Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Bangunan Teori dan Analisis Kuantitatif Sutriyono.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Bangunan Teori dan Analisis Kuantitatif Sutriyono."— Transcript presentasi:

1 Bangunan Teori dan Analisis Kuantitatif Sutriyono

2 POKOK BAHASAN & BUKU WAJIB BANGUNAN TEORI Pokok Bahasan Pendahuluan Konsep Dalil Teori Paradigma Membandingkan Model dan Teori Melintas Garis JOI Buku Wajib Ihalau, John J.O.I Bangunan Teori. Edisi milenium. Salatiga : Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Satya Wacana Sri Sulandjari, John J.O.I. Ihlauw dan Ummi Arifa Afni 2001 Bank – Soal Bangunan Teori Salatiga : Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Satya Wacana

3 O. BANGUNAN TEORI : APA ITU ? STUDI TENTANG CARA MEMBUAT SENDIRI UNSUR – UNSUR PEMBENTUKAN SEBUAH TEORI DAN CARA MERUMUSKAN SENDIRI TEORI TERSEBUT

4 BANGUNAN TEORI : POKOK BAHASAN BANGUNAN TEORI : POKOK BAHASAN Mengapa Mempelajari Bangunan Teori ? Bagaimana Membangun Sendiri Sebuah Teori ? Apa Kaitan Bangunan Teori Dengan Metodologi Penelitian Dan Analisis Statistika.

5 1.PENDAHULUAN1.PENDAHULUAN Alasan Pragmatis Alasan Pragmatis Alasan Fundamental Alasan Fundamental Penjelajahan Mencari Kebenaran Penjelajahan Mencari Kebenaran Bangunan Teori : MENGAPA ? Bangunan Teori : MENGAPA ?

6 BANGUNAN TEORI : MENGAPA? ALASAN PRAGMATIS Membuat sendiri suatu teori sulit ? Mempelajari teori yang sudah siap, namun tidak menguasai langkah-langkah dan unsur-unsur untuk membuatnya. Membutuhkan teori/model yang dibuat sendiri, relevan dengan situasi dan kondisi. Mengembangkan lebih jauh informasi yang telah diperoleh melalui penelitian eksploratif-deskriptif.

7 BANGUNAN TEORI : MENGAPA? ALASAN FUNDAMENTAL MENCARI KEBENARAN Kebenaran Macam Apa: Authoritarian? Mystical? Logico-rational? Scientific?

8 PRINCIPAL DISTINCTION PRODUCER PROCEDURE EFFECT AUTHORITARIAN MYSTICAL LOGICO-RATIONAL SCIENTIFIC WHO SAYS NO ? HOW DO YOU KNOW WHAT DIFFERENCE DOES IT MAKE? FOUR WAYS OF GENERATING AND TESTING THE TRUTH OF EMPIRICAL STATEMENTS (Wallace, 1971 : 11 – 16)

9 CARA AUTHORITARIAN Producer : Pengetahuan dicari dan diuji dengan mengacu pada orang yang secara sosial dipandang memenuhi syarat sebagai sumber pengetahuan (pengkotbah, tetua, pendeta, raja, presiden, profesor dsb.) Pengetahuan dicari dan diuji dengan mengacu pada orang yang secara sosial dipandang memenuhi syarat sebagai sumber pengetahuan (pengkotbah, tetua, pendeta, raja, presiden, profesor dsb.) Procedure : Secara esensial tergantung pada posisi sosial dari orang ybs. Sebagai sumber pengetahuan. Secara esensial tergantung pada posisi sosial dari orang ybs. Sebagai sumber pengetahuan. Effects : Bisa berakibat orang ybs. Tidak dipercaya, namun diperlukan bukti-bukti yang cukup banyak. Bisa berakibat orang ybs. Tidak dipercaya, namun diperlukan bukti-bukti yang cukup banyak.

10 CARA MYSTICAL Producer : Pengetahuan bersumber pada orang yang mempunyai otoritas secara supranatural (nabi, paranormal, suhu, dukun dsb.) Procedure : Secara esensial tergantung pada keadaan “berkat” (state of grace) dan kondisi psychophysical pribadi orang ybs. Perlu penyucian ritualistik. Effect : Bisa berakibat orang ybs. Kehilangan wibawa dan tidak dipercayai, namun diperlukan bukti-bukti yang cukup banyak.

11 Cara logico-rational Producer : Siapapun, asalkan pernyataan-pernyataan yang dibuat didasarkan pada prosedur logika formal. Procedure : Bertolak dari rule of formal logic. Effects : Perlu bukti-bukti banyak untuk diskonfirmasi terhadap pengetahuan yang telah diterima.

12 CARA SCIENTIFIC Producer : Siapapun, asalkan mengandalkan pada pengamatan empirik terhadap pernyataan yang dibuatnya pada prosedur (metode) yang digunakan untuk membuat pernyataan-pernyataan itu. Procedure : Mengandalkan pada metode yang memanfaatkan assessment kolektif dan replika dari prosedur tersebut. Effects : Terbuka terhadap kritik ilmiah dan pengetahuan ilmiah yang diperoleh akumulatif.

13 KONSEKUENSI CARI KEBENARAN CARA ILMIAH LANDASAN FILSAFATI ARAS KIBLAT PIKIR ILMIAH HAMPIRAN ILMIAH NILAI – NILAI ILMIAH BAHASA KEILMUAN

14 FILSAFAT ILMU : TIGA LANDASAN ONTOLOGI : Hakekat apa yang dikaji EPISTEMOLOGI : Cara mendapatkan pengetahuan yang benar AKSIOLOGI : Nilai kegunaan ilmu

15 KIBLAT PIKIR : 2 ARAS ABSTRAK Tinggi Teori Tengahan Middle range Rendahan Model GARIS JOI EMPIRIKPeristiwa, Kejadian, Fakta

16 ARAS KIBLAT – PIKIR : Keterikatan Waktu & Ruang TinggiHampir bebas keterikatan Waktu & Ruang TengahanWaktu & Ruang sedikit berpengaruh RendahanWaktu & Ruang masih cukup berpengaruh ABSTRAK EMPIRIK FaktaSangat terikat waktu dan ruang tertentu GARIS JOI

17 HAMPIRAN ILMIAH DUA HAMPIRAN : Deduktif, proses ilmiah dari aras Deduktif, proses ilmiah dari aras Abstrak Empirik Abstrak Empirik Induktif, proses ilmiah dari aras Induktif, proses ilmiah dari aras Empirik Abstrak

18 CONSTRUCTING THEORY; UNDERSTANDING WHAT IS OBSERVED; INDUCTIVE METHODS APPLYING THEORY; KNOWING WHAT TO OBSERVE; DEDUCTIVE METHODS THEORIZING; LOGIC METHODS DOING EMPIRICAL RESEARCH; RESEARCH METHODS Classifications of the Principle Components, Controls, and Transformations of the scientific Process According to Some Conventional Terms.

19 CONCEPT FORMATION, PROPOSITION FORMATION, AND PROPOSITION ARRANGEMENT THEORIES Logical Deduction Hypotheses LOGICAL INFERENCE EMPIRICAL GENERALIZATIONS DECISION TO ACCEPT OR REJECT HYPOTHESES OBSERVATIONS INTERPRETATION, INSTRUMENTATION, SCALING, AND SAMPLING MEASUREMENT, SAMPLE SUMMARIZATION, AND PARAMETER ESTIMATION TESTS OF HYPOTHESES

20 THE SCIENTIFIC PROCESS Mencakup : 5 Principal information components 6 Principal sets of methods

21 KIBLAT PIKIRAN DAN HAMPIRAN ILMIAH Membentuk, memodifikasi kosep/dalil & menata dalil Penalaran, perenungan Amatan Mengukur konsep & menguji dalil / model Abstrak Empirik Hampiran Induktif Hampiran Deduktif Garis JOI

22 NILAI – NILAI ILMIAH (Vercruysse) Netralitas emosionalpendekatan yang tak pribadi Universalismekesyahan yang universal Orientasi persekutuanketerbukaan Individualisme kebebasan pribadi untuk berpikir dan bertindak secara ilmiah dan bertindak secara ilmiah

23 KONSEP DALIL TEORI (MODEL) PARADIGMA Bahasa Keilmuan

24 RELASI BANGUNAN TEORI, METODE PENELITIAN, DAN STATISTIK BANGUNAN TEORI  Konsep  Dalil  Teori (Model)  Asumsi (Paradigma) ABSTRAK EMPIRIK METODE PENELITIAN o Eksploratif o Deskriptif o Explanatoris Statistik Parame trik Non parametrik * Deskriptif * Inferensial

