Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Mengenal Sifat Material #3 Sifat Listrik Metal dan Dielektrik.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Mengenal Sifat Material #3 Sifat Listrik Metal dan Dielektrik."— Transcript presentasi:

1 Mengenal Sifat Material #3 Sifat Listrik Metal dan Dielektrik

2 Dalam melihat sifat listrik material, kita hanya akan memperhatikan material metal (yang memiliki konduktivitas listrik yang baik) dan material dielektrik (yang memiliki konduktivitas listrik yang buruk). Material semikonduktor tidak kita tinajau di sini namun dapat dipelajari bersamaan dengan pelajaran elektronika. Cakupan Bahasan

3

4 Material  e [siemens] Perak 6,3  10 7 Tembaga 5,85  10 7 Emas 4,25  10 7 Aluminium 3,5  10 7 Tungsten 1,82  10 7 Kuningan 1,56  10 7 Besi 1,07  10 7 Nickel 1,03  10 7 Baja 0,7  10 7 Stainless steel 0,14  10 7 Material  e [siemens] Gelas (kaca) 2  3  10  5 Bakelit 1  2  10  11 Gelas (borosilikat) 10  10  10  15 Mika 10  11  10  15 Polyethylene 10  15  10  17 Konduktor Isolator Konduktor [6]

5 Model Klasik Sederhana

6 Jika pada suatu material konduktor terjadi perbedaan potensial, arus listrik akan mengalir melalui konduktor tersebut kerapatan arus [ampere/meter 2] kuat medan [volt/meter] resistivitas [  m] konduktivitas [siemens] Konduktor - Model Klasik Sederhana

7 Medan listrik E memberikan gaya dan percepatan pada elektron sebesar Karena elektron tidak terakselerasi secara tak berhingga, maka dapat dibayangkan bahwa dalam pergerakannya ia harus kehilangan energi pada waktu menabrak materi pengotor ataupun kerusakan struktur pada zat padat. Jika setiap tabrakan membuat elektron kembali berkecepatan nol, dan waktu antara dua tabrakan berturutan adalah 2  maka kecepatan rata-rata adalah: Konduktor - Model Klasik Sederhana

8 0 22 44 66 kecepatan waktu kerapatan elektron bebas benturan Jika tak ada medan listrik, elektron bebas bergerak cepat pada arah yang acak sehingga tak ada aliran elektron netto. Medan listrik akan membuat elektron bergerak pada arah yang sama. kerapatan arus Konduktor - Model Klasik Sederhana

9 Teori Drude-Lorentz Tentang Metal

10 1900: Drude mengusulkan bahwa konduktivitas listrik tinggi pada metal dapat dijelaskan sebagai kontribusi dari elektron valensi yang dianggap dapat bergerak bebas dalam metal, seperti halnya molekul gas bergerak bebas dalam suatu wadah. Gagasan Drude ini dikembangkan lebih lanjut oleh Lorentz. Elektron dapat bergerak bebas dalam kristal metal pada potensial internal yang konstan. Ada dinding potensial pada permukaan metal, yang menyebabkan elektron tidak dapat meninggalkan metal. Semua elektron bebas berperilaku seperti molekul gas (mengikuti statistik Maxwell-Boltzmann); elektron ini memiliki distribusi energi yang kontinyu. Gerakan elektron hanya dibatasi oleh tabrakan dengan ion-ion metal. Konduktor - Teori Drude-Lorentz Tentang Metal [1]

11 Medan listrik E memberikan gaya dan percepatan pada elektron sebesar Integrasi a terhadap waktu memberikan kecepatan elektron, yang disebut kecepatan drift : Konduktor - Teori Drude-Lorentz Tentang Metal [1]

12 Jika jalan bebas rata-rata elektron adalah L maka waktu rata-rata antara tabrakan dengan tabrakan berikutnya adalah Kecepatan drift ini berubah dari 0 sampai v drift maks, yaitu kecepatan sesaat sebelum tabrakan dengan ion metal. kecepatan thermal Kecepatan drift rata-rata dapat didekati dengan: Konduktor - Teori Drude-Lorentz Tentang Metal [1]

