Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Pewilayahan atau regionalisasi merupakan proses penentuan batas daerah. Bentuk yang dihasilkan dalam pewilayahan sangat tergantung pada (a) maksud regionalisasi,

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Pewilayahan atau regionalisasi merupakan proses penentuan batas daerah. Bentuk yang dihasilkan dalam pewilayahan sangat tergantung pada (a) maksud regionalisasi,"— Transcript presentasi:

1 Pewilayahan atau regionalisasi merupakan proses penentuan batas daerah. Bentuk yang dihasilkan dalam pewilayahan sangat tergantung pada (a) maksud regionalisasi, (b) kriteria yang digunakan dan (c) ketersediaan data.

2 Unsur ruang : Jarak, jarak absolut & jarak relatif Lokasi Bentuk Ukuran Jenis Wilayah: Homogen Fungsional Perencanaan administratif

3 Jenis Wilayah Wilayah Homogen Contoh : Pantura Jawa Pantai Timur Sumut Pantai Barat Sumatera Wilayah Fungsional Contoh : Jabodetabek Tapal Kuda Wilayah Perencanaan Wilayah yang mempelihatkan koherensi keputusan ekonomi Contoh : KEK Wilayah Administratif Contoh: Provinsi Kabupaten Kecamatan

4 PENGERTIAN WILAYAH WILAYAH = Unit geografis sub- nasional, merupakan suatu sarana yang baik dan serasi untuk menangani masalah-masalah dan fungsi-fungsi perencanaan dalam proporsi yang teratur WILAYAH = Unit geografis sub- nasional, merupakan suatu sarana yang baik dan serasi untuk menangani masalah-masalah dan fungsi-fungsi perencanaan dalam proporsi yang teratur EMPAT KATEGORI WILAYAH : 1. Azas HOMOGENITAS 2. Azas FUNGSIONALITAS 3. DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) 4. Wilayah-Wilayah Khusus EMPAT KATEGORI WILAYAH : 1. Azas HOMOGENITAS 2. Azas FUNGSIONALITAS 3. DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) 4. Wilayah-Wilayah Khusus

5 AZAS HOMOGENITAS Pembedaan (Klasifikasi) didasarkan atas homogenitas tertentu Jenis wilayah bergantung pada kriteria yg digunakan Kriteria Fisik: Topografi Curah Hujan, Penggunaan lahan, dll Pembedaan (Klasifikasi) didasarkan atas homogenitas tertentu Jenis wilayah bergantung pada kriteria yg digunakan Kriteria Fisik: Topografi Curah Hujan, Penggunaan lahan, dll Kriteria ekonomi : 1. Sistem Produksi: Pertanian, Perkebunan, Peternakan, dll 2. Jenis Produksi: Padi, Kopi, Pasir, Ikan, dll Kriteria ekonomi : 1. Sistem Produksi: Pertanian, Perkebunan, Peternakan, dll 2. Jenis Produksi: Padi, Kopi, Pasir, Ikan, dll Kriteria Sosial : 1. Bahasa, Agama, 2. Kelompok Etnis, dll Kriteria Sosial : 1. Bahasa, Agama, 2. Kelompok Etnis, dll

6 AZAS FUNGSIONALITAS Azas ini menggunakan konsep tentang hubungan daerah atau wilayah Wilayah fungsional (jabatan) = wilayah inti (nodal- regions), biasanya mempunyai suatu pusat (wilayah pusat perkotaan) yg menjalankan fungsi-fungsi tertentu untuk suatu wilayah Azas ini menggunakan konsep tentang hubungan daerah atau wilayah Wilayah fungsional (jabatan) = wilayah inti (nodal- regions), biasanya mempunyai suatu pusat (wilayah pusat perkotaan) yg menjalankan fungsi-fungsi tertentu untuk suatu wilayah Fungsi pemerintahan: Propinsi, Kota, Kabupaten Fungsi Perdagangan: dpt melintasi batas pemerintahan Fungsi Pendidikan: Fungsi pemerintahan: Propinsi, Kota, Kabupaten Fungsi Perdagangan: dpt melintasi batas pemerintahan Fungsi Pendidikan:

7 Penyimpangan inilah yang membuat B.J. Berry membantah teori Ratcliff dan membuktikan penyimpangan tersebut. Ratcliff menyatakan bahwa memang benar pada kota-kota kecil, gambaran ideal tentang “distance decay principle from the center” untuk nilai lahan masih bisa dilihat dengan jelas bahwa terdapat degradasi yang teratur mengenai nilai lahan dari pusat kota ke daerah pheryperi Namun untuk kota-kota besar ternyata kondisinya sangatlah berbeda. Perbedaan ini salah satunya dipengaruhi oleh jaringan transportasi. Lokasi perpotongan jaringan transportasi terutama radial road dan ring road, meskipun tidak berada di pusat kota, menurut Berry akan memiliki nilai lahan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan lokasi yang lebih dekat dengan pusat kota. Perpotongan ring road dan radial road tersebut dinamakan mini peaks (puncak kecil), sedangkan grand peak tetap berada di pusat kota dengan nilai lahan paling tinggi. Teori Berry ini terkenal dengan Circus Tend.

