OLEH : ELSA DILANTIKA NIM : TINGKAT : 3 B

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
Ns. Halimatul Mufidah, S.kep
Advertisements

Created By: Devi Pratiwi Dwi Luluk Anggraini Irma Pratiwi
ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM (Contraseptive for womens)
KONTRASEPSI PASCA PERSALINAN
DISUSUN OLEH NURJANAH , RAHAYU P , RATIH S , RENI F , RINAWATI
KELUARGA BERENCANA ALAMIAH (KBA)
ASUHAN KEPERAWATAN PERSALINAN
Infertilitas dan Gangguan Menstruasi
INFERTILITAS Definisi
METODE KONTRASEPSI MODERN ( Sterilisasi) DEWI RINI ASTUTI ZEGA, SST
akan mengalami pubertas tahun Pubertas
INFERTILITAS Vita novia Iii b.
INFERTILITAS Gejala kemandulan atau ketidaksuburan setelah pasangan yang cukup lama menikah namun sang istri tak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan mendapatkan.
Kebutuhan fisiologis dan psikologis pada kala I serta manajemen kala I
Oleh: SILVIA PRADIPTA IIIB
ASUHAN KEBIDANAN PADA INFERTILITAS
oleh: susri syahjana putri
Infertilitas pada usia reproduksi dan penanganannya
INFERTILITAS RESKI DIANA EKA PUTRI
INFERTILITAS YONI MAI PUTRI
DEFINISI, TANDA AWAL, GANGGUAN DAN ASUHAN PADA INFERTILITAS, KLIMAKTERIUM DAN MENOPAUSE Ni Wayan Ana PS.
Asuhan Kebidanan pada Infertil
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU DENGAN PERDARAHAN DILUAR HAID
INFERTILISASI.
KESEHATAN REPRODUKSI USIA LANJUT
Infertlitas.
NAMA : OSHI ANDILA TINGKAT : II B TUGAS : ASKEB II
Infertilitas pada usia reproduksi dan penanganannya
Siklus Reaksi Seksual.
MERILIZA WATI S NIM: TINGKAT:IIIB.
ABORTUS.
KELUARGA BERENCANA ALAMIAH (KBA)
ASKEB II ( PERSALINAN) Yuli indri dewi
ASUHAN KEBIDANAN PADA INFERTILITAS
GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI (MASTITIS)
ASUHAN KEBIDANAN PADA INFERTILITAS
METODE KONTRASEPSI MODERN ( Sterilisasi) DEWI RINI ASTUTI ZEGA, SST
Infertilitas BY: SY. SITI ROBIAH
PERTEMUAN KE-5 “INFERTILITAS”
3.
Infertilitas pada usia reproduksi dan manajemen
Abortus komplit.
Isu – Isu Kesehatan Wanita
GANGGUAN HAID.
dr. Wulan Margasari Soemardji, SpOG
FIBRO ADENOMA Sisrina nota rita
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU DENGAN PENDARAHAN DILUAR HAID
Asuhan kebidanan pada infertilitas
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ENDOMETRIOSIS
ASUHAN KEPERAWATAN PERSALINAN Meta Nurbaiti, S.kep.,Ns.,M.Kes
MENGERTI SIKLUS HAID.
ASUHAN KEBIDANAN KALA I
SISTEM REPRODUKSI PADA MANUSIA
Infertilitas Pada Usia Reproduksi dan Penanganannya
Pembinaan Kesehatan Reproduksi Bagi Lansia
OLEH KELOMPOK V DARMAN HASTUTI SUHAIMI VIDIA LOUKITA SARI ZHILHIJAH
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU DENGAN PERDARAHAN DILUAR HAID
Seksualitas Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional PROVINSI JAWA BARAT 2007.
KANKER SERVIKS dr. Hanna Gustin Puskesmas Tanjung Beringin.
GANGGUAN HAID DAN SIKLUSNYA
OLEH Ns. ANGGA ARFINA, S.Kep ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ENDOMETRIOSIS.
PENYAKIT MENULAR SEKSUAL. Apa itu Penyakit Menular Seksual? Penyakit Menular Seksual (PMS) merupakan salah satu jenis Infeksi Saluran Reproduksi (ISR),
Pendahuluan ICPD  (International Conference on Population and Development ) Mesir)  1995 Beijing, Cina,  1999 Denhaque  2000 New York Definisi.
ALAT KONTRASEPSI IMPLAN
BY ASMAUL HUSNA,S.ST.,M.Kes
Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)
CHAIRANISA ANWAR, SST., MKM
SISTEM REPRODUKSI. Sistem reproduksi atau sistem genital adalah sistem organ seks dalam organisme yang bekerja sama untuk tujuan reproduksi seksual. SISTEM.
Transcript presentasi:

