Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN. FILSAFAT RENUNGAN MENGENAI SEGALA SESUATU, SEBAGAI UPAYA PEMAHAMAN DAN MEMPEROLEH MAKNANYA, YANG.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN. FILSAFAT RENUNGAN MENGENAI SEGALA SESUATU, SEBAGAI UPAYA PEMAHAMAN DAN MEMPEROLEH MAKNANYA, YANG."— Transcript presentasi:

1 FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN

2 FILSAFAT RENUNGAN MENGENAI SEGALA SESUATU, SEBAGAI UPAYA PEMAHAMAN DAN MEMPEROLEH MAKNANYA, YANG PENTING BAGI LANDASAN PERTIMBANGAN KELAYAKAN TINDAKAN, SESUAI DENGAN NORMA YANG BERLAKU

3 PENGETAHUAN PRA-ILMIAH SEGALA SESUATU YANG DICATAT DALAM OTAK, HASIL PENCERAPAN INDERAWI (EMPIRIK) ATAU YANG DIPEROLEH SECARA INTUITIF. EMPIRIK : SECARA SADAR DIKETAHUI PROSESNYA. INTUITIF : SECARA TAK SADAR TAK DIKETAHUI PROSESNYA

4 ILMU HIMPUNAN PENGETAHUAN YANG TELAH : 1. DISISTEMATISASI 2. DIORGANISASI 3. MEMILIKI: - METODE TERTENTU - SIFAT INTERSUBYEKTIF (DAPAT DIPELAJARI OLEH SIAPA SAJA YANG MEMENUHI PERSYARATAN DAN METODENYA - SIFAT REPRODUKTIF (DPT DIULANG UTK DIUJI KEBENARANNYA DGN METODE DAN KONDISI YG SAMA

5 ILMU YANG MANDIRI 1. DIAKUI SEBAGAI DISIPLIN LMU 2. MEMILIKI METODE ILMIAH YG KHAS 3. CIRI KHAS UNSUR-UNSUR STRUKTUR ILMU: - ISTILAH - DEFINISI - PROPOSISI - KONSEP - TEORI - HUKUM - DALIL

6 STRUKTUR ILMU 1. FAKTA : KONSEP AWAL YG PALING SEDERHANA, BERUPA ABSTRAKSI DARI HASIL PENCERAPAN INDERAWI (DICATAT DALAM OTAK, DIINGAT DALAM PIKIRAN) (1) DIBERI LAMBANG/NAMA DIAMBIL DARI KATA SEHARI-HARI (2) SEHINGGA DPT DIKOMUNIKASIKAN SECARA ABSTRAK (TANPA MELIHAT WUJUD YBS)

7 ISTILAH : SETIAP KATA ATAU DIKSI YG MEMPUNYAI MAKNA ARTI SPESIFIK, DLM BAHASA YBS, DAN DALAM LMU YBS DEFINISI : PERNYATAAN ATAU PENJELASAN TENTANG APA MAKNA ARTI SESUATU KATA, AGAR DITAFSIRKAN SAMA FAKTOR : FAKTA YG SATU YG MEMPENGARUHI YG LAIN DATA : ANGKA ATAU TOLOK UKUR MENGENAI FAKTA/KONSEP YBS

8 KONSEP : MENYATAKAN SUATU ABSTRAKSI YG DIBENTUK MELALUI GENERALISASI DARI HAL-HAL YG KHUSUS, MISALNYA PAJAK, SIKAP DLL KONSTRUK: KONSEP YG LEBIH ABSTRAK: - KEBJAKSANAAN - INTELEGENTIA. PROPOSISI : MENYATAKAN SUATU HUBUNGAN ANTAR FAKTA (EMBRIO TEORI). TEORI : PERANGKAT SALING HUBUNGAN ANTAR-KONSEP, ANTAR-DEFINSI. ANTAR- PROPOSISI, YG DICANANGKAN UNTUK MENGGANTISIPASI, MERAMALKAN GEJALA- GEJALA

9 HUKUM: TEORI YG SUDAH BERULANG KALI TERBUKTI TAHAN UJI & PASTI DALIL : PROPOSISI TANPA BUKTI DIRI, TETAPI DAPAT DIBUKTIKAN DARI PREMIS-PREMIS YG DITERIMA, SEHINGGA DIJADIKAN HUKUM ATAU ASAS YG PASTI POSTULAT ; YANG DIANGGAP BENAR, AKSIOMATIK, BUKTI DIRI ASUMSI : TITIK TOLAK ATAU ASAS YG DAPAT DITERIMA (SECARA LOGIKA)

10 BEDA : HIPOTESIS : JAWABAN TENTATIF THDP MASALAH TEORI : PUNYA LANDASAN KUAT UNTUK PREDIKSI GEJALA HUKUM: PUNYA KEPASTIAN BERLAKUKNYA KERUNTUNAN ASAS

11 FILSAFAT LMU CARA MEMPEROLEH PENGETAHUAN YANG MEMENUHI KEBENARAN LMIAH

12 DEFINISI Pengetahuan : Persepsi subyek (manusia) atas obyek (riil dan gaib) atau fakta. Ilmu Pengetahuan : Kumpulan pengetahuan yang benar disusun dengan sistem dan metode untuk mencapai tujuan yang berlaku universal dan dapat diuji/diverifikasi kebenarannya Ilmu Pengetahuan : bukan satu, melainkan banyak (plural) bersifat terbuka (dapat dikritik) berkaitan dalam memecahkan masalah

13 Lanjutan... Jadi, Filsafat Ilmu Pengetahuan mempelajari esensi atau hakikat ilmu pengetahuan tertentu secara rasional Filsafat Ilmu Pengetahuan : Cabang filsafat yang mempelajari teori pembagian ilmu, metode yang digunakan dalam ilmu, tentang dasar kepastian dan jenis keterangan yang berkaitan dengan kebenaran ilmu tertentu. Cabang filsafat yang mempelajari teori pembagian ilmu, metode yang digunakan dalam ilmu, tentang dasar kepastian dan jenis keterangan yang berkaitan dengan kebenaran ilmu tertentu. Filsafat Ilmu Pengetahuan disebut juga Kritik Ilmu, karena historis kelahirannya disebabkan oleh rasionalisasi dan otonomisasi dalam mengeritik dogma-dogma dan tahayul

14 MEMBANGUN FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN “TERTENTU” Jika Ilmu Pengetahuan Tertentu dikaji dari ketiga aspek (ontologi, epistemologi dan aksiologi), maka perlu mempelajari esensi atau hakikat yaitu inti atau hal yang pokok atau intisari atau dasar atau kenyataan yang benar dari ilmu tersebut. Contohnya : Membangun Filsafat Ilmu Teknik perlu menelusuri dari aspek : Ontologi  eksistensi (keberadaan) dan essensi (keberartian) ilmu-ilmu keteknikan. Epistemologi  metode yang digunakan untuk membuktikan kebenaran ilmu-ilmu keteknikan Aksiologi  manfaat dari ilmu-ilmu keteknikan.

15 ASPEK ONTOLOGI Aspek ontologi dari ilmu pengetahuan tertentu hendaknya diuraikan secara : a.Metodis; Menggunakan cara ilmiah b.Sistematis; Saling berkaitan satu sama lain secara teratur dalam suatu keseluruhan c.Koheren; Unsur-unsurnya tidak boleh mengandung uraian yang bertentangan d.Rasional; Harus berdasar pada kaidah berfikir yang benar (logis) e.Komprehensif; Melihat obyek tidak hanya dari satu sisi/sudut pandang, melainkan secara multidimensional – atau secara keseluruhan (holistik) f.Radikal; Diuraikan sampai akar persoalannya, atau esensinya g.Universal; Muatan kebenarannya sampai tingkat umum yang berlaku di mana saja.

