Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

FPGA DAN VHDL TEORI, ANTARMUKA DAN APLIKASI Chapter 1 Prinsip-Prinsip Sistem Digital Ferry Wahyu Wibowo © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "FPGA DAN VHDL TEORI, ANTARMUKA DAN APLIKASI Chapter 1 Prinsip-Prinsip Sistem Digital Ferry Wahyu Wibowo © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish."— Transcript presentasi:

1 FPGA DAN VHDL TEORI, ANTARMUKA DAN APLIKASI Chapter 1 Prinsip-Prinsip Sistem Digital Ferry Wahyu Wibowo © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved

2 Outlines Sistem digital Persamaan dan perbedaan elektronika analog dan elektronika digital Sistem bilangan Gerbang logik © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 2

3 Sistem Digital Cabang elektronika yang mengulas mengenai kombinasi gerbang-gerbang dasar yang diwujudkan sebagai suatu saklar tegangan yang berada dalam ranah tingkat logik © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 3

4 I/O Rangkaian Digital Bentuk gelombang periodik Bentuk gelombang aperiodik Bentuk gelombang pulsa © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 4

5 Perbandingan Elektronika Analog dan Digital Chip Mikrokomputer PC Vending machine Mobil © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved Elektronika Analog Klasik Elektronika Digital Era Komputer 5

6 Perbandingan Elektronika Analog dan Digital Elektronika Analog Suhu Kecepatan Tegangan/arus kontinu yang proporsional Tegangan/arus analog berjangkah nilai Kuantitas Fisik © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 6

7 Perbandingan Elektronika Analog dan Digital Elektronika Digital Deret bilangan biner Penunjukan digital bernilai diskret Kuantitas Fisik © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 7

8 Perbandingan Elektronika Analog dan Digital DefinisiAnalogDigital SinyalVariabel kontinuLangkah diskret SifatAmplifikasiPensaklaran BentukTeganganBilangan © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 8

9 Perbandingan Elektronika Analog dan Digital Ilustrasi perbedaan antara perangkat analog dan digital adalah cara kerja dimmer lampu dan saklar lampu. Dimmer lampu merupakan perangkat analog Saklar lampu merupakan perangkat digital © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 9

10 Perbandingan Elektronika Analog dan Digital Contoh sinyal analog adalah sinyal audio digital © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved Pemutar Compact Disc Menyimpan data suara Bebas derau Suara kualitas tinggi Magnetik vibrasi (analog) Representasi bilangan (digital) 10

11 Perbandingan Elektronika Analog dan Digital Proses analog membandingkan tahap suatu besaran standar dan berlangsung secara kontinu Proses Digital perhitungan secara diskret dan hanya berlangsung dalam interval-interval tertentu © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 11

12 Perbandingan Elektronika Analog dan Digital Penghitungan sinyal analog dilakukan secara diskret © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 12

13 Level Logika Digital Digital direpresentasikan secara biner, atau bilangan basis-2. Deskripsi kuantitas digital secara elektronika memerlukan sistem yang menggunakan tegangan atau arus untuk menggambarkan bilangan biner. © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 13

14 Level Logika Digital Sistem bilangan biner hanya mempunyai dua digit, 0 dan 1. Masing-masing digit didenotasikan oleh perbedaan tegangan yang disebut level logika. Tegangan terendah (biasanya 0 volt) disebut logika low atau logika 0 dan direpresentasikan digit 0. Tegangan tertinggi (biasanya 5 V, namun beberapa sistem mempunyai nilai tertentu seperti 1,8V, 2,5V, 3,3V, atau 3,7V) disebut logika high atau logika 1 yang direpresentasikan digit 1. © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 14

