Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Pertemuan 2 Konsep Dasar Ekonomi Islam Azis Budi Setiawan Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI Azis Budi Setiawan Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Pertemuan 2 Konsep Dasar Ekonomi Islam Azis Budi Setiawan Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI Azis Budi Setiawan Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI."— Transcript presentasi:

1

2 Pertemuan 2 Konsep Dasar Ekonomi Islam Azis Budi Setiawan Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI Azis Budi Setiawan Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI

3 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 2 Bahasan Pertemuan Ini A.Kedudukan Ekonomi Islam dalam Al- Islam & Urgensinya B.Konsep Dasar Ekonomi Islam –Tujuan Hidup –Ekonomi Islam dan Rasionalitas A.Kedudukan Ekonomi Islam dalam Al- Islam & Urgensinya B.Konsep Dasar Ekonomi Islam –Tujuan Hidup –Ekonomi Islam dan Rasionalitas

4 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 3 A.Kedudukan Ekonomi Islam dalam Al-Islam & Urgensinya

5 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 4 “DINUL ISLAM” SEMPURNA AL-MAIDAH: 3AL-AN’AM: 38AN-NAHL: 89 كافة Konpre hensif Kedudukan Ekonomi Islam (1)

6 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 5 Kedudukan Ekonomi Islam (2) Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu (Al-Maidah (5): 3). Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (An-Nahl (16): 89) Tidak ada sesuatu pun yang kami luputkan di Al-Kitab[309] (Al- An’am (6): 38). [472] Sebahagian Mufassirin menafsirkan Al-Kitab itu dengan Lauhul mahfudz dengan arti bahwa nasib semua makhluk itu sudah dituliskan (ditetapkan) dalam Lauhul mahfudz. Dan ada pula yang menafsirkannya dengan Al-Quran dengan arti dalam Al-Quran itu telah ada pokok-pokok agama, norma-norma, hukum-hukum, hikmah-hikmah dan tuntunan untuk kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat, dan kebahagiaan makhluk pada umumnya. Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu (Al-Maidah (5): 3). Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (An-Nahl (16): 89) Tidak ada sesuatu pun yang kami luputkan di Al-Kitab[309] (Al- An’am (6): 38). [472] Sebahagian Mufassirin menafsirkan Al-Kitab itu dengan Lauhul mahfudz dengan arti bahwa nasib semua makhluk itu sudah dituliskan (ditetapkan) dalam Lauhul mahfudz. Dan ada pula yang menafsirkannya dengan Al-Quran dengan arti dalam Al-Quran itu telah ada pokok-pokok agama, norma-norma, hukum-hukum, hikmah-hikmah dan tuntunan untuk kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat, dan kebahagiaan makhluk pada umumnya.

7 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 6 AQIDAHALKHLAKSYARIAH IBADAHMUAMALAH HUKUM PIDANA/ PERDATA EKONOMI & FINANSIAL POLITIK ASURANSIBANKPASAR MODALLEASINGPEGADAIANSEKTOR RIELDLL Pertanian, Manufaktur dll Kedudukan Ekonomi Islam (3)

8 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 7 Sesungguhnya ekonomi Islam adalah bagian integral dari sistem Islam yang sempurna. Apabila ekonomi konvensional –dengan sebab situasi kelahirannya- terpisah secara sempurna dari agama. Maka keistimewaan terpenting ekonomi Islam adalah keterkaitannya secara sempurna dengan Islam itu sendiri, yaitu aqidah dan syariah. (Prof. Dr. Ahmad Muhammad ‘Assal & Prof. Dr. Fathi Ahmad Abdul Karim, An-Nizham al-Iqtishadi fil Islam, Cairo, 1977, hlm.17-18) Sesungguhnya ekonomi Islam adalah bagian integral dari sistem Islam yang sempurna. Apabila ekonomi konvensional –dengan sebab situasi kelahirannya- terpisah secara sempurna dari agama. Maka keistimewaan terpenting ekonomi Islam adalah keterkaitannya secara sempurna dengan Islam itu sendiri, yaitu aqidah dan syariah. (Prof. Dr. Ahmad Muhammad ‘Assal & Prof. Dr. Fathi Ahmad Abdul Karim, An-Nizham al-Iqtishadi fil Islam, Cairo, 1977, hlm.17-18) Kedudukan Ekonomi Islam (4)

