Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Kesuburan tanah Lanjutan Sub Topik: PERMASALAHAN & TEKNOLOGI PENGELOLAAN HARA SPESIFIK LOKASI Oleh: Dr. Ir. Hamidah Hanum, MP Sekolah Pascasarjana USU.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Kesuburan tanah Lanjutan Sub Topik: PERMASALAHAN & TEKNOLOGI PENGELOLAAN HARA SPESIFIK LOKASI Oleh: Dr. Ir. Hamidah Hanum, MP Sekolah Pascasarjana USU."— Transcript presentasi:

1 Kesuburan tanah Lanjutan Sub Topik: PERMASALAHAN & TEKNOLOGI PENGELOLAAN HARA SPESIFIK LOKASI Oleh: Dr. Ir. Hamidah Hanum, MP Sekolah Pascasarjana USU

2 PERMASALAHAN & TEKNOLOGI PENGELOLAAN HARA SPESIFIK LOKASI : Lahan Basah Lahan sawah bukaan baru

3 Rata-rata Pertumbuhan Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Padi Indonesia Sejak 1968 – Pelita VI (persen/tahun)

4 Neraca lahan sawah Konversi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian ha/thn 61.6% konversi lahan sawah terjadi di P.Jawa. BPS (2003) : Total luas panen padi = 11.5 juta ha Produksi = 52,1 juta ton (94.7% dihasilkan dari lahan sawah) Rata-rata produktivitas padi sawah 4,7 t/ha dan padi ladang 2.5 t/ha

5 Peluang perluasan lahan sawah Arahan pengembangan (jenis pola tanam) Suma tera JawaKali mantan Sula wesi ………….…x 1000 ha………………. Padi sawah Padi sawah-palawija dataran rendah, iklim basah Padi sawah-palawija dataran tinggi, iklim basah Padi sawah-palawija dataran rendah, iklim kering Padi sawah-palawija dataran tinggi, iklim kering Sumber : Atlas perwilayahan komoditas pertanian nasional skala (Puslitbangtanak, 2002)

6 Peluang perluasan lahan sawah Luas lahan basah/rawa 39,98 juta ha (61.4% sesuai utk lahan sawah), Lahan sawah yg tlh ada 7.75 juta ha (BPS, 2002) Peluang Perluasan lahan sawah (luar Jawa): Potensi pengembangan lahan sawah di masa depan diarahkan pada lahan basah. Pencetakan sawah baru : konversi lahan kering menjadi lahan sawah

7 TEKNOLOGI PENGELOLAAN LAHAN RAWA

8 LAHAN RAWA= lahan basah terdiri dari: lahan pasang surut (dipengaruhi pasang surut air laut/sungai) dan lahan lebak (dipengaruhi oleh air hujan) Kendala fisiko-kimia tanah: 1.lahan potensial /berpirit dalam (kedalaman pirit > 50 cm) 2.lahan sulfat masam (kedalaman pirit < 50 cm) 3.lahan gambut 4.lahan salin Tipe luapan air tipe A : Lahan selalu tertutupi air pasang, baik pasang besar maupun pasang kecil Tipe B : Lahan hanya tertutupi oleh pasang besar saja, tetapi tidak terluapi oleh pasang kecil/pasang harian Tipe C : Lahan tidak terluapi oleh pasang air laut, tetapi air tanah berada <50 cm dari permukaan tanah Tipe D : Lahan tidak terluapi oleh air pasang besar, air tanah berada >50 cm dari permukaan tanah KLASIFIKASI LAHAN PASANG SURUT

9 Luas Lahan rawa di Indonesia (ha) wilayahtotalPoten sial Direkla masi TotalDitana mi Sumatera Jawa Madura Kalimantan Sulawesi Maluku Papua jumlah Lahan Pasang surutLahan lebak Sumber: Alihamsyah (2004)