16 ASPEK EPISTEMOLOGI Epistemologi juga disebut teori pengetahuan atau kajian tentang justifikasi kebenaran pengetahuan atau kepercayaan. Untuk menemukan kebenaran dilakukan sebagai berikut [AR Lacey] : 1.Menemukan kebenaran dari masalah 2.Pengamatan dan teori untuk menemukan kebenaran 3.Pengamatan dan eksperimen untuk menemukan kebenaran 4.Falsification atau operasionalism (experimental opetarion, operation research) 5.Konfirmasi kemungkinan untuk menemukan kebenaran 6.Metode hipotetico – deduktif 7.Induksi dan presupposisi/teori untuk menemukan kebenaran fakta

17 Lanjutan... Untuk memperoleh kebenaran, perlu dipelajari teori-teori kebenaran. Beberapa alat/tools untuk memperoleh atau mengukur kebenaran ilmu pengetahuan adalah sbb. : Rationalism; Penalaran manusia yang merupakan alat utama untuk mencari kebenaran Empirism; alat untuk mencari kebenaran dengan mengandalkan pengalaman indera sebagai pemegang peranan utama Logical Positivism; Menggunakan logika untuk menumbuhkan kesimpulan yang positif benar Pragmatism; Nilai akhir dari suatu ide atau kebenaran yang disepakati adalah kegunaannya untuk menyelesaikan masalah-masalah praktis. Ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang dinamis, tersusun sebagai teori-teori yang saling mengeritik, mendukung dan bertumpu untuk mendekati kebenaran

18 Teori Teori merupakan pengetahuan ilmiah mencakup penjelasan mengenai suatu sektor tertentu dari suatu disiplin ilmu, dan dianggap benar Teori biasanya terdiri dari hukum-hukum, yaitu : pernyataan (statement) yang menjelaskan hubungan kausal antara dua variabel atau lebih Teori memerlukan tingkat keumuman yang tinggi, yaitu bersifat universal supaya lebih berfungsi sebagai teori ilmiah Tiga syarat utama teori ilmiah : 1.Harus konsisten dengan teori sebelumnya 2.Harus cocok dengan fakta-fakta empiris 3.Dapat mengganti teori lama yang tidak cocok dengan pengujian empiris dan fakta

19 Beberapa istilah yang biasa digunakan dalam komunikasi ilmu pengetahuan : Axioma pernyataan yang diterima tanpa pembuktian karena telah terlihat kebenarannya Postulat suatu pernyataan yang diterima “benar” semata-mata untuk keperluan berkomunikasi Presumsi suatu pernyataan yang disokong oleh bukti atau percobaan-percobaan, meskipun tidak konklusif dianggap sebagai benar walaupun kemungkinannya tinggi bahwa pernyataan itu benar Asumsi suatu pernyataan yang tidak terlihat kebenarannya maupun kemungkinan benar tidak tinggi

20 Filsafat Ilmu Pengetahuan selalu memperhatikan : dinamika ilmu, metode ilmiah, dan ciri ilmu pengetahuan. 1.Dinamis :dengan aktivitas/perkembangan pengetahuan sistematik dan rasional yang benar sesuai fakta dengan prediksi dan hasil ada aplikasi ilmu dan teknologi, dinamika perkembangan karena ilmu pengetahuan bersimbiose dengan teknologi 2.Metode Ilmiah : dengan berbagai ukuran riset yang disesuaikan. 3.Ciri Ilmu :perlu memperhatikan dua aspek, yaitu : sifat ilmu dan klasifikasi ilmu

21 Lanjutan... Sistematik Ilmiah, benar (pembuktian dengan metode ilmiah Sifat ilmu Konsisten (antara teori satu dengan yang lain tak bertentangan) Eksplisit (disepakati dapat secara universal, bukan hanya dikalangan kecil) Salah satu Klasifikasi Ilmu : Ilmu Pengetahuan Ilmu Alam (Natural Wissenschaft) Ilmu Alam / Eksakta Ilmu Moral Ilmu Sosial Ilmu Humaniora

22 ASPEK AKSIOLOGI Tujuan dasarnya : menemukan kebenaran atas fakta “yang ada” atau sedapat mungkin ada kepastian kebenaran ilmiah Contohnya : Pada Ilmu Mekanika Tanah dikatakan bahwa kadar air tanah mempengaruhi tingkat kepadatan tanah tersebut. Setelah dilakukan pengujian laboratorium dengan simulasi berbagai variasi kadar air ternyata terbukti bahwa teori tersebut benar.

23 PENGENALAN FILSAFAT I. ASPEK ONTOLOGI II. ASPEK AKSIOLOG III. ASPEK EPISTEMOLOGI

24 I. ASPEK ONTOLOGI (BEING, WHAT, WHO) FFilsafat dipelajari karena ketakjuban manusia atas fakta (Plato + Aristoteles, SM). PPhilosophi = The Greek Miracle (Keajaiban Yunani). Philein = Philos = Cinta Sophia = Kebijaksanaan FFilsafat :  Ilmu tentang Kebijaksanaan atau Ilmu mencari kebijaksanaan  Ilmu pengetahuan umum tentang kebijaksanaan / kebenaran FFilsuf = Pencinta / Pencari Kebenaran atau kebijaksanaan (K) = Pencari kebijaksanaan (relatif) akal budi untuk tindakan. Kebijaksanaan Absolut : - ada pada Tuhan - Adimanusiawi Pythagoras ( SM) -> Seorang Filsuf = Filosofos -> mendapatkan Rumus Pythagoras, namun tidak merasa hebat.  Philosophos = Kawan kebijaksanaan, bukan orang bijaksana = Pencari / Pencinta Kebijaksanaan Bukan Sofis yang merasa hebat tahu segalanya. MMitos = kepercayaan akan kebenaran (mis. Hantu) merupakan warisan turun temurun, tabu ditanyakan, dan menghindari ratio (logos, akal budi) SSetiap fakta dari aspek ontologi dapat dinyatakan kebenaran definisinya dan dapat dipandang dari dua obyek, yaitu obyek materi dan obyek formal. FFilsafat (Ontologi) : Ilmu tentang kebijaksanaan atau kebenaran Yang dipelajari adalah obyek sebenarnya Obyek sebenarnya :  Obyek materi : Seluruh fakta kenyataan, misalnya : manusia, alam, dll  Obyek formal : bidang kajian semua pengetahuan, mis : biologi, faal, kedokteran, dll MMenurut Witgenstein, Titus : Filsafat : Usaha untuk menyatakan kebenaran fakta secara menyeluruh, mendalam dan sejelas mungkin.

