Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

1 Materi Kuliah – Kesra STIS – 2 SK INDIKATOR KESEHATAN DAN PERUMAHAN YANG ADA DI MDG’s.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "1 Materi Kuliah – Kesra STIS – 2 SK INDIKATOR KESEHATAN DAN PERUMAHAN YANG ADA DI MDG’s."— Transcript presentasi:

1 1 Materi Kuliah – Kesra STIS – 2 SK INDIKATOR KESEHATAN DAN PERUMAHAN YANG ADA DI MDG’s

2 2 Tujuan 4: menurunkan angka kematian balita, Target 5:menurunkan angka kematian balita sebesar dua pertiganya, antara tahun Tujuan 5: meningkatkan derajat kesehatan ibu Target 6:menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga perempatnya antara tahun Tujuan 6: memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya Target 7:mengendalikan penyebaran HIV/ AIDs dan mulai menurunnya jumlah kasus baru pada th Target 8:mengendalikan penyakit malaria dan mulai menurunnya jumlah malaria dan penyakit lainnya Isu Kesehatan di MDG’s

3 3 Angka Kematian Bayi (AKB)/IMR: Definisi AKB/IMR adalah banyaknya kematian bayi berumur kurang dari satu tahun per seribu kelahiran hidup D o = Banyaknya kematian bayi di bawah usia satu tahun pada tahun tertentu B = Banyaknya kelahiran pada tahun tertentu. Hasil SDKI 2007: AKB/IMR Indonesia saat ini sebesar 34 per kelahiran, artinya dari seribu kelahiran hidup pada tahun terdapat kematian 34 bayi sebelum mencapai usia satu tahun

4 4 Angka Kematian Ibu/MMR: Definisi AKI/MMR adalah banyaknya wanita yang meninggal pada waktu melahirkan per kelahiran dalam tahun tertentu Hasil SDKI 2007: Di Indonesia saat ini angka MMR sebesar 228 per kelahiran hidup, artinya dari kelahiran pada tahun terdapat kematian 228 ibu akibat komplikasi kehamilan, sekitar kelahiran/ keguguran atau pada masa nifas Banyaknya kematian ibu pada masa hamil, pada saat kelahiran/ keguguran, atau pada masa nifas pada tahun tertentu MMR = x Banyaknya kelahiran pada tahun tertentu

5 5  Angka prevalensi HIV pada kelompok populasi umum di Indonesia pada umumnya < 1% kecuali di Papua dan Papua Barat prevalensi 2,4% di tahun 2006  Kelompok populasi berisiko tinggi telah menunjukkan peningkatan yang signifikan sejak tahun 1990-an, terbesar pada kelompok Pengguna Napza Suntik (Penasun), WPS, dan Waria  Hasil STBP tahun 2007 menunjukkan sebesar 30% Penasun pernah membeli seks dalam 1 bulan terakhir dan 3% Penasun pernah menjual seks  Prevalensi HIV (jumlah kasus pada waktu tertentu) pada Penasun yang tinggi berdasarkan STBP 2007 sebesar 52,4%

6 6 Virus HIV dapat ditularkan melalui:  Hubungan seksual dengan pengidap HIV, terutama ano-genital dan genito-genital.  Melalui darah dan produk darah yang terkontaminasi (misalnya melalui transfusi darah)  Transplantasi organ tubuh  Penggunaan alat tusuk yang terkontaminasi (alat suntik, tindik, tatto, dll)  Penularan secara perinatal yaitu penularan dari ibu pengidap HIV kepada bayi yang dikandungnya, yang terjadi pada saat didalam kandungan, pada saat melewati jalan lahir atau selama menyusui

7 7 Cara pencegahan penularan Virus HIV: 1.Pencegahan penularan melalui hubungan seksual dengan : a.A (Abstinensi) yaitu dengan melakukan puasa seksual, b.B (Be faithful) yaitu saling setia pada pasangannya, dan c.C (Condom) yaitu menggunakan kondom apabila melakukan hubungan seksual yang berisiko. 2.Mencegah penularan melalui darah dan produk darah dengan skrining darah donor, dan tindakan kewaspadaan umum yang harus dilaksanakan pada setiap tindakan medis (universal precaution) 3.Sterilisasi alat suntik, tusuk dan tatto 4.Mencegah penularan dari ibu pengidap HIV ke bayi (Prevention from Mother to Child Transmition –PMTCT) 5.Jangan menggunakan NAPZA.