10 Kondisi dan karakteristik fisik lahan pasang surut merupakan lahan yang tidak normal karena banyak faktor pembatas, diantaranya: 1.Kondisi Gambut. Umumnya kondisi gambut tebal hingga kedalaman 3 – 5 m dimana nilai keasaman sangat tinggi (pH<4) sehingga unsur hara yang merupakan faktor penting dalam pertumbuhan tanaman sangat minim atau terbatas. 2.Kondisi Pirit. Umumnya kondisi pirit adalah dangkal sehingga jika teroksidasi dengan udara akan menjadi racun bagi tanaman. 3.Salinitas/ Intrusi Air Laut. Perilaku pasang surut air laut berdampak pada masuknya air asin di lahan, terutama di daerah pesisir atau berdekatan dengan laut/selat. 4. Hidrotopografi Lahan. Secara umum, kondisi hidrotopografi lahan Tipe C dan D dimana air saluran/parit tidak dapat menggenangi lahan tetapi membasahi permukaan lahan usaha. Kondisi topografi umumnya datar sehingga pada musim kemarau, air sungai turun dan tanaman banyak yang mati. Pada musim hujan jika terjadi banjir, air sungai naik menggenangi lahan.

11 Dekomposisi gambut dipercepat shg gambut menipis pirit muncul kepermukaan & teroksidasi pH tanah semakin masam (pH<3) senyawa toksik( asam organik, as. Sulfat) meningkat Karakter lahan rawa : lahan marginal & rapuh 1. sifat kering tak balik pada gambut, 2. pH tanah : rendah, 3. kandungan asam organik : tinggi, 4. bahaya pirit 5. Kandungan unsur hara rendah. Lahan rawa bermasalah jika didrainase Lahan Rawa harus direklamasi

12 NoKomoditasKawasan Trans Lahan Basah (2003)* Luar Jawa (2002)** Nasional (2002)** Jawa (2002)** 1Padi sawah12,040,6646,5652,47 2Padi Ladang2,3522,3224,4228,77 3Jagung4,226,5130,5333,72 4Kacang Tanah1,5511,0311,1411,19 5Kedelai1,5011,5611,9512,10 6Ubi Kayu14, Ubi jalar15, Produktivitas Hasil Pertanian di Kawasan Transmigrasi Lahan Rawa, Luar Jawa Nasional dan Jawa Sumber: *Pusdatin Ketransmigrasian (2003) dan **BPS (2003)

13 Petani transmigran - Membersihkan lahan dengan membakar gambut : ≈ gambut semakin tipis ≈ pirit teroksidasi shg tnh semakin masam - Petani merambah hutan/kubah gambut ≈ fungsi hutan sbg buffer (menjaga kualitas & cadangan air) hilang shg kemarau kekeringan, hujan kebanjiran : ≈ Gambut jadi kering tak balik ≈ Terjadi kebakaran gambut /gambut semakin tipis Petani suku Banjar -Membersihkan lahan dengan TOT: dgn tajak utk menghindari penipisan gambut & lap.pirit -Menyebarkan sisa tanaman stlh ditebas: menambah bahan organik & mempertahankan tnh di bawahnya (endapan marin kaya S-tereduksi) -Menggunakan varitas lokal tahan masam Lahan produktif, lingkungan lestari Lahan tdk produktif/degradasi gambut, Kerusakan lingkungan

14 Konsep reklamasi lahan rawa berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yaitu dengan meminimumkan kecepatan degradasi gambut dan memberi bahan masukan dari luar Paket teknologi Pengelolaan air dan pengelolaan tanah TEKNOLOGI TATA AIR : Teknik pencucian Teknik pemompaan TEKNOLOGI PENYUBURAN :  Teknik ameliorasi  Pemupukan spesifik lokasi +

15 Tata air pengaturan tata air = menjaga permukaan air, : mencegah kering tak balik, agar akar tanaman dpt menjangkau permukaan air tanah dan hara tidak mudah lepas. Teknis : membuat pintu air pada saluran drainase utk mengatur tinggi permukaan air (bila hujan pintu air dinaikkan, jika tidak hujan pintu air diturunkan) Tujuan utama pengaturan tata air: 1.Memanfaatkan air pasang utk pengairan 2.Mencegah akumulasi garam pd lapisan olah 3.Mencuci zat beracun 4.Mengatur tinggi genangan air utk sawah 5.Mempertahankan permukaan air tanah di atas lapisan pirit 6.Menghindari kering tak balik (KA harus > 250%)

