Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

EPISTEMOLOGI. Periodisasi Pertumbuhan Pengetahuan dan Ilmu Zaman Yunani Kuno Abad Pertengahan (1 - 9 M) Renaisans (10 - 15 M) Abad Pencerahan (16 - 18.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "EPISTEMOLOGI. Periodisasi Pertumbuhan Pengetahuan dan Ilmu Zaman Yunani Kuno Abad Pertengahan (1 - 9 M) Renaisans (10 - 15 M) Abad Pencerahan (16 - 18."— Transcript presentasi:

1 EPISTEMOLOGI

2 Periodisasi Pertumbuhan Pengetahuan dan Ilmu Zaman Yunani Kuno Abad Pertengahan (1 - 9 M) Renaisans ( M) Abad Pencerahan ( M) Zaman Modern (19 M - sekarang) Filsuf Alam: Phytagoras, Thales, Anaximenes, Permenides, Herakleitos Filsuf Manusia: Socrates, Plato, Aristoteles Teologi Kristiani: St. Agustinus, Marthin Luther Sains: Nicolous Copernicus, Galileo, Leonardo da Dinci, J. Kepler, Newton Rasionalisme: Rene Descartes, Spinoza, Leibniz Empirisme: Francis Bacon, Hobes, Locke, Hume Kantianisme: Emanulle Kant Positivisme: Auguste Comte Post-Positivisme: Lingkaran Wina Karl Popper Antipositivisme: Thomas Khun

3 Rasionalisme Paham yang menekankan: akal sebagai sumber utama pengetahuan akal pemegang otoritas terakhir dalam kebenaran. Manusia mendapatkan pengetahuannya secara apriori. – Pengetahuan apriori: Pengetahuan yang keberadaannya tidak memerlukan pengalaman inderawi Cara berpikir ideal mendapatkan pengetahuan: deduktif. – Logika deduktif: berdasarkan hal-hal yang umum ditarik kesimpulan yang khusus. K Kesimpulan itidak memerlukan pembuktian empiris, cukup rasio manusia yang menetapkannya. Dalam deduktif, yang diperlukan adalah ketertiban bernalar. Antara pernyataan yang satu dengan pernyataan lainya tidak boleh ada kontradiksi. – Contoh: s » Semua logam dipanaskan memuai (premis mayor) » Besi adalah logam (premis minor). Maka, tanpa harus melalui pengalaman empirik, Rasionalisme menyimpulkan: besi jika dipanaskan pasti memuai (kesimpulan). Bagi Rasionalisme, pengalaman empirik patut dicurigai ketepatannya, karena selalu berubah-ubah dan tidak pasti.

4 Rasionalisme Tokoh Sentral – Abad-17: Rene Descartes, Leibniz, Christian Wolff, dan Spinoza. – Abad-18: Voltaire, Diderot, dan D’Alembert. Descartes (1596 – 1650) – Bapak filsafat modern – Data inderawi sebagai suatu kepastian (adanya kursi di hadapan saya) bisa saja sebuah mimpi yang kita rasakan sebagai kenyataan – “Cogito ergo sum”: aku berpikir maka aku ada – Lilin jika dipanaskan mencair dan berubah bentuk. Apa yg membuat pemahama kita menyatakan bahwa apa yg tampak sebelum dan sesudah mencair masih lilin yg sama? Mengapa setelah penampakan berubah masih kita anggap sebagai lilin? Karena akal kita mempu menangkap ide secara jernih dan gamblang tanpa terpengaruh oleh gejala yang ditampilkan lilin – Penampakan dari luar tidak dapat dipercaya. Maka, seseorang mesti mencari kebenaran dalam dirinya sendiri yang bersifat pasti.

