Manusia dan Agama Pertemuan 2.

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
Kajian Al qur'an Tentang Iptek
Advertisements

Pendidikan Agama Islam Kelas X SMA Semester Genap
Siapakah sebenarnya diri kita?
“... dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).”
KERAJAAN SERIBU TAHUN PASAL 20.
ANAK Lesson 2 for July 12, 2014.
BAPA SURGAWI KITA YANG PENGASIH
MU’JIZAT AL-QURAN.
KELAHIRAN ALAM SEMESTA
Materi Al Qur’an Hadits
BAHAN AJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM OLEH : DR. AMINUDDIN, M. Ag.dkk UNIVERSITAS ESA UNGGUL JAKARTA2011.
Tanda-tanda Kekuasaan Allah di Ufuk
BAB 8 IMAN KEPADA QADHA DAN QADAR
Bab IV Tanggung Jawab Manusia Sebagai Khalifah dan Hamba Alloh SWT
Manusia dan Agama.
MANUSIA DALAM ALQURAN Vita Fitria, M.Ag. Pendidikan Agama Islam
1 SISTEM POLITIK ISLAM
MATERI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM IMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH
BERIMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH
ETIKA BISNIS ISLAM IKA RUHANA.
Kejadian Manusia Menurut Al-Quran
Pokok Bahasan 3, ARIS RISDIANA, S.Sos.I, MM
Penyusun & Penyaji Materi
Pertemuan Kedua Manusia dan Agama
Agama Islam Pertemuan ke-3.
Manusia Dan Alam Semesta
Akhlak Materi -11.
AL-ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN
OLEH PURNAMA TIMUR MS. ST IKE NILAWATI R. M.Pd
Menurut Para Ilmuan manusia
Bagaimana Siang dan Malam Berlaku?
KELOMPOK 2 ANISA KHAFIDA MADINATUL MUNAWAROH NURUL HASANAH
Manusia dan Agama.
Manusia a. Asal Usul Manusia b. Manusia Makhluk Berakal.
Tugasnya sebagai khalifah di bumi
S K I Konsep Kebudayaan Islam Nilai-Nilai Islam Dalam Budaya Indonesia
AGAMA Agama merupakan bagian yang terpenting dalam kehidupan manusia. Agama berkaitan dengan kepercayaan-kepercayaan, keyakinan-keyakinan terhadap Tuhan.
Hakekat Manusia dan Pengembangannya
A. Manusia dan Alam Semesta
ALAM dan LINGKUNGAN HIDUP
Manusia dan alam semesta Manusia menurut agama islam
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Materi III IMAN Oleh: Ahmad Arif Rifan, SHI., MSI.
Akhlak Materi -7.
ETIKA BISNIS ISLAM.
BERIMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH
Inilah Kunci Surga Surga, dengan segala kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan terlintas dalam hati manusia, memiliki.
MANUSIA DAN STATUS KEBERADAANNYA
HADITS IJTIMA’I.
HAKEKAT MANUSIA MENURUT ISLAM
HAKIKAT MANUSIA MENURUT ISLAM
KELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP
Konsep Manusia dan Agama
HAKIKAT MANUSIA MENURUT ISLAM
KONSEP TUHAN MANUSIA & ALAM
Potensi Dasar Manusia Anwar Ma’ruf, ST., MT..
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
KONSEP DASAR MANUSIA/INSAN UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG
TITIS OCTARY SATRIO D4 TEKNIK INFORMATIKA A
KONSEP DASAR AJARAN ISLAM
Definisi Agama Agama adalah salah satu istilah dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa sanskerta. Istilah ini terambil dari dua kata yaitu a dan.
By : 1. Rizal hartono 2.Muhammad fajar
PENCIPTAAN LANGIT DAN BUMI
UQDATUL KUBRO Dari mana saya? Mau apa saya? Mau kemana saya?
IPTEK DAN SENI DALAM ISLAM
HAKIKAT MANUSIA MENURUT ISLAM
 Al Qur’an dapati kesimpulan yang cukup besar peluang kebenarannya bahwa sebenarnya seluruh kejadian di alam semesta ini, sudah terjadi dan kejadiannya.
Materi III IMAN Oleh: Ahmad Arif Rifan, SHI., MSI.
Materi III IMAN Oleh: Ahmad Arif Rifan, SHI., MSI.
AL QUR’AN SOLUSI SEMUA PROBLEMA
Transcript presentasi:

