Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

شُرُوْطُ الاِنْتِفَاعِ بِالْقُرْآنِ Syarat-syarat Memanfaatkan Al- Qur’an.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "شُرُوْطُ الاِنْتِفَاعِ بِالْقُرْآنِ Syarat-syarat Memanfaatkan Al- Qur’an."— Transcript presentasi:

1 شُرُوْطُ الاِنْتِفَاعِ بِالْقُرْآنِ Syarat-syarat Memanfaatkan Al- Qur’an

2 Sasaran Materi Memahami urgensi intifa' dengan Al-Qur'an Memahami syarat intifa terhadap Al-Qur'an Dapat melaksanakan syarat-syarat tersebut dengan sebaik-baiknya ketika berinteraksi dengan Al-Qur'an

3 Kisi-kisi Materi (1) Bersikap sopan terhadapnya –Berniat baik –Bersuci hati dan jasad –Menyibukkan jiwa dengannya –Mengkhususkan berpikir dengannya Membaguskan dalam menerima (talaqqi) –Dengan hati yang khusu' –Dengan mengagungkan –Dengan kesiapan melaksanakan Berorientasi dengan tujuan asasi Al-Qur'an –Petunjuk dari Allah –Pembentuk kepribadian Islam –Pemimpin manusia –Pembentuk masyarakat Islam

4 Kisi-kisi Materi (2) Mengikuti cara-cara para sahabat dalam berinteraksi dengan Al-Qur'an –Memandang secara keseluruhan –Masuknya Al-Qur'an tanpa pertimbangan masa lalu –Mempercayai secara mutlak –Merasakan bahwa ayat-ayat dalam Al-Qur'an diarahkan pada dirinya Tidak adanya hambatan

5 (F 5) شُرُوْطُ الاِنْتِفَاعِ بِالْقُرْآنِ اَلتَّأَدُّبُ مَعَهُ حُسْنُ التَّلَقِّيْ اَلاِلْتِفَاتُ إِلَى اْلأَهْدَافِ اَلأَسَاسِيَّةِ إِتِّبَاعُ كَيْفِيَّةِ تَعَامُلِ الصَّحَابَةِ اِنْتِفَاءُ الْمَوَانِعِ شُرُوْطُ الاِنْتِفَاعِ بِالْقُرْآنِ حُسْنُ النِّيَّةِ طَهَارَةُ الْقَلْبِ وَالْجَسَدِ تَفْرِيْغُ النَّفْسِ عَنْ شَوَاغِلِهَا حَصْرُ الْفِكْرِ مَعَ الْقُرْآنِ بِالْقَلْبِ الْخَاشِعِ بِالتَّعْظِيْمِ لِلتَّنْفِيْذِ اَلْهِدَايَةُ إِلَى اللهِ تَكْوِيْنُ الشَّخْصِيَّةِ اَلْمُسْلِمَةِ قِيَادَةٌ بَشَرِيَّةٌ تَكْوِيْنُ الْمُجْتَمَعِ اَلإِسْلاَمِيِّ اَلنَّظْرَةُ اَلْكُلِّيَّةُ دُخُوْلُ الْقُرْآنِ دُوْنَ مُقُرَّرَاتٍ سَابِقَةٍ اَلثِّقَةُ اَلْمُطْلَقَةُ اَلشُّعُوْرُ بِأَنَّ اْلآيَةَ مُوَجَّهَةٌ إِلَيْهِ

6 Urgensi Memanfaatkan Al-Qur’an Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW bukan sekedar untuk menjadi hiasan rumah Meskipun membacanya adalah ibadah, akan tetapi seperti halnya resep dari dokter, kalau sekedar dibaca tidak akan berpengaruh apapun Oleh karena itu kita harus berinteraksi secara baik dengan Al-Qur’an agar kita mendapatkan manfaat yang besar darinya seperti yang pernah dialami genarasi pertama dahulu

7 Harus Memenuhi Syarat Agar kita dapat memanfaatkan Al-Qur’an kata kuncinya adalah adanya mu’ayasyah (interaksi) yang baik dengan Al-Qur’an Mu’ayasyah yang baik itu mesti memenuhi syarat-syaratnya Paling tidak, ada 5 syarat terpenting

