Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Social Learning Theory Albert Bandura Adriana S. Ginanjar.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Social Learning Theory Albert Bandura Adriana S. Ginanjar."— Transcript presentasi:

1 Social Learning Theory Albert Bandura Adriana S. Ginanjar

2 Albert Bandura (1925-……) Bandura lahir di Mundare, Alberta. Anak bungsu dan satu-satunya lelaki dari enam bersaudara. Bandura lahir di Mundare, Alberta. Anak bungsu dan satu-satunya lelaki dari enam bersaudara. Belajar di sekolah dengan dua guru, sehingga terbiasa untuk belajar mandiri. Belajar di sekolah dengan dua guru, sehingga terbiasa untuk belajar mandiri. Lulus dari University of British Columbia (dalam 3 tahun), mayor Psikologi. Keputusannya untuk menjadi psikolog merupakan kebetulan (fortuitous). Lulus dari University of British Columbia (dalam 3 tahun), mayor Psikologi. Keputusannya untuk menjadi psikolog merupakan kebetulan (fortuitous). Meneruskan pendidikan pada program Psikologi Klinis yang menekankan pada teori belajar (University of Iowa). Meneruskan pendidikan pada program Psikologi Klinis yang menekankan pada teori belajar (University of Iowa).

3 Albert Bandura (1925-……) Menduduki berbagai posisi terhormat : presiden APA, WPA, CPA. Menduduki berbagai posisi terhormat : presiden APA, WPA, CPA. Memperoleh banyak penghargaan: Distinguished Scientific Contribution, William James Award, Robert Thorndike Award, David Starr Jordan Professorship of Social Sciences in Psychology at Stanford University. Memperoleh banyak penghargaan: Distinguished Scientific Contribution, William James Award, Robert Thorndike Award, David Starr Jordan Professorship of Social Sciences in Psychology at Stanford University.

4 Basic Assumptions a)Plasticity: manusia memiliki fleksibilitas untuk belajar berbagai tingkah laku dalam situasi yang berbeda. b)Triadic reciprocal causation model: manusia mampu mengatur diri sendiri melalui interaksi diantara tiga aspek yaitu tingkah laku, lingkungan dan faktor personal. c)Agentic perspectives: manusia dapat mengontrol lingkungan dan kualitas kehidupan mereka.

5 Basic Assumptions d)Self regulation: manusia mengatur tindakan mereka melalui faktor-faktor internal dan eksternal. e)Moral agency: dalam situasi yang meragukan, manusia mengatur tingkah laku mereka melalui moral agency.

6 Observational Learning Manusia mampu belajar beragam sikap, ketrampilan, dan tingkah laku, yang sebagian besar merupakan hasil dari pengalaman vicarious (mengobservasi orang lain). Manusia mampu belajar beragam sikap, ketrampilan, dan tingkah laku, yang sebagian besar merupakan hasil dari pengalaman vicarious (mengobservasi orang lain). Observasi memungkinkan seseorang untuk belajar tanpa harus melakukan tingkah laku apapun. Observasi memungkinkan seseorang untuk belajar tanpa harus melakukan tingkah laku apapun. Belajar melalui observasi jauh lebih efisien daripada belajar melalui pengalaman langsung. Belajar melalui observasi jauh lebih efisien daripada belajar melalui pengalaman langsung. Reinforcement bukan sesuatu yang esensial dalam proses belajar (berbeda dengan pendapat Skinner). Reinforcement bukan sesuatu yang esensial dalam proses belajar (berbeda dengan pendapat Skinner).

7 Observational Learning Modeling adalah belajar melalui observasi tetapi bukan sekedar meniru. Ada proses kognitif (mengurangi atau menambah, melakukan generalisasi). Modeling adalah belajar melalui observasi tetapi bukan sekedar meniru. Ada proses kognitif (mengurangi atau menambah, melakukan generalisasi). Faktor yang mempengaruhi modeling: Faktor yang mempengaruhi modeling: a. Karakteristik model b. Karakteristik observer c. Konsekuensi dari tingkah laku yang ditiru ditiru

8 Observational Learning Empat proses yang mengarahkan observational learning: Empat proses yang mengarahkan observational learning: *Perhatian: orang-orang yang sering ditemui dan menarik ditemui dan menarik *Representasi: pola-pola simbolik pada ingatan pada ingatan *Reproduksi tingkah laku *Motivasi: terjadinya tingkah laku harus didukung oleh motivasi didukung oleh motivasi

9 Enactive Learning Tingkah laku manusia yang kompleks dapat dipelajari bila manusia memikirkan dan mengevaluasi konsekuensi dari tingkah laku mereka. Tingkah laku manusia yang kompleks dapat dipelajari bila manusia memikirkan dan mengevaluasi konsekuensi dari tingkah laku mereka. Fungsi konsekuensi tingkah laku: Fungsi konsekuensi tingkah laku: a. mengetahui efek dari tingkah laku a. mengetahui efek dari tingkah laku b. meramalkan hasil di masa depan dan melakukan tindakan yang tepat c. merupakan reinforcement bagi tingkah laku

