Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

KARYA PUBLIKASI ILMIAH CIRI-CIRI UMUM: Lebih banyak menggunakan bahasa kajian Sistematika tanpa huruf dan tanpa angka Tidak menggunakan bab dan subbab.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "KARYA PUBLIKASI ILMIAH CIRI-CIRI UMUM: Lebih banyak menggunakan bahasa kajian Sistematika tanpa huruf dan tanpa angka Tidak menggunakan bab dan subbab."— Transcript presentasi:

1

2 KARYA PUBLIKASI ILMIAH CIRI-CIRI UMUM: Lebih banyak menggunakan bahasa kajian Sistematika tanpa huruf dan tanpa angka Tidak menggunakan bab dan subbab Tidak boleh ada halaman yang kosong Harus ada abstrak dan katakunci Contoh Artikel Ilmiah Kajian

3 KARYA PUBLIKASI ILMIAH Karya publikasi Ilmiah adalah karya ilmiah yang dipublikasikan melalui jurnal ilmiah, baik jurnal teks, CD-Room, maupun On Line. Bahan penulisan bisa diambil dari hasil penelitian, maupun studi literatur/telaah pustaka. Contoh Artikel Ilmiah Kajian

4 SISTEMATIKA PENULISAN KARYA PUBLIKASI ILMIAH: DARI HASIL PENELITIAN JUDUL (5—15 kata) JUDUL (5—15 kata) PENULIS (TANPA GELAR) PENULIS (TANPA GELAR) SPONSOR (Jika Penelitian ada sponsornya) SPONSOR (Jika Penelitian ada sponsornya) ABSTRAK ABSTRAK KATA KUNCI KATA KUNCI PENDAHULUAN (pentingnya masalah diteliti, masalah, tujuan, manfaat penelitian, landasan teori) PENDAHULUAN (pentingnya masalah diteliti, masalah, tujuan, manfaat penelitian, landasan teori) METODE (Dijelaskan teknik mengambil dan mengolah data) dapat dijadikan satu dengan pendahuluan METODE (Dijelaskan teknik mengambil dan mengolah data) dapat dijadikan satu dengan pendahuluan DATA (BERSIH) DATA (BERSIH) PEMBAHASAN PEMBAHASAN PENUTUP (BERISI SIMPULAN DAN SARAN) PENUTUP (BERISI SIMPULAN DAN SARAN) DAFTAR RUJUKAN DAFTAR RUJUKAN Contoh Artikel Ilmiah Kajian

5 SISTEMATIKA PENULISAN ARTIKEL ILMIAH KAJIAN: STUDI LITERATUR/ TELAAH PUSTAKA JUDUL (5—15 kata) JUDUL (5—15 kata) PENULIS (TANPA GELAR) PENULIS (TANPA GELAR) ABSTRAK ABSTRAK KATA KUNCI KATA KUNCI PENDAHULUAN (pentingnya masalah dibahas dan garis besar topik) PENDAHULUAN (pentingnya masalah dibahas dan garis besar topik) PEMBAHASAN PERTOPIK PEMBAHASAN PERTOPIK PENUTUP (BERISI SIMPULAN DAN SARAN) PENUTUP (BERISI SIMPULAN DAN SARAN) DAFTAR RUJUKAN DAFTAR RUJUKAN Contoh Artikel Ilmiah Kajian

6 Contoh artikel kajian GAYA SELINGKUNG UI GAYA SELINGKUNG UI Gaya Selingkung IKIP BU Gaya Selingkung IKIP BU Gaya Selingkung UB Gaya Selingkung UB Artikel Populer Artikel Populer

7 PENGEMBANGAN ANJING PELACAK ELEKTRONIK MENGGUNAKAN MICRO AUTONOMOUS ROBOTIC SYSTEM ABSTRAK Penelitian mengenal sistem penciuman elektronik akan sangat bermanfaat terutama bagi peningkatan produktivitas sektor agricultur yaitu untuk dapat diterapkan pada industri-industri beverage, kosmetik dan minyak wangi, karena industri-industri tersebut sangat memerlukan kontrol kualitas terhadap standar aroma campuran dari produknya. Maka diharapkan industri-industri tersebut akan mampu meningkatkan mutu dari produk mereka sesuai standar internasional sehingga dapat meningkatkan ekspor. Keberhasilan penelitian ini akan sangat mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi, karena penelitian seperti ini masih sangat jarang dilakukan, dan nantinya diharapkan dapat membantu peningkatan kualitas dari sektor agriculture. Peningkatan sistem menjadi mobile robot bertujuan agar sistem dapat digunakan sebagai peralatan pelacakan kebocoran gas maupun obat terlarang. Sistem tersebut dapat disebut Anjing Pelacak Elektronik. Untuk kebocoran gas beracun yang dapat mengganggu keselamatan manusia maka pengembangan sistem ini akan bermanfaat bagi kemaslahatan orang banyak. Kata kunci : Sistem Pelacak Aroma Elektronik, Robotika Mikro, Autonomous Robotika, Fuzzy Neural Netwokrs, Komunikasi radio frekuensi PENDAHULUAN Saat ini banyak industri yang membutuhkan pengenalan aroma, seperti industri beverage, kosmetik dan minyak wangi menggunakan manusia yang telah dilatih untuk mengontrol kualitas aroma dari produk yang akan dihasilkan. Pengenalan aroma dengan menggunakan manusia memiliki banyak keterbatasan dan relative sangat dipengaruhi oleh kesehatan atau perasaan sesaat ( mood ), sehingga terkadang mengurangi ketelitian dari hasil pengenalan aroma tersebut. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk dapat meniru sistem kerja dari sistem penciuman manusia, yaitu dengan menciptakan suatu alat elektronik yang secara otomatis dapat mengenal dan mengklasifikasikan aroma secara konstan dan akurat. Alat tersebut dikenal dengan sistem penciuman elektronik. Penelitian pendahuluan mengenai pengembangan sistem penciuman elektronik ini telah dilakukan di laboratorium Kecerdasan Komputesional Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Contoh Artikel Ilmiah Kajian Wisnu Jatmiko, Fumihito Arai, dan Toshio Fukuda Dept. of Micro System Engineering, Nagoya University 1 Furocho Chikusaku, Nagoya, Japan