16 Teknik pencucian lahan gambut daerah transmigrasi Sungai 2.Saluran primer 3.Saluran sekunder 4.reservoir Saat pasang, air sungai ke saluran primer/sekunder/reservoir Saat surut, seluruh air di lahan gambut keluar mengangkut keasaman gambut

17 Modifikasi Teknik pencucian lahan gambut pasang surut (Rahayu, 1997) Sungai 2.Saluran primer masuk 3.Saluran sekunder masuk 4.Saluran primer keluar 5.Saluran sekunder keluar 6.Pintu air searah Saat pasang, air ke sal. Primer masuk dan sekundr masuk,, jk surut pintu air searah di saluran masuk menutup shg muka air sal masuk=sal. Keluar/ lebih tinggi dari muka air sungai Saat surut, air di sal masuk mengisi sal.keluar melewati lahan yg akan dicuci lalu ke sungai Jika pasang pintu air searah keluar menutup shg muka air di saluran keluar sll sama/lebih rendah drmuka air sungai

18 Perbaikan sistem pencucian dgn teknik pemompaan Pemompaan pada pintu air searah saluran masuk yaitu untuk memompa air sungai ke saluran masuk waktu air surut. Pada waktu pasang maksimum pintu air ditutup, kemudian jk muka air sungai mulai turun maka di saluran masuk tidak akan kembali ke sungai tetapi akan mengalir menuju saluran keluar melewati lahan gambut yang akan dicuci dengan demikian muka air saluran masuk akan terjadi penurunan Pemompaan pada pintu air searah saluran keluar yaitu untuk memompa air dari saluran keluar dibuang ke sungai pada waktu mulai pasang Pada waktu surut minimum pintu air ditutup sehingga muka air sungai yang beranjak naik tidak mengalir ke saluran keluar, akan tetapi saluran keluar menampung air bekas cuci dari lahan gambut. Agar pembuangan air bekas cuci dapat dipertahankan maka muka air saluran keluar harus dipertahankan tetap rendah, untuk itu dapat dibantu dengan pemompaan saat saluran keluar penuh sementara muka air sungai lebih tinggi

19 Pengolahan Tanah Lahan tipe luapan A sudah melumpur pada saat lahan tergenangi : tidak perlu pengolahan tanah dan disertai dengan penyemprotan herbisida. Lahan tipe luapan B, C dan D pada umumnya sudah membentuk bongkah (mengeras) sehingga perlu pengolahan tanah. Pada lahan pasang surut dengan tipologi sulfat masam, dimana lapisan piritnya dangkal < 50 cm, pengolahan tanahnya harus minimum atau dangkal agar lapisan pirit tidak teroksidasi yang mengakibatkan tanah menjadi masam. Pada tipologi lahan potensial dengan kedalam pirit > 50 cm, pengolahan tanah bisa lebih dalam untuk memperluas areal perakaran tanaman, tetapi tidak sampai ke lapisan pirit Tanah gambut tidak perlu diolah. Lahan yang mempunyai lapisan organik (gambut) tipis (< 30 cm) sebaiknya dicampur dengan tanah mineral di bawahnya tetapi harus diketahui kedalaman piritnya.

