuran penentu iklim (genetik) lebih sulit daripada unsur iklim (empirik atau generik), sehingga pengelompokkan iklim menggunakan pendekatan empirik lebih berkembang dari pada yang genetik, karena data mudah didapatkan.

10 Atas dasar penerimaan radiasi matahari IklimWilayahKeterangan Kutub Utara66,5 o LU-90 o LU Sub-tropik Utara23,5 o LU-66,5 o LU Tropik23,5 o LS-23,5 o LU Sub-tropik Selatan23,5 o LS-66,5 o LS Kutub Selatan66,5 o LS-90 o LS KU KS

11 Atas dasar sirkulasi udara, sistem angin dan CH (Flohn, 1950) Tipe iklimSifat/ciriVegetasi Zona ekuatorialSelalu basahHutan tropis Zona tropikaHujan musim panasSavana Hutan kering Zona sub-tropika keringkeringStepa, gurun stepa, gurun Zona hujan musim dinginHujan musim dinginPohon berdaun keras Zona ekstra tropikaHujan sepanjang tahunPohon berdaun lebar dan hutan campuran Zopna sub-polarHujan sepanjang tahun terbatas Hutan koniferus Zona benua BorealHujan misim panas, salju musim dingin terbatas tundra Zona KutubHujan musim panas di awal musim dingin Gurun es

12 Dasarnya adalah Evapotranspirasi potensial (Eto). Eto digu- nakan, karena Eto menyatakan perpindahan energi bahang dan lengas ke atmosfer dari energi radiasi matahari. Energi yang digunakan untuk evapotrans. dan jumlah air yang dievapotranspirsikan pada musim panas > musim dingin. Demikian pula energi dan jumlah air yang di trans. wilayah iklim panas > iklim dingin. Dengan membandingkan antara evapotraspirsi potensial dan curahan di suatu wilayah dapat ditentukan apakah suatu mu- sim mengalami surplus air atau defisit air, dan apakah suatu wil. Iklim basah atau kering.

13 Evapotranspirasi (PE), Curahan (P) dan hubungan kedua unsur cuaca tersebut digunakan untuk menyususn 4 kriteria dalam pengelompokkan iklim suatu wilayah. 1. kecukupan kelengasan  dinyatakan dengan indek kelengasan 2. keefisienan termal  dinyatakan dengan EP 3. agihan musiman dari kecukupan kelengasan 4. konsentrasi musim panas dari keefisienan termal

14 1. EP = evapotranspiras bulanan = 1,6 (10T/I) a cm, T = suhu udara bulanan, I = indek panas (i) selama 12 bulan ; I = i =1 – 12 Σ (T/5) 1,54, a= x I x I 2 + 0,01792 x I +0,4429  ditabelkan 2. Indek kelengasan I m = {(100 S-100 D)/EP} direvisi I m = 100 {(P/EP) -1} S = surplus air tahunan, P= CH tahunan, EP = evapotrans. tahunan, dan D = defisit air tahunan

15 BlSuhuEAEPCH(CH-EP) MinMaxRataan SD 11,6 (10T jn /I) a cm, + 21,6 (10T fb /I) a cm, + 31,6 (10T mt /I) a cm, + 41,6 (10T ap /I) a cm, + 51,6 (10T mi /I) a cm, + 61,6 (10T jn /I) a cm, + 71,6 (10T jl /I) a cm, - 81,6 (10T ag /I) a cm, - 91,6 (10T se/ I) a cm, - 101,6 (10T ok /I) a cm, - 111,6 (10T no /I) a cm, + 121,6 (10T de /I) a cm, + EP thn.CH thn.SD

16 Im = [100 (S-D)/EP] Im = [(CHt/ETp-1) x 100]

17 Tabel Kecukupan lengas (Im) KodeJenis Kecukupan lengasIndek kelengasan Im=100 {(CHt/EP) -1} APerhumid (perlembab)>100 B4B4 Humid (lembab) B3B3 Humid (lembab)60-80 B2B2 Humid (lembab)40-60 B1B1 Humid (lembab)20-40 C2C2 Sub-humid lembab (sub-lembab lembab) 0-20 C1C1 Sub-humid kering (sub-lembab kering) -33,0-0 DSemi arid (paruh kering)-66, ,3 EArid (kering)-100—66,7

