Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

OLEH: Drs. SLAMET SUMARNO. 020807. Pertemuan. I. 1. PENDAHULUAN. Tujuan: Setelah mempelajari materi ini mahasiswa diharapkan mampu menerangkan: 1. Perbedaan.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "OLEH: Drs. SLAMET SUMARNO. 020807. Pertemuan. I. 1. PENDAHULUAN. Tujuan: Setelah mempelajari materi ini mahasiswa diharapkan mampu menerangkan: 1. Perbedaan."— Transcript presentasi:

1 OLEH: Drs. SLAMET SUMARNO

2 Pertemuan. I. 1. PENDAHULUAN. Tujuan: Setelah mempelajari materi ini mahasiswa diharapkan mampu menerangkan: 1. Perbedaan pernafasan Otomatis dan terkontrol. 2. Jalan nafas dan fungsinya. 3. Tempat pertukaran oksigen dan carbon diaksida serta proses normalnya. 4. Volume dan kapasitas paru serta mampu mempraktekkannya. 5. Pusat pengatur pernafasan. 6. Hambatan-hambatan yang sering terjadi dalam pernafasan. 7. Komposisi udara atmosfer.

3 Pernafasan otomatis. Manusia agar bisa hidup harus bernafas. Manusia agar bisa hidup harus bernafas. Pernafasan (respirasi) ada dua macam: otomatis dan terkontrol. Pernafasan (respirasi) ada dua macam: otomatis dan terkontrol. Respirasi ada dua cara: Inspirasi dan Ekspirasi. Respirasi ada dua cara: Inspirasi dan Ekspirasi. Pusat pernafasan di medula oblongata dan pons varuli melalui Nerves Vagus (N.X). Pusat pernafasan di medula oblongata dan pons varuli melalui Nerves Vagus (N.X). Untuk otot-otot inspirator :C. 3-5 dan Th 3-6. Untuk otot-otot inspirator :C. 3-5 dan Th 3-6. N. Sympatis dan para simpatis yang berfungsi mempercepat dan memperlambat frekuensi pernafasan yang di stimulasi keadaan oksigen dan corbondiaksida dalam tubuh. N. Sympatis dan para simpatis yang berfungsi mempercepat dan memperlambat frekuensi pernafasan yang di stimulasi keadaan oksigen dan corbondiaksida dalam tubuh. Pernafasan otomatis bila kebutuhan dan penyediaan seimbang tetapi bila hal ini tidak seimbang maka pernafasan dapat berubah dengan terkontrol. Pernafasan otomatis bila kebutuhan dan penyediaan seimbang tetapi bila hal ini tidak seimbang maka pernafasan dapat berubah dengan terkontrol. Atau bila terjadi masalah dalam proses pernafasan, Hal ini dapat karena kontrol, jalan nafas, tempat pertukaran dan tranportasi terganggu. Atau bila terjadi masalah dalam proses pernafasan, Hal ini dapat karena kontrol, jalan nafas, tempat pertukaran dan tranportasi terganggu.

4 KONTROL PERNAFASAN.

5 KONTROL NAFAS

6 Jalan nafas.

7 Otot pernafasan. Otot pernafasan.

8 Pernafasan.

9 Volume dan kapasitas paru. Volume paru: Volume paru: TV, IRV, ERV dan RV. TV, IRV, ERV dan RV. Kapasitas paru: Kapasitas paru: Kapasitas Vital. Kapasitas Vital. Kapasitas Total. Kapasitas Total. Kapasitas Inspirasi Kapasitas Inspirasi Kapasitas Ekspirasi. Kapasitas Ekspirasi. Volume ekspirasi paksa/detik PRIA WANI TA VCI3,31,9 TV0,50,5 VCE1,00,7 VR1,21,1 V TOTAL 6,04,2

10 PROBLEM PERNAFASAN. 1. Gangguan systen neurologi. 2. Gangguan Sangkar thorak. 3. Gangguan jalan nafas / obtruktif. 4. Gangguan pleurae. 5. Gangguan perfusi / restriktif. 6. Gangguan system sirkulasi pulmonal. 7. Gabungan satu sampai lima

11 PROBLEM PERNAFASAN. 1. Neuromuscular disease adalahkasus kegagalan pernafasan pada pasien dengan paru normal. Gagal nafas akibat kelemahan neuromuscular atau gangguan fungsi otot-otot pernafasan. Diharapkan denga fisioterapi dapat mencegah komplikasi fungsi pernafasan. 2. Depresi pusat pernafasan mengakibatkan gangguan ventilasi, yang mengakibatkan gagalnya pemenuhan oksigen kebutuhan hidup dasar: tidak ditandai dengan penyakit paru dan perlu bantuan ventilasi, Potensial komplet fiaioterapi. Contoh Neuromuscular respirasi paralisis: Poliomyelitis, Contoh Neuromuscular respirasi paralisis: Poliomyelitis, Tetanus, Trauma capitis, GBS, Spinalcord injury. Tetanus, Trauma capitis, GBS, Spinalcord injury.