20 PENYUBURAN GAMBUT Latar Belakang: umumnya tanah gambut tidak subur krn bersifat asam, kandungan mineral sgt terbatas (krn terbentuk dari bukan bahan mineral) Prinsip penyuburan gambut : menambah bahan mineral supaya seimbang antara bahan organik dgn mineral shg layak dijadikan media tumbuh. Bahan mineral = bahan tanah mineral ≠ pupuk Bahan mineral dpt memperbaiki sifat kimia tanah gambut

21 Bahan penyubur gambut yg pernah diteliti Bahan campurankomoditiSbr. acuan 1.Tanah mineral +kapur 2.Kapur 3.Kapur+abu dapur 4.Kapur+batuan fosfat 5.Pasir,kompos+t.andosol 6.lumpur laut 7.Kotoran ayam+kapur Padi Kedele Ubi jalar Kedele Bibit coklat Padi jagung Musa, 1987 gustia,1989 Sasatrosudiro,93 damanik,87 Jamil,89 Sabiham, 93 Limin,93

22 Ameliorasi = aplikasi bahan amelioran/pembenah kesuburan tanah untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah Kriterian Bahan amelioran : - kejenuhan basa tinggi, - dapat meningkatkan pH tanah, - memiliki kandungan unsur hara lengkap - mampu memperbaiki struktur tanah - dapat meningkatkan efisiensi pemupukan Jenis amelioran yg tlh dicoba:  abu vulkan,  kapur,  tanah mineral,  abu kayu/serasah hasil pembakaran,  abu limbah pertanian  pupuk kandang.

23 penyubur tanah gambut dengan bahan dasar abu vulkan. Kandungan hara : hara K, Ca, Mg, S dan Mo, unsur mikro Fe, Mn, Cu dan Zn Untuk lahan gambut : dosis abu vulkan 4 ton/ha dan terusi 40 kg/ha dapat meningkatkan hasil tanaman kedelai. Penambahan abu vulkan meningkatkan efisiensi pemupukan di lahan gambut Kalteng. Kendala pemanfaatan abu vulkan : - masalah transportasi - harus diikuti dengan penambahan kapur dan NPK. Abu Vulkan

24 dapat menaikkan pH tanah, mengusir asam organik, mensuplai unsur Ca atau Mg, meningkatkan kejenuhan basa. Untuk lahan bertipe luapan A tidak disarankan dikapur. Tanah yang mempunyai pH > 5,0 tidak disarankan untuk dikapur. Pada lahan SMA disarankan dikapur sebanyak 5 ton/ha Untuk tipologi lahan SMP dikapur sebanyak 2 ton/ha, Tipologi lahan potensial (P1, P2) dikapur sebanyak 1 ton/ha. Residu bahan kapur sampai 5 tahun. Kelemahan kapur adalah : - kandungan unsur hara tidak lengkap - tidak dapat membentuk kompleks - kurang memperbaiki struktur tanah. - Kapur cenderung menggumpal jika diberikan di tanah gambut yang kelembabannya kurang sehingga mempercepat kering tak balik. Kapur

25  mempunyai kejenuhan basa tinggi dan kandungan unsur haranya lebih kompleks.  Dapat memperbaiki sifat kimia dan sifat fisik gambut.  Kelemahan tanah mineral adalah kemampuan menaikkan pH sangat rendah sehingga memerlukan tanah mineral sangat banyak.  Dosis tanah mineral yang pernah diberikan antara 1-4 ton/ha.  lumpur sungai, lumpur payau dan lumpur laut lebih efektif menurunkan asam organik tanah gambut.  Aplikasinya menggunakan teknik inkubasi: dilakukan dengan cara mencampurkan bahan amelioran yang akan diaplikasikan, kemudian didiamkan 1-2 minggu. Agar terjadi persenyawaan antara unsur bahan amelioran, Tanah Mineral

26 mengandung unsur hara yang lebih lengkap baik makro maupun mikro, mempunyai pH tinggi (8,5 - 10,0), kandungan kation K, Ca dan Mg tinggi. kemampuan menaikkan pH lebih rendah dibanding kapur mengandung Silikat (Si) dalam bentuk tersedia, Dosis pemberian abu relatif lebih banyak dari bahan amelioran lainnya. Abu pembakaran kayu/serasah/limbah pertanian kandungan kation basanya dan kemampuan menaikkan pH lebih rendah drpd kapur dapat mempercepat pematangan gambut mengandung mikroorganisme yang dapat menguraikan gambut menjadi lebih matang Pemberian pupuk kandang harus disertai bahan lain seperti dolomit/kapur dan pupuk lainnya Dosis yang diberikan sekitar 20 ton/ha untuk meningkatkan produksi tanaman Pupuk kandang