18 Tabel Keefisienan termal JenisKecukupan lengasPE (cm/3 bulan musim panas) AMegatermal>114 B4B4 Mesotermal99,7-114 B3B3 Mesotermal85,5-99,7 B2B2 Mesotermal71,2-85,5 B1B1 Mesotermal57,0-71,2 C2C2 Mikrotermal42,7-57 C1C1 Mikrotermal28,5-42,7 DTundra14,2-28,5 Ebeku0-14,2

19 Tabel konsentrasi musim panas dari keefisienan termal Konsenrasi = EP 3 bulan musim panas/EP 12 bulan % konsentarsi = persentase dari rata-rata EP kumulatif selama 3 bulan musim panas Jenis konsentarasi musim panasKonsentrasi (%) a1a1 > 48 b14b ,9 b13b1351,9-56,3 b12b1256,3-61,6 b11b1161,6-68,0 c12c1268,0-76,3 c11c1176,3-88,0 d1d1 >88,0

20 Tabel Kecukupan kelengasan musiman = [S/EP] x 100 Kode Iklim lengas(A, B, C 2 ) Indek kekersanagan rSedikit atau tak ada defisit air0-10 sDefisit musim panas sedang10-20 wDefisit musim dingin sedang10-20 s2Defisit musim panas besar 20 ke atas w2Defisit musim dingin besar 20 ke atas Iklim Kering (C, D, E)Indeks kelembaban dSedikit atau tiada surplus air ,7 sSurplus musim dingin sedang16,7 – 33,3 wSurplus musim dingin sedang 16,7-33,3 s2Surplus musim dingin besar >33,3 w2Surplus musim dingin besar >33,3

21 ImIm Kelembaban (tipeiklim) PE (cm)Keefisienan termal > 100perhumid(A) > 114megatermal humid(B 1 -B 4 ) mesotermal 0-20Sub-humid lelmbab (C 2 ) 28,5-57mikrotermal -33-0Sub-humid kering (C 1 ) 14,2-28,5tundra Semi arid(D) < 14frost arid(E)frost

22 EA 1 da 1 E = adalah daerah kersang dengan indeks kelengasan antara -100 dan -66,7 A 1 = jenis keefisienannya adalah megatermal dengan PE > 114 cm d = tidak surplus air a 1 = konsentrasi musim panas < 48 % EA 1 da 1 E = adalah daerah kersang dengan indeks kelengasan antara -100 dan -66,7 A 1 = jenis keefisienannya adalah megatermal dengan PE > 114 cm d = tidak surplus air a 1 = konsentrasi musim panas < 48 %

23 Dasarnya hubungan iantara klim dan pertumbuhan tetum- buhan (vegetasi). Vegetasi? Vegetasi alami  iklim tempat tumbuh Vegetasi tumbuh alami  sesusai dengan CH efektif Jumlah hujan yang sama akan berbeda gunanya bila jatuh pada musim yang berbeda Variabel (data) iklim yang digunakan adalah: Suhu udara bulanan dan suhu udara tahunan Curah hujan bulanan dan curah hujan tahunan

24 Jenis iklim utama SimbolJenis iklim utama AIklim hujan tropis BIklim kering CIklimm hujan sedang panas DIklim hutan salju sejuk EIklim kutub

25 A Suhu rata-rata bulan terdingin > 18 o C. Isoterm musim dingin 18 o C adalah kritis untuk hidup tetumbuhan tropis tt. CH tahunan > Et tahunan B Evapotranspirasi tahunan rata-rata > curah hujan tahunan rata-rata  Defisit air C Suhu rata-rata bulan terdingin antara -3 dan18 o C. Bulan terpanas >10 o C. Isoterm musim panas 10 o C berkorelasi dengan batas ke arah kutub dari pertumbuhan pohon dan isoterm -3 o C menujukkan batas ke arah khatu- listiwa D Suhu rata-rata bulan terdingin di bawah -3 o C dan bulan terpanas mem- punyai rata-rata > 10 o C. E Suhu rata-rata bulan terpanas < 10 o C. Bulan terpanas dari ET mempu- nyai suhu rata-rata antara 0 dan 10 o C. Bulan terpanas EF mempunyai suhu rata-rata < 0 o C

