Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

HIV ART CARE SUPPORT AND TREATMENT HIV ART CARE SUPPORT HIV ART CARE SUPP Tim Fasilitator Perawatan, Dukungan dan Pengobatan HIV/ART Kementerian Kesehatan.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "HIV ART CARE SUPPORT AND TREATMENT HIV ART CARE SUPPORT HIV ART CARE SUPP Tim Fasilitator Perawatan, Dukungan dan Pengobatan HIV/ART Kementerian Kesehatan."— Transcript presentasi:

1

2 HIV ART CARE SUPPORT AND TREATMENT HIV ART CARE SUPPORT HIV ART CARE SUPP Tim Fasilitator Perawatan, Dukungan dan Pengobatan HIV/ART Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan 2014 Koinfeksi TB HIV

3 HIV ART CARE SUPPORT AND TREATMENT HIV ART CARE SUPPORT HIV ART CARE SUPP Epidemi ganda HIV TB

4 Infeksi TB TB aktif HIV dgn risiko HIV + dgn TB aktif HIV +

5 Epidemi TB DOTS Epidemi HIV

6 HIV ART CARE SUPPORT AND TREATMENT HIV ART CARE SUPPORT HIV ART CARE HIV Epidemiologi TB di Asia Selatan & Tenggara Asia Selatan dan Tenggara memikul beban 40 % dari TB global Di Asia Selatan dan Tenggara > 95% kasus dijumpai di India, Indonesia, Bangladesh, Thailand, dan Myanmar TB merupakan penyebab kematian utama akibat penyakit infeksi pada umur > 5 tahun di Asia Selatan & Tenggara

7 HIV ART CARE SUPPORT AND TREATMENT HIV ART CARE SUPPORT HIV ART CARE HIV Epidemiologi ko-infeksi TB-HIV 1/3 ODHA terinfeksi TB TB merupakan IO terbanyak dan penyebab kematian utama pada ODHA 40 % kematian ODHA terkait dengan TB

8 HIV ART CARE SUPPORT AND TREATMENT HIV ART CARE SUPPORT HIV ART CARE HIV Epidemiologi ko-infeksi TB-HIV 3,2 juta koinfeksi TB-HIV terdapat di Asia Selatan & Tenggara Diperkirakan dalam 3-5 thn mendatang, % kasus TB pada beberapa negara di Asia Selatan & Tenggara berhubungan langsung dengan HIV

9 The boundaries and names shown and the designations used on this map do not imply the expression of any opinion whatsoever on the part of the World Health Organization concerning the legal status of any country, territory, city or area or of its authorities, or concerning the delimitation of its frontiers or boundaries. Dotted lines on maps represent approximate border lines for which there may not yet be full agreement.  WHO All rights reserved Tdk ada estimasi > Prevalensi HIV pd kasus TB, thn (%) Estimasi prevalensi HIV pd kasus baru TB, 2006

10 TB-related Mortality in HIV Patients : WHO million people live with HIV/AIDS worldwide 1/3 (11 million) of HIV-infected patients are infected with Mycobacterium tuberculosis – 1/10 (1.1 million) developed TB disease annually 9.4 million new TB cases in million (11.7%) cases were patients with HIV Global tuberculosis control Available at 380,000 people with HIV died from TB (4700 deaths a day) Risk of developing active TB 7-10% per year vs 10% lifetime

11 HIV ART CARE SUPPORT AND TREATMENT HIV ART CARE SUPPORT HIV ART CARE HIV Infeksi TB vs Penyakit TB (TB aktif) Infeksi TB – organisme ada, tetapi bersifat dormant (tidur), tdk dpt menginfeksi orang lain Penyakit TB – orang tsb sakit dan dapat menularkan penyakitnya ke orang lain 10% orang dgn infeksi TB akan menjadi penyakit TB Setiap orang dgn TB aktif dapat menginfeksi orang/ tahun

12 HIV ART CARE SUPPORT AND TREATMENT HIV ART CARE SUPPORT HIV ART CARE HIV Kapan infeksi TB menjadi penyakit? Kebanyakan terjadi dalam 2 tahun pertama setelah infeksi Jika orang menjadi immunocompromised HIV Kanker Khemoterapi Diabetes yang tidak terkontrol Malnutrisi