27 Pemupukan - gambut harus dipupuk karena miskin hara - zona rizosfir gambut yang diperuntukkan tanaman pangan pada umumnya < 25 cm setara dengan 100 cm tanah mineral Najiyati (1998) : di Sei Nipah, Kalimantan Barat pengaturan tata air, pemberian bahan amelioran, pemberian pupuk NPK serta pupuk mikro Cu dan Zn, maka usaha tani padi mampu menghasilkan produksi antara 3,95-6,05 ton gkp/ha. Soeharyono (1988) di Palingkau, Kalimantan Tengah menunjukkan pemupukan urea 200 kg/ha, 100 kg TSP dan 100 kg KCl, amelioran kapur pertanian dengan dosis 4 ton/ha maka hasil produksi padi dapat mencapai 3,8 ton/ha.

28 Teknologi TAMPURIN Ditemukan Puslitbang Dep Transmigrasi dgn BPTP Sukarami. TAMPURINS = TAta air, Mikrobia, PUpuk berimbang, kapuR, INkubasi Prinsip TAMPURINS: mengaktifkan tanah gambut dalam untuk meningkatkan produktivitasnya melalui sistem inkubasi pupuk, kapur, pupuk kandang, yg dikombinasikan dgn pengelolaan tata air yg baik.

29 Peran mikrobia dlm pupuk kandang Sebagai pengurai bahan gambut (mineralisasi) Meningkatkan kematangan gambut agar sifat kimia, fisik, biologi menjadi ideal utk tanaman Meningkatkan efisiensi pemupukan Rekomendasi pupuk kandang 200 kg/ha Pemupukan seimbang Menambah hara makro & mikro yg tdk ada /kurang kadarnya dlm tanah gambut. Dosis rekomendasi: urea 200 kg/ha, KCl 150 kg/ha, SP kg/ha, ZnSO4 2kg/ha, CuSO4 6 kg/ha. Penambahan amelioran (tanah mineral, terak baja, abu batubara, abu vulkan) dpt meningkatkan efisiensi pemupukan

30 Pengapuran Menaikkan pH tanah Menambah hara Ca dan Mg tanah Meningkatkan aktivitas mikroba Rekomendasi : dolomit 1 ton/ha Rekomendasi semakin diturunkan dengan meningkatnya kematangan gambut Teknik Inkubasi Memberi kesempatan agar amelioran, kapur, pupuk bereaksi dlm tanah Untuk membuat tanah siap ditanami Rekomendasi: lama inkubasi 1-2 minggu.

31 Hasil introduksi sistem TAMPURINS demplot uji coba di UPT Silaut. Jagung dan kacang tanah yg ditanam dgn sistem TAMPURINS menunjukkan pertumbuhan yg lebih baik dibanding kontrol Jagung varitas Antasena mampu menghasilkan 4.22 t/ha (Tampurins) sedang pada Perlakuan NPK 3.2 t/ha Kacang tanah varitas Trenggiling mampu menghasilkan 1.3 t/ha (Tampurins) Sistem TAMPURINS akan lebih efektif bika dipadukan dgn pemilihan varitas adaptif, PHT, teknik pemupukan yg tepat

32 Tanah salin Salinity is defined as the presence of excessive amounts of soluble salts in the soil (usually measured as electrical conductivity, EC). Na, Ca, Mg, Cl, and SO4 are the major ions involved. Effects of salinity on rice growth are as follows: Osmotic effects (water stress) Toxic ionic effects of excess Na and Cl uptake Reduction in nutrient uptake (K, Ca) because of antagonistic effects Salinity or sodicity may be accompanied by P deficiency, Zn deficiency, Fe deficiency, or B toxicity d)

