Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia

Slides:



Advertisements
Presentasi serupa
PUJIAN UNTUK ANAK KITA oleh Munif Chatib
Advertisements

BUDAYA PERUSAHAAN DAN ETIKA
Kewirausahaan Andhytha Anggriana Jiwa Wirausaha Jiwa Wirausaha adalah yang mau berusaha dengan mengandalkan kemampuan diri tanpa bergantung.
TEKNIK NEGOSIASI.
PENCABUTAN HAK ATAS TANAH
TANGGUNG JAWAB SOSIAL SUATU BISNIS
PERKEMBANGAN ANAK SEKOLAH DASAR
Famella Ranti Novitasari Diah Restiningrum Rendy Uji Niagara Intan Ayu Zakiyatul M
PENILAIAN RANAH AFEKTIF
KONSEP ADMINISTASI SEBAGAI PHILOSHOPY IN ACTION
POKOK BAHASAN 6 DUKUNGAN SOSIAL BAGI LANJUT USIA
Budi pekerti Budi Pekerti mempunyai arti yang sangat jelas dan sederhana, yaitu :  Perbuatan( Pekerti) yang dilandasi atau dilahirkan oleh  Pikiran yang.
PENGEMBANGAN PRAGMATIK
Pergaulan remaja sehat
BAB VII KEPEMIMPINAN KARISMATIS
DISIPLIN, EFISIENSI, DAN PRODUKTIVITAS KERJA (Pertemuan ke-6)
MANUSIA, HUKUM DAN MORAL
Kepemimpinan dan Sumber Daya Manusia dalam Proyek
Keadilan ialah kelayakan dari sebuah tindakan (Aristoteles).
MANAJEMEN KONFLIK  .
Hak-hak Sipil dan Politik
TEORI KOMUNIKASI UNCERTAINTY REDUCTION THEORY
PENDEKATAN DALAM STUDI KEPEMIMPINAN
Materi Motivasi.
PENDEKATAN DALAM STUDI KEPEMIMPINAN
KONSEP-KONSEP PERILAKU
POLA ASUH ANAK DAN REMAJA (PAR)
ORGANISASI DAN MANAJEMEN I
Latihan Kasus.
SEBAGAI BAHAN SAJIAN PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DI SMK
HUBUNGAN PERBURUHAN, SERIKAT PEKERJA DAN PERUNDINGAN KOLEKTIF
sikap & kepuasan kerja Kelompok 1 Dian Purnama Yuliantini
PROSES KOMUNIKASI PERTEMUAN 11.
SUPLEMEN MODUL 10 KEMAMPUAN ADAPTASI JUDUL : TUMBUH DENGAN “AKAR”
KULIAH 13 Tataran Antarpribadi
GAYA & ETIKA PEMIMPIN IRSADI ARISTORA., MH.
MOTIVASI Adinda Nurul Huda M, MSi.
SOPAN Hormat akan atau kepada ketertiban menurut adab yang baik, merupakan bagian dari perilaku diri yang terekspresi dari kualitas moral, nurani dan juga.
KETRAMPILAN INTERPERSONAL
Aspek Etika Bisnis dalam skb
KETRAMPILAN INTERPERSONAL
KOMUNIKASI DAN MANAJEMEN KONFLIK
KOMUNIKASI DAN MANAJEMEN KONFLIK
1 MOTIVASI 2.
KOMUNIKASI BERDASARKAN BERBAGAI BUDAYA/ ETNIK
KELOMPOK 3 Ningrum Isnaeni Muhammad Ferdi H. Suci Rizki F.
Melibatkan Orang Berpengaruh Dalam Sebuah Ide
LATIHAN DASAR KEPEMIMPINAN SEKOLAH
MENINGKATKAN KEKUATAN MEMPENGARUHI Untuk Meraih Hasil MAKSIMAL.
TRI YULIANA AYU PERTIWI
PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
BAB VIII PERENCANAAN KARIER
Suatu Tinjauan Pemasaran
FILOSOFI PEMBELAJARAN
ETIKA PERGAULAN.
Ini Pilihan Kami.
KISI-KISI MATERI SPB.
PENDEKATAN DALAM STUDI KEPEMIMPINAN
PENDEKATAN DALAM STUDI KEPEMIMPINAN
Internally Driven Issues
KEADILAN DALAM BISNIS Berbagai paham dan teori mengenai keadilan :
PENDEKATAN DALAM STUDI KEPEMIMPINAN
Perilaku da-lam menen-tukan sasaran
IKLIM KOMUNIKASI : Dasar Hubungan Personal
Kode Etik HEPPR – Pertemuan 6.
KET. INTER-INTRA PERSONAL
Etika, etiket, dan respect
KET. INTER-INTRA PERSONAL
Prinsip Kesantunan. Pengertian Kesantunan Dalam KBBI edisi ketiga (1990) dijelaskan yang dimaksud dengan kesantunan adalah kehalusan dan baik (budi bahasanya,
Transcript presentasi:

Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia Logika Tiga Dimensi Teori-teori Kesantunan Berbahasa (The Triadic Logic of Linguistic Politeness Theories) Prof. E. Aminudin Aziz Drs. (UPI), M.A., Ph.D. (Monash) Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia

Clayton, 10 Oktober 2000

Kesantunan dan Ketakziman Berbahasa Kesantunan berbahasa (politeness) terkait dengan upaya seorang penutur untuk mengurangi dampak dari sebuah tindakan yang mungkin mengancam wajah (face-threatening acts); Ketakziman berbahasa (deference) terkait dengan upaya seorang penutur untuk menunjukkan rasa hormat terhadap mitra tuturnya (face-satisfying acts) Kesantunan dan Ketakziman terkait dengan upaya pemuliaan “wajah”.

KONSEP WAJAH Sebuah atribut sosial yang dimiliki setiap jiwa, bersifat sakral, dan setiap pemiliknya akan berusaha mempertahankan kesakralannya (Goffman 1959; berdasarkan rumusan Hu [1942] yang mengacu pada konsep wajah dari K’ung Fu-tzu [+/- 2500 SM])

DALAM FILOSOFI K’UNG FU-TZU (TRADISI CINA) Wajah = Mian/lian (Dimaknai lebih sebagai metafora ketimbang wujud kasar) Wajah bersifat sosial dan ia ada pada seseorang sebagai pinjaman dari masyarakat, yang sewaktu-waktu dapat dicabut

Konsep Dasar Wajah Relasional Kepatuhan terhadap prinsip ini mutlak diperlukan untuk menjaga keharmonisan sosial dan hubungan baik seluruh warganya, sekalipun dengan pengorbanan pribadi Sifat relasional wajah terkait dengan mekanisme yang berlaku dalam mengatur hubungan dan perilaku antarpersonal warga masyarakat dalam mewujudkan keharmonisan masyarakatnya.

Komunal/Sosial Kepatuhan terhadap prinsip ini didorong oleh rasa takut memperoleh sangsi sosial warga masyarakat akibat kesalahan yang diperbuat Sifat komunal/sosial wajah didasarkan pada gagasan bahwa wajah adalah perisai yang dapat melindungi seseorang dari berbagai kemungkinan “serangan dan cercaan” warga masyarakat lainnya tentang perilaku pemiliknya. Kehilangan perisai tersebut akan berdampak pada hilangnya wajah seseorang di mata anggota masyarakat lainnya.

Hirarkis Menyiratkan keharusan untuk selalu berada pada tataran “wajar” dan “saling menghargai”, diwujudkan dalam bentuk “yang tua sayang terhadap yang muda, yang muda menghormati yang lebih tua”. Wajah dikatakan bersifat hirarkis, karena realisasi penghormatan terhadap “wajah” (baca: harga diri) seseorang, seringkali didasarkan atas atribut-atribut sosial yang membeda-bedakan seseorang dengan lainnya, seperti faktor senioritas dalam usia, asal muasal keturunan, jabatan, harta kekayaan, dan sejenisnya.

Moral Ditujukan untuk menggapai derajat manusia yang memiliki integritas moral tinggi Wajah dikatakan berbasis moral mengingat hanya orang yang memiliki integritas moral yang kuatlah yang akan peduli terhadap kesakralan wajahnya. Hanya orang yang bermoral yang akan peduli dengan wajah (baca: harga diri) yang telah diperolehnya dari masyarakat.

Brown&Levinson (1978; 1987) Wajah Positif (Positive Face) Harapan/keinginan pemilik wajah agar segala hasil jerih payah dan prestasinya dapat dihargai secara wajar oleh lingkungannya. Wajah Negatif (Negative Face) Harapan/keinginan pemilik wajah agar ia tidak menerima gangguan dari lingkungannya

(Positive Politeness) Kesantunan Positif (Positive Politeness) Waduh, bajunya bagus banget tuh! (menunjukkan apresiasi/pujian terhadap milik/prestasi seseorang) Sekarang sudah baikan, ‘kan? (menunjukkan empati dan solidaritas) Kita memang orang-orang hebat dan layak terpilih. (ungkapan inklusif, mengakui adanya kebersamaan bagi semua) Kita pasti bisa menyelesaikan tugas berat itu pada waktunya dan pasti berhasil dengan baik. (menunjukkan optimisme) Hati-hati di jalan ya? (memberikan perhatian; bersifat sok akrab)

(Negative Politeness) Kesantunan Negatif (Negative Politeness) Saya nggak tahu, apakah Ibu lebih suka jengkol atau petai? (tidak memaksakan; memberikan pilihan) Maunya sih...Bapak berkenan hadir pada acara kami itu. Tapi, kalau terlalu sibuk, ya...gimana lagi. (tidak ingin mengganggu kebebasan pihak lain; menghargai komitmen pihak lain) Maaf ya mau nanya, kalau bis kota ke alun-alun lewat sini nggak? (mengakui bahwa tindakan ini mengganggu pihak lain) Keputusannya saya serahkan kepada Bapak saja. (memberikan kewenangan penuh dan kebebasan kepada pihak lain).