5 Rasionalisme Kesimpulan: – Kaum Rasionalis mengagumi kebenaran penalaran deduktif yang sifatnya apriori. – Kebenaran tentang semesta mereka yakini tidak dari pengalaman empiris melainkan dari pikiran yang menghasilkan ide-ide yang jelas dan gamblang; yang daripadanya dapat dihasilkan kebenaran turunan tentang semesta – Asumsi dasar kaum rasionalis tentang hubungan manusia dan semesta adalah: Adanya keselarasan antara pikiran dan semesta Terdapat korespondensi antara struktur pikiran manusia dan struktur matematis dunia

6 Empirisme Asal kata Yunani – Empiria: pengalaman – Adalah paham yang menekankan: pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan manusia pengalaman pemegang otoritas terakhir dalam penentu kebenaran. Manusia mendapatkan pengetahuannya secara aposteriori. – Pengetahuan aposteriori: pengetahuan yang hadir setelah pengalaman, yakni setelah didukung data-data empiris Cara berpikir ideal untuk mendapatkan pengetahuan adalah induktif – Logika induktif: berdasarkan hal-hal yang khusus ditarik kesimpulan yang umum.

7 Dua Paradigma (Filsafat) Ilmu Pengetahuan Positivisme ve Nonpositivisme

8 Positivisme

9 Tokoh: – Henry Saint Simon, Auguste Comte (1798 – 1857), Charles Darwin, Herbert Spencer, Evolusi lanjut dari empirisme Aliran filsafat ilmu yang yang paling mendominasi wacana ilmu pengetahuan abad-20 – Dianggap sebagai “agama humanis modern” Menjadi doktrin bagi berbagai bentuk pengetahuan manusia Pola pikir logis: – Aposteriori (setelah pengalaman) dan pengambilan kesimpulan secara induktif (khusus – umum) Ilmu bergerak dari fakta-fakta khusus fenomenal ke generalisasi teoretik

10 Positivisme: Asumsi dan Sikap Dasar Menolak metafisik dan teologik – atau menganggapnya primitif Pengetahuan harus berawal dari pengamatan empiris – Puncak pengetahuan manusia adalah Ilmu yang disusun berdasarkan fakta yang terukur dan teramati Masyarakat akan mengalami kemajuan apabila mengadopsi total pendekatan ilmu pengetahuan – Doktrin kesatuan pengetahuan Kesatuan pengetahuan hanya bisa dicapai apabila dikembangkan suatu bahasa ilmiah yang berlaku pada semua bidang ilmu pengetahuan; – Seluruh ilmu pengetahuan harus berada di bawah payung paradigma positivistik

11 Positivisme: Ontologi Obyek dipelajari independen, dieliminasi dari obyek lain, dan dapat dikontrol. Karenanya, obyek dipecah-pecah dalam variabel-variabel – Semesta eksternal digerakkan secara mekanis. Ilmu pengetahuan bertujuan menemuka hukum- hukum kausalitas

12 Positivisme: Epistemologi Menuntut pilahnya Subyek penelitian dengan Obyek penelitian (termasuk subyek pendukungnya) agar dapat diperoleh hasil yang obyektif. Dualisme: – Teori menggambarkan semesta apa adanya tanpa keterlibatan nilai- nilai subyektif peneliti. Kebenaran diraih melalui hubungan kausal-linier; tiada akibat tanpa sebab dan tiada sebab tanpa akibat. – Sesuatu itu benar bila ada korespondensi/isomorphisme antara pernyataan (verbal/matematik) dengan realitas empirik sensual (tertangkap indera)

13 Positivisme: Aksiologi Menuntut penelitian yang bebas nilai – Mengejar obyektivitas agar dapat ditampilkan prediksi atau hukum yang keberlakuannya bebas waktu dan tempat Tujuan penelitian menyusun bangunan ilmu nomothetik (ilmu yg berupaya membangun hukum dari generalisasinya)