8 Dalam penelitian pendahuluan tersebut sistem deteksi gas dibuat dengan menggunakan resonator kwarsa yang dipadukan dengan teknik pemetaan (identifikasi) odor dengan metoda pengenalan pola Jaringan Neural Buatan (JNB). Jaringan ini akan berkelakuan seperti otak manusia dimana beberapa neuron secara rapi berhubungan satu sama lain untuk dapat menghasilkan pengenalan pola yang efektik. Sistem penciuman elektronik ini dikembangkan dengan menggunakan 4 buah jenis sensor. Dalam aplikasinya, sistem penciuman elektronik ini telah digunakan untuk membuat klasifikasi beberapa jenis aroma dari produk wewangian Martha Tilaar Cosmetic dan beberapa jenis wewangian dari Splash Cologne Products. Hasil percobaan memperlihatkan bahwa penggunaan 4 buah sensor ini telah mampu membuat klasifikasi aroma Martha Tilaar dangan presentase pengenalan hingga 100%. Akan tetapi untuk jenis wewangian Splash Cologne, hasilnya hanya sekitar antara 30-40% saja. Hal ini disebabkan karena aroma Splash Cologne ternyata merupakan golongan dari beberapa aroma dasar sehingga mempunyai tingkat kesulitan yang lebih tinggi dari sistem untuk mengenali pola aromanya. Untuk menyelesaikan masalah tersebut penulis telah mengembangkan prototype sistem penciuman dengan menggunakan 16 sensor dangan frekuensi dasar 20 MHz. untuk mengklasifikasikan data dari sistem yang dikembangkan tersebut peneliti menggunakan Jaringan Neural Buatan berbasis Fuzzy Learning Vector Quantization (FLVQ). Hasil yang didapat menunjukkan sistem tersebut dapat mengenal aroma campuran dangan baik. Dalam tulisan ini akan dibahas peningkatan sistem manjadi Anjing Pelacak Elektronik. Penciuman lokasi dan pelacakan kebocoran gas ataupun obat terlarang (obat bius) masih merupakan pekerjaan yang sulit untuk dapat dilaksanakan dengan menggunakan peralatan elektronik: sedangkan penentuan lokasi sumber kebocoran gas ini sangat penting untuk dapat dilakukan dengan cepat. Hingga saat ini penentuan lokasi kebocoran gas ataupun masalah pelacakan dalam penyelundupan obat bius masih dilakukan dengan menggunakan metode konvensional, yaitu dengan menggunakan Anjing Pelacak terlatih, ataupun dengan menggunakan manusia pakar yang mempunyai keahlian khusus. Akan tetapi anjing pelacak maupun manusia pakar ini mempunyai keterbatasan yang berkaitan dengan masalah kesehatan ataupun perasaan sesaat ( mood ), sehingga dapat mempengaruhi kepakarannya. Untuk mengatasi hal tersebut, maka perlu dikembangkan suatu sistem deteksi secara elektronik. Untuk dapat merealisasikan sistem pelacak dan penjejak odor secara elektronik, maka digunakan pemodelan kemampuan binatang dalam melacak odor. Banyak binatang dalam kehidupan kesehariaanya mempunyai kemampuan untuk menentukan lokasi lawan jenis, makanan maupun bahaya berdasarkan penciuman dan pelacakan sumber odor. SISTEM PENCIUMAN ELEKTRONIK Sistem Penciuman Elektronik dikembangakan untuk dapat meniru sistem penciuman manusia. Sistem Penciuman Elektronik terdiri dari tiga bagian, yaitu sistem sensor yang dapat merubah besaran aroma menjadi besaran listrik, sistem elektronik yang Contoh Artikel Ilmiah Kajian