25 II. ASPEK AKSIOLOGI For What (Untuk Apa, Apa Nilainya) A. Filsafat = Ilmu tanpa batas dan universal untuk menemukan pengetahuan secara menyeluruh dan dapat diungkapkan dengan jelas B. Filsafat = Ilmu yang mencari kebenaran paling dalam tentang seluruh kenyataan. Usaha menjawab secara metodis, sistematis koheren tentang seluruh fakta / kenyataan C. Filsafat = Ilmu pengetahuan umum untuk mencari kebenaran seluruh fakta / kenyataan  Filsafat (Aksiologi) : Adalah untuk mencari kebenaran tentang seluruh fakta / kenyataan.  Kegunaannya : 1. Menemukan kebenaran 2. Menimbulkan keyakinan 3. Menemukan ide

26 III. ASPEK EPISTEMOLOGI (WHY, HOW)  WHY : karena keinginan berfilsafat untuk menemukan kebenaran dengan :  memakai ratio-logos-akal budi. Seterusnya ditanyakan mengapa benar karena didiskusikan, dianalisis dengan ratio untuk menemukan kebenaran.  mengapa ditanyakan oleh karena : 1. Ketakjuban akan dirinya “yang ada” (Plato & Aristoteles ± 350 SM), dan ketakjuban akan moral hukum dan langit dengan bintang. Imanuel Kant (± 1750) memikirkan untuk ditemukan bagaimana kebenarannya. 2. Kesangsian kemampuan panca indra (Agustinus ± 400, Descartes ±1600) karena indrawi seringkali menipu -> bagaimana kebenarannya 3. Kesadaran eksistensi dirinya yang kecil dibanding alam semesta -> bagaimana kebenaran fakta / kenyataan tersebut.

27  HOW 1.Bagaimana pendekatannya berdasarkan gejala atau phenomenologi? 2.Bagaimana klasifikasinya? 3.Bagaimana model atau metodenya?

28 1. Pendekatan Fenomenologi / Gejala Gejala hubungan kesatuan asasi subyek (manusia)- obyek (pengetahuan, benda untuk menemukan hasil bersifat sementara dan terbuka) yang dapat dikritik. Gejala jasmani-inderawi yang merupakan hasil pengalaman kongkrit (hasil tergantung tempat + waktu) Gejala umum, pengalaman abstrak (hasil tak tergantung tempat + waktu) Cara/metode pendalaman gejala tersebut terus dilakukan dan filsafat mencari kebenaran sesuai klasifikasi filsafat dan model pendalamannya.

29 2. Klasifikasi Filsafat Menuju Filsafat Pengetahuan 1.Filsafat Manusia 2.Filsafat Alam 3.Filsafat KeTuhanan 4.Filsafat Etika 5.Filsafat Pengetahuan  Filsafat Pengetahuan Umum  Filsafat Ilmu Pengetahuan diperlukan ilmu alam ilmu pasti ilmu kemanusiaan

30 3. Model/Metode (Cara Mencari Kebenaran) Apriori (Plato) : universal partikuler Aposteriori (Aristoteles) : partikuler universal Kebenaran pengetahuan (Epitesmi)  Episteme : pengetahuan yang sejati berdasar : - obyektifitas (empiri+rasio) - untuk menemukan kebenaran - kepastian - abstraksi - intuisi  Epistemologi : pengetahuan sejati tentang : - Apa : fakta - Mengapa : causa - Bagaimana : metode - Benar : Verifikasi

31 Bila Kumpulan pengetahuan yang benar/episteme/diklasifikasi, disusun sitematis dengan metode yang benar dapat menjadi epistemologi. Aspek epistemologi adalah kebenaran fakta / kenyataan dari sudut pandang mengapa dan bagaimana fakta itu benar yang dapat diverifikasi atau dibuktikan kembali kebenarannya.

32 Filsafat : Kebenaran yang dibuktikan secara :  Radikal (individu)  Rasional (obyektif)  Sistemik (ilmiah)  Semesta (universal) Pembuktian Filsafat lebih luas daripada pembuktian Ilmu, oleh karena mempertimbangkan :  Ratio  Agama  Ilmu sendiri + Ilmu lain  Seni  Moral  Kebahagiaan  Nilai  Kesemestaan

33 Menurut Witgenstein, Titus : Filsafat : Usaha untuk menyatakan kebenaran ilmiah secara menyeluruh sejelas mungkin. Menurut KattSoff (1963) : Filsafat : Berpikir secara kritis, sistematis, rasional, dan komprehensif hingga menghasilkan suatu yang runtut dan benar Jadi Filsafat adalah berpikir dengan cara yang benar (teoritis) untuk menemukan keputusan pengetahuan yang benar (praktis)

34 Klasifikasi Lain dari Filsafat Logika Deskriptif (Apa adanya) Etika Normatif (seharusnya) F. KategoriMetaetik (Analisis) Metafisika = Ontologi = Filsafat Pertama Epistemologi = Filsafat Pengetahuan Filsafat Umum Matematika Filsafat Ilmu PengetahuanHukum Agama Dan lain-lain

35 RINGKASAN SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT 1.Masa Yunani Kuno (Abad 6 SM – Akhir Abad 3 SM) 2.Masa Abad Pertengahan (Akhir Abad 3 SM – Awal Abad 15) 3.Masa Modern (Akhir Abad 15 – Abad 19) 4.Masa Kontemporer (Abad 20)

36 Masa Yunani Kuno (Abad 6 SM- Akhir Abad 3 SM) 1. Filsafat = pengetahuan tahyul, dongeng, mitos = mitologi : Mitos -> Logos (mitos mengurang, ratio tumbuh) Thales / air Pythagoras / bilangan Demokritos / atom 2. Filsafat = Logos Sokrates : ( SM) Dialektika Salah Sokratik -> kesimpulan Benar Plato : ( SM) penyair, inspirasi tinggi (Aristokles) – Melawan sofis -> Mencari kebenaran Sokrates dengan tulisan Filsafat : Apologia (pembelaan Sokrates). - Model abstrak dan matematik = apriori dengan ratio menemukan episteme (ingatan yang benar atau ide abadi) Kebenaran adalah : relatif, subyektif, ide dalam diri obyektif : kenyataan / fakta diluar yang benar Tulisannya : 1. Apologia, Kriton, Politea : negara 2. Simposium : diskusi tentang cinta 3. Phaedo : diskusi tentang jiwa yang tak mati 4. Phaidros : diskusi tentang ide 5. Parmenides : kritik terhadap ide ajarannya 6. Timaios : susunan alam semesta 7. Nomoi : Hukum-hukum Mendirikan Akademi yang menjadi dasar Perguruan Tinggi jaman Pertengahan Ajarannya = Platonisme yaitu kebenaran jasmani yang tak kekal dan kebenaran rohani / ide yang kekal. Lima abad kemudian = Neo Platonisme yang menggabungkan Platonisme dengan ajaran Gereja Kristen

37 3. Aristoteles (384 – 322 SM) Murid terpandai Akademi, guru Alexander Agung Mendirikan Lyceum dengan ajaran model kongkrit Ajaran Aristotelesanisme yaitu pengenalan inderawi atau empiris-aposteriori (terikat pada waktu dan tempat) ; lalu pengenalan rasional yaitu episteme = pengetahuan benar yang diperoleh dari sebab musabab. Tujuh karya : Logika / organon (analisis apriori- aposteriori), Ilmu eksakta, Biologi, Psikologi, Metafisika, Etika & Politik, Sastra/Retorika Ia membagi 3 ilmu pengetahuan (IP) :  I.P. Produktif = Pedomen bidang kesenian  I.P. Praktis = Etika & Moral atau pedoman tingkahlaku  I.P. Teoritis = Tak memihak Fisika, Matematika, Filsafat Pertama (metafisika = ontologi)

38 Masa Abad Pertengahan (akhir abad 3 SM – awal abad 15) 1.Filsafat Yunani Kuno diambil alih Mesir (Cleopatra SM) 2.Filsafat dilarang -> kembali ke Dogma Gereja = Theologi (Kaisar Justianus ± 529 M) 3.Filsuf Islam Bagdad -> Cordoba Ibnu Sina ( ) 4.Filsafat : kembali ke mitos = mistik Plotinus -> Neo Platonisme (  abad ke 13) yaitu Platonisme manunggal dengan Dogma Gereja. 5.Thomas Aquines (1225 – 1274) Filsafat Yunani kuno tak dilarang malah untuk justifikasi Dogma Gereja.