14 Positivisme: Metodologi Rancangan Penelitian menspesifikasikan obyek, secara ekplisit dieliminasi dari obyek lain yang tidak diteliti, sehingga jelas obyek studinya Kerangka Teori dirumuskan se-spesifik ungkin, menolak ulasan meluas yang tidak langsung relevan – menurunkan hipotesis atau problematik penelitian, instrumentasi pengumpulan data, dan teknik sampling serta teknik analisisnya berikut rancangan metodologik lain seperti batas signifikansi, teknik penyesuaian bila ada kekurangan atau kekeliruan data, administrasi, analisis, dan semacamntya. Istilah-istilah baku – Kerangka teori, hipotesis, desain penelitian, variabel, sampel, validitas (internal/eksternal), reliabilitas. Pola pikir induktif, linier, causal sebab akibat Semua dirancang secara masak sebelum terjun ke lapangan untuk meneliti

15 KESIMPULAN: Pandangan Positivisme tentang Ilmu Pengetahuan Ilmu haruslah: Bebas nilai – Subyek peneliti harus mengambil jarak dari obyeknya Didapat melalui metode verifikasi empiris – Suatu fenomena harus dapat teramati dan terukur yang didapat melalui pengalaman Tersusun sistematis dalam rangkaian sebab – akibat – Semua fenomena alam bersifat mekanis dan deterministis: sebuah gejala/fenomena adalah akibat dari sesuatu. Setiap akibat pasti ada sebabnya. Tidak ada akibat yang tidak bersebab.

16 Nonpositivisme: Interpretivisme/Konstruktivisme dan Pendekatan Kritis

17 Nonpositivisme: Interpretrivisme dan Kritis Gerakan perlawanan terhadap Positivisme, terjadi pada era 70-an/80-an (di negara maju). Tokoh: – Karl Popper, Thomas Khun, para filsuf Frankfurt Schull a.l.: Paul Feyerabend, Rorty – Dipengaruhi penemuan Neil Bohr, Werner Heisenberg, Einstein Bahwa fisika newton – yg menjadi dasar paradigma positivisme yg mendukung gambaran semesta yang materialistik, mekanistik obyektif – menjadi tidak berlaku setidaknya pada fenomena subatomik. Nonpositivisme: Interpretivisme/Konstruktivisme & Pendekatan Kritis

18 Interpretivisme & Pendekatan Kritis Kritik pada Positivisme Ilmu-ilmu (sosial) yang dikembangkan dengan metodologi berlandaskan positivisme semakin miskin konseptualisasi teoretik – Karena berangkat dari Kerangka Teori, cenderung hanya menguji teori, lemah melahirkan teori baru, kecuali pembenahan Kebenaran empirik (sensual) mendegradasikan harkat manusianya manusia. Kebenaran tidak hanya dapat diukur dengan indera, ada kebenaran yang dapat ditangkap dari pemaknaan manusia atas empirik sensual: – Kemampuan manusia menggunakan akal budi dalam memaknai empirik sensual lebih memberi arti daripada empirik sensual itu sendiri – Selain empirik sensual, dengan akal budinya, manusia dapat melahirkan empirik logik dan empirik etik Empirik sensual dapat diamati kebenarannya berdasarkan empirik inderawi manusia Empirik logik dapat dihayati kebenaranya karena ketajaman akal manusia dalam memberi makna atas indikasi yg tidak perlu menjangkau empirik sensual secara tuntas Empiri etik dapat dihayati kebenarannya karena ketajaman budi manusia dalam memberi makna ideal atas indikasi empirik sensual

19 Interpretivisme Asumsi Dasar Fakta tidak bebas nilai, tidak “berbicara dengan sendirinya”, melainkan dipahami dalam kerangka konseptual tertentu – Tidak ada kebenaran yg benar-benar obyektif, – Kebenaran pengamatan tergantung kepada teori, paradigma, atau kerangka kerja, serta asumsi-asumsi yg dimilikinya – Keterlibatan subyek dalam penelitian tidak dapat sepenuhnya dihindarkan Fakta didapatkan sebagai hasil interaksi antara subyek dan obyek; – Keterlibatan subyek dalam penelitian tidak sepenuhnya dapat dihindari Logika induksi, sebagaimana dianut positivisme, menuntut ilmuwan berfokus pada fakta-fakta yang mendukung (dan mengabaikan fakta anomali atau tidak mendukung). Tidak semua fenomena mampu dijelaskan dengan bukti empirik sensual dan tidak semua fenomena terjadi secara mekanistik