8 BERSIKAP SOPAN TERHADAPNYA ( اَلتَّأَدُّبُ مَعَهُ ) Syarat 1

9 Beradab dengan Al-Qur’an Pertama, tentu kita harus memiliki adab yang baik dengan Al-Qur’an Ingat bahwa Al-Qur’an adalah KALAMULLAH (firman Allah), bukan ucapan yang sembarangan Membaca Al-Qur’an hakikatnya adalah berbicara dengan Allah

10 Niat yang Baik ( حُسْنُ النِّيَّةِ ) Ini menjadi syarat diterimanya semua ibadah: ikhlas Mulailah membaca dan mempelajari Al-Qur’an dengan niat karena Allah semata –Mencari pahala dari Allah, bukan pujian manusia  ingat, 1 huruf = 10 kebaikan –Berniat untuk taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah) –Mengharapkan syafa’at dari Al-Qur’an seperti yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW

11 Syafa’at Al-Qur’an اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ “Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat memberi syafa’at kepada para pembacanya.” (HR. Muslim)

12 Suci Hati dan Jasad ( طَهَارَةُ الْقَلْبِ وَالْجَسَدِ ) Agar hati kita bersih dari segala godaan syaitan, maka bacalah ta’awudz sebelum membaca Al- Qur’an (16:98) Badan, pakaian, dan tempat membaca kita pun mesti bersih dari najis Kondisi kita pun sebaiknya bersih dari hadats (kecil atau besar)  berwudhu (56:79, 2:222) –Muthahharun dalam 56:79 memang bisa berarti malaikat atau orang yang suci dari janabah dan hadats

13 Mengkonsentrasikan Diri Sibuk dengannya ( تَفْرِيْغُ النَّفْسِ عَنْ شَوَاغِلِهَا ) Tidak melakukan kesibukan lain selain menyibukkan diri dengan Al-Qur’an ketika membacanya –Tangan tidak melakukan gerakan-gerakan, misalnya sambil memainkan benda-benda Hati manusia hanya mampu mengontrol satu saja, tidak bisa dua (33:4) –Menyibukkan dengan aktivitas lain akan mengganggu konsentrasi kita

14 Mengkonsentrasikan Pikiran dengan Al-Qur’an ( حَصْرُ الْفِكْرِ مَعَ الْقُرْآنِ ) Selesaikan aktivitas lain sebelum membaca Al- Qur’an agar saat membacanya pikiran kita sudah bersih Jangan disibukkan dengan selalu melihat jam, seakan tidak betah berlama-lama dengan Al- Qur’an Orang-orang kafir selalu akan mengganggu kita dari membaca Al-Qur’an dengan cara membuat berbagai “hiruk-pikuk” (hura-hura) 41:26

15 MEMBAGUSKAN DALAM MENERIMANYA ( حُسْنُ التَّلَقِّيْ ) Syarat 2

16 Dengan Hati yang Khusyu’ ( بِالْقَلْبِ الْخَاشِعِ ) Proses turunnya Al-Qur’an (26: ) QALBI Muhammad Al-Amin Ar-Ruhul Amin ALLAH Robbul ‘Alamin

17 Saat Al-Qur’an Ditanam dalam Hati Al-Qur’an oleh Malaikat Jibril langsung ditanam di dalam hati Rasulullah SAW Rasulullah merasakan BERAT SEKALI ketika menerima wahyu, terutama kalau dalam bentuk seperti gemerincing lonceng Diriwayatkan bahwa –ketika menerima wahyu di atas onta, maka onta pun segera terduduk –Ketika musim dingin, beliau bercucuran keringat

18 Hati Manusia Lebih Kuat Hati manusia diciptakan oleh Allah sangat kuat, lebih kuat dari gunung 59:21 seandainya Al-Qur’an diturunkan kepada gunung, maka gunung akan –Tunduk dan pecah karena takutnya kepada Allah Maka dalam menerima dan mempelajari Al- Qur’an dengan hati kita, bukan dengan mendahulukan akal kita