12 PROBLEM PERNAFASAN. 1. Gangguan systen neurologi. 2. Gangguan Sangkar thorak. Trauma: fraktur costae, Skoliosis, kiposis, barel chest dan kelainan myofasial sangkar thorak. Trauma: fraktur costae, Skoliosis, kiposis, barel chest dan kelainan myofasial sangkar thorak.

13 PROBLEM PERNAFASAN. 1. Gangguan systen neurologi. 2. Gangguan Sangkar thorak. 3. Gangguan jalan nafas / obtruktif. Sinusitis, paringitis, asma, bronkitis kronik, emphysema. Sinusitis, paringitis, asma, bronkitis kronik, emphysema.

14 PROBLEM PERNAFASAN. 1. Gangguan systen neurologi. 2. Gangguan Sangkar thorak. 3. Gangguan jalan nafas / obtruktif. 4. Gangguan pleurae. Efusi pleurae, pneumothorak, haematothorak, hydrothorak Efusi pleurae, pneumothorak, haematothorak, hydrothorak

15 PROBLEM PERNAFASAN. 1. Gangguan systen neurologi. 2. Gangguan Sangkar thorak. 3. Gangguan jalan nafas / obtruktif. 4. Gangguan pleurae. 5. Gangguan perfusi / restriktif. Abses, Tbc Paru, Fibrotik, atelektasis, pneumonia, Bronkiektaisi dll Abses, Tbc Paru, Fibrotik, atelektasis, pneumonia, Bronkiektaisi dll

16 PROBLEM PERNAFASAN. 1. Gangguan systen neurologi. 2. Gangguan Sangkar thorak. 3. Gangguan jalan nafas / obtruktif. 4. Gangguan pleurae. 5. Gangguan perfusi / restriktif. 6. Gangguan system sirkulasi pulmonal. Edem paru, hypertensi pulmonal, cardiapulmonal dan gangguan system tranportasi darah. Edem paru, hypertensi pulmonal, cardiapulmonal dan gangguan system tranportasi darah.

17 Tugas untuk permahasiswa. Mencari literatur Mencari literatur Menyimpulkan pencetus gangguan 1-6 Menyimpulkan pencetus gangguan 1-6 Menentukan masalah fisioterapi masing- masing kondisi atau secara umum 1-6. Menentukan masalah fisioterapi masing- masing kondisi atau secara umum 1-6. Masing-masing membuat proses terjadinya kondisi sampai terjadi masalah fisioterapi. Masing-masing membuat proses terjadinya kondisi sampai terjadi masalah fisioterapi. Upaya pencegahan agar tidak terjadi kondisi, Upaya pencegahan agar tidak terjadi kondisi,

18 Pertemuan II. Tujuan. Tujuan. 1.Memahami secara deteil maslah fisioterapi pada gangguan neurologi pernafasan. 2.Mampu melakukan pemeriksaan dan pengukuran maslah fisioterapi neurologi pernafasan. 3. Mampu melakukan analisa masalah prioritas penyebab masalah neurologi pernafasan. 4.Mampu memilih prioritas intervensi tepat guna. 5.Mampu menentukan dosis fisioterapi dengan benar. 6.Mampu melakukan intervensi dan 7. Mampu melakukan evaluasi dengan terukur dan benar.

19 Pertemuan II. Problem gangguan neuropernafasan. Problem gangguan neuropernafasan. Kondisi ini sering dijumpai pada ICU atau intesive care unit. Kondisi ini sering dijumpai pada ICU atau intesive care unit. Sehingga penanganan kasus ini lebih ditekankan pada Fisioterapi acute atau Fisioterapi ICU. Sehingga penanganan kasus ini lebih ditekankan pada Fisioterapi acute atau Fisioterapi ICU.

20 Kegagalan respirasi Neurogenic. 1. Neuromuscular disease. 2. Guilain Barre Syndrome. 3. Myasthenia gravis 4. Multiple Sclerosis 5. Myopathies 6. Amyotrophic lateral scerosis. 7. Poliomyelitis 8. CNS injury.