9 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 8 Berdasarkan ini, maka tidak boleh kita mempelajari ekonomi Islam secara berdiri sendiri yang terpisah dari aqidah Islam dan syariahnya, karena sistem ekonomi Islam bagian dari syariah Islam. Dengan demikian ia terkait secara mendasar dengan aqidah (Prof. Dr. Ahmad Muhammad ‘Assal & Prof. Dr. Fathi Ahmad Abdul Karim, An-Nizham al-Iqtishadi fil Islam, Cairo, 1977, hlm.17 Berdasarkan ini, maka tidak boleh kita mempelajari ekonomi Islam secara berdiri sendiri yang terpisah dari aqidah Islam dan syariahnya, karena sistem ekonomi Islam bagian dari syariah Islam. Dengan demikian ia terkait secara mendasar dengan aqidah (Prof. Dr. Ahmad Muhammad ‘Assal & Prof. Dr. Fathi Ahmad Abdul Karim, An-Nizham al-Iqtishadi fil Islam, Cairo, 1977, hlm.17 Kedudukan Ekonomi Islam (5)

10 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 9 Ulama sepakat bahwa muamalat (ekonomi didalamnya) itu sendiri adalah masalah kemanusiaan yang maha penting (dharuriyah basyariyah). (Prof. Dr. Ahmad Muhammad ‘Assal & Prof.Dr. Fathi Ahmad Abdul Karim, An-Nizham al-Iqtishadi fil Islam, Cairo, 1977, hlm.14) Ulama sepakat bahwa muamalat (ekonomi didalamnya) itu sendiri adalah masalah kemanusiaan yang maha penting (dharuriyah basyariyah). (Prof. Dr. Ahmad Muhammad ‘Assal & Prof.Dr. Fathi Ahmad Abdul Karim, An-Nizham al-Iqtishadi fil Islam, Cairo, 1977, hlm.14) Kedudukan Ekonomi Islam (6)

11 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 10 Sesungguhnya dua sisi syariah Islam ialah ibadat dan muamalat. Keduanya terkait laksana satu tubuh dan keduanya satu tujuan, (yaitu dalam rangka ibadah dan ketaatan kepada Sang Khalik Allah Swt). (Samir Abdul Hamid Ridwan, Aswaq al-Awraq al-Maliyah, IIIT, Cairo, 1996, hlm. 166) Sesungguhnya dua sisi syariah Islam ialah ibadat dan muamalat. Keduanya terkait laksana satu tubuh dan keduanya satu tujuan, (yaitu dalam rangka ibadah dan ketaatan kepada Sang Khalik Allah Swt). (Samir Abdul Hamid Ridwan, Aswaq al-Awraq al-Maliyah, IIIT, Cairo, 1996, hlm. 166) Kedudukan Ekonomi Islam (7)

12 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 11 Jika jauh jarak perbedaan (kajian) syariah dengan kajian non syariah dalam bidang ekonomi ini, maka akan jauhlah kebenaran dan kebatilan, antara hidayah dan kesesatan. Karena umat Islam jauh dari kajian muamalah, maka dalam mencari uang, banyak umat Islam tersesat ke jalan batil, seperti bunga bank, bunga asuransi, bunga koperasi, bunga obligasi, permainan spekulasi di pasar uang dan pasar modal, arisan berantai, money game berkedok MLM, praktek gharar dan maysir dalam margin trading, dsb. Akibat mengabaikan kajian Muamalah ekonomi: –Umat Islam bayak yang tidak memahami fungsi uang, sehingga tanpa rasa berdosa mempraktekkan riba di bank, asuransi, pasar modal dan kredit lainnya. –Umat Islam (bahkan tokoh agama) banyak yang ikut-ikutan money game berkedok MLM, arisan berantai, ikut tabungan haji di Bank Riba. –Umat Islam ikutan spekulasi mata uang. –Umat Islam ikutan spekulasi di pasar modal, margin trading, future trading. –DPR/DPRD muslim tidak faham kebijakan fiskal Islam dalam menyusun APBD/APBN. –Umat Islam kurang faham praktek mudharabah, musyarakah, ijarah, murabahah dan berbagai jenis transaksi muamalah lainnya. –Banyak Umat Islam yang tidak faham perbedaan bank Islam dengan bank konvensional, perbedaan margin murabahah dengan bunga, perbedaan bunga dan bagi hasil. –Banyak Umat Islam memandang sama saja bank Islam dan bank konvensional, asuransi Islam dan konvensional,dll –Mereka menganggap Ekonomi Islam sama saja dengan ekonomi konvensional Jika jauh jarak perbedaan (kajian) syariah dengan kajian non syariah dalam bidang ekonomi ini, maka akan jauhlah kebenaran dan kebatilan, antara hidayah dan kesesatan. Karena umat Islam jauh dari kajian muamalah, maka dalam mencari uang, banyak umat Islam tersesat ke jalan batil, seperti bunga bank, bunga asuransi, bunga koperasi, bunga obligasi, permainan spekulasi di pasar uang dan pasar modal, arisan berantai, money game berkedok MLM, praktek gharar dan maysir dalam margin trading, dsb. Akibat mengabaikan kajian Muamalah ekonomi: –Umat Islam bayak yang tidak memahami fungsi uang, sehingga tanpa rasa berdosa mempraktekkan riba di bank, asuransi, pasar modal dan kredit lainnya. –Umat Islam (bahkan tokoh agama) banyak yang ikut-ikutan money game berkedok MLM, arisan berantai, ikut tabungan haji di Bank Riba. –Umat Islam ikutan spekulasi mata uang. –Umat Islam ikutan spekulasi di pasar modal, margin trading, future trading. –DPR/DPRD muslim tidak faham kebijakan fiskal Islam dalam menyusun APBD/APBN. –Umat Islam kurang faham praktek mudharabah, musyarakah, ijarah, murabahah dan berbagai jenis transaksi muamalah lainnya. –Banyak Umat Islam yang tidak faham perbedaan bank Islam dengan bank konvensional, perbedaan margin murabahah dengan bunga, perbedaan bunga dan bagi hasil. –Banyak Umat Islam memandang sama saja bank Islam dan bank konvensional, asuransi Islam dan konvensional,dll –Mereka menganggap Ekonomi Islam sama saja dengan ekonomi konvensional Kedudukan Ekonomi Islam (8)

