Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Budaya Sekolah dan Pencegahan Tindak Kekerasan

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Budaya Sekolah dan Pencegahan Tindak Kekerasan"— Transcript presentasi:

1 Budaya Sekolah dan Pencegahan Tindak Kekerasan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pembinaan SMP 2015

2 TUJUAN Setelah mengikuti sesi ini, peserta diharapkan dapat:
Mendiskripsikan definisi budaya sekolah. Merumuskan elemen budaya sekolah. Merancang program untuk membangun budaya sekolah. Merumus penyebab dan dampak tindak kekerasan yang mungkin terjadi di sekolah. Memberikan contoh bentuk-bentuk tindak kekerasan yang mungkin terjadi di sekolah. Menyusun langkah-langkah yang harus ditempuh sekolah untuk mencegah dan mengatasi tindak kekerasan di sekolah.

3 BUDAYA SEKOLAH DAN PENCEGAHAN TINDAK KEKERASAN
PETA MATERI BUDAYA SEKOLAH DAN PENCEGAHAN TINDAK KEKERASAN PENGERTIAN BUDAYA PENGERTIAN BULLYING PRINSIP BUDAYA PENCEGAHAN BULLYING MODEL BUDAYA LINGKUP BUDAYA SEKOLAH PENGEMBANGAN KULTUR SEKOLAH

4 AKTIVITAS PENDAMPINGAN
Untuk mencapai tujuan-tujuan sesi ini, Anda akan: Mencermati paparan dan aktif mencatat butir-butir. Mengajukan pertanyaan untuk memperoleh kejelasan/informasi lebih lanjut. Berbagi pengalaman tentang best practic pengembangan budaya positif dan pencegahan serta pengatasan tindak kekerasan di sekolah. 1. Mencermati paparan dan aktif mencatat butir-butir penting mengenai pengertian dan arti penting budaya sekolah, membangun budaya positif sekolah, dan men-cegah serta mengatasi tindakan kekerasan di sekolah. 2. Mengajukan pertanyaan untuk memperoleh kejelasan/ informasi lebih lanjut, mengklarifikasi pemahaman, dan mengajukan pendapat terkait dengan pengertian dan arti penting budaya sekolah, membangun budaya positif sekolah, dan mencegah serta mengatasi tindakan kekerasan di sekolah.

5 Pengertian: Budaya merupakan seperangkat sikap, nilai, keyakinan, dan perilaku yang dimiliki oleh sekelompok orang, memiliki derajat perbedaan pada setiap individu dan dikomunikasikan dari satu generasi ke generasi berikutnya (Matsumoto: 96) Pola nilai-nilai, prinsi-prinsip, tradisi-tradisi dan kebiasaankebiasaan yang terbentuk dalam perjalanan panjang sekolah, dikembangkan sekolah dalam jangka waktu yang lama dan menjadi pegangan serta diyakini oleh seluruh warga sekolah sehingga mendorong munculnya sikap dan perilaku warga sekolah.

6 Pengertian Budaya Sekolah (School culture) adalah bentuk perilaku, norma norma dan simbol yang dikembangkan sepanjang waktu berdasarkan sikap, nilai, kepercayaan, harapan, hubungan, dan tradisi sekolah Iklim sekolah (School Climate): mengacu kepada suasana lingkungan internal sekolah, baik dari segi fisik maupun sosial.

7 BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH
PENGERTIAN BUDAYA IKLIM INDAH AMAN NYAMAN TENTRAM BERSIH NILAI NORMA PERILAKU BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH

8 PRINSIP BUDAYA SEKOLAH
Budaya merupakan norma, nilai, keyakinan, tradisi, gagasan, tindakan, dan karya sebagai hasil belajar Perubahan budaya mencakup proses pengembangan norma, nilai, keyakinan, dan tradisi sekolah Untuk dapat mengubah budaya sekolah memerlukan pemimpin inspiratif dan inovatif dalam mengembangkan perubahan perilaku melalui proses belajar PRINSIP BUDAYA SEKOLAH Mengembangkan budaya sekolah memerlukan ketekunan, keharmonisan, dan perjuangan Efektivitas perubahan budaya sekolah dapat terwujud dengan mengembangkan sekolah sebagai organisasi pembelajar

9 Arti Penting Budaya dan iklim sekolah mempengaruhi prestasi belajar siswa dan mutu sekolah. Budaya sekolah yang positif dan iklim sekolah yang kondusif menjadi wahana bagi terwujudnya prestasi belajar yang optimum dan mutu sekolah yang tinggi. Budaya sekolah yang negatif akan menjadikan kultur dan iklim sekolah tidak nyaman, suasana belajar tidak akan berlangsung secara efektif, dan apa yang dipelajari mungkin menurun dan lingkungan tidak memenuhi norma.

10 Arti Penting: Acuan warga sekolah dalam berperilaku baik untuk konteks akademik, administratif dan sosial. Alat untuk membangun identitas (jati diri) sekolah. Wahana peningkatan mutu layanan pendidikan dan prestasi peserta didik baik dalam bidang akademik maupun non akademik.