OLEH : ELSA DILANTIKA NIM : 130100 TINGKAT : 3 B INFERTILITAS OLEH : ELSA DILANTIKA NIM : 130100 TINGKAT : 3 B

INFERTILITAS pengertian infertilitas pemeriksaan infertilitas faktor-faktor yang mempengaruhi infertilitas masalah yang timbul pada infertilitas manajemen kebidanan pada infertilitas

pengertian infertilitas Infertilitas atau ketidaksuburan adalah suatu kondisi di mana pasangan suami istri belum mampu memiliki anak walaupun telah melakukan hubungan seksual sebanyak 2-3 kali seminggu dalam kurun waktu 1 tahun dengan tanpa menggunakanalat kontrasepsi dalam bentuk Infertilitas primer berarti pasangan suami istri belum mampu dan belum pernah memiliki anak setelah 1 tahun berhubungan seksual sebanyak 2-3 kali per minggu tanpa menggunakan alat kontrasepsi dalam bentuk apapun. Infertilitas sekunder berarti pasangan suami istri telah atau pernah memiliki anak sebelumnya, tetapi saat ini belum mampu memiliki anak lagi setelah 1 tahun berhubungan seksual sebanyak 2-3 kali per minggu tanpa menggunakan alat kontrasepsi dalamn bentuk apapun.

Pemeriksaan Infertilitas Istri yang berumur antara 20-30 tahun baru akan diperiksa setelah berusaha mendapat anak selama 12 bulan. Pemeriksaan dapat dilakukan lebih dini apabila: Pernah mengalami keguguran berulang Diketahui mengidap kelainan endokrin Pernah mengalami peradangan rongga panggul atau rongga perut, dan Pernah mengalami bedah ginekologi Istri yang berumur antara 31-35 tahun dapat diperiksa pada kesempatan pertama pasangan itu datang ke dokter. Istri pasangan infertile yang berumur antara 36-40 tahun hanya dilakukan pemeriksaan infertilitas jika belum memiliki anak dari perkawinan ini. .

pemeriksaan masalah-masalah infertilitas meliputi: 1. Masalah air mani a. Pemeriksaan mikroskopik 1) Konsetrasi spermatozoa 2) Motalitas spermatozoa 3) Morfologi spermatozoa b. Uji ketidakcocokan imunologik 2. Masalah vagina dan serviks a. Uji pascasenggama b. Uji in vitro 1)  gelas obyek 2)  Uji kontak air mani dengan lendir serviks 3. Masalah uterus a. Biopsy endometrium b. Histerosalpingografi c.  Histeroskopi 4. Masalah tuba

Faktor-faktor yang mempengaruhi infertilitas 1. Faktor usia 2. Faktor berat badan dan aktifitas olahraga yang berlebihan 3. Gaya hidup Zat kimia pada rokok Alkohol 4. Faktor lingkungan 5. Depresi dan kejadian infertilitas 6.Emosi/stress

Masalah yang timbul pada infertilitas 1.      Masalah air mani a.       Volume Pada volume kurang dari 1,5 ml sesungguhnya baik untuk dilakukan inseminasi buatan suami (IBS) karena volume yang kurang itu tidak akan cukup menggenangi lendir yang menjulur dari serviks, sehingga dapat merupakan masalah infertilitas. b.      Ph air mani yang baru diejakulasikan pH-nya berkisar antara 7,3-7,7, yang bila dibiarkan lebih lama akan meningkat karena penguapan CO2-nya. Apabila pH lebih dari 8, hal itu mungkin disebabkan oleh peradangan mendadak kelenjar atau saluran genital, sedangkan pH yang kurang dari 7,2 mungkin disebabkan oleh peradangan menhun kelenjar tersebut. Sekret kelenjar prostat pH-nya lebih rendah dari 7. 2.      Masalah vagina Masalah vagina yang dapat menghambatpenympaian ini ialah adanya sumbatan atau peradangan