13 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 12 Kedudukan Ekonomi Islam (9) Padahal ajaran tentang muamalah ekonomi ini telah dibawa oleh para Rasul terdahulu. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Huud (11) ayat

14 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 13 Kedudukan Ekonomi Islam (10) Artinya: 84. Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, Sesungguhnya Aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan Sesungguhnya Aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)." 85. Dan Syu'aib berkata: "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. 86. Sisa (keuntungan) dari Allah[734] adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. dan Aku bukanlah seorang Penjaga atas dirimu" 87. Mereka berkata: "Hai Syu'aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat Penyantun lagi berakal[735]." 88. Syu'aib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika Aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya Aku dari pada-Nya rezki yang baik (patutkah Aku menyalahi perintah-Nya)? dan Aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang Aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama Aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah Aku bertawakkal dan Hanya kepada-Nya-lah Aku kembali. –[734] yang dimaksud dengan sisa keuntungan dari Allah ialah keuntungan yang halal dalam perdagangan sesudah mencukupkan takaran dan timbangan. –[735] perkataan Ini mereka ucapkan untuk mengejek nabi Syu'aib a.s. Ayat di atas mengisahkan perdebatan kaum Nabi Syu’aib yang mengingkari agama yang dibawanya yang mengajarkan I’tiqad dan iqtishad (aqidah dan ekonomi) Nabi Syu’aib mengingatkan mereka tentang kekacauan transaksi muamalah ekonomi yang mereka lakukan selama ini. Ayat ini berisi dua peringatan penting, yaitu aqidah dan muamalah. Ayat ini juga menjelaskan bahwa pencarian dan pengelolaan rezeki (harta) tidak boleh sekehendak hati, melainkan mesti sesuai dengan kehendak dan tuntunan Allah, yang disebut syari’ah. Artinya: 84. Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, Sesungguhnya Aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan Sesungguhnya Aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)." 85. Dan Syu'aib berkata: "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. 86. Sisa (keuntungan) dari Allah[734] adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. dan Aku bukanlah seorang Penjaga atas dirimu" 87. Mereka berkata: "Hai Syu'aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat Penyantun lagi berakal[735]." 88. Syu'aib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika Aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya Aku dari pada-Nya rezki yang baik (patutkah Aku menyalahi perintah-Nya)? dan Aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang Aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama Aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah Aku bertawakkal dan Hanya kepada-Nya-lah Aku kembali. –[734] yang dimaksud dengan sisa keuntungan dari Allah ialah keuntungan yang halal dalam perdagangan sesudah mencukupkan takaran dan timbangan. –[735] perkataan Ini mereka ucapkan untuk mengejek nabi Syu'aib a.s. Ayat di atas mengisahkan perdebatan kaum Nabi Syu’aib yang mengingkari agama yang dibawanya yang mengajarkan I’tiqad dan iqtishad (aqidah dan ekonomi) Nabi Syu’aib mengingatkan mereka tentang kekacauan transaksi muamalah ekonomi yang mereka lakukan selama ini. Ayat ini berisi dua peringatan penting, yaitu aqidah dan muamalah. Ayat ini juga menjelaskan bahwa pencarian dan pengelolaan rezeki (harta) tidak boleh sekehendak hati, melainkan mesti sesuai dengan kehendak dan tuntunan Allah, yang disebut syari’ah.