21 Acute Idiopathic Polyneuritis. Identik dengan Guillain Barre Syndrome. Pada umumnya polyneuritis menggangu mekanik pernafasan kasus ini sering tidak diketahui penyebabnya tetapi virus merupakan unsur pertimbangan (GBS) pada gastrointestinal dan infeksi pernafasan acute (2-3 hari) masa kritis pernafasan dengan sesak nafas tinggi (gagal nafas). Identik dengan Guillain Barre Syndrome. Pada umumnya polyneuritis menggangu mekanik pernafasan kasus ini sering tidak diketahui penyebabnya tetapi virus merupakan unsur pertimbangan (GBS) pada gastrointestinal dan infeksi pernafasan acute (2-3 hari) masa kritis pernafasan dengan sesak nafas tinggi (gagal nafas). Pada minggu pertama sebelum gejala neuritis muncul gangguan jalan nafas mendahului seperti hidung, jalan nafas tersumbat, sehingga mengganggu pernafasan. Pada minggu pertama sebelum gejala neuritis muncul gangguan jalan nafas mendahului seperti hidung, jalan nafas tersumbat, sehingga mengganggu pernafasan.

22 symptom neuritis adalah: 1. Adanya kelemahan otot pernafasan. 2. Dysphagia (kesulitan menelan). 3. Paresthesia dari fingers dan toes. 4. Progressif flaccid motor paralisis. 5. Trunk dan upper extremitas progresif: otot melunak & menghilangnya sensasi. 6. Pasien komplin kepala, punggung nyeri dan kaku. 7. Temperatur batas normal. 8. Berlangsung sampai 2-3 minggu recaery sangat tergantung keadaan biasanya minggu/ bulan. 9. Tetapi akan terajdi degenerasi 8-18 bln. 10. Setelah 18 bln akan terjadi residual : athropi dan kelemahan otot.

23 Progression symptoms. Muncul maksimum pada minggu pertama dan berlangsung kontinyu 3mg atau lebih. Muncul maksimum pada minggu pertama dan berlangsung kontinyu 3mg atau lebih. Recavery variable antara minggu s/d bln tergantung systen syaraf yang degeneratif dan penyembuhan mencapai maksimal setelah 6-18 bulan. Recavery variable antara minggu s/d bln tergantung systen syaraf yang degeneratif dan penyembuhan mencapai maksimal setelah 6-18 bulan. Residual neurologic terjadinya atropi dan kelemahan otot permanen. Residual neurologic terjadinya atropi dan kelemahan otot permanen.

24 Pengobatan medis. 1. Mechanical ventilasi pada pasien yang mengalami paralisis otot pernafasan. 2. Tracheotomy. 3. Derajat paralisis ditentukan qualitas hasil pengukuran vital capasity pernafasan. 4. Fisioterapi pada Aseptic atau nontraumatic paru bertujuan untuk mencegah infeksi paru dan trauma trachea. 5. Sejak reflek pernafasan depresi, regurgitasi lambung secara umum juga muncul. Sehingga tindakan mencegah aspirasi sangat penting. 6. Tindakan mechanical ventilator awal dimulai dengan vital capasity 10 ml/KgBB.

25 Circulatory failure. Karena tidak ada rangsang sympathic akibatnya rileksasi otot halus pada pembuluh darah, sehingga sirkulasi jadi lambat dan menurun, sehingga COP hypotensi dan reflek tachicardi. Karena tidak ada rangsang sympathic akibatnya rileksasi otot halus pada pembuluh darah, sehingga sirkulasi jadi lambat dan menurun, sehingga COP hypotensi dan reflek tachicardi. Penurunan tekanan venous diatasi dengan meningkatkan volume darah, bila hal initidak tercapai COP jangka pendek menimbulkan vasokontriksi pembuluh darah dengan membloker vital sign system menamabah dan mengurangi hematokri dan serum protein. Penurunan tekanan venous diatasi dengan meningkatkan volume darah, bila hal initidak tercapai COP jangka pendek menimbulkan vasokontriksi pembuluh darah dengan membloker vital sign system menamabah dan mengurangi hematokri dan serum protein.

26 Fisioterapi pada kasus polineuritis. 1.Pada kasus polineuritis mengalami kesulitan dalam menutup mata harus dilakukan untuk menjaga cornea tidak rusak dengan memberikan tetes mata agar tetap lembab tidak kering dan rusak cornea. 2.Pasif exercises tiap dua jam selama belum penyembuhan total, dapat dikurangi setelah ada gerak fungsional. 3. Psychologis perlu dibangun karena depresi keadaan yang buruk. 4. Perawatan kulit jangan sampai luka karena sukar sembuh akibat sirkulasi yang jelek (jegah dekubitus). 5.Nutresi dipenuhi dengan memperhatikan agar mudah BAB. 6.Bowel training dan siapkan bowel dalam posisi duduk dengan kursi yang empuk tidak merangsang luka.