8 Teori Berry secara ringkas menyatakan bahwa pola nilai lahan dari pusat kota akan semakin menurun ke arah pinggiran, namun pada titik-titik tertentu yang disebut mini peaks (puncak kecil), pola tersebut akan mengalami perubahan. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh adanya perpotongan antara ring road dan radial road. Kota Surakarta termasuk dalam kawasan Joglosemar (Jogjakarta, Solo, dan Semarang), kawasan ini merupakan kawasan prioritas pengembangan wilayah perbatasan antarpropinsi. Kawasan Joglosemar memiliki beberapa sektor unggulan antara lain sektor perdagangan dan industri, pertanian tanaman pangan, industri, dan pariwisata. Keterkaitan antarwilayah ini didukung dengan adanya rencana pembangunan jalan tol antara Semarang – Solo dan juga beberapa jalan lingkar antara Solo – Yogyakarta yang memberikan pengaruh positif dalam mengoptimalkan potensi yang dimiliki Kota Surakarta

9 Cukup besar Mampu mengubah industrinya sendiri Struktur ekonomi homogen Mempunyai titik pertumbuhan (growth point) Pendekatan perencanaan pembangunan Masyarakt dan wilayahmempunyai kesadaran yang sama Contoh Wilayah Perencanaan yang menakankan aspek fisik dan ekonomi : BALERANG (Batan, Rempang, Galang) Contoh wilayah perencanaan yang menakankan aspek ekologis: DAS Cimanuk, DAS Citanduy, DAS Ular, DAS Wampu

10 mengelompokkan unit-unit local dengan ciri- ciri yang sama sesuai dengan criteria yang ditentukan dengan tepat, tetapi berbeda dengan unit lainnya. KriteriaMetode pewilayahan Satusederhana Dua atau lebihBilangan Index tertimbang Lebih dari tigaAnalisis factor

11 tahapan yang dilakukan adalah (a) menentukan kriteria, (b) pemilihan timbangan dan (c) penentuan batas homogenitas. Kriteria yang digunakan disesuaikan dengan tujuan Timbangan yang digunakan secara logis Batas homogenitas adalah  ± , dengan  adalah rataan wilayah i dan  adalah deviasi baku wilayah tersebut.

12 Kriteria yang digunakan adalah, tingkat pengangguran dan pendapatan perkapita. Timbangan yang digunakan adalah setiap satu persen pengangguran diberi nilai 2 (dua) dan setiap $50 perbedaan pendapatan dari $1000 diberi nilai 1 (satu). Batas homogenitas adalah  ± , dengan  adalah rataan wilayah i dan  adalah deviasi baku wilayah tersebut.

13 TINGKAT PENDAPATAN ($)

14 TINGKAT PENGANGGURAN (%)

15 Tabel 2.1. Nilai perhitungan bilangan indeks tertimbang Lokalit a PengangguranPendapatan Nilai Timba ngan %Nilai$Nilai a b c d e f g h i j k l

16 PEWILAYAHAN FORMAL

17 Metode ini sering dilakukan untuk mengisolasikan factor dasar dan mengelompokkan daerah berdasarkan “factor loadings”. Analisis factor yang digunakan adalah analysis cluster. Program yang dapat digunakan antara lain Statistica dan SPSS.

18 Analisis cluster bertujuan mengelompokkan wilayah berdasarkan kesamaan karakteristik di antara wilayah. Wilayah tersebut akan diklasifikasikan ke dalam satu atau lebih cluster sehingga wilayah yang berada pada satu cluster akan mempunhai kemiripan satu dengan yang lain. Dalam analisis cluster, proses yang dilakukan adalah : Menilai kesamaan antar wilayah dengan menggunakan ukuran : Untuk data metrik : Korelasi antar wilayah pada beberapa variabel Jarak (euclidean) antar wilayah Asosiasi antar wilayah untuk data non metrik

19 mengelompokkan unit-unit local berdasarkan interdependensi antar bagian dengan criteria yang ditentukan. Analisis gravitasi m a. M b I a,b = R ab 2

20 m a. M b I a,b = R ab 2 Dengan : I = interdependensi antar dua lokasi M = massa (jiwa, uang,) R = jarak dalam satuan panjang, waktu tempuh atau ongkos

21

22


Download ppt "Pewilayahan atau regionalisasi merupakan proses penentuan batas daerah. Bentuk yang dihasilkan dalam pewilayahan sangat tergantung pada (a) maksud regionalisasi,"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google