Manusia dan Agama Pertemuan 2

Manusia dan alam semesta Secara bahasa alam adalah segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Sementara menurut istilah ilmuwan bahwa alam semesta adalah kosmos yakni ruang angkasa serta semua benda langit yang terdapat di dalamnya. Sedangkan menurut ilmu agama (Islam) ‘alam/alam adalah segala selain Allah swt. Juga manusia termasuk alam atau bagian alam semesta. Alam dapat dipahami juga segala sesuatu yang dapat ditangkap oleh pancaindra, perasaan, pikiran, kendatipun samar-samar. Banyak ilmuwan percaya bahwa alam raya ini masih terus berkembang dan berkembang. Ini dikenal dengan teori ekspansi. Menurut teori tersebut, nebula di luar galaksi tempat kita tinggal, menjauh dari kita dengan kecepatan yang berbeda-beda. Bahkan benda-benda langit dalam satu galaksi pun saling menjauh satu sama lain. Mengenai hakikat ilmiah ini ilmuwan muslin merujuk pada firman Allah QS Adz-Dzariyat (51): 47 “dan langit kami bangun dengan ‘tangan-tangan’ Kami, dan sesungguhnya Kami benar-benar Maha Meluaskan” Dia meluaskan dalam arti mengembangkannya dengan jalan menjadikannya saling menjauh satu sama lain.

Asal Mula Alam Semesta Salah satu teori di antaranya adalah bahwa alam semesta tercipta akibat dentuman besar yang terjadi sekitar 15 milyar tahun yang lalu. Menurut teori ini, sebelum terbentuk seperti sekarang, alam semesta merupakan kumpulan sejumlah besar kekuatan atom-atom yang saling berkaitan dan dibawah tekanan yang sangat kuat dan hampir tidak dapat dibayangkan oleh akal. Kumpulan atom tersebut mengalami ledakan dahsyat yang mengakibatkan tersebarnya benda-benda alam raya keseluruh penjuru, kemudian terciptanya benda langit yang terpisah, termasuk tata surya dan bumi-big bang. Ilmuwan muslim mengukuhkan teori tersebut dengan firman Allah swt. dalam QS. Al- Anbiya’ (21): 30 yang menyatakan: “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak melihat bahwa langit dan bumi keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan keduanya” Apapun yang mengakibatkan terbentuknya alam semesta ini, namun yang pasti Ia sangat-sangat besar dan hebat dan tidak mungkin tercipta secara kebetulan. Di sini kita dapat menemukan Allah swt., karena Allah memang selalu “Hadir di mana-mana”.

Alam semesta telah diciptakan-Nya dengan tatanan kerja yang teratur, rapi dan serasi, ini dapat diketahui dari: Pertama : berupa keteraturan, kerapian, dan keserasian dalam hubungan alamiah antara bagian-bagian yang ada di alam dengan pola saling melengkapi dan mendukung (sebab alamiah-inheren). Kedua : keteraturan yang ditugaskan kepada malaikat untuk menjaga dan melaksanakannya. Tatanan kerja yang teratur, rapi dan serasi ini kemudian dikenal dengan sunnatullah yakni ketentuan dan hukum yang ditetapkan Allah. Melalui sunnatullah inilah alam semesta dapat bekerja secara sistematik (menurut suatu cara yang teratur rapi) dan berkesinambungan, tidak berubah-ubah dan sekaligus secara dinamis saling melengkapi.

Sunnatullah (Hukum Alam) Kalau kita menyaksikan gunung yang disangka diam pada tempatknya, sebenarnya gunung-gungung itu bergerak bagaikan awan (QS. An-Naml [27]: 88). Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan. Dan Allah telah meninggikan langit dan dia meletekakkan neraca (keadilan), (QS. Al Rahman [55]: 5 dan 7). Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya (QS. Al Furqan [25]: 2). Allah menciptakan tujuh buah langit, kemudian diturunkan dari langit itu air menurut suatu ukuran, lalu air itu menetap di bumi, dan Allah kuasa menghilangkan air itu, dengan air Allah tumbuhkan kebun-kebun kurma dan anggur hingga diperoleh buahnya yang banyak dan dimakan sebagiannya (QS. Al Mu’minun [23]: 17 – 19). Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan (QS. Al Zumar [39]: 5). Semua ini merupakan bukti bahwa alam semesta ini telah diciptakan Allah swt dan bekerja menurut hukumnya sendiri yang bersumber dari Allah swt.