25  BANGUNAN TEORII Alasan Pragmatis Alasan Fundamental Penjelajahan Cari Kebenaran :  Authoritarian ?  Mystical ?  Logico-Rational ?  Scientific ? Landasan Filsafati Kiblat Pikir Hampiran (Strategi) Ilmiah Nilai IlmiahBahasa Keilmuan SITUASI PROBLEMATIK MASALAH PENELITIAN PERSOALAN PENELITIAN PARADIGMA KONSEP * Definisi DALIL TEORI (MODEL) * Spesifikasi Epistemic Correlation Hipotesis Empirik (2) titian Gari s JOI METODE PENELITIAN Aras Ukuran (NOC) Indikator Empirik (2) Ukur Konsep Data Uji Kesahihan Uji Keterandaian Gunakan data Sahih dan Terandai saja Uji Dalil dan atau metode Hipotesis Statistik (2) Uji Hipotesis Statistik (2) Bahasa (PersoalanPenelitian) Simpulan (Persoalan Penelitian) Implikasi Teoritis Implikas Terapan (Policy) HAMPIRAN teRPADU : BANGUNAN TEORI, METODE PENELITIAN DAN STATISTIK

26 2. Konsep ABSTRAK EMPIRIK GARIS JOI

27 KONSEP Apa itu KONSEP ? Bagaimana membuat KONEP ? Aspek-aspek apa dari konsep yang harus dicermati ? ABSTRAK  Bagaimana konsep diukur ?  Bagaimana diketahui bahwa pengukuran terhadap konsep tersebut sahih dan terandal? EMPIRIK

28 KONSEP (CONCEPT, CONSTRUCT) : APA ITU ? Simbol (-simbol) yang digunakan untuk memaknakan fenomena. o Bentuk :  Notasi  Kata tunggal  Kata majemuk  Kalimat pendek Menjadi unsur utama untuk membentuk dalil (model atau teori) Disebut juga : Concept by Postulation

29 TIGA ASPEK DARI KONSEP SIMBOL MAKNA (KONSEPSI) KONSEP Diberi isi dengan Ditunjuk oleh Abstrak Empirik Dikandung dalam Peristiwa, Fakta, Referensi Empirik

30 Simbol Primitif dan Simbol Turunan (Nominal) Macam Simbol Dimengerti Maknanya Melalui Obyeknya Simbol Primitif Lain Simbol Turunan Lain (Nominal) * Primitif YaTidakTidak *Turunan (Nominal) (Nominal) YaYaYa

31 Rekonstruksi Fenomena Menjadi Konsep Simbol : kata/kata – majemuk apa yang tepat untu menangkap fenmena / peristiwa ini? * Konsep apa yang diisi ke dalam simbol ? ABSTRAK EMPIRIK Fenomena / peristiwa GARIS JOI Pertandingna final sepak bola Itali Perancis, Akhbar, menegangkan tetapi menghibur. Italia unggul 1-0 pada menit ke 56. Keungulan Gol Marco Delvecchio buyar pada beberapa detik sebelum peluit akhir pertanidingan; menit ke 94 dalam injury-time melalui gol Sylvian Wiltord. David Trezeguet memastikan Perancis menjadi Juara Euro-2000 melalui Gol kedua pda menit ke 103. Perancis berjaya, menyandi Piala Eropa (2000) dan Piala Dunia (1998). Perancis Berpesta, Italia tunduk kecewa. (Sumber: Kompas, 4 Juli 2000)

32 KONSEP Mental Juara Situasi Hati Yang Tak Pernah Surut Untuk Berusaha ABSTRAK EMPIRIK KOMPAS, 4 Juli 2000 : 13

33 Aspek – aspek konsep Makna Macam Aras – ukuran (level of measurement) Matra

34 Setiap Konsep Harus Diberi Definisi : Mengapa ? Agar : Batas maknanya jelas Tampak aras ukurannya (NOIR) Beri petunjuk mengenai indikator empirik (indikator empirik yang potensial dalam rangka mengukur konsep).

35 STRUKTUR DEFINISI Definiendum Definiens Differentia Specifia Genus Proximum SimbolKonsepsi Konsep Referensi Empirik Garis JOI

36 Contoh struktur definisi DEFINIENDUM =Definies = Genius Proximum + Differentia Specifica 1. Angkatan Kerja =Penduduk+ Usia 10 tahun ke atas yang bekerja atau mencari pekerjaan 2. Status Gizi = Keadaan Tubuh + Anak atau bayi dilihat dari tinggi/berat badan menurut umur 3. Akseptor =Orang+ Yang mempraktekkan salah satu metode kontrasepsi 4. Angka Beban Tanggungan Tanggungan=Perbandingan+ Penduduk usia tidak produktif (di bawah 15 tahun dan 65 tahun le atas) dengan penduduk usia produktif (antara 15 sampai 64 tahun) dikalikan 100 Sumber : (1. BPS ; Indikator Kesejahteraan Anak dan Pemuda, 1996) (2. BPS ; Indikator Kesejahteraan Rakyat, 1995)

37 Definisi Simbol (Definiendum) MAKNA (DEFINIENS) Genus Proximum Defferentia Specifica Kurva Penawanan Hubungan Antara harga pasar dan jumlah yang produsen bersedia memproduksi dan menjual Pendapatan Nasional Nilai Uang Total Dari arus produk akhir suatu komunikasi Likuiditas Kemampuan Keuangan Perusahaan untuk memenuhi kewajibannya yang telah jatuh tempo Modal Kerja Investasi Perusahaan Dalam aktiva jangka pendek Leverage Finansial Perbandingan Antara hutang total dengan aktiva total

38 Stuktur Definisi : ADA YANG SALAH ? Penyediaan kalori atau protein Penganggur Ialah penyediaan kalori atau protein per orang per hari untuk konsumsi dalam negeri. Ialah mereka yang termasuk dalam angkatan kerja yang tidak bekerja tetapi mencari pekerjaan. Luas Lantai Kepadatan Penduduk Kelompok Pertokoan Ialah luas lantai yang ditempati dan digunakan untu keperluan sehari-hari. Ialah rata-rata banyaknya penduduk per kilometer persegi. Adalah kelompok pertokoan yang berada di luar pasar dan sedikitnya ada 10 toko. Sumber : 1.BPS ; Indikator Kesejahteraan Anak dan Pemuda BPS ; Indikator Kesejahteraan Rakyat BPS ; Bahan Statistik Sosial dan Kependudukan 1985.

39 DEFINISI : Jangan Dirakit !  Definisi-definisi asal mungkin memiliki :  Differentia specifica berbeda  Genus proximum berbeda  Aras ukuran berbeda  Definisi rakitan menjadi memiliki batas substansi maka terlalu luas, sulit diukur secara empirik.

40 Merakit definisi : dua praktek yang salah KESALAHAN 1 : Konsep berupa kata mejemuk dicari maknanya dengan meramu definisi dari setiap unsur kata yang membentuk kata majemuk itu. Contoh : Kebijakan Definisi : Genus Proximum Defferentia specifica Pembangunan Definisi : Genus Proximum Defferentia specifica KEBIJAKAN - PEMBANGUNAN Definisi Perakitan : Genus Proximum ? Defferentia specifica ? KESALAHAN 2 : Konsep yang didefinisikan oleh bebrapa ahli atau yang dimaknai keberadaannya berbeda dalam berbagai disiplin ilmu diramu unsur-unsurnya ke dalam satu definisi rakitan Contoh : HARGA Definisi menurut Mikro Ekonomi atau Pakar A : Genus Proximum Defferentia specifica HARGA Definisi menurut Pemasaran atau Pakar B : Genus Proximum Defferentia specifica HARGA Definisi rakitan : Genus Proximum ? Differentia Specifica ?

41 MACAM KONSEP Atribut (Attribute, Categorical Concept) Peubah (Continuous Variable, Variable)

42 ATRIBUT (Attribute, Categorical Concept) PERUBAHAN / VARIABEL (Variable, Continuous Variable)  Konsep mengandung kategori-kategori dari ciri-ciri khas. dari ciri-ciri khas.  Angka yang diberikan kepada setiap kategori hanya bermakna sebagai tanda kategori hanya bermakna sebagai tanda jatidiri, bukan nilai jatidiri, bukan nilai  Konsep mengandung rentangan nilai dari ciri khas, yang dapat dinyatakan secara ciri khas, yang dapat dinyatakan secara kualitatif dan kuantitatif kualitatif dan kuantitatif  Angka yang diberikan dapat bermakna :  posisi relatif dari satu rentangan nilai  besaran dari niali itu sendiri  Ada berbagai pembedaan Variabel

43 VARIABLES Karakteristik dari satuan analisis, yang berubah, memiliki berbagai nilai, kategori atau atribut pada observasi yang berbeda Variables Focus of the research All other variables Quantitative variables Qualitative variables : Explanatory variables : Extraneous variables Dependent variables Independent variables Controlled variables Uncontrolles variables : : Apabila nilai atau kategori veriabel tersebut terdiri atas angka dan jika beda antar kategorinya dapat dinyatakan dengan angka Memiliki kategori-kategori discrete, lasimnya dinyatakan dengan kata atau label, dan beda antara kategori bukanlah angka.