8 8 Istilah kurang gizi digunakan untuk menunjukan seseorang menderita gizi buruk dan gizi kurang. Permasalahan kurang gizi harus dilihat dari dua sisi:  faktor penyebab (tingkat pendidikan keluarga, pola makan, ekonomi, dan kondisi kesehatan keluarga secara keseluruhan)  konsekuensinya (menurunkan tingkat kecerdasan, mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak serta menurunkan produktivitas) Prevalensi Balita Kurang Gizi

9 9 Status gizi anak dapat diwakili dengan status gizi balita Ada hubungan timbal balik antara kurang gizi dengan kemiskinan Salah satu cara untuk memperkirakan status gizi adalah dengan melakukan pengukuran antropometri/ukuran tubuh (berat badan, tinggi badan/panjang badan) Caranya dengan membandingkan: Berat badan menurut umurnya (standar WHO-NCHS) Berat badan menurut tinggi/panjang badan. Prevalensi Balita Kurang Gizi

10 10 Kategori status gizi dengan standar WHO-NCHS:  Gizi lebih (Z-score ≥ +2),  Gizi normal (-2 < Z-score < +2),  Gizi kurang (-3 < Z-score < -2), dan  Gizi buruk ( Z-score ≤ -3). Variabel yang dibutuhkan untuk menghitung status gizi adalah:  Variabel umur  Berat badan  Tinggi/panjang badan Penghitungan Indikator

11 11 Analisis status gizi dikelompokkan: status gizi balita, status gizi balita usia bulan, dan status gizi batita. Analisis dapat dikembangkan dengan menghubungkan status gizi balita dengan jenis kelamin, tingkat pendidikan ibu balita, jumlah balita yang ada di rumah tangga, pola pemberian ASI, keadaan rumah dan lingkungannya, pengeluaran rumah tangga, dan sebagainya. Analisis Indikator

12 12 Gambar 4.4.A: Persentase Balita menurut Status Gizi dan Tipe Daerah, 2005 Sumber: Survei Garam Yodium, 2005

13 13 Status Gizi Wanita Usia Tahun/ Wanita Usia Subur (WUS) Status gizi WUS dpt diketahui dengan melakukan pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) Dgn LILA dpt diidentifikasikan seberapa besar seorang wanita mempunyai risiko untuk melahirkan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Gizi kurang pada wanita adalah status gizi wanita usia subur yang berada di bawah standar normal seperti ukuran LILA berada dibawah 23,5 cm WUS yang LILA-nya di bawah 23,5 cm berisiko menderita Kekurangan Energi Kronis (KEK) Pengukuran LILA dilakukan terutama kepada WUS, Ibu Hamil, Ibu Menyusui dan Pasangan Usia Subur (PUS)

14 14 Rumus yang digunakan: Variabel yang dibutuhkan untuk mendapatkan indikator status gizi wanita adalah variabel umur dan variabel ukuran LILA Penghitungan Indikator Jumlah wanita thn dng LILA < 23,5 cm Jumlah wanita thn X 100 % KEK=

15 15 Analisis dapat difokuskan pada WUS yang berisiko KEK mengingat informasi ini lebih bermanfaat bagi pihak sektoral yang terkait dengan masalah tersebut Analisis lebih lanjut dapat dikembangkan, yaitu menghubungkan WUS yang berisiko menderita KEK dengan status perkawinan, pendidikan yang ditamatkan, golongan pengeluaran, dan sebagainya. Analisis Indikator

16 16 Sumber: Survei Garam Yodium, 2005 Gambar 4.5.A: Persentase WUS menurut Status Gizi dan Tipe Daerah, 2005

