Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Transformasi Struktural: Lanjutan (Bagian II) Maddaremmeng A. Panennungi.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Transformasi Struktural: Lanjutan (Bagian II) Maddaremmeng A. Panennungi."— Transcript presentasi:

1 Transformasi Struktural: Lanjutan (Bagian II) Maddaremmeng A. Panennungi

2 Outline Presentasi Transformasi berikut ini memfokuskan pada beberapa pilihan: Transformasi (Alokasi) Industri Manufaktur Transformasi (Distribusi) Pendapatan Tambahan

3 Transformasi Industri Manufaktur Sebagaimana diketahui bahwa kontribusi industri manufaktur meningkat seiring mengingkatnya pendapatan perkapita sebuah negara Lebih lanjut, di dalam industri manufaktur sendiri, terjadi transformasi jika diperhatikan secara detail

4 Kontribusi Industri Manufaktur dalam PDB

5 Transformasi Industri Manufaktur UNIDO membagi industri manufaktur ke dalam 2 kelompok utama: industri berat dan industri ringan Industri ringan: ISIC 31 (makanan, minuman, tembakau), 32 (tekstil,kulit,dll), 33 (industri kayu, mebel, dll), 342 (percetakan dan penerbitan), 355 (barang dari karet), 356 (barang dari plastik), 39 (tidak dikelompokkan di mana-mana) Industri berat: ISIC 341 (kertas dan barang dari kertas), 351 (industri kimia), 352 (industri kimia dasar), 353&354 (pengilangan mnyak bumi dan batu bara), 36 (keramik,kaca, serta bukan dari logam dan migas), 37 (logam dasar besi baja dan bukan besi), 38 (mesin, alat pengangkutan, optik,dll)

6 Transformasi Industri Manufaktur Perubahan struktur di dalam industri manufaktur dipengaruhi oleh beberapa faktor: 1.Faktor universal, berupa faktor permintaan, proses akumulasi, dan pergeseran kegiatan 2. Kebijakan pemerintah

7 Transformasi Industri Manufaktur Faktor pemintaan: a.Secara umum, kenaikan pendapatan akan meningkatkan permintaan barang manufaktur secara keseluruhan (income elastic) b. Elastisitas permintaan terhadap kelompok industri manufaktur berbeda-beda c. Elastisitas permintaan terhadap pendapatan berubah menurut tingkat pendapatan perkapita

8 Transformasi Industri Manufaktur Berdasarkan elastisitas permintaan terhadap pendapatan, industri manufaktur dapat dibagai ke dalam 3 kelompok yaitu: industri yang berkembang pada tahap awal (early industry), industri yang berkembang pada tahap menengah (middle industry), dan industri yang berkembang pada tahap akhir (late industry).

9 Transformasi Industri Manufaktur Early industry: income elastic pada pedapatan rendah: ISIC 31 (makanan, minuman, tembakau), 321 (tekstil), 324 (alas kaki) Middle industry: income elastic pada pendapatan menegah: ISIC 33 (industri kayu,mebel, dll), dan 335 (barang dari karet) Late industry: income elastic pada pendapatan tinggi: ISIC 322 (pakaian jadi kecuali alas kaki), 323 (kulit), 342 (penerbitan dan percetakan), dan 356 (barang dari plastik)

10 Transformasi Industri Manufaktur Berdasarkan penggunaan akhir, industri dapat dibagai ke dalam: industri manufaktur penghasil barang konsumsi, bahan baku, dan barang modal Industri Barang konsumsi: Semua industri ringan kecuali ISIC 323, 331, 355, dan 356 Industri Bahan baku: ISIC 323 (kulit), 331, 355 (barang dari karet), dan 356 (barang dari plastik) ditambah ISIC 341 (kertas dan bukan kertas), 351 (industri kimia), 352 (industri kimia dasar), 353 (pengilangan minyak), 354 (batu bara), dan 36 (keramik,kaca,dll minus 361) Industri Barang Modal: ISIC 37 (logam dasar besi baja dan bukan besi), 38 (mesin, alat pengangkutan, optik,dll)