20 Interpretivisme Ontologi Menuntut pendekatan holistik, mengamati obyek dalam konteks, dalam keseluruhan, tidak diparsialkan, tidak dieliminasi; guna mendapatkan pemaknaan dan pemahaman menyeluruh, apa adanya Obyek (semesta) tidak mekanistik tapi humanis

21 Interpretivisme: Epistemologi Menuntut menyatunya Subyek penelitian dengan Obyek penelitian serta Subyek Pendukungnya – Keterlibatan langsung di lapangan dan menghayati berprosesnya Subyek Pendukung

22 Interpretivisme Aksiologi Penelitian tidak bebas nilai – Mengakui fakta empirik logik dan empirik etik

23 Interpretivisme Metodologi Pembatasan masalah melalui fokus Kerangka pemikiran, bukan teori, karena coba memaham obyek dalam latar alamiahnya Desain sementara; tidak kaku ditetapkan di awal Sumber informasi/informan; bukan sampel Yang dikejar: trustworthiness dan credibility sumber; bukan validitas dan reliabilitas Pola pikir induktif – deduktif, maju mundur. – Data dikumpulkan sampai dirasa cukup atau telah terjadi pengulangan

24 Pendekatan Kritis Pendekatan ilmu yang memberangkatkan penelitian dari ideologi atau pandangan hidup Dari Frankfurt Jerman, yang Marxis atau Neo Marxis dan Kiri Baru Melakuka pendekatan secara radikal revolusioner Tokoh, al: Habermas

25 Ontologi Obyek dipelajari independen, dieliminasi dari obyek lain, dan dapat dikontrol. Karenanya, obyek dipecah-pecah dalam variabel-variabel Obyek bekerja dalam hukum kausalitas yang mekanistik Menuntut pendekatan holistik, mengamati obyek dalam konteks, dalam keseluruhan, tidak diparsialkan, tidak dieliminasi; guna mendapatkan pemaknaan dan pemahaman menyeluruh, apa adanya Obyek tidak mekanistik, tapi humanistik PositivismeNonPositivisme

26 Epistemologi Menuntut pilahnya Subyek penelitian dengan Obyek penelitian (termasuk subyek pendukungnya) agar dapat diperoleh hasil yang obyektif. Kebenaran diraih melalui hubungan kausal-linier; tiada akibat tanpa sebab dan tiada sebab tanpa akibat. – Sesuatu itu benar bila ada korespondensi/isomorphisme antara pernyataan (verbal/matematik) dengan realitas empirik sensual (tertangkap indera) Menuntut menyatunya Subyek penelitian dengan Obyek penelitian serta Subyek Pendukungnya – Keterlibatan langsung di lapangan dan menghayati berprosesnya Subyek Pendukung PositivismeAnti-Positivisme

27 Aksiologi Menuntut agar penelitian bebas nilai – Mengejar obyektivitas agar dapat ditampilkan prediksi atau hukum yang keberlakuannya bebas waktu dan tempat Tujuan penelitian menyusun bangunan ilmu nomothetik (ilmu yg berupaya membangun hukum dari generalisasinya) Penelitian tidak bebas nilai – Mengakui fakta empirik logik dan empirik etik Membangun ilmu yang ideografik PositivismeAnti-Positivisme