15 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 14 Kedudukan Ekonomi Islam (11) Menurut Dr Abdul Sattar dalam kitabnya Al-Muamalah fil Islam (hlm.16), Muamalah ini adalah sunnah yang terus-menerus dilaksanakan para Nabi AS, sebagaimana firman Allah: Artinya: ”Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca keadilan supaya manusia dapat menegakkan keadilan itu. Dan kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia. Supaya mereka memergunakan besi itu dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agamanya) dan RasulNya. Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa”. Menurut Dr Abdul Sattar, Ayat tersebut mengandung dua masalah penting : –Bahwa tujuan utama risalah ilahiyah (dalam kitab & syari’ah) adalah menegakkan aturan (nizham) yang adil dalam muamalah di antara manusia. –Menegakkan aturan syariah tersebut mesti dengan kekuasaan/kekuatan (besi), setelah dakwah dan tabligh/komunikasi dilaksanakan (hlm.17) Artinya: ”Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca keadilan supaya manusia dapat menegakkan keadilan itu. Dan kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia. Supaya mereka memergunakan besi itu dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agamanya) dan RasulNya. Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa”. Menurut Dr Abdul Sattar, Ayat tersebut mengandung dua masalah penting : –Bahwa tujuan utama risalah ilahiyah (dalam kitab & syari’ah) adalah menegakkan aturan (nizham) yang adil dalam muamalah di antara manusia. –Menegakkan aturan syariah tersebut mesti dengan kekuasaan/kekuatan (besi), setelah dakwah dan tabligh/komunikasi dilaksanakan (hlm.17)

16 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 15 Kedudukan Ekonomi Islam (12) Fiqh Muamalah Ekonomi, menduduki posisi yang penting dalam Islam. Hampir tidak ada manusia yang tidak terlibat dalam aktivitas muamalah, karena itu hukum mempelajarinya wajib ‘ain(fardhu) bagi setiap muslim. Kewajiban itu disebabkan setiap muslim tidak terlepas dari aktivitas ekonomi. Bahkan sebagian besar waktu yang dihabiskan seorang manusia adalah untuk kegiatan muamalah, al. mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan diri, keluarga, bahkan negara. Perbandingan Alokasi Waktu untuk Ibadah dan Muamalah. –Ibadah Mahdhah 5 x 10 menit = 50 menit –Muamalah (mencari nafkah/kerja) Mulai jam 7 pagi sd jam = 12 jam Menurut Dr. Yusuf Qardhowi : ” Memahami/mengetahui hukum muamalah maliyah wajib bagi setiap muslim, namun untuk menjadi expert (ahli) dalam bidang ini hukumnya fardhu kifayah”. Fiqh Muamalah Ekonomi, menduduki posisi yang penting dalam Islam. Hampir tidak ada manusia yang tidak terlibat dalam aktivitas muamalah, karena itu hukum mempelajarinya wajib ‘ain(fardhu) bagi setiap muslim. Kewajiban itu disebabkan setiap muslim tidak terlepas dari aktivitas ekonomi. Bahkan sebagian besar waktu yang dihabiskan seorang manusia adalah untuk kegiatan muamalah, al. mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan diri, keluarga, bahkan negara. Perbandingan Alokasi Waktu untuk Ibadah dan Muamalah. –Ibadah Mahdhah 5 x 10 menit = 50 menit –Muamalah (mencari nafkah/kerja) Mulai jam 7 pagi sd jam = 12 jam Menurut Dr. Yusuf Qardhowi : ” Memahami/mengetahui hukum muamalah maliyah wajib bagi setiap muslim, namun untuk menjadi expert (ahli) dalam bidang ini hukumnya fardhu kifayah”.

17 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 16 B.Konsep Dasar Ekonomi Islam –Tujuan Hidup –Ekonomi Islam dan Rasionalitas B.Konsep Dasar Ekonomi Islam –Tujuan Hidup –Ekonomi Islam dan Rasionalitas

18 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 17 Tujuan Hidup Manusia Pada dasarnya tujuan hidup setiap manusia adalah untuk mencapai kesejahteraan, meskipun manusia memaknai ’kesejahteraan’ dengan prespektif yang berbeda-beda. Sebagian besar paham ekonomi (konvensional) memaknai kesejahteraan sebagai kesejahteraan material duniawi. Pada dasarnya tujuan hidup setiap manusia adalah untuk mencapai kesejahteraan, meskipun manusia memaknai ’kesejahteraan’ dengan prespektif yang berbeda-beda. Sebagian besar paham ekonomi (konvensional) memaknai kesejahteraan sebagai kesejahteraan material duniawi.