27 Tetanus /lockjaw. Tetanus adalah kasus neuromuskular yang disebabkan oleh neurotoxin Clostridium tetani, gram positif, anaerobic basilus. C. Tetani ada di manusia dan binatang hidup di pencernakan masuk manusia melalui luka dan multipleanaerob. Tetanus dapat dijegah bila kena luka dengan serum tetani. Bila kena tetanus gangguan system limpatik dan sirkulasi dan central nerve system. Sejak ada anti tetanus hanya 30% kena tetanus.

28 Symtom. Exotoxin pada saraf motorik di motoe end plate dan AHC spinal cord dan brainstem yang menyebabkan gejala tetanus. Exotoxin pada saraf motorik di motoe end plate dan AHC spinal cord dan brainstem yang menyebabkan gejala tetanus. Incubasi 2hari-8 mg masa gejala dibedakan Masa incubasi : masa injury s/d ada gejala Incubasi 2hari-8 mg masa gejala dibedakan Masa incubasi : masa injury s/d ada gejala Masa antara gejala s/d timbul spasme otot. Masa antara gejala s/d timbul spasme otot. Bila periode gejala hilang setelah 2-7 hari ringan dan gejala lebih 7 hari kasus berat.

29 Pembagian tetanus.1 1. MildTetanus (ringan): ada trismus sedang, lokal kekauan sendi (stiffness) dan nyeri otot lokal. Secara umum stiffness tanpa kesulitan menelan (disphagia), opisthotonos dan perkembangan spasm. 2. Moderat Tetanus (sedang): stiffness berkembang menyeluruh ada gangguan menelan, kepala retraction, spasm otot pharyngeal dan kapasitas vital ikut terganggu.

30 Pembagian tetanus Severe tetanus(hebat). Symtom: trismus, dyspagia,irritability, painful tonic convulsion dan terstimulasi oleh cahaya dan kaca dan opisthotonos hebat. Nyeri otot spam hebat, rigiditas pernafasan, asphysia, akibatnya diaphoresis, anxiety, tachicardia, BP naik, Dan cenderung cyanosis, Kerja symmphstic system over dan menimbulkan fatal pernafasan. Termasuk salivasi, RR, HR, BP naik cardian aritmia sesak nafas tinggi, circulasi collaps dan dapat meninggal. trismus, dyspagia,irritability, painful tonic convulsion dan terstimulasi oleh cahaya dan kaca dan opisthotonos hebat. Nyeri otot spam hebat, rigiditas pernafasan, asphysia, akibatnya diaphoresis, anxiety, tachicardia, BP naik, Dan cenderung cyanosis, Kerja symmphstic system over dan menimbulkan fatal pernafasan. Termasuk salivasi, RR, HR, BP naik cardian aritmia sesak nafas tinggi, circulasi collaps dan dapat meninggal.

31 Pengobatan. Untuk pasien sedang dan hebat: Untuk pasien sedang dan hebat: 1. Pembebasan jalan nafas (higienes). 2. Bantu pernafasan (mechanical respirator) 3. Kontrol mascle spasm (rileksasi otot). 4. Antitoxin dan antibiotic 5. Membantu system sikulasi 6. Kontrol temperatur tubuh 7. Pengobatan luka yg mengakibatkan tetatus.

32 Control muscle spasms.1 1. Pelihara jalan nafas, cukupi kebutuhan oksigen, sehingga mencegah terjadinya tetanic spasms. Bila spasms tak terkontrol dengan obat(neuromuscular block dapat diberikan mekanik ventilator. Pasien dengan obat rilaksasi cenderung tidur dan bila tidur kebutuhan oksigen 75% dari normal rest. Dan tetes mata tiap 2 jam bila perlu tutup mata. Kerja sama team medis perlu agar saling membantu keberhasilan.

33 Kontrol pernafasan Tracheostomy. Bila terjadi spasme laryngeal dan tidak menguntungkaan dengan mekanik ventilator dapat dilakukan tracheostomy dan ventilator untuk menjegah aspirasi baik isi lambung atau skreet. Bila terjadi spasme laryngeal dan tidak menguntungkaan dengan mekanik ventilator dapat dilakukan tracheostomy dan ventilator untuk menjegah aspirasi baik isi lambung atau skreet. 3. Chest fisioterapi. Untuk memelihara respirasi atau menjegah komplikasi paru.