3.      Masalah serviks Walaupun servik merupaka sebagian dari uterus, namun artinya dalam reproduksi manusia baru diakui pada abad ke sembilan belas. Sims pada tahun 1868 adalah orang pertama yang menghubungkan serviks dengan infertilitas, melakukan pemeriksaan lendir serviks pasaca senggama dan melakukan inseminasi buatan. Baru beberapa lama kemudian Huhner memperkenalkan uji pascasenggama yang dilakukan pada pertengahan siklus haid. 4.      Masalah uterus Pada manusia, oksitosin tidak berpengaruh terhadap uterus yang tidak hamil akan teteapi prostaglandin dalam air mani dapat membuat uterus berkontraksi secara ritmik. Ternyata prostaglandinlah yang memegang peranan penting dalam transportasi spermatozoa ke dalam uterus dan melewati penyempitan pada batas uterus dengan tuba itu. Ternyata pula, uterus sangat sensitif terhadap prostaglandin pada akhir fase proliferasi dan permulaan fasesekresi. Dengan demikian, kurangnya prostaglandin dalam air mani dapat merupakan masalah infertilitas.

5.      Masalah tuba Peranan faktor tuba yang masuk akal adalah 25-50%. Dengan demikian, dapatdikatakan faktor tuba paling sering ditemukan dalam masalah infertilitas. Oleh karena itulah, penilaian patensi tuba dianggap sebagai salah satu pemeriksaan terpenting dalam pengelolaan infertilitas 6.      Masalah ovariumDeteksi tepat ovulasi baru dilakukan inseminasi buatan, menentukan saat senggamayang jarang dilakukan, atau kalau siklus haidna sangat panjang. 7.      Masalah peritoneumLaparoskopi diagnostic telah menjadi bagian integral terakhir pengelolaan infertilitas untuk memeriksa masalah peritoneum.

manajemen Infertilitas 1.      Mengumpulkan data dasar.       A) Data Subyektif Melakukan anamnesa : 1)      Anamnesa umum Anamnesa umum yaitu menanyakan informasi yang umum artinya dialami oleh kedua pihak (suami dan istri), yaitu menanyakan lamanya menikah, umur suami istri, frekuensi hubungan suami istri, tingkat kepuasan seks, penyakit yang pernah diderita, hubungan seks, riwayat perkawinan yang dulu. 2)      Anamnesa khusus)      a} Istri: usia saat menarche, apakah haid teratur, beapa lama terjadi perdarahan/ haid, apakah pada saat haid ada gumpalan darah dan nyeri, adakah keputihan abnormal, apakah pernah terjadi kontak bleeding, riwayat alat reproduksi (riwayat operasi, kontrasepsi, abortus, dan infeksi genitalia). Riwayat penyakit, meliputi (1)   Masalah menstruasi (2)   Infeksi panggul (nyeri panggul) (3)   PMS (4)   Apendisitis (5)   Trauma atau pembedahan abdomen b)   Suami: bagaimanakah tingkat ereksi, apakah pernah mengalami penyakit hubungan seksual, apakah pernah sakit mump (parotitis epidemika) sewaktu kecil

(a)Ketidakteraturan uterus (b) Massa panggul (c) Deviasi atau fiksasi uterus (6) Pemeriksaan untuk menetapkan terjadinya ovulasi (a) Pemeriksaan suhu basal (b) Pemeriksaan mikrokuretase (c)  Pemeriksaan sitology cairan serviks/vagina (d)  Pemeriksaan daun pakis b) Pemeriksaan khusus suami (1)   Pemeriksaan fisik alat genetalia bagian luar (2)   Analisis sperma sebanyak tiga kali dengan interval sekitar 5 sampai 7 hari b. Data Obyektif 1) Pemeriksaan Umum a) TTV                   : normal b) KU                     : baik c) Kesadaran         : Composmentis d) BB    : termasuk obesitas/tidak   2) Pemeriksaan Khusus a) Pemeriksaan istri (1) Pemeriksaan organ kandungan (2)Pemeriksaan lender serviks (reaksi imunologis, tes Shim Huhner) (3) rahim: histereskopi, histerosalpingografi, partubasi (4)Pemeriksaan laparoskopi (5)Pemeriksaan pelvis