19 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 18 Falah sebagi Tujuan Hidup (1) Islam memaknai ’kesejahteraan’ dengan istilah falah. Informasi mengenai konsep kesejahteraan ini hanya dapat diperoleh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu melalui ajaran yang diwahyukan dalam Alquran dan Sunnah. Istilah falah disebutkan dalam beberapa ayat Alquran sebagai ungkapan atas orang-orang yang sukses. Misalnya dalam beberapa ayat disebut dengan kata muflihun (QS 3:104; 7:8,157; 9:88,23; 23:102; 24:51), dan aflah (QS 23:1; 91:9). Falah berasal dari bahasa Arab dari kata kerja aflaha-yuflihu yang berarti kesuksesan, kemuliaan dan kemenangan. Dalam pengertian literal, falah adalah kemuliaan dan kemenangan dalam hidup. Islam memaknai ’kesejahteraan’ dengan istilah falah. Informasi mengenai konsep kesejahteraan ini hanya dapat diperoleh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu melalui ajaran yang diwahyukan dalam Alquran dan Sunnah. Istilah falah disebutkan dalam beberapa ayat Alquran sebagai ungkapan atas orang-orang yang sukses. Misalnya dalam beberapa ayat disebut dengan kata muflihun (QS 3:104; 7:8,157; 9:88,23; 23:102; 24:51), dan aflah (QS 23:1; 91:9). Falah berasal dari bahasa Arab dari kata kerja aflaha-yuflihu yang berarti kesuksesan, kemuliaan dan kemenangan. Dalam pengertian literal, falah adalah kemuliaan dan kemenangan dalam hidup.

20 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 19 Falah sebagi Tujuan Hidup (2) Falah dalam hal ini berarti kesejahteraan holistik dan seimbang antara dimensi: –(1) material-spiritual; –(2) individual-sosial; –(3) kesejahteraan di kehidupan duniawi dan di akhirat. Sejahtera dunia diartikan sebaga segala yang memberikan kenikmatan hidup inderawi, baik fisik, intelektual, biologis maupun material. Sedangkan kesejahteraan akhirat diartikan sebagai kenikmatan yang yang diperoleh setelah kematian manusia. Prilaku manusia di dunia diyakini akan berpengaruh terhadap kesejahteraan di akhirat yang abadi. Dalam konteks dunia, falah merupakan konsep yang multidimensi. Ia memiliki implikasi pada aspek mikro maupun makro. Falah dalam hal ini berarti kesejahteraan holistik dan seimbang antara dimensi: –(1) material-spiritual; –(2) individual-sosial; –(3) kesejahteraan di kehidupan duniawi dan di akhirat. Sejahtera dunia diartikan sebaga segala yang memberikan kenikmatan hidup inderawi, baik fisik, intelektual, biologis maupun material. Sedangkan kesejahteraan akhirat diartikan sebagai kenikmatan yang yang diperoleh setelah kematian manusia. Prilaku manusia di dunia diyakini akan berpengaruh terhadap kesejahteraan di akhirat yang abadi. Dalam konteks dunia, falah merupakan konsep yang multidimensi. Ia memiliki implikasi pada aspek mikro maupun makro.

