Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Bab 3 Data Definition Language dan Perancangan Basis Data.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Bab 3 Data Definition Language dan Perancangan Basis Data."— Transcript presentasi:

1 Bab 3 Data Definition Language dan Perancangan Basis Data

2 3.1. Data Definition Language Digunakan untuk mendefinisikan, mengubah dan menghapus basis data dan objek-objek yang diperlukan, misalnya tabel, view, user, index dan sebagainya. DDL biasa digunakan oleh DBA dalam pembuatan sebuah aplikasi basis data. Secara umum DDL yg digunakan adalah: a. CREATE untuk membuat objek baru, b. USE untuk menggunakan objek, c. ALTER untuk mengubah objek yang sudah ada dan d. DROP untuk menghapus objek.

3 CREATE SQL yang umum digunakan adalah: CREATE DATABASE nama_basis_data CREATE TABLE nama_tabel CREATE TABLE membuat tabel baru pada basisdata yang sedang aktif. Secara umum memiliki bentuk: CREATE TABLE [nama_tabel](nama_field1 tipe_data [constraints][,nama_field2 tipe_data,...]) atau CREATE TABLE [nama_tabel](nama_field1 tipe_data [,nama_field2 tipe_data,...][CONSTRAINT nama_field constraints])

4 dengan: nama_field adalah nama kolom (field) yang akan dibuat. Beberapa sistem basis data mengizinkan penggunaan spasi dan karakter nonhuruf pada nama kolom.kolom tipe_data tergantung implementasi sistem manajemen basis data. Misalnya, pada MySQL, tipe data dapat berupa VARCHAR, TEXT, BLOB, ENUM, dan sebagainya.MySQL constraints adalah batasan-batasan yang diberikan untuk tiap kolom. Ini tergantung implementasi sistem manajemen basis data, misalnya NOT NULL, UNIQUE, dan sebagainya. Ini dapat digunakan untuk mendefinisikan kunci primer (primary key) dan kunci asing (foreign key). kunci primerkunci asing Satu tabel boleh tidak memiliki kunci primer sama sekali, namun sangat disarankan mendefinisikan paling tidak satu kolom sebagai kunci primer. Contoh:

5 Contoh: CREATE TABLE user ( username VARCHAR(30) CONSTRAINT PRIMARY KEY, passwd VARCHAR(20) NOT NULL, tanggal_lahir DATETIME ); akan membuat tabel user seperti berikut: Username, passwd dan tanggal lahir

6 1. CREATE Fungsi : Command CREATE ini berfungsi untuk membuat sebuah database ataupun membuat sebuah table yang berada di dalam database. Syntax : CREATE database nama_database; Parameter : - Contoh : CREATE database apotik; Penjelasan : perintah CREATE diatas akan membuat sebuah database dengan nama apotik.

7

8 2. SHOW Fungsi : Command SHOW berfungsi untuk menampilkan database atau table yang telah dibuat sebelumnya. Syntax : SHOW databases; Parameter : - Contoh : SHOW databases; Penjelasan : perintah SHOW diatas akan memperlihatkan semua database yang ada.

9

10 3. USE Fungsi : Command USE berfungsi untuk membuka/mengaktifkan/memasuki database yang telah kita buat. Setelah kita masuk kedalam database yang telah kita buat, barulah kita bisa memanipulasi data yang ada, termasuk untuk membuat table didalam database tersebut. Syntax : USE nama_database; Parameter : - Contoh : USE apotik; Penjelasan : perintah diatas akan mengaktifkan database dengan nama apotik sehingga kita dapat memanipulasi data yang ada.

11

12 4. ALTER Fungsi : Command ALTER ini berfungsi untuk mengubah struktur dari suatu table. Mengubah disini tidak hanya memperbaharui struktur table yang ada, tetapi juga mengubah nama field, menambahkan primary key, mengubah tipe field, maupun menghapus field yang telah dibuat sebelumnya. Syntax : ALTER TABLE nama_tabel parameter_option; Parameter : add, modify, drop Contoh : ALTER TABLE obat ADD harga int (6); Penjelasan : perintah diatas akan menambahkan field harga kedalam tabel obat.