9 mengukur perubahan besaran listrik dan memindahkannya ke komputer, dan perangakt lunak dari Jaringan Neural Buatan (JNB) yang akan mengenal pola aroma yang akan dideteksi. Dalam bab ini akan dibahas secara rinci mengenai teori dasar dan cara kerja dari sistem, yang meniru cara kerja sistem penciuman manusia. Dalam hal ini akan diperlihatkan hasil respons yang berbeda-beda dari pengalaman aroma yang berbeda-beda. Teori Dasar Sistem Penciuman Berdasarkan teori, syarat utama agar semua bahan dapat dicium oleh manusia adalah bahan tersebut mudah menguap. Aliran udara beraroma tersebut ditarik masuk melewati lubang hidung untuk dihangatkan dan disaring saat melewati 3 buah tulang turbinate. Kemudian aliran ditarik kearah 2 celah yang terdiri dari organ penciuman. Organ ini terdiri dari 2 jaringan kecil, dimana pada jaringan ini terdapat 2 jenis serat syaraf yang tertanam didalamnya. Ujung-ujung kedua syaraf ini merupakan penerima yang mendeteksi aroma. Ujung-ujung syaraf ini mengirim sinyal ke olfactory bulb dan pusat otak yang lebih tinggi, dimana sinyal dipadukan dan diterjemahkan dalam bentuk karakter dan intensitas aroma. Syarat utama lain dari bahan yang dapat menembus air, karena ujung-ujung syaraf tertutup oleh lapisan berair. Syarat lainnya adalah bahan tersebut juga harus dapat menembus lapisan lipida yang membentuk membrane permukaan tiap sel. Peralatan Sistem Penciuman Elektronik Hidung Elektronik yang telah dikembangkan, ini menggunakan teknologi gas sensor yang disebut SAW ( surface acoustic wave ) dan piezoelectric (kwarsa). Kedua peralatan ini bertindak sebagai neraca-micron, yang digunakan untuk mengukur perubahan massa dari zat yang akan dianalisa. Perubahan massa zat itu menyebabkan nilai parameter (frekuensi) pada sensor berubah. Perubahan nilai parameter dari setiap sensor tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda, sehingga dapat menimbulkan pola dari setiap zat yang akan dianalisa. Untuk menangkap pola dari zat yang dihasilkan diperlukan beberapa ranglaian elektronik tambahan pada hidung elektronik tersebut. Pola yang dihsilkan tersebut akan digunakan sebagai dasar untuk menganalisa aroma dari gas/zat yang dianalisa. Pada hidung elektronik dikembangkan pola-pola yang akan diklasifikasikan dengan menggunakan metoda jaringan neural buatan. Dalam system sensor yang dikembangkan, cairan cuplikan yang disuntikkan harus dari bahan yang sangat mudah diuapkan dengan cepat, dan suhu pengukuran harus dijaga tetap tinggi. Untuk lebih jelasnya sistem pengujian pengenalan aroma dapat dilihat pada gambar 2. Semua sensor yang berjumlah enam belas ditempatkan disebuah mulut tabung uji. Untuk menjaga kestabilan suhu, tekanan dan volume digunakan dua buah pompa udara, yaitu pompa udara bersih dan pompa udara beraroma. Kerja dari kedua pompa udara ini bergantian yang diatur oleh computer lewat rangkaian antar-muka yang akan menggerakkan sebuah Relay Catu Daya. Hasil eksperimen dari kemampuan algoritma JNB-BP, JNB-PNN dan JNB-FLVQ untuk mengenal aroma dua campuran dan tiga

10 campuran dapat dilihat pada tabel 3 dan tabel 4. Dari tabel 3 terlihat bahwa JNB-PNN dan JNB-FLVQ mempunyai hasil pengenalan yang baik untuk mengenal aroma 2 campuran yaitu hasil pengenalannya rata-rata diatas 90%. Sedangkan pengenalan dengan menggunakan JNB-BP hasil pengenalannya ada yang masih dibawah 80% terutama pengenalan menggunakan 18 pola. Dalam mengenal aroma 3 campuran, penggunaan algoritma JNB-BP dan JNB-PNN mempunyai hasil pengenalan yang tidak baik, yaitu semakin meningkat penggunaan pola dalam mengenal aroma maka hasil yang didapatkan semakin menurun. Penggunaan JNB-BP rata-rata menghasilkan pengenalan masih dibawah 50%. Untuk kasus pengenalan dengan menggunakan 18 pola sekaligus pengenalan dari JNB-BP dan JNB-PNN hasil pengenalannya sangat jelek yaitu dibawah 50%. Sedangkan JNB-FLVQ hasil pengenalannya rata-rata diatas 70% kecuali untuk kasus pengenalan 18 aroma sekaligus, hasil pengenalannya hanya mencapai 50%. Hasil pengenalan secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel 4. SISTEM PELACAK SUMBER GAS ARTIFISIAL (ANJING PELACAK ELEKTRONIK) Penentuan lokasi dan pelacakan kebocoran gas ataupun obat terlarang (obat bius) masih merupakan pekerjaan yang sulit untuk dapat dilaksanakan dengan menggunakan peralatan elektronik; sedangkan penentuan lokasi sumber kebocoran gas ini sangat penting untuk dapat dilakukan dengan cepat. Hingga saat ini penentuan lokasi kebocoran gas ataupun masalah pelacakan dalam penyelundupan obat bius masih dilakukan dengan menggunakan metode konvensional, yaitu dengan menggunakan anjing pelacak terlatih, ataupun dengan menggunakan manusia pakar yang mempunyai keahlian khusus. Akan tetapi anjing pelacak maupun manusia pakar ini mempunyai keterbatasan yang berkaitan dengan masalah kesehatan ataupun perasaan sesaat ( mood ), sehingga dapat mempengaruhi kepakarannya. Untuk mengatasi hal tersebut, maka perlu dikembangkan suatu sistem penentuan lokasi sumber gas berdasarkan sistem deteksi secara elektronik. Untuk dapat merealisasikan sistem pelacak dan penjejak odor secara elektronik, maka digunakan pemodelan kemampuan binatang dalam melacak odor. Banyak binatang dalam kehidupan kesehariannya mempunyai kemampuan untuk menentukan lokasi lawan jenis, makanan maupun bahaya berdasarkan penciuman dan pelacakan sumber odor. Beberapa penelitian telah dimulai untuk dapat meniru ( mimicking ) sifat binatang ini dengan membuat sistem hidung artifisial dengan menggunakan sensor-array, ataupun mobile-sensor yang pergerakannya dikontrol oleh komputer. Untuk memudahkan implementasi robot anjing pelacak, keseluruhan proses yang dilakukan oleh anjing pelacak dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu: Plume Finding (Menemukan daerah distribusi gas yang akan dicari), Plume Traversal (Mengikuti distribusi gas untuk mencari kebocoran gas), dan Source Declaration (Menentukan daerah sumber kebocoran gas). Untuk lebih jelas mengenai keseluruhan proses tersebut dapat dilihat di gambar 9. Penelitian pendahuluan pelacakan sumber gas yang pernah dilakukan menggunakan empat buah sensor gas semi konduktor yang ditempatkan diatas papan beroda, akan tetapi pergerakan sistem masih dilakukan secara manual [16-19]. Empat buah sensor gas semikonduktor tersebut digunakan sebagai ujung hidung pelacak elektronik, seperti terlihat dalam gambar 10. Sistem Contoh Artikel Ilmiah Kajian