19 Hati kemudian Akal Jika akal didahulukan, maka dalam sejarah berakibat munculnya paham-paham yang menyimpang: mu’tazilah (rasionalis), qadariyah (tidak percaya takdir), dan jabbariyah Di Indonesia ada kelompok Isa Bugis yang tidak mempercayai mu’jizat, sehingga ditafsirkan sesuai dengan akal mereka –Banjir Nabi Nuh dikatakan banjir maksiat, bukan banjir yang sebenarnya –“idzaa zulzilatil ardhu zilzaalaha”: petani yang sedang membajak sawah sehingga tanahnya bergulung-gulung Pemaksaan tafsir Al-Qur’an dengan tafsir hermeneutika juga karena bukan hati yang berbicara, tapi hanya rasio

20 Tuduhan terhadap Al-Qur’an Sudah sejak pertama diturunkan Al-Qur’an telah mendapatkan tuduhan macam-macam 8:31 Al-Qur’an = dongeng masa lalu  tokohnya adalah An-Nadhar bin Al-Harits Al-Walid bin Al-Mughirah meskipun hatinya menolak bahwa Al-Qur’an itu sebagai mantra dukun, perkataan orang sinting, ungkapan penyair, dan sihir, tapi akhirnya akalnya mengalahkannya, sehingga dia menganjurkan agar disebut saja sihir (43:30)

21 Tuduhan di Masa Sekarang Beberapa ayatnya sudah tidak relevan lagi Al-Qur’an itu maskulin, khusus laki-laki dan menyia-nyiakan perempuan Al-Qur’an itu produk budaya, bikinan Utsman, teks Al-Qur’an itu bukan asli dari Allah Yang paling mengherankan adalah tuduhan- tuduhan di atas muncul dari orang Islam sendiri, bahkan dari orang yang mengaku cendekiawan muslim

22 Minta Perlindungan Hati yang tidak khusyu’ akan sulit memahami dan menerima Al-Qur’an Rasul SAW sendiri di antara doanya adalah اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan (HR Muslim)

23 Dengan Mengagungkan ( بِالتَّعْظِيْمِ ) Menempatkan Al-Qur’an DI DEPAN kita (sebagai imam), sedangkan kita di belakang Al-Qur’an (sebagai makmum) Ini menjadi salah satu pertanyaan kubur: “Siapa imammu?” (Al-Qur’an) 49:1 tidak mendahului Allah dan RasulNya Muadz bin Jabal ketika ditanya Rasul SAW dengan apa kamu menghukumi rakyat –Pertama, dengan Kitab Allah –Kedua, dengan Sunnah Rasulullah –Ketiga, baru berijtihad

24 Mengagungkan Al-Qur’an secara Fisik Perhatikanlah ketika seseorang menerima surat keputusan (SK) dari pejabat di atasnya, bagaimana dia menerimanya? Bagaimana seorang mahasiswa ketika menerima ijazah ketika wisuda? Bagaimana seseorang menerima surat perintah raja? Secara fisik, mereka sangat hormat dalam menerimanya Al-Qur’an lebih mulia dari semua itu, maka sudah sewajarnya mendapatkan penghormatan secara fisik juga –Tidak meletakkan Al-Qur’an di tempat yang rendah

25 Untuk Dilaksanakan ( لِلتَّنْفِيْذِ ) Ini adalah ungkapan yang dipopulerkan oleh Sayyid Quthb: لِلتَّنْفِيْذِ التَّلَقِّيْ (menerima untuk dilaksanakan) Seperti surat perintah harian komandan Jadi bukan sekedar untuk dibaca dan dipahami saja, tapi yang utama justru adalah untuk dilaksanakan (tentu setelah dibaca dan dipahami dengan baik)

26 Sami’na wa Atha’na “Mendengar dan taat” itulah ungkapan para sahabat ketika menerima arahan dari Al-Qur’an, meskipun berat Kisah turunnya 2:284 yang membuat BERAT hati para sahabat karena keimanan mereka yang tinggi –Mereka datang kepada Rasul mengadukan hal ini –Rasul menyuruh mereka agar mengatakan سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (akhir ayat 285) –Allah memuliakan mereka dengan menurunkan dua ayat terakhir surat Al-Baqarah (2: )