Sifat utama sunnatullah Sunnatullah atau Hukum Allah yang menyebabkan alam semesta selaras, serasi dan seimbang dipatuhi sepenuhnya oleh partikel atau zarrah yang menjadi unsur alam semesta. Pasti atau tentu; QS. Al Furqan: 2 “Dia telah menciptakan sesuatu dan Dia (pula yang) memastikan dan menentukan ukurannya dengan sangat rapi”. Selain itu dalam QS. At Talaq: 3 “sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan (kepastian bagi tiap sesuatu’. Tetap, tidak berubah-ubah; informasi ini dapat kita temukan dalam QS. Al An’an: 115 yang terjemahannya sebagai berikut “…Tidak ada yang sanggup mengubah kalimat- kalimat Allah”. Dalam bagian QS. Al Isra’: 77 “…dan engkau tidak akan menemukan perubahan dalam sunnah kami…” Objektif; isyarat ini dapat kita temukan dalam QS. Al Anbiya: 105 yang artinya: “bahwasanya dunia ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shaleh”.

Alam semesta diciptakan Allah dengan hukum-hukum yang berlaku baginya yang kemudian diserahkan-Nya kepada manusia untuk dikelola dan dimanfaatkan. Manusia yang diberi wewenang mengelola dan memanfaatkan alam semesta diberi kedudukan istimewa sebagai khalifah dan manusia diberi bekal berupa potensi, yaitu akal. Dengan akal manusia mampu melahirkan berbagai ilmu sebagai alat untuk mengelola dan memanfaatkan alam semesta serta mengurus bumi ini. Ketika adam sebagai manusia diangkat menjadi khalifah di bumi, Allah mengajarkan kepadanya ilmu pengetahuan tentang nama-nama (benda). Dalam QS al Baqarah: 31 Allah menyatakan, “Dia telah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya…”. Ini merupakan bentuk poengetahuan yang diajarkan Allah pada Adam dan menjadi keunggulan komparatif manusia dibanding makhluk lain.

Manusia Istilah manusia dalam al Qur’an Al-Insan dan al-Nas Kata insan digunakan al Qur’an untuk menunjuk kepada manusia dengan segala totalitasnya, jiwa dan raga. Kata insan disebut sebanyak 65 kali dipakai untuk sebutan manusia individu. Pemakaian kata insan ditujukan kepada seluruh manusia secara individu menyangkut karakter, seperti menerima pelajaran dari Tuhan (QS Al “alaq: 4); amanat yang dipikul dari Tuhan (QS Al Ahzab: 72); waktu yang harus digunakan supaya tidak merugi (QS Al Ashr: 2); balasan dari apa yang dikerjakannya (QS Al Najm: 39), (QS An Naazi’aat: 35); Musuh yang nyata dengan setan (QS al Anbiya: 5), (QS al Isra’: 53); sopan santun dan etika (QS al Ankabut: 8), (QS Lukman: 14) dan (QS Al Ahqaf: 15) Manusia menerima pelajaran dari Allah sehingga memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Dengan ilmu pengetahuan manusia menjadi tinggi derajatnya; manusia dapat mengatasi masalah hidup dengan baik. Segala fenomena dan kejadian ditampakkan oleh Allah swt.untuk menjadi pelajaran bagi manusia. Dalam setiap kejadian sekecil apa pun terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal, itulah al insan.

Sedangkan kata an nas disebut 241 kali untuk sebutan manusia jamak Sedangkan kata an nas disebut 241 kali untuk sebutan manusia jamak. Istilah an nas berkaitan dengan interaksi kehidupan manusia yang bersifat kolektif, seperti: kepemimpinan (QS Al Baqarah: 124); perubahan social (QS Ali Imran: 140), (QS Al Anfal: 26) dan perubahan alam (QS Al Baqarah: 164) Manusia selalu membutuhkan orang lain dalam berinteraksi, sehingga tercipta saling memberikan manfaat antara satu dengan yang lainnya. Kepemimpinan harus professional. Hakikat jadi pemimpin adalah menjadi pelayan yang melayani kebutuhan rakyat/bawahannya. Setiap manusia adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah Ta’ala. Jadilah pemimpin yang amanah sebagai an nas yang digambarkan Allah dalam Al Qur’an Manusia dapat menlakukan perubahan social dan perubahan alam, namun yang penting dipahami adalah bahwa perubahan harus selalu menuju ke posisi yang lebih baik.