11 sensor ini kemudian diletakkan dalam terowongan angin miniatur (gambar 11) dan sumber gas kemudian dilewatkan didalamnya. Penelitian awal ini menyimpulkan bahwa sistem pelacak aroma ini berfungsi dengan baik [19]. Akan tetapi beberapa perbaikan mendasar perlu dilakukan sebelum sistem pelacak ini diterapkan dalam sistem pergerakan udara terbuka. Pengembangan Sistem Pelacak Sumber Gas Artifisial (Anjing Pelacak Elektronik) [1] Pengembangan dari sistem pelacak sumber gas dilakukan dengan memperbaharui jenis sensor menjadi sensor semikonduktor TGS-822 dengan penghirup udara dan penambahan micro controller yang bertugas untuk mengambil data dari lingkungannya serta menggerakkan roda penggerak ke sumber odor dari sisi modul pelacak. Dari sis Modul tersebut berkomunikasi menggunakan modem yang dilewatkan pada pemancar dan penerima FM atau sering disebut modem-radio. Dalam pengembangannya system pelacak sumber gas artificial akan dicobakan dalam udara terbuka, yaitu tanpa menggunakan terowongan angina lagi. Untuk lebih jelasnya blok diagram dari pengembangan system tersebut dapat dilihat pada gambar 12. Pengembangan Sistem Sensor Berdasarkan penelitian awal yang telah dilakukan, ada beberapa kelemahan dalam system sensor yang akan diperbaiki. Sistem sensor yang menggunakan empat buah sensor semi konduktor TGS-822 akan diteliti kelemahannya, dan akan dilakukan pengurangan jumlahnya untuk dapat memperbaiki kinerja system. Sistem penjejak ini juga akan dilengkapi dengan kipas angina miniature, yang berfungsi untuk ‘menghirup’ udara beraroma sehingga dalam proses ‘penciumannya’, system sensor dapat secara aktif bekerja dan memberi response yang lebih cepat. Pengembangan Modul Komunikasi Dalam penelitian tahap berikutnya, probe pelacak sumber akan ditempatkan dalam suatu modul robotic berbasis komunikasi RF yang pergerakannya juga akan diatur oleh komputer. Pergerakan modul pelacak ini dilakukan dengan memberi perintah kepada dua stepping-motor yang akan mengerakkan roda modul penjejak. Komunikasi data antara komputer dan modul pelacak sumber akan dilakukan dengan gelombang radio tanpa kabel ( wireles RF communication ) yang digunakan untu data akuisisi maupun data pergerakan motor. Penggunaan elombang radio tanpa kabel ini dimaksudkan untuk memudahkan pergerakan modul pelacak dalam medan yang sesungguhnya Pengembangan Algoritma Pencapaian Sasaran Pencapaian sasaran sumber ododr dilakukan dengan bebeapa metoda diantaranya adalah metoda selangkah demi selangkah dan metoda zig-zag. Untuk dapat memperepat tanggapan dari sistim sensor terhadap arah sumber maka dalam pengembangannya, Contoh Artikel Ilmiah Kajian dan Artikel Ilmiah Populer