27 BERORIENTASI DENGAN TUJUAN ASASI AL-QUR'AN ( اَلاِلْتِفَاتُ إِلَى اْلأَهْدَافِ اَلأَسَاسِيَّةِ ) Syarat 3

28 Metode Al-Qur’an Dalam menceritakan suatu peristiwa, sering Al-Qur’an tidak menyebutkannya secara detail, karena yang dipentingkan adalah PELAJARAN yang bisa diambil, bukan detail-detail kisahnya Ashhabul kahfi –Di mana guanya? –Siapa nama-nama pemuda itu? Tongkat Nabi Musa AS –Kayunya dari kayu apa? –Berapa panjangnya? Beratnya?

29 Tujuan Dibuatnya Perumpamaan Agar mendapat pelajaran وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Qur'an ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran. (39:27)

30 Contoh Perumpamaan: Pemilik Dua Kebun Anggur Ia memiliki dua kebun anggur Pohon kurma Ladang

31 Kekayaan yang Berlimpah Dari hasil kebun dan ladang –Kedua kebun menghasilkan buah –Buahnya tidak kurang sedikit pun Memiliki harta berlimpah berupa emas dan perak Dia adalah orang kaya raya yang diceritakan dalam al- Qur’an selain Qarun –Qarun sendiri kekayaannya digambarkan dengan ungkapan: وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ –dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat (28:76)

32 Sifat Pemilik Sombong dengan orang yang tidak punya –Hartanya lebih banyak –Pengikutnya juga lebih hebat Zhalim terhadap dirinya sendiri Meyakini kekekalan hartanya Meragukan akhirat Meyakini bahwa kekayaan di dunia pertanda baik kehidupan akhiratnya

33 Tanggapan Lelaki Faqir Mu’min Menegurnya dengan mengingatkan hakikat manusia sebagai makhluk Allah Memperlihatkan keimanan dirinya kepada Allah Mengajarkan adab masuk kebun dan melihat karunia Allah yang begitu banyak: مَا شَاءَ اللَّهُ لا قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ Mengharapkan kepada Allah akan karunia harta dan keturunan di akhirat Mengancam akan tibanya adzab Allah berupa petir, atau surutnya air sampai habis

34 Akhir Kisah Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: "Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Tuhanku".

35 Hakikat Penolong Dan tidak ada bagi dia segolongan pun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali- kali ia tidak dapat membela dirinya. Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan.

36 Pelajaran 1 Kelebihan yang dimiliki seseorang (harta, ilmu, dll) biasanya menjadi penyebab sikap sombong –Kalau ini yang berlaku, berarti ia terfitnah dan tertipu قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي (28:78) Qarun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ (39:49) "Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku". Ini berbeda dengan sikap Nabi Sulaiman: قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ( 27:40)

37 Pelajaran 2 Syukur yang paling rendah adalah pengakuan bahwa semua yang dimiliki itu pemberian dari Allah Ungkapannya seperti ungkapan Nabi Sulaiman atau yang diajarkan oleh mu’min faqir: مَا شَاءَ اللَّهُ لا قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ Syukur tertinggi: beramal karena sebagai rasa syukur dirinya atas segala pemberian Allah

38 Pelajaran 3 Memandang sesuatu harus dari awal hingga ujungnya, jangan berhenti di tengah –Kalau berhenti di tengah, maka pemilik dua kebun mewah itu bernasib baik Kaya raya Banyak keturunan Banyak teman –Kalau sampai ujungnya, maka akhirnya adalah kesengsaraan dan penyesalan Al-Qur’an selalu mengatakan: وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa (7:128, 11:49, 28:83)

39 Pelajaran 4 Kisah ini khas untuk dakwah pada fase permulaan: kafir kaya vs mu’min miskin –Ini memang surat Makkiyah di mana kondisi kaum Muslimin serba sulit –Orang kaya pada fase ini banyak yang enggan bergabung dalam dakwah karena lebih cinta dunia –Orang miskin banyak yang bergabung karena merasa mendapatkan pembelaan Di fase dakwah menang, ayat-ayat yang turut berkaitan dengan bagaimana membagi harta –Harta rampasan perang –Harta warisan –Zakat Di fase ini biasanya banyak orang kaya yang terpaksa bergabung dalam barisan dakwah  muncullah orang-orang munafik