Basyar Al-Basyar adalah gambaran manusia secara materi yang dapat dilihat, makan dan minum, berjalan dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kata basyar terulang dalam al Qur’an sebanyak 36 kali, dipakai untuk menyebut manusia dalam kaitannya dengan aspek-aspek jasmaniah. “dan ingatlah, ketika Rabb-mu berfirman kepada para malaikat. Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. (QS Al Hijr: 28; QS An Nahl: 103; QS Al Isra: 93; QS Maryam: 26) Pemakaian kata basyar di seluruh al Qur’an memberikan pengertian bahwa yang dimaksud adalah anak Adam yang biasa makan, minum dan berjalan di pasar-pasar yang saling bertemu atas dasar persamaan (Asy-Syathi). Dalam konteks ini al Basyar adalah manusia berdimensi biologis, yang banyak dikaji olehj ilmu biologi dan kedokteran. Dan hasilnya dapat dimanfaatkan oleh manusia itu sendiri. Bani Adam Artinya keturunan Adam yang menunjukkan manusia dilihat dari sudut keturunannya. Allah swt berfirman “Dan sesungguhnya kami telah memuliakan anak-anak Adam (manusia). Kami angkat mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka dari rezeki yang bnaik- baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang kami ciptakan”. (QS AL Isra [17] : 61, 70)

Potensi Manusia Jasad dan Ruh Dalam ajaran Islam, manusia terdiri dari dua unsur, yaitu unsur materi dan unsur immateri. Unsur materi tubuh manusia berasal dari tanah (QS al An’am: 2), tanah kering (QS Ar-Rahman: 14), tanah liat dan tanah berlumpur (QS al Hijr: 26). Jelaslah bahwa sesungguhnya manusia berasal dari zat yang sama yaitu tanah. Unsur immateri tubuh manusia adalah ruh yang berasal dari alam gaib yang ada dalam diri manusia. Dan kita tidak mengetahui tentang ruh ini kecuali hanya sedikit (QS Al Isra: 85). Asal kejadian manusia terekam dalam al Qur’an surat Shaad: 71-72, yaitu: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”.

Hakikat penciptaan manusia dari proses kejadian dan asal manusia dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu: Dimensi kerendahan atau kehinaan: dalam pengertian simbolis, lumpur (tanah) hitam, menunjuk pada keburukan, kehinaan yang tercermin pada dimensi kerendahan. Dimensi ketuhanan: hal ini tercermin dari perkataan ruh (ciptaan)-Nya. Dimensi ini menunjuk pada kecenderungan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Dari hakikat penciptaan ini manusia pada suatu saat dapat mencapai derajat yang tinggi tetapi pada saat yang lain dapat meluncur ke lembah yang dalam, hina dan rendah. Dengan posisi di antara dua posisi demikain, maka manusia harus memelihara keseimbangan diri agar kestabilan hidupnya dapat selalu terpelihara.

Akal Manusia adalah makhluk berpikir. Dalam al Qur’an banyak disinggung agar manusia dapat mempergunakan akalnya unutk berpikir apa saja. Ada tujuh kata yang digunakan al Qur’an dalam menyebut konsep berpikir, yaitu: nadzara, tadabbara, tafakkara, faqiha, tadzakkara, fahima dan ‘aqala. Menurut al Farabi, kemampuan berpikir adalah kekuatan yang dimanfaatkan manusia untuk memahami. Berkaitan dengan akal ini, al Ghazali mengatakan bahwa apabila engkau mengadakan penyelidikan atau penalaran terhadap ilmu pengetahuan, maka engkau akan melihat kelezatan padanya. Menurut Qardhawi, berpikir dalam Islam adalah ibadah, mencari bukti adalah wajib dan menuntut ilmu adalah wajib. Akal merupakan potensi yg mampu membuat manusia menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu pengetahuan yang bersifat objektif tetapi relative, menghasilkan kebenaran yang bersifat relative juga. Oleh karena itu akal yang benar ialah akal yang dibimbing dengan petunjuk Allah swt.