13 Kerapatan arus adalah: Konduktor - Teori Drude-Lorentz Tentang Metal [1]

14 Model Pita Energi untuk Metal

15 Jika banyak atom bergabung menjadi padatan, tingkat valensi terluar dari setiap atom cenderung akan terpecah membentuk pita energi. Tingkat- tingkat energi yang lebih dalam, yang disebut tingkat inti, tidak terpecah. Setiap tingkat valensi dari dari suatu padatan yang terdiri dari N atom berbentuk pita valensi yang terdiri dari N tingkat energi. Dengan demikian maka tingkat valensi s yang di tiap atom memuat 2 elektron, akan menjadi pita s yang dapat menampung 2N elektron. Tingkat valensi p yang di tiap atom memuat 6 elektron, akan menjadi pita p yang dapat menampung 6N elektron. Gambaran pita-pita energi pada suatu padatan: pita s pita p celah energi Konduktor - Model Pita Energi

16 Pada metal, pita valensi biasanya hanya sebagian terisi Pita energi paling luar, jika ia hanya sebagian terisi dan padanya terdapat tingkat Fermi, disebut sebagai pita konduksi. kosong celah energi terisi kosong pita valensi EFEF pita konduksi Sodium Konduktor - Model Pita Energi

17 Pada beberapa metal, pita valensi terisi penuh. Akan tetapi pita ini overlap dengan pita di atanya yang kosong. Pita yang kosong ini memfasilitasi tingkat energi yang dengan mudah dicapai oleh elektron yang semula berada di pita valensi. terisi penuh kosong EFEF pita valensi Magnesium Konduktor - Model Pita Energi

18 Pada beberapa material, pita valensi terisi penuh dan pita valensi ini tidak overlap dengan pita di atasnya yang kosong. Jadi antara pita valensi dan pita di atasnya terdapat celah energi. celah energi terisi penuh kosong pita valensi Intan celah energi terisi penuh kosong Silikon isolatorsemikonduktor Konduktor - Model Pita Energi

19 Model Mekanika Gelombang

20 Dalam model mekanika gelombang, elektron dipandang sebagai paket gelombang, bukan partikel. Kecepatan grup dari paket gelombang adalah f = frekuensi DeBroglie k = bilangan gelombang Percepatan yang dialami elektron adalah Karena E = hf, maka: Konduktor - Model Mekanika Gelombang

21 Percepatan yang dialami elektron adalah Percepatan ini terjadi karena ada medan listrik E, yang memberikan gaya sebesar eE Gaya sebesar eE memberikan laju perubahan energi kinetik pada elektron bebas sebesar Sehingga percepatan elektron menjadi: Konduktor - Model Mekanika Gelombang

22 percepatan elektron: Bandingkan dengan relasi klasik: Kita definisikan massa efektif elektron : Untuk elektron bebas m* = m e. Untuk elektron dalam kristal m* tergantung dari energinya. Konduktor - Model Mekanika Gelombang

23 k E k1k1 +k1+k1 celah energi sifat klasik m* = m e jika energinya tidak mendekati batas pita energi dan kurva E terhadap k berbentuk parabolik Pada kebanyakan metal m* = m e karena pita energi tidak terisi penuh. Pada material yang pita valensinya terisi penuh m*  m e Konduktor - Model Mekanika Gelombang

24 Teori Sommerfeld Tentang Metal

25 Metal dilihat sebagai benda padat yang kontinyu, homogen, isotropik. Gambaran tentang elektron seperti pada teori Drude-Lorentz; elektron bebasa berada pada potensial internal yang konstan. Perbedaannya adalah bahwa elektron dalam sumur potensial mengikuti teori kuantum dan bukan mekanika klasik Berapa statuskah yang tersedia untuk elektron atau dengan kata lain bagaimanakah kerapatan status? Bagaimana elektron terdistribusi dalam status yang tersedia dan bagaimana mereka berpartisipasi dalam proses fisika? Kita lihat lagi Persamaan Schrödinger Konduktor - Teori Sommerfeld Tentang Metal [1]

26 x z y LxLx LyLy LzLz Sumur tiga dimensi Aplikasi Persamaan Schrödinger: Kasus 3 Dimensi Konduktor - Teori Sommerfeld Tentang Metal [1]

27 x z y LxLx LyLy LzLz Sumur tiga dimensi Aplikasi Persamaan Schrödinger; Kasus 3 Dimensi Konduktor - Teori Sommerfeld Tentang Metal [1]

28 Energi elektron : Energi elektron dinyatakan dalam momentumnya: sehingga : momentum : Konduktor - Teori Sommerfeld Tentang Metal [1]