39 Masa Modern (Akhir abad 15 – 19) 1.Gerakan Renaissance (kelahiran kembali) mentalitas individual – kebebasan, persamaan, emansipasi, otonomi diri. 2. Revolusi Copernicus (1473 – 1543) Matahari : pusat alam semesta Metode induktif – experimental 3.Zaman Aufklarung (pencerahan / abad 18) Menggunakan akal budi dengan inti : a. Ajaran Rasionalisme (Descartes, ) b. Ajaran Empirisme (Francis Bacon, ) Pengetahuan inderawi c. Ajaran Kritisisme (Immanuel Kant, )gabungan a + b d. Filsafat Pragmatisme (William James, ) Kebenaran konsep/ide harus dilihat konsekuensi praktisnya / kegunaannya. e. Filsafat Fenomenologi (Edmund Husserl, ) kebenaran = kenyataan benda itu sendiri Tiga tahap dalam metode fenomenologis yaitu :  Reduksi Fenomenologis  Reduksi Eidetis  Reduksi Transendental f. Filsafat Eksistensialisme (S. Kierkegaard, )

40 Masa Kontemporer (abad 20) 1.Filsafat Analitik (Ludwig Wittgenstein, ). 2.Filsafat Ekstensialisme (lanjutan Jean Paul Sarte, 1905 – 1980)  Ia menganggap manusia bebas memilih moralitas yang diinginkan hingga menciptakan eksistensi dirinya. Manusia melakukan kebaikan, pendidikan bagi keturunannya dan hidup bermasyarakat.  Menganggap Tuhan tidak ada dan manusia dapat memerankan peranan Tuhan (Vincent Martin)  Ada 2 kelompok : anti agama & kelompok agama (percaya pada Tuhan) 3.Ethics and Limits of Philosophy (Bernard Williams)

41 Perangkat Ilmu Istilah Ilmiah Istilah Ilmiah Ilmu memerlukan sejumlah pengertian yang dituangkan ke dalam istilah ilmiah Meliputi bidang Besaran atau dimensi Aturan Penjelasan aturan Besaran atau Dimensi Mencakup Konstanta dan variabel Faktor Definisi Fakta Konsep Konstruk Data Sekor Dan sejenisnya

42 Aturan Ilmu Mencakup Masalah Hipotesis Proposisi Aksioma dan Asumsi Postulat Dalil dan Hukum Prinsip Dan sejenisnya Penjelasan Aturan Mencakup Teori Model dan Paradigma Dan sejenisnya

43 Besaran atau Dimensi 1. Konstanta dan Variabel Konstanta memiliki nilai yang tetap; Variabel memiliki nilai yang dapat berubah Berubah tak acak (matematik) Berubah acak (probabilitas, statistik) Variabel Berkenaan dengan apa dari siapa atribut obyek makhluk benda peristiwa

44 Contoh Variabel Atribut Obyek Kepemimpinan manajer (orang) Hasil belajar mahasiswa (orang) Kebuasan buaya (hewan) Kekuatan gajah (hewan) Kesuburan pohon mangga (tumbuhan) Nilai saham (benda) Titik didih air (benda) Keterjualan rumah (benda) Kecepatan olah data (peristiwa) Temperatur kebakaran (peristiwa) Kelancaran penjualan (peristiwa )

45 Simbol Variabel Variabel sering dinyatakan dalam bentuk simbol Simbol variabel dapat berbentuk: Gambar    ... Abjad Latin A B X Y a b c... Abjad Yunani Φ Δ Γ Ω α β μ... Sering ditambahkan dengan lambang indeks atau pangkat

46 Abjad Yunani Nama Kapital kecil alpha Α α nu Ν ν beta Β β xi Ξ ξ gamma Γ γ omicron Ο ο delta Δ δ pi Π π epsilon Ε ε rho Ρ ρ zeta Ζ ζ sigma Σ σ ς eta Η η tau Τ τ theta Θ θ upsilon Υ υ iota Ι ι phi Φ φ kappa Κ κ khi Χ χ lambda Λ λ psi Ψ ψ mu Μ μ omega Ω ω

47 2. Faktor Sering dimaksudkan sebagai variabel penyebab Sebab-----  akibat (faktor) Ada kalanya diartikan sebagai kumpulan variabel sejenis Faktor 1 Faktor 2 A = MembacaD = Tambah B = MenulisE = Kurang C = Mengisi rumpangF = Kali Faktor 1 = verbalFaktor 2 = numerik

48 3. Definisi Definisi adalah batasan secara singkat tentang pengertian dan lingkup suatu besaran Definisi Substansi Batasan tentang pengertian substansinya Definisi Operasional Batasan pengertian berkenaan dengan cara pengukurannya Biasanya rumusan definisi berupa satu kalimat saja sedangkan pengertian luas atau pengertian lengkapnya dijelaskan di dalam konsep atau konstruk

49 4. Fakta Merupakan kenyataan konkrit yang teralami Biasanya dinyatakan di dalam bentuk sekor atau data Contoh: Umur di dalam tahun Tingkat pendidikan Tempat lahir Jumlah mahasiswa Luas kampus Gaji karyawan Sering dicatat melalui inventori (misalnya melalui kuesioner).

50 5. Konsep Berkenaan dengan pengertian secara lengkap tentang sesuatu Misalnya: Arti dari Mahasiswa Karyawan Manajer Komputer Jurusan teknik elektro Bayi Remaja Sesuatu yang sama bisa saja memiliki uraian konsep yang berbeda karena perbedaan bidang ilmu, aliran, atau pakar Dicari dari literatur; memerlukan diskusi

51 6. Konstruk Berkenaan dengan besaran abstrak yang dikonstruksi oleh para pakar; uraian tentang pengertiannya secara lengkap Misalnya: Sikap Minat Inteligensi Kepemimpinan Agresivitas Status sosial ekonomi Dapat berbeda pengertiannya karena perbedaan Bidang ilmu Aliran/paham Pakar Dicari melalui literatur; memerlukan analisis dan sintesis

52 Analisis dan sintesis pada konstruk Variabel (konstruk) Literaturliteratur literatur.... Analisis (urai)..... Diskusi (bahas)..... Sintesis (gabung).... konstruk (sesuai dengan konteks kita)

53 7. Data dan Sekor Data Catatan hasil pengamatan atau pengukuran yang obyektif, berbentuk –Deskripsi –Numerik Memerlukan alat ukur yang valid dan dapat dipercaya hasil ukurnya Sekor Angka atau bilangan pada atribut dari subyek yang diperoleh melalui aturan tertentu (pengukuran) –Numerik Memerlukan alat ukur yang valid dan dapat dipercaya hasil ukurnya