44 VARIABLE Flow VariableNilai berubah cepat Contoh : Tingkat – Penjualan Daur – Kas Variable - Cost Stock VariableNilai berubah lambat Contoh : Investasi Fixed - Cost constant Variable Sangat panjang waktu untuk nilai berubah Note : Flow Variable & Stock Variable berubah karena : Waktu Perkembangan Teknologi Constanta : tidak diketahui penyebab perubahannya

45 ARAS UKURAN Terkait dengan macam konsep Implikasinya kepada pengukuran konsep Aplikasi analisis statistik Macam : Aras Ukuran ATRIBUTE Nominal VARIABLE OrdinalIntervalRatio Analisis Statistik Non Parametric Parametric Modifikasi Aras Ukuran NOIR

46 ARAS UKURAN NominalOrdinalInterval Ratio KUALITATIFKUANTITATIF KONSEP Aras Asal Tidak Dinaikkan aras (?) Ya Aras Asal Ya Dinaikkan ke aras asal (?)

47 INFORMASI TERSEDIA OLEH ARAS UKURAN KONSEP Informasi Tersedia NominalOrdinalIntervalRatio ClassificatonXXXX Rank Order XXX Equal Intervals XX Nonarbitrary Zero X (Singleton Jr., 1988 : 110)

48 KONSEP Pendapatan NominalOrdinalIntervalRatio Rp S/D – Rp Rp – Rp Rp – Rp Rp – Rp Rp – Rp Rendah Agak Rendah Sedang Agak Tinggi Tinggi Berpendapatan Tak Berpendapatan Laki – laki Perempuan ? ? ? Gender Konsep

49 Definisi MENENTUKAN BATAS MAKNA YANG DIKANDUNG KONSEP DEFINDIENDUM = Definiens Genus ProximumDifferentia Specifica Menentukan macam konsep Menentukan aras ukuran konsep Macam Konsep AtributPeubah (Variabel) Nominal Ordinal Cardinal RatioInterval Aras Ukuran Konsep

50 Definisi MENENTUKAN BATAS MAKNA YANG DIKANDUNG KONSEP DEFINDIENDUM = Definiens Genus Proximum Differentia Specifica Karakteristik bedaan spesifik ABSTRAK EMPIRIK Indikator Empirik ? ? ? ?

51 MATRA KONSEP  Unidimensional :  Makna konsep berisi satu Aspek  Aras abstraksi rendah  Dapat langsung diukur secara empirik  Multidimensional :  Makna konsep berisi beberapa Aspek  Aras Abstrak medium atau tinggi  Setiap aspek menjadi sub-konsep unidimensional  Sub-konsep dapat langsung diukur secara empirik

52 konsep Sub- Konsep Indikator Empirik Abstrak Empirik T M R Modal Kerja Komposisi Besaran Jumlah bersih Kecukupan Multi dimensinal Uni dimensional

53 KONSEP MULTIDIMENSIONAL KONSEP SUB-KONSEP Abstrak Empirik INDIKATOR EMPIRIK BELAJAR - KREATIF Kemandirian memutuskan dan mengatasi masalah Originalitas Keterlibatan terhadap tantangan nyata Aktualisasi diri Kebebasan berkreasi IE #1 s/d #4 IE #1 s/d #6 (Bambang Prihardoyo, 1999 : 63)

54 MELINTAS GARIS JOI : MENGUKUR KONSEP MENGAPA ? *Dua Bahasa Bahasa ABSTRAK (Concept By Postulation) APA CARANYA? KONSEP : Makna Epistemic Correlation (Auxiliary Theory) Perlu Titian Bahasa EMPIRIK (Concept By Intuition) Epistemic Correlation (Auxiliary Theory) Suatu pernyataan eksplisit yang secara kasual mentautkan konsep dengan indikator empirik (-indikator empirik) tertentu yang diduga dapat menyadap makna dalam konsep tersebut. INDIKATOR EMPIRIK ISHOMORPHY ? Uji Kesahihan & Keterandalan :

55 DUA BAHASA : Konsep dan Indikator Empirik Terkait dengan Aras Kiblat Pikir Operasionalisasi dan Titian : Epistemic Correlation Bahasa Abstrak : Concept by Postulation Konsep Operasionalisasi Bahasa Empirik : Concept by Postulation Konsep Titian : Epistemic Corelation

56 PENGUKURAN KONSEP Terkait dengan Struktur Definisi Mencakup Dua Hal : –Penentuan aras ukuran Konsep –Penetapan Indikator Empirik Non Parametrik Parametrik Deskriptif Inferensial DEFINIENDUM = Definiens Genus Proximum Differentia Specifica Atribut / Variabel Karakteristik bedaan specifik NOC Konsep Pengkuuran Konsep : Penentuan aras ukuran konsep Penetapan indkator empirik – indikator empirik Implikasi Analisis : Kuantitatif - Statistik Kualitatif – Interpretasi Logis Implikasi Pengujian : Kesahihan (Validity) Keterandalan (Reliability) Format : Perskalan : Kuesioner Pedoman Wawancara

57 DIFFERENTIA SPESIFICA dan INDIKATOR EMPIRIK * PERLU TITIAN : EPISTEMIC CORRELATION DEFINIENDUM = Definiens Differentia Specifica Karakteristik bedaan specifik Genus Proximum Epistemic Correlation Perlu TITIAN : Epistemic Correlation (1)(2)(3)(n) Indikator Empirik (1)(2)(3)(n) Indikator Empirik

58 CONTOH UKUR KONSEP Konsep : Umur Definisi : Umur adalah lama hidup fisik seseorang GARIS JOI EPISTEMIC CORRELATIONS 1. Kapan anda lahir ? 2. Ulang tahun terakhir ini yang dirayakan adl yang ke ………? 3. Bolehkah SIM/KTP anda saya lihat ? 4. Kapan kakak anda lahir dan berapa selisihnya dengan anda ? EPISTEMIC CORRELATIONS : “kapan anda lahir” adalah indikator empirik untuk konsep umur. Tanpa epistemic correlations, indikator empirik #2,3,4 tidak otomatis secara metodologis menjadi indikator empirik untuk konsep umur.

59 ISOMORPHY KONSEPINDIKATOR EMPIRIK KONSEP Definisi Konseptual OperasionalisasiIsomorphy Indikator Empirik Liputan Substantif Alternatif Isomorphy a.b. c. d. Liputan Substantif Definisi konseptual

60 3. DALIL (PROPOSITION) Apa itu Dalil ? Bagaiman membangun Dalil ? Dasar bangunan Dalil? Aspek tautan (linkage) apakah dalam Dalil yang perlu dicermati ? Jenis ? Arah ? Kekuatan ? Sifat tautan kausal ? Nilai informatif dikandung Dalil ? Bagaimana menguji Dalil ?

61 DALIL (PROPOSITION) : APA ITU ? Dalil : suatu pernyataan (statement) tentang sifat fenomena. sifat fenomena. Dua Aspek Dalil :  Apakah arti dari pernyataan tentang sifat fenomena itu ? Teoritis.  Apakah pernyataan tentang sifat fenomena itu benar ? Empirik.

62 Bagaimana membentuk dalil ? Dalil: dibetuk dengan mentautkan dua konsep atau lebih : merupakan suatu NISBAH antara dua konsep atau lebih lebih konsep k1 K2 k1 K2 Dalil Abstrak Empirik

63 Masalah spesifikasi 1. Apa dasar teori untuk mentautkan konsep satu dengan konsep yang lain ? Mempertanyakan identifikasi konsep-konsep yang dapat ditautkan. 2. Apa dasar teori untuk menempatkan satu konsep mendahului konsep yang lainnya? Mempertanyakan struktur dalil : peubah bebas dan peubah gayut. 3. Waspadai tautan – semu (spurious linkage)

64 Spesifikasi dan identifikasi konsep- konsep Teori yang adaHasil penelitian Spesifikasi Penalaran sendiri K1k2 Abstrak Empirik GARIS JOI Ketepatan Spesifikasi tampak dari Spesifikasi Statistik nisbah (koefisien korelasi, koefisien regresi) Besaran Koefisien determinasi (R 2 )

65 SPESIFIKASI DAN STRUKTUR DALIL Spesifikasi menentukan format struktur dalil. format struktur dalil agar dibuat tegas, explisit Peubah bebas (independent Variable) Peubah Antara (Mediating Variable) Peubah Gayut (Dependent Variable) Format sederhana Format kompleks XY X1X2 Y

66 MACAM NISBAH DI DALAM DALIL AsosiatifKausal K1 K2 K1 K2 Abstrak Empirik Catatan :Dalam menalarkan SPESIFIKASI, macam nisbah di dalam dalil harus diuraikan landasan teoritisnya

67 ARAH NISBAH DI DALAM DALIL ASOSIATIF Positif K1K2 K1K2 Negatif K1K2 K1K2 K1 K2 K3 Arah ? Abstrak Empirik GARIS JOI Catatan :Dalam menalarkan SPESIFIKASI, arah nisbah di dalam dalil harus diuraikan landasan teoritisnya

68 Arah nisbah di dalam dalil kausal Positif K1K2 K1K2 Negatif K1K2 K1K2 K1 K2 K3 Arah ? Abstrak Empirik GARIS JOI Catatan :Apalah menalarkan SPESIFIKASI, arah nisbah di dalam dalil harus diuraikan landasan teoritisnya Belum dapat dipastikan (Nisbah Ganda) ?