34 Kontrol spasms Change position. Posisikan pasien tiap 2 jam samping kanan dan kiri atau terletang secara teratur untuk mencegah gangguan sirkulasi atau decubitus dengan hati-hati dan gently, perhatikan extremitas dan tonjolan tulang yg mudah luka. Posisikan pasien tiap 2 jam samping kanan dan kiri atau terletang secara teratur untuk mencegah gangguan sirkulasi atau decubitus dengan hati-hati dan gently, perhatikan extremitas dan tonjolan tulang yg mudah luka. 5. Blader kontrol. Adanya spasms blader sphincter sehingga mengganggu kencing Terdapat retensi urin di blader, dan dilakukan cateterisasi jegah infeksi saluran kecing 6. Body temperature: ciri tetanus adanya Hyperpyrexia setelah kena tetanus, panas tinggi dapat menyebabkan hypothermia karena lepas kontrol

35 Myasthenia gravis.

36 Fisioterapi pernafasan pada spinal cord injury. Pernafasan terganggu bila otot pernafasan yang terinervasi dibawah level injury mengalami paralise. Hal ini berhubungan dengan kekuatan, integritas kemampuan otot pernafasan untuk memelihara ventilasi thorak secara efektif dan efisien. Pasien dengan injury cervical spine mempunyai problem otot-otot thorak bawah, teta[I pada injury lumbal hanya sedikit gangguan fungsi pernafasan. Pada lesi akut umumnya diberikan prophylactic respirasi therapy pada semua gangguan hypostatik pneumonia. Pasien komplit atau sebagia palise otot-otot pernafasan perlu fisioterapi khusus.

37 Fungsi sangkar thorak dan otot pernafasan. Pada dasarnya bila otot inspirator bekerja akan meningkatkan ventilasi thorak dengan terangkatnya tulang rusuk dan dada kedepan atas sehingga tekanan udara paru turun dan udara atmosfer masuk paru. Sedang ekspirasi terjadi rekoil otot inspirasi akan terjadi peningkatan tekanan thorak dan udara keluar apa lagi denganpernafasan kuat otot-otot ekspirator bekerja membantu meningkatkan tekanan thorak sehingga udara yang keluar lebih banyak. Untuk menekan atau mengembangkan thorak ada goup otot. Inspirator utama dan pembantu, ekspirator utama dan pembantu.

38 Inervasi Diaphragm : C3,4&5 Diaphragm otot inspiatot utama 65% kontraksi mengembangkan thorak. Bila kontraksi tendan yg berada di tengah bergerak kebawah dan menekan isi perut. Pengembangan rusuk dan tuas di perut. Efisiensi kerja diaphragm tergantung keseimbangan rusuk dan perut complince. Pasien dengan spinal cord lesi diatas C5 diaphragm bias sebagian atu semua paralise. Pemeriksaan fungsi diaphragm ini dapat dilakukan palpasi di perut bagian atas (diaphragm) didak menekan kebawah (intra thoracic presusre negative) selama inspirasi. Bila sensasi hyper sensitif kesulitan fisioterapi dan pasien untuk belajar pernafasan.

39 Otot-otot pernafasan intercostal disyarafi oleh: Th 1-7. Otot-otot intercostal internnal mempunyai fungsi ekspirasi dan otot intercostalis eksternal mempunyai fungsi inspirasi.Pada pernafasan berat dan diaphragma lelah maka intercostalis mengambil alih fungsi inspirasi sampai diphrgma pulih kembali. Kemampuan pergantian ini terjadi bila otot intercostalis tidak paralise, kerja otot pembantu nafas ini mudah lelah dan sebetulnya tidak disukai. Otot inter costal juga membuat stabilitas sangkar thorak pada full inspirasi dan mencegah rongga intercostal negatif (paradksal breathing)

40 Otot accessory terinervasi C Scaleni. Otot pernafasan primer untuk mengangkat, mengembangkan, menstabilisasi tl rusuk dari insersio ke atas. 2. Sternomastoid dan Trapezius. Otot inspirator yg bekerja bila aktifitas berat (OR) dengan ventilasi tinggi dan lama. Pada inkomplet lesi diatas C3 menyebabkan paralise diaprhagm dengan bekerjanya otot diatas menibulkan TV 700 cc (Danon Et Al 1970)

41 Otot Abdominal innervasi Th 6-12 Otot Abdominal innervasi Th 6-12 Otot: Rectus internal dan eksterna, obligues dan tranversal abdominalis merupakan otot ekspirator penting (de troyer 1983) ekspirasi adalah selalu gerakan pasif (recoil) pada ekspirasi kuat saat batuk menggunakan otot ini, dan ikut menstabilkan diaphragm, kontrol sikap saat diaphragm kontraksi akan meningkatkan tekanan abdominal dan otot abdominal membuat stabil. Paralise abdominal pada lesi thorak atas atau cervical akan menjadikan cadangan force ekspirasi menjadi lemah dan akan terjadi penumpukan sputum, penyebab microatelektasis pada mayor segmen, lobular atau colapnya paru atau infeksi paru. Microatelektasis menimbulkan ventilasi dan perfusi rendah dan hypoksia dengan CO2 rendah atau normal ini tanda akibat spinal cord injury.