15 Level Logika Digital Bilangan Desimal Sistem bilangan desimal berbasis angka 10 Posisi paling tidak berarti (paling kanan) memiliki sebuah bobot faktor berbasis 10 -n, dan posisi paling berarti (paling kiri) memiliki bobot faktor 10 n Penulisan notasinya : 10 n,..., 10 3, 10 2, 10 1, 10 0, 10 -1, 10 -2, 10 -3,..., 10 -n © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 15

16 Level Logika Digital Bilangan Desimal direpresentasikan sebagai berikut: 581 = 5 x x x 1 atau dituliskan dalam ranah bilangan 10 sebagai, 581 = 5x x x10 0 = Bilangan desimal dan biner menggunakan sistem pembobotan posisional, yaitu: = 1x x x x2 0 = 1x8 + 0x4 + 1x2 + 0x1 = © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 16

17 Level Logika Digital Nilai biner disusun dari most significant bit (MSB) menuju least significant bit (LSB) © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 17

18 Level Logika Digital Bilangan Biner Sistem bilangan biner berbasis-2, menggunakan digit biner (bit) yaitu 0 dan 1. Istilah bit dipakai dalam sistem bilangan biner singkatan dari binary digit. Byte adalah string yang terdiri dari 8 bit. Bilangan biner 101 mempunyai persamaan desimal: 2 2 x x x1 = = 5. © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 18

19 Level Logika Digital Bilangan Oktal Sistem bilangan oktal jarang digunakan dalam representasi sinyal digital, namun beberapa referensi ada yang menuliskannya. Bilangan oktal tidak begitu familiar, namun bisa digunakan dalam bentuk konversinya. © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 19

20 Level Logika Digital Bilangan Oktal Sistem bilangan oktal berbasis-8. Penulisan notasi ini dituliskan misal sebagai atau 734 oktal. Konversi nilai oktal ke dalam bentuk biner lebih mudah karena hanya mengambil tiga digit saja dari bilangan biner kemudian mengkonversinya menjadi desimal. © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 20

21 Level Logika Digital Bilangan Oktal Contoh : konversi binernya menjadi hasil konversinya = = = 4 © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 21

22 Level Logika Digital Bilangan Oktal Nilai konversi desimal ke oktal dilakukan dengan cara membagi nilai desimal dengan 8 © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 22

23 Level Logika Digital Bilangan Heksadesimal Bilangan yang sering digunakan dalam representasi bilangan dalam aplikasi sistem digital dan penulisan kode program. Sistem bilangan heksadesimal berbasis-16 Notasinya 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, A, B, C, D, E dan F. © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 23

24 Level Logika Digital Bilangan Heksadesimal Konversi nilai heksadesimal ke dalam bentuk biner lebih mudah karena hanya mengambil 4 digit saja dari bilangan biner kemudian mengkonversinya menjadi desimal. Contoh : konversi binernya menjadi hasil konversinya = = = 4 © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 24

25 Level Logika Digital Bilangan Heksadesimal Nilai konversi desimal ke heksadesimal dilakukan dengan cara membagi nilai desimal dengan angka 16 © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 25

26 Level Logika Digital Nilai heksadesimal dikonversi menjadi nilai biner untuk mendapatkan nilai desimal, contoh maka nilai heksadesimalnya adalah 13 16, nilai desimalnya : 1x x x x x2 0 1x16 + 0x8 + 0x4 + 1x2 + 1x = 19 © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 26

27 Level Logika Digital Konversi nilai heksadesimal menjadi nilai desimal 1DC 16 = 1x Dx Cx16 0 = 1x x x16 0 = = 476 © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 27

28 Level Logika Digital Komplemen Bilangan Komplemen memudahkan operasi pengurangan dan memanipulasi logika. Dua macam komplemen untuk setiap sistem bilangan dengan radiks R, yaitu komplemen-R dan komplemen-(R-1). Contoh komplemen 10 dan 9 untuk bilangan desimal dan komplemen 1 dan 2 untuk bilangan biner. © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 28