54 Perangkat Ilmu Aturan Ilmu 1. Masalah Masalah adalah rumusan pertanyaan ilmiah yang memerlukan jawaban (biasanya belum terjawab atau jawaban yang ada masih diragukan) Sebaiknya dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya serta diakhiri dengan tanda tanya (?) Berisikan variabel yang biasanya berkaitan dengan variabel yang mengandung atribut serta responden pemilik atribut pertanyaan tentang perbandingan variabel, atau pertanyaan tentang ketergantungan variabel 2. Hipotesis Hipotesis adalah rumusan pernyataan ilmiah sebagai jawaban terhadap masalah serta masih memerlukan pengujian empiris Rumusan hipotesis harus sepadan dengan rumusan masalah (supaya dicocokkan) Biasanya dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan

55 Hipotesis Induktif Dari data diduga (dicurigai) ada keterkaitan di antara variabel sehingga ingin dipastikan melalui pengujian hipotesis (statistika) Data harus sangat banyak dan representatif Setelah hipotesis teruji, barulah data digunakan untuk digeneralisasi, sebab-akibat, ditemukan teorinya Hipotesis Deduktif Dari premis mayor (teori, hukum, asumsi) dan premis minor (kasus yang dipertanyakan di dalam masalah) dengan armentasi (logika) ilmiah dihasilkan keterkaitan variabel Hipotesis ini diuji secara empiris (sering melalui sampel dan diinferensi ke populasi)

56 3. Proposisi Proposisi adalah istilah umum untuk pernyataan ilmiah yang memiliki kemungkinan benar (true) dan palsu (false) Hipotesis adalah suatu bentuk proposisi; demikian juga dengan hukum, teori, dan pernyataan ilmiah lainnya 4. Aksioma dan Asumsi Aksioma adalah suatu pernyataan yang diterima tanpa pembuktian serta dapat digunakan sebagai dasar (premis) untuk deduksi Asumsi sama dengan aksioma Digunakan pada logika, matematika, atau ilmu

57 Beberapa Contoh Aksioma Benda yang sama-sama sama dengan benda yang sama adalah sama satu terhadap lainnya X = A dan Y = A maka X = Y Jika sama ditambahkan kepada sama, maka jumlahnya adalah sama X = Y + A A X + A = Y + A

58 Hanya ada satu garis lurus yang menghubungkan dua titik yang diketahui A B Jika suatu titik O bergerak dari A ke B sepanjang suatu garis lurus AB, maka O harus melewati suatu titik yang membagi AB ke dalam dua bagian yang sama besarnya --A B--

59 Beberapa Contoh Asumsi Asumsi dari Aristoteles Benda berat jatuh lebih cepat dari benda ringan Benda yang bergerak akan berhenti dengan sendirinya Alam semesta terbuat dari tanah, air, udara, api, dan unsur kelima (quintessential) Asumsi Ptolemaeus Semua benda langit beredar mengelilingi bumi dalam bentuk lingkarran Asumsi Determinisme Di dalam alam ada sebab-akibat Di dalam alam ada keteraturan Asumsi Empirisisme Ada pengalaman, klasifikasi, kuantifikasi, hubungan, serta pendekatan ke ke kebenaran

60 5. Postulat Postulat adalah pernyataan yang diterima tanpa pembuktian dan dapat digunakan sebagai premis pada deduksi Ada yang menyamakan postulat dengan aksioma sehingga mereka dapat dipertukarkan Ada yang berpendapat bahwa ada harapan bahwa pada suatu saat postulat dapat dibuktikan Contoh Postulat Postulat Geometri Dengan mistar dan jangka, dapat dilukis garis lurus dari suatu titik ke titik lain dapat dihasilkan garis lurus terhingga dengan sebarang panjang dapat dilukis lingkaran dengan sebarang titik sebagai pusat dan jari- jari sebarang panjang

61 Postulat Ekivalensi Massa Hukum lembam Newton menggunakan massa lembam, m G = ma Hulum gravitasi Newton menggunakan massa gravitasi, m dan M Postulat: massa lembam m = massa gravitasi m (dapat diterangkan oleh Einstein)

62 Postulat Robert Koch (berupa etiologi spesifik) mikroba tertentu menyebabkan penyakit tertentu (setelah Pasteur menemukan mikroba) dengan kata lain: setiap penyakit disebabkan oleh satu sebab mikroba tertentu

63 6. Dalil dan Hukum Ilmiah Dalil (theorem) biasanya digunakan pada matematika, hukum pada ilmu alam (a) Dalil hungan tetap di antara besaran Contoh:

64 (b) Hukum Ilmiah Aturan tentang hubungan tetap di antara besaran yang teramati di antara benda atau peristiwa Ungkapan umum untuk memaparkan Fakta umum untuk keteraturan di dalam alam Hubungan di antara peristiwa Hubungan di antara variabel yang teruji atau dapat diuji kebenarannya Hubungan invarian (matematik atau statistik) di antara konsep ilmiah (ada kalanya dapat dituangkan ke dalam bentuk rumus)

65 Bentuk hubungan pada hukum ilmiah Ada beberapa macam bentuk Ciri atau sifat mis. Zat terdiri atas molekul Ruang-waktu terdiri atas 4 dimensi hubungan korelasi atau ketergantungan hubungan sebab akibat urutan tak berubah mis. Urutan siang dan malam

66 Contoh Hukum Ilmiah Hukum Boyle Pada gas dengan temperatur tetap pv = konstan Hukum Snellius Pada pantulan cahaya sudut pantul = sudut masuk Hukum Avogadro Di dalam satu gram-mol zat terdapat molekul Hukum Konversi Massa-Tenaga E = m c 2

67 Jenis Hukum dilihat dari Sumber Hukum teoretik mengacu kepada sesuatu atau ciri yang tidak dapat diobservasi secara langsung mis. Hukum Avogadro tentang jumlah molekul di dalam satu gram-mol Hukum empirik generalisasi yang mengacu kepada obyek atau ciri yahg dapat diobservasi secara langsung mis. Hukum Boyle tentang tekanan dan volume gas ada kalanya berbentuk pendekatan (approximation)

68 Jenis Hukum dilihat dari Ketepatan Hukum universal menunjukkan keteraturan yang berlaku tanpa perkecualian mis. Hukum Newton gerak komet, gerhana, dapat diprediksi dengan kecermatan tinggi Hukum statistik menunjukkan keteraturan menurut suatu persentase tertentu (berdasarkan probabilitas) mis. Prediksi cuaca, keluruhan inti atom uranium dapat melakukan prediksi dengan kecermatan agak rendah

69 Penemuan Hukum (dan Teori) segera diakui (penemu partikel W langsung memperoleh hadiah Nobel) ditolak dulu, baru kemudian diakui (temuan ion oleh Svante Arrhenius) baru diakui setelah penemunya meninggal (hukum Mendel) penemunya lebih dari seorang di tempat lain (telepon) diterima tetapi kemudian ditolak (bumi datar) Di beberapa cabang ilmu, penemuan yang hebat memperoleh hadiah

70 7. Prinsip atau Asas Hukum yang mendasar pada cabang ilmu Contoh: Asas Indeterminisme Heisenberg (1928) Pada partikel subatomik terdapat indeterminisme; secara teoretis kalau massa terukur tepat, maka kecepatan tak bisa terukur tepat kalau kecepatan terukur tepat, maka masa tidak bisa terukur tetap ada celah ketidakpastian kecil sekali yakni dalam orde konstanta Planck seukuran 6,