Akal dalam pandangan agama dan agamawan adalah apa yang dengannya seorang secara sadar mengabdi kepada Allah dan dengan menggunakannya seorang akan meraih surga-Nya. Perhatikan penjelasan QS al Mulk [67]: 10-11 “Dan mereka berkata, ‘sekiranya kami mendengarkan guna menarik pelajaran atau berakal yakni memiliki potensi yang dapat menghalangi kami terjerumus dalam dosa, niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala’. Demikianlah-dengan ucapan itu-mereka mengakui secara sungguh-sungguh dosa mereka pada saat tidak lagi berguna pangakuan dan penyesalan. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala- nyala.” akal adalah utusan kebenaran, ia adalah kendaraan pengetahuan, serta pohon yang membuahkan istiqamah dan konsistensi dalam kebenaran. Akal bukan hanya daya pikir, tetapi gabungan dari sekian daya dalam diri manusia yang menghalanginya terjerumus dalam dosa dan kesalahan. Karena itu ia dinamai oleh al Qur’an ‘aql (akal) yang secara harfian berarti tali yakni yang mengikat nafsu manusia dan menghalanginya terjerumus ke dalam dosa, pelanggaran dan kesalahan.

Qalbu Bahasa Arab menggunakan kata qalb (qalbu) untuk menunjuk organ manusia yang menjadi pusat peredaran darah dan terletak di rongga dada sebelah atas. Namun, diartikan juga perasaan. Dalam bahasa Indonesia pun kita sering berkata jantung hati dalam arti pusat perasaan. Sabda Rasulullah saw.: “Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan sesungguhnya yang haram pun jelas, dan di antara keduanya ada syubhat (hal-hal yang samar), tidak diketahui oleh banyak orang. Maka siapa yang menghindari aneka kesamaran maka ia telah memelihara agama dan kehormatannya, dan siapa yang terjerumus dalam syubhat, maka ia (hampir saja) telah terjerumus ke dalam haram; seperti halnya penggembala, yang mengembala di sekitar perbatasan, dia pun hamper larut dalam kenikmatannya. Sesungguhnya setiap raja mempunyai wilayah perbatasan. Sesungguhnya wilayah perbatasan Allah adalah larangan-larangan-Nya. Sesungguhnya dalam diri manusia ada sesuatu sebesar kunyahan, apabila baik, baiklah seluruh jasad dan apabila rusak, maka rusaklah jasad. Ia adalah Qalbu” (HR. Bukhari melalui Nu’man Ibn Basyir).

Kata qalbu juga digunakan oleh al Qur’an sebagai gabungan dari daya pikir, dan kesadaran moral. Ia adalah akal sehat dan kepekaan hati. “Maka apakah mereka tidak berjalan di bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengannya mereka dapat memahami atau mereka mempunyai telinga yang degannya mereka dapat mendengar, karena sesungguhnya bukanlah mata (kepala) yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang berada di dalam dada” (QS Al Hajj [22]: 46). Ayat di atas menyebut qalbu – dalam hal ini adalah akal sehat dan hati yang suci – serta telinga, tanpa menyebut mata, karena yang ditekankan di sini adalah kebebasan berpikir jernih serta kemampuan mengasah kepekaan untuk menemukan sendiri kebenaran, serta mengikuti keterangan orang terpercaya dalam hal kebenaran yang didambakan. Memang siapa yang tidak menggunakan akal sehatnya dan mengasah kepekaannya dan tidak pula menggunakan telingannya, ia dinilai buta hati. Kalbu dapat menjadi wadah sekaligus menjadi alat untuk meraih pengetahuan.

Nafs Allah memegang ketika manusia mati yang belum mati ketika tidurnya. Demikian petunjuk yang kita dalam al Qur’an. Orang yang sudah ditetapkan nafs-nya dan yang lain dilepaskan sempai waktu yang ditentukan (QS Az Zumar [39]: 42). Tiap-tiap yang memiliki nasf akan merasakan mati (QS Ali Imran [3]: 185). Kata nafs banyak bertebaran dalam al Qur’an yang diartikan beragam antara lain: jiwa, diri dan nafsu. Dalam al Qur’an, makna nafs dapat dipahami sebagai akumulasi kejiwaan yang kompleks. Dalam al Qur’an nasf itu berkecenderungan untuk menyuruh kejahatan, kecuali nafs yang diberi rahmat (QS Yusuf [12]: 53). Nafs yang mendorong pada kejahatan dikenal dengan hawa nafsu, sedangkan nafs kebaikan kita disebut nafs muthmainnah. orang yang menuruti hawa nafsu tidak lain seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat (QS Al Furqan [25]: 43-44). Manusia yang menuhankan hawa nafsunya akan terkunci hati nuraninya sehingga tidak akan terbuka menerima petunjuk untuk menjadi orang yang bertakwa.