69 Kekuatan Nisbah Di Dalam Dalil Asosiatif Positif Negatif Belum Dipastikan Asosiatif Positif Negatif Belum Dipastikan Abstrak Empirik GARIS JOI Diperhatikan melalui besaran sekaligus signifikansi statistik nisbah pada (p) tertentu Koefisien korelasi Koefisien regresi

70 SIFAT NISBAH KAUSAL Reversible-Irreversible Deterministic-Stochastic Sequential-Coextensive Sufficient-Contingent Necessary-Substitutable Independent

71 Reversible Apabila X, maka Y dan apabila Y, maka X Ada tenggang waktu antara x→Y untuk berbalik menjadi Y→ X Irreversible Apabila X, maka Y tetapi apabila Y, maka tidak ada kesimpulan apapun tentang X X Y X Y X Y ? Y Abstrak Empirik GARIS JOI

72 Contoh-contoh REVERSIBLE / SIMETRIK time 1 Semakin besar jumlah tabungan, maka semakin besar jumlah bunga. time 2 Semakin besar jumlah bunga, maka semakin besar jumlah tabungan IRREVERSIBLE / ASIMETRIK Semakin tinggi mutu layanan, maka semakin tingi loyalitas pelanggan. Semakin tinggi loyalitas pelanggan, maka tidak ada kesimpulan tentang mutu layanan.

73 Reversible Apabila X, maka Senantiasa Y Irreversible Apabila X, maka mungkin Y X Y X Y Abstrak Empirik Senantiasa Mungkin GARIS JOI

74 CONTOH DETERMINISTIC Semakin besar jumlah tabungan, maka semakin besar jumlah bunga. STOCHASTIC / PROBABILISTIC Semakin tinggi biaya promosi, maka mungkin semakin tinggi jumlah penjualan

75 Reversible Apabila X, maka Kemudian Y Irreversible Apabila X, maka juga Y X Y X Y Abstrak Empirik Kemudian Juga GARIS JOI

76 Dalil yang sequential Semakin sumir supremasi hukum di kemudian hari berdampak pada semakin rendah tingkat kepercayaan investor Dalil yang coextensive Semakin rendah tingkat kepercayaan investor maka semakin lambat pula perkembangan kesempatan kerja

77 Reversible Apabila X, maka Y tanpa perlu sesuatu yang lain. Irreversible Apabila X, maka Y hanya apabila Z X Y X Y Abstrak Empirik Tanpa perlu yang lain Hanya apabila Z GARIS JOI

78  DALIL YANG SUFFICIENT Semakin tinggi nilai agunan semakin tinggi pula jumlah kredit yang bisa diambil, tanpa perlu yang lain.  Dalil yang contingent Jika status gizi meningkat maka tingkat kesehatan seseorang juga akan meningkat hanya apa bila sistem pencernaan berfungsi dengan baik

79 Reversible Apabila X, dan hanya apabila X maka Y Irreversible Apabila X, maka Y namun apabila Z, maka juga Y X Y X Y Abstrak Empirik Hanya apabila X GARIS JOI Z Atau

80 Contoh dalil necessary Semakin tinggi tingkat Kepuasan pegawai dan hanya semakin puas pegwai maka semakin tinggi loyalitasnya Contoh dalil substitutable Semakin tinggi insentive atau semakin tinggi penghargaan maka semakin tinggi produktivitas karyawan

81 INTERDEPENDENT * Apabila X berubah dari X1 ke X2, sedangkan X2=X1+Δ X, maka dan ini merupakan yang satu-satunya Y berubah dari Y1 menjadi Y2 (=Y1+Δ Y); kemudian apabila Y berubah dari Y1 ke Y2, maka dan ini merupakan yang satu-satunya X selanjutnya berubah lagi dari X2 menjadi X2 +Δ X, dst. * Merupakan penggabungan sifat-sifat - Reversible - Sequential - Contingent Abstrak Empirik GARIS JOI

82 Contoh dalil in-terdependent  Semakin banyak biaya penelitian dan pengembangan produk yang selanjutnya ini satu-satunya, semakin tinggi jumlah penjualan di kemudian hari  Semakin tinggi jumlah penjualan maka selanjutnya ini merupakan satu-satunya, mendorong semakin banyak pula biaya penelitian dan pengembangan produk.

83 Apabila Ada Kelemahan Spesifikasi Tidak jelas peubah bebas, peubah antara, dan atau peubah gayut. Re : Max Weber, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism Peubah Bebas Peubah Gayut Peubah Bebas Peubah Gayut 1. The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism 2. The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism 3. The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism 4. The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism Terjebak tautan-tautan (Spurious linkage) X1 X2 Y Semu (Spurious) Stress Merokok Kanker Semu (Spurious)

84 TAUTAN SEMU (SPURIOUS LINKAGE) X1X2 Y Contoh Kondisi Stress Tindakan Merokok Derita Kanker

85 Peristiwa (berita koran) : Seorang pemuda berambut gondrong ditangkap polisi karena menjambret kalung emas yang dipakai seorang ibu hamil di Pasar Raya I - Salatiga Abstrak Empirik Gaya HidupKriminalitas ?

86 Rumusan dalil  “If – then” Statements Apabila …………, maka ………..  Mathematical statements Y = f(x) : Y adalah fungsi dari X  Continuous Statements Semakin besar…., semakin besar …..  Difference Statements Menyatakan bahwa satu variable berbeda menurut kategori dari variable lainnya. “orang berpendidikan tinggi kurang berprasangka ketimbang orang berpendidikan rendah”.

87 Dalil 1 Semakin tinggi tingkat kekhasan pemasok dan produsen, maka akan semakin tinggi pula orientasi kemitraan pemasok dan produsen. Dalil 2 Semakin tinggi tingkat kekhasan pemasok dan produsen, maka akan semakin tinggi pula tingkat posisi tawar pemasok dan produsen Dalil 3 Semakin tinggi tingkat kekhasan pemasok dan produsen, maka akan semakin tinggi pula dampak kemitraan yang diperoleh pemasok dan produsen. Abstrak Empirik (Agus Hermawan, 1998 : 42,43,45)

88 MELINTAS GARIS JOI : MENGUKUR KONSEP MENGAPA ? *Dua Bahasa Bahasa ABSTRAK (Concept By Postulation) APA CARANYA? Dalil & Model : Apakah pernyataan tentang sifat fenomenon itu benar? Hipotesis Empirik (Empirical Hypothesis) Perlu Titian Bahasa EMPIRIK (Concept By Intuition) Hipotesis Empirik (Empirical hypothesis) “suatu pernyataan yang mentautkan skor/nilai dari konsep yang satu dengan skor/nilai dari konsep lainnya”. Hipotesis Statistik Uji Signifikansi: H o : ? H a : ?

89 Proses pengujian dalil 1. Merumuskan dalil. 2. Menurunkan dalil ke aras rendah (jika dalil aslinya pada aras tengah atau tinggi) → dengan cara menurunkan konsep ke sub konsep, atau sub konsep ke sub-sub konsep. 3. Merumuskan hipotesis empiris yaitu pernyataan nisbah tentang indikator empiris dari konsep – konsep yang membentuk dalil rendahan. 4. Memilah alat analisis untuk menguji dalil. 5. Merumuskan hipotesis statistik. 6. Menganalisis data untuk mendapatkan koefisien korelasi/regresi. 7. Uji hipotesis dan menginterpretasikan.

