Oleh: SUMARYANTI FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA NOVEMBER 2012.

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
Konsep Kelompok Khusus dan Kelompok Resiko Tinggi di Komunitas
Advertisements

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
JENIS-JENIS KESULITAN BELAJAR
Oleh : KUNTJOJO D3 Kebidanan Kediri, Poltekes Malang /16/20141.
Konsep Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia
ESTY ARYANI SAFITHRY, M.Psi, Psi
Pendidikan Untuk Anak Tunagrahita Ringan
”Karakteristik Perkembangan Anak Usia Sekolah”
IDENTIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK)
IDENTIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK)
KEMAMPUAN KHUSUS INDIVIDU & ANTISIPASI PENDIDIKAN
PELAJAR YANG MEMPUNYAI PENGECUALIAN
Dr. Tjhin Wiguna, SpKJ(K) Psikiater Anak
BAB VII TINJAUAN PSIKOLOGIS PENDIDIKAN DI INDONESIA
PENJAS ADAPTED BAGI TUNAGRAHITA
PENDIDIKAN TUNANETRA Oleh: Sumaryanti
PENJAS ADAPTED BAGI TUNARUNGU
Latar Belakang Masalah
KONSEP DASAR PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
AUTISME Presented by Oleh Erwin Setyo Kriswanto
MATERI KULIAH PENDIDIKAN INKLUSI
PSIKOLOGI ANAK KHUSUS.
MASA ANAK SEKOLAH Materi Pertemuan 2. Masa anak sekolah (6 – 12 tahun) Keterampilan yang diperlukan pada masa anak sekolah (Hurlock dalam Munandar, 1999):
Kelompok 2 Hari Kurniawan Lintang Pertiwi Naddya Anggiastry P Uripah Yessy Perdana Putri.
PENERIMAAN DIRI REMAJA PENYANDANG TUNADAKSA
Kesulitan Membaca Winanti S. Respati winsr-rev2008.
Pengenalan & Pemahaman Masalah Anak
Oleh Kelompok V : 1. Erniyati 5. Sally 2. Delfi Rosmayana 6. Sofia Sitorus 3. Jenni Sihombing 7. Tri Yuniati 4. Retno Utaminingsih 8. Isma Juanita.
BINA GERAK DEWI SRI REJEKI,S.Pd,M.Pd
JENIS-JENIS GANGGUAN BELAJAR
POKOK BAHASAN Pertemuan 5 Matakuliah: Psikologi Pendidikan Tahun: 2009.
Hak Mendapatkan Pendidikan yang Sama pada Anak Penyandang Autisme
PENDIDIKAN ANAK LUAR BIASA (PLB)
TUNA GANDA Kelompok ; Denny Sitompul
KESEHATAN MENTAL DI SEPANJANG SIKLUS KEHIDUPAN
KESUKARAN BELAJAR PART III
KESULITAN DALAM BELAJAR
GIZI ANAK SEKOLAH (6-12 tahun)
“PROGRAM PEMBELAJARAN INDIVIDUAL UNTUK ANAK BERKELAINAN AKADEMIK DAN MENTAL EMOSIONAL” Nur Amalina Siti Lailatus Sholichah Kanty.
MENCERMATI GIZI BAYI, AWAL KESEHATAN MASYARAKAT
Aplikasi Pemeriksaan Psikologis
JENIS-JENIS GANGGUAN BELAJAR
di SLB Tunas Kasih 1 Leuwiliang-Bogor
ESTY ARYANI SAFITHRY, M.Psi, Psi
BAB II PERTUMBUHAN & PERKEMBANGAN
Klinefelter dan turner
TUMBANG PReNATAL, NEONATAL, BAYI
APLIKASI PENELITIAN PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
PENANGANAN PENYAKIT CEREBRAL PALSY PADA ANAK DENGAN TERAPI
JENIS-JENIS GANGGUAN BELAJAR
KONSEP DASAR PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
MENGENAL DAN MELAYANI ABK
Y. Joko Dwi N,S.Psi,M.Psi,Psi
PENDIDIKAN ANAK LUAR BIASA (PLB)
ANAK LAMBAN BELAJAR (SLOW LEARNER) Dyah Ayu Tri Permanasari
Gizi Dalam daur Kehidupan I (GDDK)
HAKIKAT ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
JUDUL PTK UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENJUMLAHAN MELALUI MEDIA ALAT PANCING SISWA KELAS III ANAK TUNA GRAHITA SEDANG DI SDLB NEGERI KOTA PEKALONGAN.
PERTUMBUHAN & PERKEMBANGAN ANAK USIA SEKOLAH (6-12 Thn)
ESTY ARYANI SAFITHRY, M.PSI, PSIKOLOG
PERKEMBANGAN ANAK USIA 4 -6 TAHUN
Perkembangan anak Usia SD
MODUL 9 MENDIDIK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SD BIASA Oleh Kelompok IX: MUHAMAD SIFANIM : EKA NOVIANTI NIM : UNIVERSITAS TERBUKA UPBJJ.
Intelectual Disability
PENILAIAN MOTORIK KASAR DAN MOTORIK HALUS AGUSNADI TALAH.
01 Minggu 5 Cerebral Palsy.
Psikologi Pendidikan : Pertemuan ke - 6
Kehamilan di sertai penyakit rubella dan hepatitis
ADVOKASI TENTANG ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS KEPADA MASYARAKAT : GAMPONG LAKSANA, KEC. KUTA ALAM, BANDA ACEH Oleh: DM. Ria Hidayati, S.Psi., M.Ed Direktur.
PSIKOLOGI PENDIDIKAN KELOMPOK 5 Anggota :1.Roni Hermawan ( ) 2. Joko Sutrisno( ) 3. Ilvan Triyudha Pangestu( ) 4. Resti Nurmaya( )
Transcript presentasi:

Oleh: SUMARYANTI FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA NOVEMBER 2012

DEFENISI Menurut bahasa “Tuna” = ketidakmampuan, kurang atau terbatas “Grahita” = berfikir atau memperkirakan Tuna Grahita adlh ketidakmampuan/terbatas dalam berfikir/memperkirakan tentang suatu hal. Menurut Istilah Tuna Grahita adlah penderita yang mengalami keterbelakangan/keterbatasan dalam hal perkembangan sosial dan kecerdasannya.

DEFENISI MENURUT PARA PAKAR Menurut (PP No. 72 Tahun 1991) - Tuna Grahita adlh anak2 yg memiliki keterbelakangan mental, lamban dlm hal kecerdasan dan perkembangan sosialnya untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Menurut (Somantri, 2006: 103) - Tuna Grahita adlh anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata atau anak dengan hendaya perkembangan (penurunan kemampuan atau berkurangnya kemampauan dalam segi kekuatan, nilai, kualitas, dan kuantitas)

Menurut (Delphie, 2006: 113) - Tuna Grahita adlh anak yg mempunyai kekurangan/keterbatasan dari segi mental intelektualnya, di bawah rata-rata normal, sehingga mengalami kesulitan dlm tugas2 akademik, komunikasi, maupun sosial, dan karena memerlukan layanan pendidikan khusus. Menurut (American Asociation on Mental Deficiency /AAMD) - kelainan: yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata (Sub-average), yaitu IQ 70 ke bawah berdasarkan tes, yang muncul sebelum usia 16 tahun, yang menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif.

KLASIFIKASI Tuna Grahita Ringan (Debil) Tuna Grahita Sedang (Imbesil) Tuna Grahita Berat (Idiot) American Asociation on Mental Deficiency (AAMD)

Tuna Grahita Ringan (Debil) Pd umumnya memiliki kondisi fisik yg tidak berbeda dg anak normal lainnya, mereka mempunyai IQ antara kisaran 50 s/d 70. Mereka juga termasuk kelompok mampu didik (membaca, menulis dan berhitung), anak tunagrahita ringan biasanya bisa menyelesaikan pendidikan setingkat kelas IV SD Umum Tuna Grahita Sedang (Imbesil) Anak tunagrahita sedang termasuk kelompok latih. Tampang atau kondisifisiknya sudah dapat terlihat, tetapi ada sebagian anak tunagrahita yang mempunyai fisik normal. Kelompok ini mempunyai IQ antara 30 s/d 50.Mereka biasanya menyelesaikan pendidikan setingkat ke;las II SD Umum American Asociation on Mental Deficiency (AAMD)

Tuna Grahita Berat (Idiot) Kelompok ini termasuk yang sangat rendah intelegensinya tidak mampu menerima pendidikan secara akademis. Anak Tuna Grahita berat termasuk kelompok mampu rawat, IQ mereka rata-rata 30 ke bawah. Dalam kegiatan sehari-hari mereka membutuhkan bantuan orang lain American Asociation on Mental Deficiency (AAMD)

Menurut Tingkat IQ KLASIFIKASI TingkatanIQ Range For Level Mild Mental Retardition50-55 Aporox, 70 Moderate Mental Retardition35-40 to Sevare Mental Retardition20-25 to Unspecified Bellow 20 or 25 skala sistem penilaian WISC (paye & patton,1981 : 49)

Menurut Penelitian Leo Kanner 1. Absolute Mentally’ Retarded Yaitu seorang anak tunagrahita dimana pun ia berada. Maksudnya anak tersebut jelas-jelas tunagrahita baik kalau ia tinggal di pedesaan maupun di perkotaan; di lingkungan keluarga, sekolah dan tempat pekerjaan. Tunagrahita tipe ini pada umumnya adalah penyandang tunagrahita sedang (terutama kelompok bawah), berat dan sangat berat. KLASIFIKASI

2. Relative Mentally Retarded Yaitu anak tunagrahita hanya dalam masyarakat tertentu saja. Misalnya di sekolah ia termasuk tunagrahita tetapi di keluarga ia tidak termasuk tunagrahita. Tunagrahita tipe ini pada umumnya adalah penyandang tunagrahita ringan. 3. Pseudo Mentally Retarded Yaitu anak yg menunjukkan performance (penampilan) sgb penyandang tuhagrahita tetapi sesungguhnya ia mempunyai kapasitas kemampuan yg normal. Misalnya seorang anak dikirim ke sekolah khusus karena menurut hasil tes kecerdasannya (IQ-nya rendah, tetapi setelah anak mengikuti pendidikan di sekolah, ternyata kemampuan belajar dan adaptasi sosialnya adalah normal, maka anak tersebut bukanlah penyandang tunagrahita.