17 17 Dilihat dari kelompok umur, pada umumnya yang berisiko menderita KEK adalah WUS usia muda. Persentase tertinggi WUS yang berisiko menderita KEK berada pada kelompok umur tahun. Ada kecenderungan bahwa semakin tua usia WUS semakin kecil berisiko menderita KEK. Analisis Indikator

18 18 Tujuan 7: memastikan kelestarian lingkungan hidup, Target 10:p enurunan sebesar separuh, proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada 2015 Isu Perumahan di MDG’s

19 19 Banyaknya rumah tangga yang dapat mengakses air minum layak Jumlah rumah tangga X 100 % Akses Air Minum = Indikator MDGs untuk air minum dinyatakan sebagai air minum layak berasal dari air leding, pompa, sumur terlindung, mata air terlindung, dan air hujan Khusus pompa, sumur terlindung, dan mata air terlindung harus berjarak 10 meter atau lebih dari penampungan tinja/kotoran

20 20 TOTAL SANITASI: seluruh masyarakat menggunakan toilet dan berhenti buang air besar di tempat terbuka Tempat buang air besar merupakan salah satu fasilitas sanitasi yang harus ada dalam suatu rumah tangga Sasaran Depkes tahun 2009 persentase keluarga yang menggunakan jamban memenuhi syarat kesehatan sebesar 80 persen.

21 21 Fasilitas sanitasi layak menurut indikator MDGs adalah rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri/bersama, kloset leher angsa dan tempat pembuangan akhir tinja menggunakan tangki septik Banyaknya rumah tangga yang menggunakan sanitasi layak Jumlah rumah tangga X 100 % Sanitasi Layak =

22 22 Persentase rumah tangga dengan luas lantai per kapita kurang dari 7,2 m 2 Gambaran mengenai masyarakat yang mempunyai tempat tinggal dengan lantai hunian yg sempit atau padat. Luas lantai per kapita adalah perbandingan total luas lantai dengan jumlah ART. Banyaknya rumah tangga dengan luas lantai per kapita  7,2 m 2 Jumlah rumah tangga X 100 % Kepadatan luas lantai ruta =

23 23 Tabel 1.: Persentase Balita menurut Klasifikasi Desa dan Penolong Proses Persalinan Terakhir, 2009 Klasifikasi Desa Tenaga KesehatanBkn Tenaga Kesehatan DokterBidan Tenaga paramedis lain TotalDukun Famili/ keluarga LainnyaTTTotal Perkotaan Pedesaan Perkotaan+Perdesaan Sumber: BPS, Kor Susenas 2009 Klasifikasi Desa BCGDPTPolioCampakHepatitis BImunisasi YaTidakYaTidakYaTidakYaTidakYaTidak Pernah diimuni- sasi Tdk pernah diimuni- sasi Perkotaan Pedesaan Perkotaan+Perdesaan Tabel 2.: Persentase Balita menurut Klasifikasi Desa dan Pemberian Imunisasi, 2009 Sumber: BPS, Kor Susenas 2009

24 24 Klasifikasi Desa Status kepemilikanAtapDindingLantaiPeneranganAkses air minumAkses sanitasi Milik sendiri Kontrak/ sewa Lainnya Bkn ijuk/ lainnya Ijuk/ lainnya Bkn bambu/ lainnya Bambu/ lainnya Bukan tanah TanahListrik Bukan listrik Ada Tidak ada Ada Tidak ada Perkotaan Pedesaan Perkotaan+Perdesaan Sumber: BPS, Kor Susenas 2009 Tabel 3.: Indikator Perumahan menurut Klaisifkasi Desa dan Jenis Indikator, 2009 Buat kelompok masing-masing 4-5 orang Lakukan analisis deskriptif sederhana untuk masing-masing tabel !!! Tugas dikirim via ke bambanga.bps.go.id Paling lambat tqanggal 12 Januari 2011


Download ppt "1 Materi Kuliah – Kesra STIS – 2 SK INDIKATOR KESEHATAN DAN PERUMAHAN YANG ADA DI MDG’s."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google