21 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 20

22 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 21 Maslahah sebagai Tujuan Antara untuk Mencapai Falah Falah dapat terwujud apabila terpenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup manusia secara seimbang sehingga tercipta maslahah. Maslahah adalah segala bentuk keadaan, baik material maupun non material, yang mampu meningkatkan kedudukan manusia sebagai makhluk yang paling mulia. Maslahah dasar bagi kehidupan manusia terdiri dari lima hal, yaitu agama (dien), jiwa (nafs), intelektual (’aql), keturunan (nasl), dan material (maal). –Dien  dibutuhkan oleh manusia  menuntun keyakinan, memberikan ketentuan/aturan hidup, dan membangun moralitas. –Nafs  sesuatu yang membantu eksistensinya merupakan kebutuhan, yang mengancam kehidupan harus dijauhi –’Aql  Islam mewajibkan tholabul ilm  karena tanpanya manusia akan mengalami kesulitan dan penderitaan. –Nasl  kelangsungan generasi dan kehidupan dunia sangat penting –Maal  Ia dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dan sebagai sarana untuk ibadah (banyak ibadah membutuhkan harta) Falah dapat terwujud apabila terpenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup manusia secara seimbang sehingga tercipta maslahah. Maslahah adalah segala bentuk keadaan, baik material maupun non material, yang mampu meningkatkan kedudukan manusia sebagai makhluk yang paling mulia. Maslahah dasar bagi kehidupan manusia terdiri dari lima hal, yaitu agama (dien), jiwa (nafs), intelektual (’aql), keturunan (nasl), dan material (maal). –Dien  dibutuhkan oleh manusia  menuntun keyakinan, memberikan ketentuan/aturan hidup, dan membangun moralitas. –Nafs  sesuatu yang membantu eksistensinya merupakan kebutuhan, yang mengancam kehidupan harus dijauhi –’Aql  Islam mewajibkan tholabul ilm  karena tanpanya manusia akan mengalami kesulitan dan penderitaan. –Nasl  kelangsungan generasi dan kehidupan dunia sangat penting –Maal  Ia dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dan sebagai sarana untuk ibadah (banyak ibadah membutuhkan harta)

23 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 22 Permasalahan dalam Mencapai Falah (1) Dalam upaya mencapai kesejahteraan manusia menghadapi masalah, yaitu kesenjangan antara sumber daya (resources) yang ada dengan keinginan & kebutuahan (want & need) manusia. Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan berbagai sumber daya yang memadai untuk mencukupi kebutuhan manusia. Penyebab Kelangkaan relatif (relative scarcity): –(1) Ketidakmerataan distribusi sumber daya  contoh: kelangkaan BBM  manusia mencari alternatif biogas dst. –(2) Berbagai keterbatasan manusia  contoh: (1) keterbatasan ilmu pengetahuan yang dikuasi, (2) keserakahan manusia (sifat buruk). –serta (3) munculnya konflik antara tujuan duniawi dan ukhrawi  contoh: korupsi  korbankan akhirat  timbulkan scarcity bagi pihak lain. Dalam upaya mencapai kesejahteraan manusia menghadapi masalah, yaitu kesenjangan antara sumber daya (resources) yang ada dengan keinginan & kebutuahan (want & need) manusia. Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan berbagai sumber daya yang memadai untuk mencukupi kebutuhan manusia. Penyebab Kelangkaan relatif (relative scarcity): –(1) Ketidakmerataan distribusi sumber daya  contoh: kelangkaan BBM  manusia mencari alternatif biogas dst. –(2) Berbagai keterbatasan manusia  contoh: (1) keterbatasan ilmu pengetahuan yang dikuasi, (2) keserakahan manusia (sifat buruk). –serta (3) munculnya konflik antara tujuan duniawi dan ukhrawi  contoh: korupsi  korbankan akhirat  timbulkan scarcity bagi pihak lain.

24 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 23 Permasalahan dalam Mencapai Falah (2) Ilmu ekonomi Islam lahir untuk menyelesaikan permasalahan kelangkaan relatif (relative scarcity) ini. Sehingga dapat dicapai falah, yang diukur dengan maslahah. Terdapat tiga aspek utama yang harus diselesaikan oleh ekonomi agar falah tercapai, yaitu: –(1) konsumsi, output atau komoditas apa dan berapa yang diperlukan agar kemaslahatan maksimal tercapai; –(2) produksi, bagaimana output dihasilkan agar kemaslahatan maksimal tercapai; dan –(3) distribusi, bagaimana sumber daya dan output didistribusikan agar setiap mendapatkan maslahah yang maksimal. Ketiga aspek tersebut merupakan kesatuan integral untuk mewujudkan maslahah kehidupan. Aktivitas ekonomi harus menuju pada tujuan yang sama untuk mencapai maslahah yang maksimum bagi umat manusia, dimana: –Konsumsi  orientasi keseimbangan pemenuhan kebutuhan antar individu dan antar aspek kehidupan. –Produksi  orientasi efisien dan adil, sehingga mencukupi kebutuhan semua manusia –Distribusi  orientasi adil dan merata agar semua memiliki kesempatan yang sama untuk memenuhi kebutuhan. Dengan demikian diharapkan falah dapat tercipta bagi setiap manusia. Ilmu ekonomi Islam lahir untuk menyelesaikan permasalahan kelangkaan relatif (relative scarcity) ini. Sehingga dapat dicapai falah, yang diukur dengan maslahah. Terdapat tiga aspek utama yang harus diselesaikan oleh ekonomi agar falah tercapai, yaitu: –(1) konsumsi, output atau komoditas apa dan berapa yang diperlukan agar kemaslahatan maksimal tercapai; –(2) produksi, bagaimana output dihasilkan agar kemaslahatan maksimal tercapai; dan –(3) distribusi, bagaimana sumber daya dan output didistribusikan agar setiap mendapatkan maslahah yang maksimal. Ketiga aspek tersebut merupakan kesatuan integral untuk mewujudkan maslahah kehidupan. Aktivitas ekonomi harus menuju pada tujuan yang sama untuk mencapai maslahah yang maksimum bagi umat manusia, dimana: –Konsumsi  orientasi keseimbangan pemenuhan kebutuhan antar individu dan antar aspek kehidupan. –Produksi  orientasi efisien dan adil, sehingga mencukupi kebutuhan semua manusia –Distribusi  orientasi adil dan merata agar semua memiliki kesempatan yang sama untuk memenuhi kebutuhan. Dengan demikian diharapkan falah dapat tercipta bagi setiap manusia.