13

14

15 5. DROP Fungsi: Command DROP berfungsi untuk menghapus, baik database, table, maupun field yang telah diinputkan ke dalam table. Syntax : DROP TABLE nama_tabel; Parameter : - Contoh : DROP TABLE supplier; Penjelasan : perintah diatas akan menghapus tabel supplier pada database apotik.

16

17 3.2. PERANCANGAN BASIS DATA

18 3.1Komponen Utama SI Siklus hidup aplikasi basis data berhubungan dengan siklus hidup sistem informasi. Siklus kehidupan sistem informasi sering disebut macro life cycle, dimana siklus kehidupan basis data merupakan micro life cycle. Proses perancangan basis data merupakan bagian dari siklus hidup sistem informasi

19 3.2 Tujuan Utama Perancangan Basis data adalah : Memenuhi informasi yang berisikan kebutuhan-kebutuhan pengguna secara khusus dan aplikasi-aplikasinya. Memudahkan pengertian struktur informasi Mendukung kebutuhan-kebutuhan pemrosesan dan beberapa obyek penampilan (response time, processing time, dan storage space).

20 3.3 Siklus Kehidupan Sistem Informasi dan Basis Data Sebuah sistem informasi tidak dapat dipisahkan dengan basis data dan untuk membangun sistem tersebut memerlukan langkah-langkah yang jelas. Hal yang penting adalah mengetahui bahwa hidup aplikasi sistem informasi dapat tidak berurutan, tetapi melibatkan beberapa langkah pengulangan yang biasanya disebut sebagai feedback loop. Sebagai contoh : masalah-masalah yang ditemui selama perancangan sistem informasi mungkin harus mengumpulkan dan menganalisis kebutuhan- kebutuhan tambahan. Berikut ini adalah langkah- langkah dalam membangun sebuah sistem informasi berbasis komputer atau disebut sebagai siklus hidup sistem informasi :

21 Siklus hidup SI.

22 Perancangan sistem informasi sebagai siklus hidup SI 1. Database : Pada tahap ini menentukan model data dari basis data yang ingin dikembangkan. 2. System definition Menentukan ruang lingkup aplikasi SI berupa para pemakai, awal dan berakhirnya system. 3. Requirements collection and Analysis Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data dan analisa dari hasil data yang telah terkumpul. Untuk penjelasan lebih lengkap apa saja yang harus dilakukan pada tahap perancangan basis data. 4. Database Design & Application Design Perancangan basis data dan perancangan aplikasi dari SI dilakukan pada tahap ini. Fase perancangan basis data meliputi secara konseptual, logical dan fisik. 5. Implementation Pemrosesan dari penulisan definisi basis data secara konseptual, eksternal, dan internal, pembuatan file-file basis data yang kosong, dan implementasi aplikasi yang telah dirancang ke dalam kode program perangkat lunak yang telah digabung dengan sistem basis data yang dibuat.

23 Perancangan sistem informasi sebagai siklus hidup SI. 6. Data loading and Conversion Data dimasukkan ke dalam sistem data dan selanjutnya melakukan konversi-konversi dari sistem yang lama ke dalam sistem yang baru. 7. Testing Sistem diuji dalam hal input, output dan proses untuk menghasilkan suatu pengujian yang menyeluruh sehingga dapat diketahui apabila ada kesalahan sistem, operasi atau pun kesalahan dalam proses. 8. Operational & Maintenance.Selama fase operasi, sistem secara konstan memonitor dan memelihara basis data. Pertambahan dan pengembangan data dan aplikasi- aplikasi perangkat lunak dapat terjadi.Modifikasi dan pengaturan kembali basis data mungkin diperlukan dari waktu ke waktu.