90 Menguji dalil & metode Definisi : Genus Proximum + Differentia Specifica Substansi Makna Aras Ukuran Konsep (NOC) Atribut / Variabel ? Tunjukkan Karakteristik bedaan spesifik Picu Intuisi tentang Indikator empirik Epistemic Correlation TITIAN : Indikator Empirik Data KONSEP (K 1 )DALILKONSEP (K 2 ) Hipotesis Empirik Hipotesisi Statistik Uji Statistik Genus Proximum + Differentia Specifica Substansi Makna Aras Ukuran Konsep (NOC) Atribut / Variabel ? Tunjukkan Karakteristik bedaan spesifik Picu Intuisi tentang Indikator empirik Epistemic Correlation Indikator Empirik Data Definisi :

91 Melintas garis – joi : pengujian dalil 1.Rumuskan Dalil : Cermati Spesifikasi Semakin Tinggi Tingkat Inflasi, Maka Semakin Rendah Daya Beli. 2.Rumuskan Hipotesis Empirik 3.Rumuskan Hipotesis Statistik Tingkat Inflasi Daya Beli Dalil HE Semakin Tinggi Prosentasi Perubahan Harga Rata-rata Barang, Maka Semakin Kecil Prosentase Jumlah Barang yang Mampu Dibeli % Perubahan Harga Rata-rata Sembako % Perubahan Jumlah Rata-rata Sembako Yang Bisa Dibeli HS

92 DALIL Posisi - tawarTingkat Kepuasan (kemampuan untuk mendesakkan keinginan sendiri dalam negosiasi antara satu unsur bisnis dengan unsur kemitraan bisnis lainnya) (capaian pemenuhan kebutuhan oleh adanya kegiatan kemitraan usaha) Apakah Anda selalu dapat mendesakkan agar harga yang Anda tawarkan diterima ? Apakah Anda puas dengan perkembangan usaha Anda sebagai hasil kegiatan bertransaksi produk X dengan mitra usaha M ? Hampir tidak Jarang Tidak berpendapat Sering Sangat sering Data : Skor Puas / Tidak Puas Data : identifikasi kategori Analisis : ? k IE KR

93 DALIL Posisi - tawarTingkat Kepuasan (kemampuan untuk mendesakkan keinginan sendiri dalam negosiasi antara satu unsur bisnis denganunsur kemitraan bisnis lainnya) (capaian pemenuhan kebutuhan oleh adanya kegiatan kemitraan usaha) k IE Apakah harga produk X yang Anda desakkan pada mitra usaha telah menyebabkan usaha Anda berkembang ? Ya / Tidak Respon yang merupakan uraian Data : ? Analisis : ? KR

94 TAHAP PENGUJIAN DALIL Konsep X Konsep Y Dalil IE1IE2IE3IE4IE5IE6 r r r r r r GARIS JOI 1 Uji signifikansi koefisien r pda tertentu, banding Nilai Hitung terhadp Nilai Tabel 2 Kuat/Lemah Koefisien r 1 Uji Signifikansi koefisien r pada tertentu : banding Nilai Nilai Hitung Terhadap Nilai Tabel 2 Kuat/Lemah Koefisien r Hipotesis Statistik 1.Uji Signifikansi Koefisien yang relevan 2.Keputusan Terima/Tidak Hipotesis Statistik (Ho/Ha) II. Uji Dalil I. Uji Kesahihan & Keterandalan IE

95 4.TEORI Apa itu teori ? Bagaimana Membangun Teori ? Apakah Teori Sama Dengan Model ? Tatanan Model / Teori ? Dasar Tatanan : kelengkapan spesifikasi Uji Kelengkapan Spesifikasi : R 2 Alternatif Bentuk Tatanan ? Apa Wujud Paparan Teori / Model ? Bagaimana Menguji Model ?

96 TEORI (Sering disebut Model) Merupakan suatu sistem dalil-dalil, atau suatu rangkaian terpadu antara dalil. Dilihat dari sudut proses pebentukan tidak ada beda antara model dan toeri. Perbedaannya dalam nilai informasi.

97 Konsep AKonsep B Konsep C Konsep D DALIL 1 Konsep AKonsep C Konsep B Konsep D DALIL 2 DALIL 3 Konsep BKonsep D MODEL (TEORI) Konsep AKonsep C Konsep B Konsep D

98 CONTOH 1 Konsep : Motivasi berprestasi Belajar kreatif Dalil :Semakin tinggi Motiasi-berprestasi Maka semakin tinggi belajar-kreatif CONTOH 2 Konsep : Motivasi Afiliasi Penguasaan materi pembelajaran Dalil :Semakin kuat Motivasi-afiliasi Maka semakin dalam Penguasaan Materi Pembelajaran

99 BENTUK UMUM TATANAN MODEL / TEORI Seperangkat peubah bebas dengan satu peubah gayut. Satu peubah bebas dengan seperangkat peubah gayut Pola mata rantai Bentuk kompleks Matriks Format aksiomatik : Melalui reduksi definisi Melalui reduksi definisi Melalui reduksi dalil Melalui reduksi dalil (Format Aksiomatik tidak dibicarakan)

100 I. Seperangkat peubah bebas dengan satu peubah gayut. X1 X2 X3 X1 X2 X3 X1 X2 X3 Y Y Y

101 II. Satu peubah bebas dengan seperangkat peubah gayut. X Y1 Y2 Y3 Y4

102 III. Model Matarantai X1 X2 Y X3 X4

103 IV. Model Kompleks X1 X4 X6 Y1 X2 X5 X3 X7 Y2

104 V. Matriks → Dalil Simetrik Peubah X1 X2 X3 Y X1X11 X12 X13 X1Y X1X11 X12 X13 X1Y X2X21 X22 X23 X2Y X2X21 X22 X23 X2Y X3 X31 X32 X33 X3Y X3 X31 X32 X33 X3Y Y YX1 YX2 YX3 YY Y YX1 YX2 YX3 YY Peubah Bebas (Independent Variable) Waspadai contoh berikut : X21 ≠ X12 ? Mengapa ? Peubah Gayut (Dependent Variable)

105 TATANAN MODEL-4 VARIABEL 4 Variabel : X 1, X 2, X 3, dan X 4 Asumsi : X 4 tidak mempengaruhi X 1, X 2, X 3 X 3 tidak mempengaruhi X 1 atau X 2 X 3 tidak mempengaruhi X 1 atau X 2 X 2 tidak mempengaruhi X 1 X 2 tidak mempengaruhi X 1

106 MODE 5 NISBAH A BC X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 DEF

107 MODEL 4 NISBAH ABC X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 DEF X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 GHI X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3

108 JKL X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 MNO X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3

109 MODEL 3 NISBAH ABC X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 DEF X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 GHI X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3

110 JKL X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 M NO X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 PQ R X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 S X1X1 X2X2 X4X4 X3X3 T X1X1 X2X2 X4X4 X3X3

111 Tingkat Kekhasan Orientasi Kemitraan Tingkat Kepuasan Dampak Kemitraan Posisi TAwar Abstrak Empirik

112 WUJUD PAPARAN SUATU MODEL / TEORI Verbal Verbal Matematik Matematik Grafis / Kurva Grafis / Kurva

113 NILAI INFORMATIF KONSEP, DALIL DAN MODEL TEORITIS TENGAHAN RENDAHAN KONSEP ARAS TEORITIS DALIL ARAS TEORITIS TEORI UMUM KONSEP ARAS TENGAHAN DALIL ARAS TENGAHAN TEORI TENGAHAN KONSEP ARAS RENDAHAN DALIL ARAS RENDAHAN MODEL EPISTEMIC CORRELATION HIPOTESIS EMPIRIKHIPOTESISI EMPIRIK ABSTRAK EMPIRIK INDIKATOR EMPIRIK HIPOTESIS STATISTIK HIPOTESIS STATISTIK (2) PENGUKURAN KONSEP PENGUJIAN DALIL DAN MODEL

114 CONTOH: MODEL AWAL Motivasi berprestasi Motivasi afiliasi Belajar kreatif Penguasaan Materi Akuntansi Penguasaan Materi Komputer Hasil magang Model dibangun berlandaskan SPESIFIKASI yang secara teoritis dapat dipertanggungjawabkan (Bambang Prishardoyo, 1999)

115 MODEL AWAL Motivasi berprestasi Motivasi afiliasi Belajar kreatif Penguasaan Materi Akuntansi Penguasaan Materi Komputer 0, ,0114*) 0,0778*) 0,2799 0,2876 0,3741 0,3637 Hasil magang Catatan : *) Ditolak (Bambang Prishardoyo, 1999)

116 DALIL (MODEL) HARUS TERBUKTI ? Motivasi berprestasi Motivasi afiliasi Belajar kreatif Penguasaan Materi Akuntansi Penguasaan Materi Komputer Hasil magang ? ? Catatan : ? : bagaimana menjelaskan hasil uji empirik ini apabila spesifikasi telah benar. (Bambang Prishardoyo, 1999)

117 5. Paradigma (paradigm) APA ITU PARADIGMA ? CITRA FUNDAMENTAL ? TITIK – PANDANG ? ASUMSI ? BAGAIMANA MEMBUAT ASUMSI ? MENGAPA PERLU ASUMSI ? APAKAH ASUMSI PERLU DIUJI ?