10 Triadic Reciprocal Causation Tingkah laku manusia merupakan hasil interaksi diantara 3 variabel: 1.“ person ” : karakteristik seseorang dan faktor-faktor kognitif (ingatan, perencanaan, penilaian) 2.“ environment ” : lingkungan luar 3.“ behavior ” : tingkah laku Ketiga variabel tidak harus memiliki kekuatan atau memberikan kontribusi yang sama. Biasanya yang paling berpengaruh adalah aspek kognitif

11 Diskusi Bandura berpendapat bahwa tingkahlaku baru dapat diperoleh melalui 2 cara yaitu: observational learning dan enactive learning. Bandura berpendapat bahwa tingkahlaku baru dapat diperoleh melalui 2 cara yaitu: observational learning dan enactive learning. Diskusikan perbedaan diantara keduanya dan beri contoh ketrampilan baru untuk masing- masing proses belajar. Diskusikan perbedaan diantara keduanya dan beri contoh ketrampilan baru untuk masing- masing proses belajar.

12 Triadic Reciprocal Causation P E B P E B B= Behavior P= Cognitive, perceptual, other internal events events E= External environment

13 Triadic Reciprocal Causation CONTOH: Seorang anak meminta kue coklat untuk kedua kalinya kepada ayahnya - Anak merupakan lingkungan luar untuk si ayah - Proses kognitif yang dilakukan ayah menentukan tingkah laku (memberi/tidak) - Ayah mempengaruhi lingkungan dan tingkah laku. Sementara perubahan pada lingkungan (reaksi anak) akan mempengaruhi pula proses kognitif dan tingkah laku ayah selanjutnya.

14 Triadic Reciprocal Causation Walaupun kita memiliki kontrol dalam hidup, tetapi kita tidak selalu dapat memprediksi perubahan lingkungan Chance encounters: pertemuan yang tidak disengaja diantara orang-orang yang tidak saling mengenal. Chance encounters: pertemuan yang tidak disengaja diantara orang-orang yang tidak saling mengenal. Fortuitous event: pengalaman yang tidak diduga atau tidak direncanakan. Fortuitous event: pengalaman yang tidak diduga atau tidak direncanakan. Kedua hal tersebut penting dalam kehidupan seseorang. Kedua hal tersebut penting dalam kehidupan seseorang.

15 Human Agency Manusia memiliki kontrol terhadap kehidupannya: memiliki kemampuan regulasi diri, proaktif, refleksi diri, organisasi diri. Manusia memiliki kontrol terhadap kehidupannya: memiliki kemampuan regulasi diri, proaktif, refleksi diri, organisasi diri. Empat ciri penting dalam human agency: Empat ciri penting dalam human agency: a. intentionality (t.laku dg perencanaan) b. forethought (merancang tujuan) c. self-reactiveness (monitor kemajuan) d. self-reflectiveness (evaluasi thd fungsi- fungsi yang dilakukan)

16 Human Agency Self-efficacy: keyakinan seseorang terhadap kemampuannya unt melakukan kontrol terhadap fungsinya dan terhadap kejadian-kejadian dalam lingkungan. Self-efficacy: keyakinan seseorang terhadap kemampuannya unt melakukan kontrol terhadap fungsinya dan terhadap kejadian-kejadian dalam lingkungan. Keyakinan terhadap self-efficacy mempengaruhi: Keyakinan terhadap self-efficacy mempengaruhi: a) Tindakan yang dipilih b) Usaha yang diberikan untuk aktivitas ttn c) Kegigihan mengatasi hambatan dan kegagalan kegagalan d) Resiliensi setelah mengalami kegagalan

17 Human Agency Dua komponen dari self-efficacy: - Efficacy expectation  Rasa percaya diri seseorang bahwa ia mampu melakukan tingkah laku tertentu - Outcome expectation  Keyakinan seseorang bahwa tingkah laku yg dilakukan akan mengarah pd hasil ttn Self-efficacy bukan konsep global seperti self-esteem atau self-confidence, tapi dapat berbeda antar situasi, tergantung kompetensi yang dituntut.

18 Human Agency Perkembangan Self-efficacy dipengaruhi: o Keberhasilan (harapan meningkat dengan adanya keberhasilan) o Modeling sosial (keyakinan meningkat bila melihat keberhasilan orang lain yang memiliki kompetensi yang sama) o Persuasi sosial (pemberian semangat dari orang yang dipercaya akan meningkatkan harapan) o Keadaan fisik dan emosional (kondisi emosi yang intens akan menurunkan harapan)

19 Human Agency Proxy Agency: Proxy Agency: melakukan kontrol dalam kegiatan sehari-hari dg melibatkan orang- orang yang ahli di bidangnya (mentor, pengacara, pengasuh, tukang kebun). Bila berlebihan, menurunkan self efficacy. Collective Efficacy: keyakinan bersama tentang kemampuan dari kekuatan kolektif unt mencapai hasil yang diharapkan. Contoh: membuat film berkualitas melalui kerja kelompok tim kreatif. Di Amerika Serikat self efficacy lebih dihargai dan berperan daripada di Cina

20 Diskusi Ceritakan pengalaman masing- masing yang berkaitan dengan self- efficacy dalam bidang tertentu. Ceritakan pengalaman masing- masing yang berkaitan dengan self- efficacy dalam bidang tertentu. Hal-hal apa (faktor individual dan lingkungan) yang mempengaruhi perkembangan self-efficacy tersebut? Hal-hal apa (faktor individual dan lingkungan) yang mempengaruhi perkembangan self-efficacy tersebut?