71 Perangkat Ilmu Penjelasan Aturan 1. Pengertian Teori Ilmiah Ada sejumlah pengertian tentang teori ilmiah, mecakup strutur sistematik yang luas, dihasilkan oleh imaginasi manusia, mencakup serumpun hukum empirik (pengalaman) tentang keteraturan yang ada pada obyek dan peristiwa, baik yang terlihat maupun yang tidak. Teori ilmiah disusun untuk menjelaskan hukum secara ilmiah sajian sistematik tentang hubungan seperangkat variabel penjelansan tentang gejala maksud dasar ilmu melalui perolehan teori yang memberi penjelasan ayng sah tentang gejala alamiah dan lain-lain

72 Teori Menurut Kerlinger teori adalah seperangkat konstruk [konsep], definisi, dan proposisi yang saling berhubungan yang menampilkan pandangan sistematik dari gejala dengan jalan menspesifikasikan hubungan di antara variabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksti gejala itu Teori Menurut Mouly 1. Suatu sistem teori harus memungkinkan deduksi yang dapat diuji secara empirik 2. Teori harus cocok dengan observasi dan dengan teori yang sudah tervalidasi 3. Teori harus dinyatakan dengan cara sederhana (parsimoni)

73 Perbedaan Hukum dan Teori Pada hukum, aturan penamatan cukup jelas, sehingga hukum dapat langsung diuji Pada teori, sebagian besarnya mungkin saja tidak teramati; teori dapat menjelaskan hukum Misal: Hukum Boyle dengan teori dinamika gas Hukum Boyle pv = konstan pada temperatur tetap Teori Dinamika gas terdiri atas molekul yang bergerak dan membentur dinding (- -> tekanan) volume diperkecil, benturan molekul ke dinding makin hebat (--> tekanan naik)

74 Beberapa Hukum dan Teori hukum Archimedes hukum Boyle hukum Newton hukum Snellius hukum Mendel hukum Bernoulli hukum Pascal hukum Ohm teori gravitasi teori relativitas teori kinetika (dinamika) gas teori kuantum teori elektromagnetik teori ion teori Maslow

75 Teori sebagai Realitas atau Instrumen Teori dapat dianggap sebagai suatu realitas; apa yang diteorikan memang betul-betul ada misalnya, teori molekul, apakah molekul betul ada? Teori dapat juga dianggap sebagai instrumen untuk menjelaskan (instrumental) misalnya, teori molekul, tidak menjadi soal apakah molekul betul ada atau tidak, yang penting sebagai alat, teori berguna untuk menjelaskan dan dibunakan sebagai premis Parsimoni Teori dikontrol oleh parsimoni yakni harus yang paling sederhana (pisau cukur Ochkam)

76 2. Model atau Paradigma Secara luas, paradigma adalah semua bentuk yang biasa kita gunakan sehingga menjadi model dari kehidupan kita Secara sempit, model atau paradigma adalah bentuk contoh guna mempermudah pemahaman tentang sesuatu (konsep, hukum, atau teori) Wujud Paradigma model fisik (maket bangunan, manekin) model matematika (rumus) simulasi (planetarium)

77 Perangkat Ilmu Pandangan terhadap Teori Pandangan terhadap Teori Ada kalanya teori tidak lagi cocok dengan keadaan tertentu Ada kalanya teori baru muncul sebagai saingan terhadap teori lama Bagaimana sikap kita terhadap teori yang dapat mengalami hal-hal seperti ini Perkembangan Beberapa Teori Teori bumi datar, sudah ditinggalkan orang, diganti dengan bola dunia Teori geosentris, sudah ditinggalkan orang, diganti dengan heliosentris Teori eter, sudah diuji, ternyata tidak ada Teori phlogiston, sudah ditinggalkan orang

78 Perangkat Ilmu Pandangan terhadap Teori Perkembangan Beberapa Teori Teori Cahaya Huygens Cahaya adalah gelombang, bagus menerangkan pantulan, refraksi, dan sejenisnya; untuk tiba dari matahari ke bumi, dianggap ruang tidak hampa tetapi berisi eter (nilai teori ini tinggi) Teori Cahaya Newton: Cahaya adalah pancaran partikel, tidak bisa menerangkan pantulan, refraksi, dan sejenisnya (nilai turun); kemudian dapat menerangkan fotoelektrik yang tidak bisa diterangkan oleh teori gelombang (nilai teori naik lagi) Teori Cahaya Kuantum: Cahaya adalah partikel yang bergelombang (gelombang elektromagnetik--EM); cahaya berubah-ubah dari medan EM ke foton dan sebaliknya

79 Teori Hampa Aristoteles dan cendekiawan Yunani Kuno beranggapan bahwa tidak ada hampa Torricelli dengan tabung air raksa, menunjukkan adanya hampa Dengan teori E = m c 2, apakah ruang hampa tidak berisi E sehingga tidak hampa Teori Newton Tidak cocok untuk planet Uranus Ditemukan planet Neptunus yang mengganggu gerak Uranus sehingga tampak tidak cocok dengan teori Newton Teori Paritas Dianut oleh fisikawan Kemudian ditinggalkan karena tidak cocok

80 Ilmuwan dan Teori Ilmuwan dapat menganut suatu teori dan dapat juga meninggalkannya Ada kalanya teori yang sudah ditinggalkan bangkit lagi dan dianut lagi oleh ilmuwan Di sini, dilihat pandangan dari Popper, Lakatos, dan Kuhn terhadap teori Kebenaran Teori Kita tidak dapat mengatakan teori itu benar atau tidak benar; yang dapat dikatakan bahwa teori itu masih cocok untuk menerangkan gelaja yang teramati Teori dapat ditinggalkan orang karena orang menganut teori lain; tetapi dalam keadaan tertentu, orang dapat kembali ke teori yang telah ditinggalkan

81 Perangkat Ilmu Falsifikasi Popper Karl Raimund Popper (1902- Penyusunan teori berlangsung melalui “imaginasi kreatif” manusia, dan bukan melalui induksi Teori adalah spekulatif, falsifiabel (bisa palsu), sehingga perlu diuji secara ketat Pengujian dapat terjadi berulang kali, tanpa batas Falsifikasi Untuk menjadi bagian dari ilmu, hipotesis, hukum, teori harus memiliki kemampuan untuk palsu Kepalsuan akan tampak manakala ada amatan logis yang tidak cocok dengan hipotesis, hukum, teori Hipotesis, hukum, teori yang tidak memiliki kemampuan untuk palsu, bukan bagian dari ilmu

82 Contoh tidak bisa falsifikasi Psikoanalisis Freud Ketika ada orang menenggelamkan anak ke air, hal ini dapat diterangkan dengan alasan depresi Ketika ada orang menempuh bahaya menolong anak itu dari ari, hal ini diterangkan dengan alasan sublimasi Jadi psikoanalisis ini bisa menerangkan hal yang berlawanan, sehingga tidak pernah bisa salah Ini bukan bagian dari ilmu Contoh falsifikasi Relativitas Einstein Dengan teorinya, Einstein menghitung lenturan cahaya karena melewati daerah dekat massa matahari Diuji pada gerhana matahari tahun 1919, ternyata cocok Kalau hitungan Einstein tidak cocok dengan kenyataan maka teori Einstein keliru