40 Tujuan Kisah-kisah وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (11:120)

41 Tujuan Asasi 1: Hidayah Menuju Allah ( اَلْهِدَايَةُ إِلَى اللهِ ) Jelas dari permulaan dalam mushhaf –1:6 اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ –2:2 هُدًى لِلْمُتَّقِينَ –2:185 هُدًى لِلنَّاسِ 2:38 Ketika Adam AS dikeluarkan dari sorga maka Allah akan memberikan petunjuk

42 Sebelumnya Bingung Sebelum diangkat menjadi Rasul, beliau SAW –Bingung (93:7) وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى –Tidak mengetahui apa itu Kitab (42:52) Setelah mendapatkan Al-Qur’an maka beliau dinyatakan sebagai PETUNJUK (42:52 ) وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

43 Kegelapan di Atas Kegelapan Bagaimana dengan orang kafir? 24:40 –Mereka seperti berada dalam gelap gulita samudra yang dalam –yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan –gelap gulita yang tindih-bertindih, –apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya Bagaimana mereka dapat memberi petunjuk sedangkan dirinya sendiri pun tidak tahu?

44 Tujuan Asasi 2: Membentuk Pribadi Muslim ( تَكْوِيْنُ الشَّخْصِيَّةِ اَلْمُسْلِمَةِ ) Dari urutan turunnya surat Al-Qur’an jelas sekali tentang arahan pembentukan pribadi muslim 1.96:1 – 5 perintah setiap orang untuk membaca 2.Surat 68 (Al-Qalam): pentingnya menulis 3.Surat Al-Muzammil: bekal QL dan tilawah Al- Qur’an Muncullah pribadi-pribadi Qur’ani yang unik dari berbagai latar belakang mereka

45 Bukan Hit-and-Run Jadi bukan sekedar menyampaikan lalu ditinggal atau “hit-and-run” Pribadi yang sudah direkrut dibina dalam rumah Arqam bin Abil Arqam Ada LIQA’ rutin yang mereka lakukan Dari sanalah muncul pribadi-pribadi yang memiliki keistimewaan

46 Tujuan Asasi 3: Pemimpin Manusia ( قِيَادَةٌ بَشَرِيَّةٌ ) 2:30 Tugas manusia adalah menjadi KHILAFAH DI DUNIA 2:142 وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ –Nabi Nuh AS di hari kiamat dipanggil oleh Allah dan ditanya apakah sudah menyampaikan risalah kepada umatnya? Beliau mengiyakan, tapi dibantah oleh umatnya. Ketika ditanya saksinya, beliau menjawab Muhammad dan umatnya. Begitu pula nabi yang lain

47 Janji Kepemimpinan 24:55 Janji Allah: Iman dan Amal Shalih Khilafah Tamkin Aman Beribadah tanpa Syirik

48 Minta Kekuasaan أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صلى الله عليه وسلم سَأَلَ رَبَّهُ جَلَّ ثَنَاؤُهُ أَنْ يَجْعَلَ لَهُ مُلْكَ فاَرِسَ والروم فِي أُمَّتِهِ Rasulullah SAW meminta kepada Allah SWT agar menjadikan Kerajaan Romawi dan Persia untuk ummatnya Allah menjawabnya dengan menurunkan ayat قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ( 3:26)

49 Tujuan Asasi 4: Membentuk Masyarakat Islam ( تَكْوِيْنُ الْمُجْتَمَعِ اَلإِسْلاَمِيِّ ) Dari SEORANG DIRI Bertambah SATU WANITA beriman (Khadijah Al-Kubro) Bertambah SATU LAKI-LAKI beriman (Abu Bakar Ash-Shiddiq) Dst hingga di Haji Wada’ berjumlah orang (atau sahabat)