33 Pengelolaan tanah salin Cropping system: In rice-upland crop systems, change to double-rice cropping if sufficient water is available and climate allows. After a saline soil is leached, a cropping pattern that includes rice and other salt-tolerant crops (e.g., legumes such as clover or Sesbania) must be followed for several years. Varieties: Grow salt-tolerant varieties (e.g., Pobbeli, Indonesia; IR2151, Vietnam; AC69-1, Sri Lanka; IR6, Pakistan; CSR10, India; Bicol, Philippines). This is a short- term solution that may result in increased salinity over the longer term if other amelioration measures are not implemented. Seed treatment: In temperate climates where rice is direct seeded, coat seed with oxidants (e.g., Ca peroxide at 100% of seed weight) to improve germination and seedling emergence by increased Ca and O2 supply. Alternatively, treat rice seeds with CaCl2 to increase seed Ca2+ concentration.

34 Pengelolaan tanah salin Water management: Submerge the field for two to four weeks before planting rice. Do not use sodic irrigation water or alternate between sodic and nonsodic irrigation water sources. Leach the soil after planting under intermittent submergence to remove excess salts. Collect and store low saline rainwater for irrigation of dry-season crops (e.g., by establishing reservoirs). In coastal areas, prevent intrusion of salt water. Fertilizer management: Apply Zn (5–10 kg Zn ha-1) to alleviate Zn deficiency Apply sufficient N, P, and K. The application of K is critical because it improves the K:Na, K:Mg, and K:Ca ratios in the plant Use ammonium sulfate as N source and apply N as topdressing at critical growth stages. (basal N is used less efficiently on saline and sodic soils). In sodic soils, the replacement of Na by Ca (through the application of gypsum) may reduce P availability and result in an increased requirement for P fertilizer. Organic matter management: Organic amendments facilitate the reclamation of sodic soils by increasing the partial CO2 pressure and decreasing pH. Apply rice straw to recycle K. Apply farmyard manure.

35 Treatment tanah salin Saline soils: Salinity can only be reduced by leaching with salt-free irrigation water. Because rice has a shallow root system, only the topsoil (0–20 cm) requires leaching. Cost, availability of suitable water, and soil physical and hydraulic characteristics determine the feasibility of leaching. To reduce the level of salinity in affected soils, electrical conductivity in the irrigation water should be <0.5 dS m-1). Where high-quality surface water is used (EC ~0), the amount of water required to reduce a given ECe to a critical-level ECc can be calculated as follows: Aiw=Asat[(ECe/ECc)+1] where Aiw represents the amount of irrigation water (in cm) added during irrigation and Asat is the amount of water (cm) in the soil under saturated conditions. For example, to lower an initial ECe of 16 dS m-1 to 4 dS m-1 in the top 20 cm of a clay loam soil (Asat = 8–9 cm), about 40 cm of fresh water is required. Subsurface drains are required for leaching salts from clay-textured soils. Sodic soils: Apply gypsum (CaSO4) to reduce Na saturation of the soil (ESP, Na:K ratio). Because of complex chemical and physical interactions, it is difficult to calculate the exact amount of gypsum required. The amount of Ca2+ contained in gypsum required to reduce the ESP to a target level can be estimated as follows: Ca (kg ha-1) = (ESP0 – ESPd) × CEC × B × D × where ESP0 is the original and ESPd is the target ESP value (% of CEC), CEC is in cmolc kg- 1, B is the bulk density (g cm-3), and D is the soil depth (m) to be reclaimed. Foliar application of K, particularly if a low-tolerance variety is grown on saline soil. Spray at the late tillering and panicle initiation stages.

36 TEKNOLOGI PENGELOLAAN LAHAN SAWAH BUKAAN BARU

37 Sawah bukaan baru Yaitu konversi lahan kering menjadi lahan sawah dimana lapisan tapak bajak belum terbentuk

38 Sifat kimia sawah bukaan baru Lahan sawah bukaan baru umumnya marginal: Histosol, Entisol, Ultisol, Oxisol, Spodosol 62.8% sawah bukaan baru di Sumatera pada tanah Ultisol : ha Permasalahan : 1.Kebutuhan air utk pelumpuran cukup banyak 2.Produktivitas tanah: rendah, krn: toksik Al dan Mn, kahat Ca,Mg; jerapan P, K mudah tercuci. 3.Tanaman keracunan besi dan mangan