12 system sensor ini akan diputar dengan sudut putar sebesar 360° dengan menggunakan step-motor (apabila menggunakan jumlah sensor yang lebih sedikit). Sebelum system pelacak aroma ini diuji cobakan dalam system udara terbuka, beberapa eksperimen akan dilakukan dalam system terowongan angina miniature yang lebih luas. Cara Kerja Sistem Anjing Pelacak Elektronik Sensor TGS-822 dilapisi oleh bahan semi konduktor Sn02 yang mempunyai nilai konduktivitas yang rendah pada uadara normal (bersih). Apaila udara disekitar sensor tersebut terdapat aroma lain, konduktivitas dari sensor meningkat tergantung dari jenis aroma dan konsentrasi yang terkandung. Dengan penambahan rangkaian listrik sebagai converter sederhana maka perubahan konsentrasi dari zat yang ada disekeliling senor tersebut dapat dibaca dan diklasifikasikan. Jenis sensor yang dipakai dalam pelacak sumber gas artificial ini adalah sensor yang sangat sensitif terhadap alkohol. Cara kerja sitem secara umumdapat dijelaskan sebagai erikut : Sensor TGS-822 akan diputar 180 derajat yang dibagi menjadi 28 titik pengambilan data. Setiap titik pengambilan data dibaca nilai tegangan keluaran sensor TGS-822 yang diubah oleh Analog to Digital Converter menjadi bilngan antara Setiap selesai melakukan pengambilan data, setiap nilai data langsung dikirimkan setelah dimodulasi terlebih dahulu oleh modem melalui pemancar FM pada frekuensi tertentu/ rekuensi kirimdta. Data diterima oleh model pengolah data melalui penerima FM kemudian didemodulasi oleh modem dan masuk melalui serial device di komputer. Data disimpan oleh komputer, sampai ke 28 titik data. Pengolahan data dilakukan dengan cara membandingkan nilai tebesar (konsentrasi alkohol ~ tegangan keluaran ~ nilai data dalam byte). Dari 28 titik data pengamatan dibagi menjadi 5 daerah arah gerak modul pelacak. PC akan memerintahkan BS-1 untuk menggerakkan modul pelacak kea rah yang dikehendaki (hasil pengolahan data). Dengan cara mengirimkan sinyal melalui serial kemudian dimodulasi modem masuk ke pemancar FN dengan frekuensi yang berbeda (frekuensi perintah) dari frekuensi kirim data tadi. Penerima FM dimodul pelacak menerima difrekuensi perintah dan sinyal masukan masuk BS-1 untuk aksekusi. Proses ini dilakukan berulang sampai mencapai titik sumber odor [18,19]. Proto-tipe yang telah berhasil dikembangkan dengan mengacu dari gambar 13 dan gambar 14 dapat dilihat pada gambar 15. Hasil Eksperimen Sistem Anjing Pelacak Elektronik Pengujian pertama yang dilakukan terhadap system anjing pelacak elektronik adalah mencari sumber ordo. Eksperimen yang dilakukan adalah mencari sumber ordo yang berada tepat modul pelacak dalam lima titik searah jarum jam, yaitu -90°(sebelah kiri), -45° 9sebelah kiri), 0°(lurus depan), +45°(sebelah kanan) dan +90°(sebelah kanan). Arah yang mampu dicari oleh modul pelacak hanya 5 arah, hal ini disebabkan karena keterbatasan memori yang dimiliki oleh microcomroller dari system. Adapun percobaanya mempunyai batasan-batasan sebagai berikut:wadah sumber alkohol berdiameter 7,115+0,001 cm, konsentrasi alcohol 70% dan didekat sumber diberi kipas 220 volt AC. Sebelum diujicobakan terlebih dulu harus diketahui tingkat keberhasilan Contoh Artikel Ilmiah Kajian

13 sistem pelacakan odor ini untuk mengetahui arah sumber yang benar. Untuk itu di ambil dua sample jarak yaitu 40 cm. Pengujian ini di ulang 20 kali secara kontinu untuk setiap titik sumber. Hasilnya dapat dilihat dalam gambar 16. Dari gambar 16 terlihat bahwa sistem pelacak sumber gas artificial dapat melacak dengan bail pada jarak 40 cm. terlihat untuk semua arah sumber hasil pengenalan masih diatas 75% [18]. Pengujian kedua adalah menguji jumlah langkah yang dibutuhkan oleh s pelacak sumber gas artificial untuk mencapai sumber odor dengan jarak yang berbeda beda. Satu langkah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah satu siklus proses dari data yang diambil oleh modul pelacak lalu dikirim ke modul pengolah data untuk dianalisa, setelah itu modul pengolah data akan mengirim hasil analisa kepada modul pelacak untuk melakukan respon [18]. Dari gambar 17 terlihat bahwa semakin jauh jarak sumber odor yang dituju semakin banyak langkah yang dibutuhkan. KESIMPULAN Analisis Prototype anjing pelacak yang telah diimplementasikan di Lab. Jaringan Syaraf tiruan Fasilkom UI mempunyai beberapa kekurangan seperti keterbatasan jumlah langkah algoritma yang diimplementasikan dan pemrosesan data dilakukan oleh Personal computer. Hal tersebut dikarenakan kecilnya kapasitas memori di mikro controller yang digunakan. Pengembangan Sistem Lebih Lanjut Penelitian lebih lanjut mengenai anjing pelacak akan dilakukan di jepang adalah menjadikan anjing pelacak sumber gas artificial menjadi sistem yang otomatis mengacu pada penelitian Prof. Fukuda di Nangoya university yaitu MARS ( Mikro Autonomous Robotic System). [20-21]. Ada 3 hal penting yang perlu diperhatikan untuk menjadikan suatu sistem menjadi MARS : 1. Actuator dari sistem tersebut harus dapat bergerak fleksibel dan cepat. 2. Sensor dapat menangkap informasi dari sistem dengan jelas. 3. Mikro controller yang dapat merespon informasi yang diberikan dari sensor yang akan diterjemahkan untuk menggerakkan actuator dalam hal ini implementasi algoritma searching. DAFTAR RUJUKAN Fausset, F Fundamental of Neural Networks: Architecture Algorithms and Aplikation. Prentice Hall Inc. Ishida, H. Suetsugu, K. Nakamato T. and Moriizumi, T Study of outonomus mobile sensing system for localization of odor source using gas sensors and anemometric sensors ( page ). Sensors and Actuators A-45. Contoh Artikel Ilmiah Kajian dan Artikel Ilmiah Populer