24 3.4 Proses Perancangan Basis Data 2 aktifitas pada proses perancangansus proses perancangan: a.perancangan dari isi data dan struktur basis data b.perancangan pemrosesan basis data dan aplikasi-aplikasi perangkat lunak. Dua aktifitas ini juga saling mempengaruhi satu sama lain. Contoh : fase perancangan basis data secara fisik, pada saat kita memilih struktur penyimpanan dan jalur akses dari file-file basis data yang tergantung pada aplikasi yang akan menggunakan file-file tsb. Di lain pihak, kita biasanya menentukan perancangan aplikasi basis data dengan mengarah kepada konstruksi skema basis data yang telah ditentukan selama aktifitas yang pertama. Dari enam fase tersebut, tidak harus diproses berurutan. Pada beberapa hal, rancangan tsb dapat dimodifikasi dari yang pertama dan sementara itu mengerjakan fase yang terakhir (feedback loop antara fase) dan feedback loop dalam fase sering terjadi selama proses perancangan.

25 Terdapat 6 fase proses perancangan basis data yakni : 1. Pengumpulan data dan analisis 2. Perancangan basis data secara konseptual 3. Pemilihan DBMS 4. Perancangan basis data secara logika (data model mapping) 5. Perancangan basis data secara fisik 6. Implementasi Sistem basis data.

26 Fase perancangan basis data sebuah sistem

27 Fase 1 : Pengumpulan data dan analisa Proses identifikasi dan analisa kebutuhan- kebutuhan data disebut pengumpulan data dan analisa. Untuk menentukan kebutuhan- kebutuhan suatu sistem basis data, pertama harus mengenal bagian-bagian lain dari sistem informasi yang akan berinteraksi dengan sistem basis data, termasuk para pemakai yang ada dan para pemakai yang baru serta aplikasi- aplikasinya. Kebutuhan-kebutuhan dari para pemakai dan aplikasi inilah yang kemudian dikumpulkan dan dianalisa.

28 Empat aktfitas pengumpulan data dan analisa : 1. Menentukan kelompok pemakai dan bidang- bidang aplikasinya Menentukan aplikasi utama dan kelompok pengguna yang akan menggunakan basis data. Individu utama pada tiap-tiap kelompok pemakai dan bidang aplikasi yang telah dipilih merupakan peserta utama pada langkah-langkah berikutnya dari pengumpulan dan spesifikasi data.

29 Empat aktfitas pengumpulan data dan analisa : 2. Peninjauan dokumentasi yang ada Dokumen yang ada yang berhubungan dengan aplikasi-aplikasi dipelajari dan dianalisa. Dokumen-dokumen lainnya (seperti : kebijakan-kebijakan, form, report, dan bagan organisasi) diuji dan ditinjau kembali untuk menguji apakah dokumen- dokumen tsb berpengaruh terhadap kumpulan data dan proses spesifikasi.

30 Empat aktfitas pengumpulan data dan analisa : 3. Analisa lingkungan operasi dan pemrosesan data Informasi yang sekarang dan yang akan datang diperinci dan dipelajari. Termasuk juga analisa jenis-jenis transaksi dan frekuensi-frekuensi transaksinya dan juga arus informasi dalam sistem. Informasi tersebut berupa input-output data.

31 Empat aktfitas pengumpulan data dan analisa : 4. Daftar pertanyaan dan wawancara Jawaban pertanyaan – pertanyaan yang telah dikumpulkan dari para pemakai basis data yang berpotensi. Ketua kelompok (individu utama) dapat diwawancarai sehingga input yang banyak dapat diterima dari mereka dengan memperhatikan informasi yang berharga dan mengadakan prioritas.

32 Fase 2 : Perancangan basis data secara konseptual Tujuan dari fase ini adalah menghasilkan conceptual schema untuk basis data yang tergantung pada sebuah DBMS yang spesifik. Sering menggunakan sebuah high-level data model seperti ERD (Entity Relationship Diagram) model selama fase ini. Dalam conceptual schema, kita harus memerinci aplikasi-aplikasi basis data yang diketahui dan transaksi-transaksi yang mungkin.