42 Selamaperiode spinal shock, dimana tanus otot menghilang sehingga tidak mampunya melakukan inspirasi diphragm dan abdominal justru sebagai penahan pernafasan (guttman 1965, silver 1970) Akibatnya vital capasitas dibawah kebutuhan, kekuatan akan dikerahkan untuk memenuhi akibatnya tambah lelah mempercepat gangguan neuromuskular activity dan reflek distorsi dan timbul keterbatasan sendi rusuk. (Morgen 1985)

43 Tanda-tanda Paralise otot-otot respirator. 1. Pasien tidak mampu batuk (letupan ekspirasi) 2. Total rusuk dan paru inflasi 3. Lemahnya otot inspirasi akibat sebagian paralise, fungsi pleura turun, diaphragm turun dan memungkinkan timbulnya pernafasan paradoksal, hal ini terlihat adanya gerakan dada minimal saat inspirasi dan tidak ada udara keluar masuk jalan nafas. 4. Terjadi peningkatan frekuensi dan beban kerja diaphragm. 5. Tidak terlihat aktifnya otot abdominal dalam pernafasn dan tidak mampu batuk.

44 6. Tidak kemampuan membersihkan jalan nafas memungkinkan timbulnya microatelektasis dengan konsekuensinya tibul fibrosis atau jaringan scartissue paru 7. Sebagian area colap setelah injury dan ventilasi turun dan hypoxaemia. 8. Otot tidak mampu memenuhi kebutuhan pernafasan dan akibatnya meningkatkan frekuensi atau force (beban keja otot) meningkat pernafasan meningkat otot mudah lelah bahkan gagal nafas.

45 Pengaruh posisi (sikap) thd pernafasan. Pada posisi tidur terlentang aksi diaphragm dibantu oleh berat isi abdomen untuk inspirasi, karena pada paralise otot abdominal viseral akan turun kebawah depan. Diaphragm kebawah masuk rongga perut dan daerah rongga dada bawah start kontraksi diaphragm (inspirasi) terbatas karena mengangkat rusuk bagian bawah serta mengarah ke lateral. Pada penelitian Vital capasity tetraplegi naik 6% bila posisi kepada semi fleksi 15o atau sama posisi 15o extensi, tetapi pada posisi berdiri vital capacity naik 45% maks.

46 Prinsip umum ft respirasi pada spinal cord injury. 1. Ft respirasi harus terukur pada pasien rawat dng spinal cord injury, dimana otot pernafasan yg paralise akan melakukan force inspirasi untuk mencapai volume pernafasan yg cukup padahal tidak mampu untuk force ekspirasi dengan meningkatkan tekanan intrathorak yg lemah, vital capasity turun 30 % dibandingakn sebelum injury akibat edema spinal cord (Ledsome 1981)

47 peningkata kualitas terjadi pada minggu 3-5 dan naik setelah 5 bulan setelah edema berkurang dan spastisitas intercostal terjadi paradoksal, mungkin karena reinervasi. peningkata kualitas terjadi pada minggu 3-5 dan naik setelah 5 bulan setelah edema berkurang dan spastisitas intercostal terjadi paradoksal, mungkin karena reinervasi. Tujuan : 1. Memobilisasi sputum dan mengeluarkan. 2. Perbaikan jalan nafas. 3. Meningkatkan ventilasi dan perfusi paru. 4. Yg penting memelihara continuitas ft edukasi, supor, membantu keluarga untu perawatan pernafasan.