118 PARADIGMA (PARADIGM) Ada 21 makna, antara lain : Citra Fundamental dari pokok permasalahan di dalam suatu ilmu Menggariskan : –Apa yang seharusnya diperlajari, pertanyaan-pertanyaan apa yang yang seharusnya dikemukakan, –Bagaimana pertanyaan-pertanyaan itu dikemukakan, dan –Kaidah-kaidah apa yang seharusnya diikuti dalam menafsirkan jawaban yang diperoleh. Titik – pandang disertai seperangkar asumsi tersirat atau tersurat tentang fenomena atau pokok permasalahan sekaligus merupakan bingkai bagi suatu gagasan ilmiah. Landasan Ontologi Landasan Epistamologi

119 PARADIGMA KUHN PARADIGMA YANG SEDANG DIGUNAKAN (I) NORMAL SCIENCE ANOMALIES NORMAL SCIENCE REVOLUSI KEILMUAN PARADIGMA BARU (II) (PARADIGMA KUHN) KEMAJUAN ILMU, MELALUI : AKUMULASI PENGETAHUAN BARU REVOLUSI KEILMUAN

120 PARADIGMA Sebuah titik pandang disertai seperangkat asumsi tersirat dan tersurat tentang fenomena atau pokok permasalahan dan sekaligus merupakan bingkai bagi sebuah gagasan ilmiah.

121 Paradigma sebagai titik pandang Menentukan apa yang ditelaah atau diteliti (landasan ontologi) dan bagaimana meneliti (landasan epistemologi)

122 PARADIGMA SEBAGAI ASUMSI Memberi bingkai terhadap apa yang ditelaah atau diteliti sehingga dapat diteliti Memberi fokus pada hal yang diteliti Butir-butir asumsi itu sendiri tidak perlu dibuktikan terlebih dahulu parihal kebenarannya.

123 PERLU ASUMSI : MENGAPA ? KONSEP DALIL TEORI Abstrak Empirik AMATAN REALITAS : LUAS, KOMPLEKS, DINAMIK

124 BAGAIMANA MEMBUAT ASUMSI ?  Penad dengan masalah dan persoalan yang dikaji.  Disimpulkan dari keadaaan sebagaimana adanya, bukan keadaan yang seharusnya.  Dibuat tegas, jangan tersirat.

125 PARADIGMA ∞ ASUMSI ASUMSI : Kondisi yang dianggap tetap/tak berubah di sekaliling Model, Profile atau Persoalan Penelitian diteliti/dibuktikan. Kondisi ini dianggap benar tanpa harus dibuktikan terlebih dahulu. Attribute atau Variables lain (diluar dari yang diteliti) yang dianggap tetap dan atau tidak mempengaruhi konsep-konsep yang digunakan dalam Model, Profile atau Persoalan Penelitian yang diteliti Model Kausal X1X1 X2X2 X3X3 Y Model Assosiatif X1X2 Y Profile Y

126 CONTOH ASUMSI Persoalan Penelitian : 1. atribut-atribut apa yang menjadi pertimbangan (dihargai) oleh pelanggan dalam membeli rokok LA Light atau roko A Mild ? 2. Bagaimana urutan skala prioritas kepentingan (bobot) dari atribut- atribut tersebut ?\ 3. Bagaimana kekuatan dan kelemahan (unjuk kerja) rokok LA Light dibandingkan rokok A Mild dari analisis nilai pelanggan ? Asumsi : Konsumen mampu untuk mengkuantifikasikan pendapatnya terhadap suatu pernyataan Berikan Nalarnya ! (Laura Boentaran, 1998 : 8,26)

127 SITUASI PROBLEMATIK (Esai) Masalah penelitian : Mengkaji signifikansi nisbah beberapa peubah strategis yang enentukan hasil magang siswa kurus program kelompok Persoalan Penelitian : 1.Seberapa jauh pengaruh motivasi berprestasi terhadap belajar kreatif ? 2.Seberapa jauh pengaruh belajar kreatif terhadap penguasaan materi pembelajaran ? 3.Seberapa jauh pengaruh motivasi terhadap penguasaan materi pembelajaran ? 4.Seberapa jauh pengeruh penguasaan materi pembelajaran terhadap hasil magang ? Konsep (-konsep) Motivasi berprestasi Belajar kreatif Penguasaan materi pembelajaran Motivasi afiliasi Hasil -magang Asumsi : Faktor lain di luar konsep-konsep yang diteliti seperti sarana dan prasarana dan bidang tugas para praktikan di perusahaan tempat praktiek adalah sama. Sumber daya pendidkan pada proses pembelajaran diatur berdasarkan standardisasi nasional kondisi sosial dan lingkungan kerja di perusahaan tempat praktek memberi kesempatan yang sama kepada setiap peserta magang

128 MEMBANDINGKAN MODEL ATAU TEORI (Wallace 1971) KRITERIA MODEL/TEORI A MODEL/TEORI B MODEL/TEORI C MODEL/TEORI N Teba Teba – Substantive – Spatio Temporal Aras Abstraksi Aras Abstraksi – Tingi – Tengah – Rendahan Bernas ( Parsimony) Bernas ( Parsimony) Ketepatan Bahasa Ketepatan Bahasa – Determinacy – Universality – Flexibility – Abstractness Kriteria Nan Lin (1976) : Parsimony of its structure Accuracy of its explanation Its pervasiveness over different social phenomena

129 Melintas Garis-JOI : MENGAPA ? Dua Bahasa Bahasa Abstrak (Concept By Postulation) Bahasa Empirik (Concept By intuition) Mengukur Konsep → Substansi makna (konsepsi) Menguji Dalil & Model → Apakah pernyataan tentang sifat fenomena itu benar ? Perlu Titian : Ukuran konsep → Epistemic Correlation (Auxiliary – Theory) Uji Dalil & Model → Hipotesis Empirik (Empirical – Hypothesis)

130 Meneliti : Mengapa ? Verifikasi dan Menguji Teori Membantu Kembangkan Teori Robert K. Merton (2967 : 257) “It initiates, it reformulates, it deflects and it clarifies theory”.

131 Sumbangsih penelitian terhadap teori (Robert K. Merton, 1967 : 157 – 171) The Unanticipated, Anomalous and Strategic Datum Exerts Pressure for Initiating Theory (The Serendipity Pattern) New Data Exert Pressure for the Elaboration of a Conceptual Scheme (The Recasting of Theory) New Methods of Empirical Research Exert Pressure of New Foci of Theoretic Interest (The Re-focusing of Theoretic Interest) Empirical Research Exerts Pressure for clear Concepts (The Clarification of Concepts).

132 “ The Most difficult portion of any inguiry is its initiation. One may have the most rigorous of methods during the later stages of investigation, but if a false or superficial beginning has been made, rigor later on will naver retrieve the situation” (F.S.C. Northrop, 1969 : 1) (F.S.C. Northrop, 1969 : 1)

133 SITUASI PROBLEMATIK FORMULASI MASALAH PENELITIAN (RESEARCH ISSUES) FORMULASI PERSOALAN (2) PENELITIAN (RESEARCH PROBLEMS) SIFAT PENELITIAN JENIS PENELITIAN EXPLORATORY DESCRIPTIVE EXPLANATORY KUALITATIFKUANTITATIF SATUAN ANALISIS SATUAN ANALISIS&KONSEP(-KONSEP) SAMPLINGPENGUKURAN PENGUMPULAN DATA ANALISIS DATA STATISTIK STATISTIKANALISISPARAMETRIK NON PARAMETRIK DESKRIPTIF INFERENSIAL INTERPRETASI & PELAPOR Analisis kualitatif TEORI POLICY / TERAPAN Integrasi Temuan ke dalam Teori Integrasi Temuan ke dalam Policy/Terapan

134 SITUASI PROBLEMATIK APA ITU ? APA SUMBERNYA? APA DORONGAN UNTUK MEMPERHATIKAN SITUASI PROBLEMATIK TERTENTU? BAGAIMANA MELAHIRKANNYA ? APA BENTUKNYA ? ABSTRAK EMPIRIK