28 Rancangan Penelitian menspesifikasikan obyek, secara ekplisit dieliminasi dari obyek lain yang tidak diteliti, sehingga jelas obyek studinya Kerangka Teori dirumuskan se-spesifik ungkin, menolak ulasan meluas yang tidak langsung relevan – menurunkan hipotesis atau problematik penelitian, instrumentasi pengumpulan data, dan teknik sampling serta teknik analisisnya berikut rancangan metodologik lain seperti batas signifikansi, teknik penyesuaian bila ada kekurangan atau kekeliruan data, administrasi, analisis, dan semacamntya. Istilah-istilah baku – Kerangka teori, hipotesis, desain penelitian, variabel, sampel, validitas (internal/eksternal), reliabilitas. Pola pikir induktif, linier, causal sebab akibat Semua dirancang secara masak sebelum terjun ke lapangan untuk meneliti Pembatasan masalah melalui fokus Kerangka pemikiran, bukan teori, karena coba memaham obyek dalam latar alamiahnya Desain sementara; tidak kaku ditetapkan di awal Sumber informasi/informan; bukan sampel Yang dikejar: trustworthiness dan credibility sumber; bukan validitas dan reliabilitas Pola pikir induktif – deduktif, maju mundur. – Data dikumpulkan sampai dirasa cukup atau telah terjadi pengulangan Metodologi Positivisme Anti-Positivisme

29 Simpulan Positivisme vs Nonpositivisme

30 “DOGMA” LINGKARAN WINA (a)menolak perbedaan ilmu alam dan ilmu sosial (b)menolak objek yang tidak dapat diverifikasi secara empiris (seperti etika, estetika, agama, atau metafisika); (c)menyatukan semua pengetahuan ilmu dalam bahasa yang universal bila ingin dinyatakan ilmiah: populasi, sampel, validitas, reliabilitas; (d)tugas filsafat hanyalah sebatas alat analisis atas kata- kata dan pernyataan.

31 POSITIVISME Alat Bantu Berfikir Ilmiah: Matematika/Statistika Ukurlah apa yang bisa diukur dan buatlah pengukuran atas apa yang tidak bisa diukur NON-POSITIVISME Alat Bantu Berfikir Ilmiah: Bahasa

32 Positivist – Scientific – Menstandarisasi observasi – Ilmu ada “di luar sana” – Fokus perhatian pada “dunia hasil penemuan” (discovered world) – Berupaya memperoleh hukum general – Memisahkan dengan tegas objek dan subjek Nonpositivist – Humanistic – Mengutamakan kreatifitas individual – Ilmu ada “di dalam sini” – Fokus perhatian pada “dunia para penemunya” (discovering person) – Mengutamakan interpretasi- interpretasi alternatif – Objek merupakan interpretasi subjek DUA PARADIGMA FILSAFAT ILMU SOSIAL

33 Definisi Ilmu Pengetahuan berdasarkan paradigma Filsafat Ilmunya POSITIVISME Ilmu adalah pengetahuan yang tersusun secara: – Objektif – Sistematis-mekanistik – Metodis – Universal (nomothetik). NONPOSITIVISME Ilmu adalah pengetahuan yang tersusun secara: – Intersubjektif – sistematis-humanistis – Metodis – ideografik

34 POSITIVISME Ilmu adalah pengetahuan yang tersusun secara: – Objektif – Objek ilmu pengetahuan sosial sama seperti objek ilmu-ilmu alam, dapat dipecah dalam variabel – Yang berbicara benar adalah objek bukan subjek – Apakah secangkir kopi ini pahit atau manis. Saya bilang manis dan anda bilang pahit. Saya dan anda adalah subjek. Maka, subjektif. – Ilmu pengetahuan harus bersifat objektif. ? Maka yang harus berbicara adalah objeknya itu sendiri (kopi). Diukurlah kadar gula dalam kopi tersebut. Jika memenuhi sekian persen maka manis, jika kurang dari itu maka pahit. – Objek ilmu alam adalah segala isi semesta yang tidak bisa berkata-kata; maka objeknya bicara dengan angka-angka – Ilmuwan sosial juga harus memenuhi kategori ini, bicara dengan angka-angka (kuantitatif) – Sistematis-mekanistik – Seperti segala isi semesta bekerja secara mekanistik. Ilmuwan sosial juga harus memenuhi kriteria ini, memandang objeknya dalam paradigma sebab-akibat yang mekanistik. Jika X pasti Y – Metodis – Ilmu pengetahuan dibangun dengan cara tertentu, bukan kebetulan. Metode ilmuwan sosial awalnya sama dengan ilmuwan alam dengan eksperimen. Namun karena objek ilmu sosial cenderung peristiwa yang sudah terjadi, maka survey menjadi alternatif lain selain analisis isi kuantitatif. – Universal (nomothetik) – Ilmuwan alam mencari hukum-hukum yang bersifat universal, bukan kasus perkasus. Yang dicari adalah yang bersifat nomothetik