29 momentum :Tanda ± menunjukkan bahwa arah momentum bisa positif atau negatif. Pernyataan ini menunjukkan bahwa momentum terkuantisasi. p x, p y, p z membentuk ruang momentum tiga dimensi. Jika ruang momentum berbentuk kubus, maka satuan sisi kubus adalah h/2L Kwadran pertama ruang momentum (dua dimensi): pxpx pypy 0 setiap titik menunjukkan status momentum yang diperkenankan setiap status momentum menempati ruang sebesar h 2 /4L 2 (kasus 2 dimensi). Konduktor - Teori Sommerfeld Tentang Metal [1]

30 Kwadran pertama ruang momentum (dua dimensi) pxpx pypy 0pxpx pypy 0 p dp setiap status momentum menempati ruang sebesar h 2 /4L 2 tiga dimensi Konduktor - Teori Sommerfeld Tentang Metal [1]

31 pxpx pypy 0 p dp tiga dimensi Karena maka massa elektron di sini adalah massa efektif Inilah kerapatan status. Setiap status mencakup 2 spin Berapakah yang terisi? Konduktor - Teori Sommerfeld Tentang Metal [1]

32 Tingkat Energi FERMI

33 Densitas Status pada 0 K Status energi diisi oleh elektron valensi mulai dari tingkat terendah secra berurut ke tingkat yang lebih tinggi sampai seluruh elektron terakomodasi. Elektron pada status energi yang paling tinggi analog dengan elektron pada tingkat energi paling tinggi di sumur potensial. Elektron ini memerlukan tambahan energi sebesar work function untuk meninggalkan sumur potensial. Status energi paling tinggi, yaitu tingkat yang paling tinggi yang ditempati oleh elektron pada 0 K secara tentatif didefinsikan sebagai tingkat Fermi, E F. (Definisi ini sesungguhnya tidak lengkap, tetapi untuk sementara kita gunakan). Konduktor - Tingkat Energi FERMI

34 pxpx pypy 0 p dp Jika p adalah jarak dari titik pusat ke momentum paling luar, maka akan diperoleh status yang terisi. Status yang terisi adalah: Karena Energi Fermi: Konduktor - Tingkat Energi FERMI

35 N(E)N(E) E EFEF  E 1/2 Densitas & Status terisi pada 0 K Densitas Status pada 0 K Jumlah status yang terisi dihitung dari jumlah status momentum yang terisi dalam ruang momentum: Konduktor - Tingkat Energi FERMI

36 Jika elektron pada tingkat energi E F kita pandang secara klasik, relasi energi: Pada tingkat energi E F sekitar 4 eV, sedang di mana T F adalah temperatur Fermi maka Jadi suatu elektron klasik berada pada sekitar K untuk setara dengan elektron pada tingkat Fermi. Konduktor - Tingkat Energi FERMI

37 Hasil Perhitungan elemen E F [eV] T F [ o K  ] Li4,75,5 Na3,13,7 K2,12,4 Rb1,82,1 Cs1,51,8 Cu7,08,2 Ag5,56,4 Au5,56,4 Konduktor - Tingkat Energi FERMI [1]

38 Resistivitas

39 Menurut mekanika gelombang elektron bebas dalam kristal dapat bergerak tanpa kehilangan energi. Setiap kelainan pada struktur kristal akan menimbulkan hambatan pada gerakan elektron yang menyebabkan timbulnya resistansi listrik pada material. Bahkan pada 0 o K, adanya resistansi dapat teramati pada material nyata sebab pengotoran, dislokasi, kekosongan, dan berbagai ketidaksempurnaan kristal hadir dalam material. Pada metal murni, resistivitas total merupakan jumlah dari dua komponen yaitu komponen thermal  T, yang timbul akibat vibrasi kisi-kisi kristal, dan resistivitas residu  r yang disebabkan adanya pengotoran dan ketidaksempurnaan kristal. Relasi Matthiessen: resistivitas total resistivitas thermal resistivitas residu konduktivitas Konduktor - Resistivitas

40 Eksperimen menunjukkan: o K 100 | |       Cu Cu, 1,12% Ni Cu, 2,16% Ni Cu, 3.32% Ni  [ohm-m]  Di atas temperatur Debye komponen thermal dari resistivitas hampir linier terhadap temperatur: frekuensi maks osilasi Temperatur Debye: konstanta Boltzmann 1,38  10  23 joule/ o K kecepatan rambat suara panjang gelombang minimum osilator [6] Konduktor - Resistivitas