48 Prophylactic treatment. 1. Assesment frekuensi pernafasan, untuk efektifnya program ft. 2. Pemeriksaan meliputi: a. Riwayat pengobatan, pernafasan, cordiovas problem. b. Periksa kemampuan gerak dasar, penglihatan, paradoksal mov, fungsi diaphagm. c. Kemampuan batuk, kekuatan otot abdoomen dan efisiensinya. d. Auskultasi. Sputum, whezeeng. e. Vital capasity f. Gas darah g. XR

49 Breathing exercise. Tujuan: 1. Memelihara pengembangan paru dan thorak 2. Meminimalis otot pernafasan yg tak aktif: apical, basal, lateral dan diphragm tiap hari dua kali. 3. Relaksasi yg comfort tanpa kelelahan. 4. Belajar bicara didepan kaca untuk feedback sensasi 5. Program latihan otot pernafasan dengan latihan tahanan untuk relaksasai dan pengembangan thorak. 6. Tujuan umum adalah meningkatkan kekuatan dan daya tahan setelah kelelahan agar nilai cadangan pernafasan meningkat dan pasien mampu bernafas efektif untuk mengatasai problem yang mungkin terjadi.

50 Posisioning dan Postural Drainage(PD) Frekuensi pengaturan posisi untuk mencegah terlalu lama terjadi penekanan tumpuan dan juga memperbaiki pernafasan. PD. Mengautur posisi yg membuat gravitasi memudahkan mengalirkan sputum tidak menumpuk di jln nafas tetapi menuju oral. Posisi kepala semi ekstensi dan rotasi agar saluran nafas terbuka di daerah cervical atau trachea.

51 Forced expiration. Pasien dengan paralise otot abdominal tidak mampu untuk batuk efektif perlu dibantu untuk menjegah retensi sputum dan collap paru. Normal batuk. Singgle batuk dilatih teratur dengan deep inspirasi dengan force expirasi dan menutup glotis diulang-ulang (widdicombe 1980). Efectifitas batuk juga dipengaruhi volume udara inspirasi yang tinggi, penyempitan jalan nafas saat batuk dan kekentalan sputum (macklem ‘74) Spinal injury timbulkan keterbatasan volume respirasi sehingga tidak mempunyai cadangan untuk mendorong sputum keluar tanpa bantuan batuk. Secara normal batuk tidak dng force asalkan udara inspirasi cukup tinggi dan recoil otot inspirasi kuat shingga otot expirasi tidak perlu kerja keras.

52 Assited Coughing. Pasien dengan sebagian atau komplet paralise dari otot abdominal shg tidak mampu batuk efektif. Ft dapat mengajarkan fungsi maks otot abdominal yg paralise untuk batuk dengan creatifitasnya agar tekanan saat batuk meningkat baik bantuan fisioterapis, pengaturan posisi efektif atau self assited.

53 Methode Assisted couging. Posisi pasien supine lying. Posisi pasien supine lying. 1. Ft meletakkan tangan kanannya didada samping atas kiri, dan tangan kiri di dada bawah kanan sampin, kemudian meminta pasien inspirasi maksimal dan saat batuk ft menekan kedua tangan untuk membatu meningkatkan tekanan ekspirasi saat batuk secara spontan.

54 2.Ft. tangan kanan dan kiri diletakkan didada bawah kanan dan kiri, methode sama diatas, jari tangan dilateroposterior. 3. Posisi kedua tangan ft telapak tangan diletakkan dibawah xipoid. Dua fisioterapis. 4. Dua tangan diletekkan di dada samping kanan atas dan bawah didepan ft dan ft yang lain sama dari sisi yg berbeda. 5. Seperti nomor 4 hanya tangan diletakkan di seberang dada samping, atas dan bawah dan ft yg lain sebaliknya dengan sedikit menekankan lengan bawah ke dada pasien.

55 Posisi duduk. Pasien duduk di bed, kursi, kursi roda. 6. Fisioterapis dibelakang pasien dengan meletakan kedua tangan diperut pasien saling pegangan, pasien inspirasi maks dan batuk bersamaan ft menekan perut dan semi fleksi thrunk dengan mendorong tubuh pasien kedepan dengan badan ftis. 7. Self assisted. Pasien dengan tangan kanan membantu menekan perut saat batuk.

56 Frekuensi batuk. Untuk pasien yg mampu batuk dianjurkan sesuai kebutuhan dan ada indikasi sputum. Untuk pasien lesi berat yg tidak mampu batuk sendiri dibantu bila ada sputum yg harus dikeluarkan dan latihan dilakukan 2- 3 kali sehari.

57 Ftis pada komplikasi respirasi 1. Proses ft: mulai assesment, menentukan problem utama, diagnosa, program, intervensi dan evaluasi. 2. Oksigen terapi indikasi bila gas darah tidak normal, PaO2 < 90 mmHg. Oksigen terapi dapat diberikan dengan : kanul (slang), masker, tracheotomy dll. 3. Humidifikasi, aerosol dll 4. Mobilisasi sputum. Chest ft : PD, topotement, breathing dan couging (huffing) bersamaan dengan fibrasi dan assisted presure couging. 5. IPPB.