13 HIV ART CARE SUPPORT AND TREATMENT HIV ART CARE SUPPORT HIV ART CARE HIV Interaksi TB-HIV  HIV merupakan faktor risiko utama menyebabkan TB aktif  Jumlah progresi menjadi TB aktif:  > 40 % pada pasien dengan HIV  5 % pada pasien tanpa HIV  Risiko reaktifasi infeksi TB:  % setiap tahun pada pasien dgn HIV  < 0.1 % setiap tahun pada pasien tanpa HIV

14 HIV ART CARE SUPPORT AND TREATMENT HIV ART CARE SUPPORT HIV ART CARE HIV TB mempercepat perjalanan infeksi HIV Pasien dgn koinfeksi TB-HIV mempunyai viral load sekitar 1 log lebih besar daripada pasien tanpa TB Angka mortalitas pada ko-infeksi TB-HIV k.l. 4 x lebih besar daripada pasien dengan hanya TB sendiri Interaksi TB-HIV

15 Kerentanan Presentasi Progresi Penyakit Mortalitas TB HIV Interaksi TB-HIV

16 HIV ART CARE SUPPORT AND TREATMENT HIV ART CARE SUPPORT HIV ART CARE HIV TB increased HIV viral replication

17 Efek jumlah CD4 terhadap risiko TB di antara ODHA ItaliaASAfrika Selatan > <200 Insidens TB (per 100 /thn) Antonucci JAMA 1995;274:143; Markowitz Ann Int Med 1997;126:123; Badri Lancet 2002;359:2059

18 TB dan AIDS Risiko TB selama hidup 10% 60% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% PPD+/HIV-negatifPPD+/HIV+

19 HIV ART CARE SUPPORT AND TREATMENT HIV ART CARE SUPPORT HIV ART CARE HIV Masalah Tuberkulosis – kedaruratan global Tuberkulosis di populasi dgn prevalensi HIV yg tinggi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di antara ODHA Ke-2 penyakit menimbulkan stigma Ke-2 penyakit memerlukan perawatan jangka panjang

20 "We cannot win the battle against AIDS if we do not also fight TB. TB is too often a death sentence for people with AIDS. It does not have to be this way." Nelson Mandela, Former President of South Africa

21 HIV ART CARE SUPPORT AND TREATMENT HIV ART CARE SUPPORT HIV ART CARE HIV Nelson Mandela, Former President of South Africa "We cannot win the battle against AIDS if we do not also fight TB. TB is too often a death sentence for people with AIDS. It does not have to be this way."

22 HIV ART CARE SUPPORT AND TREATMENT HIV ART CARE SUPPORT HIV ART CARE HIV DIAGNOSIS TB Riwayat penyakit (anamnesis) Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Sputum Foto Toraks Tes Tuberkulin Kecurigaan

23 Gejala Penyakit TB aktif Batuk > 3 minggu (memproduksi sputum)* Nyeri dada* Hemoptysis* Demam Menggigil * Gejala yang sering terdapat pada kasus TB paru Keringat malam Lemas Napsu makan menurun Berat badan menurun atau tidak naik-naik

24 Diagnostik – Pemeriksaan Sputum Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan laboratorium BTA 3 kali BTA 3 kali Kultur Kultur Identifikasi Identifikasi Pemeriksaan BTA satu kali negatif, TB belum dapat disingkirkan Pemeriksaan BTA satu kali negatif, TB belum dapat disingkirkan BTA positif memerlukan pengobatan BTA positif memerlukan pengobatan Kultur darah bisa positif Kultur darah bisa positif 20 sampai 40% koinfeksi HIV-TB 20 sampai 40% koinfeksi HIV-TB

25 Pemeriksaan tiga sputum adalah optimal 81% 93% 100% 0% 50% 100% Pertama Kedua Ketiga Kumulatif Positifitas

26 Proporsi pasien dgn TB paru yang mempunyai smear BTA positif HIV Negatif HIV awal HIV lanjut Positifitas BTA pd pasien TB

27 Hasil X-foto dada pasien TB dengan infeksi HIV HIV awal HIV lanjut (severe immuno-compromise)

28 Infiltrat interstitial

29 Limfadenopati hilar

30 200 CD4 Typical Tuberculosis Atypical PTB EPTB Jenis TB terkait dengan jumlah CD4 50 CD4 500 CD4 HIV awal HIV lanjut