41 konstanta tergantung dari jenis metal dan pengotoran konsentrasi pengotoran Relasi Nordheim: Jika x << 1 2%3% 1% | |      r /  273 0,05 0,10 0,15 0,20 4% | In dalam Sn Konduktor - Resistivitas

42 Pengaruh Jenis Pengotoran pada Cu   | ||| 2,0  10  8 2,5  10  8 1,5  10  8  [ohm-meter] 00,050,100,150,20  T (293) Sn Ag Cr Fe P % berat [6] Konduktor - Resistivitas

43 Emisi Elektron

44 Elektron bebas dalam metal tidak meninggalkan metal, kecuali jika mendapat tambahan energi yang cukup x EFEF Energi Hampa eFeF Emisi Elektron

45 emitter collector cahaya A V Sumber tegangan variabel I V V0V0 x lumen 2x lumen 3x lumen 0 Pada tegangan ini semua elektron kembali ke katoda (emitter) Laju keluarnya elektron (arus) tergantung dari intensitas cahaya tetapi energi kinetiknya tidak tergantung intensitas cahaya Energi kinetik elektron = e V 0 Peristiwa photolistrik Emisi Elektron - photolistrik

46 emitter collector cahaya A V Sumber tegangan variabel I V  V 01 =5000Å (biru)  V 02  V 03 =5500Å (hijau) =6500Å (merah) Intensitas cahaya konstan tetapi panjang gelombang berubah Emisi Elektron - photolistrik

47 emitter collector cahaya A V Sumber tegangan variabel Photon dengan energi hf diserap elektron di permukaan metal sehingga elektron tersebut mendapat tambahan energi. Jika pada awalnya elektron menempati tingkat energi tertinggi di pita konduksi dan bergerak tegak lurus ke arah permukaan, ia akan meninggalkan emitter dengan energi kinetik maksimum E k maks = hf  e  Energi yang diterima Energi untuk mengatasi hambatan di permukaan (dinding potensial) Emisi Elektron - photolistrik

48 emitter collector cahaya A V Sumber tegangan variabel Emisi Elektron - photolistrik tingkat energi terisi hf EFEF ee E k maks E k < E k maks hf

49 emitter collector cahaya A V Sumber tegangan variabel Jika V 0 (yang menunjukkan energi kinetik) di-plot terhadap frekuensi: VoVo f  1  2 Slope = h/e Metal 1 Metal 2 Rumus Einstein: Emisi Elektron - photolistrik

50 Peristiwa Emisi Thermal Pada temperatur tinggi, sebagian elektron memiliki energi kinetik yang lebih tinggi dari energi rata-rata elektron sehingga dapat melampaui work function ( e  ). A V vakum pemanas katoda anoda Jika arus cukup tinggi, terjadi saling tolak antara elektron di ruangan sehingga elektron dengan energi rendah tidak mencapai anoda. Muatan ruang makin berpengaruh jika arus makin tinggi. Arus akan mencapai kejenuhan. I V VV Emisi Elektron – emisi thermal

51 Makin tinggi temperatur katoda, akan makin tinggi energi elektron yang keluar dari permukaan katoda, dan kejenuhan terjadi pada nilai arus yang lebih tinggi. A V vakum pemanas katoda anoda I V VV T1T1 T2T2 T3T3 Kejenuhan dapat diatasi dengan menaikkan V I T V1V1 V2V2 V3V3 Emisi Elektron – emisi thermal

52 Pada tegangan yang sangat tinggi, dimana efek muatan ruang teratasi secara total, semua elektron yang keluar dari katoda akan mencapai anoda. A V vakum pemanas katoda anoda Persamaan Richardson-Dushman kerapatan aruskonstanta dari material k = konstanta Boltzman = 1,38  10  23 joule/ o K I T V1V1 V2V2 V = ∞ Emisi Elektron – emisi thermal

53 Nilai  tergantung dari temperatur : A V vakum pemanas katoda anoda pada 0 o K koefisien temperatur pada kebanyakan metal murni Persamaan Richardson-Dushman menjadi: Emisi Elektron – emisi thermal

54 A V vakum pemanas katoda anoda Persamaan Richardson-Dushman Linier terhadap Emisi Elektron – emisi thermal

55 Material katoda titik leleh [ O K] temp. kerja [ O K] work function [eV] A [10 6 amp/m 2 o K 2 W ,50,060 Ta ,10,4 – 0,6 Mo ,20,55 Th ,40,60 Ba ,50,60 Cs ,91,62 [6] Emisi Elektron – emisi thermal