58 Fisiopterapi pd pasien dng respirator 1. Periksa keadaan atau kondisi pasien. 2. Periksa peralatan yg digunakan. 3. Tentukan masalah utama. 4. Tentukan penyebab masalah utama 5. Identifikasi methode pemecahan masalah penyebab utama. 6. Pilih yang dapat dilakukan dengan pertimbangan peralatan yg dipakai tidak terganggu.

59 Bagging (kantong berisi air) Pada pasien hyperinflation = pengembangan perut thorak berlebih dapat diberikan beban pada abdominal dengan beban 2 liter air atau elastik bandage sebagai PEEP (peak end expiartory presure) atau dengan ambu bag atau ambu PEEP. Bag diharapkan sebagai stimulasi batuk dan mobilisasi secret dengan peningkatan ekspirasi. Dilakuak dalam durasi min. disamping untuk mengatasi bronkopsm dengan cara inspirasi pelan dengan beban bag shg inspiasi sebagian dan saat ekspirasi bag membantu dengan cepat sehingga mampu mendorong sputum, dan juga sebagai mobilisasi thorak dan sputum dengan ekspirasi cepat (spontan).

60 Suctioning. Dilakukan untuk menjegah bradikardi selama suction dilakukan harus cukup oksigen pasien, Gunakan kateter suction seperti indotrache cube.Suction diharapka menstimulasi batuk atau disertai batuk untuk mobilisasi scret. Repetisi dilakukan selama 3-5 detik, dengan intensitas…………. Parengeal suction akan merangsang syaraf sympatis (N. vagus) menimbulkan aktif sympatik dan menyebabkan bradicardi dan henti jantung dan henti nafas ( vagal reflek). Atropin berfungsi menaikan nadi untuk menjegah bradicardi (vagal reflek).

61 Head injury. Fisioterapi menyesuaikan untuk menjegah peningkatan tekanan intracranial pada pasien head injury, contoh saat batuk, sucking. Perlu diskusi staf medic untuk mengatasi masalah-masalah pasien yang tidak kooperatif, yang utama mejegah menurunnya fungsi pernafasan.

62 Fraktur tulang rusuk. Pada kasus patah tulang rusuk yg perlu dijaga jangan terjadi pneumothorak, paradoksal movement sebagiab dari sangkar thorak. Fat emboli. Pada kasus patah tulang panjang memungkinkan terjadinya fat emboli pembekuan darah meningkat, gas darah turun dan perdarahan mata, oksigen terapi dimungkinkan diberikan

63 Gagal nafas pada pasien dewasa (Respiratory distress syndrom) Fisioteri menjegah edema paru dan komplikasi paru lainnya dan gangguan sirkulasi. Sekian fisioterapi respirasi spinal cord injury.

64 Sinusitis. Biasanya menyertai rhinitis. Biasanya menyertai rhinitis. Selaput hidung imflamasi ganggu saluran nafas. Selaput hidung imflamasi ganggu saluran nafas. Ciri-ciri hampir sama rhinitis. Ciri-ciri hampir sama rhinitis. Sinus berada dalam tulang. Sinus berada dalam tulang. Komplikasi: Osteomyelitis, thrombophlebitis sinus cavernosus, cellulitis orbita, miningitis, abses otak Komplikasi: Osteomyelitis, thrombophlebitis sinus cavernosus, cellulitis orbita, miningitis, abses otak Pada masa acut sinus penuh mukus timbulkan empyema. Pada masa acut sinus penuh mukus timbulkan empyema. Dapat disebabkan jamur. Virus dan bacteri. Dapat disebabkan jamur. Virus dan bacteri.

65 Rumus test 6 menit wolk test. (0,06Xjarak tempuh(meter)-(0,104 X Usia(th) +(0,052X Berat Badan(kg) + 2,9 : 3,5 = 0,06 jarak tempuh – 0,104 usia +0,052 BB +2,9 : 3,5 = mets. Contoh: Tuan A. Umur :61 th, B B :71,5 Kg, TB: 170 Cm Jarak tempuh selama 6 menit= 523 m (0,06x523)-(0,104x61)+(0,052X71,5)+2,9 = 9,04 Mets. 3,5 3,5


Download ppt "OLEH: Drs. SLAMET SUMARNO. 020807. Pertemuan. I. 1. PENDAHULUAN. Tujuan: Setelah mempelajari materi ini mahasiswa diharapkan mampu menerangkan: 1. Perbedaan."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google