11 Transformasi Industri Manufaktur Faktor Akumulasi: Dari sisi akumulasi, meningkatnya akumulasi modal yang berarti modal per pekerja naik yang disertai dengan kenaikan kemampuan pekerja yang semakin terampil (berkat ilmu pengetahuan dan teknologi dari pendidikan formal dan pelatihan) maka selanjutnya akan menyebabkan [kemampuan ini akan merespon permintaan]: Pertama, secara umum kemampuan berproduksi bergeser dari sektor primer ke sektor industri Kedua, secara khusus akan terjadi transformasi di dalam kelompok industri itu sendiri karena intensitas penggunaan faktor produksi, skala ekonomis, serta perubahan teknologi Seiring meningkatnya pendapatan perkapita, akan terjadi perubahan kemampuan berproduksi dari industri ringan ke industri berat sebagai konsekwensi dari faktor akumulasi

12 Transformasi Industri Manufaktur Pergeseran kegiatan: selain faktor universal dari sisi permintaan dan penawaran (akumulasi) di atas, juga terjadi pergeseran kegiatan dari yang tadinya masuk domain pertanian dan rumah tangga kemudian masuk ke dalam industri dan jasa. Dari pertanian ke industri: dari padi ditumbuk menjadi padi digiling menjadi beras; ikan diawetkan menjadi ikan beku dan kaleng Dari kegiatan rumah tangga dan tidak dihitung dalam PDB ke industri dan jasa: ketika ibu rumah tangga bikin makanan dan dijual (dan beberapa contoh industri kecil rumah tanga lainnya)

13 Transformasi Industri Manufaktur Kebijakan pemerintah juga mempengaruhi lewat berbagai cara seperti pembangunan infrastruktur, kesehatan, pendidikan. Namun yang relatif cukup signifikan adalah kebijakan industrialisasi yang dibarengi upaya proteksi dari persaingan dengan barang sejenis dari luar negeri. Di Indonesia, di sekitar tahun 70an, kebijakan industrialisasi yang diiringi proteksi yang cukup tinggi dikenal dengan naman import substitution industrialization. Namun sejak pertengahan 1980an berubah menjadi export promotion yang diikuti dengan liberalisasi, deregulasi, dan debirokratisasi

14 Transformasi Industri Manufaktur Kontribusi industri berat thd industri manufaktur: 56.3% (1985) 47% (1990) 41.8% (1993)

15 Industri Ringan Vs Berat

16 Transformasi Distribusi Pendapatan Semakin tinggi tingkat pendapatan perkapita seseorang, ia cenderung mengkonsumsi sebagian besar pendapatannya untuk non makanan demikian juga sebaliknya Berikut ini akan disampaikan konsumsi makanan dan non makanan: (1) Perkotaan vs Perdesaan tahun 2008; (2) 2007 vs 2008 (3) Beberapa provinsi terpilih

17 Pengeluaran Per Kapita Per Bulan 2008 PengeluaranPerkotaanPerdesaanRata-Rata Total Makanan (Rp) (44,96%) (58,67%) (50,17%) Non Makanan (Rp) (55,04%) (41,33%) (49,83%) Total (100%) (100%) (100%)

18 Pengeluaran Perkapita 2007 dan 2008 Pengeluaran perubahan Makanan (49,24%) (50,17%)11,38% Non Makanan (50,76%) (49,83%)7,33% Total (100%) (100%)9,32%

19 Transformasi Distribusi Pendapatan Ada 7 provinsi yang konsumsi untuk makanannya di bawah 50%: DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Kalimantan Timur, Bali, Banten, Kepulauan Riau, dan Jawa Timur Persentase pengeluaran makanan terendah (pengeluaran non makanan tertinggi) adalah DKI Jakarta sebesar 36,34 Persentase pengeluaran makanan tertinggi (pengeluaran non makanan terendah) adalah NAD sebesar 60,24%