135 APA ITU ? LANGKAH PERTAMA UNTUK MENELITI “HAL YANG GAGASAN –GAGASAN TENTANGNYA MASIH KABUR ATAU MENIMBULKAN KERAGUAN SEHINGGA MEMICU ILMUWAN ATAU PENELITI MEMPERTANYAKAN UNTUK MEMPEROLEH PENGGAMBARAN DAN ATAU PENJELASAN”. (IHALAUW,1985) SITUASI PROBLEMATIK ABSTRAK EMPIRIK

136 SITUASI PROBLEMATIK TEORI MENGUJI TEORI YANG ADA MENGGUNAKANNYA UNTUK MENERANGKAN FENOMENA MEMPERTANYAKAN KESENJANGAN ANRATA TEORI DAN KENYATAAN EMPIRIK HASIL PENELITIAN MEMPERTANYAKAN DAN ATAU MENINDAK LANJUTI TEMUAN YANG DILAPORKAN DLAM JURNAL ILMIAH/DISERTASI/TESIS/SKRIPSI PERTEMUAN ILMIAH MEMPERTANYAKAN HAL-HAL YANG DIBAHAS DALAM SEMINAR/LOKA KARYA/KONFERENSI/DISKUSI INFORMAL PENGALAMAN MEMPERTANYAKAN DAN MEREKONSTRUKSI DATA SEKUNDER, PENGAMATAN KEGIATAN KERJADAN PENGAMATAN LAIN ABSTRAK EMPIRIKPERISTIWA/ FAKTA MEMPERTANYAKAN PERISTIWA, FAKTA, GELAJA YANG TERJADI REALITAS YANG KOMPLEKS DANSENANTIASA BEROBAH

137 Hal yang gagasan- gagasan tentangnya masih kabur, atau menimbulkan keraguan-keraguan; memicu ilmuwan atau peneliti mempertanyakan untuk memperoleh penggambaran dan atau penjelasan. Bentuk : Esai SITUASI PROBLEMATIK TEORI PENGALAMAN DISKUSI HASIL PENELITIAN PERENUNGAN KENYATAAN EMPIRIK PERISTIWA ? ? ? ? ? ?

138 SITUASI PROBLEMATIK APA YANG MENDORONG PERHATIAN ? RASA INGIN TAHU KREDENSIAL ATAU KARIER MASALAH PRIBADI MINAT & KOMITMEN PRIBADI KONTRIBUSI TERHADAP PENGETAHUAN ILMIAH YANG DITEKUNI JAWABAN TERHADAP MASLAAH INTELEKTUAL TERKINI PERTISIPASI DALAM DEBAT INTELEKTUAL KEMBANGKAN TOERI KONTRIBUSI PENYELESAIAN MASALAH KEMASYARAKATAN TOLONG KELOMPOK, KOMUNIKASI, ORGANISASI MENCAPAI TUJUAN BANTU PENGEMBANGAN KEBIJAKAN (POLICY) KONTRIBUSI PENGAMBILAN KEPUTUSAN DI SEKTOR PUBLIK ATAU SWASTA RANAH TEORI DAN PENELITIAN DALAM DISIPLIN ILMU PENELITIAN MAUPUN DISIPLIN TERKAIT PERJELAJAHAN TEORI, MODEL DAN PENELITIAN YANG ADA EMPIRIK ABSTRAK PRIBADI : AKADEMIK : SOSIAL : LITERATUR MOTIVESMOTIVES

139 SITUASI PROBLEMATIK BAGAIMANA MELAHIRKANNYA ? PERTANYAKAN SECARA KRITIS DAN TEPAT TERHADAP HAL YANG ADA DALAM SUMBER SITUASI PROBLEMATIK BISA TERJADI BERULANG KALI BELUM PERNAH DIPERHATIKAN PIHAK LAIN → NOVELTY BELUM PERNAH DIPERHATIKAN PIHAK LAIN → NOVELTY ABSTRAK EMPIRIK

140 SITUASI PROBLEMATIK APA BENTUKNYA ? ESAI MENCERMINKAN PENJELAJAHAN YANG MENYELURUH TERHADAP LITERATUR AGAR TAMPAK : MANA YANG TELAH DIKETAHUUI MANA YANG TELAH DIKETAHUUI MANA YANG SEDANG DITELITI PIHAK LAIN MANA YANG SEDANG DITELITI PIHAK LAIN MANA YANG MASIH DIRAGUKAN MANA YANG BELUM MENDAPAT PERHATIAN CERMATI PENUNJUKAN DAN PENULISN REFERENSI/ACUAN → HINDARI PLAGIARISME ABSTRAK EMPIRIK

141 SITUASI PROBLEMATIK MASALAH PENELITIAN (RESEARCH ISSUE) MERUPAKAN SIMPULAN DARI SITUASI PROBLEMATIK MEMPERLIHATKAN RANAH DARI HAL YANG DIMINATI & BELUM DIPERHATIKAN ORANG LAIN → NOVELITY MERUPAKAN PENUNJUK YANG MASIH SANGAT UMUM SERING DISEBUT SEBAGAI TOPIK PENELITIAN (RESEARCH TOPIC) ABSTRAK EMPIRIK APA ITU ?

142 PERNYATAAN MAKSIMAL 10 – 12 KATA CONTOH : ABSENTEISME DALAM SEKTOR PUBLIK: STUDI KASUS TERHADAP PERAWAT DI RUMAH SAKIT PEMERINTAH INDUSTRIALISASI URBANISASI DAN KENAKALAN REMAJA DI KOTA “XYZ” PLAGIARISME OLEH MAHASISWA DI UNIVERSITAS “KLM” USIA DAN ENVIRONMEN-TALISME: SUATU UJI HIPOTESIS-HIPOTESIS YANG BERBEDA SITUASI PROBLEMATIK MASALAH PENELITIAN ABSTRAK EMPIRIK BENTUKNYA

143 SITUASI PROBLEMATIK MASALAH PENELITIAN (RESEARCH ISSUE) MERUPAKAN SIMPULAN DARI SITUASI PROBLEMATIK MEMPERLIHATKAN RANAH DARI HAL YANG DIMINATI & BELUM DIPERHATIKAN ORANG LAIN → NOVELITY MERUPAKAN PENUNJUK YANG MASIH SANGAT UMUM SERING DISEBUT SEBAGAI TOPIK PENELITIAN (RESEARCH TOPIC) ABSTRAK EMPIRIK APA ITU ?

144 SITUASI PROBLEMATIK MASALAH PENELITIAN PERSOALAN PENELITIAN PERTANYAAN (-PERTANYAAN) YANG JADI FOKUS DI DALAM MASALAH PENELITIAN DI DALAMNYA TERKANDUNG KONSEP (-KONSEP) UTAMA (KEY CONCEPT) YANG AKAN DITELITI RUMUSANNYA TERUKUR, DAPAT DITELITI (RESEARCHABLE) ABSTRAK EMPIRIK APA ITU ?

145 SITUASI PROBLEMATIK MASALAH PENELITIAN PERSOALAN PENELITIAN PROFIL KONSEP DALIL –PERBANDINGAN PROFIL KONSEP –PERBANDINGAN DALIL –MODEL –PERBANDINGAN MODEL –GABUNGAN BERBAGAI ALTERNATIF K1K1 K1K1 K1K1 K1K1 A B K2K2 K2K2 K1K1 K2K2 K1K1 AB K2K2 K1K1 K3K3 K2K2 K1K1 K3K3 K2K2 K1K1 K3K3 A B ABSTRAK EMPIRIK KATEGORI

146 SITUASI PROBLEMATIK MASALAH PENELITIAN PERSOALAN PENELITIAN BENTUK : PERNYATAAN (-PERNYATAAN) (?) TIPE : PERNYATAAN “APA (WHAT)” ? PERTANYAAN MENGAPA “(WHY)” ? PERTANYAAN “BAGAIMANA(HOW)” ? PERTANYAAN “SIAPA, DIMANA, SEBERAPA BANYAK, SEBERAPA BESAR ADALAH VARIANT DARI PERTANYAAN “APA” BENTUK & TIPE ABSTRAK EMPIRIK

147 SITUASI PROBLEMATIK MASALAH PENELITIAN PERSOALAN PENELITIAN MENGHENDAKI JAWABAN DESKRIPTIF MENGARAH KE PENEMUAN (DISCOVERING) DAN PENGGAMBARAN (DESCRIBING) DARI : –KARAKTERISTIK –POLA - POLA FENOMENA TIPE “APA (WHAT)” ABSTRAK EMPIRIK

148 MEMPERTANYAKAN PENYEBAB/ALASAN DARI ADANYA KARAKTERISTIK ATAU POLA FENOMENA TERTENTU’ MENGARAH KE PEMAHAMAN (UNDERSTANDING) ATAU PENJELASAN (EXPLAINING) NISBAH ANTARA PERISTIWA/DALAM KEGIATAN, DAN PROSES TERTENTU SITUASI PROBLEMATIK MASALAH PENELITIAN PERSOALAN PENELITIAN TIPE “MENGAPA (WHY)” ABSTRAK EMPIRIK