26 AIklim hujan tropis Af iklm hutan hujan tropis Aw iklm savana Am iklim monsun tropis BIklim kering BSh iklim stepe terik BSk iklim stepe sejuk BWh iklim gurun terik BWk iklim gurun sejuk CIklim hujan sedang panas Cfa lengas semua musim, musim panas terik Cfb lengas semua musim, musim panas panas Cfc lengas semua musim, musim panas pendek, sejuk Cwa hujan musim panas, musim panas terik

27 CCWb hujan musim panas, musim panas panas Csa hujan musim dingin, musim panas terik Csb hujan musim dingin, musim panas panas DIklim hutan salju sejuk Dfa lengas semua musim, musim panas terik Dfb lengas semua musim, musim panas panas Dfc lengas semua musim, musim panas sejuk Dfd lengas semua musim, musim dingin, luar bisa dingin Dwa hujan musim panas, musim panas terik Dwb hujan musim panas, musim panas panas Dwc hujan musim panas, musim panas sejuk Dwd hujan musim panas, musim dingin, luarbiasa dingin EIklim kutub ET tundra EF salju es abadi

28 Distribusi musiman curahan (pengaruh hujan) f Tidak ada musim kering, basah sepanjang tahun (A,C,D), CH bul. > 60 mm m Monsun, dengan musim kering pendek dan hujan lebat sepanjang sisa tahun (A) w Hujan musim panas (A,C,D) S Musim kering pada musim panas (B) W Musim kering pada musim dingin (B) Karakteristik suhu tambahan (pengaruh suhu) a Musim panas terik, suhu rata-rata bulan terpanas > 22 o C b Musim panas panas, suhu rata-rata bulan terpanas < 22 o C c Musim panas sejuk dan pendek, kurang dari 4 bln. suhu rata-rata > 10 o C d Musim dingin sanagat dingin, bulanterdingin bersuhu rata-rata < -38 o C h Terik, suhu tahunan rata-rata > 18 o C k Sejuk, suhu tahunan rata-rata < 18 o C

29 Kunci Determinasi Koppen

30 . No.DeskrisiTipe iklim Lajut ke No. 1Apabila suhu rata-rata bulan terpanas (t tp ): < 10 o C > 10 o C E A, C, D A, C, D berbeda dengan B, apabila a.CH merata sepanjang tahun (CHt) CHt < 2 t + 14 CHt > 2 t + 14 b. CH terkosnsentrasi pada musim panas (CH mp) CHmp < 2 t + 28 CHmp > 2 t + 28 c. CH terkosnsentrasi pada musim dingin (CH md) CHmd < 2 t CHmd > 2 t B A, C, D B A, C, D B A, C, D

31 . No.DeskrisiTipe iklim Lajut ke No. 3Iklim A, C, dan D dipisahkan berdasarkan suhu rata-rata bulan terdingin (t td ): t td >18 o C 18 o C -3 o C t td < -3 o C A C D Iklim A dibedakan ke Af, Am, Aw dengan: a.CH tahunan (CH thno ) dan CH bulan terkering (CH btko ) (Ch btko ) > 60 mm (Ch btko ) < 60 mm b. Dengan CH bulan terkering rumus (CH btkr ) (CH btkr ) = [(CH thn-10)/25] (CH thno ) > (CH btkor ) (CH thno ) < (Ch btkor ) Af Am, Aw Af Aw

32 . No.DeskrisiTipe iklim Lajut ke No. 5 Iklm B dibedakan menjadi BS dan BW didasarkan pada CH tahunan (CH thno ) dan suhu rata-rata tahunan (t thno ) a.Bila CH merata sepanjang tahun (CH thnr ) = (t thno +7) (CH thno ) < (CH thnr ) (CH thno ) > (CH thnr ) b. Bila CH maksimum pada musim panas (CH makmp ) (CH thnr ) = (t thno +14) (CH makmp ) < (CH thnr ) (CH makmp ) > (CH thnr ) c. Bila CH masimum pada musim dingin (CH makmd ) (CH thnr ) = (t thno ) (CH makmd ) < (CH thnr ) (CH makmd ) > (CH thnr ) BS BW BS BW BS BW