35 NONPOSITIVISME Ilmu adalah pengetahuan yang tersusun secara: – Intersubjektif – Objek ilmu sosial berbeda dengan ilmu alam. Onjek ilmu sosial adalah tindakan/perilaku manusia. Perilaku manusia sulit dinilai secara murni objektif – Saya menghilangkan nyawa seseorang, bersalahkan saya? Dalam sistem hukum amerika, dikumpulkanlah sejumlah orang untuk bertindak selaku juri. Kumpulan juri ini adalah subjek-subjek yang akan menilai benar atau salahnya saya keyika menghilangkan nyawa orang lain. Apakah saya menghilangkan nyawa itu dengan sengaja atau tidak sengaja? Gulty or not guilty? Subjek-subjek (juri) inilah yang akan menentukan kebenaran intersubjektivitas. – Sistematis-Humanistis – Tidak ada hubungan sistematis -mekanistis jika X maka Y seperti dalam ilmu alam. Sebab yang sama bisa menimbulkan akibat yang berbeda, tergantung individu manusianya. Hari ini, saya ditinggal pacar menangis. Besok ditinggal pacar biasa saja. Sangat manusiawi, kasus perkasus, tidak mekanistis. – Metodis – Ilmu pengetahuan dibangun dengan cara tertentu, bukan kebetulan. Namun caranya adalah dengan melakukan pendekatan yang berbeda semisal fenomenoliogy atau analisis wacana/framing misalnya. – Ideografik – Tidak ada yang universal dalam tindakan manusia. Semua kasuistis, tergantung kepada siapa, kapan, dan di mana/

36 PARADIGMA ILMU SOSIAL PositivismeInterpretivismeKritisisme Menempatkan ilmu sosial seperti ilmu-ilmu alam Metode yang terorganisasi untuk mengkombinasikan deduktif dengan pengamatan empirik (induktif) Menemukan atau mengkonfirmasikan hukum sebab akibat Memprediksi pola-pola umum (universalitas) dari suatu gejala sosial Menempatkan ilmu sosial sebagai analisis sistematis terhadap socially meaningfull action. Menggunakan pengamatan langsung dan rinci thdp pelaku sosial dlm setting keseharian yg alamiah Memahami dan menafsirkan bgmn para pelaku sosial menciptakan dan mengelola dunia sosial mereka Mendefinisikan ilmu sosial sbg suatu proses yg scr kritis berusaha mengungkap the real structures dibalik ilusi, fals needs, yg dinampakkan dunia materi. Membantu membentuk suatu kesadaran sosial agar memperbaiki dan mengubah kondisi kehidupan manusia

37 PERSPEKTIF TEORETIS - METODOLOGI - METODE THEORETICAL PERSPECTIVE Positivism Interpretivism - Symbolic Interactionalism - Phenomenology - Hermeneutics Critical Inquiry - Experimental Research - Survey Research - Ethnography - Phenomenological Research - Grounded Theory - Heureistic Inquiry - Action research - Discourse Analysis METHODOLOGYMETHODS - Measurement Scalling - Sampling - Questionaire - Observation - Participant Observation - Interview - Focus Group - Case Study - Life History - Comparative Analysis - Document Analysis - Interpretatif Methods - Content Analysis