31 HIV ART CARE SUPPORT AND TREATMENT HIV ART CARE SUPPORT HIV ART CARE HIV Manifestasi Klinis TB pada HIV DiniLanjut KlinisTipikalAtipikal PPDBiasanya (+)Biasanya (-) Foto dadaTipikalAtipikal Gamb ParuLobus AtasLob. bawah/tengah TB ekstra paruJarangSering/banyak MikobakteremiTidak adaAda Adenopati hilus/Tidak adaAda mediastinum Efusi pleuraJarangSering

32 HIV awal (stad 1-2) HIV lanjut (stad 3-4) KlinisHaemoptysis Batuk kronis Keringat malam BB ↓ High fever Sesak napas BB ↓ HapusanSering positif (80-90%) Sering negatif X-rayKavitas Lobus atas infiltrat TB Primer: Lobus bawah infiltrat KGB intra-torakal > Presentasi TB paru tergantung stadium HIV

33 HIV ART CARE SUPPORT AND TREATMENT HIV ART CARE SUPPORT HIV ART CARE HIV TB ekstra-paru dengan HIV Limfadenopati (sering) Efusi pleura Penyakit perikardial Meningitis Peritonitis

34 JenisLokasiGejala KlinisDiagnosis 1.Limfadenitis TBLeherNyeri tekan (-) Dpt menjadi abses G/ lain: - demam - keringat malam - nafsu makan ↓ Aspirasi jarum halus Biopsi 2.TB milierParuBatuk, nafsu makan ↓ Sesak napas G/ lain yg berhubungan dengan organ yg terkena Foto toraks TB Ekstra Paru yang sering ditemukan

35 JenisLokasiGejala KlinisDiagnosis 3.Efusi pleura TBRongga pleura Sesak napas, nyeri dada, demam Foto toraks: perselubungan homogen Pungsi aspirasi 4.Meningitis TBOtakSakit kepala, kesadaran ↓ kaku kuduk (+), kelainan neurologi lainnya Pungsi lumbal 5.Efusi perikardium TB PerikardiumLemah, pusing, nyeri dada, napas pendek, nyeri hipokondrium, kaki bengkak Foto toraks EKG Echocardiography Perikardiocentesis TB ekstra paru, lanjutan

36 JenisLokasiGejala KlinisDiagnosis 6.SpinalNyeri punggung, gibus, nyeri radikuler, abses psoas, kompresi medula spinalis Foto sinar X (polos) Biopsi jaringan 7.TulangOsteomielitis kronisBiopsi jaringan 8.Sendi periferMonoartritisFoto sinar X Biopsi cairan sendi 9.UsusDiare, massa di perutBarium sinar X 10.HatiNyeri/massa di perut kuadran kanan atas USG, Biopsi 11.Ginjal & saluran kemih Sering b.a.k, dysuri, hematuri, nyeri/bengkak di punggung Steril piuria, biakan urin Pielogram intravena

37 TB ekstra paru, lanjutan JenisLokasiGejala KlinisDiagnosis 12.Kelenjar adrenal Gambaran hipoadrenal (hipotensi, Na ↓, K ↑/tetap, urea ↑, glukosa ↓ Foto sinar-X (polos) USG 13.Infeksi sal napas atas Suara serak, nyeri telinga, bengkak & sakit Biasanya komplikasi TB paru 14.Salura genital wanita Infertilitas, infeksi panggul, kehamilan ektopik Pemeriksaan panggul Foto sinar-X sal genital Biopsi jaringan 15.Saluran genital laki-laki: Epididimidis Seringkali terjadi akibatTB ginjal/saluran kemih

38 Terapi TB aktif dan HIV 1. Menjamin terapi yang lengkap (penting) 2. Terapi TB/HIV sama seperti HIV (-), kecuali: l Jangan gunakan pengobatan rifampin atau rifabutin 2 x seminggu jika jumlah sel CD4 < 100 sel/μL 3. Waspada terhadap interaksi obat dan reaksi paradoksikal (IRIS)

39 Pyrazinamide tidak memberikan manfaat tambahan jika diberikan di luar 2 bulan pada terapi jangka pendek Am Rev Respir Dis 1991;143:700-6 Cure Rate (%) bulan PZA4 bulan PZA6 bulan PZA

40 Respons terhadap terapi anti TB Mortalitas lebih tinggi pada smear- negatif Mortalitas lebih tinggi pada RZHE/HE daripada RZHE/RH Angka kekambuhan lebih tinggi pada TB-HIV Memperpanjang pemberian R ? Memberikan INH pasca pengobatan Sonnenberg, 13th Int’l AIDS Conference, Durban, 2000