50 Lahirlah MUTIARA-MUTIARA

51 Rasul SAW Muadz: أعلمهم بالحلال والحرام Zaid bin Tsabit: أفرضهم Ubay bin Ka’ab: أقرؤهم Abu Ubaidah: أَمِينُ هَذِهِ الْأُمَّةِ Khalid: سيف الله المسلول Ibnu Abbas: حبر الأمة Thalhah: الشهيد الحي و طلحة الخير Hudzaifah: كاتم السر Zubair: حواري رسول الله Mush’ab: رسول رسول الله Abu Qatadah: خير فرساننا Salamah bin Al- Akwa’: خير رَجَّالَتِنَا Zaid bin Haritsah: حب رسول الله Rasul SAW Abu Bakar: أرحم أمتي بِأُمَّتِي Umar: أشدهم في أمر الله Utsman: أشدهم حياءً Ali: أَقْضَاهُمْ

52 Gelar-gelar Sahabat (1) NoSahabatGelar 1Abu Bakar أَرْحَمُ أُمَّتِي بِأُمَّتِي paling penyayang 2Umar أَشَدُّهُمْ فِي أَمْرِ اللهِ paling tegas dlm urusan Allah 3Utsman أَشَدُّهُمْ حَيَاءً paling pemalu 4Ali أَقْضَاهُمْ Qadhi (hakim) 5Mu’adz أَعْلَمُهُمْ بِالْحَلاَلِ وَالْحَرَامِ yang paling tahu halal dan haram 6Zaid bin Tsabit أَفْرَضُهُمْ yang paling tahu ilmu waris 7Ubay bin Ka’ab أَقْرَؤُهُمْ yang paling baik bacaan Qur’annya 8Abu Ubaidah أَمِينُ هَذِهِ الْأُمَّةِ kepercayaan umat ini 9Khalid سَيْفُ اللهِ الْمَسْلُوْلِ pedang Allah yang terhunus

53 Gelar-gelar Sahabat (2) NoSahabatGelar 10Ibnu Abbas حَبْرُ الأُمَّةِ ulamanya ummat 11Thalhah اَلشَّهِيْدُ الْحَيُّ وَ طَلْحَةُ الْخَيْرُ syahid yang hidup dan Thalhah yang baik 12Hudzaifah كَاتِمُ السِّرِّ pemegang rahasia 13Zubair حَوَارِي رَسُوْلِ اللهِ penolong Rasulullah 14Mush’ab رَسُوْلُ رَسُوْلِ الله utusannya Rasulullah 15Abu Qatadah خَيْرُ فُرْسَانِنَا penunggang kuda terbaik 16Salamah b Al-Akwa’ خَيْرُ رَجَّالَتِنَا pasukan infantri (pejalan kaki) terbaik 17Zaid bin Haritsah حُبُّ رَسُوْلِ الله kecintaan Rasulullah

54 MENGIKUTI CARA-CARA INTERKASINYA PARA SAHABAT ( إِتِّبَاعُ كَيْفِيَّةِ تَعَامُلِ الصَّحَابَةِ ) Syarat 4

55 Mengalami Langsung Sahabat Nabi SAW adalah orang yang mengalami langsung segala peristiwa selama Al-Qur’an turun Mereka paling mengerti tentang Al-Qur’an dibandingkan orang-orang setelahnya Oleh karena itu, metode atau urutan dalam menafsirkan Al-Qur’an setelah –menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an dan –menafsirkan Al-Qur’an dengan As-Sunnah adalah menafsirkan Al-Qur’an dengan Atsar Shahabat

56 Memandang secara Komprehensif ( اَلنَّظْرَةُ اَلْكُلِّيَّةُ ) Para sahabat tidak memandang Al-Qur’an secara sepotong- sepotong karena akan menimbulkan pemahaman yang salah Ada seorang misionaris yang berkata kepada seorang anak Muslim yang ternyata hafal dan faham Al-Qur’an bahwa Al-Qur’an memuji agama Kristen sambil menyebutkan ayatnya (5:82) Dijawab: Anda keliru. Ayat itu tidak berlaku umum, tapi khusus para pendeta Habasyah dan raja Najasyi yang kemudian beriman kepada Al-Qur’an Sikap Rasul sendiri bahkan menantang MUBAHALAH dengan orang Kristen, tapi mereka tidak berani (3:61)