14 Jatmiko, W Improfing the Electronik nose System Uses 16 sensors: Characteristic and Aplication. Jakarta: Universitas Indonesia. J, Ide. M, Ito. Nakamato, T. and Moriizumi, T Development of Odor-Sensing System Using an Auto-Sampling Stage and Identification of Natural Essensial Oils (page ). Tokyo: Olfaction and Taste XI. Kusumoputro, B. Budiarto, H. and Jatmiko, W Fuzzy-Neural LVQ and Its Comparison with Fuzzy Algorithm LVQ in Artifical Odor Diskrimination System. ISA Transaction on the Science and Engineering of Measurement and Automation. Contoh Artikel Ilmiah Kajian

15 PEMBELAJARAN MENULIS KARYA ILMIAH BERBASIS DEEP DIALOGUE/CRITICAL THINKING Umi Salamah Dirjen Dikti DP2M Dirjen Dikti DP2M ABSTRACT: The problems usually found in scientific writing leaning in higher institution are to find, choose, specify, and develop the topic. In current semesters, the writer implemented deep dialogue/critical thinking (DD/CT) technique to guide the students solving those problems. The developed principles in DD/CT are, moreover, the presence of two ways communication and the best take-give principle, building equality and trust between lecturer and students, and high empathy. So, DD/CT contains democratic and ethic values to show the idea in systematic way. ABSTRACT: The problems usually found in scientific writing leaning in higher institution are to find, choose, specify, and develop the topic. In current semesters, the writer implemented deep dialogue/critical thinking (DD/CT) technique to guide the students solving those problems. The developed principles in DD/CT are, moreover, the presence of two ways communication and the best take-give principle, building equality and trust between lecturer and students, and high empathy. So, DD/CT contains democratic and ethic values to show the idea in systematic way. The focus of analysis in CC/CT approach is concentrated on finding out knowledge and experience through deep dialogue and critical thinking. Based on three cycles in a classroom action research, it was found: (1) DD/CT could improve enthusiasm along the scientific writing leaning process; (2) DD/CT could optimize the students’ intellectual potency to find, choose, specify, and develop the topics through good rule and format; (3) Students’ mentality, emotion, and spirituality developed along dialogue process; (4) the lecturer and students could function as good listeners, speakers, writers, and thinkers; and (5) this learning model can be implemented in daily life because of focusing on value, attitude and sportiveness. In conclusion, learning based on DD/CT can improve students’ had skill and soft skill in scientific writing, even in oral communication. Key Words: learning, writing, scientific writing, DD/CT ================================================================ ================================================================ Dra. HJ. Umi Salamah, M.Pd adalah dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Budi Utomo Malang. Beliau juga mengajar Bahasa Indonesia di beberapa perguruan tinggi, di antaranya UB, UIN, UMM, dan PT Asia. Dia juga aktif mengisi artikel di beberapa jurnal imiah, antara lain Paradigma, Warta, Kata, dan Sains, dan Humaniora