83 Derajat Falsifiabel Makin umum atau makin luas cakupan suatu teori, makin mudah teori itu mengalami kasus ketidakcocokan, sehingga derajat falsifiabel menjadi tinggi Contoh: (A) Planet Mars mengedari matahari menurut elips (B) Semua planet mengedari matahari menurut elips Derajat falisfiabel (b) lebih tinggi dari dari derajat falsifiabel (A) Derajat falsifiabel menjadi ukuran keluasan atau keumuman suatu teori Suatu teori makin baik jika derajat falsifiabelnya makin tinggi

84 Modifikasi Ad Hoc Kalau teori tidak cocok dengan suatu kenyataan, maka teori itu dimodifikasi ad hoc Modifikasi ad hoc adalah modifikasi kecil dan sering tidak diuji lagi Modifikasi Dapat juga teori yang tidak cocok dengan kenyataan dimodifikasi Modifikasi berukuran lebih besar dan diuji lagi Melalui modifikasi, teori yang bertahan, bisa terus bertahan; kalau tidak bertahan, teori itu bisa ditinggalkan orang Contoh: Hukum Newton pada planet Uranus

85 Contoh Modifikasi Ad Hoc Nasi Nasi menyehatkan orang Kalau di suatu tempat orang sakit karena makan nasi, maka dibuat modifikasi ad hoc Kecuali di tempat itu, nasi menyehatkan orang Permukaan bulan Menurut Aristoteles, bulan bulat sempurna Setelah diteropong, permukaan bulan bergunung, maka dibuat modifikasi ad hoc Permukaan bulan ditutup oleh zat yang tak tampak di teropong; bulan tetap bulat sempurna Phlogiston Dulu pembakaran dan karatan dianggap terjadi karena di dalam zat ada phlogiston (bakar) Phlogiston keluar terjadi kebakaran atau karatan, sehingga zat menjadi ringan Ada kasus karatan, zat bertambah berat; perlu dimodifikasi ad hoc Ada phlogiston positif dan negatif

86 Bertahan dan Lenyap Hipotesis, hukum, atau teori dapat bertahan (terus dianut orang) atau lenyap (ditinggalkan orang) Bertahan Karena selalu cocok dengan pengalaman; tidak ada kasus yang tidak cocok Karena setelah dimodifikasi, tidak ada lagi kasus yang tidak cocok Lenyap Karena sering tidak cocok dengan pengalaman Karena setelah dimodifikasi, masih saja tidak cocok dengan kenyataan Karena bersama ketidakcocokan, muncul teori baru yang menjadi lawannya

87 Sejumlah pertanyaan tentang teori 1.Apa yang dimaksud dengan teori ? Hanya ada stu macam saja teori itu, atau beberapa macam? Adakah teori yang tidak benar, atau apakah semua teori itu benar? 2. Apa yang diartikan dgn kebenaran teori atau kebenaran ilmiah? Jika pasti memang ada, apa kriterianya? Apakah kebenaran teori atau ilmiah tentang sesuatu soal, hanya ada satu atau bisa lebih dari satu? Tetap, pasti, atau dapat berubah? 3. Teori atau pernyataan ilmiah yang benar itu diperoleh atau ditemukan dengan cara-cara kerja bagaimana? Dengan metode logis deduktif, atau empirik-induktif, atau harus reduktif, atau semuanya sekaligus? 4. Apa syaratnya bagi sesuatu pernyataan itu untuk dapat diterima sebagi teori atau pernyataan ilmiah, atau pernyataan kebenaran ilmiah

88 5. Siapa yang punya otoritas menilai mutu dari sesuatu teori itu? Penemu pertama, kelompok para akhli, atau setiap orang yang mengerti dan berkepentingan+ 6. Apakah tiap pernyataan yang benar itu memuat kebenaran ilmiyah? Apa sesungguhnya kebenaran itu, apa bedanya antara kebenaran dengan pemikiran logis-rasional, atau dengan ketepatan, kesesuaiaan dengan sesuatu kaidah 7. Apakah kebenaran itu obyektif, terdapat dan melekat pada obyek atau pada data tenang obyek, ataukah kebenaran itu suatu interpretasi yang paling tepat yang disimpulkan para ahli mengenai obyek ybs? Apa pula syarat bagi interpretasi yg demikian tu?

89 8. Apakah kebenaran itu akhirnya sesuatu yang nyata (reality), yg faktual, adakah realita yang tak faktual, yang tak dialami langsung secara fisik? Adakah sesuatu kebenaran atau realita lain, selain yang faktual? 9. Adakah metode lain untuk menguji suatu ketepatan hipotetikal sebagai kebenaran sementara, selain uji statistik dan uji signifikansinya? 10. Jika kluster dan datanya tidak (berasal dari sampel atau populasi) normal dan homogin, jika perilaku sampel tidak tetap melainkan berubah terus-menerus, jika perilaku populasi begitu ompleks dan mendekati kesemrawutan (chaos), uji statistik mana yg masih ampuh? 11. Lalu apa fungsi, egunaan atau manfaat teori itu yang sebenarnya, untuk epuasan mental saja, untuk menjadi dasar sesuatu model, untuk dasar sesuatu desain untuk jadi dasar bagi kebijakan, bagi operasi/perilaku sesuatu RLS (Real Life System) untuk dasar kontrol dan evaluasi operasi/perilaku RLS?

90 PASCA POSITIVISME: SATU VISI TENTANG TEORI KARL POPPER TERKENAL DENGAN METODE UJI TEORI, MENJELASKAN SOAL FALSIFIKASI DALAM BUKUNYA The Logic of Scientific Discovery tahun 1959 Pokok-pokok pikiranya: 1.Pengetahuan dapat dianggap bernilai ilmiah jika obyektif dan teoritikal, yaitu dapat mengungkapkan yang esensial dari dunia yang telah dan dat diobservasi;

91 2. Ada kecocokan atau kesesuaian antara pernyataan teori tentang dunia yang diobservasi; 3. Nilai atau mutu dari pernyataan ilmiah bersifat probable, yaitu tentang suatu ketepatan yang mungkin, yang sementara, bukan yang pasti dan tetap, karena ia dianggap tepat selama belum dapat dibuktikan yang berlainan, berbeda, atau bertentangan; 4. Nilai atau mutu dari sesuatu pernyataan ilmiah harus terbuka untuk dikaji dan diuji dari beberapa sudut oleh para pakar lain, berkali-kali atau terus-menerus sehingga mencapai bukti-bukti yang menyanggahnya; 5. Cara kerja yg tepat ialah metode deduktif dengan membuat dalil umum dalam bentuk premis atau hipotesis yang berfungsi sebagai lampu pencari (search light), yang dengan bantuan data faktual dapat diturunkan ke proposisi partikularnya

92 6. Menggunakan metode induktif murni tidaklah tepat. Cara kerja induktif harus ditolak, arena aan menghasilkan premis atau hipotesis pertikular; 7. Metode uji verifikasi juga harus ditolak, karena dianggap tidak memadai untuk menemukan nilai ilmiah baru; 8. Untuk memajukan nilai ilmiah, yang lebih tepat ialah metode uji falsifikasi sebagai kriteria pengontrol dan pengujinya

93 THOMAS KUHN The Structure of Scientific Revolutions (1962, 19700) Paradigma, krisis, revolusi ilmiah, pra-paradigma, ilmu normal, dan anomali Tahap I: Ilmu dengan teori yg pra-paradigmatik Tahap II: Ilmu normal tatkala dari fakta dan kesimpulannya berkembang teori-teori yg bersaingan, maka mengemukalah suatu teori yg mendapat Tahap III: dengan bekerja kerasnya para ilmuwan lain itu, ditemukan ada anomali, Tahap IV; Jika anomali dapat dipecahkan dengan teori baru, dengan presisi lebih tinggi yg mengandung daya prediktif lebih mapan,