41 Recurrence/re-infection?? Tergantung kepada derajat pajanan 326 pasien TB: 46 % HIV +, F/U 2 tahun Recurrence: 65 13/21 HIV+ akibat re-infeksi vs 1/18 HIV – Peningkatan risiko recurrence pd HIV+ secara primer disebabkan oleh re-infeksi Sonnenberg, 13th Int’l AIDS Conference, Durban, % per tahun HIV +6% per tahun pd HIV -

42 HIV ART CARE SUPPORT AND TREATMENT HIV ART CARE SUPPORT HIV ART CARE HIV Terapi ko-infeksi TB-HIV Paling sedikit diberikan selama 6 bln Pada kasus tertentu diberikan 9 bln

43 Efek samping hepatotoksis serius jenis OAT PZA : 1,48% INH : 0,49% Rif : 0,43% EMB : 0,07% Risiko pd HIV 3,8 kali Yee D et al. Am J Respir Crit Care Med 2003;167:

44 Kemungkinan faktor yg berperan terjadinya hepatotoksisitas OAT Usia lanjut Perempuan Penyakit hati yg menyertainya Dosis OAT terlalu tinggi Efek potensiasi dgn obat hepatotoksik lain Asetilator cepat INH Tost JR et al. Int J Tuberc Lung Dis 2005;9:

45 Kemungkinan faktor yg berperan terjadinya hepatotoksisitas OAT Nutrisi jelek Parasitisme meluas Infeksi kronis Penggunaan OAT yg sembarangan Etnis Beratnya penyakit Alkoholisme kronis Predisposisi Genetik Shakya R et al. Ann Pharmacother 2004; 38:

46 Kriteria menghentikan OAT pd hepatitis imbas obat SGOT dan/atau SGPT > 5 x normal tertinggi atau SGOT dan/atau SGPT > 3 x normal tertinggi dgn nausea, vomitus, nyeri perut, lelah Peningkatan bilirubin > 2 g% Ikterus ATS

47 Terapi ko-infeksi TB-HIV Mulai ART pada semua TB-HIV berapapun jumlah CD4nya Mulai dengan terapi TB dan dilanjutkan ART secepat mungkin ( 2 – 8 mgg ) Gunakan EFV jika Odha sedang dalam terapi TB Jika tidak ada EFV, bisa dipergunakan NVP (langsung 2 x 200 mg)

48 Interaksi obat 2 TB/HIV Metabolisme Absorpsi Eliminasi Metabolisme CYP3A4 PI NNRTI

49 Efek Rifampisin terhadap obat 2 anti HIV Protease inhibitor Saquinavir 80 % berkurang Ritonavir35 % berkurang Indinavir92 % berkurang Nelfinavir82 % berkurang Amprenavir81 % berkurang Nonnucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI) Nevirapine37 % berkurang Efavirenz26 % berkurang Reverse transcriptase inhibitor Tidak ada efek

50 TB dan HIV Pemberian HAART segera vs ditunda Alasan menunda terapi HIV sampai TB diobati: 1.HIV merupakan penyakit kronis. 2.Adherence dapat bermasalah. 3.Manajemen toksisitas lebih rumit. 4.Immune restoration dapat menimbulkan “paradoxical reactions.”

51 Alasan memulai terapi HIV pada awal TB: 1.TB berkaitan dengan aktifasi imun, peningkatan replikasi HIV, dan mempercepat progresi penyakit HIV. 2.Terapi antiretroviral yg poten dapat mengurangi jumlah HIV RNA, memperbaiki fungsi imun dan memperlambat progresi penyakit HIV. 3.Terapi HIV mengurangi risiko timbulnya IO yang lain. TB dan HIV: Pemberian HAART segera vs ditunda

52 HIV ART CARE SUPPORT AND TREATMENT HIV ART CARE SUPPORT HIV ART CARE HIV Masalah terapi: Adherence / jumlah pil banyak Efek toksisitas yang tumpang tindih – mual, muntah, ruam kulit, hepatitis, anemi Interaksi obat – Rifampisin merupakan enzyme inducer yang kuat ‘Paradoxical worsening’ TB – Reaksi Immune reconstitution – Lebih sering jika ART dimulai lebih dini pada terapi TB – Jika mungkin tunda ART sampai fase intensif selesai Terapi ko-infeksi TB-HIV