38 PERBEDAAN ONTOLOGIS PositivismeInterpretivismeKritisisme Critical Realism Ada realitas “real” yang diatur kaidah-kaidah universal walau kebenaran pengetahuan mungkin hanya bisa diperoleh scr probabilistik Relativism Realitas merupakan konstruksi sosial. Kebenaran realitas adalah relatif, berlaku sesuai konteks spesifik yg dinilai relevan oleh pelaku sosial Historical Realism Realitas yg teramati merupakan realitas “semu” (virtual reality) yg terbentuk oleh proses sejarah dan kekuatan- kekuatan sosial, budaya, dan ekonomi politik

39 PERBEDAAN EPISTEMOLOGIS PositivismeInterpretivismeKritisisme Dualist/objectivist Ada realitas objektif sebagai realitas di luar diri peneliti. Peneliti harus sejauh- jauhnya mengambil jarak dgn obyek penelitian Transactionalist/ subjectivist Pemahaman suatu realitas, atau temuan suatu penelitian merupakan produk interaksi peneliti dgn yang diteliti Transactionalist/ subjectivist Hubungan peneliti dgn yg diteliti selalu dijembatani nilai-nilai tertentu. Pemahaman ttg suatu realitas merupakan value mediated findings

40 PERBEDAAN AKSIOLOGIS PositivismeInterpretivismeKritisisme Saintist Nilai, etika, dan pilihan moral harus berada di luar proses penelitian Peneliti berperan sebagai disinterested scientist Tujuan penelitian: eksplanasi,pengujian, dan prediksi realitas sosial Facilitator Nilai, etika, dan pilihan moral adalah bagian takterpisahkan dari penelitian Peneliti sbg passionate participant, fasilitator yg menjembatani keragaman subjektivitas pelaku sosial Tujuan penelitian: rekonstruksi realitas sosial secara dialektis antara peneliti dan yang diteliti Activist Nilai, etika, dan pilihan moral adalah bagian takterpisahkan dari penelitian Peneliti menempatkan diri sebagai transformative intelectual, advocat, dan aktivis. Tujuan penelitian: rekonstruksi sosial, transformasi, emansipasi dan social empowerment

41 PERBEDAAN METODOLOGIS PositivismeInterpretivismeKritisisme Interventionist Pengujian hipotesis dlm struktur hyphothetico-deductive methode; melalui laboratorium eksperimen atau survei ekplanatif dgn analisis kuantitatif Kriteria Kualitas Penelitian Objektivitas, reliabilitas, dan validitas (internal maupun eksternal) Reflective/Dialectical Menekankan empati, dan interaksi dialektis antara peneliti- responden untuk merekonstruksi realitas yang ditelliti, melalui metode-metode kualitatif seperti participant observation Kriteria Kualitas Penelitian Authenticity dan reflectivity: sejauh mana temuan merupakan refleksi otentik dari realitas yg dihayati para pelaku sosial Trustworthiness: - Credibility (=internal val) - Transferability (=external val) - Confirmability (=objectivity) Participative Mengutamakan analisis komprehensif, kontekstual, dan multilevel analysis yg bisa dilakukan melalui penempatan diri sebagai aktivis/partisipan dlm proses transformasi sosial Krtiteria Kualitas Penelitian Historical situadness: sejauh mana temuan merupakan refleksi otentik dari realitas yg dihayati para pelaku sosial Wholesness: sejauh mana studi yang dilakukan bersifat holistik, terhindar dari analisis parsial


Download ppt "EPISTEMOLOGI. Periodisasi Pertumbuhan Pengetahuan dan Ilmu Zaman Yunani Kuno Abad Pertengahan (1 - 9 M) Renaisans (10 - 15 M) Abad Pencerahan (16 - 18."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google