KARAKTERISTIK Fisik (Penampilan)  Hampir sama dengan anak normal  Kematangan motorik lambat  Koordinasi gerak kurang  Anak tunagrahita berat dapat kelihatan perbedaannya Intelektual  Sulit mempelajari hal-hal akademik  Anak tunagrahita ringan, kemampuan belajarnya paling tinggi setaraf anak normal usia 12 tahun dengan IQ antara 50 – 70  Anak tunagrahita sedang kemampuan belajarnya paling tinggi setaraf anak normal usia 7, 8 tahun IQ antara 30 – 50  Anak tunagrahita berat kemampuan belajarnya setaraf anak normal usia 3 – 4 tahun, dengan IQ 30 ke bawah Suhaerni H.N (1979: 25)

Sosial dan Emosi  Bergaul dengan anak yang lebih muda.  Suka menyendiri  Mudah dipengaruhi  Kurang dinamis  Kurang pertimbangan/kontrol diri  Kurang konsentrasi  Mudah dipengaruhi  Tidak dapat memimpin dirinya maupun orang lain. KARAKTERISTIK Suhaerni H.N (1979: 25)

ETIOLOGI (PENYEBAB) Prenatal (Sebelum Lahir) Yaitu terjadi pada waktu bayi masih ada dlm kandungan, penyebabnya seperti : campak, diabetes, cacar, virus tokso, juga ibu hamil yang kekurangan gizi, pemakai obat-obatan (naza) dan juga perokok berat. Natal (waktu lahir) Proses melahirkan yg sudah terlalu lama, dapat mengakibatkan kekurangan oksigen pd bayi, tulang panggul ibu yg terlalu kecil dpt menyebabkan otak terjepit dan menimbulkan pendarahan pd otak (anoxia), dan proses melahirkan yg menggunakan alat bantu (penjepit, tang).

Pos Natal (sesudah lahir) Pertumbuhan bayi yang kurang baik seperti gizi buruk, busung lapar, demam tinggi yang disertai kejang-kejang, kecelakaan, radang selaput otak (meningitis) dapat menyebabkan seorang anak menjadi ketunaan (tunagrahita). ETIOLOGI (PENYEBAB)

IMPLIKASI (PENDEKATAN) Occuppasional terapy (Terapi Gerak) Tujuannya untuk melatih gerak fungsional anggota tubuh gerak kasar atau halus. Play terapy (Terapi Bermain) Tujuannya untuk mengurangi atau menghilangkan gangguan & penyimpangan. Seperti pada fisik, mental, sosial, sensorik, dan komunikasi. Aktivity daily living/ADL (Membiasakan Diri) Untuk memandirikan anak tunagrahita, mereka harus diberi pengetahuan dan ketermpilan tentang kegiatan kehidupan sehari-hari(ADL) agar mereka dapat merawat diri sendiri tanpa bantuan orang lain & tidak tergantung kepada orang lain.

Live Skill (Keterampilan Hidup) Tujuannya agar dapat hidup mandiri dan bekal hidup mereka. Dengan ketermpilan yg dimilikinya, mereka dapat hidup di lingkungan keluarga dan masyarakat serta dapat bersaing di dunia industri dan usaha. Fokastional terapi (terapi bekerja) Selain diberikan latihan ketermpilan. Anak tunagrahita juga diberikan latihan kerja. Dengan bekal latihan yang telah dimilikinya, anak tunagrahita diharapkan dapat bekerja. IMPLIKASI (PENDEKATAN)

MODEL PELAYANAN PENDIDIKAN Kelas Transisi kelas persiapan dan pengenalan pengajaran dengan acuan kurikulum yg dimodifikasi sesuai kebutuhan anak. Sekolah khusus (SLB – C, C1) Pendidikan untuk anak tunagrahita model ini diberikan oleh sekolah luar biasa. Pendidikan terpadu Layanan pendidikan pada model ini diselenggarakan di sekolah reguler.

Home Schooling (Program Sekolah di Rumah) Program ini diperuntukan bagi anak tunagrahita yang tidak mampu mengikuti pendidikan di sekolah khusus karena keterbatasannya. Panti (griya) rehabilitasi Panti ini diperuntukan bagi anak tunagrahita pada tingkat berat, yang mempunyai kemampuan pada tingkat sangat rendah dan pada umumnya memiliki kelainan ganda seperti penglihatan,pendengaran atau motorik. Program di panti lebih terfokus pada perawatan. MODEL PELAYANAN PENDIDIKAN