53 Efek samping HAART - demam - ruam kulit - gangguan hati - neuropati Terapi TB - demam - ruam kulit - gangguan hati - neuropati Sering terjadi dan sama

54 Immune Reconstitution Inflammatory Syndrome (IRIS)

55 TB Immune reconstitution Infeksi TB yang sebelumnya tenang menjadi nyata 2-3 minggu setelah memulai ART akibat meningkatnya respons inflamasi Gejala meliputi demam, limfadenopati, abses, lesi paru yang bertambah buruk dan meluasnya lesi sus. saraf pusat, artritis

56 Kolaborasi Tb HIV Program AIDSProgram TB Profilaksis IO Terapi IO ART Perawatan Pallatif Intensive Phase Dukungan psiko-sosio-ekonomi Pencegahan HIV Entry point/T&C Terapi TB (DOT) Fase lanjutan Penemuan kasus/ diagnosis Fase intensif

57 HIV ART CARE SUPPORT AND TREATMENT HIV ART CARE SUPPORT HIV ART CARE HIV Multi-drug Resistant (MDR) TB MDR-TB terjadi jika timbul resistensi terhadap isoniazid dan rifampisin Sekitar kasus baru MDR-TB setiap tahun Saat ini 79% MDR-TB resisten terhadap paling sedikit 3 atau 4 OAT Disebabkan oleh pemberian obat yang tidak sesuai dan adherence yang buruk

58 MDR = Multiple drug-resistant Isolat TB yg resisten paling sedikit terhadap isoniazid dan rifampisin XDR = Extensively drug-resistant MDR + resisten terhadap fluoroquinolone dan 1 dari 3 obat suntik (amikacin, kanamycin, capreomycin)

59 MDR TB adalah masalah yg dibuat manusia Ini membutuhkan biaya, kematian, kelemahan, dan ancaman terbesar bagi strategi penanggulangan TB saat ini.

60 HIV ART CARE SUPPORT AND TREATMENT HIV ART CARE SUPPORT HIV ART CARE HIV Multi-drug Resistant (MDR) TB Secara bermakna meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas Memerlukan penggunaan terapi lini kedua yang mahal dan toksik Strategi DOTS penting dalam mencegah terjadinya MDR-TB

61 Three “I” utk HIV/TB I ntensified TB case finding I soniazid preventive therapy I nfection control for TB in HIV care

62 Intensifikasi penemuan kasus TB Skrining gejala TB pd orang yang berisiko tinggi mendapat TB aktif Odha Risiko tinggi mendapat HIV Kontak rumah tangga, narapidana, pengguna NAPZA suntik DOTS

63 Terapi profilaksis INH Reduces risk by 33–67% for up to 48 months. Apa? Penggunaan isoniazid (INH) pada orang dengan infeksi laten M. tuberculosis Mengapa? Untuk mencegah progresi menjadi penyakit TB aktif

64 Hal penting HIV-TB TB adalah penyebab IO terbesar TB bisa terjadi pada semua tahapan HIV HIV merupakan faktor pencetus terbesar untuk terjadinya TB aktif Semakin lanjut tahapan dari HIV, semakin tidak khas gambaran TB Anergi terhadap tes tuberkulin meningkat seiring dengan menurunnya CD4

65 HIV ART CARE SUPPORT AND TREATMENT HIV ART CARE SUPPORT HIV ART CARE HIV Terapi jangka pendek adekuat untuk pengobatan Profilaksis INH efektif Penanganan klinis yang tepat memperbaiki prognosis walaupun tanpa ART ART dapat diberikan bersama-sama dengan OAT, tetapi dengan pilihan ART terbatas jika digunakan rifampisin Hal penting HIV-TB

66 Perilaku risiko tinggi utk HIV Infeksi TB Kel. 1: HIV + dan TB - Kel. 2: HIV + dan infeksi TB laten Kel. 3: HIV + dan TB aktif Kel. 5: HIV - dan TB aktif Kel 4: HIV – tetapi berperilaku risiko tinggi dan TB aktif

67 Perilaku risiko tinggi utk HIV Infeksi TB Kel. 1: HIV + dan TB -

68 Risiko HIV Infeksi TB Kel. 1: HIV (+) dan TB (-) BCG (utk anak kecil, HIV asimptomatik) Perawatan HIV/AIDS berkesinambungan Penyuluhan kes utk HIV (dan TB), termasuk skrining IMS, promosi kondom dan NAPZA suntik yg aman Pemantauan terus menerus terhadap TB aktif