20 Transformasi Distribusi Pendapatan Kemiskinan absolut di atas merupakan kemiskinan yang membandingkan antara pendapatan/konsumsi seseorang dengan garis absolut yang dinilai dengan uang, sementara jika membandingkan pendapatan/konsumsi sesorang dengan pendapatan/konsumsi orang lainnya maka disebut kemiskinan relatif atau distribusi pendapatan atau ketidakmerataan pendapatan

21 Transformasi Distribusi Pendapatan Kemiskinan relatif biasanya diukur dari – Size distributions (quintiles, deciles) – Lorenz curves/Gini coefficients – Functional distributions Kemiskinan absolut dan relatif bersifat multidimensi: – Ekonomi: insufficient of income, nutrition, home, and cloth – Sosial: lack of social relation, insecurity – Politik: powerlessness – Budaya: low self esteem, low literacy/education

22 Transformasi Distribusi Pendapatan Indikator kesejahteraan: – Indikator moneter: pendapatan/konsumsi – Indikator non moneter: mortality, mean years of schooling, malnutririon,dsb – Indikator komposit: Human Development Index (Pendapatan, Kesehatan, Pendidikan)

23 Transformasi Distribusi Pendapatan

24 % populasi dengan pendapatan terendah21,620,920,520,818,819,7 40% populasi dengan pendapatan moderat37,736,837,1 36,438,1 20% populasi dengan pendapatan tertinggi40,542,142,342,044,742,1 Indeks Gini0,310,330,32 0,360,33

25 Tambahan Kenaikan rasio penerimaan pemerintah/PDB Pajak Langsung. Pajak langsung, memiliki ciri-ciri, yaitu: Hanya dikenakan terhadap seseorang yang tingkat pendapatannya melampaui jumlah minimum bebas pajak. Umumnya bersifat progresif. Artinya, tarif pajak akan meningkat seiring dengan adanya peningkatan pendapatan. Dari kedua ciri tersebut, jika income per capita meningkat maka persentase penduduk yang membayar pajak meningkat dan persentase penduduk yang membayar pajak lebih tinggi juga meningkat. Karena kedua ciri inilah maka pajak langsung bersifat income elastic. Akibatnya adalah bahwa peningkatan penerimaan pajak lebih cepat dari peningkatan PDB.

26 Pajak Tidak Langsung memiliki ciri-ciri: Hanya dikenakan terhadap barang dan jasa yang diperdagangkan Biasanya dikenakan terhadap barang dan jasa yang diperdagangkan dan barang dan jasa tersebut dianggap bukan kebutuhan pokok Biasanya mudah dikenakan terhadap: – Barang dan jasa yang diperdagangkan untuk satuan ekonomi yang relatif besar. – Barang dan jasa yang diperdagangkan melalui batas nasional – Barang dan jasa yang diperdagangkan melalui batas antar daerah satu dengan daerah lain.

27 Seiring kenaikan income per capita, – menyebabkan barang diproduksi bukan hanya untuk keperluan sendiri, melainkan untuk kepentingan pasar, – kebutuhan akan barang yang bukan merupakan kebutuhan pokok akan meningkat, sehingga pajak yang diterima dari barang yang bukan kebutuhan pokok akan meningkat. – membaiknya sarana dan prasarana perhubungan yang berimplikasi pada biaya distribusi dan pemasaran yang cenderung menurun dan unit usaha akan makin mampu menjangkau daerah distribusi yang makin luas. Dari ketiga ciri-ciri tersebut, diketahui bahwa pajak tidak langsung juga bersifat income elastic.

28

29 Tugas 1.Buatlah indikator-indikator tersebut untuk data Indonesia terakhir dan bandingkan dengan periode yang ada tersebut ( ). 2. Buktikan bahwa pajak langsung itu income elastic


Download ppt "Transformasi Struktural: Lanjutan (Bagian II) Maddaremmeng A. Panennungi."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google