149 SITUASI PROBLEMATIK MASALAH PENELITIAN PERSOALAN PENELITIAN MENGUSAHAKAN PERUBAHAN DENGAN HASIL-HASIL PRAKTIS DAN INTERVENSI PRAKTIS TIPE “BAGAIMANA (HOW)” ABSTRAK EMPIRIK

150 SITUASI PROBLEMATIK MASALAH PENELITIAN PERSOALAN PENELITIAN TUJUAN YANG DICAPAI TIPE PERSOALAN PENELITIAN PENELITIAN DASAR PENELITIAN TERAPAN PENJAJAGAN PENGGAMBARAN PERAMALAN PEMAHAMAN PENJELASAN PENILAIAN PENGKAJIAN DAMPAK PENILAIAN PENGKAJIAN DAMPAK PERUBAHAN APA ? MENGAPA ? BAGAIMANA ? ABSTRAK EMPIRIK

151 SITUASI PROBLEMATIK MASALAH PENELITIAN PERSOALAN PENELITIAN KOSNEP (-KONSEP) UTAMA STRATEGI PENELITIAN RANCANGAN PENELITIAN MODEL ABSTRAK EMPIRIK

152 SITUASI PROBLEMATIK MASALAH PENELITIAN PERSOALAN PENELITIAN IDENTIFIKASI KONSEP (-KONSEP) UTAMA YANG ADA DALAM SETIAP PERSOALAN PENELITIAN ; DAPAT BERBENTUK “KATA TUNGGAL, KATA MAJEMUK, KALIMAT PENDEK, ATAU NOTASI” ; IMPLIKASI TERHADAP DEFINISI, JENIS ARAS UKURAN, DAN MATRA KONSEP ; IMPLIKASI TERHADAP SPESIFIKASI ; PENUNJUK KE PENJELAJAHAN DAN TELAAHAN LITERATUR DALAM DISIPLIN ILMU TERKAIT. ABSTRAK EMPIRIK KONSEP ( - KONSEP) UTAMA (KEY CONCEPT)

153 SITUASI PROBLEMATIK MASALAH PENELITIAN PERSOALAN PENELITIAN KOSNEP UTAMASTRATEGI PENELITIAN RANCANGAN PENELITIAN MODEL TUJUH TIPE MODEL (BLAIKIE, 2000 : 166) : DISTRIPSI ABSTRAK SINONIM UNTUK TEORI MODEL KONSEP TUAL MODEL TEORITIS ANALOGI DARI MEKANISME PAPARAN DIAGRAMATIK PAPARAN MATEMATIK SERING DIPAHAMI SEBAGAI : DESKRIPSI ABSTRAK DARI REALITAS OLEH PEMINAT AKUNTANSI SISTEM DALIL-DALIL (TAUTAN ANTAR DALIL) PADA ARAS ABSTRAK RENDAH YANG DIPAPARKAN SECARA DIAGRAMATIKATAU MATEMATIK OLEH PEMINAT MANAJEMEN, DAN EKONOMI PEMBANGUNAN ABSTRAK EMPIRIK

154 SITUASI PROBLEMATIK MASALAH PENELITIAN PERSOALAN PENELITIAN KOSNEP (-KONSEP) UTAMA RANCANGAN PENELITIAN MODEL STRATEGI PENELITIAN (BLAIKIE, 2000 : 100 – 127) INDUKTIFDEDUKTIFRETRODUKTIFABDUKTIF ABSTRAK EMPIRIK

155 SITUASI PROBLEMATIK MASALAH PENELITIAN PERSOALAN PENELITIAN KONSEP UTAMA MODEL STRATEGI PENELITIAN RANCANGAN PENELITIAN (RESEARH DESIGN) “CETAK-BIRU UNTUK PENGUMPULAN, PENGUKURAN, DAN ANALISIS DATA YANG DIGUNAKAN UNTUK MENJAWAB PERSOALAN PENELITIAN”. KLASIFIKASI DESIGN : 8 PERSPEKTIF (COOPER DAN EMORY, 1995 : 115 – 117) DERAJAD KRISTALISASI MASALAH METODE KUMPUL DATA TUJUAN PENELITIAN MATRA WAKTU TEBA (LUASAN & DALAMAN) PENELITIAN LINGKUNGAN SEKITARAN PENELITIAN PERSEPSI SUBYEK PENELITIAN TENTANG PENYIMPANGAN DARI KEGIATAN RUTIN KENDALI PENELITIAN TERHADAP VARIABEL ABSTRAK EMPIRIK

156 SITUASI PROBLEMATIK MASALAH PENELITIAN PERSOALAN PENELITIAN KONSEP UTAMA MODEL STRATEGI PENELITIAN RANCANGAN PENELITIAN (RESEARH DESIGN) PERSPEKTIF DERAJAD KRISTALISASI MASALAH METODE KUMPUL OBSERVASI KENDALI PENELITIAN TERHADAP VARIABEL TUJUAN PENELITIAN MATRA WAKTU TEBA PENELITIAN LINGKUNGAN SEKITAR PENELITIAN PERSEPSI SUBYEK PENELITIAN RANCANGAN PENELITIAN PENJAJAGAN FORMAL SURVER DATA EKPERIMEN DESAIN EXPOST FACTO DESKRIPTIF KAUSAL CROSS LONGITUDINAL SECTIONAL STATISTICAL STUDY CASE STUDY STUDI LABORATORIUM LAPANGAN TIDAK ADA ADA PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN ABSTRAK EMPIRIK

157 Situasi Problematik Masalah Penelitian Persoalan (Persoalan) peelitian Bentuk : Essai Bentuk : pernyataan (Max kata) Bentuk : Pernyataan (?) Konsep-konsep Utama Landasan Teoritis Konsep 1 Definisi Definisi Nalar Relevansi Nalar Relevansi Konsep 2 Definisi Definisi Nalar Relevansi Nalar Relevansi Konsep n Definisi Definisi Nalar Relevansi Nalar Relevansi Teori A Teori B Teori C …...Teori N Yang digunakan dalam Skripsi/Tesis/ Disertasi Dalil Tautan Tautan Struktur Dalil Struktur Dalil Asumsi

158 K1K1K1K1 Definisi Definisi Aras pengukuran Aras pengukuran K2K2K2K2 Definisi Definisi Aras pengukuran Aras pengukuran K4K4K4K4 Definisi Definisi Aras pengukuran Aras pengukuran K3K3K3K3 Definisi Definisi Aras pengukuran Aras pengukuran Indikator Empirik K 1 Kategori respons Aras pengukuran yang disadap Indikator Empirik K 1 Kategori respons Aras pengukuran yang disadap Indikator Empirik K 1 Kategori respons Aras pengukuran yang disadap Indikator Empirik K 1 Kategori respons Aras pengukuran yang disadap Satuan Ukuran data Skor ? Rp. ? Volume ? Kg ? dsb Satuan Ukuran data Skor ? Rp. ? Volume ? Kg ? dsb Satuan Ukuran data Skor ? Rp. ? Volume ? Kg ? dsb Satuan Ukuran data Skor ? Rp. ? Volume ? Kg ? dsb Validity ? Reliability ? Row-data ? Standardized data ? Analisis Deskriptif ? Inferensial ?

159 Operasionalisasi Situasi Problematik dan Bentuknya Situasi problematik Masalah Penelitian Persoalan Penelitian Konsep-konsep Definisi-definisi Penalaran Asumsi Abstrak Empirik Indikator empirik (Persekalaan/Pedoman Wawancara) Skor/Telaah Isi Wawancara Uji Kesahihan & Keterandalan Aplikasi Teknik Analisis dan Bahasan Analisis Kumpulan (Teorities, Terapan) Bentuk Esai Pernyataan Pertanyaan (-pertanyaan) Simbol (sederhana, majemuk) Pernyataan Pertanyaan atau pertanyaan; NOIR Identifikasi/Nilai/Interpre tasi Isi Wawancara Aplikasi Teknik Analisi yang relevan Deskriptif, Inferensial Isi Bab I Bab II Bab III Bab IV Bab V

160 AKHIRNYA, Terima kasih atas segala perhatian dan kebersamaan kita. Selamat untuk melakukan penelitian Mohon maaf atas segala kekurangan saya Sampai jumpa di Salatiga. Ingatlah selalu kalimat ini : Orang yang merasa dirinya tahu adalah kebodohan, dan orang yang merasa dirinya tidak tahu adalah kepintaran.


Download ppt "Bangunan Teori dan Analisis Kuantitatif Sutriyono."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google