33 . No.DeskrisiTipe iklim Lajut ke No. 6Iklm C dibedakan menjadi Cf, Cw, Cs didasarkan pada CH maksimum (CH mak ) dan CH bulan terkering (CH btk ) a.Bila CH merata sepanjang tahun (CH btk ) > 30 mm b.Bila CH maksimum pada musim panas (CH btk ) ≥10 x CH terkering musim dingin c.Bila CH maksimum pada musim dingin (CH btk ) ≥ 3 x CH terkering musim panas Cf Cw Cs 7Iklm D dibedakan menjadi Df, dan Dw didasarkan pada CH maksimum (CH mak ) dan CH bulan terkering (CH btk ) a.Bila CH merata sepanjang tahun (CH btk ) > 30 mm b. Bila CH maksimum pada musim panas (CH btk ) ≥10 x CH terkering musim dingin Df Dw

34 . No.DeskrisiTipe iklim Lajut ke No. 8Iklm E dibedakan menjadi ET dan EF didasarkan pada suhu udara bulan terpanas (t tpn ) a.Bila 10 o C > (t tpn ) > 0 o C Bila (t tpn ) < 0 o C ET EF Untuk Indonesia klasifikasi iklim Koppen ? Suhu terdingin di Indonesia > 18 o C  hanya A

35 Modifikasi dari pengelompokkan iklim Mohr Di Indonesia sangat terkenal, lebih teliti dr pada cara Kopen. Untuk wilayah perkebunan dan hutan tropik humid Data (variabel) iklim yang digunakan adalah: 1. Curah hujan bulanan, minimum 10 tahun Type iklim (Q) ditentukan dari perbandingan rata-rata jumlah bulan kering dengan rata-rata jumlah bulan basah Q = [rata-rata Σ BK/rata-rata Σ BB] x 100 Curah hujan bulanan dibedakan: Bulan basah (BB)  bila CH bulanan > 100 mm Bulan lembab (BL)  bila CH bulanan antara 60 dan 100 mm Bulan kering (BK)  bila CH bulanan < 60 mm

36 No.TahunBulanS-F Jan.Feb.Maret-----Des.BBBLBK 1Ke Ke Ke Ke nKe n ΣjanΣFebΣMrt------ΣDesΣBBΣBLΣBK Jan̿Feb̿Mrt.DesBBBLBK S-F  Q = {[(ΣBK/n)/(ΣBB/n)]x 100} atau Q = BK/BB x100 Jangan dengan ini

37 ,0 33,3 14,3 A G C F B E D H Q = {[(ΣBK/n)/(ΣBB/n)]x 100} (%) Rata-rata jumlh bulan basah Rata-rata jumlh bulan kering

38 1. Tipe iklimDeskripsi (candra) A (0-14,3) Daerah sangat basah dengan vegetasi hutan hujan tropik B (14,3-33,3) Daerah basah dengan vegetasi hutan hujan tropik C (33,3-60,0) Daerah agak basah dengan vegetasi hutan rimba, di antaranya terdapat jenis vegetasi yang daunnya gugur pada musim kemarau, misalnya Jati D (60-100) Daerah sedang dengan vegetasi hutan musiman E ( ) Daerah agak kering dengan vegetasi hutan savana F ( ) Daerah kering dengan vegetasi hutan savana G ( ) Daearh sangat kering dengan vegtasi padang illalang H (> 700) Daerah ekstrim kering dengan vegtasi padang illalang

39  Di Indonesia tergolong sistem pengelompokkan iklim baru  Cara ini sangat berguna dalam pengembangan lahan perta- nian tanaman pangan  Data iklim (variabel) yang digunakan adalah curah hujan bulanan.  Dasarnya bahwa: 1. Padi sawah membutuhkan 145 mm air perbulan dalam musim hujan 2. palawija membutuhkan 50 mm air perbulan pada mu- sim kemarau 3. Hujan bulanan yang diharapkan memp peluang kejadi- an P 75 = (0,82 CH-30) mm 4. Hujan efektif untuk padi sawah 100 % 5. Hujan efektif untuk palawija dengan tajuk rapat =75 %

40 CH bulanan dibedakan menjadi: 1. Bulan basah (BB), bulan dengan CH bulanan rata-rata >200 mm 2. Bulan lembab (BL) bulan dengan CH bulanan rata-rata antara 100 dan 200 mm 3. Bulan kering (BK), bulan dengan CH bulanan rata-rata < 100 mm Pengelompokkannya menggunakan panjang periode bulan basah dan bulan kering berturut-turut. Struktur penglompokkan dibu- at 5 tipe utama dan 4 subdivisi Tipe utama dibedakan atas dasar jumlah bulan basah bertu- rutan. Tipe utama Σ BB berturutan A > 9 B 7-9 C 5-6 D 3-4 E 0-2