11 Budaya Positif Sekolah
Religius Akademis Demokratis Disiplin Jujur Bersih Sehat Kerja keras Kolaboratif Toleran Menghargai inovasi Transparan Bertanggungjawab Berbagi Cinta lingkungan Cinta tanah air dan semangat kebangsaan

12 Budaya Negatif Sekolah
Menyontek Kurang santun Berbohong Duplikasi Kekerasan dalam sekolah Puas dengan yang dicapai Bergerak lambat Menunggu yang lain Interaksi antar warga kurang baik Komitmen kurang

13 Apa tanda-tandanya Budaya positif sekolah ?
Teramatinya perilaku dan kebiasaan positif di kalangan warga sekolah Warga sekolah merasa bangga dan ikut menjaga semua fasilitas sekolah. Warga sekolah menghargai dan merasa bangga dengan simbol-simbol sekolah dan lebih lanjut bangga dengan simbol dan budaya sendiri.

14 Apa tanda-tandanya? Iklim sekolah yang kondusif ditandai dengan terwujudnya lingkungan sekolah yang bersih, aman, tertib, dan nyaman sehingga proses pendidikan dapat berlangsung dengan baik.

15 Jika Budaya Positif dan Iklim Kondusif:
 Kepuasan kerja meningkat Pergaulan lebih akrab Disiplin meningkat Pengawasan fungsional berkurang Keinginan selalu berbuat positif tumbuh

16 Jika Budaya Positif dan Iklim Kondusif:
Efektivitas belajar dan berprestasi berkembang. Keinginan warga sekolah memberikan yang terbaik bagi sekolah, keluarga, orang lain dan diri sendiri meningkat. Kepercayaan diri meningkat, baik sebagai individu, sebagai warga sekolah maupun sebagai orang Indonesia.

17 Bagaimana Mengembangkan?
Tetapkan nilai-nilai dan keyakinan bersama yang positif sebagai standar perilaku. Sosialisasikan standar perilaku (nilai-nilai dan keyakinan bersama yang positif). Lalakukan habituasi (pembiasaan).

18 Bagaimana Caranya? Ubahlah kebiasaan menjadi sistem.
Libatkan dan ajaklah semua pihak atau pemangku kepentingan untuk bersama-sama memberikan komitmen secara terus-menerus. Tanamkan rasa tidak cepat puas dengan capaian hasil yang bersifat sementara.

19 Strategi Pengembangan Budaya
Pendekatan struktural Peraturan Klasikal Pendekatan kultural Interaksi Mengakomodasi semua warga Lambat tapi terus menerus

20 MEMBANGUN SEKOLAH KONDUSIF
Model Sekolah Aman dan Kondusif Tempat Siswa Belajar Keharmonisan Hubungan Keamanan Lingkungan Lingkungan Agamis Keamanan Secara Psikologis Komunikasi Lingkungan Fisik Nyaman Kolaborasi Keamanan Fisik Lingkungan Akademis Kondusif Partisipasi Ramah Sosial Berdisiplin Keamanan Budaya Kompetitif

21 TINDAK KEKERASAN Tindak kekerasan (bullying) merupakan salah satu faktor yang mengancam tumbuhnya budaya positif sekolah dan iklim sekolah yang kondusif.

22 TINDAK KEKERASAN Tindak kekerasan (bullying) merupakan salah satu faktor yang mengancam tumbuhnya budaya positif sekolah dan iklim sekolah yang kondusif.

23 Pengertian: Tindak kekerasan (Bullying): didefinisikan sebagai perilaku verbal atau fisik yang sengaja dilakukan secara terencana oleh seseorang atau kelompok orang yang merasa lebih “berkuasa” terhadap seseorang ataupun sekelompok orang yang “merasa” tidak berdaya melawan perlakuan tersebut

24 Bentuk-bentuk: Memanggil nama dengan nama jelek
Bullying secara verbal biasanya dilakukan dengan: Memanggil nama dengan nama jelek Mengolok-olok ras / etnis / agama Mengolok-olok bentuk fisik Mengejek kemampuan Mengumpat Membentak dan perilaku verbal lainnya yang disengaja untuk mengganggu

25 Bentuk-bentuk: Menendang Mendorong (kasar) Menghukum push up/berlari,
Bullying secara fisik biasanya dilakukan dengan: Menendang Mendorong (kasar) Menghukum push up/berlari, Memukul Menjegal/menginjak kaki, Menjambak Menampar Melempar dengan barang Meludahi, Memalak dan lain-lain

26 Kapan dan dimana terjadi:
Bullying di sekolah bisa terjadi: Di kelas saat proses pembelajaran, atau saat jam pelajaran kosong, atau saat pergantian antar jam pembelajaran Di luar kelas saat istirahat, saat datang sebelum masuk, atau saat menjelang pulang. Di jalan menuju atau dari sekolah

27 Dengan cara apa dilakukan:
Bullying dapat dilakukan: Secara langsung (face to face) baik individual ataupun secara kelompok. Melalui media (media sosial seperti facebook, whatpp, sms, , dll)