56 Jika elektron dengan energi tinggi (yang disebut elektron primer) ditembakkan ke permukaan metal, elektron dapat keluar dari permukaan metal (yang disebut elektron sekunder). Energi kinetik elektron sekunder tidak harus tergantung dari energi kinetik elektron yang membentur permukaan. Efisiensi emisi sekunder dinyatakan sebagai rasio jumlah elektron sekunder, I s terhadap jumlah elektron primer yang membentur permukaan, I p. Rasio ini disebut secondary emission yield, , dan merupakan fungsi dari energi kinetik berkas elektron yang membentur permukaan. Jika energi kinetik berkas elektron yang membentur permukaan terlalu rendah hanya sedikit dihasilkan emisi sekunder. Emisi Elektron – emisi sekunder Peristiwa Emisi Sekunder

57 Jika energi kinetik berkas elektron yang membentur permukaan terlalu tinggi hanya sedikit juga dihasilkan emisi sekunder. Hal ini disebabkan karena elektron yang membentur permukaan metal sempat masuk (penetrasi) ke dalam metal sebelum terjadi benturan dengan elektron bebas dalam metal. Elektron bebas yang menerima tambahan energi mengalami tabrakan- tabrakan sebelum mencapai permukaan, dan mereka gagal keluar dari permukaan metal. Akibatnya adalah  sebagai fungsi dari energi berkas elektron, mempunyai nilai maksimum.  EkEk 0 0  maks E k maks Emisi Elektron – emisi sekunder

58 emitter  maks E k [eV] Al0,97300 Cu1,35600 Cs0,9400 Mo1,25375 Ni1,3550 W1,43700 gelas  2,5 400 BeO10,2500 Al 2 O 3 4,81300 [6] Emisi Elektron – emisi sekunder

59 Efek SCHOTTKY Dalam peristiwa emisi thermal telah disebutkan bahwa kenaikan medan listrik antara emitter dan anoda akan mengurangi efek muatan ruang. I V1V1 V2V2 V3V3 Medan yang tinggi juga meningkatkan emisi karena terjadi perubahan dinding potensial di permukaan katoda x EFEF Energi x0x0 e∅e∅ medan listrik tinggi V = eEx eΔ∅eΔ∅ Medan E memberikan potensial  eEx pada jarak x dari permukaan nilai maks dinding potensial penurunan work function Emisi Elektron – efek Schottky

60 Peristiwa Emisi Medan Hadirnya medan listrik pada permukaan katoda, selain menurunkan work function juga membuat dinding potensial menjadi lebih tipis x EFEF Energi e∅e∅ medan listrik sangat tinggi V = eEx eΔ∅eΔ∅ jarak tunneling penurunan work function Emisi Elektron – emisi medan

61

62 Karakteristik Dielektrik

63 Dielektrik digunakan pada kapasitor dan sebagai bahan isolasi Permitivitas relatif didefinisikan sebagai rasio permitivitas dielektrik (  ) dengan permitivitas ruang hampa (  0 ) Jika suatu dielektrik yang memiliki permitivitas relatif  r disisipkan antara dua pelat kapasitor yang memiliki luas A dan jarak antara kedua pelat adalah d, maka kapasitansi yang semula berubah menjadi dielektrik meningkatkan kapasitansi sebesar  r kali Faktor Desipasi Sifat Listrik Dielektrik - Karakteristik Dielektrik

64 Diagram fasor kapasitor im re I Rp ICIC I tot  VCVC Desipasi daya (menjadi panas): tan  : faktor desipasi (loss tangent)  r tan  : faktor kerugian (loss factor) Sifat Listrik Dielektrik - Karakteristik Dielektrik

65 Kekuatan Dielektrik Gradien tegangan maksimum yang masih dapat ditahan oleh dielektrik sebelum terjadi tembus listrik Nilai kekuatan dielektrik secara eksperimen sangat tergantung dari ukuran spesimen, elektroda, serta prosedur percobaan Tembus listrik diawali oleh hdirnya sejumlah elektron di pita konduksi. Elektron ini mendapat percepatan oleh adanya medan listrik yang tinggi sehingga memperoleh energi kinetik yang tinggi. Sebagian energi ini ditransfer ke elektron valensi sehingga elektron valensi naik ke pita konduksi. Jika jumlah elektron ini cukup banyak maka akan terjadi avalans elektron di pita konduksi. Arus meningkat dengan cepat sehingga terjadi peleburan lokal, terbakar, atau penguapan. Elektron awal bisa hadir oleh beberapa sebab: discharge antara elektroda tegangan tinggi dengan permukaan dielektrik yang terkontaminasi, pori- pori berisi gas dalam dielektrik, pengotoran oleh atom asing. Sifat Listrik Dielektrik - Karakteristik Dielektrik