41 Subdivisi dibedakan atas dasar jumlah bulan kering berturutan Gabungan antara tipe utama dan subdivisi terdapat 17 daerah (zona) agroklimat, iaitu A 1, A 2, B 1, B 2, B 3, C 1, C 2, C 3, C 4, D 1, D 2, D 3, D 4, E 1, E 2, E 3, E 4. Sub-divisisΣ BK berturutan 1< >6

42 Segitiga Oldeman Periode BK Periode BB

43 N o. TahunBulanS-F 1Ke 1J.F.Mt.A.MiJnJlASONDBBBLBK 2Ke Ke Ke Ke nKe n ΣJΣJΣFΣFΣMΣMΣAΣAΣMΣMΣJnΣJlΣAΣAΣSΣSΣOΣOΣNΣNΣDΣDΣBΣBΣLΣLΣKΣK JF̿MAMiJnJlASONDBBBLBK Cari BB dan BK yang berturutan

44 TipePejabaran A 1, A 2 Sesuai untuk padi terus menerus Produksi kurang, karena kerapatan (flux) radiasi matahari rendah sepanjang tahun B1B1 Sesuai untuk padi-padi-padi dengan perencanaan awal musim yang baik. Produksi baik di musim kemarau (sadon) B2B2 Padi-padi (varietas pendek) dan palawija. C1C1 Padi 1 x dan 2 x palawija [ padi-palawija-palawija]. C 2, C 3, C 4 Dalam 1 tahun 1 x padi, 2 x palawija. Palawija ke 2 hati-hati jangan jumbuh dengan bulan kering D1D1 1x padi umur pendek dan 2 x palawija D 2, D 3, D 4 Mungkin hanya 1 x padi, 2 x palawija tergantung ketersediaan air irigasi ETerlalu kering, mungkin 1 x palawija itu pun tergantung CHnya

45 Tahun Bulan Σ Bulan J.F.MrtA.MiJnJlASONDB LK Jum Rata- rata 425,7 407,9 335,7333,8 239,5 143, ,1224,1399,6338,68,4 0, 8 2,8 Q = (rata-rata Σ bln kering/rata-rata Σ bln basah) = [2,8/8,4] x 100 = 33,33  C atau B Bukan Q = 1/9 x 100 = 11,11  SALAH

46

47 TERIMAKASIH ATAS PERHATIANNYA

48 Kekeringan Kebanjiran Puting beliung

49

50

51 Tugas

52  Di permukaan bumi tidak ada dua tempat yang mempunyai iklim yang identik, namun sangat mungkin untuk menemu- kan suatu daerah yang dianggap seragam dari satu tempat dengan tempat lain. Daerah semacam ini disebut daerah iklim  Iklim merupakan keadaan keseimbangan di antara semua un- sur komponen-komponen sistem iklim. Oleh karenanya di atas permukaan bumi ini terdapat banyak sekali macam iklim, maka sulit (rumit) untuk memahami pola iklim dunia. Untuk menyederhanakan dan menjelaskan pola iklim yang rumit itu perlu suatu cara untuk mengatur data iklim yang sangat beragam dan banyak. Pengaturan itu dengan cara mengelom- pokkan data iklim, menyederhanakan sebaran data iklim, dan akhirnya memahmi pola iklim dunia.

53  Masalah utama dalam mengembangkan sistem penggolongan iklim adalah unsur iklim yang banyak (7 unsur), tetapi akan dimunculkan 1 hasil pengelompokkan. Penggunaan hanya 1 unsur iklim untuk mengelompokkan belum memenuhi syarat definisi iklim. Sebaliknya menggunakan semua unsur iklim menghasilkan kerumitan yang berlawanan dengan tujuan pengelompokkan iklim, yakni kesederhanaan dan kejelasan.  Terus bagaimana? Berapa unsur iklim yang digunakan? Tidak semua unsur digunakan, cukup dipilih unsur iklim yang dianggap penting yang berhubungan dengan tujuan penyu- sunan sistem pengelompokkan  Unsur iklim yang sering digunakan untuk menyatakan iklim adalah curah hujan dan suhu udara. Metode pengungkapan unsur yang terpilih (parameter) harus ditentukan sesuai de- ngan tujuan.


Download ppt "Laboratorium Tanah/Sumberdaya Lahan, PS Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UNSOED."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google