2. Intepretasi data Dx: Ny “…” G.. P…. dengan  infertilitas primer/ sekunder. Masalah: a. Defisit pengetahuan tentang foreplay atau teknik-teknik kohabitasi untuk memperbesar peluang kehamilan. b. Ketakutan terhadap tindakan-tindakan tes diagnostik, prosedur pengobatan, dan hasil yang akan dicapai. 3. Diagnosa potensial Pada infertilitas diagnosa potensial yang mungkin terjadi adalah Gangguan Psikologis: stress, depresi. . 4. Antisipasi penanganan segera Kolaborasi dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan untuk: a.  Inseminasi buatan b. Transfer ovum c. Fertilisasi in vitro  

a. Berikan informasi faktual untuk membantu mereka mengambil keputusan g. Teori: Faktor vitalitas umum yang tidak baik, misalnya kesehatan yang buruk, nutrisi yang tidak mencukupi (adekuat), tidak berolahraga, merokok, dan minum alkohol berlebihan h. Beritahu pasangan suami isttri untuk menghindari sumber-sumber yang menyebabkan peningkatan temperature skrotum. Seperti bekerja di tempat yang bertemperature panas (supir, koki, dll) i. Beritahu pasangan suami isttri untuk menghentikan penggunaan pelumas dan pencucian vagina j.Beritahu pasangan suami isttri jika setelah berhubungan seksual posisi istri tetap berbaring telentang selama 15 menit. k.Lakukan rujukan ke fasilitas kesehatan yang mempunyai fasilitas yang lebih lengkap untuk dilakukan terapi induksi ovuloasi dengan klomifen. 5. Intervensi a. Berikan informasi faktual untuk membantu mereka mengambil keputusan b. Berikan reinforcement kepada pasangan suami isttri supaya mereka mempunyai harapan yang realistis pada setiap sesi pengobatan. c. Berikan dukungan emosi kepada pasangan suami isttri sebelum menjalani evaluasi d. Anjurkan ibu dan suami untuk makan makanan yang bergizi e. Teori: Faktor vitalitas umum yang tidak baik, misalnya kesehatan yang buruk, nutrisi yang tidak mencukupi (adekuat), tidak berolahraga, merokok, dan minum alkohol berlebihan f. Anjurkan ibu untuk rajin berolahraga dan menjalankan pola hidup sehat dengan tidak merokok dan minum alcohol.

f. Memberitahu suami untuk menghindari sumber-sumber yang menyebabkan peningkatan temperature skrotum. Seperti bekerja di tempat yang bertemperature panas (supir, koki, dll) g. Memberitahu pasangan suami istri untuk menghentikan penggunaan pelumas dan pencucian vagina h. Memberitahu pasangan suami isttri jika setelah berhubungan seksual posisi istri tetap berbaring telentang selama 15 menit. i. Lakukan rujukan ke fasilitas kesehatan yang mempunyai fasilitas yang lebih lengkap untuk dilakukan terapi induksi ovuloasi dengan klomifen   6. Implementasi a. Memberikan informasi faktual untuk membantu mereka mengambil keputusan b. Memberikan reinforcement kepada pasangan suami isttri supaya mereka mempunyai harapan yang realistis pada setiap sesi pengobatan. c. Memberikan dukungan emosi kepada pasangan suami isttri sebelum menjalani evaluasi d. Menganjurkan ibu dan suami untuk makan makanan yang bergizi e. Menganjurkan ibu untuk rajin berolahraga dan menjalankan pola hidup sehat dengan tidak merokok dan minum alcohol.

7.      Evaluasi Ibu dapat mengerti semua penjelasan petugas, hal ini dapat dibuktikan ibu dapat menjelaskan kembali beberapa  penjelasan yang diberikan oleh bidan.