Berdasarkan potensi jasad, ruh, akal, qalbu dan nafs yang dimiliki oleh manusia tersebut, manusia adalah makhluk Allah yang penciptaannya lebih sempurna dari makhluk Allah yang lain. Manusia memiliki peluang untuk lebih sempurna melebihi para malaikat jika mengoptimalkan potensi secara benar. Namun, manusia juga berpeluang sasat menjadi lebih rendah daripada hewan jika tidak menggunakan potensi tersebut. Dalam perjalanan sejarah, manusia selalu bergerak ke spectrum yang mengarah ke jalan Tuhan. Dipihak lain manusia juga mengarah juga ke spectrum yang sebaliknya, yaitu jalan sesat. Dalam proses ini menusia harus menentukan arah pilihannya, dalam menentukan pilihan itu, manusia memerlukan petunjuk. Petunjuk yang benar terdapat dalam agama Allah yang menciptakan manusia itu sendiri.

Agama: Arti dan Ruang Lingkupnya Agama berasal dari bahasa Sansekerta yang erat hubungannya degnan agama Hindu dan Budha. Akar kata agama gam (pergi) yang mendapat awalan a; I; dan u dan akhiran a sehingga menjadi agama; igama dan ugama. Agama artinya peraturan, tatacara, upacara hubungan manusia dengan raja; Igama artinya peraturan tata cara, upacara dalam hubungan dengan dewa-dewa; sedang ugama ialah peraturan, tata cara dalam berhubungan antar manusia. Dalam bahasa Inggris Agama dikenal dengan Istilah religion yang berasal dari bahasa Latin relegere, artinya berpegang kepada norma-norma. Ruang lingkupa agama dari Istilah religi ini menunjukkan hubungan tetap antara manusia dengan Tuhan saja. Sedangkan Dalam bahasa Arab agama Islam disebut dengan din (din al Islam), istilah din tercantum dalam al Qur’an Surat al Maidah (5): 3 mengandung pengertian pengaturan hubungan manusia dengan dan hubungan manusia dengan manusia dalam masyarakat, termasuk dirinya sendiri dan dalam lingkungan hidupnya. Tata hubungan ini dikenal dengan hablum minallah wa hablum minannas (QS Ali Imran [3]: 112.

Hubungan Manusia dengan Agama Memahami hubungan manusia dengan agama dapat dilihat bagaimana kedudukan agama dalam kehidupan manusia (sikap keberagamaan) tersebut. Manusia hidup tidak dapat melepaskan diri dari agama. Namun anehnya, tidak semua manusia dapat menempatkan agama pada kedudukan yang benar. Oleh karena itu kita perlu mendudukkan agama dalam kehidupan manusia secara benar. Dalam pandagan Islam, keberagamaan adalah fitrah (sesuatu yang melekat pada diri manusia dan terbawa sejak kelahirannya): “Fitrah Allah yang menciptakan manusia atas fitran itu” (QS Al Rum [30]: 30). Itu berarti manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama. Tuhan menciptakan demikian, karena agama merupakan kebutuhan hidupnya. William James menegaskan bahwa, “selama manusia masih memiliki naluri cemas dan mengharap, selama itu pula ia beragama (berhubungan dengan Tuhan)”. Itulah sebabnya mengapa perasaan takut merupakan salah satu dorongan yang terbesar untuk beragama. Dalam kenyataan bahwa semua manusia dan kelompoknya selalu mempunyai kepercayaan tentang adanya suatu wujud yang Maha Tinggi. Percaya pada sesuatu “Tuhan” adalah hal yang taken for granted (bawaan dasar) pada manusia, sepenuhnya manusiawi. Manusia tidak mungkin dapat meninggalkan kebutuhan fitrah. Salah satu kebutuhan fitrah manusia adalah agama.

Wa Allah A’lam Terima Kasih