(Off-record Strategies) Strategi Tak Langsung (Off-record Strategies) Sepertinya di dalam ruang ini panas sekali ya? (meminta agar mitra tutur menghidupkan kipas angin, membuka jendela, atau pengatur suhu ruang/AC) Tidak ada alasan untuk tidak memberi maaf. Saya tidak sejahat yang dikira orang lain. (ungkapan menerima permohonan maaf dari mitra tutur) Alangkah bijaksana dan terhormat Anda apabila tidak menambah polusi di ruang ini (larangan untuk tidak merokok). Sudah beberapa bulan ini saya belum bisa membayar SPP anak-anak. (permintaan untuk dipinjami uang)

Konsep wajah dari Brown and Levinson Konsep wajah menurut ajaran K’ung Fu Tzu 1. berpusat pada aspek wajah yang dimiliki oleh individu, 1. berpusat pada aspek wajah yang dimiliki oleh masyarakat, 2. berusaha mengakomodasi keinginan dan harapan individu. Wajah diperlakukan sebagai bentuk keinginan, 2. berusaha mengakomodasi keharmonisan perilaku individu berdasarkan penilaian masyarakat. Wajah diperlakukan sebagai tantangan normatif dalam masyarakat, 3. terdiri dari wajah positif dan wajah negatif. Wajah negatif merujuk pada kebutuhan individu untuk bebas dari imposisi/tekanan eksternal. 3. terdiri dari lian and mianzi. Mianzi tidak dapat dipersamakan atau difahami dalam kaitannya dengan wajah negatif.

Grice (1975): Prinsip Kerjasama (Cooperative Principle) Maksim Kuantitas (Maxim of Quantity) Maksim Kualitas (Maxim of Quality) Maksim Relasi (Maxim of Relation) Maksim Cara (Maxim of Manner)

Leech (1983): Prinsip Kesantunan (Principle of Politeness) Sasaran ilokusi penutur (S’s illocutionary goals) Sasaran sosial Penutur (S’s social goals) Retorika Antarpersonal (Interpersonal Rhetoric) Retorika Tekstual (Textual Rhetoric)

Maksim kebijaksanaan (Tact maxim) Minimalkan kerugian kepada orang lain Maksimalkan keuntungan bagi orang lain Maksim kemurah-hatian (Generosity maxim) Minimalkan keuntungan untuk diri sendiri Maksimalkan kerugian untuk diri sendiri Maksim Pujian (Approbation maxim) Minimalkan cacian kepada orang lain Maksimalkan cacian kepada diri sendiri

Maksim Kesederhanaan (Modesty maxim) Minimalkan pujian untuk diri sendiri Maksimalkan cacian untuk diri sendiri Maksim Kesepahaman (Agreement maxim) Minimalkan ketidaksepahaman antara diri sendiri dan orang lain Maksimalkan kesepahaman antara diri sendiri dan orang lain Maksim Simpati (Sympathy maxim) Minimalkan antipati antara diri sendiri dengan orang lain Maksimalkan simpati antara diri sendiri dengan orang lain

Aziz (2000): Prinsip Saling Tenggang Rasa (Principle of Mutual Consideration/PMC) Terhadap mitra tutur Anda, gunakanlah tuturan yang Anda sendiri pasti akan senang mendengarnya apabila tuturan tersebut digunakan orang lain kepada Anda dan … Terhadap mitra tutur Anda, jangan gunakan tuturan yang Anda sendiri pasti tidak akan menyukainya apabila tuturan tersebut digunakan orang lain kepada Anda

Prinsip-prinsip dalam PMC Daya Sanjung dan Daya Luka (Harm&Favour Principle) Prinsip Berbagi Rasa (Shared Feeling Principle) Prinsip Kesan Pertama (Prima facie Principle) Prinsip Keberlanjutan (Continuity Principle)

Keunggulan PMC Bekerja dalam mekanisme Kausalitas (bandingkan dengan teori Leech [1983] yang sangat Tautologis) Mengasumsikan bahkan menyaratkan adanya Kesantunan sebelum berkomunikasi (pre-event politeness) Kesantunan pada saat berkomunikasi (on-the-spot politeness) Kesantunan setelah berkomunikasi (post-event politeness)

TIGA DIMENSI LOGIKA KESANTUNAN BERBAHASA (2005) Kepuasan Ilahiah (Godlines Contentment) Kebebasan Individual (Individual Freedom) Ketentraman Sosial (Social Harmony)

Dari Gambar di atas… Proses Komunikasi mesti memuat: Niat Formulasi Ujaran Realisasi Ujaran Keberlanjutan Interaksi Komunikasi Catatan: Proses di atas terpancar dalam sebuah spektrum– niat menjadi intinya, dan ia berwarna lebih solid Batas-batas dari proses di atas adalah garis-garis putus; bergantung pada context of situations (Cf. Hymes’ SPEAKING)

TERIMA KASIH