16 PERANAN TI DALAM BIMBINGAN KONSELING (BK) MENGGUNAKAN MICROSOFT WINDOWS Tutang Penerima Penghargaan MVP 2002 Shanghai, Global MVP 2002 dan 2003 Amerika Serikat Perkembangan teknologi informasi khususnya komputer banyak mengubah pola hidup dan gaya hidup secara global. Dengan sendirinya berubah pula kebiasaan, baik dalam bergaul, berteman, dalam lingkungan kerja, sekolah maupun dalam keluarga. Hal ini sangat dirasakan dampaknya dimana tingkah laku dan kebiasaan yang sebelumnya tidak pernah terjadi kini dapat kita baca di media masa, kita tonton melalui layar TV dan kita saksikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkembangan teknologi informasi khususnya komputer banyak mengubah pola hidup dan gaya hidup secara global. Dengan sendirinya berubah pula kebiasaan, baik dalam bergaul, berteman, dalam lingkungan kerja, sekolah maupun dalam keluarga. Hal ini sangat dirasakan dampaknya dimana tingkah laku dan kebiasaan yang sebelumnya tidak pernah terjadi kini dapat kita baca di media masa, kita tonton melalui layar TV dan kita saksikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak sampai disitu, dalam dunia pendidikan misalnya, pola dan gaya hidup ini sudah dapat kita rasakan dalam pergaulan anak didik kita, yang tadinya pendiam kini berubah jadi periang, yang tadinya pemalu kini berubah menjadi pemberani dan seterusnya. Ini berarti kebiasaan dan gaya hidup siswa sudah mulai berubah. Hal ini bisa berdampak positif dan bisa juga berdampak negatif tergantung bagaimana kita mengarahkannya. Tidak sampai disitu, dalam dunia pendidikan misalnya, pola dan gaya hidup ini sudah dapat kita rasakan dalam pergaulan anak didik kita, yang tadinya pendiam kini berubah jadi periang, yang tadinya pemalu kini berubah menjadi pemberani dan seterusnya. Ini berarti kebiasaan dan gaya hidup siswa sudah mulai berubah. Hal ini bisa berdampak positif dan bisa juga berdampak negatif tergantung bagaimana kita mengarahkannya. PERAN TEKNOLOGI INFORMASI Penggunaan teknologi informasi khususnya komputer kini sudah menjadi mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah, mulai sekolah dasar hingga ke sekolah lanjutan atas dan sekolah kejuruan. Namun demikian yang paling besar pengaruhnya adalah di Perguruan Tinggi, di mana hampir semua perguruan tinggi di Indonesia sudah memanfaatkan teknologi ini dalam perkuliahannya, baik melalui tatap muka maupun secara pnline. Sebagai contoh seorang dosen dalam menyampaikan materinya tidak hanya mengandalkan media konvensional saja, melainkan sudah menggunakan unsur teknologi di dalamnya. Biasanya seorang dosen atau guru di PT tertentu dalam menyampaikan materi kuliah ditampilkan dalam bentuk slide presentasi dengan bantuan komputer. Dengan teknologi ini mahasiswa atau siswa bisa mengikuti matakuliah dengan baik, karena materi yang disampaikan selain mengandung materi yang berbobot juga mengandung unsur multimedia yang bisa menghibur. Di mana dengan bantuan komputer yang dihubungkan dengan multimedia projector seorang dosen tidak perlu menekan tombol keyboard atau papan ketik melainkan cukup menekan remote control yang dipegangnya. Penggunaan teknologi informasi khususnya komputer kini sudah menjadi mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah, mulai sekolah dasar hingga ke sekolah lanjutan atas dan sekolah kejuruan. Namun demikian yang paling besar pengaruhnya adalah di Perguruan Tinggi, di mana hampir semua perguruan tinggi di Indonesia sudah memanfaatkan teknologi ini dalam perkuliahannya, baik melalui tatap muka maupun secara pnline. Sebagai contoh seorang dosen dalam menyampaikan materinya tidak hanya mengandalkan media konvensional saja, melainkan sudah menggunakan unsur teknologi di dalamnya. Biasanya seorang dosen atau guru di PT tertentu dalam menyampaikan materi kuliah ditampilkan dalam bentuk slide presentasi dengan bantuan komputer. Dengan teknologi ini mahasiswa atau siswa bisa mengikuti matakuliah dengan baik, karena materi yang disampaikan selain mengandung materi yang berbobot juga mengandung unsur multimedia yang bisa menghibur. Di mana dengan bantuan komputer yang dihubungkan dengan multimedia projector seorang dosen tidak perlu menekan tombol keyboard atau papan ketik melainkan cukup menekan remote control yang dipegangnya. Di negara maju dan di beberapa negara berkembang dimana tingkat pendidikannya sudah bisa dikatakan cukup baik, penerapan teknologi tinggi ini sudah berjalan lebih dari 20 talu. Sementara di Indonesia baru beberapa tahun saja sejak teknologi jaringan mulai dikenal dan diterapkan sebagai salah satu materi pelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) beberapa tahun lalu Di negara maju dan di beberapa negara berkembang dimana tingkat pendidikannya sudah bisa dikatakan cukup baik, penerapan teknologi tinggi ini sudah berjalan lebih dari 20 talu. Sementara di Indonesia baru beberapa tahun saja sejak teknologi jaringan mulai dikenal dan diterapkan sebagai salah satu materi pelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) beberapa tahun lalu

17 dan untuk Sekolah Lanjutan Atas dengan masuknya kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Dengan teknologi ini seorang dosen atau guru dalam menyampaikan materinya tidak hanya dalam bentuk tatap muka saja melainkan sudah menggunakan berbagai media komunikasi yang dipadukan dengan teknologi networking, misalnya Intranet dan Internet. Dengan teknologi jaringan tersebut tidak hanya mata kuliah atau bidang studi saja yang bisa memanfaatkan teknologi tinggi ini, melainkan hampir sebagian besar proses belajar mengajar termasuk BK (Bimbingan Konseling) atau Bimbingan Karier sudah bisa memanfaatkan teknologi tinggi ini. Seperti kita ketahui bahwa saat ini BK belum dikatakan materi, sehingga tidak semua sekolah di Indonesia memberikan jam yang cukup untuk materi BK ini, karena berbagai alasan. Dengan demikian apakah dengan tidak tersedianya waktu yang cukup peran Guru BK akan berhasil? Siapapun pasti akan menjawab tidak. Dengan argumen apapun jika waktu yang tersedia tidak cukup atau tidak sesuai seperti yang diharapkan, maka jangan harap apa yang disampaikan bisa mengenai sasarannya. Oleh karena itu peranan teknolgi bisa menjawab kekurangan waktu tersebut. JARINGAN KOMPUTER Seperti telah disampaikan dimuka bahwa perkembangan teknologi khususnya teknologi informasi sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan termasuk BK (bimbingan dan konseling). Komunikasi antara guru dengan siswa dapat dilakukan dengan berbagai media yang tersedia saat ini seperti telpon, Internet, Intranet dan lain-lain. Dari sekian banyak teknologi yang murah dan mulai banyak digunakan sebagai media komunikasi antara murid dan guru atau antara dosen dengan mahasiswanya adalah penggunaan . E- mail adalah salah satu sarana yang ada di jaringan Internet yang paling murah dan bisa digunakan untuk saling tukar menukar informasi, menyampaikan materi, dan sebagainya. Sebenarnya saat ini hampir semua kampus atau sekolah sudah terpasang jaringan LAN (Local Area Network) karena sudah menjadi pelajaran wajib dalam KBK dan Telpon sebagai media komunikasinya, maka media ini sudah bisa diaplikasikan sebagai media komunikasi yang ampuh dilingkungan sekolah atau kampus. Dengan sudah terpasangnya jaringan tersebut, kita sudah bisa menginstalasi atau mensetup jaringan komputer berbasis Web, yaitu Intranet dan Internet. Intranet adalah jaringan komputer berbasis Web yang hanya ditampilkan secara lokal dengan memanfaatkan teknologi LAN (Local Area network). Sedangkan Internet adalah jaringan komputer berbasis Web dengan memanfaatkan jaringan secara global. Dalam suatu jaringan komputer harus tersedia minimal satu buah Server dan beberapa client. Secara sederhana Server adalah yang mengatur lalulintas data dalam suatu jaringan sedangkan client adalah yang menerima data tersebut. Hal ini hampir senada dengan interaksi antara konselor dengan klien yang tidak mengandalkan hubungan tatap muka tetapi dilakukan dengan memanfaatkan media berupa jaringan komputer.