33 Fase perancangan basis data secara konseptual mempunyai 2 aktifitas paralel : 1. Perancangan skema konseptual : untuk menguji kebutuhan data dari basis data yang merupakan hasil dari fase 1, dan menghasilkan sebuah conceptual basis data schema pada DBMS independent model data tingkat tinggi seperti ERD (Entity Relationship Diagram) model. Skema ini dapat dihasilkan dengan menggabungkan bermacam-macam kebutuhan pengguna dan secara langsung membuat skema basis data atau dengan merancang skema-skema yang terpisah dari kebutuhan tiap-tiap pengguna dan kemudian menggabungkan skema-skema tsb. Model data yang digunakan pada perancangan skema konseptual adalah DBMS-independent, dan langkah selanjutnya adalah memilih sebuah DBMS untuk melaksanakan rancangan tsb.

34 Fase perancangan basis data secara konseptual mempunyai 2 aktifitas paralel : 2. Perancangan transaksi : Berfungsi untuk menguji aplikasi-aplikasi basis data dimana kebutuhan-kebutuhannya telah dianalisa pada fase 1, dan menghasilkan perincian transaksi- transaksi ini. Pada tahap ini merupakan pembuatan flowchart dan kegunaan fase ini yang diproses secara paralel bersama fase perancangan skema konseptual adalah untuk merancang karakteristik dari transaksi- transaksi basis data yang telah diketahui pada suatu DBMS-independent. Transaksi-transaksi ini akan digunakan untuk memproses dan memanipulasi basis data suatu saat dimana basis data tsb dilaksanakan.

35 Fase 3 : Pemilihan DBMS Pemilihan basis data ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya : faktor teknik, ekonomi dan organisasi. Contoh faktor teknik : Keberadaan DBMS dalam menjalankan tugasnya seperti jenis-jenis DBMS (relational, network, hierarchical), struktur penyimpanan, dan jalur akses yang mendukung DBMS, pemakai, dll.

36 Faktor-faktor ekonomi dan organisasi yang mempengaruhi dalam pemilihan DBMS : 1. Struktur data yakni jika data yang disimpan dalam basis data mengikuti struktur hirarki, maka suatu jenis hirarki dari DBMS harus dipikirkan. 2. Personal yang telah terbiasa dengan suatu sistem yakni jika staf programmer dalam suatu organisasi sudah terbiasa dengan suatu DBMS, maka hal ini dapat mengurangi biaya latihan dan waktu belajar. 3. Tersedianya layanan purna jual yakni keberadaan fasilitas pelayanan purna jual sangat dibutuhkan untuk membantu memecahkan beberapa masalah sistem.

37 Fase 4 : Perancangan basis data secara logika (pemetaan model data) Fase selanjutnya dari perancangan basis data adalah membuat sebuah skema konseptual dan skema eksternal pada model data dari DBMS yang terpilih. Fase ini dilakukan oleh pemetaan skema konseptual dan skema eksternal yang dihasilkan pada fase 2. Pada fase ini, skema konseptual ditransformasikan dari model data tingkat tinggi yang digunakan pada fase 2 ke dalam model data dari DBMS yang dipilih pada fase 3.

38 Pemetaan dapat diproses dalam 2 tingkat : 1. Pemetaan system-independent : Ialah pemetaan ke dalam model data DBMS dengan tidak mempertimbangkan karakteristik atau hal-hal yang khusus yang berlaku pada implementasi DBMS dari model data tsb. 2. Penyesuaian skema ke DBMS yang spesifik : Ialah mengatur skema yang dihasilkan pada langkah 1 untuk disesuaikan pada implementasi yang khusus di masa yang akan datang dari suatu model data yang digunakan pada DBMS yang dipilih.