25 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 24 B.Konsep Dasar Ekonomi Islam –Tujuan Hidup –Ekonomi Islam dan Rasionalitas B.Konsep Dasar Ekonomi Islam –Tujuan Hidup –Ekonomi Islam dan Rasionalitas

26 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 25 Dasar Ekonomi Islam Ekonomi merupakan bagian integral dari ajaran Islam. Dan karenanya ekonomi Islam akan terwujud sempurna hanya jika ajaran Islam diyakini dan dilaksanakan secara menyeluruh. Falah hanya akan diperoleh jika ajaran Islam dilaksanakan secara kafah (sempurna). Ekonomi Islam mempelajari prilaku ekonomi individu- individu yang secara sadar dituntun ajaran Islam Alquran dan Sunnah dalam memecahkan masalah ekonomi yang dihadapinya. Ekonomi merupakan bagian integral dari ajaran Islam. Dan karenanya ekonomi Islam akan terwujud sempurna hanya jika ajaran Islam diyakini dan dilaksanakan secara menyeluruh. Falah hanya akan diperoleh jika ajaran Islam dilaksanakan secara kafah (sempurna). Ekonomi Islam mempelajari prilaku ekonomi individu- individu yang secara sadar dituntun ajaran Islam Alquran dan Sunnah dalam memecahkan masalah ekonomi yang dihadapinya.

27 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 26 Pengertian dan Lingkup Ekonomi Islam (1) Secara umum, ekonomi Islam didefinisikan sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan yang berupaya untuk memandang, meneliti, dan akhirnya berupaya untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan ekonomi dengan cara-cara yang Islami. Yang dimaksudkan dengan cara-cara yang Islami disini adalah cara-cara yang didasarkan atas Alquran dan Sunnah. Jadi, ilmu ekonomi Islam mendasarkan segala aspek tujuan, metode penurunan ilmu, dan nilai-nilai yang terkandung pada agama Islam. Penurunan kebenaran atau hukum dalam ekonomi Islam didasarkan pada kebenaran deduktif wahyu Ilahi (ayat qauliyah) yang didukung oleh kebenaran induktif empiris (ayat kauniyah). Secara umum, ekonomi Islam didefinisikan sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan yang berupaya untuk memandang, meneliti, dan akhirnya berupaya untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan ekonomi dengan cara-cara yang Islami. Yang dimaksudkan dengan cara-cara yang Islami disini adalah cara-cara yang didasarkan atas Alquran dan Sunnah. Jadi, ilmu ekonomi Islam mendasarkan segala aspek tujuan, metode penurunan ilmu, dan nilai-nilai yang terkandung pada agama Islam. Penurunan kebenaran atau hukum dalam ekonomi Islam didasarkan pada kebenaran deduktif wahyu Ilahi (ayat qauliyah) yang didukung oleh kebenaran induktif empiris (ayat kauniyah).