29 Level Logika Digital Komplemen-R Komplemen-R digunakan untuk suatu bilangan nyata positif N dengan radiks R dan bagian bulatnya terdiri dari n angka yang didefinisikan sebagai: R n – N untuk N≠0 dan 0 untuk N=0. © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 29

30 Level Logika Digital Komplemen-R Contoh : 1.K-10 untuk adalah = K-10 untuk 0, adalah ,098 = 0, K-10 untuk 765,43 10 adalah ,43 = 234,43 4.K-2 untuk adalah = = K-2 untuk 0, adalah , = 0, © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 30

31 Level Logika Digital © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 31

32 Level Logika Digital Komplemen-(R-1) Komplemen-(R-1) untuk N bilangan positif yang bagian bulatnya terdiri dari n angka serta bagian pecahannya m angka, didefinisikan sebagai : R n -R -m - N. Contoh : 1.K-9 untuk adalah = = K-9 untuk 0, adalah ,9876 = 0, ,9876 = 0, K-1 untuk 0, adalah , = 0, , = 0, © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 32

33 Level Logika Digital Sandi biner Sandi biner dibentuk dari n bit dengan 2 n kemungkinan cara menyusun bit yang berlainan (2 n kombinasi) Sandi binary code decimal (BCD) Sandi Excess (XS-3) Sandi 8, 4, -2, -1 Sandi Gray Sandi alfanumerik. © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 33

34 Level Logika Digital Sandi Binary Coded Decimal (BCD) Sandi binary coded decimal (BCD) menggunakan prinsip 4 bit biner untuk merepresentasikan satu digit desimal. Kelebihan : konversinya lebih mudah dan sering digunakan pada aplikasi antarmuka. Kekurangannya : penggunaan bit yang boros karena hanya 4 bit saja yang digunakan untuk menunjukkan 16 nilai yang berbeda, tapi hanya 10 nilai saja yang digunakan. © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 34

35 Level Logika Digital Sandi Binary Coded Decimal (BCD) Jenis-jenis sandi BCD 8421 BCD 4221 BCD 5421 BCD Misalkan menggunakan 4221 BCD jika ingin menampilkan angka 7 maka nilai binernya adalah atau , namun jika menggunakan 8421 BCD maka nilai binernya © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 35

36 Level Logika Digital Sandi Binary Coded Decimal (BCD) Konversi nilai desimal ke BCD untuk 171, , , K onversi BCD ke desimal untuk , , ,48 © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 36

37 Level Logika Digital Sandi Excess 3 (XS-3) Sandi Excess 3 (XS-3) adalah kelebihan tiga diperoleh dari nilai binernya ditambah tiga. Nilai yang dicari excess-3 : 2 3 Nilai yang ditambahkan+3+3 Hasil dari excess Nilai biner yang dibentuk=0101=0110 Nilai dari sandi excess-3 untuk nilai desimal 23 adalah © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 37

38 Level Logika Digital Sandi 8, 4, -2, -1 Sandi 8, 4, -2, -1 mirip dengan sandi BCD, hanya nilai yang digunakan terdapat bobot negatifnya. Nilai untuk sandi 8, 4, -2, = 0x8 + 1x4 + 1x (-2) + 0x(-1) = 4 – 2 = 2 © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 38

39 Level Logika Digital Sandi Gray Sandi Gray hanya 1 bit saja yang berubah dalam dua kode yang berurutan, setengah bagian atas (kode desimal 5 - 9) merupakan bayangan cermin dari setengah bagian bawah (kode desimal 0 - 4) kecuali untuk bit ke-4 dari kanan (bersifat reflektif). Sandi ini sering diaplikasikan dalam industri kendali dan implementasi urutan pada finite state machine (FSM). © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 39