69 Risiko HIV Infeksi TB Kel. 2: HIV (+) dan infeksi TB laten Profilaksis primer utk infeksi TB Perawatan HIV/AIDS berkesinambungan Penyuluhan kes utk HIV (dan TB), termasuk skrining utk IMS, promosi kondom dan NAPZA sutik yg aman Pemantauan terus menerus terhadap TB aktif

70 Risiko HIV Infeksi TB Kel. 3: HIV (+) dan TB aktif DOTS Perawatan HIV/AIDS berkesinambungan Penyuluhan kes utk HIV dan TB, termasuk skrining utk IMS, promosi kondom dan NAPZA suntik yg aman Kotrimoksasol selama terapi TB

71 Risiko HIV Infeksi TB Kel. 4: HIV (-) berisiko dan TB aktif DOTS Penyuluhan kes utk HIV dan TB, termasuk skrining utk IMS, promosi kondom dan NAPZA suntik yg aman

72 Risiko HIV Infeksi TB Kel. 5: HIV (-) dan TB aktif DOTS

73 Risiko HIV Infeksi TB Kel. 1: HIV (+) dan TB (-) BCG (utk anak kecil, HIV asimptomatik) Perawatan HIV/AIDS berkesinambungan Penyuluhan kes utk HIV (dan TB), termasuk skrining utk IMS, promosi kondom dan NAPZA suntik yg aman Pemantauan terus menerus terhadap TB aktif Kel. 2: HIV (+) dan infeksi TB laten Profilaksis primer utk infeksi TB Perawatan HIV/AIDS berkesinambungan Penyuluhan kes utk HIV (dan TB), termasuk skrining utk IMS, promosi kondom dan NAPZA suntik aman Pemantauan terus menerus terhadap TB aktif Kel. 3: HIV (+) dan TB aktif DOTS Perawatan HIV/AIDS berkesinambungan Penyuluhan kes utk HIV dan TB, termasuk skrining utk IMS, promosi kondom dan NAPZA suntik yg aman Kotrimoksasol selama terapi TB Kel. 5: HIV (-) dan TB aktif DOTS Kel. 4: HIV (-) berisiko dan TB aktif DOTS Penyuluhan kes utk HIV dan TB, termasuk skrining utk IMS, promosi kondom dan NAPZA suntik yg aman

74

75 kasus 1 Tn M, 30 tahun TB paru BTA positif, pengobatan sudah 1 bulan dgn FDC fase awal Pengguna IDU Hb 13 leukosit 2500 trombosit SGOT 45, SGPT 50 HBsAg -, anti-HCV - Rencana saat ini?

76 PITC A) hasilnya nonreaktif Selanjutnya apa yang dilakukan ?

77 OAT teruskan KIE Test 3 bulan lagi

78 PITC A) hasilnya reaktif Selanjutnya pemeriksaan apa yang dilakukan ?

79 PITC A) hasilnya reaktif Selanjutnya pemeriksaan apa yang dilakukan ?

80 Periksa CD4 a ) jika tak ada b ) jika ada hasinya CD4 55 sel/mm 3 Terapi apa yang diberikan ?

81 a.Pemberian terapi ARV? b.Profilaksis kotrimoksasol? c.Konseling pra-ARV?

82 kasus 1 Ps memulai Kotrimoksasol 1 x 960 mg selama hari Tidak ada reaksi alergi ARV kemudian dimulai Pilihan terapi? A.Duviral (Zidovudine, Lamivudine) + Nevirapine? B.Stavudine + Lamivudine + Nevirapine? C.Duviral + Efavirenz? D.Tenofovir + Lamivudine + Efavirenz?

83 Duviral + Efavirenz

84 kasus 1 Sepuluh hari sejak mulai ARV, pasien demam Timbul lemas dan anemia Bagaimana penatalaksanaan selanjutnya? Obat apa yang sebaiknya dihentikan?

85 Cek Hb Stop duviral Ganti dengan TDF


Download ppt "HIV ART CARE SUPPORT AND TREATMENT HIV ART CARE SUPPORT HIV ART CARE SUPP Tim Fasilitator Perawatan, Dukungan dan Pengobatan HIV/ART Kementerian Kesehatan."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google