39 Pemetaan model data Hasil dari fase ini memakai perintah-perintah DDL (Data Definition Language) dalam bahasa DBMS yang dipilih yang menentukan tingkat skema konseptual dan eksternal dari sistem basis data. Tetapi dalam beberapa hal, perintah-perintah DDL memasukkan parameter- parameter rancangan fisik sehingga DDL yang lengkap harus menunggu sampai fase perancangan basis data secara fisik telah lengkap. Fase ini dapat dimulai setelah pemilihan sebuah implementasi model data sambil menunggu DBMS yang spesifik yang akan dipilih. Contoh: jika memutuskan untuk menggunakan beberapa relational DBMS tetapi belum memutuskan suatu relasi yang utama. Rancangan dari skema eksternal untuk aplikasi-aplikasi yang spesifik seringkali sudah selesai selama proses ini.

40 Fase 5 : Perancangan basis data secara fisik Perancangan basis data secara fisik merupakan proses pemilihan struktur-struktur penyimpanan dan jalur-jalur akses pada file-file basis data untuk mencapai penampilan yang terbaik pada bermacam-macam aplikasi. Selama fase ini, dirancang spesifikasi-spesifikasi untuk basis data yang disimpan yang berhubungan dengan struktur-struktur penyimpanan fisik, penempatan record dan jalur akses. Berhubungan dengan internal schema (pada istilah 3 level arsitektur DBMS).

41 Beberapa petunjuk dalam pemilihan perancangan basis data secara fisik : 1. Response time : Ialah waktu akses basis data untuk data item yang ditunjuk oleh suatu transaksi. Response time juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yang tidak berada di bawah pengawasan DBMS, seperti penjadwalan sistem operasi atau penundaan komunikasi. 2. Space utility : Ialah jumlah ruang penyimpanan yang digunakan oleh file- file basis data dan struktur jalur akses. 3. Transaction throughput : Ialah rata-rata jumlah transaksi yang dapat diproses per menit oleh sistem basis data dan merupakan parameter kritis dari sistem transaksi (misal : digunakan pada pemesanan tempat di pesawat, bank, dll). Hasil dari fase ini adalah penentual awal dari struktur penyimpanan dan jalur akses untuk file-file basis data.

42 Fase 6 : Implementasi sistem basis data Setelah perancangan secara logika dan secara fisik lengkap, kita dapat melaksanakan sistem basis data. Perintah-perintah dalam DDL dan DML (Data Manipulation Language) dari DBMS yang dipilih, dihimpun dan digunakan untuk membuat skema basis data dan file-file basis data (yang kosong). Sekarang basis data tsb dimuat (disatukan) dengan datanya. Jika data harus dirubah dari sistem komputer sebelumnya, perubahan- perubahan yang rutin mungkin diperlukan untuk format ulang datanya yang kemudian dimasukkan ke basis data yang baru. Transaksi-transaksi basis data sekarang harus dilaksanakan oleh para programmer aplikasi. Spesifikasi secara konseptual diuji dan dihubungkan dengan kode program dengan perintah- perintah dari embedded DML yang telah ditulis dan diuji. Suatu saat transaksi tsb telah siap dan data telah dimasukkan ke dalam basis data, maka fase perancangan dan implementasi telah selesai, dan kemudian fase operasional dari sistem basis data dimulai.

43 Tugas 3 1. Praktekan seluruh command pada DDL 2. Apa tujuan perancangan basis data ? 3. Apa yang dimaksud dengan macro lifecycle dan micro lifecycle, sebutkan perbedaannya ? 4. Langkah apa saja yang dilakukan pada tahap pengumpulan dan analisa data ? 5. Apa yang dimaksud dengan Transaction throughput ? 6. Lakukan perancangan basis data dengan terlebih dahulu melakukan pengumpulan dan analisa data dengan contoh kasus aplikasi yang anda tentukan sendiri Harap diperhatikan : Hasil dari fase pertama akan dilanjutkan pada materi berikut !

44 selesai


Download ppt "Bab 3 Data Definition Language dan Perancangan Basis Data."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google