28 Siapa pelakunya teman sekolah orang tak dikenal tenaga kependidikan di sekolah guru orang tua Saudara, dll.

29 Karakteristik Individu yang Potensial menjadi Korban Bullying:
sulit bergaul/canggung kurang percaya diri siswa pandai /kurang pandai cantik/ganteng atau sebaliknya siswa yang dianggap “pelit” tidak mau memberikan contekan siswa yang berpenampilan lain (kuper) mempunyai logat bicara tertentu, gagap siswa dengan ekonomi yang baik/tidak baik

30 Jika dikaitkan dengan perlakuan orang tua
Anak-anak korban bullying adalah anak-anak dari orang tua yang cenderung terlalu melindungi (over protective) dan selalu mengkhawatirkan atau terlalu mencemaskan anak (Santrock, 2004 : 354)

31 Jika dikaitkan dengan perlakuan orang tua:
Anak-anak pelaku bullying adalah anak-anak dari orang tua yang cenderung otoriter, berperilaku kasar, menolak kehadiran anak, atau terlalu permisif terhadap perilaku agresi anak (Santrock, 2004 : 354)

32 Jika dikaitkan dengan perlakuan orang tua:
Anak-anak pelaku bullying (sangat agresif) cenderung akan menjadi pelaku kenakalan remaja, dan pelaku tindakan kekerasan serta terjebak dalam tindakan kriminal.

33 Dampak Perilaku Bullying
Dampak Fisik Sakit kepala, sakit dada, luka memar, luka tergores benda tajam, dan sakit fisik lain. Pada beberapa kasus dampak fisik akibat bullying mengakibatkan kematian.

34 Dampak Perilaku Bullying
Dampak Psikologis Kesejahteraan psikologis menurun Adaptasi sosial menjadi semakin buruk Mengalami emosi negatif seperti marah, dendam, kesal, tertekan, takut, malu, sedih, tidak nyaman, terancam, cemas) namun merasa tidak berdaya menghadapinya.

35 Dampak Perilaku Bullying
Dampak Psikologis (lanjutan.....) Tidak kerasan di sekolah (ingin pindah atau keluar dari sekolah, sering tidak masuk sekolah) Perasaan rendah diri bertambah Prestasi akademik terganggu

36 Usaha Sekolah Intervensi:
Pendekatan direct vs indirect, “pendekatan tanpa menyalahkan (no blame approach)”. Contoh pada kasus seorang peserta didik sering berkata/bertutur tidak santun tidaklah baik jika guru langsung menyalahkan peserta didik, tetapi semua warga belajar harus instropeksi. Harus sistemik: Pihak Siswa  pelaku, korban, pembantu pelaku, pembela korban & siswa bystander; Pihak sekolah  pihak orang tua maupun masyarakat sekitar.

37 Usaha Sekolah Foot in the door strategy: Prosedur untuk menciptakan kepatuhan dimana peminta memulai dari sebuah permintaan kecil, apabila permintan itu dipenuhi kemudian meminta lain yang lebih besar dan seterusnya hingga tujuan tercapai. Pendekatan ini memerlukan intervensi Kepala Sekolah. Kepala Sekolah adalah kunci utama dari intervensi.

38 Usaha Sekolah lanjutan ...
Buat “diagnosa” masalah bullying secara obyektif (penelitian & di cross check dengan data sekolah, guru BP): Clique Bullying atau Group Bullying. Intervensi dirancang bersama pihak sekolah, sebaiknya menggunakan no blame approach dan bersifat jangka panjang.

39 Mencegah dan mengatasi tindak kekerasan (Bullying)
Kembangkan suasana sekolah yang humanis Kembangkan budaya peer yang positif Kembangkan dan tegakkan aturan sekolah Kembangkan hubungan positif antar warga sekolah (kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, siswa), dan juga dengan masyarakat sekitar.

40 Mencegah dan mengatasi tindak kekerasan (Bullying)
Orang dewasa (guru, orang tua, dan masyarakat dewasa) perlu memberi tauladan dengan tidak menampakkan perilaku kekerasan (modelling) Sertakan program anti bullying di sekolah, lembaga peribadatan, dan kegiatan kemasyarakatan dimanaremaja terlibat.

41 Mencegah dan mengatasi tindak kekerasan (Bullying)
Guru dan orang tua perlu waspada jika: pakaian seragam sekolah robek atau rusak; pulang sekolah kelaparan meskipun telah dibawakan bekal makanan atau uang (mungkin bekal dan uang jajan dirampas); bersedih, menangis, marah-marah/uring-uringan; prestasi belajar menurun dan sulit berkonsentrasi

42 Mencegah dan mengatasi tindak kekerasan (Bullying)
Guru dan orang tua perlu waspada jika: (lanjutan....) anak menjadi pendiam, mengurung diri, penakut, dan cemas; sering membawa barang-barang tertentu (sesuai permintaan perilaku bullying); anak menjadi kasar dan dendam, dan melakukan perilaku bullying pada orang lain.

43 Terima kasih


Download ppt "Budaya Sekolah dan Pencegahan Tindak Kekerasan"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google