94 PHILOSOPHY OF SCIENCE: SIR KARL POPPER Popper has devoted much of his career to answering the questions: What is science? How is science performed? Although these questions may at first seem easy to you, consider such areas as astrology and Marxism. Could these approaches be considered scientific? Why not? Falsificationism is the name given to Popper’s description of how science is performed. Falsificationism suggests that science should be concerned with disproving or falsifying theories through logic based on observation. How is this accomplished? First, a scientist must create a consistent falsifiable hypothesis. A falsifiable hypothesis is one that can be shown to be false. For example, the hypothesis “It will rain in Tuscaloosa, Arizona, on Tuesday, December 23, 1997” is a testable hypothesis. Likewise the hypothesis “All objects regardless of weight will fall to earth at approximately the same speed” is a testable hypothesis. However, a hypothesis such as “ESP (extrasensory perception) exists” is an untestable hypothesis. Even the hypothesis “Gravity exists” is untestable. It may be true that both ESP and gravity exist, yet until the hypothesis is stated in a form that can be falsified, the hypothesis is not testable. Second, once a scientist has a falsifiable hypothesis, the task is to develop a test of the hypothesis. Third, the hypothesis is tested. Fourth, if the hypothesis is shown to be false, a new bold hypothesis is developed.

95 Perangkat Ilmu Program Penelitian Lakatos Imre Lakatos Ilmu adalah program penelitian terstruktur, dan bukan trial and error Penganut suatu teori melindungi teorinya dengan sabuk pengaman Kalau ada ketidakcocokan, penganutnya akan membela dengan berbagai alasan Anomali, kesalahan observasi, gangguan pada observasi, kesalahan ukur,... Heuristik Lakatos mengemukakan heuristik positif dan negatif Heuristik positif adalah hal yang dianjurkan untuk dilakukan Heuristik negatif adalah hal yang dianjurkan untuk tidak dilakukan (termasuk tidak langsung menolak teori anutan yang tidak cocok dengan kenyataan)

96 Contoh Pelindung Pada Astronomi Ptelomaeus Gerak planet maju mundur, Pelindung: ada gerak episiklus Demi parsimoni, beralih ke teori Kopernikus Pada Teori Newton Leverrier menemukan bahwa gerak planet Uranus tidak cocok dengan teori Pelindung: ada benda pengganggu Galle menemukan planet Neptunus sebagai pengganggu Pada Gelombang Cahaya Bagaimana gelombang cahaya melewati ruang hampa Pelindung: ada zat eter di dalam ruang “hampa” Ternyata eter tidak ada; Maxwell menunjukkan bahwa gelombangnya adalah elektromagnet

97 Sistem Geosentris dan Ptolemaeus menyebabkan gerak planet maju mundur. Pelindung melalui pembuatan episiklus

98 Fakta Baru Program penelitian (teori) memiliki karakeristik sama yakni dapat memprediksi fakta baru Contoh: Prediksi Halley tentang kembalinya komet 72 tahun kemudian Prediksi Einstein tentang terlihatnya bintang di balik matahari ketika gerhana matahari Prediksi Mendeleyev (melalui tabel periodik) tentang sifat unsur yang belum ditemukan Progresif dan Degeneratif Program penelitian (teori) progresif menghasilkan fakta baru (yang belum diketahui); ada kalanya memerlukan waktu lama –Program penelitian (teori) degeneratif hanya menampung fakta yang sudah diketahui; bisa ditinggalkan orang

99 PHILOSOPHY OF SCIENCE: IMRE LAKATOS Imre Lakatos suggests that the important advances in science are made through the adherence to research programs. By saying this, Lakatos means that science is more than following trial-and-error hypotheses. A research program is the examination of a number of major and minor hypotheses concerning a topic. Some examples Lakatos gives of research programs are Newton’s theory of gravity, Einstein’s relativity theory, and the theories of Freud. An important point, specifies Lakatos, is whether the research program is progressive or degenerating. How do you tell the difference? The main characteristic of a progressive research program is that it predicts novel facts. Thus a progressive program leads to the discovery of new facts, whereas a degenerating program only interprets known facts in light of that theory. By this he means that a degenerating research program only explains the results of already existing experiments, whereas a progressive research program leads one into new directions and predicts new facts. In this way, Lakatos proposes that science changes not by sudden revolutions, as Kuhn suggested, but through the replacement of degenerating research programs with progressive ones.

100 Perangkat Ilmu Paradigma Kuhn Thomas S. Kuhn Melihat teori sebagai struktur terorganisasi Struktur teori berbentuk paradigma Teori bisa mengalami krisis sehingga dapat saja diganti oleh teori lawannya Paradigma Kuhn menurut Larry Laudan Pertama dan terutama Paradigma memberikan kerangka konseptual untuk mengklasifikasikan dan menjelaskan obyek alamiah Kedua Paradigma menspesifikasikan metoda, teknik, dan alat yang layak di dalam inkuiri untuk mempelajari obyek pada wilayah aplikasi yang relevan Ketiga Penganut paradigma berbeda akan mendukung perangkat tujuan dan ideal yang berbeda

101 Teori Normal dan Teori Revolusioner Teori normal Teori yang digunakan menurut paradigma serta dianut oleh seluruh komunitas Krisis Jika muncul banyak anomali, maka teori normal mengalami krisis Teori revolusioner Paradigma tandingan yang dapat mengatasi anomali Penggantian teori Dalam keadaan tertentui, teori revolusioner dapat saja menggantikan teori normal; kemudian teori revolusioner ini menjadi teori normal (sampai krisis lagi) dan berlangsung secara siklus

102 Pergeseran Paradigma Ilmuwan dapat saja berpindah dari paradigma (teori) ke paradigma (teori) lain Contoh: Teori panas Teori phlogiston (dianut oleh Priestly) Bergeser ke teori oksigen (Lavoisier dan Dalton) Bergeser lagi ke teori tenaga (Joule)

103 PHILOSOPHY OF SCIENCE: THOMAS KUHN When Newton said, “I stand on the shoulders of giants,” he was referring to those individuals who came before him and on whose work he was able to build his scientific system. Many of us have similar ideas when it comes to the progression of science. We think that each new discovery is simply added to old discoveries with the result being a gradual accumulation of knowledge. In 1962, Thomas Kuhn suggested that this view is wrong. Kuhn proposed that science actually goes through a series of revolutions. Following each revolution, a new system or method for performing science is instituted. The new system or world view is referred to as a paradigm or set of assumptions, which guide scientific activity until a new revolution and paradigm shift take place. The stable period between revolutions is referred to as normal science. Normal science is the process of problem solving, which most of us think of when someone uses the term science. Normal science for Kuhn is always science performed in relation to a particular paradigm. As an example of the role of paradigms, assume you were a mapmaker before the time of Columbus. You would draw your map as if the world were flat, since that was the accepted belief. You, as a mapmaker, would never think to question this belief; it was a given in your task of drawing maps. Then in the Middle Ages, there was there was the mapmaker’s version of a scientific revolution. The


Download ppt "FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN. FILSAFAT RENUNGAN MENGENAI SEGALA SESUATU, SEBAGAI UPAYA PEMAHAMAN DAN MEMPEROLEH MAKNANYA, YANG."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google