66 Jarak elektroda [m] X 10  2 Tegangan tembus [kV] 100   300  400  500  600  ,13 2,54 udara 1 atm udara 400 psi SF psi SF 6 1 atm Porselain Minyak Trafo High Vacuum [6] Sifat Listrik Dielektrik - Karakteristik Dielektrik

67 Polarisasi

68 Tanpa dielektrik : E0E    d 00 ++ ++ d  E ++ ++ ++ ++ ++ ++        Dipole listrik : timbul karena terjadi Polarisasi Dengan dielektrik : Polarisasi : total dipole momen listrik per satuan volume Sifat Listrik Dielektrik - Polarisasi

69 Molekul di dalam dielektrik mengalami pengaruh medan listrik yang lebih besar dari medan listrik yang diberikan dari luar. Medan listrik yang dialami oleh molekul ini disebut medan lokal. ++ ++  E ++ ++ ++ ++ ++ ++        ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ Induksi momen dipole oleh medan lokal E lok adalah polarisabilitas jumlah molekul per satuan volume Sifat Listrik Dielektrik - Polarisasi

70 4 macam polarisasi a. polarisasi elektronik : tak ada medan ada medan E Teramati pada semua dielektrik. Terjadi karena pergeseran awan elektron pada tiap atom terhadap intinya. Sifat Listrik Dielektrik - Polarisasi

71 4 macam polarisasi tak ada medan ada medan E b. polarisasi ionik : +     +     Terjadi karena pergeseran ion-ion yang berdekatan dan berlawanan muatan. Hanya ditemui pada material ionik. Sifat Listrik Dielektrik - Polarisasi

72 4 macam polarisasi tak ada medan ada medan E c. polarisasi orientasi : ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ Terjadi pada material padat dan cair yang memiliki molekul asimetris yang momen dipole permanennya dapat diarahkan oleh medan listrik. Sifat Listrik Dielektrik - Polarisasi

73 4 macam polarisasi tak ada medan ada medan E d. polarisasi muatan ruang :                 Terjadi pengumpulan muatan di perbatasan dielektrik. Sifat Listrik Dielektrik - Polarisasi

74  r Tergantung Pada Frekuensi Dan Temperatur

75 Dalam medan bolak-baik, polarisasi total P, polarisabilitas total , dan  r, tergantung dari kemudahan dipole untuk mengikuti medan yang selalu berubah arah tersebut. Dalam proses mengikuti arah medan tersebut, waktu yang dibutuhkan oleh dipole untuk mencapai orientasi keseimbangan disebut waktu relaksasi. Kebalikan dari waktu relaksasi disebut frekuensi relaksasi. Jika frekuensi dari medan yang diberikan melebihi frekuensi relaksasi, dipole tidak cukup cepat untuk mengikutinya, dan proses orientasi berhenti. Karena frekuensi relaksasi dari empat macam proses polarisasi berbeda-beda, maka kontribusi dari masing-masing proses pada polarisasi keseluruhan dapat diamati. Sifat Listrik Dielektrik -  r Tergantung Pada Frekuensi Dan Temperatur

76 frekuensi listrik frekuensi optik frekuensi power audio radio infra merah cahaya tampak P;rP;r absorbsi; loss factor muatan ruang orientasi ionik elektronik orientasi muatan ruang ionik elektronik  Sifat Listrik Dielektrik -  r Tergantung Pada Frekuensi Dan Temperatur

77 rr oCoC 5  10 2 cps 10 4 cps 8  10 2 cps 5  10  15  20  silica glass[6] Sifat Listrik Dielektrik -  r Tergantung Pada Frekuensi Dan Temperatur

78 Kehilangan Energi

79 tan  : faktor desipasi (loss tangent) im re Diagram fasor kapasitor I Rp ICIC I tot  VCVC Desipasi daya (menjadi panas):  r tan  : faktor kerugian (loss factor) Sifat Listrik Dielektrik - Kehilangan Energi

80 Courseware Mengenal Sifat Material #3 Sifat Listrik Metal dan Dielektrik Sudaryatno Sudirham


Download ppt "Mengenal Sifat Material #3 Sifat Listrik Metal dan Dielektrik."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google