21 Self-Regulation Orang-orang dengan tingkat self-efficacy yang tinggi, memiliki bbrp proxy dan punya collective efficacy yang utuh, akan memiliki kapasitas yang baik untuk mengatur tingkah laku. Faktor eksternal: a. standar evaluasi tingkah laku b. reinforcement Faktor internal a. observasi diri b. proses penilaian c. self-reaction

22 Self-Regulation Manusia melakukan regulasi diri juga berdasarkan standar moral: a) tidak menyakiti orang lain b) membantu secara proaktif. Standar moral hanya akan berpengaruh bila diaktifkan, sehingga seseorang bisa saja melakukan tingkah laku yang bertentangan dgn nilai moralnya (selective activation & disengagement of internal control).

23 Self-Regulation Tingkah laku yang bertentangan dengan nilai moral (p. 487): 1. Mendefinisikan kembali tingkah laku 2. Mendistorsi konsekuensi tingkah laku 3. Dehumanisasi / menyalahkan korban 4. Mengalihkan atau mengurangi tanggung jawab pribadi tanggung jawab pribadi

24 Self-Regulation 1. Mendefinisikan kembali tingkah laku a. Moral justification: merasa benar melakukan pembunuhan dengan mengutip ayat-ayat dari kitab suci b. Palliative comparison: merasa tidak bersalah setelah merusak sekolah karena murid lain melakukan perusakan yang lebih berat c. Euphemistic label: pemimpin Nazi melakukan pembunuhan dengan dalih “ purification of Europe ”

25 Self-Regulation 2. Mendistorsi konsekuensi tingkah laku a. Meminimalkan konsekuensi: seorang supir yang menabrak pejalan kaki tidak mengakui parahnya luka-luka si korban b. Tidak mengakui konsekuensi: para pemimpin perang tdk mengakui besarnya kerusakan akibat perintah mereka c. Mendistorsi konsekuensi: orangtua memukuli anaknya dengan alasan melakukan disiplin demi masa depan anak

26 Self-Regulation 3. Dehumanisasi/menyalahkan korban Contoh: pada masa peperangan musuh dilihat sebagai subhuman, pemerkosa menyalahkan korban karena berpakaian seksi 4. Mengalihkan atau menyebarkan tanggung jawab pribadi Contoh: mahasiswa yang memperoleh nilai buruk menyalahkan dosennya, pegawai negeri yang korupsi menyalahkan sistem birokrasi

27 Tingkah Laku Bermasalah DEPRESI : akibat menetapkan goals yang terlalu tinggi sehingga gagal dan depresi a)Saat melakukan observasi diri, seseorang dapat salah menilai dan menekankan pada kegagalan b)Bila depresi, seseorang cenderung salah dalam melakukan penilaian, memiliki harapan yang tidak realistis c)Memberikan penilaian yang amat buruk dan menghukum diri atas kekurangan yang dimiliki

28 Tingkah Laku Bermasalah FOBIA : ketakutan yang intens & bertahan terhadap sesuatu yg sebenarnya tidak berbahaya. a)Sulit dihilangkan karena individu cenderung menghindar dari hal yang menimbulkan fobia. b)Amat dipengaruhi oleh TV dan media massa. c)Fobia bertahan karena adanya negative reinforcement.

29 Tingkah Laku Bermasalah AGRESI : diperoleh melalui observasi, pengalaman dengan reinforcement, pelatihan, keyakinan yang salah. AGRESI : diperoleh melalui observasi, pengalaman dengan reinforcement, pelatihan, keyakinan yang salah. Eksperimen pada anak-anak yang mengobservasi film dan model yang melakukan agresivitas vs kelompok kontrol. Hasilnya: anak-anak pada kelompok eksperimen, setelah mengalami kejadian frustrasi, menunjukkan agresivitas dua kali lipat lebih tinggi.

30 Terapi Tujuan utama dari terapi adalah self- regulation. Awalnya adalah perubahan tingkah laku spesifik yang kemudian digeneralisasi pada berbagai situasi. Tujuan utama dari terapi adalah self- regulation. Awalnya adalah perubahan tingkah laku spesifik yang kemudian digeneralisasi pada berbagai situasi. Pendekatan dasar (kombinasi): Pendekatan dasar (kombinasi): a. Overt/vicarious modeling (observasi model melakukan tingkah laku yang dihindari) b. Covert/cognitive modeling (visualisasi) c. Enactive mastery (diawali dengan desensitisasi sistematik, kemudian bermain peran)


Download ppt "Social Learning Theory Albert Bandura Adriana S. Ginanjar."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google