57 Bahaya Tidak Utuh Cak Nur: Islam mengajak adanya kesamaan dengan ahli kitab (3:64 kalimatun sawaa) –Ini pemahaman sepotong ayat –Kalau dipahami secara utuh malah sebaliknya, mengajak mereka kembali kepada tauhid yang telah disepakati sebelum mereka menyimpang Pemahaman jihad: jihad dalam Islam hanyalah untuk membela diri (defensif) –Jihad defensif hanyalah salah satu tahapan dari tahapan- tahapan jihad yang berakhir pada jihad ofensif (penaklukan)

58 Memasuki Qur’an tanpa Ada Pretensi Sebelumnya ( دُخُوْلُ الْقُرْآنِ دُوْنَ مُقُرَّرَاتٍ سَابِقَةٍ ) Bukan mencari legitimasi (pembenaran) dari Al- Qur’an terhadap apa yang kita maui Ini namanya mempermak kepala karena pecinya sempit, bukannya mencari peci yang sesuai (peci yang menyesuaikan, bukan kepalanya) Misalnya –Karena ingin ditaati rakyat, maka ketemulah ayat kewajiban taat (4:59) –Agar program KB ditaati umat Islam, dicari ayat pembenarnya (4:9)

59 Bahayanya Ini termasuk punya niat yang tidak baik sebelum memahami Al-Qur’an Al-Qur’an dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan hawa nafsunya Menolak ayat-ayat yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya (2:85) Menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah (2:41, 5:44) Membuat berbagai macam tuduhan keji terhadap Al-Qur’an

60 Menyesuaikan Diri Sikap para sahabat adalah menyesuaikan diri dengan apa yang mereka temui di dalam Al-Qur’an, meskipun bertentangan dengan hawa nafsunya Pada masa Umar sebagian kaum Muslimin yang suka minum khamr masih tetap meminumnya dengan alasan bahwa AL-Qur’an tidak tegas melarangnya (akhir 5:91) sehingga mereka memilih minum khamar Umar terkejut dan mengumpulkan para sahabat Mereka sepakat bahwa yang dimaksud justru: BERHENTILAH! Para peminum khamr akhirnya didera 80 kali

61 Kami Berhenti! Ketika ayat pengharaman khamr turun (5:90-91), maka para sahabat berkata, “Kami berhenti!” Mereka menumpahkan khamr yang ada di dalam rumah mereka Rasulullah SAW bersama sahabat pergi ke pasar dan merobek wadah khamr, kemudian dilanjutkan oleh para sahabat untuk merobek semua wadah khamr

62 Umar Mendapat Ilham Beberapa kali Umar memiliki pandangan yang sesuai dengan Al- Qur’an sebelum suatu ayat turun 1."Ya Allah, jelaskanlah kepada kami masalah khamr dengan keterangan yang memuaskan. " –Maka turun 2:219 –Umar masih berkata yang sama, lalu turun 4:43 –Umar masih berkata yang sama, maka turun 5: Sikap terhadap tawanan perang Badar (8:67) 3.Bagian terakhir 23:14 4.Ketika dialog dengan orang Yahudi, ternyata mereka membenci Malaikat Jibril dan menyukai Malaikat Mikail. Umar mencela mereka dan mau menceritakan masalah ini kepada Rasul SAW. Rasul SAW menceritakan turunnya 2:97. Ternyata apa yang mau disampaikan Umar seperti pada ayat tersebut

63 Percaya Mutlak ( اَلثِّقَةُ اَلْمُطْلَقَةُ ) Meskipun mereka tidak mengerti apa arti suatu kata –Umar membaca surat Abasa sehingga sampai ayat 31, lalu berkata, “Kami telah mengetahui apa yang dimaksud dengan fakihah, tetapi apakah yang dimaksud dengan al-abb?” Ia berkata kepada dirinya sendiri, lalu ia melanjutkan, “Demi usiamu, hai Ibnul Khattab, sesungguhnya ini benar-benar merupakan takalluf (memaksakan diri).”