40 Level Logika Digital Tahapan konversi biner ke sandi Gray 1.Mulai dengan bit MSB biner. MSB sandi Gray sama dengan MSB biner, 2.Bit kedua yang terdekat ke MSB pada sandi Gray diperoleh dengan menambahkan MSB dan MSB kedua dari biner dengan mengabaikan bawaannya, 3.Bit ketiga MSB pada sandi Gray dengan menambahkan MSB kedua dan ketiga pada biner dengan mengabaikan bawaannya, 4.Proses ini berlanjut hingga didapatkan LSB untuk sandi Gray. © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 40

41 Level Logika Digital Tahapan konversi sandi Gray ke biner 1.Mulai dengan bit MSB. MSB biner sama dengan MSB untuk sandi Gray, 2.Bit kedua yang dekat ke MSB pada biner didapat dengan menambahkan MSB biner dan MSB kedua dari sandi Gray dengan mengabaikan bawaannya, 3.Bit ketiga MSB pada biner dengan menambahkan MSB kedua biner dan ketiga pada sandi Gray dengan mengabaikan bawaannya. 4.Proses ini berlanjut sampai didapatkan LSB biner. © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 41

42 Level Logika Digital Tahapan konversi Desimal – Biner - sandi Gray © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 42

43 Level Logika Digital Sandi Alfanumerik Sandi alfanumerik digunakan untuk mengolah data yang berupa huruf, tanda baca, dan karakter lain. American Standard Code for Informat Interchange (ASCII) Extended Binary Codec Decimal Interchange Code (EBCDIC). © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 43

44 Level Logika Digital Sandi ASCII (American Standard Code for Informat Interchange) merupakan sandi 7 bit Jumlah sandi ASCII sebanyak 2 7 = 128 sandi Sandi ini sering diaplikasikan dalam dekoder untuk membuat tampilan pada liquid crystal display (LCD) atau tampilan yang lainnya. © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 44

45 Level Logika Digital Sandi ASCII © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 45

46 Level Logika Digital Sandi EBCDIC (Extended Binary Codec Decimal Interchange Code) merupakan sandi 8 bit yang diaplikasikan pada sistem komputer untuk saling bertukar informasi. © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 46

47 Level Logika Digital Sandi EBCDIC © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 47

48 Level Logika Digital Bit Paritas Word merupakan sekelompok bit yang diperlukan, disimpan dan dipindahkan sebagai suatu unit. Kemunculan bit paritas : Terjadi error / ralat Penyidikan ralat yang terjadi melalui bit paritas pada Word. Bit paritas adalah bit tambahan yang dicantumkan pada suatu word sehinggga banyaknya angka 1 dalam word menjadi genap / ganjil. © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 48

49 Level Logika Digital Logika Gerbang Tiga operasi logika dasar yaitu AND, OR dan NOT. Variabel logika/biner direpresentasikan A, B, C,..., X, Y, Z. F(var) = ekspresi Var merupakan himpunan dari variabel biner Ekspresi terdiri dari operator (+, -, *), variabel, konstanta (0,1). F(a,b) = a’+ b * b G(x,y,z) = x * (y+z’) © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved 49

50 Level Logika Digital Logika Gerbang © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved Logika AND 1 bit mirip perkalian biner 0. 0 = = = = 1 50

51 Level Logika Digital Logika Gerbang © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved Logika OR 1 bit mirip penjumlahan biner = = = = 1 (carry 1 (MSB), seharusnya 10 2 ) 51

52 Level Logika Digital Logika Gerbang © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved Logika NOT 1 bit merupakan negasi NOT 1 = 0 NOT 0 = 1 52

53 Level Logika Digital Logika Gerbang F = A’ + B.C’ + A’.B’ © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved F A C B 53

54 TERIMA KASIH © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish. All Rights Reserved


Download ppt "FPGA DAN VHDL TEORI, ANTARMUKA DAN APLIKASI Chapter 1 Prinsip-Prinsip Sistem Digital Ferry Wahyu Wibowo © Copyright 2014 oleh Ferry Wahyu Wibowo, Deepublish."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google