28 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 27 Pengertian dan Lingkup Ekonomi Islam (2) Beberapa ekonom memberikan penegasan bahwa ruang lingkup ekonomi Islam adalah masyarakat Muslim atau negara Muslim. Namun pendapat lain lebih menekankan terhadap perspektif Islam tentang masalah ekonomi pada umumnya. Dari berbagai pendapat dapat disimpulkan bahwa ekonomi Islam bukan hanya merupakan praktik ekonomi yang dilakukan oleh individu dan komunitas muslim yang ada, namun juga merupakan perwujudan perilaku ekonomi yang didasarkan pada ajaran Islam. Berbeda dengan ekonomi konvensional yang hanya lebih menekankan pada analisis terhadap masalah ekonomi dan alternatif solusinya. Dalam padangan ini tujuan ekonomi dan nilai-nilainya (value) dianggap sebagai hal yang sudah tetap (given) atau diluar bidang ilmu ekonomi. Ekonomi Islam dan konvensional berbeda dalam cara menyelesaikan masalah dan cara melihat masalah. Ekonomi Islam adalah ilmu yang mempelajari usaha manusia untuk mengalokasikan dan mengelola sumber daya untuk mencapai falah berdasarkan pada prinsip-prinsip dan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunah. Beberapa ekonom memberikan penegasan bahwa ruang lingkup ekonomi Islam adalah masyarakat Muslim atau negara Muslim. Namun pendapat lain lebih menekankan terhadap perspektif Islam tentang masalah ekonomi pada umumnya. Dari berbagai pendapat dapat disimpulkan bahwa ekonomi Islam bukan hanya merupakan praktik ekonomi yang dilakukan oleh individu dan komunitas muslim yang ada, namun juga merupakan perwujudan perilaku ekonomi yang didasarkan pada ajaran Islam. Berbeda dengan ekonomi konvensional yang hanya lebih menekankan pada analisis terhadap masalah ekonomi dan alternatif solusinya. Dalam padangan ini tujuan ekonomi dan nilai-nilainya (value) dianggap sebagai hal yang sudah tetap (given) atau diluar bidang ilmu ekonomi. Ekonomi Islam dan konvensional berbeda dalam cara menyelesaikan masalah dan cara melihat masalah. Ekonomi Islam adalah ilmu yang mempelajari usaha manusia untuk mengalokasikan dan mengelola sumber daya untuk mencapai falah berdasarkan pada prinsip-prinsip dan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunah.

29 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 28 Ekonomi Islam sebagai Suatu Ilmu dan Norma Ekonomi positif (positive economics) dan ekonomi normatif (normative economics) Ilmu ekonomi konvensional melakukan pemisahan secara tegas antara aspek positif dan normatif.  Fakta ekonomi independen terhadap norma (tidak ada kausalitas)  norma diluar ilmu ekonomi Ekonomi Islam hanya akan dihasilkan dengan integrasi norma dan ilmu ekonomi. Ekonomi positif (positive economics) dan ekonomi normatif (normative economics) Ilmu ekonomi konvensional melakukan pemisahan secara tegas antara aspek positif dan normatif.  Fakta ekonomi independen terhadap norma (tidak ada kausalitas)  norma diluar ilmu ekonomi Ekonomi Islam hanya akan dihasilkan dengan integrasi norma dan ilmu ekonomi.

30 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 29 Rasionalitas dalam Islam Ekonomi Islam dibangun atas dasar perilaku individu yang rasional Islami. Rasional Islami dalam hal ini tidak dimaknai sebagai rasional sempit, melainkan perilaku logis bagi setiap individu yang sadar dan perhatian untuk memperoleh falah. Hal ini menuntut manusia untuk bervisi dan berfikir jangka panjang. Dalam hal tertentu, manusia akan mengorbankan kepentingan duniawinya untuk mendapatkan kesejahteraan akhirat atau melakukan tindakan etis yang mengorbankan kepentingan individu atau material demi memperoleh maslahah yang lebih besar. Perilaku etis dipandang sabagi perilaku rasional ketika sejalan dengan nilai-nilai falah. Ekonomi Islam dibangun atas dasar perilaku individu yang rasional Islami. Rasional Islami dalam hal ini tidak dimaknai sebagai rasional sempit, melainkan perilaku logis bagi setiap individu yang sadar dan perhatian untuk memperoleh falah. Hal ini menuntut manusia untuk bervisi dan berfikir jangka panjang. Dalam hal tertentu, manusia akan mengorbankan kepentingan duniawinya untuk mendapatkan kesejahteraan akhirat atau melakukan tindakan etis yang mengorbankan kepentingan individu atau material demi memperoleh maslahah yang lebih besar. Perilaku etis dipandang sabagi perilaku rasional ketika sejalan dengan nilai-nilai falah.

31 Mankiw et al. Principles of Microeconomics, 2nd Canadian Edition Chapter 14: Page 30 Wallahu’alam bishawab Jazakumullah Khoiron Katsiraa Wallahu’alam bishawab Jazakumullah Khoiron Katsiraa


Download ppt "Pertemuan 2 Konsep Dasar Ekonomi Islam Azis Budi Setiawan Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI Azis Budi Setiawan Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google