64 ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ Tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya Ini kalimat berita, tetapi yang dimaksud adalah larangan, “Janganlah kalian meragukannya!” Barangsiapa masih ada sedikit keraguan, maka imannya diragukan

65 Cepat Percaya ( بَادِيَ الرَّأْيِ ) Orang yang cepat percaya biasanya dianggap bodoh atau tidak kritis Tapi cepat percaya kepada Al-Qur’an? Itu tuntutan! Para pembesar kaum Nabi Nuh AS menuduh bahwa para pengikut Nabi Nuh hanyalah orang-orang yang cepat percaya saja atau pikirannya dangkal ( بَادِيَ الرَّأْيِ ) 11:27 28:52-55 rombongan pendeta Habasyah yang menemui Rasul di Mekkah, saat mendengarkan Al-Qur’an mereka langsung percaya

66 Kafir Quraisy vs Habasyah Sikap kafir Quraisy ketika dibacakan Al-Qur’an: kenapa diturunkan kepada Muhammad, bukan kepada salah satu pembesar dari dua negeri, Mekkah (Al-Walid bin Al-Mughirah) dan Thaif (Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi) 43:31 Sikap para pembesar Habasyah: beriman dan bercucuran air mata (5:83), bahkan Raja Najasyi mengatakan bahwa Al-Qur’an dan Injil keluar dari sumber yang satu (Allah)

67 Respon Langsung ( الاِسْتِجَابَةُ الْمُبَاشَرَةُ ) Karena percayanya kita kepada Al-Qur’an sehingga sikap kita adalah merespon langsung perintah Al-Qur’an 40:60  berdoalah 84:8  jawab “rabbi haasibnii hisaaban yasiiraa” 87:1  jawab “subhaana rabbiyal a’laa” 95:8  jawab “balaa wa ana ‘alaa dzaalik minsy syaahidiin” Ayat-ayat sajdah, responnya sujud tilawah

68 Merasakan bahwa Dirinyalah yang Dituju ( اَلشُّعُوْرُ بِأَنَّ اْلآيَةَ مُوَجَّهَةٌ إِلَيْهِ ) Inilah luar biasanya para sahabat Tsabit bin Qais bin Syammas ketika turun 49:1 merasakan dirinyalah yang dimaksud ayat itu sehingga mengurung diri Saat turun 8:27 Abu Lubabah bin An- Nadzir mengikatkan diri ke tiang Masjid Nabawi karena telah berkhianat

69 TIDAK ADANYA HAMBATAN ( اِنْتِفَاءُ الْمَوَانِعِ ) Syarat 5

70 Singkirkan Penghalang Kita harus membersihkan diri kita dari segala penghalang antara diri kita dan Al-Qur’an 17:45-46 –Apabila dibacakan Al-Qur’an, maka orang yang tidak mengimani akhirat ada dinding penghalang –Dan Allah menutup hati dan telinganya –Sehingga mereka tidak memahaminya Rasulullah membaca ayat ini (17:45) ketika Ummu Jamil binti Harb mencarinya, tapi tidak bisa melihatnya meski di depannya

71 Kenapa Tidak Paham? Tidak beriman kepada Akhirat Pangkal masalah Hati tertutup Telinga tersumbat TIDAK PAHAM Ini semua mereka katakan sendiri juga (41:5) Ini semua mereka katakan sendiri juga (41:5) Padahal Allah telah menjelaskan ayat-ayatNya, bacaannya dalam bahasa Arab, ada berita gembira dan peringatan (41:3-4) Padahal Allah telah menjelaskan ayat-ayatNya, bacaannya dalam bahasa Arab, ada berita gembira dan peringatan (41:3-4)

72 Ingat Doa Ini… اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي وَزِدْنِي عِلْمًا الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ حَالِ أَهْلِ النَّارِ Ya Allah, berilah manfaat untukku terhadap apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, ajarilah aku apa yang bermanfaat bagiku, tambahkanlah aku ilmu, segala puji bagi Allah dalam segala kondisi, dan aku berlindung kepada Allah dari keadaan ahli neraka


Download ppt "شُرُوْطُ الاِنْتِفَاعِ بِالْقُرْآنِ Syarat-syarat Memanfaatkan Al- Qur’an."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google