Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PPh Triyanto Univ. Sebelas Maret – Surakarta. Dasar Hukum PPh 1.Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan (PPh); 2.Undang-Undang No. 7.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PPh Triyanto Univ. Sebelas Maret – Surakarta. Dasar Hukum PPh 1.Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan (PPh); 2.Undang-Undang No. 7."— Transcript presentasi:

1 PPh Triyanto Univ. Sebelas Maret – Surakarta

2 Dasar Hukum PPh 1.Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan (PPh); 2.Undang-Undang No. 7 Tahun 1991 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan; 3.Undang-Undang No. 10 Tahun 1994 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan Sebagaimana Telah Diubah Dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 1991;7 Tahun Tahun Undang-Undang No. 17 Tahun 2000 Tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan; 5.Undang-Undang No.36 Tahun 2008 Tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.

3 Pengertian Penghasilan Penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh WP, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan WP, dengan nama dan dalam bentuk apapun

4 Pengertian PPh Pajak penghasilan adalah pajak yang dibebankan pada penghasilan perorangan, perusahaan atau badan hukum lainnya. Pajak penghasilan bisa diberlakukan progresif (PPh), proporsional (% tunggal), atau degresif.progresifproporsionaldegresif

5 PPh Pribadi Progresif Lapisan Penghasilan (/thn)Prosentase Sampai dengan 25 juta5% 25 juta sampai dengan 50 juta10% 50 juta sampai dengan 100 juta15% 100 juta sampai dengan 200 juta25% > 200 juta keatas35%

6 PPh Badan Prograsif Lapisan PenghasilanProsentase Sampai dengan 50 juta10% 50 juta sampai dengan 100 juta15% > 100 juta keatas30%

7 Contoh PPh Progresif PKP 1 Badan Rp ,00 – Pjk_terutang = ,00 x 10% = ,00 PKP 1 Rp ,00 – Pjk_terutang = ,00 x 10% = , ,00 x 15% = ,00 = ,00 PKP 1 Badan Rp ,00 – Pjk_terutang = ,00 x 10% = , ,00 x 15% = , ,00 x 30% = , ,00

8 Asas PPh Asas Domisili – Negara mengenakan pajak atas suatu penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan yang berdomisili diwilayah Negara atau apabila badan yang bersangkutan berkedudukan di negara itu Asas Sumber – Negara yang menganut asas sumber akan mengenakan pajak atas suatu penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan hanya apabila penghasilan yang akan dikenakan pajak itu diperoleh atau diterima oleh orang pribadi atau badan yang bersangkutan dari sumber-sumber yang berada di negara itu Asas Nasionalitas – Landasan pengenaan pajak adalah status kewarganegaraan dari orang atau badan yang memperoleh penghasilan. Berdasarkan asas ini, tidaklah menjadi persoalan dari mana penghasilan yang akan dikenakan pajak berasal.

9 Subyek PPh orang pribadi; warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak; Badan; Bentuk Usaha Tetap (BUT).

10 Bukan termasuk Subyek PPh Badan perwakilan negara asing; Korps Diplomatik, Konsulat dan orang – orang yang bekerja serta bertempat tinggal bersama mereka dengan syarat bukan Warga Negara Indonesia dan tidak menerima / memperoleh penghasilan lain diluar jabatan atau pekerjaannya serta negara ybs memberikan prilaku timbal balik; Organisasi–organisasi internasional yang ditetapkan menteri keuangan; Pejabat–pejabat perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan Menteri Keuangan;

11 OBYEK PPh Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya kecuali ditentukan lain dalam undang- undang PPh. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan. Laba usaha.

12 OBYEK PPh Keuntungan karena penjualan atau pengalihan harta : – Keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan dan badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal; – Keuntungan yang diperoleh perseroan, persekutuan dan badan lainnya karena pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu atau anggota; – Keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan atau pengambilalihan usaha; – Keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan atau sumbangan, kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, dan badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil termasuk koperasi yg ditetapkan oleh menteri keuangan sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan;

13 OBYEK PPh Dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun termasuk dividen dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis dan pembagian sisa hasil usaha koperasi. Royalti. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala contoh leasing. Premi Asuransi; dll., lihat UU PPh!

14 Bukan termasuk obyek PPh Bantuan sumbangan, termasuk zakat Hibah Warisan Dll, lihat UU PPh

15 PPh PASAL 21 (PPh 21) Penghasilan yang Sifatnya Teratur: gaji, tunjangan, beasiswa, hadiah, dll. Upah: borongan, harian, mingguan, bulanan Honor, uang saku Konsultan Kepanitaan Dll, lihat Pasal 21 UU PPh.


Download ppt "PPh Triyanto Univ. Sebelas Maret – Surakarta. Dasar Hukum PPh 1.Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan (PPh); 2.Undang-Undang No. 7."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google