39 Reaksi oksidasi-reduksi Syarat Reduksi terjadi : Ada donor elektron, ada aseptor elektron, ada mikroba tanah Aseptor elektron 1. Oksigen O 2 + 4e + 4H +  2 H 2 O 2. Bila tak tersedia oksigen 2NO H e  N 2 + 6H 2 O MnO 2 + 4H + + 2e  Mn H 2 O Fe(OH) 3 + 3H + + e  Fe H 2 O As.org. + 2H + +2e  alkohol SO H + + 2e  SO H 2 O CO 2 + 8H + + 8e  CH a + 2 H 2 O SO H + +6e  S H 2 O Donor elektron - Bahan tanaman C 1.7 H 2.2 O  1.7 C 4+ + H 2 O H e - Bahan organik tanah C 2.2 H 2.2 O  2.2 C 4+ + C 2.2 H 2.2 O  2.2 C 4+ + H 2 O H e H 2 O H e

40 Keracunan besi Penggenangan menyebabkan reduksi besi feri menjadi fero. Penggenangan tanah masam Terutama Ultisol dan Oxisol), Konsentrasi besi fero dapat mencapai 600 ppm Tanaman mengalami keracunan besi : Jika kadar besi fero pd tanaman > 300 ppm Keracunan besi terlihat jk : kadar hara lain sgt rendah atau tdk seimbang dan kadar besi dlm tnh mg/l,

41

42 Pengendalian keracunan besi Penggenangan awal utk menghindari Fero samapi puncak Peningkatan penyediaan oksigen di permukaan dengan memutuskan aliran air. Pengendalian drainase dan pencucian Ameliorasi dan pemupukan untuk meningkatkan keseimbangan hara Penanaman varietas yang adaptif

43 Perlakuan Pengaturan Drainase Kadar hara tanamanHasil PKCaFePotLapang ………………..% ppmg/pott/ha Genang kontinu Pengeringan interval 7 hari Pengeringan interval 14 hari Pengeringan interval 7 hari (a) Pengeringan interval 7 hari (b) Pengeringan interval 14 hari (a) Pengeringan interval 14 hari (b) Sbr: Zaini et al (1987) Ket.: lama kering 1 minggu, (a) pada fase vegetatif; (b) pada fase generatif Kesimpulan: 1.Drainase terputus menurunkan kaelarutan Fe, shg serapan Fe berkurang tetapi serapan hara P,K,Ca meningkat 2.Kering 1 minggu, genang 1-2 minggu saat tanam-30 hr seblm panen, hasil meningkat 37 – 51%

44 Pengelolaan Tanaman terpadu / PTT

45 Ameliorasi dan Pemupukan Lokasi sawah bukaan baru PerlakuanSumber rujukan Muara beliti (Inceptisol) Jerami 5 t/ha, KCl 150 kg/ha, dolomit 50 kg/ha Nursyamsi et al (2000) Lubuk Linggau, Sumsel (Ultisol) Fosfat alam 168 ppm P, pukan 20 t/ha, drainase terputus Hanum (2004) Tugumulyo, Sumsel (Ultisol) Jerami 5 t/ha, 388 kg SP-36/ha Kasno, et al (1999) Tapin, Kalsel500 kg kapur/haWidowati (1999) Bangkinang, Riaupukan 5 t/ha, Kapur 1 t, N (90 kg N), P (90 kg P 2 O 5 ), K (60 kg K 2 O), 5 Cu dan Zn kg /ha Burbey dan Yusril (1989) Sitiung, tanah Ultisol5 t pukan, kapur 2 t/ha,, drainase sekali, NPK Abbas, et al (1990)


Download ppt "Kesuburan tanah Lanjutan Sub Topik: PERMASALAHAN & TEKNOLOGI PENGELOLAAN HARA SPESIFIK LOKASI Oleh: Dr. Ir. Hamidah Hanum, MP Sekolah Pascasarjana USU."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google