18 Seperti kita ketahui bersama saat ini ada istilah Cyberspace, Cybermedia, CyberMall, Cybercounseling dan sebagainya. Dengan istilah ini seolah-olah kita berhubungan dengan dunia yang serba maya, padahal sesungguhnya ini tidak demikian, memang kalau media tersebut hanya berupa Website saja mungkin bisa dikatakan sebagai dunia maya, namun kini sudah bisa dilakukan interaksi secara langsung dengan memanfaatkan Teknologi Messanger, MIRC, dan sebagainya. Bahkan dengan Microsoft Windows XP dan Messanger-nya kita bisa Sharing aplikasi, Sharing file, Sharing dokumen, dan sebagainya. BAGAIMANA KERJA KONSELOR? Dengan internet seorang konselor bisa berkomunikasi dengan clientnya dalam hal ini siswanya kapan saja dan dimana saja. Saat ini teknologi internet sudah bukan barang baru dan bukan hal yang perlu ditakuti apalagi harus dihindari. Karena dengan teknologi ini kita akan mudah berkomunikasi dengan siapa saja dan kapan saja serta tidak terikat dengan ruang dan waktu. Sehingga proses bimbingan bisa dilakukan kapan dan dimana saja, dengan demikian sorang siswa bisa saja akan merasa nyaman kalau konsultasi dilakukan melalui jaringan inernet ini, karena mungkin saja tidak merasa risi dan takut diketahui oleh orang lain. Dengan demikian proses interaksi antara konselor dengan klien akan terasa lebih akrab dan lepas tanpa beban. KESIMPULAN Dengan teknologi khususnya jaringan komputer baik Intranet maupun Internet proses belajar mengajar, proses interaksi antara konselor dan klien bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja tanpa dibatasi ruang dan waktu. Dengan demikian peran teknologi tinggi dalam dunia pendidikan khususnya Bimbingan dan Konseling sangat dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang sesuai dan maksimal. Terlepas dari itu semua apakah seorang konselor dalam hal ini Guru BK (Bimbingan dan Konseling) sudah siap dengan teknologi ini? Jika sudah siap maka kapan lagi kalau tidak dimulai dari sekarang, karena banyak sarana, bahan dan sebagainya yang bisa kita dapatkan melali dunia maya tersebut.

19 PERBEDAAN KARYA PUBLIKASI DAN MAKALAH MAKALAH HARUS ADA SAMPUL TERDAPAT BAB I, II, III SETIAP BAB HARUS PADA HALAMAN BARU WALAUPUN ADA HALAMAN YANG MASIH KOSONG TIDAK ADA ABSTRAK DAN KATA KUNCI ARTIKEL TIDAK PERLU SAMPUL TIDAK ADA BAB TIDAK ADA HALAMAN KOSONG HARUS ADA ABSTRAK DAN KATA KUNCI Perbedaan Artikel dan Makalah

20 PERBEDAAN KARYA PUBLIKASIILMIAH KAJIAN DAN POPULER ILMIAH KAJIAN ADA ABSTRAK DAN KATA KUNCI FORMAT RELATIF BAKU BAHASA BAKU MEDIA JURNAL ILMIAH ILMIAH POPULER TIDAK PERLU FLEKSIBEL/BISA MEMILIH: PIRAMIDA TERBALIK, 3P, ABC, 123 BAHASA POPULER. HIDUP. SEGAR, KOMUNIKATIF MEDIA JURNALISTIK

21 PERSAMAAN KARYA PUBLIKASI DAN MAKALAH SALAH SATU JENIS KARYA ILMIAH HARUS ADA RUJUKAN DAN DAFTAR RUJUKAN BAHASA BAKU, LUGAS, OBJEKTIF, DAN DENOTATIF Persamaan Artikel dan Makalah

22 PERSAMAAN KARYA PUBLIKASI POPULER DAN ILMIAH BERSIFAT AKTUAL DAN KONTROVERSIAL HARUS MEMILIKI RUJUKAN DAN BERVISI INTELEKTUAL BAHASA INDONESIA, LUGAS, OBJEKTIF, DAN DENOTATIF Persamaan Artikel dan Makalah

23 Terima Kasih atas partisipasi Anda dalam diskusi ini WASALAM


Download ppt "KARYA PUBLIKASI ILMIAH CIRI-CIRI UMUM: Lebih banyak menggunakan bahasa kajian Sistematika tanpa huruf dan tanpa angka Tidak menggunakan bab dan subbab."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google